Shizu: "Haalluuuwww~~~" –nada madesu—
Kon: "Ui, lo kenape?"
Shizu: "Hiks hiks, cerita ini, yang ripiuw cuma 3 orang… Huwaaa!" –nangis sambil gebruk-gebruk lantai—
Kon: "Ckckck, nasip orang gila tuh seperti ini ya."
Shizu: "Lo jangan sotoy deh, Kon. Nasip lo juga patut dikasihani tau! Benar kan Readers?"
Kon: "Bo'ong! Jangan dengerin, mending langsung ke story ajah!"
~She is My Girlfriend~
~Romance, Friendship, Humor (mungkin)~
~Disclaimer: Tite Kubo~
~This fic: mine~
Seperti di chapter sebelumnya. Renji dan Grimmjow dihukum oleh sang guru gara-gara suara mereka yang volumenya lupa di kecilin. Penasaran kan seperti apa derita mereka berdua? Yuk kita cek sekarang.
"Huuu~, panaaass!" keluh Renji.
"Bentar lagi istirahat, kok," ucap Grimmjow sambil menatap ke langit, dengan panas matahari yang memayungi mereka.
"Bener juga sih, lama-lama meleleh deh," ucap Renji dengan sangat hiperbolanya.
Iyap, kalian sudah tahu kan jawabannya? Mereka berdua dihukum berdiri di tengah-tengah lapangan. Tidak boleh duduk, maupun jongkok. Loncat boleh, itu kalau mereka mau mati kehabisan tenaga.
Detik demi detik terlewati, tetes demi tetes keringat mengalir dengan perlahan. Akhirnya induk burung itu melahirkan dengan selamat, lhoo? Kenapa jadi gak nyambung, lagian mana ada burung yang melahirkan? Back to Dunia Nyata.
Kriiiingg, akhirnya bel istirahat itu pun berbunyi di telinga Renji dan Grimmjow. Itu artinya, hukuman mereka sudah selesai, sekarang hanya tinggal kembali ke kelas.
"Yoo, Grimmjow, Renji!" sapa siapa lagi kalau bukan sahabat satu gengnya, yaitu si jeruk dan si putih. –Weleh!—
"Untuk apa kalian ke sini?" tanya Grimmjow.
"Sombong sekali kata-katamu itu." Ichigo langsung ngambek.
"Nih, kami bawakan air minum," ucap Ulquiorra sambil menyerahkan 2 gelas air putih bersih pada 2 orang yang sudah bermandikan keringat itu.
"Yo, terimakasih," ucap keduanya.
"Ayo kita ke kelas yuk, lapor ke sensei, hukumanmu udah selesai tuh." Ichigo mengingatkan.
Ichigo dan Ulquiorra berjalan dengan santai layaknya orang sehat, tetapi Grimmjow dan Renji berjalan gontai layaknya orang yang kena epilepsi.
"Permisi, sensei. Maaf kami sudah mengobrol sejak pelajaranmu tadi. Kami tidak akan melakukannya lagi!" mohon si Renji dan Grimmjow sambil membungkukan badannya.
"Iya, iya! Lain kali jangan seperti itu ya!" akhirnya walaupun dengan hati terpaksa, Ochi sensei mau memaafkan mereka.
"Arigatou! Kami permisi dulu ya, sensei!"
Nah sekarang, 'The Four Musketeers' itu bisa menikmati istirahat mereka di kantin.
"Hoo~ akhirnya selesai juga tuh penderitaanku," ucap Renji sambil membawa nampan yang berisi makanan.
"Hahahaha, memang sampai begitu tersiksanya kah?" tanya Ichigo sambil meminum orange jus favoritnya.
"Bodoh, kau kira itu tidak butuh perjuangan? Kalau kau meremehkannya, mungkin kau sudah pingsan di tengah-tengah," ucap Grimmjow, Renji mengiyakan.
"Oke oke, aku menyerah."
Ulquiorra masih diam, tidak berkutik maupun bernafas. –Oy nanti yang ada dia mati atuh— Aneh ya Grimmjow, Ichigo, dan Renji mau berteman dengan orang bisu ini.
"Oii, Ulqui-chaaaan! Pacarmu datang tuuuh!" goda Grimmjow sambil menunjuk-nunjuk ke belakang Ulquiorra, dan tentu saja si cowo berkulit putih itu menengok ke belakangnya.
TET TOOOT, Maaf hari ini anda kurang beruntung!
"Huahahahaha! Dibohongi mau saja kau!" Grimmjow langsung tertawa kencang.
"Dasar baka, belum kapok juga ya abis dikasih hukuman?" tanya Ulquiorra sambil kembali ke posisinya seperti biasa.
"Hahahaha! Yaaah maaf maaf, hahahaha!" Yah dari dulu Grimmjow memang paling senang menjahili Ulquiorra. Saat SD, Grimmjow sudah memanggilnya dengan sebutan 'Ulqui-chan' dan sekarang sejak ia berpacaran dengan Inoue Orihime, Grimmjow semakin punya akal yang banyak untuk menjahilinya.
Mungkin sifat jahil menjahilinya itu ia lakukan supaya Ulquiorra bisa berbicara layaknya orang normal. Tetapi hasilnya nihil, Ulquiorra malah diam seperti biasa. Tapi bukan berarti orang yang diam itu sifatnya sombong, Ulquiorra juga terkadang suka berbicara, jika obrolannya seru, dan masuk di akal.
"Jadi… bagaimana nanti? Kerjakan tugas kelompoknya di rumahmu?" Renji bertanya pada Ichigo.
"Oh iya, soalnya keluargaku juga sedang pergi, jadi kita bisa mengerjakannya dengan tenang. Tanpa harus ada tonjok menonjok dari ayahku, suara teriakan dari Yuzu, dan suara televisi yang di tonton oleh Karin," ucap Ichigo, lengkap menyebutkan penderitaannya setiap hari.
"Oke."
Setelah mereka selesai menyantap makan siang masing-masing. Mereka berempat kembali ke kelas. Bel belum berbunyi kok.
Tapi saat menaiki tangga menuju kelas mereka yang memang ada di lantai 2, mereka sudah disuguhkan pemandangan si Nnoitra itu –berandalan yang paling terkenal—mengganggu murid-murid perempuan yang baru mau memakan bekal mereka.
"Hei! Jangan mengganggu mereka, baka!" teriak Ichigo sembarangan dan sembrono sekali, membuat pandangan mereka teralihkan pada sosok si jeruk berjalan.
"Cih, memang kenapa? Apa itu urusanmu?" tanya Nnoitra ketus.
"Tentu! Untuk apa kau mengganggu mereka?" Renji bertanya balik, sehingga membuat geng berandalan itu tak bisa berkutik.
"Dasar pengganggu, ayo, kita pergi saja dari sini." Setelah mereka semua pergi, geng Ichigo mendekati kawanan para betina itu. –BUAAK—
"Kau tidak apa-apa Orihime?" tanya Ulquiorra dengan lembutnya. –Grimmjow dan Shizu langsung swiiit swiiitt!—
"Kyaaa! Ulqui-chaan so sweet bangeeet!" teriak salah satu murid perempuan, semakin membuat pipi Inoue merah padam.
Grimmjow serasa ingin tertawa kencang lagi, tapi untuk sekarang saja ia tahan.
"Kalian tidak apa-apa kan? Fuuh aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan kalian," ucap Ichigo sambil memandang mereka, terutama Rukia.
"Bodoh! Apanya yang tidak apa-apa? Aku hampir tersedak dengan makananku, gara-gara kamu teriak sembarangan begitu tau!" protes Tatsuki sambil menendang pinggang Ichigo.
"Aduuh! Sialan kau Tatsuki!" geram Ichigo. Yang lain masih sibuk bercanda tawa, sedangkan Renji dan Rukia langsung melerai keduanya, sebelum mereka dibawa ke rumah sakit.
"Grimmjow-kun, kenapa menahan tawa begitu?"
"HOAA? SI-SIAPA?" Grimmjow yang awalnya menahan tawa, malah rasa kagetnya yang kebablasan.
"Ini, dibelakangmu," ucap sang pemilik suara itu.
"Ah, perasaan aku pernah melihatmu deh," ucap Grimmjow sambil menatap perempuan yang cukup tinggi itu.
"Dia Nelliel bodoh! Masa kamu gak tau sih?" cerocos Ichigo yang sudah selesai dengan 'pertarungan' nya dengan Tatsuki tadi.
"Ah! Iya, itu dia namanya. Dari kelas berapa?" tanya Grimmjow lagi.
"Kelas 2-B," ucap Nelliel singkat.
"Hah? Kamu sekelas sama si berandalan Nnoitra itu? Pasti gak enak banget," ucap Grimmjow kaget.
"Yaaah, mau bagaimana lagi, sudah takdir kok, ehehe," Nel tertawa kecil. "Oh iya, Grimmjow-kun, kenapa tidak bergabung dengan mereka?"
"Ah, mereka sedang sibuk dengan pacar masing-masing, aku kan masih jomblo." –Shizu: "Kurang, Jow, kudunya jojoba. Artinya jomblo-jomblo bahagia. Grimmjow: "…"—
"Lalu, kau sedang apa dengan buku-buku yang bertumpuk ini?" tanya Grimmjow sambil mengambil sebuah buku dari tumpukan buku yang dibawa Nel.
"Ini novel-novel yang baru kupinjam dari perpustakaan dan hari ini mau kukembalikan."
Saat itu juga rahang Grimmjow serasa ingin lepas.
"Se-sebanyak ini kah?"
"Iyap! Memang kenapa?" tanya Nel bingung, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Aku hanya takjub melihat orang yang bisa membaca novel-novel ini sampai habis dalam sehari."
"Tidak juga, aku membaca ini dari 3 hari yang lalu," balas Nel sambil tersenyum.
"Benarkah? Tapi tetap saja hebat, aku membaca 1 novel saja membutuhkan waktu 2 hari," ucap Grimmjow sambil menunjukkan seberapa tebal novel yang pernah ia baca dengan kedua jarinya.
Nel hanya tertawa geli melihat tingkah Grimmjow yang lucu di matanya.
"Baiklah, aku ke perpustakaan dulu ya, Grimmjow-kun!"
"Ah, aku boleh ikut? Soalnya di sini bosan sekali."
"Apa nanti mereka tidak mencarimu?"
"Tentu tidak, mereka lagi sibuk dengan urusannya masing-masing kok," jawab Grimmjow santai sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepala.
"Ya sudah, ayo!"
Saat dalam perjalanan menuju perpustakaan, di sepanjang lorong sekolah, banyak murid—tak peduli itu cowo maupun cewe—melihat ke arah Grimmjow dan Nel dengan tatapan, baru-kali-ini-Grimmjow-jalan-sama-perempuan-berduaan. Kira-kira seperti itulah pancaran para murid saat berpaspasan dengan mereka berdua.
"Kenapa mereka memandangku begitu sih? Jadi risih…" gumam Grimmjow.
"Eh? Tadi kamu ngomong apa?"
"Bukan apa-apa cuma kucing lewat."
Nel langsung sweatdrop, menyangka omongan Grimmjow tadi serius, ia langsung melihat ke depan, tapi tidak ada kucing yang lewat satupun.
"Heei, kamu melihat ke mana sih? Ini perpustakaan sudah ada di depanmu," ucap Grimmjow sambil memegang kepala Nel, dan mengarahkannya pada ruangan di depan mereka yang bertuliskan "Beli 3 gratis 4!" –Grimmjow langsung nabok Author—
Nel lalu mengembalikkan buku-buku itu ke petugas perpustakaan, dan meminta izin untuk meminjam beberapa buku bacaan lagi.
"Wow, kamu memang suka membaca buku ya?"
"Iya, dari kecil juga aku sering disebut sebagai kutu buku, karena selalu membaca. Bagaimana denganmu?"
"Emm… aku tidak terlalu suka hal semacam itu," ucap Grimmjow sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Hihihi, tentu saja. Jika ada laki-laki berbadan kekar sepertimu yang suka membaca buku, bagiku cukup aneh," Nel tertawa geli.
"Ahaha, kau benar. Lagipula aku lebih suka berkumpul dengan teman-temanku."
Awalnya Nel mengira Grimmjow akan menjawab, bermain game, bermain sepak bola, basket, dan hal-hal lainnya seperti yang diminati oleh laki-laki seumurannya. Ternyata ia anak yang cukup setia dengan sahabatnya. Jarang sekali ada orang yang seperti itu kan?
"Aduh tidak sampai," tangan kanan Nel mencoba meraih buku yang berada di rak paling atas. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang membantunya.
"Lain kali bilang saja kalau butuh bantuan."
"Nnoitra?"
Grimmjow yang sedang duduk di kursi sambil membuka halaman demi halaman sebuah buku yang diambilnya, langsung segera menoleh saat mendengar nama Nnoitra.
"Sedang apa kau di sini? Tumben."
"Yah, aku hanya ingin mengunjungimu. Kan setiap hari ini, dan pada waktu ini juga, kau selalu ke perpustakaan mengembalikan buku," ucap Nnoitra dengan santainya, seakan sudah hafal jadwal kegiatan yang dilakukan Nel.
Ia langsung menyembunyikan wajahnya di belakang buku, agar tidak ketahuan oleh Nnoitra. Bukan berarti Grimmjow takut ya olehnya.
Ia mengintip sedikit ke arah Nel dan Nnoitra yang kelihatannya sedang membicarakannya. Oh ayolah, jangan salting dulu, Grimmjow. Belum tentu Nnoitra cemburu karena kau mendekati Nel.
Setelah si kurus itu pergi, Grimmjow menurunkan bukunya. Lalu menghampiri Nel, "Hei, tadi ada Nnoitra ya? Dia berbicara apa sama kamu?"
"Ah iya, dia tadi menanyakanmu. Tapi kujawab saja tidak tahu," ucap Nel.
"Menanyakan apa?"
"Namamu."
"Kenapa tidak kau beritahu?"
"Emm… aku takut jika kamu diapa-apakan sama dia. Bisa dibilang, Nnoitra itu menyukaiku, dan ia tidak suka jika ada orang lain yang mendekatiku seperti ini," jelas Nel. Tapi otak Grimmjow tidak bisa menangkapnya.
"Ehhh… lupakan saja deh, aku tidak begitu mengerti, hahaha. Ayo kita ke kelas, sebentar lagi bel."
Lalu mereka berdua keluar dari perpustakaan, dan segera kembali ke kelas masing-masing.
"Terimakasih ya, Grimmjow-kun, sudah menemaniku ke perpustakaan tadi."
"Oh iya, sama-sama. Jangan panggil aku dengan embel-embel 'kun', panggil Grimmjow saja ya!"
"Ba-baik," ucap Nel tersipu malu, melihat Grimmjow nyengir seperti itu.
Grimmjow pun berkumpul dengan teman-teman satu gengnya. Terlihat mereka begitu bahagia, termasuk Grimmjow sekalipun.
~TO BE CONTINUED~
Shizu: "Naah! Chapter 2 nya selese! Maaf ya, kalo updatenya lama, saia gak sempet, biasa lah, manager kantor tuh pasti banyak meeting."
Kon: "HOOOEEKK! AMIT-AMIT!"
Shizu: "Hahaha, bo'ong kok, saia hanya pelajar yang ingin mendapatkan kebahagiaan individu, maupun sesama."
Shizu: "Oke sebelum kita tutup acaranya, mari balas review dari Readers yang terhormat."
Pertama dari Mi-Cha-Cha, Hah? Apakah seseru itu? Hohoho terimakasih banyak, terimakasih atas pujian dari anda! Keep RnR yaa!
Kedua dari Shizuma Shieru, Baiklah, akan segera saia lanjutkan. Doakan saia ya supaya masih bisa melanjutkan penpik ini. Arigatou!
Terakhir dari retrogami, Hahaha, iya, soalnya saia pengen mencoba bikin pair yang baru, selain IchiRuki doang. Begitukah? Terimakasih banyak atas pujian anda TT^TT, saia sangat terharu. Keep RnR, and Arigatou!
Shizu: "Iyap sekian balasan Reviewnya. Dan saia harapkan lagi, semoga yang Review makin banyak. Oke, sampai berjumpa lagi on next chapter!"
