Disclaimer : EXO adalah milik agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.

Genre : Friendship

Rating : T

Warning : Shou-ai, Crack pair, Wolf!AU, kemungkinan ber-typo, tolong maafkan semua hal yang aneh aneh.

Note : Kai, Kai, Kai… Akan jadi serigala seperti apa seorang Kim Jongin itu? Aku lebih suka warna hitam dengan sedikit abu abu atau cokelat, tapi sepertinya cokelat lebih cocok.

Untuk kali ini sepertinya friendship dulu, dengan sedikit sisipan romance, mungkin. Dan maafkan aku karena aku lama, aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan menemukan rel-ku yang biasa lagi.

Sekali lagi, ini adalah Wolf!AU yang ada di otakku yang terkontaminasi MV Wolf, Twilight, dan Teen Wolf.

+Serigala+

Sehun berdiri di depan jendela, menunggu seseorang untuk pulang "Kapan Dio pulang, Yeol?" Tanyanya.

Chanyeol tidak menoleh kepadanya tapi mengendikan bahu, tanda tidak tahu, Sehun menghela napas. Jalan hari ini entah mengapa jadi sangat amat terang padahal lampu jalan segitu saja jumlahnya dan tidak bertambah. matanya melirik ke atas, dia tiba tiba ingin melirik begitu seperti ada yang memangggilnya.

Purnama.

Oh, purnama, pantas Sehun tertarik. Warnanya antara abu abu dan kuning di mata Sehun yang merah. Bulan purnama punya arti yang lain untuknya dan untuk Chanyeol, dan juga untuk Lu Han dan koloninya. Ketika purnama menampakan diri maka akan ada lagi serigala yang muncul.

"Purnamanya indah, ya, Yeol." Katanya sambil dia menerka siapa lagi yang akan menjadi serigala malam ini.

Chanyeol tersentak, tiba tiba panik "Sekarang purnama!?"

"I-iya." Sehun jadi takut takut menjawab.

"Dio."

Chanyeol menyebut nama Dio dan Sehun sadar. Dio bisa kapan saja berubah jadi serigala, bisa purnama kali ini atau yang di depannya lagi, tapi dia akan membahayakan kalau berubah di depan seorang manusia.

Chanyeol dan Sehun mau tidak mau mengejar Dio.

+Serigala+

Ini belum terlalu malam dan toko toko belum tutup, waktu yang pas untuk setidaknya membeli sebatang cokelat. Jadi Kai keluar dari apartemennya di samping apartemen Suho dan pergi ke minimarket terdekat.

Dia mendengar sedikit suara berisik entah dari mana, dia menoleh dan tidak menemukan apa apa. Jadi dia meneruskan langkahnya.

AWOOO!

Dia seketika berbalik ketika mendengar lolongan yang sangat jelas di telinga dan mendapati seekor serigala menatapnya dalam dalam.

Kai menelan ludahnya takut, dia tahu serigala ini berbeda. Bulunya cokelat tua seperti cokelat hitam dan matanya hijau seperti warna tumbuhan, warna zat hijau daun. Dan dia tahu ada yang berbeda dengan serigala ini.

"ARGH!"

Sehun dan Chanyeol tersentak mendengar erangan itu.

"Sial! Sial! Aku yakin itu Dio!" Seru Chanyeol.

"Tapi dia dimana?!" Tanya Sehun panik.

"Pakai hidungmu, Oh Sehun! Dan berhenti bertanya!" Seru Chanyeol. Kedua berpikir mungkin akan lebih mudah kalau ada Lu Han atau Lay disini.

Tapi Sehun menemukan bau Dio walau samar.

"Chanyeol! Aku menemukannya!" Serunya dan dia segera berlari menuju sumber bau itu.

"Ini bau darah, Sehun!" Chanyeol samar samar mulai mencium bau apa yang bercampur dengan bau Dio yang makin lama makin jelas.

"Aku harap dia tidak makan orang." Kata Sehun. Dia berbelok dan di hadapannya ada Dio, serigala yang di yakini Dio.

Chanyeol berlari mendahului Sehun dan melepas Dio dari pemuda yang digigitnya, mereka bersyukur Dio hanya mengigit orang.

Perubahan yang pertama kali memang berbahaya, siapapun akan jadi hilang kendali dan justru mencelakakan orang orang dan membuat semacam lingkaran setan ketika mengigit orang, orang yang digigit akan mengigit orang lagi dan begitu selanjutnya.

"Kau tidak apa apa?" Tanya Sehun, Chanyeol di belakangnya mencengkeram Dio kuat kuat agar serigala itu tidak pergi.

"Tidak, aku tidak apa apa." Jawab pemuda itu. Sehun seperti mengenalnya tapi melupakannya.

"Kau? Kau Jongin bukan?" Tanya Sehun.

"Kau tahu namaku?" Tanya pemuda itu. Sehun akhirnya tersenyum mengerti, pemuda ini Jongin atau lebih akrab dipanggil Kai yang adalah teman sekelasnya.

"Aku Oh Sehun, teman sekelasmu, kau kenal?"

Jongin masih memegangi tangannya yang digigit Dio tapi sama sekali tidak menunjukan rasa sakit di wajah "Ya ampun, Sehun, aku sama sekali tidak mengenalimu." Katanya.

"Tidak apa apa, lukamu mau diobati?" Tanya Sehun.

Jongin terlihat menimbang baik buruknya, tapi dia lebih takut infeksi daripada menyusahkan teman sekelasnya

"Baiklah."

+Serigala+

Dio mengerang yang membuka matanya. Dia bisa merasakan semua orang dan matahari mengelilinginya menunggu dia bangun.

"Pagi, Dio." Sapa Chen.

"Eng…" Dio masih setengah sadar dan merasa aneh.

"Apa yang kau rasakan, Dio?" Tanya Lay.

"Aneh." Jawab Dio, dia perlahan duduk dan Lay memberinya segelas air.

"Minum dulu, serigala kecil."

Dio melakukan apa yang Lay suruh sambil mengumpulkan kesadarannya. Apa yang dia rasakan saat masih setengah sadar memang benar adanya, ini sudah pagi dan semua orang mengerumuninya, teman Omega-nya, dan Alpha juga Beta beserta koloninya. Dio merasa lebih aneh lagi.

"Ada yang sakit, Dio?" Tanya Lay lagi saat wajah Dio terlihat lebih bingung lagi.

"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Dio.

"Semalam ada purnama dan kau berubah jadi serigala." Jelas Chanyeol.

"Oh, aku harap aku tidak melukai siapapun tadi malam." Kata Dio, dia tidur lagi.

Sehun dan Chanyeol berpandangan, mereka tidak tahu lebih baik bilang atau tidak tentang teman sekelas Sehun.

"Ya, Dio, kau lebih baik istirahat dulu. " Kata Lu Han.

+Serigala+

"Menurutmu lebih baik bilang atau tidak?" Tanya Sehun, mereka duduk berdua dan berbicara dengan suara pelan.

"Entahlah, aku rasa kita harus mengurusnya sendiri."

"Kalau ternyata kita gagal lagi, bagaimana?"

Chanyeol berbaring, meninggalkan Sehun yang masih memandangnya. "Entahlah."

"Lagipula Lu Han bukan Alpha kita, harusnya kita tidak merepotkannya." Tambahnya.

"Tapi semalam kita sudah merepotkan, kau tahu." Kata Sehun, sedikit mengejek perkataan Chanyeol sebelumnya.

"Berterimakasihlah pada hubungan darah diantara kalian, dia bahkan sadar kalau kau keluar malam malam."

Sehun tertawa, menyembunyikan matanya yang sewarna dengan mata Lu Han, tanda bahwa mereka lebih dekat dari sekedar teman biasa. "Dia benar benar selalu mengawasiku, berterimakasihlah pada telepatinya."

"Telepati yang hebat dan bahkan bisa mencari Omega seperti kita." Kata Chanyeol.

"Itu kemampuannya."

"Apa yang kau tahu tentang teman sekelasmu itu?" Tanya Chanyeol mengganti topik.

"Kami sekelas."

Chanyeol memukul kepalanya dan Sehun mengaduh, tapi tertawa tawa juga.

"Aku sudah tahu kalau soal itu aku sudah tahu!"

"Yang kutahu dia teman sekelasku dan aku tidak tahu apa apa lagi tentangnya." Ulang Sehun dengan kalimat yang lebih panjang tapi jujur.

"Kau ini anti sosial atau apa?" Tanya Chanyeol.

"Aku tidak mau dekat dekat manusia." Jawab Sehun, dia jadi sedikit lebih serius.

"Aku saja punya setidaknya seorang teman." Kata Chanyeol.

"Maksudmu si Baekhyun? Kau tidak takut kalau suatu saat lepas kendali dan mengigitnya?" Tanya Sehun, dia serius sekali.

Chanyeol menelan ludahnya canggung karena Sehun terlalu serius, anak itu terlalu paranoid tapi realistis, kadang kadang Chanyeol sendiri nyaris lepas kendali di hadapan teman teman manusianya.

"Sudahlah, yang jelas kau harus lebih berbaur dengan manusia manusia di kelasmu." Kata Chanyeol, dia pergi meninggalkan Sehun.

"Aku tidak jamin!" Seru Sehun saat Chanyeol sudah jauh.

+Serigala+

Lay tahu ada bulan purnama di langit malam dan dia mencium bau yang sedikit berbeda, seperti Dio tapi terlalu ceroboh, terlalu baru, seperti bau darah yang baru menetes dari luka atau seperti bau rumput saat hujan baru saja berhenti.

Sehun sudah berkali kali bilang kalau lebih baik mencari Jongin walau dia tidak tahu dimana rumahnya. Sehun ada entah dimana dan Chanyeol, yang masih memikirkan perintah perintah Sehun tentang Jongin, lewat di depan Lay.

"Ada apa, Lay?"

"Aku mencium bau Dio, tapi sedikit berbeda dari yang biasa." Kata Lay, penciumannya adalah yang terbaik, Chanyeol bahkan belum mencium apa apa.

Dia harus menarik Sehun dan mencari Jongin, dia yakin ini Jongin karena baunya yang mirip Dio, mirip dengan siapa yang menjadikannya serigala.

Chanyeol berkeliling mansion Lu Han yang luas, sudah sebulan dia tinggal disitu dan menitipkan apartemennya pada tetangga.

"Sehun dimana?" Tanyanya dia menanyai semua orang dan hanya Tao yang menjawabnya dengan jelas, dengan memuaskan.

"Tadi ada di dapur, makan denganku, lalu sepertinya dia ke atap." Kata Tao. Chanyeol mengucapkan terima kasih dengan cepat dan berlari ke atap.

Di saat yang sama dengan Sehun yang turun dari lantai paling atas mansion Lu Han.

"Sehun! Lay mencium sesuatu yang aku yakin itu Jongin, kita harus mencarinya!"

+Serigala+

Kris selalu ada di apartemen Suho setelah hari itu, tentu dia tahu Lu Han masih mengawasinya dan akan selalu mengawasinya. Sekali Alpha tetaplah Alpha dan Kris ada di bawahnya sebagai Beta.

Di malam yang dihiasi purnama ini Kris tidak mencari siapa yang akan menjadi serigala, tapi dia merasakan sesuatu tentang itu.

"Ada apa, Kris?" Tanya Suho, dia baru keluar dari kamar dan menemukan Kris sedang memandangi bulan. Matanya jadi terlihat lebih terang lagi.

"Tidak apa apa." Jawab Kris. Mata Kris jadi lebih terang dan lebih menusuk saat memandang, Suho merasa sedikit takut tapi di saat yang sama juga ingin ditatap lebih dalam lagi.

Ingin lebih dekat lagi, lebih terikat lagi.

Tangan Kris mengelus pipinya, Suho juga tahu kalau dibandingkan dengan Kris dia jadi amat sangat mungil sebagai seorang pria. Tangan Kris yang lebar bisa melingkari lehernya sampai nyaris tidak meninggalkan sisa, entah dia yang terlalu mungil atau tangan Kris yang kelewat lebar.

Suho menarik Kris ke dalam pelukan sebelum Kris yang menariknya seperti biasa, Kris membalasnya lebih erat lagi dan mendudukan Suho di sandaran sofanya yang tinggi. Dia menatap mata Suho yang hitam dalam dalam dan Suho menyisir rambutnya yang mulai panjang ke belakang telinga.

Akan seperti apa mata hitamnya itu kalau dia juga seekor serigala.

Kris tiba tiba mencium Suho, membuat Suho nyaris terjungkal dari sandaran sofa yang sebenarnya tidak seimbang untuk diduduki. Kris mengalihkan perasaan untuk mengigit Suho pada ciumannya sambil terus menenangkan diri untuk tidak tiba tiba mengigit Suho. Suho dengan manisnya tersenyum saat menciumnya dan dia seperti akan menarik diri untuk mengakhiri ciuman itu.

Kris dengan cepat memperdalam ciumannya dan membuat Suho tidak bisa lepas, Suho tidak bisa menolak dan selalu tidak bisa menolak, dia akan menuruti apa yang Kris mau seperti menuruti suara Alpha. Suho melingkarkan kakinya di pinggang Kris dan sepenuhnya bertumpu pada Kris.

TING TONG

Suho refleks memukul dada Kris, tapi justru mengusapnya lagi, dia jadi salah tingkah dan terlihat lebih kikuk dari dia yang biasa. Kris membiarkannya turun dari gendongannya yang berlari ke pintu.

Saatnya Kris untuk jadi Chris.

Dia terlihat seperti Siberian Husky yang terlalu besar dan gelap, berbanding terbalik dengan Suho. Bulunya hitam dan perlahan jadi abu abu di dada, perut, dan paha, tapi telapaknya benar benar hitam. Matanya yang cokelat menyala terlihat mendekati warna karamel. Dan dia selalu tidur di depan jendela apapun yang terjadi, tapi kali ini Kris sedang ingin sedikit bersembunyi dari tamu Suho.

"Hyung…"

"Ada apa, Kai? Kau sakit?"

"Hari ini aku tidur dengan Hyung, ya?"

"Iya, sekarang kau duduk dulu akan kubuatkan sesuatu yang hangat untukmu."

Kris diam diam mengintip sampai akhirnya Suho datang dengan cokelat panas di tangannya.

Suho bergerak menutup tirai jendela dan Kai mengikutinya, Kris rasa ada yang salah.

"Bulannya indah, ya, Hyung." Katanya, Suho juga merasa Kai hari ini aneh jadi dia tidak menjawab, tapi Kai menahan tirai yang akan dia tutup. Suho bingung dan Kai mencengkeram lehernya, bergerak menggigitnya.

Ada yang salah dengan sepupunya ini!

Kris melompat keluar dan menerjang Kai, keduanya jatuh di ruangan lain yang pintunya rusak karena mereka hantam. Kris menahan Kai di lantai, anak itu sudah jadi serigala hitam kecokelatan dengan matanya yang bercampur antara abu abu, cokelat, dan hijau.

Ada yang mengigitnya dan itu pasti serigala kecokelatan bermata hijau, Kris bisa membedakan yang mana warna asli dan yang bukan dan dia tahu warna Kai masih dipengaruhi oleh serigala yang mengigitnya.

TING TONG

Suho dengan cepat membuka pintu dan dua orang pemuda berlari masuk.

"Kau tidak apa apa? Apa ada serigala di sini?" Tanya salah satu dari dua orang itu, dia mencengkeram bahu Suho. Dia tinggi dan matanya biru, bukan biru seperti orang yang menculiknya waktu itu, tapi biru yang mirip warna langit yang cerah dengan sedikit abu abu, membuat biru yang berkesan luas, terang, dan hangat, juga sulit dijelaskan. Campuran warnanya memang sulit dijelaskan, tapi Suho berharap dia bisa menemukan warna yang pantas untuk menggambarkan mata yang indah itu.

"Tidak, aku tidak apa apa." Kata Suho, pemuda di hadapannya itu melepas cengkeramannya dari bahu Suho.

"Syukurlah."

"Kris Hyung!"

Pemuda satunya lagi dengan tidak tahu malunya langsung berlari ke tempat dimana Kris dan Kai berada.

"Siapa yang menggigitnya!?" Tanya Kris, suaranya keras dan kasar sekali.

"Dio! Bulan lalu dia lepas kendali."

Kris dan pemuda yang tidak Suho kenal itu terdengar bertarung dengan Kai, Suho yakin dia pasti dimarahi tetangga besok.

Mereka keluar dengan tangan Kai yang tertahan di punggung, mereka bertiga berantakan dan penuh luka, tapi lukanya sangat cepat sembuh.

Tiba tiba muncul seseorang yang Suho yakini masuk dalam koloni Lu Han.

"Ada kekacauan apa ini?" Tanyanya.

"Dio menggigit orang." Jawab Kris.

"Kenapa kalian tidak bilang?" Tanyanya lagi.

"Aku baru tahu, salahkan dua anak ini." Kris menunjuk dua pemuda yang tidak Suho kenal.

"Kalian seharusnya bilang, Lu Han menyuruhku untuk menyusul Sehun karena dia tidak ada di rumah, jadi kita harus cepat pulang." Katanya.

"Suho, kau juga ikut."

Dan dia membawa semuanya berteleportasi ke tempat dimana Suho diculik.

+Serigala+

"Siapa itu?" ketika mereka baru sampai pemuda bermata biru yang Suho kenali sebagai orang yang menculiknya sudah menanyainya.

"Orang yang digigit Dio." Jawab Kris, Kai memang ada di cengkeramannya, anak itu terus meronta dan Kris dengan kuat menahannya.

"Wah, dia bisa juga mengigit orang."

"Serius sedikit, Chen."

"Baiklah, baiklah, lalu mau diapakan serigala ini?"

"tentu saja diamankan agar tidak mengigit orang."

"Baiklah, kita bawa ke Alpha." Kata Chen.

"Dan kau, Suho, lebih baik kau jauh jauh dari dia kalau masih ingin jadi manusia."

Chen membawa mereka ke satu ruangan dimana ada empat kursi dengan satu meja pendek. Ada pemuda bermata hijau duduk di salah satu kursinya dengan Lu Han dan Lay di sisinya. Kai didudukan di hadapan pemuda bermata hijau itu, nyaris tepat di bawah lampu. Dua pemuda yang sebelumnya datang ke apartemen Suho duduk di kursi yang tersisa.

"Siapa dia?" Tanya Lu Han, semua orang tahu yang Lu Han tanyakan adalah identitas Kai.

"Dia Kim Jongin, teman sekelasku." Jawab pemuda yang duduk di kiri Kai, matanya merah seperti mata Lu Han.

"Dia Kai, sepupuku." Kata Suho, berharap semua mendengarnya. Dari semua orang yang yang berkumpul disana, hanya Kris yang terkejut, ada sesuatu yang baru dia ketahui tentang Suho.

"Xiu, apa maksudmu membawa sepupunya kesini?" Tanya Lu Han, Xiumin, yang membawa mereka berteleportasi, berdiri di samping Lay.

"Tidakkah Suho juga harus tahu karena kalau dia jadi serigala dia akan masuk Pack ini." Katanya.

"Lagipula aku yakin kalau ada keluarganya, anak itu bisa lebih tenang."

Lu Han menghela napas dan Suho diam diam mengelus rambut Kai.

"Jam berapa?" Tanya Lu Han, Lay melirik jam tangannya.

"Empat kurang, harusnya sudah tidak ada bulan."

Mata Kai yang bercampur antara cokelat, abu, dan hijau kini kehilangan warna cokelatnya, warna matanya sebagai manusia, menyisakan abu yang warna matanya sendiri dan hijau yang warna mata Dio.

Suho merasa ini seperti sidang atau konseling ala Lu Han.

Kai menjadi santai dan berhenti berontak, dia menunduk untuk mengumpulkan kesadarannya, untung saja Kris tidak membuatnya pingsan seperti Chanyeol membuat Dio pingsan bulan lalu.

"Kai." Panggil Suho, lembut seperti pada adik tersayang.

"Hyung…" Panggil Kai, nadanya mirip dengan bagaimana dia memanggil Suho tadi malam.

"Tidak apa apa, mereka temanku." Jawab Suho, dia tahu Kai masih lemas entah karena perubahannya atau karena pertarungannya dengan Kris dan Sehun.

"Kai." Panggil Chanyeol, dia sadar walaupun dia bukan Alpha yang membuat koloni kecil dengan Sehun dan Dio, dia adalah Mentor Dio dan dia sudah gagal menjaga anak didiknya.

Kai menoleh pada Chanyeol, menunjukan matanya yang baru saja berubah warna.

"Ini mungkin tiba tiba dan terasa aneh, tapi kau bukan manusia lagi." Kata Chanyeol.

"Kenapa?" Tanya Kai, Chanyeol sadar anak kecil ini manis sekali, benar benar seperti anak kecil.

Sehun mengambil sebuah cermin dari kejauhan dan memberikannya pada Kai.

"Matamu, kau bukan lagi manusia biasa, Jongin, kau sama denganku, kita serigala." Kata Sehun.

"Sehun?" Kai bingung kenapa ada teman sekelasnya di sini.

"Jangan bertanya tentang aku, ada banyak yang harus dijelaskan padamu."

Kai menerima cermin itu dan memandang lurus pada matanya sendiri yang berwarna lain.

"Kau tidak bisa kembali ke kehidupanmu yang biasa, akan ada beberapa hal yang berubah, termasuk warna mata itu." Kata Chanyeol.

Kai tertawa. "Kalian bercanda, kan? Aku akan kembali ke kehidupanku yang lama dan tidak akan jadi pusat perhatian, tidak dengan mata ini."

Suho sudah dari lama tahu sepupunya ini tidak suka tampil sebagai pangeran sekolah atau apapun itu.

"Tapi tidak, Kai, kau akan jadi serigala bersama kami, membentuk koloni, dan malah berbahaya untuk manusia." Kata Sehun.

Kris menatap Suho yang juga menatapnya. Berbahaya untuk manusia? Apa itu keinginan Kris untuk mengigit Suho, Suho merinding sedikit dan kembali fokus pada Kai.

"Tidak mungkin, aku tidak melakukan apa apa yang kacau begini, aku tidak minta untuk dijadikan serigala!"

"Tapi kau digigit serigala, semuanya berawal dari situ." Kata Chanyeol.

"Oh." Kai menunjukan ekspresinya yang seramnya mematikan.

"Jadi itu temanmu, hah? Yang mana, coba perlihatkan, apa yang ada di hadapanku ini?" Kata Kai, dia berdiri dan mengulung lengan bajunya. Dio mendongkak, dia seperti ditantang. Darah mereka sebagai serigala muda yang baru saja muncul tidak bisa dibohongi, mereka masih belum bisa mengontrol diri sebaik yang lain yang berkoloni, itu buruknya menjadi Omega, tidak punya pegangan.

"Iya, itu aku, kau mau apa denganku!?" Dio terselut amarahnya dan mereka nyaris baku hantam saat itu juga.

"Tenang!" Seru Lu Han, dia disini hanya bertindak sebagai penengah kalau kalau Kai dan Dio mengamuk. Hampir semua orang orang menahan Kai yang ternyata lebih kuat dari yang dibayangkan, Xiumin yang jauh darinya sampai turun tangan, Dio berlindung di balik Lay setelah ditahan Lay dan Alpha-nya, Dio lebih lembut dari serigala seharusnya, pikirannya masih manusiawi dan tidak ingin menyakiti orang.

Tapi ini soal harga diri, seperti memperebutkan wilayah kalau mereka ada di alam bebas. Mereka bergerak menyerang satu sama lain lagi dan Lu Han marah.

"Kurung mereka berdua! Chen! Sehun! Jaga mereka!" Seru Lu Han, Dio dan Kai dengan cepat dikurung di dapur.

Semuanya tentang koloni serigala ini terjadi terlalu cepat di mata Suho, mungkin karena dia manusia. Mungkin bagi mereka sendiri apa yang terjadi diantara mereka memang berlalu sangat cepat, tapi apapun yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri tidak akan membuat Suho menjauh dari mereka, Suho ingin tahu lebih banyak lagi tentang koloni serigala ini.

Sehun dan Chen duduk berdampingan jauh dari dapur, pintu dapur tertutup karena kekuatan Sehun, telekinesis.

"Tidakkah mereka terlihat manis kalau bersama?" Tanya Chen, dia bertingkah seperti dia melihat apa yang terjadi di balik tembok itu.

"Hanya matamu yang bisa melihatnya, jadi jangan bertanya yang aneh aneh." Kata Sehun.

"Tutup kulkasnya kalau mereka belum akur." Kata Lu Han.

"Siap!"

Lay dan Tao membawa banyak selimut dan Lay mematikan lampunya, rasanya masih terlalu pagi tapi matahari sebenarnya sudah muncul.

"Kenapa harus di dapur?" Tanya Suho.

"Keahlian Dio itu memasak dan dengan masakan kita bisa memenangkan hati seseorang." Kata Xiumin setelah menggelar selimut yang Lay dan Tao bawa dan semua orang ada di atasnya, Xiumin sendiri ada di antara Lu Han yang memeluknya dan Sehun yang memunggunginya, meja dan kursi kursinya tadi tergeser jauh di samping Chen yang terlihat mengamati tembok.

"Aku mengantuk, jangan bilang padaku kalau hari ini hari Senin." Kata Chanyeol, dia berguling ke lantai yang dingin di sebelah Chen dan Chen tidur di perutnya.

"Kabar baiknya ini hari Minggu dan kau, Chen, jangan ikut tidur." Kata Lay, hampir semua orang mengambil posisi berbaring kecuali Sehun, Suho, Lu Han dan Xiumin.

"Jadi makin banyak saja yang harus dijelaskan padamu." Keluh Lu Han, dia mengistirahatkan kepalanya di pangkuan Xiumin yang justru bersandar pada Sehun.

"Kau masih berhutang menjelaskan tentang hirarki padaku, Alpha." Kata Suho, Lu Han tertawa.

"Sebenarnya tidak ada yang harus dijelaskan." Kata Kris, tumben sekali dia bangun secepat ini, atau dia tidak tidur.

"Iya, kan, Alpha?"

"Ya. Kau akan merasakannya sendiri kalau jadi serigala, imprint, hirarki, mentor, apapun yang kau ingin tahu." Kata Lu Han lagi, Suho mengendikan bahu.

"Aku terlalu mengantuk untuk memikirkan apa yang aku ingin tahu dari kalian." Kata Suho, dia memeluk Kris dan tidur beramai ramai dengan yang lain.

"Jangan tidur! Setidaknya Chen juga jangan tidur!"

"Sehun, jangan berisik." Kata Lu Han.

"Aku tidak tidur, Sehun. Ah! Sepertinya mereka mulai berbicara. Buka kulkasnya, Dio mau masak dan setidaknya aku ingin makan sebelum tidur."

Sehun melepas kulkas yang dia tahan rapat rapat, toh Dio dan Kai juga sudah terlihat berbaikan.

+Serigala+

Sementara Lay dan Tao mengambil selimut di luar sana, Dio dan Kai jadi sangat canggung di dapur, sudah tadi nyaris baku hantam, sekarang justru di kurung berdua di dapur. Ada untungnya memang mereka dikurung di dapur, mereka tidak akan kelaparan dan mungkin saja ucapan Xiumin tentang makanan dan hati orang bisa terbukti di sini.

Dio duduk di kursi dan Kai meringkuk di ujung ruangan.

"Jongin?" Panggil Dio, tentu saja dia tahu namanya, nama itu sudah diucap ulang beberapa kali saat mencoba menjelaskan pada Kai tentang dunia barunya.

Tapi Kai masih diam saja, Dio ragu anak itu bangun atau tidur.

"Jongin." Panggilnya lagi dan Kai tetap diam saja.

"Jongi-"

"Apa!?"

Kai menjawab dengan suara keras, tapi dia hanya menolehkan kepalanya sedikit pada Dio. Dio merasa serigala satu ini akan jadi menyeramkan dan sudah menyeramkan, matanya yang campuran abu abu dan hijau menusuk terlalu tajam, Dio jadi tidak bisa bicara.

Kai duduk di kiri Dio, berjarak dua kursi darinya dan sama sekali tidak melihat Dio, dan Dio diam diam saja. Yang mereka tidak tahu adalah di luar semua sedang berkumpul, beberapa dari mereka membicarakan sesuatu, beberapanya lagi mulai tertidur, tapi Sehun sedang menjaga agar Dio dan Kai tidak makan lebih dulu sebelum akur dengan telekinesisnya.

Dio ragu, tapi dia tahu lebih baik bicara. "Maaf."

"Maaf tidak akan merubah apapun." Kata Kai dan itu terdengar menusuk sekali, kalau Dio anak kecil mungkin dia sudah menangis dari pertama kali bertemu anak ini.

"Ini terlalu tiba tiba dan terlalu aneh, kalian semua terlalu aneh, rasanya aku juga jadi aneh." Kata Kai, dia mengistirahatkan kepalanya di meja, di sampingnya ada kumpulan sendok yang menampakan cerminan dari warna matanya yang aneh.

"Aneh?"

"Warna mataku juga aneh." Kata Kai.

"Ya, menurutku kita tidak terlalu aneh, hanya sedikit berbeda. Ya, begitulah." Dio benar benar takut salah bicara.

"Kau aneh." Kata Kai

"Dan menyebalkan." Tambahnya.

Dio jadi kesal "Hei, aku sudah minta maaf, ya!"

Kai berbalik menghadapnya, Dio jadi ciut lagi.

"Aku sudah bosan membahas hal yang aneh, tapi apa kau merasakannya?" Kata Kai, Dio diam diam mengelus dada karena Kai tidak berniat menghajarnya.

"Merasakan apa?"

"Rasanya aneh." Kata Kai.

"Katanya kau sudah bosan dengan kata itu?" Kata Dio, dia mulai santai dan Kai tertawa.

Kai memandangi tangannya seperti ada sesuatu yang aneh disitu. "Aku merasa aneh dan aku serius, rasanya memang aku bukan manusia, tapi hanya rasanya, dan aku makin tidak yakin karena aku masih manusia, tapi rasanya aku jadi mirip dengan anjing."

"Serigala maksudmu?"

"Ya, itu maksudnya."

"Memang terasa?" Tanya Dio, dia sendiri hanya merasakan perubahan kecil mulai dari hari bersejarahnya bulan lalu.

"Memang kau tidak? Walau hanya perubahan kecil?" Tanya Kai.

Tiba tiba Dio mengerti, dia juga merasakan perubahan kecil yang Kai maksud dan dia mengerti karena Kai manusia dia tentu saja merasakan perubahan kecil yang Dio rasakan sebagai perubahan besar. Dio jadi merasa bersalah.

"Maafkan aku." Kata Dio.

"Berhenti minta maaf, aku geli mendengarnya." Kata Kai, Dio diam lagi.

Dio ingin membahas tentang perubahan, semuanya tentang serigala yang dia tahu, hirarki, mentor, dan segala macamnya, tapi bagaimana memulainya?

"Aku bukan jadi serigala karena digigit sepertimu jadi aku tidak merasa terlalu berbeda, tapi tidakkah kau merasa lebih kuat?" Kata Dio.

"Ini bukan film laga, kan? Aku tidak butuh kekuatan untuk menghancurkan gedung dengan sekali tendang."

Dio jadi makin bingung harus bicara apa, yang dia tahu hanya dia harus akur dengan Kai, itu alasan kenapa mereka di kurung berdua menurut Dio.

"Tapi, ya, itu juga termasuk perasaanku yang aneh." Lanjut Kai, Dio menoleh padanya dengan santai seakan tidak pernah takut padanya.

"Tapi itu benar." Kata Dio.

"Oh, iya? Ceritakan padaku apa saja yang kau tahu." Kata Kai, Dio akhirnya dapat jalan untuk menjelaskan panjang lebar pada Kai.

"menurutku perubahan itu mirip dengan mimpi basah."

"Kenapa kau menyamakannya dengan hal itu!?" Tanya Kai, dia menutup telinganya seakan tidak mau dengan apapun.

"Tapi aku serius. Perubahan itu tanda kedewasaan, dasar manusia."

"Hei, ingat bahwa kau yang membuatku bukan manusia lagi."

Dio menghela napas.

"Aku sedikitnya juga merasakan perubahan, tapi mungkin untukmu akan terasa lebih besar."

"Ya." Kata Kai. "Tapi kenapa kita harus berubah?"

Dio hanya menatap anak itu ada awalnya. "Itu seperti bertanya kenapa kau mimpi basah."

Kai kesal. "Sekali lagi kau mengucapkan dua kata itu, aku akan menusukmu dengan garpu!" Kata Kai, dia mengambil senjata yang paling dekat dengannya.

"Tusuk saja! Aku tidak akan mati hanya dengan garpu."

"Tinggi sekali semangat hidupmu." Kata Kai, tapi dia tidak menyerang Dio.

"Jadi perubahan itu tanda kedewasaan? Kalau begitu kenapa aku berubah secepat ini?" Tanya Kai.

"Tiap bulan purnama setidaknya ada satu serigala yang berubah, dan perubahan itu tergantung pada diri masing masing, seperti mim-" Dio berhenti saat Kai mengacungkan garpu.

"Maaf." Katanya. "Dan mungkin saja kau memang sudah dewasa jadi hanya berjarak sebulan dengan digigit kau sudah berubah."

"Ya, bisa jadi."

"Setelah ini kau bisa memilih Pack-mu."

"Pack?" Tanya Kai.

"Maksudku koloni serigala, seperti sebuah organisasi atau keluarga, ada Alpha sebagai kepala keluarga dan Beta di bawahnya, kau akan mengerti kalau sudah masuk."

"Kau sendiri pernah?"

"Tidak." Jawab Dio singkat, Dio tahu Kai ingin melemparnya dengan sendok karena telah berbicara hal yang dia sendiri belum pernah menjalaninya.

"Aku tidak ingin ikut yang seperti itu." Kata Kai.

"Tapi itu harus, serigala akan lemah kalau jadi Omega."

"Omega?"

"Maksudku kalau sendirian, sebenarnya ada banyak arti dari Omega, belajar sendiri saja sana."

Kai diam dulu, tapi wajahnya sedikit kesal. "Kau tahu, kau benar benar menyebalkan."

"Terserah, itu sudah semua yang aku tahu sejak kedewasaanku hanya berjarak sebulan denganmu."

Kai tertawa, Dio ada benarnya. "Jadi? Kau serigala cokelat yang waktu itu, kupikir itu anjing liar, kecil sekali."

"Seenaknya kau mengataiku kecil, aku masih akan jadi lebih besar dari itu!"

Kai menatap Dio dengan pandangan menyelidik yang mau tak mau terlihat mesra. "Apa!?" Dio jadi salah tingkah sendiri.

"Matamu sama hijaunya." Kata Kai. "Warna cokelatmu membuatku lapar."

Dio sudah akan memukul Kai dengan panci, tapi tiba tiba perut Kai berbunyi dan Dio tertawa.

"Kau benar benar lapar, ya? Baiklah, akan aku buatkan sesuatu."

+TBC+

Walaupun tertulis TBC tapi ini tidak sepenuhnya TBC, jatuhnya justru seperti kumpulan cerpen daripada cerita bersambung.

Setelah ini apa yang akan terjadi? Ada yang mau memberi saran? Atau aku harus memunculkan satu satunya orang yang belum muncul? Atau harus memunculkan imprint lagi? Atau merubah Suho jadi serigala? Oh yeah! Itu terdengar bagus.

Satu lagi, apa ratingnya lebih baik naik?