Disc:

Naruto © Masashi Kishimoto

Love Live! Idol School Project © Sakura Kimino and Masaru Oda

.

.

.

Pairing: Naruto x Nozomi

Genre: family/hurt/comfort/romance

Rating: T

Karakter utama lainnya: Namikaze Anzu (sebagai anak Naruto dan Nozomi) (referensi gambaran karakter ini, saya ambil contohnya dari Futaba Anzu)

.

.

.

Kamis, 6 April 2017

.

.

.

ABOUT ME, MOM, AND DAD

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Bertemu orang asing

.

.

.

POV: NORMAL

.

.

.

Hari yang begitu indah, menyapa semua insan di dunia ini. Sang surya yang merangkak naik ke langit, perlahan-lahan menampakkan senyum sinarnya yang menyilaukan mata, menghangatkan sebagian bumi. Burung-burung sedang terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, bernyanyi bersama, terdengar sangat merdu dan menenangkan hati.

Awan-awan putih yang membentuk sekawanan domba, hampir menutupi langit yang begitu cerah. Sehingga sinar mentari terselimuti dalam awan-awan lembut. Senantiasa berusaha untuk mencari celah agar menyorotkan sinarnya yang terang hingga sampai ke permukaan bumi.

Jauh di bawah sana, tepatnya di bumi, di sebuah kota besar, Konoha. Di sebuah rumah bertingkat sederhana, berwarna putih, terdengar suara lembut yang memanggil.

"Anzu-chan! Ayo, bangun, nak! Ini sudah pagi lho!"

KLAK!

Pintu kamar yang berada di lantai dua itu, terbuka lebar. Menampakkan sosok wanita berusia 30-an. Berambut panjang ungu yang dikepang satu di samping kiri dan dijuntaikan di bahu kirinya. Bermata pirus. Berpakaian kasual berupa baju kaos ungu berlengan panjang dan rok hitam selutut. Apron kotak-kotak biru putih melapisi penampilan kasualnya. Bertelanjang kaki.

Dia tersenyum saat menyaksikan anak perempuannya yang masih terlelap di dalam balutan selimut. Lantas dia berjalan pelan untuk menghampiri putri satu-satunya itu.

"Anzu-chan... Ternyata kamu masih saja tidur. Ayo, bangun! Sudah jam berapa ini?"

Dia menggoyang-goyangkan badan anaknya berharap anaknya terbangun. Tapi, sang anak masih saja mendengkur halus sambil memeluk bantal kesayangannya.

"Haaah... Dasar, tukang tidur. Sama seperti ayahnya. Susah sekali kalau dibangunkan pagi-pagi begini. Aduuuh..."

Dengan kesabaran tingkat tinggi, Nozomi berusaha meredam kemarahannya. Dia berusaha bersikap lembut dan berjanji pada dirinya sendiri agar tidak pernah memarahi Anzu. Sifat Anzu sangat mirip dengan Naruto. Hal itu menjadi sesuatu yang mengingatkannya pada Naruto.

Sekali lagi, dia membangunkan Anzu dengan cara merampas bantal kesayangan Anzu sehingga sukses membuat Anzu terbangun.

"Ah, bantalku mana...?" Anzu membuka setengah kedua matanya."Siapa sih yang mengambil bantalku?"

"Kaasan yang mengambilnya."

"Oh, Kaasan. Eh!?"

Spontan, Anzu membulatkan kedua matanya. Lantas dia langsung bangun, menyibak selimutnya dan turun cepat dari atas tempat tidurnya. Dia tertawa cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Hehehe... Maaf, Kaasan."

Nozomi menatapnya dengan datar lalu dia tersenyum manis.

"Tidak apa."

"Benar? Kaasan tidak marah, kan?"

"Tidak kok."

"Syukurlah."

"Kalau begitu, kamu mandi sana dan jangan lupa dengan tugasmu hari ini."

"Oh iya, aku harus mengantarkan banyak pesanan pelanggan hari ini...," Anzu menepuk jidatnya sendiri."Baiklah, aku bersiap-siap dulu!"

"Ya, Kaasan tunggu di bawah. Kaasan sudah buat sarapan yang enak untukmu."

Mendengar itu, kedua mata gadis berambut pirang itu bersinar terang bagaikan sinar matahari. Dia sangat senang.

"Wah, benarkah?"

"Benar."

"HORE! AKU AKAN CEPAT-CEPAT MANDI SEKARANG JUGA!"

Anzu jingkrak-jingkrak kegirangan seperti anak kecil. Nozomi tertawa geli melihat tingkahnya yang begitu kekanak-kanakan.

"Hahaha... Dasar, kamu seperti anak kecil saja."

"Tentu, aku masih kecil. Masih kelas satu SMP dan aku adalah anaknya Kaasan. Aku akan selalu bersemangat untuk menghadapi hari ini."

Menyorakkan kalimat khasnya yang begitu familiar seperti Naruto, Anzu mengacungkan jempolnya seraya tertawa lebar. Tingkahnya sangat sama dengan Naruto, Nozomi mengakui itu.

Sambil berjalan cepat menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut, Anzu mengambil handuk yang tergantung di paku yang menempel di pintu kamar mandi. Lalu dia masuk ke kamar mandi.

KLAP!

Pintu kamar mandi tertutup pelan. Meninggalkan keheningan yang berlangsung di tempat itu, selama lima detik saja.

Nozomi yang terpaku berdiri di tempatnya, hanya bisa tersenyum sembari meletakkan bantal milik Anzu di atas tempat tidur.

"Anzu-chan... Dia memang mirip seperti Naruto-kun...," ujar Nozomi yang melihat ke arah frame yang terletak di atas meja.

Frame yang menampilkan foto Naruto yang masih muda dan mengenakan pakaian seragam Tentara Angkatan Udara. Naruto tampak gagah di dalam foto itu. Menarik hati Nozomi untuk mendekatinya dan meraihnya.

Dipandangnya foto itu dengan lama. Kedua matanya yang meredup sayu. Tangan kanannya meraba bagian kaca frame tersebut, di mana foto Naruto terpasang di dalam frame tersebut.

Dengan kata yang bergetar, Nozomi bergumam sesuatu yang menandakan isi hatinya yang sedang bersedih.

"Naruto-kun... Sampai kapanpun, kamu akan tetap di hatiku. Tidak akan pernah berubah. Hanya kamu suamiku dan ayah dari anakku. Selamanya... Aku mencintaimu..."

Begitulah. Perasaan ini tidak akan pernah berakhir. Biarpun kiamat sekalipun, perasaan ini tidak akan pernah hilang. Cinta Nozomi hanya untuk Naruto. Tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.

Menahan air bening yang akan berjatuhan sebentar lagi, Nozomi menutup kedua matanya rapat-rapat lalu memeluk foto itu di dadanya seerat mungkin. Merasakan seakan-akan ada Naruto yang memeluknya.

.

.

.

Pada pukul 9 pagi, di hari Minggu yang cerah ini, tampak Anzu yang sedang bersepeda di jalanan perumahan warga. Di dua sisi jalanan tersebut, terdapat perumahan warga yang dibatasi dengan pagar tembok. Suasana jalanan terlihat sepi dan hening karena semua warga memilih tinggal di rumah saja dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.

Sambil mengayun sepeda dengan perasaan yang riang, Anzu berkonsentrasi penuh untuk memandang ke arah depan. Sesekali dia akan melihat ke kanan dan ke kiri untuk menikmati pemandangan. Dia begitu bersemangat menjalani tugasnya sebagai pengantar kue hari ini.

Ya, Anzu dan ibunya memiliki usaha toko kue, yang bernama "NNA Bakery". Nama toko mereka terinspirasi dari inisial nama mereka yaitu Naruto, Nozomi, dan Anzu, disingkat menjadi NNA. Ditambah dengan kata "Bakery". Maka dua kata itu digabungkan hingga menjadi NNA Bakery. Menjadi nama toko kecil mereka yang sudah cukup terkenal di kota ini.

Toko itu sudah dirintis Nozomi sejak dia melahirkan Anzu. Dengan bantuan modal awal dari ayahnya, dia mulai mengelola toko NNA Bakery ini dengan kemampuannya sendiri. Lagipula dia adalah lulusan terbaik dari sekolah pattisier - pattisier itu berarti koki khusus membuat kue. Berbekal kemampuannya itu, dia bisa membuat berbagaimacam kue yang sangat enak. Sehingga membuat para pembeli tertarik untuk membeli kue hasil kreasinya itu.

Semakin lama semakin banyak pelanggan yang membeli kue di toko Nozomi itu. Bahkan ada yang memesan kuenya secara online, sebab Nozomi sempat juga membuat website khusus tentang toko kuenya. Dia bekerja sendirian, walaupun dia juga sibuk mengurus Anzu, tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Dia tetap tegar, kuat dan sabar dalam menempuh kehidupannya, walaupun berdua dengan Anzu. Kadang-kadang juga, ayah Nozomi datang dan membantu mengurus Anzu jika Nozomi kerepotan mengurus toko kuenya.

Kini semuanya berjalan dengan baik, seiring Anzu sudah tumbuh besar dan bisa membantu Nozomi untuk mengurus tokonya. Lalu Nozomi juga mempekerjakan dua orang pegawai yang bertugas untuk mengantarkan pesanan kue buat para pelanggannya. Anzu juga selalu membantu Nozomi, setiap kali pulang sekolah dan hari libur. Dia pasti akan bersemangat saat mengantarkan pesanan kue untuk para pelanggannya.

Begitulah, bagaimana caranya Nozomi membiayai kehidupan sehari-harinya. Dia sudah hidup dengan baik, tanpa merasa kekurangan apapun. Asalkan bisa membahagiakan Anzu, itu sudah lebih cukup baginya.

Angin pagi yang bertiup pelan, menerpa Anzu yang terus mengayuh sepedanya. Anzu selalu menunjukkan aura ceria dari wajahnya, memberikan cahaya harapan bagi seluruh alam. Alam ikut merasakan apa yang dirasakannya. Begitulah perumpamaannya.

Tiba-tiba...

SET!

Muncul sekawanan preman kecil, kira-kira seumuran dengan Anzu, menghalangi jalan Anzu. Mereka memblokir jalan sehingga membuat Anzu tidak bisa melewati mereka.

Menyadari kemunculan kelompok preman kecil itu, Anzu terpaksa menghentikan jalan sepedanya. Dia menatap tajam ke arah kelompok preman kecil itu, yang berjarak tidak jauh darinya.

"Kalian lagi! Kenapa sih kalian itu suka menggangguku?" sembur Anzu yang memasang wajah marahnya.

Satu orang dari kelompok itu, maju ke depan dan bersidekap dada, sepertinya dia adalah pemimpin kelompok preman itu.

"Kalau kau ingin melewati kami, serahkan barang bawaanmu itu," sahut ketua kelompok preman itu yang tak lain adalah seorang gadis berambut raven pendek dan bermata hitam. Diketahui namanya adalah Uchiha Sarada.

"Ukh...," Anzu menggeram dengan raut wajah yang mengeras."Tidak akan kuserahkan! Kalian menghalangi jalanku, tahu! Cepat minggir, kalau tidak..."

Sarada menyipitkan kedua matanya. Kacamata yang dikenakannya, berkilat tajam.

"Kalau tidak... Kenapa, hah?"

"Aku akan memanggil polisi! Kalian semua akan ditangkap atas tuduhan pemerasan!"

"Huh... Mengancam ya? Aku tidak takut. Aku ini anak tentara. Tidak mungkin polisi bisa menangkapku...," Sarada tersenyum sinis sambil menjentikkan jarinya."Teman-teman, serang dia!"

Semua anak buahnya mengangguk cepat.

"BAIK, KETUA!"

Lantas mereka segera berjalan cepat dengan wajah yang sangar. Anzu semakin geram saja dan akan melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka.

"HEI, HENTIKAN ITU! AKU POLISI! JANGAN GANGGU DIA, ANAK-ANAK NAKAL! KALAU TIDAK, AKU AKAN MENEMBAK KALIAN!"

Mendadak, muncul suara keras yang mengagetkan mereka, termasuk Anzu. Secara refleks, Sarada menjadi takut dan berteriak untuk memperingati semua anak buahnya.

"A-Ada polisi! Semuanya mundur, kita pergi dari sini!"

"Baik, ketua!"

Kelompok preman kecil itu segera mengambil sepeda masing-masing, yang sempat terparkir di bahu jalan. Mereka langsung tancap gas dan mengendarai sepeda mereka dengan cepat. Terburu-buru begitu, menuju ke arah yang berlawanan dari Anzu.

Sementara Anzu yang ditinggalkan, memasang wajah bengongnya disertai sweatdrop di kepalanya. Dia terpaku sebentar di tempatnya.

"Dasar... Katanya, anak tentara yang tidak takut dengan polisi, tapi dia malah lari karena polisi asli kebetulan lewat di sini," ucap Anzu yang masih bengong."Syukurlah... Aku bisa selamat dari gangguan mereka."

Dia menghembuskan napas leganya lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah, untuk mencari seseorang yang mengaku sebagai polisi.

SET!

Dari ujung jalan itu, tepat di belakang Anzu, tampak pria berpakaian mantel berwarna hitam, datang mendekat ke arah Anzu. Wajah pria itu tidak kelihatan karena tertutupi dengan masker. Hanya kedua mata birunya yang terlihat. Kepalanya ditutupi dengan topi sehingga warna rambutnya tidak diketahui. Kulitnya berwarna coklat. Tubuhnya tinggi dan tegap. Tangan kanannya tidak ada alias terpotong hanya sebatas lengan atas, tersembunyi di lengan kanan mantelnya, sedangkan tangan kirinya dimasukkan ke dalam kantong mantelnya.

Penampilannya yang sangat menyolok, sungguh mengundang kecurigaan bagi setiap orang yang memandangnya, termasuk Anzu. Anzu merasa curiga dan menyangka tidak mungkin jika pria itu adalah polisi atau mungkin pria itu adalah penjahat yang menculik gadis seumurannya dan mengaku sebagai polisi hanya untuk menyelamatkannya. Setelah itu, keadaan di jalan akan sepi lagi, hanya ada Anzu dan pria itu.

Pasti dalam keadaan sepi ini, pria itu akan benar-benar menodongkan pistol padanya dan akan merampas barang-barang yang dibawanya ini. Dia dalam bahaya sekarang. Tidak akan ada yang bisa menolongnya karena tidak ada orang yang lewat lagi di jalanan sepi itu.

Tapi, begitu pria itu sudah di dekatnya, pria itu malah mengatakan sesuatu padanya.

"Apa kamu baik-baik saja, nak?"

Suara pria itu terdengar lembut dan normal. Membuat kecurigaan Anzu sedikit berkurang. Namun, dia harus tetap berhati-hati dengan orang yang tak dikenalnya ini.

Dia pun mengingat apa yang dikatakan ibunya.

"Jangan percaya ataupun berbicara dengan orang asing. Mana tahu orang asing itu akan menculikmu. Ingat itu, Anzu-chan."

Begitulah yang dikatakan ibunya. Membuat Anzu berpikir ingin kabur sekarang juga, sebelum pria itu menangkapnya. Kalau tidak...

'TIDAAAAAAK!' jerit Anzu keras di dalam hatinya.

Membayangkan hal yang tidak diinginkannya, membuat Anzu merasa takut. Dengan gemetar, dia memegang stang sepedanya dan berusaha bersikap setenang mungkin.

"O-Ojisan siapa?" tanya Anzu yang sangat gugup karena ketakutan.

"Ah... Maaf... Apa penampilanku aneh? Kelihatannya kamu ketakutan begitu," jawab pria itu yang merasakan Anzu yang menatapnya dengan aneh."Tenang saja, aku ini bukan orang jahat. Aku hanya warga biasa yang kebetulan lewat di sini. Lagipula aku ini bukan polisi sungguhan."

"Eh? O-Ojisan bukan polisi!?"

"Ya, aku terpaksa mengatakan itu supaya anak-anak nakal itu tidak mengganggumu. Syukurlah... Jika mereka percaya dan kabur dari sini secepatnya. Hehehe... Aku merasa senang jika kamu tidak apa-apa, nak."

Anzu manggut-manggut mengerti. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kirinya. Tawa lebar terukir di wajahnya, tapi tidak kelihatan karena tertutupi dengan masker.

"Oh, begitu rupanya."

"Ya, begitulah."

"Kalau begitu, terima kasih banyak karena Ojisan sudah menyelamatkan aku."

"Sama-sama. Kalau boleh tahu, namamu siapa, nak?"

"Namikaze Anzu. Panggil saja aku Anzu."

Anzu tersenyum dengan wajahnya yang berseri-seri.

Mendengar pengakuan Anzu itu, membuat pria itu tampak terkejut sekali. Seketika kedua matanya menyipit sayu.

"Jadi, namamu Anzu ya."

"Iya, kalau nama Ojisan?"

"Panggil saja aku Menma."

"Oh, baiklah, Menma-Ojisan."

Gadis kecil berambut pirang panjang yang diikat dua di bawahnya itu, menunjukkan senyum manisnya pada pria yang diketahui bernama Menma. Menma juga tersenyum di balik maskernya, tapi kedua matanya masih menyipit sayu.

"Kamu memang anak yang manis, Anzu."

"Semua orang juga mengatakan itu padaku. Aku memang anaknya yang manis."

"Hmmm... Bisa aku lihat begitu...," Menma tetap menampilkan raut wajah yang sedih."Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?"

Perhatian Menma tertuju pada sejumlah kotak yang berada di dalam keranjang besar yang terpasang di depan sepeda Anzu. Anzu memandang ke arah yang dilihat Menma.

"Oh, ini pesanan kue buat para pelanggan. Aku harus mengantarkannya secepat mungkin...," Anzu melirik jam tangan yang tersemat di tangan kirinya."Wah, sudah jam segini, aku harus cepat-cepat pergi nih. Sampai jumpa, Menma-ojisan. Sekali lagi terima kasih ya."

"Ya, sama-sama."

Menma mengangguk. Anzu tersenyum lagi dan melambaikan tangan kanannya pada Menma. Menma juga membalas lambaian tangan Anzu.

"Aku pergi!"

"Hati-hati di jalan, Anzu!"

"Ya, itu pasti, Ojisan."

Dikayuh sepedanya dengan gerakan cepat, Anzu menarik pandangannya ke depan. Segera pergi untuk mengantarkan barang sampai ke tempat tujuannya.

Menma menatap kepergian Anzu sampai hilang dari pandangannya. Kedua matanya menyipit sayu lagi. Kemudian dia membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya itu.

Tampaklah wajahnya yang sebenarnya. Ada tiga guratan di dua pipinya. Dia juga melepaskan topi yang menutupi kepalanya, tampaklah rambut pirang pendek yang dimilikinya.

Seulas senyum senang terukir di wajahnya yang terlihat sedih. Perasaannya bergetar dan tidak bisa menahan lagi air bening yang menetes dari sudut mata kebiruannya.

"Namikaze Anzu... Ternyata kamu sudah besar, nak. Tousan-mu sudah datang untuk menemuimu dan ibumu. Maafkan Tousan, karena Tousan sudah membohongi kalian selama ini..."

Begitulah, yang dikatakannya seiring angin semilir menerpanya. Dia yang dianggap mati, kini datang kembali untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Dia adalah...

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

BALASAN REVIEW

kazueimagawa028: oke, lanjut nih.

ryuu kagami: maaf, telat upnya. Ini lanjut.

Senju Otsutsuki Fukuzawa: oke, lanjut.

irsyah19: ini udah next.

IzumiReina: nggak anzu itu.

chris: oke, ini kelanjutannya.

agisummimura: oke, lanjut.

Kastil Ninja Hasetsu: ya, lanjut.

jangan lupa untuk dilanjutkan Hika-san y

Sato kishi: sip, saya usahakan. Semangat.

TOMBHIB12: terima kasih. Ini sudah next.

N S LOVER'S: oke, lanjut.

yudi arata: naruto-nya masih hidup kok dan dia nggak hilang ingatan. Maaf, membingungkanmu.

Apam BaRaBai: terima kasih. Iya, cerita ini akan tamat sampe 3 chapter aja.

.

.

.

A/N:

Chapter 2 up!

Jadi, beginilah kelanjutan cerita ini. Bagaimana? Apa kalian tahu tentang Menma yang sebenarnya?

Sekian sampai di sini dan terima kasih ya.

Jumat, 7 April 2017