Naruto Disclimer Masashi Kishimoto
[OOC, TYPO, AU, SUPRANATURAL]
KEABADIAN SESAAT
Cerita ini terinspirasi dari - Black Bird, Inuyasha, Kamisama Hajimemashita.
Penyambutan murid baru akan segera dilaksanakan di aula sekolah, murid-murid Kohona Academy berlarian, beradu cepat dengan penjaga gerbang sekolah. Hinata hanya terlambat satu detik sebelum Kotetsu membanting pagar sekolah di depan wajahnya. "Kau terlambat nona, tidak bisa dipercaya bahkan di hari pertama sekolah."
"Tapi kenapa kau membiarkan dia masuk? itu kan tidak adil," Hinata menunjuk seorang gadis yang mirip dengannya hanya saja dengan warna rambut berbeda.
"Nona Shion adalah pengecualian, ayahnya adalah pemilik sekolah ini."
"Kau kira pagar seperti ini bisa menahan ku," Hinata berbicara sendiri, tangannya memainkan liontin batu berwarna biru.
...
Pelajaran belum juga dimulai tapi Uzumaki Naruto sudah berkelahi dengan beberapa orang murid tahun ketiga, beradu tinju yang menghasilkan luka dan lebam menyakitkan pada wajahnya, entah mengapa masalah selalu saja datang padanya, hanya dengan menatap wajahnya seseorang bisa merasa tersinggung, entahlah mungkin cengiran rubahnya membuat orang salah paham.
Pikirannya kalut memikirkan nanti malam dia akan bertemu calon tunangan pilihan orang tuanya, anak dari relasi bisnis perusahaan ayahnya, yang juga putri pemilik sekolahnya sekarang. Dia memilih tidur dibawah pohon sakura yang tumbuh tepat di samping tembok sekolah untuk menghilangkan kepenatannya. Kelopak bunga yang gugur diterbangkan angin membuat matanya berat, tidak butuh waktu lama dia sudah di alam mimpi. Luka-lukanya di wajahnya mengering dengan cepat, lebam birunya memudar, kulit gelapnya kembali seperti semula.
...
Gadis itu selalu menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara helaian rambut ungu gelapnya, warga desa menjauhinya, menganggapnya aneh dan dia tidak punya seorangpun teman. Yang dilakukanya setiap hari hanyalah mencari kayu bakar, berburu hewan kecil, jamur, dan dedaunan di hutan yang bisa dia masak untuk menghidupi dirinya sendiri. Bukan tanpa sebab gadis itu menyembunyikan wajahnya, matanya bulannya bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Di setiap sudut dan ruang yang dilihatnya hanyalah berbagai macam rupa menyeramkan Ayakashi yang tak terhitung jumlahnya.
Sore itu dia belum mendapatkan seekorpun hewan buruan hingga lupa waktu dan pulang terlambat, dia semakin mempercepat langkahnya untuk keluar dari hutan, dia baru merasa tenang setelah mencapai padang rumput di perbatasan desa. Hampir seumur hidupnya dia melintasi padang itu namun yang ada disana hanyalah hamparan rumput dan sebatang pohon sakura tua yang meranggas dan tak pernah berbunga.
Tapi apa yang ada dihadapannya sekarang, pohon tua itu berbunga lebat dan berpendar, sangat kontras dengan gelapnya malam, bunganya yang berguguran seketika lenyap sebelum menyentuh tanah. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya, dengan langkah pelan dia menghampiri pohon bercahaya itu.
Apa yang ada dibalik pohon itu justru adalah hal paling indah yang pernah dilihatnya. Pria itu, entah apakah cocok menyebutnya seorang pria, rambutnya sangat panjang berwarna kuning dikuncir dengan pita putih panjang menjuntai. Pakaiannya sangat indah bermotif bunga teratai orange dan putih, dan pusat dari semua keindahan itu adalah wajahnya yang sangat tampan. Pria itu terjaga, matanya yang biru terang memandang tak suka kepada orang yang mengganggu tidurnya.
"Anda sangat cantik tuan."
Pria itu menilai tamunya, bukannya tersinggung dia justru tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau tidak takut pada ku? Suaranya yang merdu terdengar seperti nyanyian.
"Mengapa harus takut?"
"Saya membawa senjata," pria itu melirik sebuah katana yang berada di pinggangnya.
"Anda tidak akan melukai ku kan?"
"Bukan itu masalahnya nona, kau tidak takut dengan keberadaan ku?"
"Tantu saja tidak, tidak mungkin orang seindah anda melukai orang lain, anda bahkan lebih cantik dari bunga."
Pria itu memijat kepalanya, entah apa yang ada di kepala gadis itu memandangnya dengan takjub bagai barang antik. Di tempat asalnya jagankan memandang wajahnya, mendengar namanya saja akan membuat seseorang gemetar ketakutan. Entah sudah berapa banyak Ayakashi dan Yokai yang binasa di tangannya. Membunuh dalam sekali tebasan pedangnya tanpa menunjukan emosi apapun.
"Siapa nama mu tuan?" Lihat. Sekarang dia bahkan menanyakan namanya.
"Kurama." Entah mengapa dia langsung menjawabnya, mungkin karena lama merasa kesepian tanpa teman bicara.
"Nama ku Hinata. Mengapa anda berada disini? Mari ikut ke rumah ku."
"Andai aku bisa, aku sedang di hukum tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Kurama memperlihatkan belenggu besar yang merantai kakinya. Tanpa ragu gadis itu mencoba berbagai cara melepaskan rantai itu. Jangankan terlepas, rantai itu bahkan tidak bergeser sedikitpun. "Manusia biasa seperti mu tak akan bisa melepaskannya."
"Aku akan mencari cara, itu adalah janji ku seumur hidup."
Kurama tersenyum, dia tidak mengerti jalan pikiran Hinata, berjanji serius pada orang yang baru saja ditemuinya.
"Siapa yang tega melakukan ini pada tuan?"
"Aku akan menceritakannya pada mu esok hari kalau kau mau datang menemui ku lagi."
Kurama melepaskan sebuah kalung dari lehernya. "Ambil ini, jangan pernah melepaskannya, kau tidak akan melihat hal yang menyeramkan lagi".
Dia menyerahkan kalung warisan Tsunade, neneknya kepada seorang gadis yang baru ditemuinya, membayangkan wajah neneknya yang marah membuatnya merinding. Kalung batu biru yang akan selalu kembali pada pemiliknya.
Malam itu Hinata untuk pertama kalinya melihat dunia dengan pemandangan yang berbeda. Lampu yang berpijar di seluruh desa dan bulan yang bersinar di langit. Dia tidur dengan perasaan bahagia, tak sabar menanti esok hari karena sekarang dia punya seorang teman.
Awan putih di langit yang berwarna biru, oh apakah itu sekelompok burung? Hinata merasa seperti mereka, terbang bebas. Dia berlari ke arah Kurama yang sudah menunggunya.
"Hinata kau tau aku sudah berumur hampir dua ribu tahun?" Kurama memulai ceritanya.
"Wah ternyata anda sudah tua Kurama-sama, jangan khawatir anda belum memiliki sedikitpun keriput".
Kurama tertawa. "Aku adalah seorang panglima perang untuk klan kami, suatu hari ketua klan ingin aku menikah dengan putrinya. Tapi aku menolak jadi dia marah dan menahan ku disini. Wajah mu mengingatkan ku pada putri Shion, hanya saja kau jauh lebih cantik dan baik hati."
"Sekian."
"Eh. Ku kira akan jadi cerita yang panjang."Hinata sedikit kecewa.
Sejak saat itu Hinata tak pernah seharipun melewatkan pertemuan dengan kurama. Persahabatan mereka terjalin erat, Kurama menceritakan berbagai hal yang belum pernah di dengar oleh Hinata. Dan Hinata menceritakan kehidupannya yang suram, begitu seterusnya.Hari-hari berganti dengan cepat tanpa mereka sadari.
"Hinata kau tidak ingin menikah?" Begitulah pertanyaan Kurama pada saat Hinata sudah berusia empat puluh tahun. "Tak adakah orang yang kau sukai?"
"Aku tidak tertarik pada manusia manapun?" Hinata melirik sekilas ke wajah Kurama. "Aku punya janji yang harus kutepati."
"Jangan terlalu terikat dengan janji itu, kau juga berhak mendapatkan kebahagiaan mu."
"Berada disini sudah melampaui kebahagiaan apapun." Dia tersenyum namun hatinya terasa sakit, cintanya untuk Kurama tak akan mungkin dia ucapakan. Kurama yang abadi dengan semua kesempurnaannya dibandingkan dengan dirinya yang sudah menua dan berubah buruk rupa.
Hari berganti minggu, bulan dan tahun berlalu, hingga suatu hari Hinata yang renta berjalan selangkah demi selangkah dengan tongkat, tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit longgar, memaksakan dirinya menggapai Kurama walau hanya dengan bernapas membutnya sakit. "Kurama kurasa aku harus mengatakan ini. Aku mencintai mu."
"Aku tau Hinata kau menyukai ku sebagai teman, Terima kasih."
Hinata tersenyum sedih. Dengan punggungnya yang bungkuk ia perlahan menjauh.
Setelah hari itu, selama apapun Kurama menunggu, Hinata tak lagi datang menemuinya. Rasa kesepian menyiksanya lebih buruk dari hukuman seribu tahun yang dijalaninya sendiri. Gairah hidupnya tak lagi ada, mengapa dia bisa merasakan perasaan seperti ada lubang hitam tak berdasar di dalam hatinya, terasa sangat sakit melebihi luka fisik separah apapun yang pernah dialaminya. Menggerogoti pikirannya, mengikis kewarasannya sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya dia menggambil keputusan yang dulunya tidak pernah ia pikirkan.
Dia mencabut katana itu dari sabuknya, kemudian memotong rantai yang membelenggunya. Namun harga yang harus dia bayar untuk sepuluh menit kebebasannya adalah kehilangan eksistensinya di dunia.
Tubuhnya yang bebas melayang, tujuanya hanya satu menemukan keberadaan Hinata. Namun rupanya dia tidak perlu mencari terlalu jauh, hanya berjarak sejauh lemparan batu dari tempatnya berada, tulang belulang itu terbaring menggenggam kalung pemberiannya.
Hinata tak pernah sampai kerumahnya, dihari dia mengakui cintanya pada Kurama adalah hari terakhirnya di dunia. Digenggamnya kalung itu dengan erat,sebelum akhirnya menghilang.
"Kau sudah memenuhi janji mu Hinata. Lihatlah aku sudah bebas sekarang," Kurama berteriak pada kerangka yang tak akan mungkin mendengarnya, air matanya mengalir deras. "Air apa ini? Mengapa tidak mau berhenti." Dia terus menyeka air matanya, Kurama yang malang tidak pernah menangis selama hidupnya.
Dia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Hinata, bagai udara yang tak terlihat kita seringkali mengabaikannya, ketika udara itu menghilang perasaan tercekik membuat kita sadar kita sangat membutuhkannya. Perasaan yang dikirannya hanya sebagai rasa terimakasih yang besar karena mengusir rasa sepinya mengaburkan perasaan cinta yang tidak disadarinya hingga semua sudah terlambat.
Jeritan Kurama yang menyayat hati, berakhir dengan hancurnya shikon no tama yang ada dalam tubuhnya, dimana permata itu akan tumbuh kembali dalam diri seorang manusia.
...
Uzumaki Naruto menjerit dalam tidurnya, air mata mengalir di kedua sudut matanya. "Mimpi yang sangat menyedihkan," dia membuka matanya tepat saat sebuah tas sekolah mendarat keras di wajahnya, tak lama kemudian seorang gadis melompat turun dari atas pagar, kakinya hampir saja menginjak selangkangannya.
"Apa tas ku mengenai mu? Kau menjerit keras sekali," gadis itu terlihat khawatir.
"Hei kau menangis? Ayolah tak akan sesakit itu kan?"
"Mana mungkin aku menangis hanya karna-," Naruto mengusap pipinya yang basah.
Gadis itu memungut tasnya dan melangkah pergi. "Cengeng."
"Hei. Kau sudah melempari ku dengan tas dan kaki mu hampir menghancurkan masa depan ku, sekarang kau mengejek ku. Cepat minta maaf pada ku Hinata." teriak Naruto.
Gadis itu menghentikan langkahnya.
"Eh. Tunggu, siapa Hinata." Naruto menggaruk kepalanya, bingung, kemudian dia melanjutkan tidurnya.
The End
