Disc:

Naruto: Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

.

.

.

Selasa, 30 Mei 2017

.

.

.

OC PENDUKUNG LAINNYA YANG MUNCUL DI CHAPTER INI:

Asaki Chitanda: oc dari Jougasaki Mika. Sebagai saingan Shinju dalam merebut Hikaru.

.

.

.

NEW GUARDIANS AND THE YOKAI

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Shinju dan teman-temannya

.

.

.

TAP! TAP! TAP!

Sepasang sepatu berwarna hitam tampak menapaki jalan raya yang lengang ini. Pemiliknya adalah seorang laki-laki berambut hitam dan bermata biru sayu, yang mengenakan pakaian seragam khas Uzuka Gakuen.

Dari belakangnya, tampak seorang gadis berambut hitam panjang dan bermata biru. Mengenakan kacamata kotak dan mengenakan pakaian seragam khas Uzuka Gakuen, tapi berbeda warna dari laki-laki itu.

"ICHI-NII, TUNGGU AKU!" seru gadis berkacamata yang berlari dengan tergesa-gesa mengejar laki-laki itu.

Laki-laki berambut hitam yang diketahui bernama Namikaze Ichi, menoleh ke arah adiknya dengan tampang yang datar. Kedua matanya masih terlihat sayu seperti baru saja bangun tidur.

"Cepat sedikit! Dasar, lamban!"

"Habisnya Ichi-nii selalu suka pergi seenaknya!"

"Memangnya salah ya?"

"Tentu saja salah! Ichi-nii sangat menyebalkan! Huh...!"

Sang adik yang diketahui bernama Namikaze Miyu, berumur sekitar 14 tahun, menunjukkan wajah yang sangat sewot. Kedua pipinya mengembang seperti balon.

Sang kakak, yang berusia 16 tahun, hanya bersikap cuek saja saat menghadapi adiknya ini. Tidak mau mengambil pusing lagi jika sang adik kesal padanya.

Sikap Ichi sangat mirip dengan ayahnya, Namikaze Menma. Sedangkan sikap Miyu sangat mirip dengan ibunya, Namikaze Kuroka. Mereka berdua adalah saudara sepupunya Shinju.

Ketika dua saudara itu sedang bertengkar kecil di tengah jalan itu, muncul Shinju yang berjalan santai ke arah mereka. Lalu Shinju menyadari kehadiran mereka itu.

Segera saja dia menyapa mereka.

"Ah, selamat pagi, Ichi-kun, Miyu-chan!"

Ichi dan Miyu menyadari panggilan Shinju itu.

"Selamat pagi!" balas Ichi dengan nada yang datar.

"Selamat pagi, Shinju-nee!" Miyu juga membalas perkataan Shinju dengan senyuman yang lebar.

Shinju sedikit tersenyum dan berjalan mendekati mereka.

"Ayo, kita jalan lagi!"

Ichi malah pergi begitu saja dan meninggalkan dua gadis itu. Miyu terperanjat dan berteriak sangat keras.

"TUNGGU! ICHI-NII, KAU SELALU BEGITU!"

"Biarkan saja dia pergi duluan," kata Shinju yang tersenyum dan meraih tangan Miyu."Kita pergi sama-sama saja."

Kedua mata Miyu bersinar terang. Dia mengangguk dengan cepat.

"Iya, Nee-chan."

Maka kedua gadis itu mulai berjalan lagi sambil bergandengan tangan dengan erat. Saling melangkah bersama menuju ke Uzuka Gakuen.

.

.

.

Setibanya di Uzuka Gakuen, Miyu langsung menuju ke gedung Uzuka Gakuen yang bagian "SMP-nya", karena dia masih duduk di kelas 8. Sedangkan Shinju langsung menuju ke kelasnya yang berada di gedung Uzuka Gakuen yang bagian "SMA-nya."

Mereka berdua terpisah untuk sementara waktu dan akan menghadapi pelajaran yang berbeda.

Ichi juga sudah tiba di gedung sekolah yang sama dengan Shinju. Mereka satu kelas yaitu di kelas 10-A.

Pagi-pagi begini, hanya ada Shinju dan Ichi yang baru datang. Selebihnya belum datang sebelum jam 8 pagi.

Setelah meletakkan tas di atas meja, Ichi langsung duduk dan membaca sebuah buku pelajaran matematika karena akan diadakan ulangan matematika hari ini.

Sementara Shinju langsung mengambil sebuah sapu di balik pintu kelas, usai meletakkan tasnya di atas meja.

Tiba-tiba...

SET!

Muncul tangan lain yang mengambil sapu itu. Shinju menyadarinya dan menoleh ke arah orang yang telah memegang gagang sapu tersebut.

DEG!

Jantung Shinju berdetak kencang tatkala menatap wajah seorang laki-laki. Laki-laki yang sangat manis. Rambutnya merah. Matanya sewarna dengan rambutnya. Kulitnya berwarna putih. Tinggi badan sekitar 169. Namanya Kenjo Hikaru.

Hikaru tersenyum manis dan menyodorkan sapu itu pada Shinju.

"Kau saja yang pakai sapu ini, Shinju. Biar aku yang membereskan yang lain."

Begitulah yang dikatakan Hikaru. Shinju malah terpaku dengan semburat tipis di dua pipinya. Menjadi patung hidup begitu tanpa bisa mengatakan apapun.

Pasalnya, Hikaru ini adalah laki-laki yang sangat disukai Shinju. Apalagi Hikaru adalah sahabat akrab Shinju sejak SMP.

Karena tidak mendapatkan tanggapan dari Shinju, Hikaru menjadi bengong dan mengibas-ngibaskan tangan kirinya di depan wajah Shinju.

"Hei, kenapa kau malah diam sih?"

"Ah...," Shinju tersadarkan dan kemudian buru-buru menjawab dengan gugup."Te-Terima kasih."

"Ya, sama-sama. Ini peganglah sapu ini."

Hikaru tersenyum lagi dan menyerahkan sapu itu lagi ke arah Shinju. Shinju menggerakkan tangan kanannya untuk meraih gagang sapu itu.

BATS!

Mendadak, datanglah tangan yang lain, langsung menyambar cepat sapu itu. Otomatis membuat Hikaru dan Shinju kaget serta menoleh bersama ke arah orang yang telah merebut sapu itu.

"Biar aku yang menyapu kelas, Hika-kun."

Rupanya seorang gadis cantik yang berambut panjang hitam. Bermata biru. Tinggi badan sekitar 155 cm. Namanya Asaki Chitanda.

KIIITS!

Pandangan mata Shinju menjadi tajam dan berkilat. Begitu juga dengan Chitanda.

Terjadilah aliran listrik permusuhan di antara mereka. Hikaru yang berada di tengah, turut merasakan adanya aura persaingan yang merayap-rayap di belakang mereka.

"Hei, apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Hikaru yang merasa heran.

"Huh... Dasar, sok cari perhatian!" celetuk Shinju dengan wajah yang sangat datar.

"Apa katamu!?" wajah Chitanda menjadi merah padam."Aku tidak sok cari perhatian! Justru kau sendiri, kan Shin-chan!?"

"Namaku bukan Shin-chan. Tapi, Namikaze Shinju, Chi-baka!"

"Namaku bukan Chi-baka!"

"Itu memang benar."

"AKH! SHIN-CHAN! KAU MENYEBALKAN!"

Dua gadis itu malah terlibat adu mulut dengan sengit. Hingga membuat Hikaru tercengang habis saat menyaksikannya, dan memutuskan untuk menengahi mereka.

"HEI, HENTIKAN! BERISIK, TAHU! GANGGU ORANG BACA SAJA!"

Spontan, Hikaru dan dua gadis itu menoleh ke arah orang yang bersuara keras tadi. Ternyata bukan Hikaru yang mengatakannya, tapi asalnya dari laki-laki bermata sayu itu.

Siapa lagi kalau bukan si Ichi.

"Haaah...," Shinju menghelakan napasnya."Ya sudah, sebaiknya kita segera membersihkan kelas ini sebelum yang lainnya datang."

"Yaaah... Kau benar," Chitanda berwajah datar dan langsung berjalan menuju ke arah mejanya.

Dia meletakkan tasnya yang sedari tadi disandangnya, ke atas meja. Kemudian bergegas untuk menyapu kelas.

Sedangkan Shinju mengelap kaca dengan peralatan pembersih yang didapatkannya di lemari kebersihan, yang ada di kelas itu.

Tinggallah Hikaru yang melongo seperti orang bodoh.

Ichi yang sudah merasa tenang, kembali melanjutkan aktifitas membacanya.

"Haaaah... Syukurlah... Semuanya sudah selesai..."

Hikaru menghelakan napas panjangnya lalu tersenyum karena melihat Shinju dan Chitanda yang sudah berdamai. Rasanya senang sekali.

.

.

.

"WAAAAAA! AKU TERLAMBAT!"

Di lorong lantai dua gedung Uzuka Gakuen bagian SMA, terlihat seorang gadis berambut pirang panjang dan bermata hijau, yang berlari sangat terburu-buru, karena terlambat bangun.

Entah mengapa jam wekernya tidak berbunyi sama sekali sehingga membuatnya telat untuk pergi ke sekolah. Sehingga membuatnya terburu-buru untuk mandi dan berpakaian. Bahkan dia tidak sempat sarapan.

Sambil berlari secepat kilat bagaikan dikejar hantu, dia berusaha mengejar waktu. Untung saja, jarak rumahnya dengan jarak sekolahnya cukup dekat. Dia tidak kehilangan banyak waktu untuk mencapai sekolah. Hanya sekitar 10 menit saja, dia pun sudah sampai di sekolah.

Begitu tiba di kelasnya yaitu kelas 10-A, dia langsung membuka pintu kelas yang digeser dari arah samping.

GRATAK!

Otomatis semua mata tertuju padanya. Muncul sweatdrop di belakang kepalanya.

'Ah, mati aku...,' batin gadis itu dengan keringat dingin yang menetes dari sela-sela rambut kuningnya.'Aku lupa kalau sekarang Anko-sensei yang mengajar.'

Benar sekali, pada jam pelajaran pertama adalah mata pelajaran Matematika, yang diajarkan oleh guru perempuan berambut hitam yang diikat ponytail. Namanya Mitarashi Anko.

Sang guru memandang gadis yang terlambat itu dengan tatapan tajam. Seakan-akan ingin menerkam gadis itu sekarang juga.

"Kurosaki Reiko..."

"Y-Ya... Ma-Maaf, saya terlambat, sensei."

"Kau tahu ini sudah jam berapa?"

"Ja-Jam... Jam setengah sembilan, sensei."

"Baru kali ini, kamu terlambat ya?"

"Y-Ya, sensei."

"Baiklah... Kamu boleh duduk di tempatmu."

"Ah... Te-Terima kasih, sensei."

Dengan takut-takut, gadis yang diketahui bernama Kurosaki Reiko, segera berjalan cepat menuju ke arah bangkunya yang terletak di samping Shinju. Anko yang dikenal sebagai guru killer di sekolah itu, melanjutkan pelajaran yang tertunda.

Rencananya, akan diadakan ulangan matematika. Tapi, untung saja, Reiko sudah sampai di sekolah tepat pada waktunya.

Perhatian semua orang tertuju pada sang guru. Reiko meletakkan tasnya di atas meja lalu menghelakan napasnya yang terasa berat.

"Aaaah~ Syukurlah... Anko-sensei tidak memberiku hukuman..."

Shinju yang duduk di sampingnya, dibatasi oleh gang pemisah, berbisik pelan padanya.

"Psst... Rei-chan..."

Reiko menoleh ke arah Shinju yang bersuara pelan.

"Ah... Ada apa, Shinju-chan?"

"Kenapa kau bisa telat sih?"

"Ah... Itu... Karena jam wekerku tidak berbunyi."

"Oh, begitu. Ya sudahlah."

Hanya bertanya karena penasaran, Shinju kembali memusatkan perhatiannya ke arah depan, dimana Anko mulai membagikan soal ulangan matematika itu.

Muncul sweatdrop di kepala Reiko.

'Gawat! Aku lupa kalau sekarang ulangan matematika! Aku juga tidak belajar semalam itu! Aaaah... Bagaimana ini?'

Aura kepanikan merayap-rayap di belakang tubuh Reiko. Shinju dan Chitanda bisa merasakannya.

Sang guru berkata sambil menyerahkan soal ulangan matematika itu satu persatu pada setiap murid. Murid-murid menerimanya dengan perasaan takut.

"Kita mulai ulangan matematika hari ini. Waktu pengerjaannya hanya selama 90 menit. Dilarang mencontek atau memberikan contekan. Jika ada yang melanggar, akan saya beri hukuman! Mengerti!?"

Suara lantang sang guru yang sangat menggelegar, mampu membuat semua murid menjadi diam. Semua murid mengangguk pelan kecuali Shinju, Ichi, dan Chitanda yang terkesan sangat cuek.

"Mengerti, sensei."

"Bagus. Kita mulai saja ulangan matematika hari ini. Ayo, mulai kerjakan sekarang!"

"Baik, sensei."

Maka semua murid pun sibuk untuk mempersiapkan peralatan menulis dan mempersiapkan pikirannya. Semuanya kasak-kusuk. Sementara Anko mengawasi dari berbagai arah, dengan pandangan mata yang sangat tajam bagaikan mata elang.

Terlihat Ichi yang memegang dua sisi kertas soal ulangan matematika itu. Dia hanya bergumam pelan.

"Ternyata mudah sekali."

Hikaru yang melototi kertas soal ulangan matematika dengan raut wajah yang kusut.

"Huh... Yang benar saja? Ini sulit sekali..."

Shinju yang mulai menulis jawaban buat soal yang dikerjakannya. Wajahnya terlihat serius.

"Pasti ini jawabannya."

Chitanda yang tersenyum dan dengan mudahnya menulis jawabannya di kertas jawaban soalnya. Karena dia sangat pintar dalam pelajaran matematika.

Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga jam pelajaran matematika ini berakhir dengan senyuman mengerikan dari Anko.

.

.

.

Jam istirahat tiba juga.

Terlihat Shinju duduk bersama Reiko. Reiko duduk berhadapan dengan Shinju. Dia kelihatan lesu sambil mengaduk-aduk es jeruknya yang sudah habis disedotnya barusan.

"Aaaah~~~"

Dia menghelakan napasnya berkali-kali sehingga menarik Shinju untuk memperhatikannya.

"Kenapa?" tanya Shinju yang menghentikan aktifitas makannya sejenak."Kuperhatikan kau dari tadi kelihatan lesu begitu."

Dengan wajah yang sangat kusut, Reiko menghelakan napas lagi. Barulah menjawab pertanyaan Shinju.

"Aku telat hari ini. Lalu aku tidak bisa menjawab soal ulangan matematika dengan benar. Aku takut nilai ulangan matematika-ku bakal jelek. Kalau sampai ketahuan nilai ulangan matematika-ku jelek, Tou-san-ku akan memarahiku habis-habisan."

Dengan tetesan air mata yang menyembul di sudut dua matanya, Reiko menunjukkan tampang yang sangat menyedihkan. Shinju hanya manggut-manggut dengan wajah yang datar.

"Oh, masalah itu. Kau tenang saja, Rei-chan."

"Bagaimana aku bisa tenang, Shinju-chan? Aku tidak akan bisa tenang sebelum aku mendapatkan nilai ulangan matematika yang bagus. Kalau Kaa-san bisa memaklumiku, sedangkan Tou-san... Kau tahu bagaimana tampangnya saat marah, kan? Sangat mengerikan, tahu."

"Aku tahu kok."

"Jadi, apa yang harus kulakukan?"

"Jangan beritahu Tou-san-mu soal masalah ini. Gampang, kan?"

Perkataan Shinju itu mampu membuat Reiko terdiam. Dua detik kemudian, Reiko tertawa lebar dengan wajah yang berbinar-binar.

"Benar juga."

"Sudah kukata, kan?"

"Baiklah... Kalau begitu, aku mulai merasa semangat lagi!"

Dengan wajah yang ceria, Reiko melanjutkan makannya yang tertunda. Dia mencomot mie ramen yang masih utuh dengan sumpit. Tiba-tiba, rasa frustasinya menghilang begitu saja.

Senyuman simpul terukir di wajah Shinju. Anak Namikaze Naruto itu juga melanjutkan makannya yang tertunda. Dia menggerakkan sumpitnya untuk menjepit mie ramen yang tinggal sedikit lagi.

Di antara keramaian orang-orang yang sedang berkumpul untuk makan siang di kantin, tampak Hikaru yang sedang berjalan sendirian. Mata merahnya yang tajam, terus menelusuri setiap sudut ruangan itu.

"Aduh... Di mana Shinju ya?"

Ternyata dia sedang mencari Shinju yang pergi duluan bersama Reiko, sejak jam istirahat berbunyi. Niat awalnya, dia ingin mengajak Shinju berbicara empat mata di suatu tempat. Hanya berdua saja.

Setelah lama mencari, akhirnya dia menemukan Shinju yang duduk bersama Reiko di dekat jendela kantin.

Wajahnya cerah seketika. Suaranya ingin keluar dari dalam tenggorokannya, untuk memanggil Shinju.

"Shin..."

Belum sampai dia meneruskan perkataannya, mendadak muncul seorang gadis yang merangkul lengan kanannya. Sangat mengejutkannya.

"...!"

"Hika-kun, ternyata kau di sini."

"Chi-chan!?"

Ekspresi wajah Hikaru berubah drastis saat mengetahui siapa gadis yang merangkul lengan kanannya.

Chi-chan, itulah panggilan akrab Chitanda. Dia akan marah jika ada orang yang tidak menyebut namanya dengan benar.

Dengan wajah yang merona merah, Chitanda tersenyum sambil mengatakan sesuatu pada Hikaru.

"Hika-kun, ayo ikut denganku sekarang!"

"Kemana?"

"Pokoknya ikut saja!"

"Ta-Tapi, akukan mau..."

"Biarkan saja Shin-chan itu makan berdua bersama temannya. Jangan ganggu mereka."

Chitanda menarik tangan kanan Hikaru dengan paksa. Hikaru dengan terpaksa juga, menuruti langkah Chitanda. Dia terseret dan sempat menoleh ke arah Shinju yang tersenyum saat berbicara dengan Reiko.

Ketika itu juga, senyuman hangat tertampil di wajah Hikaru. Semburat merah tipis hinggap di dua pipinya.

'Kau benar-benar manis ya, Shinju.'

Itulah isi hati Hikaru yang sebenarnya. Hingga dirinya menghilang bersama Chitanda di mulut pintu kantin.

SET!

Jauh di luar gedung sekolah Uzuka Gakuen itu, muncul seorang wanita berambut hitam panjang yang diikat ponytail. Bermata ungu. Memakai pakaian kimono serba putih hitam. Dia berdiri di batang pohon beringin, tepatnya di depan gedung sekolah tersebut.

Senyuman simpul terukir di wajahnya yang cantik.

"Ara... Ara... Akhirnya aku bisa tiba di sini juga. Sudah sangat lama, aku tidak pernah ke sini lagi," katanya dengan nada yang terdengar menggoda."Aku ingin bertemu dengan Guardian tampan itu. Bagaimana kabarnya sekarang ya?"

Setelah mengatakan itu, dia melompat ke atas dan menghilang begitu saja. Meninggalkan jejak jaring laba-laba yang menempel di batang pohon beringin itu.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Sekian sampai di sini dan terima kasih.

Rabu, 31 Mei 2017