A Misc. Plays/Musicals Fanfiction..
Freedom Street Alliance (FSA), present..
My Baby…
Genre: Drama, romance, comedy, SHONEN-AI, YAOI
Disclaimer: L'Arc~En~Ciel milik Ki/oon Records
GACKT milik Nippon Crown dan Avex Trax
Warning: Mengandung SHONEN-AI/YAOI, boy x boy, Don't Like Don't Read!
Pairing: Gackt Camui x Hyde Laruku (GakuHai)
Author: Minoru_666
Author's Note: Hohohoho…kita bertemu lagi para readers, gimana dgn cerita yang chap 1, hihihihi pasti keren yah…*Dhuagghtt! Dilempar bakiak sama readers sekalian.
Duhh..kok ane di lempar seh?
Oh yah…tidak lupa ane mengucapkan terima kasih buat sang editor, Appa Kaname Hitsugaya, yang sdh dgn sabar ngajarin ane membuat ff yg baik dan benar wkwkwk XD *padahal aslinya ga pinter2 neh, trus buat para readers jg, yang sudah setia membaca n' menunggu chap selanjutnya.
Dichap 2 ini akan terjadi sesuatu yang membuat akal sehat mereka tidak berfungsi, dan sering membuat jantung Hideto deg-deg'an! Hayo..hayo..ada apa gerangan hihihihi…
Penasaran..? Oke deh ga banyak chit chat mari kita cekidot bersama-sama.
Summary:
Pertemuan dua insan manusia Hyde dan Gackt, Sejalan dengan pertemanan mereka, tumbuh perasaan cinta di hati mereka masing-masing. Sayangnya mereka selalu menyangkal perasaan mereka, setiap hari mereka bertengkar, dan bersikap ja'im. Mungkin Tuhan geram melihat tingkah mereka, akhirnya Tuhan berkata lain. Mereka diberikan cobaan, dan cobaan itu adalah menjadikan mereka sebagai orang tua angkat seorang bayi!
Apakah dengan cobaan itu mampu mempersatukan mereka? Mari kita cekidot sama-sama.
.
.
MY BABY: PART 2
* FLASHBACK *
Hideto bertemu dengan seorang dansei (lak-laki) yang tampan dan berwibawa. Akhirnya mereka berdua bertemu kembali di sebuah café dimana band bernama Jerusalem's rod tampil. Hideto bertemu kembali dengan dansei itu di suatu halte.
.
.
Eh? Tiga kali? Bukannya baru dua kali ini..?
Laki-laki ini.. Gakuto-san!
"Hei..! Aku tanya lagi, apa kabarmu?"
"Hai'. Ba, baik!" jawab Hideto sedikit gugup seraya sedikit menundukkan kepalanya. "Bagaimana kabarnya, Gakuto-san?"
"Kabarku baik," jawab Gackt dengan senyuman ramahnya.
Hideto yang melihatnya langsung terkesima, sedikit kagum dengan senyuman tampan pemuda itu.
"Tunggu dulu, bagaimana kau tahu namaku?"
"Ahhh…itu. Hehehe."
Hideto sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Ahh..! Aku hampir lupa!" ujar Hideto sambil merogoh saku celananya, mengambil sesuatu.
"Heemm...?"
Gackt hanya bisa bertanya-tanya, apa yang pemuda itu lakukan.
"Ini, dompetmu ketinggalan. Tadi siang aku menemukannya terjatuh, aku mengejarmu tapi aku kehilangan jejak," tutur Hideto sambil menyodorkan dompet itu kepada pemiliknya.
"Ahh..arigatou gozaimasu," ucap Gackt sambil tersenyum ramah. "Oya, namamu siapa? Kita belum berkenalan kan?"
"Namaku Hideto Takarai, salam kenal Gakuto-san," ujar Hideto seraya mengulurkan tangan kanannya pada dansei yang dipanggilnya 'Gakuto' tadi.
"Gackt Camui," ujar Gackt seraya menyambut uluran tangan Hideto.
Kedua tangan kanan mereka saling menjabat. Ada sensasi aneh menjalar pada diri Hideto. Rasa hangat yang aneh perlahan masuk ke dalam dirinya.
Tangan Gakuto-san hangat.
Cepat-cepat ditariknya kembali tangan kanannya. Khawatir Gackt akan mengetahui apa yang dipikirkannya.
Mereka berdua terdiam. Tidak ada percakapan di antara mereka, entah memang tidak ada sesuatu yang harus dikatakan atau memang mereka berdua tenggelam dengan lamunan mereka masing-masing.
"Hei, kamu yakin ingin menunggu bus? Bagaimana kalau kita pulang bersama?" tawar Gackt.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, Hideto-kun. Daripada menunggu bus, lagipula kita di sini sudah 10 menit."
Benar juga, tapi..
"Tapi Gakuto-san.."
Hideto semakin tidak enak hati terhadap ajakan dansei di depannya itu.
"Hahahah…tidak apa-apa Hideto-kun. Aku tidak keberatan."
Orang ini..keras kepala sekali.
Gackt mengeluarkan handphone bermerk dari sakunya untuk menelfon sopirnya. Memberitahunya untuk segera datang menjemputnya dan mengantar Hideto pulang.
Aku harus mencari cara menghindar darinya. Ya!
"Ah! Gakuto-san, aku lupa ingin ke minimarket untuk membeli sesuatu," ujar Hideto tiba-tiba.
"What?"
Gackt sedikit terkejut dengan pernyataan Hideto, percakapan di telfon tadi sempat terhenti sesaat karena Gackt sedang mencerna kata-kata Hideto.
"Oh..kalau begitu akan kutemani," jawab Gackt dengan santai. "Okey, Pak Jun jemputnya nanti saja. Tunggu telfon dariku."
"Baik, Tuan!" jawab sang sopir.
Piiippp…!
Melihat tindakan Gackt tadi entah kenapa membuat Hideto tidak nyaman, tapi di lain sisi juga senang.
"Yap! Kita ke minimarket saja, semakin cepat semakin baik. Benarkan Hideto?" tanya Gackt sambil tersenyum ramah kepada Hideto.
Senyumanmu sungguh mempesona..
"Aaa…o, okey. Baiklah," jawab Hideto sedikit gugup.
Suasana malam semakin sunyi. Di bawah langit yang gelap berhias bintang-bintang kecil mereka berjalan bersama menuju minimarket. Suasana yang romantis, bukan?
Bukan hanya tampan, tapi juga tinggi, manly, dan fashionable.
Sesekali Hideto mencuri-curi pandang ke arah Gackt. Namun orang yang dilihatnya tidak menyadarinya.
Andai aku seorang wanita mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.
Hideto tiba-tiba menghentikan kakinya. Langsung saja dia bertingkah aneh. Wajahnya memerah dan sesekali mengacak-acak rambutnya. Sepertinya Hideto tersadar apa yang dia pikirkan tadi.
Arrgghttt..! Apa yang aku pikirkan! Tidak..tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta dengan seorang dansei! Teriak Hideto dalam hati. Ingat! Dia itu dansei! Dansei! Sama sepertimu. Jadi hentikan pikiran-pikiran itu sekarang juga!
Sadar Hideto tertinggal cukup jauh hanya beberapa langkah, Gackt memutar tubuhnya untuk mencari sosok Hideto yang dari tadi berjalan bersamanya. Gackt mendapati Hideto sedang bertingkah aneh.
"Heiii! Sedang apa kau di situ Hideto?" tanya Gackt.
Hideto tersadar.
"Iie (tidak), Gakuto-san," jawab Hideto malu sambil menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal, dengan segera Hideto menghampiri Gackt agar pemuda itu tidak menunggu lama.
Aku bertingkah bodoh lagi, pikir Hideto.
Gackt tersenyum tipis.
Pemuda yang menarik.
.
.
* Minoru_666 *
.
.
Bagaimana ini...? Apa yang harus kulakukan..? Aku kan sudah belanja tadi siang.
Ya sudahlah, apa boleh buat.
Sesampainya di minimarket Hideto melangkahkan kaki jenjangnya dengan terpaksa. Dia berjalan menyusuri deretan rak makanan, mulai dari makanan ringan, sampai minuman. Pura-pura memilih-milih produk-produk yang ada di minimarket tersebut, karena memang awalnya dia tidak berencana untuk ke minimarket. Dia hanya ingin menghindari Gackt. Dia merasa perasaannya menjadi kacau jika dekat dengan pemuda itu.
"Harganya mahal sekali..," gumam Hideto lirih ketika melihat harga suatu makanan ringan yang cukup mahal.
Hideto memilih beberapa camilan dan minuman kesukaannya. Dimasukkannya barang-barang itu ke dalam keranjang belanja yang dijinjingnya. Tanpa disadarinya, Gackt yang berjalan di belakangnya melihat ekspresi Hideto dari tadi yang sedang memilih-milih barang. Kadang bergumam tidak jelas, kadang tersenyum sendiri, kadang cemberut, dan lainnya. Hal itu membuat Gackt tertawa kecil.
Ekspresinya lucu sekali. Mneggemaskan. Dia memang pemuda yang menarik.
"Yak! Ini saja!" seru Hideto seraya menoleh ke belakang.
Dia terkejut tidak mendapati Gackt di belakangnya. Gackt menghilang. Diapun mencari dansei itu dari lorong ke lorong. Sampai akhirnya Hideto menemukan Gackt berada di depan sebuah vending machine minuman soda. Hideto tersenyum. Diapun berlari ke arah Gackt.
"Dhuaggghhhttttttttt!"
Kaki Hideto tersandung kabel yang melintang di lantai minimarket. Dia kehilangan keseimbangan.
"Huuuaaaaaaaaaaa….awas Gakuto-san~!" teriak Hideto menyuruh Gackt untuk menyingkir.
Gackt membalikkan tubuhnya ke arah Hideto. Tidak ada waktu untuknya menghindar. Hideto menutup kedua matanya. Bersiap menerima benturan keras dengan lantai yang dingin.
"Brukkkkk…!"
Alhasil Hideto jatuh. Perlahan dibukanya kedua matanya, dan yang didapat adalah wajah Gackt sangat dekat dengannya. Hideto jatuh di dada bidang Gackt dengan kedua tangan Gackt memeluk tubuh kecil Hideto.
Gakuto-san..?
"Aiiisshhh…maaf Gakuto-san, kau tidak apa-apa?" tanya Hideto khawatir.
Gackt menatap Hideto balik. Kedua mata mereka bertemu. Mereka saling menatap dalam jarak yang cukup dekat. Sampai refleksi bayangan mereka bisa dilihatnya melalui kedua bola mata mereka. Cukup lama mereka saling memandang.
DEG!
Semburat pink menghiasi pipi Hideto. Jantungnya berdegup dengan kencang.
.
Love to love, we are connected by destiny
Right above, our linked future together
Forever together exploring deeper memories
The next pages of our lives are piled
From mine to yours, our endless destiny
Just by looking in your eyes I understand everything
Throbbing but peaceful, listen to the harmony
If anything bad happens, I'll be there to erase it
For you..
.
Dag..dig..dug…!
Baru pertama kali ini Gackt memandang wajah semanis itu dari dekat, sangat dekat, hanya beda beberapa inchi saja. Jantungnya berdetak melebihi batas normal. Di dalam hatinya Gackt merasa ada sesuatu yang special dari sosok Hideto.
Kawaii ne..pikir Gackt.
Cukup lama mereka saling mamandang, tenggelam ke dalam imajinasi mereka masing-masing.
"Ahhh…maaf Gakuto-san. Apa kau terluka?" tanya Hideto sembari berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Gackt.
"Aku tidak apa-apa. Oh ya, kau sendiri tidak apa-apa kan?" tanya Gackt seraya melepas pelukannya pada Hideto. (Editor: Sayang sekali..)
"Uunn!" jawab Hideto dengan pasti.
Hideto berdiri dari lantai tempatnya jatuh, begitu pula dengan Gackt. Mendadak suasana menjadi canggung. Hideto mengembalikan belanjaannya yang tadi jatuh ke dalam keranjang belanja. Segeralah Hideto menuju ke kasir. Gackt mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian mereka keluar dari minimarket itu.
Hideto keluar dari minimarket dengan Gackt masih mengikutinya dari belakang. DIa terus berjalan dan berjalan. Suasana yang sunyi terasa semakin sunyi. Cukup lama mereka tidak saling bicara. Canggung masih menyelimuti mereka. Kejadian tadi sepertinya merubah perasaan mereka masing-masing.
"Kau mau kemana?" tanya Gackt memecah kesunyian.
Hideto berhenti berjalan, diapun berbalik. Di hadapannya, Gackt juga berhenti berjalan. Mereka berdua saling berhadap-hadapan.
Tanpa sadar..aku jadi berjalan sendiri.
Hideto menundukkan kepalanya, tak berani menatap Gackt. Tak ada jawaban keluar dari mulut Hideto.
"Oh ya, rumahmu dimana? Mau kuantar?" tawar Gackt.
"Iie.. Sumimasen Gakuto-san, tidak usah repot-repot. Rumahku dekat kok," jawab Hideto sedikit canggung.
Kalau rumahmu dekat, kenapa tadi kau menunggu bus? Kau tidak pandai berbohong, Hideto-kun.
"Sungguh..? Benar tidak mau kuantar?"
"Hai'! Terima kasih banyak Gakuto-san.."
"Hmmm…ya sudah kalau begitu, hati-hati ya."
Anak yang keras kepala, pikir Gackt.
Gackt menelfon supirnya untuk menjemputnya di depan minimarket. Diapun berbalik, kembali ke depan minimarket itu. Cukup lama Gackt menunggu jemputannya. Sementara itu Hideto berjalan kembali ke halte untuk menunggu bus.
"Brroooommmmmmmmm…~!"
Suara mesin mobil mendekati Gackt. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan minimarket. Rupanya jemputannya Gackt sudah sampai. Gackt masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu berhenti sebentar ketika melewati Hideto.
"Ne~ Hideto-kun," sapa Gackt.
"Gakuto-san?"
"Hati-hati di jalan. Jaa ne."
"Hai'! Jaa ne Gakuto-san, semoga perjalananmu menyenangkan!" kata Hideto dengan nada lantang dan gembira. "Gakuto-san, maaf aku selalu merepotkanmu.."
Hideto teringat kembali kejadian tadi di minimarket.
"Eh? It's okey Hideto. Itu juga kebetulan saja. Yang penting kau tidak terluka kan?"
"Hai'!"
Kata-kata dari Gackt merubah ekspresi Hideto, yang tadinya datar menjadi malu-malu dan salah tingkah.
"Pak Jun, kita berangkat."
Mobil itupun melaju meninggalkan Hideto. Hideto melambaikan tangannya. Dia hanya bisa melihat mobil mewah itu berjalan menjauhinya. Cukup lama dia melihat mobil itu melaju di jalan raya, semakin lama mobil itu tidak terlihat. Diapun menuju halte. Menunggu bus yang akan membawanya kembali ke home sweet home. Ingin sekali dia segera tidur di kasur empuknya, dan dia merasakan hari ini hari yang sangat menyenangkan. Tidak hanya karena bisa bertemu dengan teman lamanya tapi sesuatu yang aneh. Yaa..semenjak bertemu dansei bernama Gackt itu telah merubah harinya menjadi hari yang sangat menyenangkan!
Sementara itu di dalam mobilnya, Gackt seperti biasa duduk di samping pintu sambil memandangi suasana kota lewat kaca mobilnya. Dia teringat kembali dengan kejadian pertama kali bertemu dengan Hideto, melihatnya di kafe, hingga terjadi sebuah 'kecelakaan' yang berhasil membuat perasaannya kacau. Sesekali Gackt tersenyum dan tertawa kecil sendiri. Pak Jun, sang sopir, hanya memperhatikan majikannya melaui kaca di atas mobil.
Apakah ini takdir?
"Apa yang kupikirkan? Aishhh..~ pasti aku terlalu lelah!" gerutu Gackt sambil menumpukan kepalanya pada tangan kirinya.
.
.
.
Keesokan paginya..
"Eenggg..~"
Suara erangan seseorang yang terbangun dari tidurnya, ketika dirasakan sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah gorden kamarnya. Sesekali pemuda itu mengerjap-kerjapkan kedua mata indahnya. Seperti biasa pemuda itu sedikit malas untuk beranjak dari ranjangnya. Yah…siapa lagi kalau bukan Hideto. Tangan putihnya sibuk meraba-raba tempat tidurnya. Mencari ponselnya yang dari kemarin ada di sana. Beberapa saat kemudian akhirnya dia menemukan ponsel tersebut, jari-jari lentiknya. (Author: Hohohoho…jarinya Hyde memang lentik loh! Readers: baru tau yah…)
"Ada satu pesan masuk? Hnn… dari siapa ya?"
[From: Tetsu ~Band~]
Ada kabar bagus nih..
Penampilan kita kemarin dilihat seorang produser rekaman.
Kita mendapat tawaran untuk rekaman label indie! So nanti malam jam 07.00 kita bertemu produser itu di Café biasanya.
Jangan lupa ya Hideto, jangan sampai terlambat!
[Received: 07.00 AM]
[September 28, 2011]
"Apaa…? Sungguh..?" gumam Hideto sedikit tidak percaya.
Sudah lama bandnya menginginkan rekaman tapi apa daya, Tuhan belum memberi mereka jalan. Sampai akhirnya bandnya harus bubar. Tapi kali ini sepertinya Tuhan berkata lain. Tuhan memberinya kesempatan. Langsung saja Hideto berangan-angan kalau saja mereka jadi rekaman indie lalu lanjut ke rekaman Major. Hideto tersenyum. Akhirnya Hideto beranjak dari ranjangnya, bersiap-siap untuk mandi. Dia menyanyikan lagu "I Love Rock n' Roll" versi band mereka, sambil menirukan gerakan seorang gitaris yang handal. Kepalanya bergerak semangat ke atas dan ke bawah seperti seorang rocker sejati.
Pada saat yang sama di suatu mansion yang megah bergaya modern minimalis namun artistic, di sanalah tinggal seorang dansei (laki-laki) tampan. Berbeda dengan Hideto, sang pemilik rumah sudah berpakaian rapi dan formal. Dia tengah duduk sambil menyilangkan kakinya santai di depan meja makan sambil minum morning tea-nya. Sesekali jari-jemarinya mengetuk-ngetuk meja mengikuti ritme musik yang sedang didengarkannya. Ukuran meja tersebut yang cukup besar padahal yang makan ditempat makan itu hanya Gackt seorang. Ya, ini adalah rumah milik Gackt Camui.
Tap..tap..tap..
Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat menghampiri Gackt.
"Shitsurei shimasu (permisi), Tuan Gakuto. Ada telfon dari Tuan Yuu," kata seorang pelayan wanita sopan dan penuh hormat.
"Hmm..? Oke, terima kasih." ujar Gackt sambil menggerakan tangannya, memberi isyarat untuk menyerahkan telfon itu kepadanya.
Akhirnya pelayan tersebut meninggalkan tuannya yang sedang menerima telfon itu.
"Moshi-moshi. Ada apa Yuu? Tumben sekali kau menelfonku," goda Gackt kepada temannya itu.
"Hahaha. Kau jahat sekali Gackt, biarpun begini aku tetap ingat dan merindukan dirimu," balas Yuu tidak kalah usil dari Gackt.
Yuu adalah teman dekat Gackt selama masih bergabung sebuah band visual kei bernama Malice Mizer.
Alhasil mereka saling tertawa di telfon itu, memang sudah lama sekali mereka tidak saling komunikasi setelah band bubar. Setiap mantan personilnya sudah mempunyai kesibukan masing-masing, sebagai contoh Yuu yang sekarang sudah menjadi seorang manager perusahaan rekaman terkemuka, dan Gackt sekarang tetap berkecimpung di dunia tarik suara dan akting. Baru-baru ini Gackt mengeluarkan single barunya berjudul Episode 0. Lagu yang sempat menduduki no. 1 chart mingguan.
"Oke, oke. To-the-point saja Gackt. Aku sedang mencari seorang vocalis rock untuk rekaman major. Apa kau punya rekomendasi?" tanya Yuu dengan menahan tawa akibat percakapan mereka tadi.
"Hmmm.. kurasa tidak punya."
Tunggu dulu! Kurasa..
"Ah! Sepertinya ada, baru pertama kali melihat mereka perform. Meskipun begitu penampilan mereka bagus! Apalagi vocalist-nya," jawab Gackt cepat dengan pasti.
"Vocalist-nya kenapa?" tanya Yuu penasaran.
"Ah tidak. Lupakan!"
Gawat, aku kelepasan.
"Mereka.. Hei Gackt, aku butuh satu orang khusus untuk vocalis..bukan band."
"Oh, hai'..hai'.. Eh, tapi akan kucoba untuk mengajak 'orang itu' bergabung."
"Benarkah? 'Orang itu' siapa Gackt? Pacarmu ya? Hahahaha.."
"Bukan. Calon kok."
"Eh?"
"Ah bukan! Hanya bercanda.."
"Haha..iya, aku mengerti. Wah..kamu memang teman sejati Gackt, tidak salah aku menelfonmu."
"Hn. Tapi selanjutnya kau yang urus Yuu, aku hanya sebagai jembatan saja."
"Oke Gackt! Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuanmu."
Piippp!
Telponpun terputus.
"Tidak sopan, langsung menutupnya begitu saja. Tapi..kurasa ini akan menjadi semakin menarik," kata Gackt lirih seraya meresap morning tea-nya.
.
.
* Minoru_666 *
.
.
* Café 666 (roku roku roku) *
Sang mentari telah terbenam. Bintang-bintangpun bermunculan menghiasi angkasa malam. Di suatu kafe terlihat dua kubu duduk di depan meja. Suasana tegang dan serius menyelimuti mereka. Kubu pertama adalah sebuah band yang sudah bubar tapi berkumpul kembali, yakni Jerusalem's rod. Sedangkan kubu kedua adalah pihak label band Indie, terdiri dari tiga orang perwakilan yaitu seorang produser, seorang asisten produser, dan seorang composer music. Saat ini band itu tengah mendengarkan tawaran-tawaran yang diberikan pihak label band Indie.
"Bagaimana Tuan-Tuan? Apakah Anda setuju dengan tawaran kami? Band Anda akan mendapatkan fasilitas-fasilitas dan pembagian hasil penjualan CD sesuai dengan yang kami katakan," kata Produser dari pihak label band Indie meyakinkan.
Tetsu, sebagai ketua Jerusalem's rod untuk mengambil keputusan, meskipun begitu Tetsu tetap bertanya dahulu pendapat kepada teman-temannya. Apakah mereka setuju atau tidak. Langsung saja Yukihiro si drummer menggeleng tidak setuju, disusul oleh Ken si gitaris. Sedangkan Hideto sang vocalis menagnggukan tanda setuju, dan disusul oleh Tetsu sendiri.
"Ini kesempatan emas untuk kalian. Jangan disia-siakan.. Apa kalian tidak mau mendapat fasilitas yang menarik dari label kami? Kami jamin kalian akan puas," bujuk sang Produser lagi.
Produser itu melihat ekspresi calon band-nya itu, tak ada tanda-tanda mereka akan mencapai kesepakatan malam itu juga. Diapun segera membujuk kembali agar mereka mau bergabung.
"Baiklah..kita lanjutkan saja besok malam. Hari ini cukup sampai di sini. Kuberi waktu kalian satu hari untuk berpikir. Selamat malam," ucap Produser itu seraya beranjak dari sofa diikuti kedua temannya.
Ketiga orang itupun pergi dari tempat itu.
"Kalian ini kenapa? Padahal tawaran rekaman sudah di depan mata, kenapa kalian menolaknya?" keluh Tetsu, memang Tetsu sedikit kecewa setelah melihat ekspresi tidak setuju dari dua temannya itu.
"Hei Tetsu, apa kau tidak dengar tadi? Orang itu menawarkan hanya 5% dari hasil penjualan CD kita kelak," jawab Yukihiro dengan sikap acuh tak acuh.
"Benar kata Yukihiro, kita tidak bodoh. Seharusnya kita mendapatkan minimal 10%, 10% saja tidak sampai," tambah Ken.
"CK! Kalian ini.."
Tetsu tidak bisa menjawab apa-apa lagi, memang benar apa yang dikatakan oleh dua temannya itu. Tetsu menyadari hal itu. Tapi di lain sisi, produser itu adalah kesempatan bagi mereka untuk melebarkan sayap di dunia musik. Sama seperti yang selama ini mereka inginkan.
Lalu dimanakah sang vocalis yang super duper imut itu? Hideto hanya diam mendengarkan pembicaraan ketiga temannya. Dia memiliki pendapat yang sama dengan Tetsu, tapi dia juga tidak menyalahkan alasan Yukihiro dan Ken.
Kenapa jadi begini? Mungkin kali ini memang bukan keberuntungan untuk kami. Pikir Hideto.
Keempat personil Jerusalem's rod keluar dari kafe itu dengan tampang kusut semua. Pembicaraan mereka tadi sepertinya membuat mood mereka menjadi buruk. Terlebih lagi belum membuahkan hasil.
"Hei! Kalian! Tunggu…!"
Terdengar teriakan seseorang di belakang mereka. Sontak saja keempat orang itu membalikkan badan melihat ke belakang. Di belakang mereka berdirilah seorang dansei muda yang mengenakan mantel coklat muda. Senyum ramah menghiasi wajah tampannya.
Otomatis kedua mata Hideto membulat sempurna setelah melihat siapa yang memanggil mereka tadi.
"Aiisshhh…kenapa aku bertemu orang itu lagi..?" keluh Hideto lirih sambil menundukkan kepalanya dari pandangan dansei itu.
.
.
~ To Be Continued ~
Author's Note: Nyeh…nyeh..nyeh… Hayo2 siapa orang itu, seseorang yang membuat my honey sweety Hyde kaget setengah hidup dan sanggup merubah ekspresi Hyde jadi malu-malu atau salting?
Duh…kayaknya cerita diawal pertemuan mereka lambat sekali yah, padahal masukkan dr temen2 baik dari sms ato inbox supaya dipersingkat pertemuan dua orang itu. Tapi mau gimana lagi dong…kalau dipercepat malah tambah bingung bagi readers sekalian kikikikikikikkk.
Okeh ga bosen-bosennya ane ngucapin thankz a lot buat sang editor n' para readers, yang sudah mengedit fanfict ini menjadi ff yang keren n' tetap hidup. One more time I said thankz a lot to you all guys.
Balasan review:
momon the fujoshi: makasih banyak..
Ojou Yankumi Philharmonic: wkwkwk XD ntar deh, ane bikin Hyde naek mobil na gackt, berdua saja dgn Gackt.
