Title: When Two Worlds Collide
Fandom: Harry Potter (Indonesia)
Rate: T or M (for safe)
Genre: Adventure, Drama, Romance
Word Count: 5,300
Pairings: DMHP/Drarry. Slight: Nevuna, RoMione, etc.
Warnings: Slash/BL, Ravenclaw!Harry, death chara, sedikit OOC, slight AU, OCs, Long notes at the bottom
Setting: Slight AU—7th Year, no Hogwarts
Hana's Notes: Hello again! Tetep Kaze, ato Hana (-_-) *contohngebingungin*, dan sekarang chapitre 2! Makasih buat reviewer kemaren~ truly help me. Buat yang minta Drarry, bakal ada kok, pasti muncul, cuma butuh progres~ just Enjoy and Happy Reading!
Reminder:: Deathly Hallows book version—versi Kaze juga. Plot-hole? Tolong dikoment ya. :)
Summary::
.:#2 Promises, Scents, and Trails:./Pre-Malfoy Manor/Harry dan Neville keluar dari persembunyian, dikepung musuh, lalu Bellatrix datang, dan melempar Avada Kedavra. My Deathly Hallows version. RnR?
.
#
.
### =*-*-.:.-*-*= ###
#2
-:: Promises, Scents, and Trails ::-
.:.
Harry Potter © J.K. Rowling
When Two Worlds Collide © HanariaBlack
### =*-*-.:.-*-*= ###
.
#
.
Dumbledore memberinya petunjuk dalam buku Rune tingkat Atas: 'Raba Sejarah Terpahat dengan Sidik Jari' bahwa tongkat Elder-nya disimpan dalam tempat tersembunyi yang didatanginya saat mengambil Slytherin's Locket.
Sirius, Remus, dan Nymphadora bersama Teddy tinggal di Grimmauld Place, tetapi saat Harry mengunjungi mereka di malam natal tahun lalu, tidak ada siapa-siapa disana, kecuali Kreacher yang tak mau memberitahu apa-apa.
Uncle Orion mati tahun lalu, saat ulang tahunnya, di umurnya yang hampir 69 tahun, setelah menitipkan sebuah peti di Black's Vault pada Harry, dan memintanya membuka peti itu saat umurnya akan delapan-belas tahun.
.
#
.
Harry menggigit bibir bawahnya untuk berpikir, dan di sebelahnya Neville sudah lebih pucat, bagai darahnya diseret ke bawah oleh gravitasi.
Harry berpikir cepat, semua barang-barangnya sudah masuk ke tas serbaguna Hermione, kecuali syal yang melintang acak-acakan di bahunya—yang dibetulkan Neville, dan dia mengaku tidak melihat syal itu dari awal—dan tongkat holly-nya.
"H-Harry, apa yang akan kita lakukan...?" tanya Neville. Ia pucat, tapi tangannya tidak gemetar sebagaimana mulutnya gagap bicara. Tongkat miliknya mengacung ke asal suara yang walau masih terdengar jauh, berbahaya saat mendekat.
"..." Harry mengerutkan dahinya, berpikir. Kalau ia merapal mantra untuk mengecoh penciuman Veela dan Werewolf, akan sama saja—sihirnya akan tercium juga, walau tingkat kepeduliannya pada masalah ini kecil. Kalau ia lari—
Adakesempatan.
Mereka bisa kabur.
Harry berlari menjauhi suara derap langkah dari kejauhan itu, dan Neville mengikuti arah larinya Harry dengan tidak bodoh. Neville menghapus jejak di salju dengan tongkatnya tanpa perintah atau aba-aba, yang bagusnya tidak mengeluarkan karakteristik sihir Neville. Tidak salah Harry membiarkan Gryffindor itu bersamanya saat ini.
"Kita akan kemana, Harry?" tanya Neville, tongkatnya terarah ke belakang, menggusur jejak sepatu mereka dengan salju-salju di sekitarnya.
"Ke tempat yang cukup jauh..." gumam Harry, berpikir. "Sepertinya keGrimmauld Place. Kau setuju?"
Neville diam beberapa saat, "Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Kau pemimpinnya." kata Neville.
"Kau membantuku, itu cukup." ucap Harry, senyuman mungil tersampir di bibirnya yang memerah sekarang, tidak sebeku saat pertama kali Neville menghampirinya.
"Aku ingin bertanya, sebetulnya, Harry." ungkap Neville, sesekali menoleh ke belakang untuk melihat tanda-tanda kawanan yang dikatakan Harry itu, dan beruntungnya mereka bahwa tak ada tanda-tandanya.
"Aku juga ingin menanyakan beberapa hal tentangmu juga, Nevi." balas Harry. Tongkatnya terayun bersamaan dengan tangannya yang ikut bergerak karena berlari. "Kau sudah diajari Occlumency, betul?"
"Occlumency?" Neville mengangkat alisnya, dan nafasnya mulai tersendat-sendat karena berlari terus. "Aku sudah cukup menguasainya, tapi aku tidak pernah mempraktikkannya."
"Tapi kau sudah mengetahui dasar-dasar menyembunyikan memori dari Legilimens, bukan? Aku memberitahumu khusus saat tahun kelima." kata Harry, teringat. Ia memperlambat sedikit larinya agar ia bisa menatap Neville di mata. "Benar 'kan?"
"Iya, benar.. tapi aku tidak yakin bisa—"
"Percaya pada ucapanku tahun-tahun lalu itu, kau mampu?" potong Harry tidak sabar.
Neville mulai agak curiga, tapi ia mengangguk. "Memang kenap—?"
"Cukup ikuti saja apa yang aku katakan," kata Harry, dan Neville merasa paling spesial mendadak begitu melihat senyuman paling lebar dan paling manis milik Harry yang tak pernah diulasnya sekalipun di Hogwarts. "Neville?"
"O-oke," Neville mengangguk, menyembunyikan pipinya yang (tak lagi chubby) memerah dengan cara sok menunduk. Mungkin ia terlihat lebih bodoh; seperti sedang menghitung berapa langkah kaki kanan yang diambilnya selama itu... "Aku akan mengikutimu."
"Bagus." kata Harry, dan anak itu tenggelam dalam pikirannya. "Aku butuh janji darimu."
Alis Neville menurun sedikit, "Janji?" tanyanya dengan nafas yang terputus-putus, "Janji apa?"
Harry tak langsung menjawab, hening beberapa saat dan, "Aku ingin kau sekretif tentang—'petualangan' ini."
Neville mengangguk ketika mata zamrud itu menatapnya.
"Kedua, aku ingin agar kau tidak berbohong apapun, dengan cara apapun, kepadaku, jika ada sesuatu yang menyangkut 'petualangan' ini."
Neville mengangguk lagi dan ia senang melihat mata Harry menerang lebih hangat biarpun sedikit.
"Ketiga, aku ingin—" Harry menunduk, dan dari ujung ekor matanya, si Gryffindor bisa melihat pipi merah di wajah dingin jenius Ravenclaw itu. "—aku ingin—agar kau tidak meninggalkanku sendirian di waktu pencarian ini."
Neville tersenyum penuh tanggung jawab mendengarnya. Apakah ia telah istimewa di hati Harry? Apa Harry menganggapnya lebih dari teman—tapi sahabat?
Apapun itu, Neville merasa hatinya lebih ringan.
"Aku berjanji." ucap Neville tegas.
Harry menoleh padanya, dan semburat kemerahan itu masih bersisa di pipinya yang makin pucat karena dingin. "Kau berjanji?"
"Yep." Neville nyengir.
"Tiga perjanjian—itu?"
"Hu'um."
Harry menggigit pipinya dengan gigi, dan mata sebentuk kenarinya tidak berbohong; Ravenclaw itu terlihat senang, tapi berusaha menutupinya. "Kau tidak menertawakanku?" tanyanya, langkah lari mereka sekejap sangat pelan. Seperti berjalan biasa—melupakan fakta bahwa mereka dikejar kawanan pengikut Voldemort sekarang. "Kau benar-benar mau?"
Neville mengangguk, dan ia berhenti berlari, menarik bahu kecil Harry bersamanya agar Potter muda itu berhenti, dan ia nyengir lebar melihat wajah Harry lebih merah yang bukan karena suhu.
"Aku janji, Harry. Aku mau berjanji bahwa aku akan mengikutimu, aku tidak akan menceritakan apapun tentang 'petualangan' kita ini, tidak bohong padamu dan aku berjanji supaya aku tidak meninggalkanmu saat pencarian ini." Neville mendeklarasikan janjinya.
Harry menatapnya penuh respek, tapi mulutnya tidak. "Aku bodoh."
"Kau tidak," Neville menggeleng, "Aku mau berjanji—"
"Harusnya aku berpikir lebih matang lagi," gumam Harry, memutus perkataan Neville. Manik vivid itu menghindari kontak mata. "Harusnya—"
"Harry, kau yang membuat dan kau yang meminta. Kenapa menolak ketika sudah diberikan?" tanya Neville heran. Sepertinya ia akan selalu kesulitan menghadapi orang terlalu jenius begitu, cara berpikir mereka kadang aneh dan berbeda.
Harry akhirnya menatapnya, dan Neville tidak melewatkan dimana mata itu terlihat ragu dan ketakutan.
"Terima kasih, Neville." kata Harry pelan. "Walau kupikir aku salah, keceplosan, kurang berpikir dan b—"
"Kau tidak, Harry. Ini kemauanku." potong Neville.
Harry masih memandangnya. Terkadang mata itu sangat yakin, tapi keyakinan itu belum sepenuhnya diberikan padanya.
Neville menepuk bahu Harry, "Kau bisa mempercayaiku."
Harry memandangnya sampai Neville merasa tak nyaman, tapi agak senang, dan ia menggulirkan mata itu ke arah lain; kehangatan langsung lenyap tanpa bekas dari pasang zamrud itu.
"Aku tahu aku bisa mempercayaimu." balas Harry, dan mereka kembali berlari lagi dengan Harry memimpin—secara, tubuhnya saja sudah jauh lebih kecil, dan Neville mengekor.
.:.
Sepertinya sudah berjam-jam mereka berlari di hamparan salju yang menebal ini.
"Harry," nafas yang terpenggal membuat suara Neville kurang jelas. "Kapan—kita bisa istirahat?"
Harry menoleh ke belakangnya, dan Neville menahan keterkagetannya melihat wajah yang lebih pucat dan pipi kemerahan janggal Harry yang lebih jauh parahnya dibanding dirinya. Harry tampak sedang mengidap penyakit dingin berbahaya, dan seakan siap pingsan atau sekarat kapan saja. Bukannya Neville menginginkan yang buruk-buruk untuknya, tapi, Harry memang terlihat sangat tidak baik.
"Kita," nafas Harry lebih mengerikan darinya, lebih terburu. Neville melihat bagaimana kelopak mata itu ingin menutup mata Harry. Uap dingin mengepul dari mulutnya lebih banyak, dan Neville bisa mengetahui tubuh anak itu menggigil. "Baik, kita—istirahat—di d-depan situ."
Ketika Harry dan ia sudah duduk disana, terbalut baju hangat masing-masing, Neville terpikir sesuatu yang membuatnya merutuki ketololannya dalam hati dengan palu godam atau cakar Hippogriff Hagrid. Ia sudah akan melambaikan tongkatnya ketika suara kecil Harry membuatnya menoleh.
"J-jangan, Nev—Nevi."
Neville mendekatkan diri pada Harry, duduk benar-benar di samping Harry. Ia sudah simpati dari tadi pada anak itu, karena kondisinya terlihat lebih parah dari sebelumnya, juga keinginan Neville untuk menghangatkan tubuh Harry lebih. "Kenapa?" Tanya Neville.
"K-kalau mereka mengetahui ada sihir lain, m-mereka bisa mendeteksi—dengan penciuman. J-jangan."
Neville merasa kebodohannya membantu tadi. Beruntunglah ia selalu berpikir dulu sebelum bertindak, dan pantas saja sedari tadi Harry tidak menghangatkan diri sama sekali atau memantrai apapun untuk mengelabui kawanan sekutu— You-Know-Who.
Sekejap, otaknya bertanya, 'kalau begitu, kenapa saat ia menghapus jejak di salju itu, Harry tidak melarangnya?' tapi karena melihat kondisi Harry, Neville mengabaikannya. "Maaf," kata Neville, dan ia memandangi sosok Harry yang entah kenapa sangat terlihat sangat lemah dan mudah dikalahkan, seakan hanya dengan tiupan angin, Ravenclaw itu akan roboh. Apa karena ia terlihat seperti ini, Harry memberi jarak pada siapapun di Hogwarts? "Kau—" Neville memilih kata-kata yang tidak menyinggung logis Harry, "Kau tidak apa-apa? Kau terlihat seperti demam." tanya Neville baik hati. Ia tidak tersenyum, karena takut Harry menganggap senyuman itu hinaan untuknya.
Mata Harry yang tertunduk kini menatapnya kaget sekilas, marah sedetik, dan kembali datar untuk seterusnya. Tidak ada rasa terima kasih atau balasan ramah untuk Neville yang bersedia bertanya. Neville merasa Harry benar-benar 'demam' dilihat dari matanya yang redup dan tidak hijau terang lagi, juga wajahnya yang memerah, dan Longbottom itu tidak peduli apapun balasan Harry, karena Harry, ia pikir, sudah bawaan memiliki sikap dingin begitu...
"Aku," suara Harry sengau, dan anak itu batuk beberapa kali sebelum melanjutkan, "Aku terbiasa dengan ini. Nanti juga sembuh. Tak usah pedulikan aku."
Neville meragukannya, dan ia langsung merasakan mata Harry menatapnya tajam, seperti busur panah yang menancapnya di punggung.
Untung sekali ia tidak menatap Harry langsung di mata.
"Nevi," panggil Harry, "Kau juga terlihat hancur. Buat apa mengurusku kalau kau tidak mengurus dirimu sendiri."
Seandainya otak Neville tidak berjalan, mungkin ia menganggap ucapan Harry itu ajakan berduel atau berantem.. tapi, Neville mengerti maksud perkataan pedas Harry.
'Kau terlihat tidak baik, kau istirahat juga, tak perlu repot memerhatikanku.' Neville menerjemahkan.
Neville hanya tersenyum ketika mata Harry menagih balasan.
"Kau bisa tidur sekarang, Neville." kata Harry, matanya yang bertanya mendingin.
Neville mengangkat alisnya kaget mendengar pernyataan Harry. "Apa maksudmu?"
"Kau bisa istirahat," jelas Harry lewat bibirnya yang biru, "Aku menjaga."
Neville merasa sangat egois kalau ia rela melakukan itu. "Bukan aku yang—sakit disini, Harry." Neville menolak.
Di kata 'sakit', Harry melempar pandangan agak kesal padanya.
"Aku tidak apa-apa." Harry mengelak, keras kepala seperti waktu-waktunya di Hogwarts.
"Kau yang seharusnya tidur, Harry," saran Neville, berusaha memojokkan Harry. Melihat Harry seperti sudah siap mengelak, ia menambahkan, "Lihat wajahmu di cermin. Sangat merah, Harry. Demam di wajahmu parah, kulihat. Kau yang harusnya tidur, kondisiku lebih baik darimu."
Neville menang, ia tahu, karena detik berikutnya Harry sudah tidak mau memandangnya dan bahkan tidak mau menghadapnya. Karena Neville yang lebih lebih tinggi disini, Gryffindor itu masih bisa dengan mudah melihat wajah Harry—yang masih merah.
"Kau menyebalkan." gumam Harry di balik syal tebal yang melingkar di lehernya. Neville memutuskan tertawa mendengar kekeras kepalaan Harry, dan membalas sarkastik,
"Terima kasih kembali."
Harry berbalik menatapnya dengan mata menyipit dan ingin membunuh. Seram, memang, kalau seandainya tidak ada rona merah karena sakit atau malu atau marah itu di kedua pipinya. Wajah Harry malah makin manis, menurut Neville.
"Memang, kau tahu bagaimana cara merapal mantra pendeteksi?" tanya Harry, suaranya terkesan sombong, tapi Neville tahu bahwa cara itu menunjukkan seseorang yang keras kepala sedang dalam posisi defensif; melindungi diri, tidak mau mengakui apa kata orang lain, dengan kepala mereka yang sangat baja.
Neville terdiam untuk berpikir, dan cengiran bodoh mengembang di bibirnya.
"Kau sudah mengatakannya; jangan menyihir atau memantrai apapun saat ini. Nanti para kawanan—itu, bisa melacak kita." katanya bangga.
Harry menggeliat di gumpalan baju hangatnya, dan Neville bisa menangkap jelas wajah Harry yang sangat merah. Karena malu, pastinya, karena jebakan Harry bisa dilewati dengan mudah oleh Neville.
"Git." gumam Harry, dan Neville terkekeh lagi.
"Kalau aku menyebalkan, mana mungkin kau membawaku bersamamu, Harry?"
Dan balasan yang diterima Neville adalah injakan di kaki yang sangat menyakitkan oleh boot Harry.
Neville mengaduh dan memegangi sepatunya yang bekas diinjak sekuat tenaga oleh Harry. Neville menatap Harry dan menemukan mata hijau itu terang dengan kegelian dan rasa puas yang kekanakan, walaupun pipinya memerah karena demam.
"Serve you right, Longbottom," kata Harry dengan aksen hampir berdesis—Parseltongue, pasti—dan senyuman yang sangat manis di mata Neville tersungging di bibir itu, "Akhirnya aku menemukan cara untuk membuatmu diam." imbuh Harry lagi, menyindir, dan sebuah tawa pelan dan kecil keluar dari mulut Harry—
Harry langsung menyumpal mulutnya dengan kedua tangan yang dibungkus sarung tangan hijau, ekspresinya sangat kaget, dan wajahnya semerah delima.
Neville yang tadi membatu mendengar tawa Harry untuk pertama kalinya dalam waktu tujuh tahun satu sekolah bersamanya, langsung menatap Harry tertarik, tapi rasa itu memudar melihat Harry bagai dikenai Kutukan Ikat-Tubuh.
"Harr—?"
"L-lupakan yang tadi," kata Harry, memotong, "Aku tidak—t-tertawa."
Neville memandang Harry lama, melihat bagaimana pipi itu tetap merah, mata hijaunya yang makin terang tapi ada semburat janggal; seperti Harry tidak menginginkan tawa, atau Harry kebingungan.. atau apa, yang penting sedikit aneh.. bagaimana bibir bawahnya digigit-gigit atau bagaimana pipinya mencekung karena Harry menggigit pipinya dengan gerahamnya.
Kenapa Harry menggigit sesuatu kalau—gugup?
"Harry?" tanya Neville, takutnya Harry kenapa-kenapa.
"Aku tak apa," jawab Harry singkat dan seperti biasa, anak itu selalu bisa memprediksikan kata-kata orang. "Aku..."
Neville menunggu, melihat keyakinan di mata Harry memudar, tapi matanya masih ekspresif, tidak sedatar tadi.
"Aku..." Harry tampak mengecil, "L-lupakan hal tadi, Neville."
Neville menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Aku tidak tertawa," balas Harry, "Aku tidak cocok—"
"Kau cocok, Harry, tawamu itu.. merdu," kata Neville, "Aku suka mendengarnya. Dan pasti Hermione, Luna, dan yang lain akan senang mendengarmu tertawa. Kau—"
Wajah Harry yang sempat kembali pucat memerah lagi karena pujian Neville. Ia menggeleng. "Aku tidak, Neville..."
"Kau iya, Harry," Neville bersikeras. "Jangan anggap rendah dirimu bisa tidak, Harry? Kau—"
"Aku tidak," Harry memberi pandangan marah, "Aku tidak menganggap diriku rendah—"
"Kalau begitu, terima pujianku!" sahut Neville, dan ia berdiri dari tempatnya, terbawa suasana, menunduk memandang Harry, tidak peduli akan rasa nyut-nyutan di kakinya. "Jangan menolak kalau kukatakan hal baik tentangmu, berterima kasihlah seandainya banyak orang memujimu, menyukaimu, Harry, kau berbakat!"
Harry memandangnya dengan tatapan kosong yang ajaibnya tidak terlihat seperti idiot.
"Kau—kau itu pintar, jenius, cerdas—" Neville mengutuk dirinya untuk memilih kosakata yang tidak berwarna, "Kau punya mata hijau paling terang dan menghipnotis, Harry. Kau punya kulit yang lembut—" Neville merasa ia sedang mengagungkan diri Harry.. dan merasakan orientasinya melenceng mendadak, tapi itu kenyataan. "Kau ahli duel, pintar berbahasa, dan kalem," kata Neville. "Kami semua tertarik padamu, Harry. Kau selalu dikagumi murid-murid lain, kau dianak emaskan banyak Profesor juga."
Jika ada warna lebih merah dari merahnya tomat kematangan, Harry dijamin sudah berada di tahap itu. Wajahnya bagai terbakar, panas, seperti dipanggang di atas kobaran api langsung.
"Dengar," Neville memulai lagi setelah tersenyum tanpa kata pada Harry, "Tidak ada orang yang sempurna, Harry, tapi kau..." Neville menelan ludah, berharap matanya tidak terlihat terlalu mengagumi Harry. "Kau sosok yang mendekati sempurna di mataku, Harry. Di mata Ron dan Hermione, di mata Luna, di mata Ginny.. mereka semua mengaggap kau itu," jeda, "Cantik. Dan memikat,"Neville tahu pipinya pasti memerah, "Dan kau memiliki daya tarik sendiri."
Wajah Harry benar-benar terbakar. Tak pernah ada seseorang dari Hogwarts yang mengatakan hal itu secara terang-terangan di depan wajahnya, tak pernah.. sampai Hermione saja, yang biasa bebas berpendapat, hanya mengatakan itu dengan menyirat, tidak terbuka begini...
Dan Neville yang pertama.
Sirius dan Remus, Tonks juga, sering mengatakan kalau dirinya itu memiliki karismatik tersendiri, seperti para Pure-blood, tapi lebih tulus, sederhana dan elegan dengan bersamaan, tidak sesombong keluarga Black atau Smith yang kaya raya, tidak seemosional keturunan Gaunt yang memiliki darah Salazar Slytherin. Yang penting, untuk kondisinya sekarang, Harry tak tahu bagaimana caranya.. membalas err.. perkataan Neville sekarang.
Saat matanya yang diyakini Harry melebar, mata Neville jadi sama lebarnya, dan Harry menahan tawa karena wajah Neville jadi mirip keledai melotot. Mereka berpandangan cukup lama, dan Harry memutus kontak mata duluan, tidak tahan melihat seberapa anehnya wajah Neville saat itu.
"A-aku," Harry berdeham, berusaha mengubah suaranya agar normal, tapi tetap kedengaran seperti bisikan serak, "Aku tak pernah.. d-dikatakan hal begitu oleh siapapun," Harry memandang tanah putih salju, telunjuknya memainkan salju disana, "Tak pernah ada yang mengatakan hal itu kepadaku seterbuka ini. A-aku—aku tidak, maksudku, hanya.. Sirius yang pernah mengatakan ini, d-dan..." Harry memaksakan matanya bertemu mata cokelat Neville, "Kau yang pertama..."
Neville menenggak ludah banyak-banyak, tanpa kegunaan selain membuat kerongkongannya makin tak nyaman. Ia? Yang pertama? Apa Hermione— "H-Hermione tak pernah mengatakan apapun tentangmu?" tanya Neville, "Ron? Atau—maksudku, hanya Godfather-mu?"
Harry menghela nafas dalam diam, menenangkan dirinya yang entah kenapa berdebar-debar. "T-tidak. Hanya Sirius."
"Lalu..." Neville kembali membawa topik tadi, "Bagaimana kau membalas pujiannya?"
Harry menatap Neville lewat bulu matanya yang lentik dan tebal, "Aku tidak mendengarnya. Sirius sering bercanda."
"Tapi—Sirius tidak bercanda, Harry," ujar Neville, dan Neville berjongkok di depan Harry yang menenggelamkan kepala ke kedua lengan di lututnya, "Itu benar."
Harry tidak mengangkat kepalanya, "Tapi," suaranya teredam, "Sirius tertawa. Saat aku bilang tidak peduli, Sirius tertawa."
"Itu bukti dia tidak mau menyakiti hatimu, Harry," kata Neville sepintar yang ia bisa, "Ia tak ingin memaksamu menerima perkataannya kalau kau sudah membalas begitu.. jadinya, Sirius tertawa," Neville nyengir sendiri dengar kata-katanya, "Logis, bukan?"
...Sunyi.
"Harry?" Neville takut kalau Harry malah ngamuk diberinya penjelasan tadi. "Harr—?"
Neville lega melihat Harry menarik kepalanya kembali menatapnya, tapi ekspresinya mengkhawatirkan. Mata hijaunya sebesar bola pingpong, menyiratkan kebingungan, dan bibir bawahnya ditarik ke dalam mulutnya.
"...cher, Neville."
Neville tidak menangkap kata-kata Harry. "Apa?"
"Snatcher!" ulang Harry, berdiri sangat cepat sampai Neville terjungkal ke belakang. "M-maaf, Nevi, tapi kita harus secepatnya pergi dari sini!"
Neville buru-buru bangkit karena terjungkal sedikit tidak membuatnya luka apalagi pingsan. "Apa itu Sketcher?" saat Neville sudah bersiap mengeluarkan tongkat, Harry menampar tangannya.
"Jangan keluarkan tongkat, sihirnya bisa dideteksi, dan itu Snatcher—Penjambret!" Harry setengah membentak, tapi suaranya kecil. Neville mengangguk dan merasa bodoh karena salah dengar. "Apa itu Snatcher bisa ditunda—eh, kau 'kan tahu ya. Kita harus pergi, karena anti-Apparation tidak—"
Keduanya membatu ketika suara langkah berat dan bunyi tongkat diketuk-ketuk mendekat. Harry menahan desisan di bibirnya, kenapa ia tidak menyadari kedatangan Snatcher dari tadi? Kemana saja ia—oh benar, kuliah penampilan oleh Neville! Jika saja—
"...ian dengar orang bicara disini?" Harry mengetahui suara pria itu. Itu pria yang mengejarnya sejak tiga minggu yang lalu, yang membuatnya hampir mengalami gangguan mental—Scabior.
Harry menarik nafas perlahan tanpa bunyi apapun.
"Tidak, bos." serempak, sepertinya lebih dari selusin orang menjawab. Harry bertemu mata Neville yang membundar, dan mengisyaratkan agar tetap diam tak bergerak dengan jari telunjuknya.
"Harusnya kita ajak Greyback juga soal bau-membau gini," kata Scabior, dan Harry hampir membelalak melihat apa yang digantung di leher Scabior; itu syal miliknya, yang hilang tiga minggu lalu! Pantas saja mereka bisa melacak baunya.. tapi 'kan sudah tiga minggu, apa bau masih tersisa disana? "Kalian teruskan berjalan ke arah selatan—sisakan selusin orang bersamaku. Aku merasakan firasat bahwa si bocah cantik Potter itu masih disini, atau setidaknya lewat. Sihirnya terasa walau sedikit juga."
Neville menatap Harry tidak percaya, dan dilihatnya Harry menutup matanya dengan alis tertukik, berpikir keras. Orang itu mengatakan memiliki firasat bahwa Harry berada di sini.. itu berarti Harry menyihir sesuatu, benar? Bukankah Harry yang bilang jangan memakai mantra apapun padanya? Tapi 'kan, Harry tidak memantrai apapun, tongkatnya tidak terlihat selama mereka beristirahat...
Harry membuat nafasnya lebih tenang dan lebih pelan ketika Scabior mendekat ke tempatnya, dengan hidung teracung dan mata tertutup.
"Hmm..."
Harry menahan nafas ketika wajah Scabior tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya. Scabior menurunkan hidungnya sampai nafasnya terasa bagai berhembus di kulit leher Harry sekalipun ia memakai syal.
"Aku merasa ada bau cokelat disini," gumamnya, hampir menyentuh leher Harry yang dilingkari syal, "Bau Potter. Mungkin bocah itu belum jauh dari sini..."
Neville memiliki mata yang tanpa cacat, dan ia bisa dengan jelas melihat bagaimana Harry bertahan untuk tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Wajah Ravenclaw itu tanpa ekspresi, tapi matanya tidak sedatar kelihatannya, begitupula pipinya yang menegang. Mata Harry menyiratkan ketakutan.. dan keinginan untuk menjauh dari orang yang menciumi bau Harry.. seperti binatang.
Neville tak pernah merasa segatal ini untuk mengutuk seseorang yang bahkan baru dilihatnya pertama kali seumur-umur, yang dipanggil 'bos-bos' segala.
"Bos." salah satu kroco Scabior memanggil, membuat wajah Harry terkena beberapa helai rambut kasar dan bau yang mencuat dari kepala Scabior yang menoleh. Harry menahan bersinnya ketika salah satu ujung rambut itu berada di depan cuping hidungnya.
Pasti bau dan kotor sekali, rambut Scabior itu.
Neville ingin sekali tertawa melihat ekspresi Harry yang campuran jijik dan tidak percaya kalau saja kondisinya memungkinkan.
"Kau mengganggu, asli. Aku merasa kehadiran Potter tadi.. dan kau mengacaukannya," gerutu Scabior sok ngebos, menolehkan kepalanya menjauh dari Harry, "Ada apa?"
"Kita perlu memanggil Fenrir Greyback sekarang, bos."
"Hah?" Scabior memainkan ujung syal Harry dengan jemarinya, "Untuk ap—?"
"Mendeteksi Mr Potter tentunya, kalian orang-orang bodoh," suara congkak dingin memotong, dan Harry juga Neville bertukar pandang, tahu siapa pemilik suara itu. "Apa kalian berpikir bahwa mendeteksi tanpa ahli resonansi sihir maupun Werewolf yang dalam kasus ini membantu?"
"Mr Malfoy," Scabior tak langsung menjawab. Ia membungkuk agak rendah. "Tadinya kami ingin memanggil Greyback kesini—"
"Kalian berada di bawah perintah Dark Lord," potong Lucius Malfoy lagi, seolah tidak mendengar pria bersyal itu, "Kesalahan berarti kematian. Dan kalau kalian gagal, kami sebagai pengikut setia Dark Lord juga akan dikenai imbasnya."
Scabior menggertakkan dirinya sembunyi-sembunyi; hanya Harry dan Neville yang bisa melihatnya.
"Maaf, Mr Malfoy."
"Maaf kalian tidak cukup," Mr Malfoy memandang rendah Scabior, "Sudah tiga minggu, dan kalian hanya berhasil mendapatkan kegagalan."
"K—"
"Cari anggota organisasi berisi darah-darah kumuh itu," Mr Malfoy meludah dengan sombong, tongkat berjalannya diketukkan perlahan, "Ada berita bahwa beberapa dari mereka—Sirius Black dan para Half-breed dan si Manusia Serigala mencari sesuatu yang tidak diinginkan Dark Lord untuk ditemukan. Itu tugas kalian."
Scabior nampak tidak menerima. Ia berpikir bahwa lebih mudah mencari seekor bocah Potter daripada tiga dewasa berpengalaman sihir yang harus diperhitungkan. Scabior berkata, "Kami sudah setengah jalan menemukan Potter, Mr Malfoy." kebanggaan terdengar jelas di suaranya, walaupun dibuat-buat. Apapun untuk tidak mengejar mantan tawanan Azkaban.
"Setengah jalan?" Lucius Malfoy menaikkan alisnya anggun, "Setengah jalan dalam waktu tiga minggu. Perlukan tiga minggu lagi untuk menyelesaikan mencari bocah ingusan yang berkelana sendirian tanpa siapapun?"
Scabior menelan ludah, "Dia sangat pintar, licik—"
"Toleransi tidak diberikan, Pencuri kotor," hina Mr Malfoy, "Tidak ada bukti—"
"Ada, Mr Malfoy," potong Scabior, dan orang itu langsung ketakutan di bawah tatapan dingin Mr Malfoy. "Kami menemukan jejak baunya—"
"Tanpa Werewolf?"
"Tidak—karena sangat tercium, Mr Malfoy."
Lucius Malfoy berjalan dengan langkah yang pelan-pelan mematikan, tongkat berjalannya terangkat sedikit. "Sesungguhnya, dimana tempat itu?"
Scabior menunjuk tempat ia berdiri tadi dengan telunjuknya, tempat yang pas di depan Harry. "Disini," jeda sebelum Scabior diberi tatapan tajam, "Mr Malfoy."
Lucius Malfoy berjalan dan memberi isyarat agar Scabior tidak dekat-dekat dengannya. Wajah runcing yang mirip anaknya itu datar tapi matanya mengancam.
Harry berusaha mundur ketika mata Mr Malfoy terpaku di titik puncak kepalanya, tapi saat firasatnya mengatakan jangan; benar saja. Salju di belakang kakinya tebal dan akan bergesekan dengan boot-nya.
Mr Malfoy mencondongkan kepalanya dengan menunduk sedikit, dan hidungnya yang mancung sudah terasa di bibirnya.
Neville menatap horor, begitupula Harry yang sekarang menarik tongkatnya pelan-pelan.
Lucius Malfoy menegakkan diri, tapi wajahnya masih terlalu dekat dengan Harry.
"Ada sesuatu disini," Mr Malfoy menyeringai licik. "Apakah itu kau, Mr Potter?"
Harry menatap Neville, dan mata hijau itu mengisyaratkan agar tetap tutup mulut. Neville mengangguk ragu-ragu karena sumpahnya, dan mulut Neville terbuka lebar ketika Harry mengacungkan tongkatnya tepat di antara kedua mata Malfoy, dan berbisik—yang didengar Neville sangat seduktif (Neville mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena berpikiran begitu),
"Itu saya, Mr Malfoy."
Cahaya merah membutakan mata Neville beberapa saat, dan ditemukannya Mr Malfoy mengerang marah. Tangannya yang tidak memegang tongkat menutupi dahinya yang berdarah-darah, dan Harry sudah terlihat—tidak tembus pandang lagi—karena mata Scabior melebar sambil menunjuk Harry.
"Nevi," suara Harry berbisik setelah Harry bergeser ke arahnya, bahunya menyentuh lengan Neville, "Kau tetap diam disini, dan jika kuberi isyarat, lakukan tanpa suara."
Neville tak sempat membalas karena sebuah kutukan meluncur dan ditangkis Harry, menyibukkan Harry yang sudah bersiaga dengan tongkatnya dengan gerakan aristokratik.
"POTTER!" seseorang berteriak, dan Neville langsung berusaha mengikuti ke arah Harry berlari menerjang selusinan Snatcher yang bergantian merapal kutukan dan mantra.
Neville diam dengan dilema luar biasa di hatinya. Ia sudah bersumpah pada Harry untuk mengikuti perintahnya, berdiam diri, tapi ia tidak bisa tenang melihat Harry melawan lebih dari tiga-belas orang dewasa—terlebih Snatcher—sendirian.
Gerakan Harry yang bagai menari menghindari sambil melempar kutukan tidak membuatnya lebih baik, karena sudah banyak serangan yang nyaris melukai salah satu bagian tubuh Harry. Terlebih, Mr Malfoy sepertinya sudah memberi mantra pada luka di dahinya, dan ikut menyerangi Harry.
Selusin lebih orang itu berkurang setengahnya karena kutukan dan mantra Harry yang dilempar non-verbal, dan ketakutan Neville belum hilang juga. Ia tahu Harry sangat berbakat di bidang sihir, tapi lawannya adalah dewasa-dewasa yang berada di bawah kekuasaan—You-Know-Who.
Dan Neville benci akan kenyataan bahwa ia tid—belum bisa mengucapkan nama itu dengan keberanian.
Ketakutan Neville mulai memudar melihat jumlah lawan Harry hanya tinggal empat orang.
"Petrificus Totalus!"
Neville berjengit otomatis ketika Petrify itu hampir gagal ditangkis Harry, tapi kesenangannya memuncak mendadak ketika sebuah suara yang cukup dikenalinya terdengar berteriak,
"Reducto!"
Asap memenuhi, dan saat menjelas, Neville langsung bersorak bahagia di luar kendali melihat siapa yang merapal Kutukan Reduksi itu.
Disana, di samping kanan-kiri Harry, berdiri Profesor Lupin, Tonks, dan Sirius Black, wali Harry. Tongkat mereka teracung ke arah tiga orang yang selamat—Lucius Malfoy, si 'bos', dan anak buah 'bos' yang tampak cukup pintar.
Neville melanggar sumpahnya dan berlari ke arah empat orang itu sambil mengucap 'Finite', membuat dirinya kelihatan lagi.
Harry menoleh ke arahnya, dan betapa terkejutnya Neville bahwa Harry memberinya senyuman, bukan ancaman atau apa karena telah melanggar janji Harry.
"Harry," Harry tak lama memberinya senyuman ketika seorang pria tampan berambut gelap—Sirius Black—memeluk Harry sangat erat penuh sayang. Lewat bahu Sirius, Neville bisa melihat nyamannya Harry di pelukan Sirius. "Harry."
"Sirius." Neville mendengar Harry membalasnya, dan memalingkan wajah untuk diberi cengiran oleh Tonks yang rambutnya merah muda.
"Tonks," sapa Neville, dan ia membalas senyum pada pria berambut cokelat, "Remus."
"Hey, Neville." balas Tonks, hangat.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Remus.
"Baik." kata Neville, dan Harry melepas pelukannya pada walinya.
Harry menatap ke arah lain, dan Neville mengikuti arah pandangannya. Sekejap, kelima orang itu menatap bergantian Mr Malfoy, Scabior, dan seseorang tanpa-nama.
"Lihat ini," kata Lucius Malfoy dingin, tongkatnya masih terangkat, "Reuni wali dan anaknya. Sangat menyentuh. Blood-traitor dan Half-breed. Apalagi yang lebih menyenangkan? Sayang sekali tidak ada Mudblood untuk melengkapi kotornya darah kalian."
"Jangan mengatakan hal yang tidak penting," kata Sirius keras, dan tongkat pria itu bergetar, "Lucius."
"Penting, Sirius," balas Mr Malfoy sama sarkastiknya, menekan ucapannya di kata 'Sirius'. "Udara di sekitar sini lebih tercemar sejak ada satu Blood-traitor, Half-breed, dan—apa itu, setengah-Werewolf? Kasihan."
"Tutup mulutmu!" ancam Sirius, dan sebuah mantra non-verbal ditangkis Lucius Malfoy yang masih memasang ekspresi mencemooh yang menyakitkan hati.
"Tersinggung, Pengkhianat?" Lucius Malfoy mengangkat dagu runcingnya, terlihat lebih sombong, "Hal lainnya yang dibawah Darah-pengkhianat adalah Peranakan-campuran."
Sirius melempar kutukan sambil mengaum marah, dan Harry menarik lengan Sirius agar tidak bergulat dengan Lucius Malfoy.
"Sirius, jangan," kata Harry, tatapannya melembut ketika mata kelabu itu menatapnya, "Kau terpancing."
"Kau dihina—"
"Aku tidak keberatan," ucap Harry pelan, "Asal kau masih disini, Sirius."
"Ooh, Black," terdengar lagi nada licin Malfoy, "Bergantung pada anak angkatmu, rupanya? Anak haram yang darahnya memalukan—"
"DIAM!" Sirius melempar Lucius Malfoy dua kutukan sekaligus, yang sayangnya tak mengenai orang tua sombong itu. "Harry bukan anak haram atau—apapun itu!"
"Sirius!" Harry dan Remus sekarang menahan lengan Sirius agar pewaris Black itu tidak menghajar Lucius malfoy yang sekarang menyeringai.
"Harry—"
Suara melengking, tidak manusiawi, dan menyakitkan telinga bergema di telinga mereka.
Tawa wanita. Tawa keji tanpa belas kasih, tawa Bellatrix Lestrange.
"Ooh, lihat ini, ada sepupuku!" Bellatrix melebarkan senyuman jahatnya yang kekanakan tapi sangat gelap. "Halo, Sirius! Apa kabar, sepupu?" tanyanya, keramahan palsu membuat Neville, Remus, dan Tonks menahan jengit.
"Ooh, Bella, sepupuku tersayang," Sirius membalas, akhirnya bebas dari cengkraman, dengan cengiran lebar yang sama palsunya. "Semuanya terasa baik sampai kau datang."
Ekspresi Bellatrix langsung berubah sadis, "Darah-pengkhianat! Darah-pengkhianat, kau mengotori keluarga Black, kau sampah!" tongkat err—bengkok Bellatrix teracung.
Ujung senyuman Sirius bergetar, "Setidaknya aku tidak sekuno kalian yang sok bangsawan."
Tawa tidak normal Bellatrix kembali bergema. "Reuni yang sangat hangat," mata hitam Bellatrix yang berkerudung menatapi kelima orang, dan berhenti di mata hijau Harry yang impasif. Bellatrix meraung marah. "Kau Peranakan-campuran kotor! Anak haram!" hina Bellatrix sambil menunjuk-nunjuk Harry dengan tongkatnya yang kaku, "Kau memiliki teman-teman tersayangmu, hah? Dark Lord akan membunuhmu! Menghabisi Half-breed yang kotor! Yang tidak suci!"
Harry hanya menatap Bellatrix datar, tapi hatinya retak—sudah lama tidak ada yang menghinanya dengan sekejam itu. Terakhir ia mendapat cacian hanya saat bersama Aunt Petunia dan Uncle Vernon...
Dan saat Bellatrix yang mengatakannya, ia tak tahu harus apa.
Sirius yang sedari tadi balas menghina terdiam, karena tak kunjung mendengar balasan dari anak baptisnya.
"Harry? Kau—"
"Tidak apa, Sirius."
Wajah puas Bellatrix padam, menggelap seketika dengan mulutnya yang tertekuk benci, dan ia mengangkat tongkatnya lebih kasar meneriakkan 'Crucio' dengan nada senang di ujungnya, kemudian Harry terlempar ke belakang, rasa sakit teramat pedih menyelimutinya, pandangannya buyar. Konsentrasinya pecah karena sakit di sekujur tubuhnya.
"Harry!" suara Neville terdengar, tapi suara cekikikan Bellatrix yang histeris memenuhi telinganya.
Harry mendengar beragam kutukan-kutukan melayang ke musuh dan mereka, tapi rasa sakitnya yang bagai meremukkan organ tubuhnya dari dalam dan luar, membuat dirinya ingin muntah dan menangis, tak berkurang sedikitpun. Bellatrix terlalu handal.
Dan barulah, saat tawa puas Bellatrix menghilang, Harry merasakan Neville berjongkok di dekat tubuhnya yang telentang di rerumputan.
"Harry..." Neville menatapnya cemas. "Kau tak apa? Bisa berdiri?"
Harry mengangguk pelan. Dengan bantuan Neville yang memapahnya, Harry bisa berdiri dan mengambil tongkatnya yang terlempar tak jauh darinya. Crucio Bellatrix lebih menyakitkan, dan rasanya tanpa ampun.
Harry mengacungkan tongkatnya ke arah Scabior yang duel dengan Remus, dan menggumamkan beberapa kata latin, membuat kutukan Remus mengenai Scabior tepat di dada.
Mata mereka berdua langsung terpaku pada duel Bellatrix—yang tak jauh darinya ada Lucius Malfoy melawan Tonks dan Remus, darah berbercak di tempat Remus—dan Sirius. Mereka bicara dengan senyum menjatuhkan, dan kutukan dari lawan mereka dihindari.
Harry merasa firasat buruk memenuhi kepalanya. Akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada—
Sebuah portkey melayang ke arah Remus dan Tonks, dan mereka menghilang secepat portkey itu menyentuh mereka. Neville di sebelahnya menangkap sebuah kalung, dan mata Harry membesar melihat apa yang ada di depannya.
Cahaya kehijauan yang menyilaukan mata, melewati udara, dan hilang setelah menabrak tubuh seseorang...
Sirius beku, tongkatnya menyentuh tanah, patah, dan tubuh walinya roboh.
Sesak.
To Be Continued...
.
.
Hana's Note::
Sangat berterima kasih pada reviewer sebelumnya dan siapapun yang baca sampai sini! *thumbs up* btw, Kaze baru keluar dari Hiatus gegara UTS... maaf kalau dipotong disitu, dan gak ada kemunculan Alhena disini.. takutnya kepanjangan dan makin gaje. Mungkin buat yang pengen lebih panjang dan lebih pendek tiap chp bisa ngomong di review. Review menguntungkan 'kan? Nah, SBS dikit!
Pojok SBS! (~^^)~
1) Kapan Draco muncul?
Kaze: Yohohohoh, bentar lagi kok. Ini udah Pre-Malfoy Manor. *dihajar para penagih keeksisan Draco*
2) Kok half-breed ma peranakan-campuran dkk ganti2 bahasa sih?
Kaze: Oh, ada yang ga setuju? :3 itu 'kan sebutan.. ya udah Kaze ganti2 ada half-breed ma darah-pengkhianat gitu...
3) Singkatan dari SBS?
Kaze: Silakan Bertanya Sepuasnya.
Sheep, kayaknya udah. Buat yang nanya bakal ditampilin begini buat kebersamaan (sakali pan). Buat yang nanya tapi belum Kaze bales, bilang ya, takutnya lupa. Maaf jadi rada cliffie gini.. ini udah 5000-an, Kaze gak tega! O.O
Keywords for Next Chapter:: Tortures, mixed emotions, Luna dan Ginny.
'Kay, ditunggu review dan Q-nya ya. It means a lot for me.
Comments such reviews will make the Authors happy! Review, da? ;)
Kue cokelat,
-Hana,
Finished on 24th of August, 2011.
