Title : Smile Jae
Chapter 2
Yunho sedang ada di dapur untuk membuat makan siang untuk Joongienya. Ia memang selalu melakukan hal ini mengingat Joongie nya itu sering sekali lupa untuk makan siang. Maka dari itu semenjak Yunho resmi menjadi asisten pribadi Jae, Yunho selalu mengantarkan makan siang untuk Jae.
"Yupz.. sudah siap. Sekarang tinggal ke tempat Joongie. Semoga Joongie suka dengan makanan yang kubuat ini." Ucap Yunho bersemangat.
Yunhopun langsung ijin ke ayahnya yang merupakan kepala pelayan di kediaman keluarga Kim untuk pergi ke kantor Jae. Setelah mendapat ijin Yunho langsung menuju motornya untuk ke kantor Jae. Tak butuh waktu lama untuk mencapai kantor Jae selain karena jaraknya yang dekat, jalanan juga tidak terlalu padat.
Sesampainya Yunho di kantor Jae, ia langsung menuju lantai 5 tempat dimana kantor Joongie nya berada. Beberapa karyawan yang melihatnya menyapanya. Yunho pun membalas sapaan mereka dengan ramah tanpa melupakan killer smile nya yang dengan sukses membuat sebagian besar karyawan wanita di kantor itu meleleh dibuatnya.
"Hai Changmin, Jae ada di dalam kan?" sapa Yunho pada Changmin, sekertaris Jae.
"Oh, hai hyung. Iya Joongie mu ada di dalam. Sepertinya sedang banyak pekerjaan karena sejak tadi pagi ia tidak keluar dari ruangannya kecuali untuk rapat 2 jam yang lalu." Jawab Changmin yang sudah menganggap Yunho sebagai hyungnya itu.
"Sudah kuduga. Dia juga pasti belum makan siang kan? Joongie joongie…kapan kau akan memperhatikan kesehatanmu sendiri?" ucap Yunho.
"Tidak akan. Karena kalau Joongie mu itu memperhatikan kesehatannya sendiri maka kau tidak akan lagi membawakan makan siang buatanmu sendiri yang special untuk dia ke kantornya." Ucap Changmin mencoba menggoda Yunho.
"Aku suka komentarmu" ujar Yunho sambil tersenyum jahil.
Yunho kemudian berjalan menuju ruangan Jae untuk mengetuk pintu tapi belum sempat ia menempelkan tangannya ke pintu ruangan Jae, Changmin sudah kembali memanggilnya.
"Hyung Fighting!" ucap Changmin.
Yunho yang mendengarnya hanya bias tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Di ruangan Jae
'Kryuuuuukkkkk….'
Cacing-cacing di perut Jae yang belum mendapatkan jatah makan siangnya mulai membunyikan alat orchestra mereka pertanda minta diberi makanan. Tapi Jae yang masih sibuk dengan pekerjaannya pun tidak berkutik dan terus saja mengutak-atik laptopnya sembari membolak-balik dokumen-dokumen yang ada di meja kerjanya.
"tok..tok..tok.." terdengar suara pintu ruangan Jae yang diketuk.
Sebelum Jae mempersilakan masuk, kepala Yunho sudah duluan menyembul masuk. Jae yang tadi sempat melihat kea rah pintu ruangannya untuk mengetahui siapa yang masuk hanya menghela nafas pelan dan kembali ke pekerjaannya.
"Joongieeeee…."sapa Yunho semangat.
"…" Jae tetap pada pekerjaannya tak menoleh sedikit pun.
"Aku bawa makan siang. Ayo makan dulu baru kerja lagi…."ajak Yunho.
"Bawa pulang! Aku sibuk!" jawab Jae dingin.
Yunho yang mendengar jawaban dari Jae langsung berjalan ke meja kerja Jae. Ia langsung menutup laptop Jae dan menaruh bekal yang dibawanya di atas laptop Jae yang sudah tertutup. Mata Jae melebar melihat kelakuan Yunho.
"Kau!" marah Jae.
"Sudah kubilang makan dulu baru kerja lagi. Kau itu disuruh makan saja susah sekali. Kau lihat orang diluar sana yang harus mengais makanan dari tempat sampah. Dan lihat dirimu saat ada makanan enak dan mewah di depan matamu kau menolaknya begitu saja. Kau kira kau siapa?" ucap Yunho dengan nada yang sengaja dibuat agak tinggi.
"Pertama, aku KIM JAEJOONG! Kedua, aku tidak lapar! Ketiga dan yang paling penting, bukan aku yang menyebabkan orang-orang itu harus mengais sampah untuk mendapatkan makanan dan bukan aku juga yang memilih untuk dapat menikmati makanan apa saja yang aku inginkan. Puas! Sekarang kau pulang!" bentak Jae.
Bukannya Yunho marah, tapi ia malah tersenyum senang.
"Kau gila!" ucap Jae ketus.
"Akhirnya…akhirnya Joongie ku ini bias marah. Ah senangnya bisa melihat Joongie mengeluarkan emosinya. Tapi kau harus tetap makan!"
"Oke kalau begitu, begini saja. Aku juga belum makan siang jadi aku akan tetap disini sampai kau makan. Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak akan makan. Kau ingatkan aku punya penyakit maag." Tantang Yunho.
Jae POV
Aku membulatkan mataku sekilas saat si Jung ini menantangku. Aku ingat betul kejadian yang sama yang terjadi sekitar sebulan yang lalu saat ia memberikan tantangan yang sama dan berakhir dengan si Jung ini harus masuk RS karena kata dokter maagnya kumat. Dan aku habis dimarahi oleh eomma karena tingkahku ini.
Tapi terserahlah, aku yakin dia juga ingat kejadian itu. Jadi tidak mungkin ia akan bertahan lama. Paling setengah jam ia sudah lapar dan pulang ke rumah untuk makan. Huh, aku tidak akan masuk ke jebakanmu untuk kedua kalinya Jung. Lihat saja siapa yang kali ini harus kalah.
Jae POV end
Tik…tok…. Ruang kerja Jae menjadi hening untuk beberapa saat dan hanya bunyi dentingan jam yang terdengar. Jae masih saja sibuk dengan pekerjaannya tapi sekarang ia hanya focus pada pekerjaan yang ada di dokumen-dokumen di mejanya. Sedangkan Yunho masih saja setia berdiri di depan meja Jae. Entah kenapa ia tidak mau duduk padahal ruangan kerja Jae cukup luas dan ada sofa untuk tidur di ruangan itu. Wajah Yunho pun memucat tanda maag nya mulai kumat. Tapi saat Yunho merasa hamper ambruk terdengar suara yang Yunho yakin adalah suara kiriman dari surga.
'Kryuuuuukkkkk….' lagi bunyi cacing-cacing di perut Jae yang mulai memainkan alat-alat orkestranya.
"Oke aku lapar. Aku makan." Jae menyerah.
"Begitu donk. Kenapa tidak dari tadi. Kalau begini dari awal kan enak. Sudah cepat makan nantinya cacing-cacing diperutmu keburu membunyikan alat orkestranya lagi. Habiskan ya, aku mau pergi dulu." Ucap Yunho senang.
Yunho yang selesai menata makanan untuk Jae di meja kerjanya setelah sebelumnya merapikan dokumen-dokumen Jae langsung menuju pintu untuk pergi. Tapi sebelum Yunho keluar, Jae memanggilnya.
"Jung!" panggil Jae.
"Iya?"
"Makanlah kau sudah pucat" ucap Jae tanpa memandang Yunho.
"Ne. Gomawo" ucap Yunho dengan senyum lebarnya. Ia senang sekali karena Joongie nya mulai menunjukkan emosinya dan mulai memperhatikannya. ' Ah, ayo Yunho semangat. Aku yakin dengan sedikit usaha aku akan mendapatkan senyuman Joongie. Joongie, tunggu saja apa yang akan Jung mu ini lakukan untuk mendapatkan senyumanmu' batin Yunho semangat.
Setelah keluar dari gedung tempat Jae bekerja, Yunho langsung menuju parkiran tempat motornya diparkir dan langsung melesat ke tempat dimana selama 2 tahun ini rutin ia kunjungi sebulan sekali.
Seoul Hospital
"Jun chaaannnnn…..! liat aku bawa apa!" ucap Yunho setelah memasuki satu ruangan yang sudah sangat familiar baginya.
"Aduh hyung, bisakah kau kecilkan suaramu? Ini rumah sakit!" ucap orang yang dipanggil Jun chan oleh Yunho tadi. Namanya Kim Junsu. Mereka teman sejak kecil bersama dengan Changmin dan Yoochun yang merupakan pacar Junsu.
"Aduh dongsaengku yang imut ini marah. Aku harus bagaimana? Apa aku harus menelepon Chunnie untuk memberikan duck butt ini bunga dan coklat?" ucap Yunho jail.
"Hyung!"
"Iya iya…. Bagaimana kabar dokterku yang imut ini. Niy aku bawakan brownis coklat kesukaanmu Jun chan. Ini aku buat sendiri" ucap Yunho sambil duduk di depan meja kerja Junsu.
"Apa kau buat sendiri?" sahut Junsu dengan nada kaget plus kesal.
"Iya" jawab yunho enteng.
"Hyung sudah berapa kali aku bilang, kau harus banyak istirahat. Penyakitmu itu bukan penyakit sembarangan. Kau harus menjaga kondisimu. Kau pasti tadi juga membuatkan makan siang untuk Joongiemu dan mengantarkan, lalu dia tidak mau memakannya dan kau menantangnya dengan tantangan yang sama dan ia menyerah. Dan pasti sekarang kau belum makan siang dan maagmu sudah kambuh. Kenapa kau tidak bisa diberitahu sih hyung. Seharusnya tadi kau makan dulu sebelum kesini. Jaga kondisimu hyung. Kau bilang ingin melihat Joongiemu tersenyum, kalau kau tidak menjaga kondisimu bagaimana bisa kau melihat senyum Joongie kesayanganmu itu?" ucap Junsu menasehati panjang lebar.
"Junsu, aku tahu aku akan mati sebentar lagi. Dan tadi aku sudah melihat Joongie marah dan menyuruhku makan siang karena melihat mukaku yang pucat. Itu berarti ia sudah bisa mengeluarkan emosinya. Aku rasa sebentar lagi Joongie akan bisa tersenyum lagi. Jadi kalau aku mati sebentar lagi juga tidak masalah, yang penting aku sudah melihat senyumnya." Balas Yunho tak kalah panjang.
"Hyung! Aku benar-benar tidak suka hyung bicara seperti itu. Hyung akan hidup 5 ah tidak 50 atau bahkan 500 tahun lagi. Kau harus yakin itu hyung. Dan apa hyung yakin, hyung mampu meninggalkan Jae hyung ketika ia sudah bisa tersenyum lagi?" ucap Junsu kesal.
Yunho tersenyum
"Junsu…junsu… pertama aku tidak mungkin bisa hidup sampai 500 tahun lagi. Kalau 5 tahun mungkin aku bisa mengusahakan tapi aku harus terus tinggal di rumah sakit. Kedua, satu senyum saja dari Joongie cukup untukku Junsu. Sudah ah, aku kesini mau minta resep obat. Obatku sudah hampir habis. Cepat mana berikan padaku."
"Terserah kau lah hyung. Tapi aku mohon jaga kondisimu, setidaknya supaya kau masih bisa memperhatikan Joongie mu. Dan satu hal lagi, aku tidak akan bosan untuk menawarimu yang namanya kemoterapi hyung. Jadi apa sekarang kau sudah berubah pikiran untuk mengikuti kemoterapi hyung?" tanya Junsu.
"Maaf Junsu, tapi aku juga tidak akan pernah bosan untuk menolak tawaranmu. Aku tidak mau Joongie tahu tentang penyakitku. Cukup kalian bertiga yang tahu. OK terimakasih resepnya aku pergi dulu. Annyeong…."pamit Yunho.
Saat akan keluar dari ruangan Junsu, Yunho berpapasan dengan Yoochun. Yunho langsung membisikkan kalimat di telinga Yoochun yang membuat pacar Junsu itu berpikir untuk kembali ke kantor lagi daripada harus bertemu dengan duck butt nya.
"Hati-hati, duck butt mu itu baru saja aku buat kesal…Mian…." Bisik Yunho sambil berlalu dan menyunggingkan senyum jailnya.
