Case Closed 1 – How to be a Secret Service Agent : Kang Daniel's Acceptance


Warning : Flashback sebelum Daniel ditetapkan sebagai agen.


Hari yang biasa saja sebetulnya, sebelum seorang Kang Daniel berusaha menghilangkan bosan yang menderanya dengan mengebut di jalanan sekitar Gangnam, menyebabkan berbagai telepon yang ditujukan kepada Seoul Police Station, yang sudah tentu menyebabkannya diinterogasi.

Daniel mengeluh keras-keras, sebelum berkata "Kumohon, bisa berikan satu kesempatan agar aku menggunakan teleponku?"

Polisi di hadapannya menghela napas lelah, sebelum beranjak untuk meninggalkan ruangannya. "Ya, dan kuharap itu orangtuamu, bukan orang dari agensimu," katanya lelah, lalu meninggalkan Daniel sendirian di ruang interogasi.

Kang Daniel, pemuda berusia sekitar 20 tahunan dan merupakan salah satu trainee di salah satu agensi paling berpengaruh di Korea Selatan, Free Music. Berkali-kali keluar-masuk markas polisi, hanya untuk masalah sepele, dan biasanya orang dari agensinya akan menyelamatkannya, hanya untuk menutup mulut para polisi itu. Supaya tidak ada media yang mengetahui masalah soal trainee yang bolak-balik keluar-masuk kantor polisi. Sesimpel itu alasannya, tapi berapapun jumlah yang bisa diberikan agensinya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat para polisi itu bungkam seketika dan memilih untuk menyelamatkan pemuda itu daripada berurusan lebih jauh dengan para petinggi agensi tersebut.

Daniel memelorotkan duduknya, sebelum mengambil ponsel di sakunya dan menekan speed dial nomor satu.

"Ayolah hyung, angkat," bisiknya pelan.

"Jangan bilang kau ada di kantor polisi lagi. Ini sudah kali keenam kau berbuat buruk dalam sebulan ini, Kang."

Daniel cengar-cengir perlahan. "B*jing*n tengik. Selamatkan aku, dasar bodoh," lalu cemberut dalam sekejap mata.

"Masalah apa kali ini? Aku tidak mau mendengar adanya perkelahian lagi,"

"Yah, hyung, kalau memang itu masalahnya mau bagaimana lagi?"

Line telepon di seberangnya menghela napasnya perlahan. "Kali ini aku yang akan datang ke sana, bukan lagi orang dari agensi. Siapa yang harus kuperankan?"

Daniel tersenyum tipis. "Kakakku, yang tidak pernah ada."


"Sumpah, Kang, berjanjilah kalau ini adalah yang terakhir buatmu. Aku sudah lelah mengingatkanmu soal ini, sungguhan." Pemuda di sampingnya mengeluh pelan, sambil terus terfokus pada jalan.

Daniel hanya bisa cemberut di sebelahnya, sambil memainkan ponselnya. "Aku bosan," katanya.

"Kalau bosan, lebih baik kau datang ke agensi, lalu latihan di sana. Jangan main kebut seperti ini. Kalau sudah begini, nanti kan aku harus mengambilkan mobilmu,"

"Kan kau bisa mengambilnya tanpa ketahuan, hyung," Daniel cengar-cengir dengan santai, terus memainkan ponselnya.

Pemuda yang sedang menyetir memilih untuk diam dan menarik napas panjang-panjang. "Kita ke agensi dulu, ada yang mau kubicarakan denganmu dan orang-orang." Diliriknya sebentar pemuda bergigi kelinci di sebelahnya. "Jangan bilang tidak. Ini penting untukmu, berani sumpah."

Daniel cemberut (lagi). "Iya deh iya, Seongwoo hyung,"

Merasa menang, pemuda yang dipanggil Seongwoo hanya bisa tersenyum tipis, lalu membelokkan mobilnya ke salah satu gedung terbengkalai yang bertuliskan property of FME. Daniel mulai gemetaran ketakutan, sementara itu Seongwoo berusaha menahan tawanya.

"Pemindaian selesai. Agen OSW on-board bersama salah satu trainee. Ijin masuk diberikan."

Daniel mulai menganga lebar ketika matanya menangkap lift yang segera membawa mobil Seongwoo untuk turun, dan menutup lantai diatasnya ketika mobilnya sudah masuk sepenuhnya, meninggalkan space kosong seperti semula.

Mata Daniel menatap takjub pada lift tersebut, sementara itu Seongwoo mulai melepas seatbelt miliknya dan mengambil sesuatu di jok belakang mobilnya.

"Apa itu, hyung?"

Seongwoo menatap bungkusan di depannya. "Ini? Makanan. Beberapa kimbap dan dua mangkuk jajangmyeon. Tadi mereka menyuruhku keluar beli makanan, makanya aku sekalian membelikan pizza buatmu," jawab Seongwoo, mengeluarkan sekotak pizza. "Nanti saja sekalian makan bersama mereka," lanjutnya, menggeplak tangan Daniel ketika dirinya mencoba untuk mengambil sepotong pizza dari dalam kotaknya.

Daniel cemberut, dan lift berhenti, tepat ketika Seongwoo kembali melajukan mobilnya pelan menuju salah satu parkiran. Salah satu perempuan disana menghampiri mobil Seongwoo, lalu mengeceknya.

"Niel, keluar dari mobil," usir Seongwoo halus. "Sejeong, memangnya ada yang salah dengan mobilnya?"

Gadis yang mengecek mobil itu cemberut berat dan menunjuk salah satu cat yang terkelupas. "Baru sehari kau bawa dan mobilku sudah seperti ini. Sebetulnya ada apa dengan mobilmu, sialan," gadis itu merengut, sambil menggeplak pelan punggung Seongwoo. Matanya lalu menangkap Daniel yang melongo lebar sambil membawa tasnya. "Trainee Kang Daniel, kan? Aku Kim Sejeong. Panggil saja Sejeong. Pria sialan ini baru saja mencuri mobilku, jangan heran kalau aku sedikit-eh-anarkis padanya," lalu tersenyum dan menjulurkan tangannya.

Daniel balas menjabat tangan gadis tersebut, dan membalas senyumnya (meski sedikit awkward).

"Sajangnim di ruangannya, kan?"

"Jangan berani-berani mengalihkan pembicaraan, Ong," Sejeong kembali memukuli Seongwoo dengan papan clipboard di tangannya (dengan anarkis tentu saja). "Dan, ya, dia ada di ruangannya, menunggumu dan Daniel. Aku masih ingin membunuhmu setelah ini. Kimbap dan jajangmyeon-nya sama sekali tidak bisa menyogokku."

Seongwoo menyeringai. "Bagaimana jika aku tidak memberikan keduanya untukmu?" setelahnya langsung berlari kencang, diikuti Daniel dan teriakan Sejeong ("B*jing*n tengik!")


"Hyung, ini tidak benar-benar terjadi, kan?"

Seongwoo menatap Daniel sekilas, lalu menggeleng pelan. "Ini nyata, Niel. Sajangnim memilihmu, karena katanya kau trainee terbaik yang pernah dimilikinya,"

Daniel cemberut. "Terbaik apanya, aku selalu menyusahkannya," sesalnya pelan.

"Sudahlah," Seongwoo membuka pintu rumahnya. "Sebaiknya sekarang kau mulai berlatih, daripada si tua bangka itu memarahiku karena tidak melatihmu dengan baik," lanjutnya, nyengir.

"Latihan dimana?"

Rahang Seongwoo jatuh begitu saja. "Di rumah ini, tentu saja. Kau pikir aku tidak menyediakan suatu tempat begitu?"

"Tapi dimana?" Daniel menggaruk kepalanya kikuk.

Rahang Seongwoo semakin jatuh. "Ikuti aku, kalau begitu," katanya. "Salah apa aku hingga punya partner macam Kang Daniel begini?" gerutunya pelan, tanpa bisa didengar oleh Daniel.

Keduanya melangkah menuju ruang belakang tempat Seongwoo biasa berlatih dance (tentu saja dia punya, secara Seongwoo itu pelatih dance di agensi), tapi yang membuat Daniel heran adalah tidak ada apapun di sana, kecuali kaca yang mengelilingi ruangan itu dan sebuah saklar ganda (dia pikir itu untuk menyalakan lampu, jangan salahkan dia)

"Apa maksudmu membawaku ke sini?"

Seongwoo mencebik kesal, lagi, sebelum tangannya menyentuh salah satu saklar, yang langsung membuat sebuah robot keluar dari balik kaca dan merubah ruangannya menjadi ruang latihan khas militer. Daniel melongo, dan robot lelaki itu berjalan ke arah keduanya.

"Mohon tutup mulut anda, Tuan—"

"Kang Daniel. Panggil saja dia Daniel," potong Seongwoo cepat. "Niel, ini robot spesial-ku. Aku selalu sparring bersamanya. Dia bisa kau panggil X," jelas Seongwoo, menunjuk robot di hadapannya yang langsung membungkuk dalam. "X, kau tidak perlu membungkuk sedalam itu."

"Kau membuatnya sendiri?" tanya Daniel, takjub dengan robot di hadapannya yang bergerak luwes, mirip seperti seorang manusia pada umumnya.

"Kau pikir untuk apa otakku ini?" Seongwoo menjitak pelan kepala Daniel.

"Em, Sir?" panggil X kepada Seongwoo. "Ini bukan hari Selasa, Sabtu atau Minggu. Kenapa Anda ke sini dan mengaktifkanku?"

"Aku ingin meminta bantuanmu untuk bocah ini—" (Seongwoo menunjuk Daniel, yang mencelanya pelan) "—yang butuh berbagai pelatihan spesialmu," tutupnya. "Untuk hari selain hari latihanku, maksudku," Seongwoo cengengesan, ketika melihat robotnya mulai berpikir keras. "Jangan terlalu banyak berpikir, tidak bagus untuk kesehatanmu, X."

X nyengir. Sementara itu, Daniel masih menatap robot itu dengan takjub. "Dan, Sir, dia menatapku terlalu intens," X bergidik ngeri.

Tangan Seongwoo bergerak untuk menggeplak robot tersebut. "Robot sialan. Nonaktifkan dirimu, aku ingin memperkenalkan Daniel dengan berbagai senjata ini."

X mencebik, menghina Seongwoo terang-terangan (Seongwoo sebetulnya sudah ingin mengumpat didepan robotnya yang sekarang sedang berjalan ke arah coffin miliknya dan menutup coffin tersebut. Daniel mengerjap perlahan (tolong ingatkan Daniel supaya dia tidak perlu takut dengan X) sambil tetiba saja memeluk tubuhnya erat.

"Hyung, kenapa X masuk ke dalam coffin?" tanya Daniel, bergidik perlahan.

Seongwoo cengar-cengir. "Dia terlanjur suka dengan coffin itu, makanya aku buatkan dia coffin untuk mengisi dayanya," akunya. "Dan lagi, baterai lamanya nyaris membuatku stres karena dia terlalu sering kehabisan daya, makanya aku sekarang menggunakan baterai yang baru untuknya. Setidaknya dia tidak perlu ngecas setiap kali setelah latihan," jelasnya kemudian.

Daniel merapat ke arah Seongwoo, sambil mengawasi coffin tersebut kembali ke balik kaca ruangan. Sementara itu, Seongwoo mengambil salah satu belati dan melemparkannya ke arah Daniel. Refleks, Daniel menangkapnya dan menatap Seongwoo garang.

"Yak! Apa maksudmu, hyung?!"

"Mengetesmu," jawab Seongwoo pendek, mengambil beberapa belati dan melemparkannya lagi ke arah Daniel.

Dengan refleks yang bagus, Daniel berhasil menangkap seluruh belatinya. "Kurasa aku mesti meningkatkan moda latihan X supaya bisa mengimbangimu," senyumnya kemudian.


Setelah sesi latihan panjang bersama Seongwoo (yang notabenenya merupakan agen terbaik di agensi dan juga dia termasuk salah satu peraih nilai terbaik dalam latihan bulanannya), Daniel merebahkan dirinya di lantai, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan bosan. "Hyuung~ aku lapaaar~"

Rahang Seongwoo terjatuh. "Kau tadi menghabiskan seluruh pizzanya dan sekarang kau sudah lapar lagi?"

"Cemilan~"

"Tidak. Dua hari lagi kau akan dites. Ada kandidat lain—oh ya, tentu saja ada. Aku baru mendapatkan pesannya dari sajangnim. Chungha, Jaehyun, Jungkook, Mingyu, Lisa dan Cai Xukun," kata Seongwoo, melihat pesan di-chat-nya dengan petinggi perusahaan. "Hati-hati saja pada Jungkook dan Xukun,"

Gantian rahang Daniel yang terjatuh. "Jaehyun sunbaenim yang katanya pacarnya Taeyong hyung itu?"

"Jangan katakan Jaehyun seorang sunbaenim. Dia bisa besar kepala nanti. Bilang saja Jaehyun si bangsat—itu lebih cocok," sela Seongwoo.

"Dan Chungha? Yang mantannya Samuel itu?"

Dijitaknya kepala Daniel keras-keras. "Sejak kapan mereka putus? Sori saja, tapi sepertinya mereka berdua mau menikah—itu rumor yang kudengar dari yang lainnya,"

"Aku sama sekali tidak menduga kau bisa bergosip dengan Sejeong sunbae dan Nayoung sunbae," kata Daniel datar, membayangkan pemuda itu yang sedang bergosip dengan Sejeong dan Nayoung.

"Jangan membayangkannya. Dan hei, aku tidak pernah bergosip dengan si Sejeong dan Nayoung!"


Tes pertama. Jaehyun, Daniel, Chungha, Jungkook, Mingyu, Lisa dan Kunkun (Xukun menyuruh mereka memanggilnya begitu, supaya mudah diucapkan oleh lidah orang Korea) diletakkan dalam sebuah ruangan—dan terisi air. Sama sekali tidak ada celah untuk keluar—pintunya bahkan terkunci rapat. Satu-satunya jalan adalah mengambil oksigen sebanyak mungkin dari toilet (fisika sederhana, dan mereka bertujuh menerapkannya), sebelum Daniel sadar akan sesuatu. Dibawanya tubuhnya untuk berenang menuju satu-satunya kaca di ruangan itu, memeriksanya sedikit sebelum memukulnya dan menghancurkannya dalam beberapa pukulan.

Lucas dan Somi sudah meminggirkan diri sebelum kacanya hancur oleh pukulan Daniel. "Yep, terima kasih, Daniel hyung sudah menyadari kaca dua arah itu—Biasanya Jaehyun hyung juga menyadarinya, tapi kenapa ini tadi kau tidak menyadarinya?" tanya Lucas.

"Jangan terlalu senang dulu, Lucas-ge. Ini masih yang pertama," Somi memutar bola matanya malas. "Dan, oppadeul, unniedeul, maaf sudah melakukan tesnya waktu kalian masih tidur," setelahnya, nyengir lebar. "Tes kedua, eh, mungkin besok Kamis atau Sabtu, tergantung perintah sajangnim. Sebaiknya kalian istirahat, dan selamat bersenang-senang dengan partner kalian! Ayo, Lucas-ge!"


"Well, Somi mengatakan kalau hanya kau yang menyadari kaca dua arah itu," Seongwoo menyesap kopinya perlahan. "Kau tahu, aku lumayan bangga padamu. Biasanya, Jaehyun selalu menyadarinya terlebih dahulu—Kau bilang dia hanya mengambil oksigen dari tabung U?"

Daniel mengangguk antusias, sambil mengunyah ramyunnya. "Katanya, tesnya masih besok Kamis atau Sab—"

"Jangan percaya perkataan itu. Setelah ini kau masih mesti tinggal di asrama bersama yang lainnya," potong Seongwoo cepat. "Dan memilih puppy, yang bisa membantumu latihan," lanjutnya.

"Tidak ada latihan dengan X?" tanya Daniel, matanya berbinar-binar.

Seongwoo menatapnya aneh. "Tentu saja. Oi, X, ambilkan hanwoo-nya!"

X mencebik, menghina Seongwoo terang-terangan, namun sambil membawakan sepiring besar hanwoo. "Padahal fungsiku yang sebenarnya adalah membantu kalian latihan, tapi mengapa aku merasa diperlakukan seperti babu disini?"

Ingin rasanya Seongwoo menghajar X saking kesalnya. Tapi, yang keluar adalah, "Kau mau kurusak?"

X langsung gelagapan. "Ti-tidak, Bos. Sori,"

"Nah, begitu lebih baik," Seongwoo menghela napas.

Terdengar bel dari luar—X langsung maju untuk memeriksanya (daripada dia lama-lama ngiler kalau melihat Seongwoo dan Daniel makan dengan nikmatnya). Setelah menyadari siapa yang datang, X cepat-cepat menuju tempat kedua tuannya, dan "Jeon Somi dan Wong Yukhei, Bos. Di depan," katanya, terengah-engah. "Mereka menunggu."

"Shit," Seongwoo mengumpat pelan.

Daniel, sih, persetan. Yang penting dia habiskan dulu ramyunnya (terutama karena dia belum resmi sebagai agen tetap) baru menemui kedua trainer-nya dari agensi. Sementara itu, X menatap ramyun kejunya dengan kepingin.


Ternyata bisa juga enggak terlalu banyak misuh (on daily basis, I cursed everytime ;P)

Belum M kok ratingnya heheh

KAK ACHAN UDAH DIAPDET YA

TUNGGU BAGIAN DUA~

Jangan lupa RNR readersku sayang :*

Gak ada yang RNR discontinue~ yuhuu~