"Aku pulang"
Suara anak kecil berteriak lantang, diikuti derap kaki kecil memenuhi lorong ryokan.
"Daddy dimana"
"Kouki chan, lepas dulu jaketnya. Jangan berlari dalam rumah"
Bocah kecil itu seakan tidak mendengar dan terus mencari daddynya dalam rumah, dia tidal sabar ingin meceritakan soal pak Celestino dan tidak sadar kalau itu berarti menceritakan dirinya yang tanpa sepengatahuan daddy berlatih es skating sendirian. Dari lorong ryokan Kouki melihat daddy sedang duduk di ruang keluarga. Tanpa pikir panjang dan melihat situsi duduk di pangkuan yuri berhadapan.
"Daddy kenal pak Celestino?"
"Victor, ini Kouki. Dia adalah putramu"
Yuri dengan wajah blank dan suara datar.
"apa?"
Victor yang masih tidak memahami adegan apa yang terjadi di depannya. Dia mengenali anak di depannya adalah anak yang sama yang ia lihat bersama Celestino di rink es dari baju yang dipakainya.
Kouki otomatis membalikkan badannya, menatap Victor.
"Wow kau Victor Nikiforov"
Mulut kouki membentuk huruf O besar melihat sang diola yang selalu di lihatnya dalam video di internet di depannya.
Melihat mata, rambut dan bentuk wajah bocah di depannya victor langsung tahu bocah itu adalah anak biologisnya dengan Yuri, tanpa terlalu pusing penjelasan biologisnya. Toh mereka pernah berhubungan dulu, jadi bisa saja terjadi.
Victor mendekat pada Kouki, memeluk dan mencium kening bocah itu
"Putraku"
Ibu yuri mengajak Kouki dapur agar pembicaraan lebih serius bisa di lanjutkan
Victor mendapat penjelasan dari Yuri tentang kondisi tubuhnya, bahwa dia adalah intersex, kedua alat kelaminnya berfungsi tetapi ciri kelamin sekunder dominan laki-laki. Secara legal yuri adalah laki-laki, Yuri merahasikan hal ini. Sebagai atlet dia tidak mau mendapat masalah. Saat mereka berhubungan victor memasukan pada tempat "yang tepat" sehingga kehamilan terjadi.
Secara legal pernikah mereka tidak bisa di daftarkan, tetapi salah satu dari mereka bisa mengadopsi pasangannya sehingga akan punya hak legal sebagai keluarga jika sesuatu terjadi. Seorang masuk kedalam kehidupan Victor sebagai kepala keluarga mafia bukan perkara mudah. Untuk bisa melindungi Yuri dan Kouki secara legal mereka harus diakui sebagai bagian keluarga Nikiforov. Akhirnya diputuskan bahwa Yuri dan Kouki diadopsi keluarga Nikiforov, tepatnya oleh Victor bukan keluarga besar Nikiforov. Dengan begitu Victor akan lebih punya pengaruh atas Yuri dan Kouki dari pada kelurga Nikiforov lainya, termasuk orangtua Victor yang mungkin masih tidak setuju dengan hubungan mereka.
Dengan uang dan koneksi Victor seminggu kemudian secara resmi nama Yuri menjadi Yuri Katsuki Nikiforov dan Kouki menjadi Kouki Katsuki Nikiforov. Selama menjadi pelatih dalam 6 bulan Victor tinggal di ryokan. Seminggu tinggal di ryokan bersama kelurga barunya banyak hal terjadi. Kouki bersikeras memanggil Victor mommy.
"Aku hanya bisa punya satu daddy dan satu mommy"
"Tapi kaochan kamu tidak bisa..."
"Sudahlah sayang aku tidak keberatan dipanggil mommny. Bukankah itu manis"
Victor memeluk Yuri dari belakang dan menngecup pipinya.
"Victor, tapi itu memalukan"
"Oh apakah kamu ingin bertukar sekarang mommy"
Goda victor
"Arrght bukan begitu!"
Yuri mulai kesal
"Terserah, suka-suka kalian"
Yuri kemudian menuju dapur untuk mengambil bekal yang akan di bawa Victor
"Kouchan mau ikut mommy melatih es skating?"
"Dimana?"
Tanya Kouki bingung
"Memang ada berapa rink es di kota ini Kouchan"
Victor tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut abu-abu pendek putranya
Kouki yang menyadari sesuatu
"Wow mommy pelatih tim junior nasional jepang es skating"
Victor dengan kouki datang tepat sebelum latihan dimulai, disana sudah ada pelatih Celestino dan anak-anak yang harus dilatih. Pelatih Celestino sebenarnya tidak mengetahui bahwa pelatih baru adalah Vicktor karena Victor sendiri yang meminta hal ini dirahasiakan dia tidak ingin Yuri tahu Victor akan datang dari orang lain. Pelatih Celestino baru tahu 2 hari belakangan ini. Pelatih Celestino memperkenalkan Victor sebagai pelatih baru minggu untuk depan. Berberapa anak terlihat antusias dan beberapa memasang wajah serius. Sesekali mereka melihat bocah kecil yang di gendong Victor, bocah itu membisikkan sesuatu kepada victor.
"Dia akan anak kecil yang menangis minggu lalu disini"
Seorang anak berkata sambil menunjuk Kouki, yang lain tidak mengenali kouki karena mereka melihat bocah itu dari jauh. Sekarang mereka melihat kouki dari dekat dan dapat melihat mata biru Kouki dan rambut abu-abu di sela sela topinya.
"Ya ini anak yang kalian sebut babi adalah putraku. Kouki Katsuri Nikiforov"
Victor tersenyum jahat pada team yang akan di latihnya. Semua orang mengidik ngeri. Melupakan fakta bagaimana bisa anak Katsuki Yuri adalah juga anak Victor Nikiforov.
"Kouchan babi kecil yang lucu kan"
Victor tersenyum pada putranya dan mengecup pipinya
"Mommy, aku bukan babi dan aku tidak kecil"
"hahaha..."
Victor tertawa melihat putranya cemberut
Setelah selesai mengamati dan mendampingi pelatih Celestino. Victor melatih Kouki es skating
Putranya masih 4 tahun lebih beberapa bulan, terhitung sangat dini untuk memulai melatih dengan serius. Victor hanya akan melatih putranya berskating untuk bersenang-senang. Jika suatu saat Kouki berminat menjadi seorang ice skater victor akan berusaha mendukung Kouki mencapai impiannya, hal yang sama yang pernah viktor dan yuri impikan.
4 bulan mereka tinggal sebagai keluarga, Victor dan Yuri tidak pernah sebahagia ini. Tidak sama memang dengan rasa bahagia ketika mengangkat mendali emas diatas podium yang juga luar biasa, tapi hanya berlangsung sekejab dan beberapa waktu kemudian membutuhkan suatu untuk kembai dikejar. Rasa bahagia ini lebih lembut dan hangat.
"Victor bangun!"
"Ada apa Yuri?"
"Kouchan demam"
Victor bergegas bangun dan ke kamar kouchan, Victor kembali memeriksa suhu badan Kouki. Demamnya cukup tinggi. Yuri telah mengompres dan memberi obat penurun deman, tapi demam Kouki belum turun juga.
"Tidurlah Yuri, aku yang akan menjaganya. Kau belum tidur dari tadi kan"
Yuri tau apa yang dikatakan Victor ada benarnya. Kondisi Yuri juga mudah drop kalau kurang tidur dan stress.
Esoknya mereka membawa Kouki ke rumah sakit. Mereka ingin memeriksakan kouki lebih detil kenapa dia sering deman akhir-akhir ini.
Setelah di periksa dan cek darah teryata Kouki mengalami phimosis, yakni kulit pada ujung kelamin terlalu sempit sehingga sulit buat air dan lain sebagainya mengkibatkan infeksi pada ujung kelamin yang pada akhirnya mengakibtakan demam. Cara pengobatan satu-satunya adalah sunat.
Yuri mendengar menjelasan dokter mulai menangis, dia mengatakan merasa telah lalai menjaga Kouki padahal hampir selalu ia yang merawat dan memandikan Kouki. Bagaimana bisa dia tidak menyadari ini pikirnya. Sang dokter bingung melihat orangtua pasien menangis saat mendengar anaknya harus disunat, karena yang biasanya menangis adalah si anak yang akan disunat.
Victor memeluk suaminya yang menangis. Kalau dia pikir-pikir akhir-akhir ini Yuri sering bereaksi emosional secara berlebihan. Mungkin suaminya juga butuh memeriksakan diri. Ah kali ini aku akan melihat anakku lahir, Victor tersenyum sendiri.
"Ini bukan salahmu dear, aku juga tidak tau hal seperti itu bisa mengakibatkan demam. Toh kamu juga seperti itu dan tidak sering demam"
"Arrght...Victor kenapa kamu mengatakan hal yang tidak-tidak"
Yuri berteriak dan mendorong Vicktor menjauh darinya. Wajahnya jadi memerah sekarang.
"Kami juga biasa melalukan prosedur sunat pada orang dewasa"
Sela dokter sembari melihat adegan absurt di depanya.
Mereka menginap dirumah sakit, menunggu demam kouki turun. Karena operasi akan segera dilakukan segitu Kouki tidak mengalami demam.
"Yuri, kau yakin tidak mau melakukannya juga? kau bilang terkadang rasanya sakit kan saat ereksi"
"Victor Shut up!"
Dalam hati victor berharap Yuri mau melalukannya. Penasaran juga ingin melihat dalamnya. Selama ini hanya sebagian saja punya yuri yang bisa keluar. Yosh someday dia akan membuat Yuri mau malakukannya.
Victor mendapat menjelasan dari dokter. Victor berusaha menjelaskan apa yang akan dilakukan kepada Kouki dengan bahasa yang lebih sederhana berharap sang anak mengerti dan mau kooperatif.
"Daddy mommy tidak mau"
Kouki menangis setelah mendengar penjelasan Victor. Dan terus menangis sampai lelah dan tertidur di pangkuan Victor.
Victor melihat Yuki suaminya terlihat lelah, dia menyuruh menelepon ibunya Yuri untuk bisa datang dan membawakan baju untuk mereka dan membantu Yuri untuk bisa tenang.
Esoknya demam Kouki turun, ada perasaan tegang di hati kedua orang tua Kouki. Kouki yang baru bangun tidur mendapat sarapan kesukaannya. Pancake dengan selai kacang dan keju serta beberapa mainan baru yang sengaja dibeli Victor. Tenang nak setelah ini mommy akan membelikan lebih banyak mainan sebagai ganti dirimu yang telah hilang, bicara victor dalam hati sambil mengelus rambut yang anak.
Seorang perawat masuk untuk menjemput Kouki ke ruang operasi, Kouki yang tau apa yang akan tejadi mulai menangis dan menarik-narik baju Victor.
"Jagoan nanti setelah selasai kita akan membeli mainan baru dan eskrim untuk mu"
"Ga mau,ayo pulang mommy daddy"
Yuri yang tidak tega melihat putranya menangis mendekat ke arah kouki yang sedang di gendong victor.
"Daddy akan menemani kouchan"
Dengan mencium kening Kouki dan menghapus air matanya yang masih mengalir
Ruang operasi kecil untuk anak ini tidak keseram dan sehoror ruang operasi untuk orang dewasa, dengan tembok bergambar warna warni dan bahkan ada layang yang sedang memutar film kartu, agar anak tidak takut
Kouki memberontak saat berganti pakaian, dia harus memakai baju operasi yang steril, Victor dan Yuri juga.
Kouki di baringkan di meja operasi dan kedua paha dan perut di strap agar tidak bergerak selama prosedur selain itu victor dan perawat juga memegang paha dan kaki kouki agar tidak banyak bergerak. Kouki sudah menangis meraung-raung. Victor berpikir bahwa stamina putranya kuat juga menangis lama sekali, seperti stamina Yuri saat melakukan figure skating.
Dalam ruangan ada dua dokter dan dua perawat yang biasa membantu menangani anak kecil yang susah koperatif selama prosedur. Victor merasa ngilu melihat suntikan pertama pada pangkal penis putranya. Maaf nak mommy tau itu tadi sakit sekali.
"arrght sakit, uda berhenti sakit. Kou ga mau daddy mommy"
Tangisan kouki menjadi-jadi.
"Yuri terus menerus mengajak Kouki bicara dan mengelus kepalanya, berusaha mengalihkan perhatian sang anak.
Suntikan kedua kouki masih berteriak kesakitan, untuk ketiga dan keempat tidak ada respon yang berarti hanya menangis
"Obat biusnya sudah bereksi, Kouki sudah tidak merasa sakit. Anak kecil biasanya masih menangis karena merasa takut"
Penjelasan dokter pada Yuri dan Victor
"Kouki chan, sudah tidak sakit kan. Tunggu sebentar ya"
Kata perawat pria pada Kouki yang masih terisak
5 menit dalam proses kouki mulai kembali gelisah
"Daddy mommy Koucha capek"
"Iya sebentar sayang"
Dokter mulai memotong, darah mulai banyak keluar. Ini mengerikan. Aneh sekali dia biasa melihat orang terluka, dihajar ato ditembak selama menjadi anggota keluarga mafia, dia telah melihat darah lebih banyak dari ini. Melihat darah putranya sendiri dan darah orang lain rasanya berbeda rupanya.
Dokter telah ditahap menjahit luka, kemudian memperbannya.
"Kouchan, sudah hampir selesai"
"Victor ssstt, Kouki tertidur"
Rupanya menangis itu melelahkan juga.
Tak lama setelah operasi selesai Kouki dibangunkan untuk meminum obat pereda nyeri, karena setelah efek obat bius habis rasanya akan sakit. Dokter mengatakan untuk untuk melakukan kontrol dan menganti perban besok. Mereka juga diajari bagaimana menganti perban bila basah atau kotor. Setelah Viktor mengurus semua administrasi dan dokter telah memastikan tidak ada pendarahan pada luka Kouki mereka pun pulang.
Kouki yang biasanya adalah anak yang cukup mudah ditangani sekarang menjadi sering rewel. Kouki masih marah dan kesal kepada daddy dan mommy karena membawanya kerumah sakit dan membuatnya disunat, juga rasa tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya membutnya ingin menangis.
Malam setelah mereka pulang dari rumah sakit Victor dan Yuri tidur bersama sekamar dengan putra mereka untuk menjaganya dan memastikan posisi tidur kouki aman untuk lukanya, terkadang Kouki tidur tengkurap.
Yuuki menaruh tangannya dengan lembut pada tubuh putranya, sedangkan Vickor mengelus kening sang anak yang sedang tertidur pulang.
"Yuri, besok saat kerumah sakit kau bisa sekalian periksa.."
Belum selesai berbicara Yuki menginterupsi dengan nada kesal.
"Victor, jika itu yang kemarin kamu biacarakan aku tidak mau melakukannya dan lupakan untuk tidur denganku lagi jika kamu tidak menyukainya"
"Yuri bukan itu, yang ku maksud adalah memeriksakan ke dokter kandungan"
"Huh apa?mungkin kah? Kenapa kau lebih tahu dari pada aku Victor?"
"Emm...mungkin itu naluri seorang ayah"
Esoknya mereka ke rumah sakit untuk mengecek dan mengganti perban Kouki.
"Daddy mommy kenapa kita kesini, kou mau pulang, enggak mau kesini!"
Kouki mulai menangis takut mengingat apa yang di alaminya kemarin.
"Kouchan, dokter hanya akan melihat lukanya dan mengganti perbannya, mommny janji ini tidak akan sakit"
"Janji?"
"Ok janji, bagaimana pulang nanti mommy dan daddy akan membelikan kouchan sesuatu. Apakah kouchan ingin sesuatu? "
Muka Kouki terlihat berpikir keras.
"Bisakah aku mendaptkan sepatu es skating punyaku sendiri yang keren dan anak anjing?"
"Kurasa tidak masalah soal sepatunya, tapi soal anak anjing kita tanya daddy"
"Bagaimana Yuri?
"Kouchan, anak anjing butuh banyak tanggung jawab. Daddy dan mommy bisa sedikit membantu tapi kouchan yang harus mengurus dengan baik anak anjing itu. Apa kouchan bisa?"
"Daddy kou akan mengurus dan menjaga anjing itu dengan baik"
Melihat raut wajah dan jawaban kouki yang berdeterminasi dan tanpa ragu. Yuri setuju untuk memberikan Kouki anak anjing. Lagi pula hewan periharaan baik untuk perkembangan anak. Yuri dan victor juga menyukai anjing, benar-benar Kouki anak mereka.
Kouki mulai merengek saat memasuki ruang periksa dan saat perban di ganti. Meskipun dia berusaha berani Kouki tetaplah anak kecil. Yuri memeluk kouki dan mngecup kening sang anak setelah perban Kouki selesai di ganti. Meskipun kouki merengek dia tidak memberontak dan menangis.
Setelah itu mereka menuju dokter kandungan. Insting Victor benar, Yuri tenggah mengandung sebulan. Victor mencium suaminya
"Yuri, terima kasih. Aku akan menjadi ayah lagi"
Yuri tersipu malu karena apa yang victor lakukan dan katakan. Apa lagi dokter masih di depan mereka.
"Kouchan kau akan jadi seorang kakak, see ada bayi dalam perut daddy"
Kouki bingung
"Who is my mommy?"
Tbc...
