Impossible

Cast: Wu YiFan (Kris), Kim Kibum, Yang Yoseob, Yong JunHyung and other

Summary: Seperti layaknya Api dan Es, kita takkan bisa bersama. Bukan karena perbedaan diantara kita, namun karena persamaan yang begitu mencolok. Tapi tahukah dirimu? Disaat Api dan Es itu bertemu, akan ada kekuatan lain yang muncul. Air, sumber kehidupan mahluk di muka bumi ini.

Rated: T

Genre: Romantic, Hurt/Tragedy

Warning: Typos, BL, Crack pair, don't like don't read.

Disclaimer: Semua milik Tuhan, dan Kibum serta FF ini milik ika zordick

%ika. Zordick%

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata.

Dengan tambahan untuk menunjukkan ke kreatifitasan saja.

.

.

Tidak banyak waktu diantara kita

Tapi bagaikan aku dan kau di takdirkan dari ratusan tahun yang lalu

Mencintaimu bahkan tak seindah pelangi yang kulihat di kala hujan berhenti

Mencintaimu bagai mendengar gemuruh halilintar yang terus menyambar

Entahlah—

Mencintaimu begitu sulit, terasa perih terkadang

Jujur, aku memutuskan untuk berhenti

Kris memandangi gerimis yang turun membasahi kaca jendela apartement tempatnya tinggal. Dia menghela nafas, terlalu bosan berada di tempat ini sebenarnya. Ia menatap malas pada beberapa jenis obat di atas meja di hadapannya. Sungguh—ia bosan. Terlalu bosan mengkonsumsi racun berwarna warni yang katanya dapat membantunya hidup.

Hidup dalam waktu yang lebih lama.

Kali ini, Kris menoleh ke samping kirinya. Ia menemukan sebuah figura indah di atas bufet coklat mewah dekat tempatnnya duduk. Di raihnya figura tersebut, mengelus gambar seorang pria yang berdiri di sampingnya dengan senyuman yang terlihat manis di wajah flat. "Wu Luhan" rapalnya memanggil nama seseorang yang terlahir dari rahim yang sama dengannya.

Merindukannya. Seolah Kris ingin segera pulang ke Kanada dan bertemu dengan sang adik. Mendekapnya erat agar ia tak pernah menyesal nantinya.

Tersenyum begitu sendu, Kris tidak menyesal. Sungguh lelaki tinggi dengan paras tampan itu takkan pernah menyesal karena memberikan sebelah ginjalnya pada sang adik beberapa tahun yang lalu. Namun siapa yang akan menduga, ketika sang adik menjadi sosok yang lebih kuat sekarang, ialah yang berubah menjadi begitu lemah.

Imunitas yang menurut, kerja ginjal yang tidak optimal—hah... segalanya membuatnya bertambah terlihat semakin lemah. Penyakit bahkan tak segan untuk menumpang di tubuhnya. Sampai ia mati secara perlahan dengan senyum perih tak menikmati hidup di wajah tampannya.

Tuhan adil. Sangat adil, ia masih mengingat bagaimana ia bertemu lelaki yang lebih tua darinya di musim bersalju beberapa tahun lalu—tepat saat ia akhirnya memutuskan memberikan ginjal pada adiknya. Lelaki dengan tatapan teduh yang mengingatkannya bahwa ia butuh dekapan dari orang yang lebih tua darinya, dan ia ingat bahwa adiknya juga membutuhkan hal tersebut.

Kris mengeram, rasa sakit di daerah kepalanya terasa semakin mencekam. Entahlah—dia tak mengerti tapi pikirannya hanya tertuju pada seseorang. Seseorang—yang tinggal di sebelah kamarnya, orang yang dengan bangganya ia panggil 'hyung'.

Dengan langkah terseok ia membuka pintu apartementnnya, ia berjalan sambil memegangi dinding di sekitarnya. Wajahnya sungguh memucat dengan keringat dingin membanjiri dahinya. Bibirnya terus merapalkan nama "Kibum hyung" yang entah kenapa seolah sungguh akan menghilangkan rasa sakitnya di banding nama Tuhan.

Dia mengetuk pintu apartement Kibum dengan buas, tak mementingkan bahwa ada bel di sana. Tak cukup lama—namun lelaki yang ia tunggu itu muncul di hadapannya, membuka pintu dan cukup membuat buliran air mata itu membasahi pipinya. "Kris, are you ok?" bahkan suara berat itu sungguh memberikan harapan untuknya. "Katakan aku akan hidup hyung" gumam Kris yang tak terdengar karena Kibum yang begitu panik menggendong tubuh tinggi namun tergolong ringan itu ke dalam apartementnya

%ika. Zordick%

"Kau sakit?" sebuah pertanyaan di lontarkan saat Kris baru saja membuka matanya. Ia tengah terbaring di kamar bernuansa putih—tepatnya di atas ranjang lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan dingin mengintimidasi namun masih berwajah stoic.

Sesungguhnya Kris merasa kecewa, hei.. dia baru saja sadar dan malah di sambut dengan pertanyaan dan tatapan yang begitu tajam. Ternyata ia sungguh terlalu banyak menonton film drama karena ia sedang membayangkan bahwa lelaki di sampingnya ini akan mengelus kepalanya dan mengucapkan "Kau sudah sadar?"

Konyol memang, apa yang sebenarnya ada di pikiran Kris. Ayolah, dia bukan sedang berhadapan dengan seorang wanita yang akan bersedia menangis untuknya. Dirinya tengah di hadapkan dengan lelaki yang lebih tua dan terlihat lebih manly berkesan cool di sini. Dia menjebak dirinya dalam harapan kosong rupanya.

"Hyung~" begitu lirih—entahlah Kris merasa takut dengan tatapan itu.

"Kau sakit apa sebenarnya, katakan padaku" masih dengan nada yang begitu datar. Kris menggaruk belakang kepalanya, "Tidak, aku baik baik saja" kilahnya.

"Kris, jangan anggap aku sebagai orang lain"

"Ginjalku tinggal satu dan sekarang ada tumor di otakku" Kris tertawa canggung ketika mengucapkan sesuatu yang seharusnya ia katakan sambil menangis. Ia berusaha mendudukkan dirinya, lagi-lagi rasanya ia ingin mengomel karena Kibum malah diam dan tak membantunya untuk duduk.

GREEBB...

Baiklah, Kris kali ini membelalakkan matanya tak percaya. Reaksi sang hyung memang selalu berbeda dengan apa yang ia duga. Lelaki itu kini malah memeluknya erat. Entah menenangkannya atau mencari ketenangan sendiri. "Kibum hyung~" panggil Kris ketika ia membalas pelukan tersebut.

"Biarkan seperti ini dulu" ucap lelaki itu datar.

Kris tersenyum tipis. Dekapan ini terasa begitu nyaman, biarkan saja. Bahkan Kris bersedia merasakan dekapan ini seumur hidupnya. Pelukan yang menurutnya seperti pelukan Hyung yang begitu sayang pada adiknya.

%ika. Zordick%

SREEETT...

Kris membuka tirai secara kasar. Dia menatap tajam pada gelungan selimut di atas tempat tidur king size di hadapannya. "Dasar pemalas" cibirnya kemudian mulai menarik selimut yang di kenakan seseorang di balik gelungan selimut tersebut.

"Semoga kau berhasil, Kris—ah" Junhyung berteriak dari balik pintu sambil terkekeh pelan. Ia baru saja menghabiskan sebuah roti di tangannya. Ia kemudian berlalu—mencari keberadaan vokalis bertubuh mungil untuk memberikan kejutan bahwa lagu yang ia ciptakan untuknya baru saja selesai. Tentu saja lelaki tampan dengan tato di lengannya itu tidak tidur sebagai imbalannya.

"Hyung! Bangun!" Kris menendang tubuh Kibum yang masih berbalut selimut. Meskipun begitu sadis tapi sepertinya lelaki tampan yang masih terlelap itu betah dengan mimpi indahnya.

Kris tak kehabisan akal, ia tak boleh membiarkan latihan hari ini terlambat hanya karena Kibum yang belum bangun. Dengan gesit, Kris menghimpit tubuh Kibum—menggunakan berat badannya agar lelaki di bawahnya itu terbangun akibat sesak akibat tertindih.

"Yak, Yong Junhyung! Stop it!" berhasil—namun Kris merasa sesak di dadanya. Apa Junhyung sering melakukan adegan seperti ini untuk membangunkan Kibum? Apakah mereka sangat akrab? Yang ia dengar juga, Kibum dan Junhyung sama-sama tidak memiliki kekasih. Tapi mereka kan sama sama lelaki? Ahhh... sepertinya Kris frustasi sendiri.

Kibum menyibak selimutnya demi melihat wajah keparat yang menganggu tidurnya. Wajahnya masih datar sementara Kris cukup terkejut karena wajah Kibum tepat di hadapan wajahnya dengan posisi ia yang begitu betah menghimpit tubuh atletis lelaki itu. Jantungnya berdetak tak karuan, ia mungkin terlalu takut Kibum marah padanya.

Tangan Kibum dengan lancangnya mengelus rambut pirangnya. Apa yang terjadi? Ia berubah menjadi jinak hanya karena elusan yang tak seberapa.

Nyaman~. Itulah deskripsi yang ia rasakan ketika Kibum mengelus rambutnya dengan jarak yang amat intim ini. Entah dorongan dari mana, Kris mengecup bibir Kibum. Dan Kris berani bersumpah ia sungguh malu melakukan hal tersebut. Apalagi ayolah~ ia mencium seorang laki-laki.

Sekali lagi di luar dugaan. Kibum tak marah atau mendorongnya, lelaki itu menahan pinggangnya ketika ia hendak bangkit. Menatap matanya dan berhasil memerangkapnya dalam pesona hitam kelam tersebut. Kibum mendorong tengkuknya, kembali mempersatukan bibir mereka, bergerak dengan begitu lembut—melumat bibir yang menjadi impiannya sebulan terakhir.

Sementara Kris, ia sendiri bingung bagaimana bisa ciuman ini bisa begitu membuatnya lumpuh. Ia mabuk akan ciuman candu yang begitu lembut ini. Ada satu hal lagi yang tak ia mengerti, banyak wanita yang pernah ia cium dan ia tak pernah merasakan yang seperti ini. Apakah Kibum terlalu ahli memainkan bibir dan pengalaman lelaki ini begitu hebat soal berciuman hingga membuatnya enggan untuk melepaskan ciuman ini.

Semakin lama, Kris semakin berani membalas ciuman tersebut. Balik melumat membuat Kibum tersenyum di tengah ciuman lembut yang semakin panas milik mereka berdua. Berusaha mendominasi dan membelit lidah satu sama lain. Hingga Kibum akhirnya berhasil membuat Kris mendesah dengan suara yang begitu berat—memacu libido lelaki yang mendominasi tersebuh semakin naik.

"EHEM! Jangan menodai anak di bawah umur" deheman dari luar pintu sontak membuat Kris membangkitkan tubuhnya dan menyingkirkan tangan nakal Kibum yang sudah masuk di balik kaosnya. Wajah Kris memerah antara malu dan kehabisan nafas. Kibum mencibir karena sang sahabat yang jelas adalah Junhyung menganggu kegiatannya.

Kibum bangkit, mengacak rambut Kris sebentar dan berlalu menuju kamar mandi. "Sebaiknya bereskan penampilanmu Kris, kau terlihat berantakan" Junhyung terkekeh sedikit menggoda lelaki yang lebih muda darinya tersebut. "Dan juga, maaf mengganggu~"

"YACK! YONG JUNHYUNG!" teriak seseorang dari kamar mandi yang membuat Kris langsung kabur meninggalkan kamar bernuansa serba putih tersebut. Sementara Junhyung, dia sekarang tengah tertawa terpingkal akibat aksi malu malu lelaki tinggi berwajah dingin yang tengah memerah yang baru saja berlari melewatinya.

%ika. Zordick%

Di sinilah mereka sekarang, di beranda kamar masing-masing menikmati semilir angin malam yang lembut. Sama-sama diam, tak berani memulai pembicaraan atau mungkin memang tak tahu harus membicarakan apapun. Kris sendiri merasakan kecanggungan itu dan ia berada di tengahnya.

Rasanya ia ingin pergi dari beranda kamarnya. Masuk ke dalam selimut kemudian berteriak dengan redaman bantal sepertinya sangat baik. Ide itu tidak buruk bukan. Tapi saat melihat wajah tampan Kibum, entahlah ia merasa amat sangat enggan beranjak dari sana.

Bintang yang indah di sana bahkan mengalahkan dirimu

Ribuan mimpi bahkan tergantikan dengan kehadiran engkau dalam tidurku

Demi apapun, kau berhasil mengobrak abrik segalanya

Namun aku tak marah, aku bahkan memberikan senyuman terindahku

Agar... kau tak pergi dan meninggalkan tempat kosong yang begitu luas di dada ini.

"Hyung~" akhirnya Krislah yang dengan berani membuka pembicaraan. Dia harusnya tahu bahwa Kibum bukan tipe yang suka bicara—bahkan lebih parah dari dirinya.

"Yeah?" Kibum meliriknya, menusuk tepat di jantungnya lewat pandangan mata yang memerangkap itu.

"A—aku..." Kris terbata, sebenarnya ia bingung apa yang ingin katakan. Apakah ia harus membahas tentang kecupan bibir tiga hari yang lalu itu? Baiklah sepertinya salah, lumat-lumatan bibir sebenarnya. Jujur, ia merindukan lelaki dingin yang lebih pendek darinya ini selama tiga hari belakangan. Kecanggungan sungguh membuatnya terisolir dari kehangatan yang biasa di lakukan oleh Kibum.

Kibum memotong, "Maafkan aku soal ciuman itu"

"Ah... nee" Kris mengangguk, sungguh ia merutuki dirinya yang sangat gampang canggung jika berbicara. Seandainya ia bisa seperti Chanyeol yang begitu fasih bicara banyak atau setidaknya ia ingin seperti Yoseob yang bisa berpose aegyo demi mendapatkan senyuman orang lain.

"Aku seorang gay" sungguh Kris melotot menatap Kibum yang kini menatap lurus ke depan ketika menyatakan orientasi sex yang sedang ia gumamkan. "Aku sering berhubungan dengan wanita dan berakhir bodoh"

"Eh..."

"Tidak banyak lelaki yang masuk kehidup percintaanku" Kibum menatap Kris dengan tatapan yang begitu tulus. "Dan harus ku akui, aku jatuh padamu"

Deg...

Deg...

Kris merasakan gejolak aneh dalam dirinya. Dadanya bergemuruh. "Aku normal hyung, aku mencintai Chorong". Begitu bodoh, ingin rasanya Kris mengutuk mulut bejatnya.

"Aku tahu. Aku akan menunggu sampai kau memberiku kesempatan"

"Aku dan kau sesama lelaki" Kris bahkan ingin meledak di saat itu juga. Sementara Kibum ia masih diam, ia menatap dalam ke mata Kris. Membiarkan Kris menemukan bahwa ia terluka sekarang. Dia di tolak, dan siapa yang tak sakit hati ketika kau di tolak dengan begitu tegasnya oleh orang yang kau cintai?

Tapi Kibum berbeda, karena ia sedang merasakan cinta yang sangat jarang ia rasakan. Dan ketika ia merasakan lembutnya bibir yang lelaki yang sedang bersamanya ini, ia merasakan cinta yang sudah lama tak ia rasakan. Sekarang, seketika itu pula ia hancur. Hanya karena batasan gender diantara mereka.

"Aku mengerti, aku akan—" masih bersikukuh untuk menunggu namun Kris cepat memotongnya. "Kau hyungku, dan aku takkan pernah mencintai seorang lelaki"

Kibum terhenyak, ia memasuki apartementnya. Tak ingin berbicara lagi dan kemudian Kris akan lebih menyudutkan hatinya. "Tidurlah lebih cepat" itulah kata terakhir Kibum sebelum menutup beranda kamarnya.

%ika. Zordick%

Kau tak mengerti, selamanya tak akan mengerti

Kau hanya bocah kecil yang tak pernah merasakan yang sebenarnya

Kau berkata dengan gampangnya segalanya adalah omong kosong

Karena aku yang mengajarimu

Cinta… memang omong kosong.

Tapi satu yang selalu ku tegaskan padamu, ketika kau merasa sebuah omong kosong

"Bertahanlah dengan keegoisanmu"

%ika. Zordick%

Sedikit segan…

Itulah perasaan yang bisa digambarkan Kris untuk tindak kebodohannya menolak Kibum, hyungnya beberapa waktu lalu. Ia menggigit bibir bawahnya, bahkan ia telah salah tingkah sekarang. Bagaimana caranya agar ia dan pria dewasa ini menjadi seperti dulu. Layaknya sebelum hal bodoh itu terjadi.

Tersenyum begitu simple. Tapi siapapun bisa mengartikan makna senyuman yang begitu mempesona itu. Memberi kesempatan kembali pada Kris, dan ia tahu Kris takkan bisa memperbaiki segalanya sebaik dirinya. Kibum kembali mengalah.

"Kenapa diam disana? Kau sudah selesai dengan ketukan di bagian Reff?" Tanya Kibum dengan nada datar—seperti biasa—yang membuat Yoseob dan Chanyeol tak percaya bahwa lelaki itu dapat melantunkan kata-kata penuh nada ketika menyanyi.

Menggaruk tengkuknya, "Eh… umm.. itu.. belum hyung" gugup. Kibum menghampirinya, mengambil stick drumnya dan memberi isyarat agar diberi kesempatan untuk menabuh drum tersebut.

"You just do it like this. Chanyeol—ah, bisa kau beri aku irama?" tanyanya. Chanyeol mengangguk dan melakukan permainan gitarnya. Kibum menggerakkan kaki kanannya, membunyikan bass sebanyak tiga kali. "Perhatikan ketukanmu bass mu dengan senarnya" dia memberi instruksi selanjutnya.

"Ahh… ya.. aku sedikit bingung ketika Yoseob mengambil nada di sini"

"Improvisasi" jawab Kibum pendek yang langsung membuat Kris menganggukkan kepala mengerti. "Kau akan mendapatkan Chorong—ssi secepatnya, lakukan dengan serius!" Kibum berbisik ketika ia beranjak dari kursi drum.

Deg…

Deg…

Kris hanya melirik sedikit, benar… ia melakukannya demi Chorong. Tapi mengapa, ia merasa tak suka Kibum mengucapkan kata-kata itu untuknya—meskipun untuk memotivasi dirinya.

"Aku akan melakukan yang terbaik" Kris berucap dingin, menutupi rasa perih di hatinya yang entah kenapa.

Kibum berdehem. Menyelaraskan jantungnya yang berteriak bahwa kata-kata Kris barusan sungguh berpangaruh dalam untuknya. "I see". Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang music.

"Kau mau kemana?" Junhyung bertanya.

"Mati" jawab Kibum asal yang membuat Junhyung berdecih. "Talk to my hand!"

%ika. Zordick%

"I wanna told you I wanna die" seseorang di seberang line sana tertawa mendengar aduan Kibum. Manis sekali, ia tak menyangka seorang Kibumnya—lebih tepatnya mantan kekasihnya itu bisa bertingkah laku seperti orang patah hati dengan begitu manisnya.

"Oh Bryan, You success make me Loud of Laugh" suara yang begitu manis, suara yang dulu pernah membuat Kim Kibum jatuh dalam pesonanya. Tapi semuanya berakhir ketika ia mendapati Yesung—Jeremy berselingkuh dan berpura-pura tak mengenalnya.

Tapi ayolah, itu cerita lama. Bahkan Kibum hamper melupakan segala cerita yang membuatnya berubah manjadi seorang playboy picisan yang memacari dua puluh orang sekaligus. "Hyoong!" suara Kibum meninggi. Sukses membuat Yesung terdiam di seberang sana. "I miss you, Bummie. I miss you when you call me 'hyoong' you know"

"I am an American people"

"Always…. Yeah.. I know Bryan. So sorry" Yesung menghela nafasnya. Kibum sepertinya tak bisa menerimanya kembali, meski segala pengorbanan yang ia lakukan. "So, what's your planning?"

"Waiting"

%ika. Zordick%

Ini harinya, hari di saat Kris akan kembali memulai lelucon bodohnya menyatakan cinta kembali pada sang pujaan hatinya. Ia menghela nafasnya, memandang pada Junhyung dan Yoseob yang sibuk saling membagi senyuman dan semangat disana. Ia tak menyangka keduanya akan menjadi begitu akrab. Tapi ia tak ingin mencampuri urusan yang tak sepatutunya ia campuri. Biarlah seperti itu.

Guru Fisikanya pernah mengatakan atau lebih tepatnya Newton lah yang mengatakan itu, "Sebuah benda akan bergerak konstan pada sebuah bidang lurus jika tidak ada gaya yang mengganggunya" kira-kira seperti itu jika ia tak salah ingat. Ia tak ingin menjadi gaya yang akan mengganggu sesuatu. Menjadi factor lain dalam suatu prose situ bukannya terkesan tidak elit?

Chanyeol tiba-tiba berbisik di telinganya. "Hai pangeran, apakah kau gugup?" tanyanya dengan nada menggoda. Kris mendengus, sahabatnya ini memang tidak punya kerjaan.

"Hmm" dengung Kris melirik ke dua adik kelasnya yang baru saja selesai member pertunjukkan menari. Kim Jongin dan Oh Sehun, siapa yang tak tahu bahwa mereka amat sangat hebat tentang itu, dan apakah Kris juga melupakan gossip—sebenarnya itu benar adanya bahwa mereka berpacaran dalam kategori sesuatu yang abnormal.

"Mereka berpacaran ya?" Tanya Kris bergumam yang tak secara sengaja terdengar oleh Chanyeol.

Chanyeol melirik ke arah Jongin dan Sehun. Dia kemudian tersenyum, "Bahkan sejak SMP, kau tak tahu, Sehun sampai belajar dance demi untuk mendekati dancing machine itu pada Eunhyuk Sunbaenim dari sekolah kita dulu"

"Apakah itu cinta, Yeol?"

"Perjuangan, tentu saja"

"Cinta itu omong kosong, tch!" Kris berdecih. Ia menatap nanar pada stick drum di tangannya.

"Meskipun omong kosong kau ingin mendapatkannya juga kan? Kau tahu Yoseob kita sudah dewasa, dia baru saja break dengan Eunji"

Kris kembali menatap Chanyeol dengan tatapan sulit diartikan, dia menoleh pada Yoseob dan Junhyung. "Apa karena Junhyung hyung?"

"Yah… Yoseob akan mengungkapkan perasaannya ketika kita sukses dalam pertunjukkan kali ini" Chanyeol memasukkan telapak tangannya ke dalam saku seragamnya. "Berusahalah untuk cintamu pada Chorong dan cinta Yoseob meskipun itu hanya omong kosong"

Chanyeol melangkahkan kakinya ke atas panggung, Yoseob buru-buru mengikuti langkah panjang pemuda tinggi itu—meninggalkan Kris yang menatap punggung keduanya. Dia mengedarkan pandangannya—ia ragu, ia butuh Kibum untuk menenangkannya. Kenapa Kibum? Kenapa harus lelaki itu? Karena dia hyung? Atau…

"OPPAA!" Kris menajamkan penglihatannya. Disana berdiri Chorong, dia tersenyum begitu manis. Kris menarik bibirnya menyambut senyuman tersebut. Namun semua pupus, Kris harus bersedia menelan ludahnya yang begitu pahit ketika melihat seorang lelaki merangkul begitu mesra pinggang wanita idamannya tersebut.

"Chanyeol benar, kau berbohong padaku"

Kris menaiki panggung, dia duduk di belakang drumnya. Apa pilihannya sungguh salah? Lalu untuk apa ia harus menabuh drum ini? Bukankah cintanya telah menghianatinya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mundur?

Yoseob memulai nyanyiannya dengan diiringi Chanyeol. Terdengar pekikan histeris untuk para pangeran sekolah tersebut. Kris masih diam, meski Chanyeol sudah menatap tajam dan gundah sekaligus pada sahabatnya itu. "Demi Tuhan Kris, kumohon, mainkan!" Chanyeol menggerakkan bibirnya.

DUG….

PAANGG… PAANGGG…

Yeoseob berhenti menyanyi, menatap kearah drum yang ditabuh secara asal. Kris membuang stiknya asal. Kemudian dia merebut mikropon dari tangan Yoseob. "PARK CHORONG, AKU MENCINTAIMU!"

Junhyung di bawah sana bahkan menghela nafasnya, ia memijit sedikit pelipisnya. "Labile" bisiknya entah pada siapa. Kris sukses menghancurkan segalanya dengan suara berat sexynya. Kris sekali lagi memedarkan pandangannya, ia jelas melihat Chorong yang tengah bergumam seolah memakinya. Tapi bukan itu, ia mencari orang lain. Kibum tak ada di sana.

Chanyeol ingin sekali menghajar sahabatnya ini lagi, tapi ia lebih memilih meletakkan gitarnya, mencemaskan Yoseob yang kini sudah berkaca kaca. "Seobi… kita selesaikan berdua saja, bagaimana?"

"Sudah hancur" Yoseob menghentakkan kakinya, berjalan melewati Chanyeol dan Kris. Memilih meninggalkan panggung. Memalukan, tapi tak sebanding dengan harapannya yang hancur untuk mengungkapkan segalanya pada Junhyung.

"Good! Kau sukses menghancurkan segalanya, pangeran" sindir Chanyeol menubrukkan bahunya pada bahu Kris. Junhyung naik ke atas panggung, menarik tangan Kris yang diam mematung di sana. "Aku sudah menghubungi Kibum, dia tidak jadi menjemput mantan kekasihnya karena ulahmu. Pulanglah ke apartement, tunggu dia di sana"

%ika. Zordick%

"Kau mengecawakan Yang Yoseob?" Tanya Kibum ketika dia melihat Kris yang menundukkan wajah sambil terduduk di sofa putih apartementnya. Kris diam.

"Kau mengecewakan Chanyeol" kembali Kibum bertanya. Kibum dapat melihat tetes bulir bening yang membasahi telapak tangan Kris yang mencengkram erat lututnya sendiri.

.

.

"Aku mengecewakanmu" itulah kata-kata pertama Kris setelah beberapa menit mereka diam.

.

.

"Never" Kibum mengelus pelan surai keemasan Kris dan pemuda tinggi yang masih mengenakan seragam SMAnya itu menangis di dada Kibum setelahnya.

.

.

"Jadikan aku dewasa hyung"

Kibum diam. Dia tak menjawab apapun. Hingga… Kris memangut bibirnya. Tak ingin merespon, meski Kibum jelas merasakan hantaman kuat padanya. Kris menjadikannya pelampiasan. "Having sex" lanjut Kris yang membuat Kibum balas mengulum bibir lelaki yang ia cintai itu.

Cinta itu memang egois

Jadi tidak ada salahnya kan, mendapatkannya terlebih dahulu

Lalu membuatnya mencintaimu nanti

%ika. Zordick%

Kris berjalan menunduk di belakang Kibum, ia enggan melihat ke dua sahabatnya yang dengan sengaja di kumpulkan oleh sang kekasih—mengingat yang mereka lakukan semalam. Mata Yoseob terlihat membengkak, itu artinya sahabatnya itu menangis semalaman dan ialah yang tervonis sebagai tersangka penyebab si mungil itu begitu menderita.

"Apa Kibum bermain begitu keras semalam, Kris?"

Kris memandang Junhyung dengan tatapan bertanya. Hingga beberapa detik kemudian wajahnya memerah. "Ti… tidak, dia tak melakukannya sa—"

"Ehem" Kibum berdehem. Kenapa Kris harus mengumbar masalah 'dapur' mereka di depan sahabat berotak kecilnya itu. Baiklah, anggap Kibum baik hati semalam. Ia terlalu kasihan melihat wajah stoick Kris yang menahan sakit hingga ia gagal melakukannya.

Junhyung meringis, "Aku bercanda, kekasihmu saja yang polos"

Yoseob dan Chanyeol sontak menoleh ke arah Kris. Apa mereka tak salah dengar? Si straight yang benci gay itu memiliki kekasih seorang lelaki? Oh God!

"Kalian berpacaran?" Chanyeol bertanya tak percaya.

Kris menggaruk belakang kepalanya. Sedikit bingung, ia mendongak kemudian menatap punggung Kibum yang tampak sangat kekar di hadapannya. Ia mengangguk setelahnya. Dia terlalu takut untuk kehilangan Kibum. "Ya…" jawabnya singkat.

"Kris kita sudah dewasa!" Yoseob berteriak girang. Ia seolah melupakan segalanya. Ia memang selalu bahagia ketika sahabatnya bahagia. "Lalu kapan kita akan menyusul?" sebuah pertanyaan dari Junhyung sukses membuat Yoseob memerah dan bersembunyi di belakang tubuh Chanyeol.

%ika. Zordick%

Kibum mendekap tubuh tinggi itu dari belakang. Menyatukan jemari mereka, di pinggang Kris. Ini hari kelima mereka menjadi sepasang kekasih, namun perasaan meragu itu semakin erat mencengkram jantung Kibum. Kris mungkin tak pernah mencintainya seperti ia mengharapkannya.

"Apa kau baik-baik saja?"

Kris hanya mengangguk. Inilah alas an mengapa Kibum merasa ia hanya menjadi beban untuk Kris, kesehatan lelaki yang kini ia rengkuh itu semakin memburuk. Mungkin tekanan karena memaksakan cintanya. "Kepalamu bagaimana?"

"Tidak apa?"

"Sudah minum obat?"

"Hyung, aku tidak apa-apa" Kris berbalik, mengecup bibir kekasihnya yang entah sejak kapan menjadi begitu cerewet. "Baiklah, tidur kalau begitu"

Kris menahan tangan Kibum, "Temani aku!" nadanya jauh dari kata manis. Ini begitu tegas bahkan terkesan memeriksa. Kibum tersenyum dan mengelus kepala Kris.

"Baiklah" Kibum memang selalu menuruti permintaan sang kekasih. Apapun itu.

Tak banyak kata diantara mereka. Kibum lebih memilih, mengelus kepala Kris dengan lembut. Ia tahu lelaki tampan yang tengah tertidur di dekapannya itu menahan sakit yang luar biasa. "Aku akan membawakan Park Chorong padamu Kris" Kibum mengecup pucuk kepala dihadapannya penuh sayang. Ia kemudian turut tertidur.

%ika. Zordick%

"Hyung, kau mau kembali ke America?" Kris memeluk boneka kambingnya.

"Ya.. begitulah" jawab Kibum santai.

"Tapi besok aku akan menjalani operasi. Bagaimana mungkin kau bisa meninggalkanku?" Kris menendang meja dihadapannya. Wajah pucatnya sepertinya tak menghalangi tenaganya yang besar.

Kibum berjongkok di hadapan Kris. Mengelus pipi tirus itu, "Let's break up!" kata-kata yang singkat tapi Kris tahu jelas artinya.

"Kau meninggalkanku karena kondisiku?"

Hanya diam, Kibum berharap Kris menemukan ketulusan dalam bola mata hitam kelamnya. Mereka di terpa kesunyiaan, hingga sebuah suara memecah keheningan diantara keduanya. "Dia datang"

"Siapa? Kita belum selesai, Kim Kibum!" sentak Kris.

"Kekasihmu" jawab Kibum asal kemudian berlalu membukakan pintu untuk seseorang di luar sana.

.

.

Kris memilih mematung, dia tak percaya dengan apa yang dihadapannya. "Oppa, aku…" Chorong berada di sana, memasang senyuman yang begitu indah, sedikit malu-malu. Senyuman Kris terangkat, sementara Kibum lebih memilih meninggalkan keduanya. Berjalan begitu santai ke apartementnya.

"Sudah selesai salam perpisahanmu?" Tanya Junhyung yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Aku akan kembali kemari beberapa hari lagi, kau?"

"Aku tidak akan pernah kembali"

%ika. Zordick%

Kibum tak menepati janjinya untuk tak kembali. Ia kini menggenggam erat tangan seseorang yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit swasta di Seoul. "Wu Yifan" panggilnya sambil mengelus rambut pirang lelaki yang tak kunjung sadar setelah empat hari masa operasinya.

"Aku sudah mengatakannya padamu, untuk menjaganya. Apa yang kau lakukan? Bahkan saat aku datang, kau tak ada di sisinya!" Kibum jelas membentak wanita yang baru saja memasuki ruang rawat Kris.

"Maafkan aku!"

"Biarkan aku menjaganya, kau beristirahatlah Chorong—ssi"

Kembali jemari Kibum mengusap pipi tirus itu, ia mengecup sekali. "Bangunlah Kris!" ujarnya lembut.

Di hari keenam, ia masih tertidur.

"Bangunlah sayang~, aku disini" Kibum jelas memimpikan lelaki yang tengah tertidur itu. Memanggil namanya, mencoba bertingkah aegyo gagalnya demi mendapatkan perhatiannya. Hingga Kibum akhirnya meneteskan air mata dalam diamnya.

Tiiiiiittt….

Kibum terpaku, tubuh Kris tiba-tiba mengejang. "Chorong, panggilkan dokter!" teriaknya. Wanita itu hanya menangis, meraung tak jelas memanggil nama Kris.

"Aishh…" Kibum berlari cepat menerobos pintu. "Doctor… I need a doctor here!"

Di hari ketujuh…

Lelaki itu tersadar, dengan senyumannya yang begitu lemah. "Hyung…"

Kibum hanya tersenyum kaku, ia melepaskan jemari Kris yang seolah tak ingin melepasnya. "Hyung, kau tahu… aku seperti berada di tengah lautan luas dan aku terombang ambing di sana. Aku mendengar banyak suara, dan salah satunya suaramu"

"Jika kau terombang ambing, kau tahu bahwa aku sudah tenggelam" canda Kibum. "Welcome Kris. Get well soon, brother"

Kris memberikan senyuman perihnya. Brother? Ah.. benar juga, Kris melihat kea rah lain, ia menemukan Chorong disana. "Hyung, aku…"

"Aku akan menikah dengan suara wanita, cepatlah sembuh"

Nafas Kris terasa tercekat, lidahnya bahkan kelu untuk berucap. "Aku tak ingin mengecewakanmu, anggap ini hadiahku untukmu"

"Hyung…"

"Aku normal untukmu Kris"

END

== lama ya… lama ya…

Maaf maaf… ini hanya FF abal untuk pecinta non mainstream couple. Hoh… capek capek…

Ok… mari menyiapkan FF lain dan di update setelah lebaran/?

Krik… krik… krik…

#DiRajamReader

Terima kasih atas reviewnya dan terus meriview