Kediaman Keluarga Vinsmoke,
Si Tua Bangka Vinsmoke Judge sedang tidak ada dirumah, Sanji jadi bebas memakai dapur untuk membuat sarapan. Walau sedikit kesal dengan tindakan saudaranya yang egois itu, Ichiji si rooster merah sialan(kata Sanji), dia tetap masih mau buatin makanan kesukaannya, bahkan sekaligus bekal untuk makan siang si rooster merah itu di kantor nanti(jangan tanya author makanan kesukaannya Ichiji apa).
Yep. Sanji sih maklumin aja, secara, Ichiji itu aslinya gak terlalu suka sama makanan luar rumah meskipun tempat makannya bisa dikatakan luar biasa mewah. Orang tajir mah gitu emang.
Selang beberapa menit, berbagai menu hidangan lezat sudah tersusun rapi di meja makan yang super lebar. Sanji sempat menerima kecupan lembut dari Reiju yang baru selesai mandi dan nyelonong masuk ke ruang makan cuman pake handuk doang. Astagaa... Sanji sih udah capek negur kakaknya yang paling tua itu, percuma, sampai mulutnya berbusa juga gak bakalan didenger.
Eits... gak lama setelahnya muka Sanji langsung bete pas si putra sulung ikutan masuk bareng Niji dan Yonji.
Iyalah, gimana gak bete coba, hari ini dia gak boleh pergi kemana-mana, sebagai hukuman katanya. Reiju bahkan sampe nelpon ke SMA Raftel cuman buat minta izin palsu biar Sanji gak ngajar kelas hari ini.
Bayangin, dia harus diam di rumah gedongan kayak gitu sementara sodara-sodaranya sibuk bekerja, apa gak mati bosan tuh? Yah... Walaupun isi rumahnya serba lengkap. Yakali dia main game terus seharian, atau nge-gym seharian. Sanji kan butuh temen, dia itu makhluk yang paling suka bersosialisasi, apalagi sama gadis-gadis cantik.
Bener-bener bisa mati bosan deh—err... walaupun ada Cosette yang udah dia anggap sahabat dari kecil juga tetep aja kan rasanya beda. Itu sebabnya Sanji lebih memilih cari pekerjaan sendiri.
Emang sengaja juga karena dia gak pernah betah ada dirumah, lain lagi dengan keempat saudaranya yang lebih milih nerusin cabang-cabang dari perusahaan teknologi ayah mereka, Sanji sempat mau diusir dari rumah karena menolak mentah-mentah warisan si ayah yang dagunya kebelah kayak pantat itu, dan dia sendiri sih oke oke aja kalaupun di usir, toh dia punya keluarga juga di Baratie.
Tapi, berkat si bungsu berbadan kekar yang ngancem si ayah, kalo dia bakalan ikut kemanapun Sanji pergi, jadilah Judge alias Jajji mengurungkan niatnya.
"Hari ini akan ku usahakan pulang cepat" Ichiji ngelirik Sanji sambil nyeruput kopinya. Sanji sendiri cuma mendecih terus buang muka. Males banget liat si Ichiji yang pagi-pagi udah berkicau.
Serius, sumber ke-Bete-an Sanji seratus persen adalah Ichiji.
"Tenang saja, hari ini aku ada di rumah mengawasinya" sekarang giliran Yonji yang menyahut, dan seketika jidatnya jadi korban sentilan maut Sanji.
"Hei bocah besar, jangan membuat moodku tambah buruk juga!"
Yang jidatnya kena sentil cuman bisa manyun-manyun bibir bawah kayak gorila gak dapet pisang.
"Oh-ho! Sanji, jangan lupa, kamu masih punya hutang padaku, satu ciuman! Ditambah kamu sudah merusak mobil kesayanganku" Niji ikutan nimbrung yang langsung dihadiahi pisau melayang dari Sanji. Untung si banana blue itu sempat menghindar, kalo nggak, udah buntung kepalanya.
"Kalian ini... benar-benar... argghh!" Sanji akhirnya ngedumel sambil jambakin rambut sendiri. Kesal iya, mau ngamuk masih mikir dulu...
Bersyukur banget, bel rumah tiba-tiba bunyi, Sanji jadi ada pengalihan dari semua suasana penuh laknat yang diciptakan saudara-saudaranya.
"Biar aku yang buka" tapi, baru aja Sanji mau berdiri, tangan Ichiji sudah terjulur menariknya agar duduk kembali.
"Kamu lanjutkan saja makanmu Sanji, biar aku saja" Lagi-lagi Sanji cuma mendecih sambil menepis tangan kembar sulungnya. Boro-boro menjawab, dia udah niatin gak akan ngomong sama si rooster sulung itu seharian.
Gak pake lama. Pintu dibuka oleh Ichiji, dan terlihatlah... beberapa sosok manusia bergender laki-laki yang berjejer rapi di depan sana.
"Siapa?" tanya Ichiji pakek sarkas sembari menaikan alisnya dan menatap rendah para cecunguk didepannya.
Salah seorang yang terlihat seumuran atau mungkin lebih tua darinya dengan ciri khas jambul pirang menunduk sopan "Anda pasti tuan Ichiji, perkenalkan, saya Marco rekan kerja Sanji di SMA Raftel"
"Hm... ada perlu apa?" Ichiji ngerespon singkat. KODE KERAS banget kalo dia mau ngusir mereka.
"Saya mendapat kabar kalau Sanji-sensei sedang sakit, jadi kami datang menjenguk" tandas Marco pake senyum. Nampaknya dia gak sadar ama kode yang Ichiji berikan.
Ichiji sedikit melirik nggak suka sama ketujuh bocah-bocah ingusan yang berdiri di belakang Marco, penampilan mereka terbilang berantakan, persis anak-anak urakan, diperhatikannya satu-satu para bocah gembel tersebut. Ada yang telinganya di tindik pake 3 anting, ada yang punya codet di bawah mata, ada yang bertato, ada yang pamer dada kancing bajunya dibuka semua, ada yang punya bekas luka bakar di mukanya, ada yang idungnya di pakein pierching, dan ada juga yang dari tadi suka kedip-kedip gajelas. Pokoknya dandanan mereka super gak elite semua dan terlihat alay di mata Ichiji.
"Maafkan saya, mereka adalah siswa perwakilan kelas XXX yang dibimbing oleh Sanji-sensei" sambung Marco yang sekarang mengerti gelagat tidak suka dari Ichiji.
"Anda seorang guru kan? Seharusnya anda tahu kapan waktu yang tepat untuk menjenguk"
Uh, tajem. Untung Marco udah biasa ngadepin orang-orang songong macem gini.
"Saya minta maaf, ini semua karena kami khawatir dengan keadaan Sanji-sensei yang baru pertamakali aktif mengajar, sepertinya Sanji-sensei sakit karena ulah anak-anak bandel ini yang menyiramnya dengan air pel kemarin, kami juga datang ingin meminta maaf atas kenakalan anak didik kami yang susah diatur"
Muka Ichiji malah berubah masam pas denger penjelasan Marco, yang ada dia malah mau beneran ngusir mereka pas dia inget kemarin Sanji keluar dari sekolah itu dengan baju yang compang camping.
Tangannya udah siap buat membanting pintu—eits tapi sebelum itu terjadi, Sanji udah lebih dulu nongol sambil ngomel-ngomel.
"Oi Ichiji TEME! Buka pintu aja lama banget! Makanannya keburu dingin sialan!" Bentaknya, padahal tadi dia berniat gak bakal negur-negur si merah, eh tapi keceplosan juga.
"Apa yang membuat mu lam— KALIAN?!"
Sanji jawdrop dengan beberapa bintik keringat di wajahnya. Kenapa bocah-bocah badung bin kampret itu ada disini, pikirnya.
"WOAH! SENSEI!" serentak, para bocah yang dari tadi di sebut-sebut cecunguk oleh Ichiji itu pada berseru.
Melihat muka sumringah senang mereka, Sanji jadi punya ide licik. Dia memberikan senyum menggoda pada abang sulungnya lalu beralih melihat Marco.
"Ah... Marco-sensei" senyumnya tipis "Terimakasih sudah membawa mereka kemari"
Dengan senang hati, Sanji langsung menerobos Ichiji untuk menghampiri murid-muridnya.
Marco sendiri hanya balas tersenyum.
"Kuharap kami tidak mengganggumu beristirahat, aku membawa mereka kemari untuk meminta maaf, para guru berpikir anda absen hari ini karena ulah mereka, jadi..."
"—Oh! Tidak apa-apa!" potongnya, Sanji lalu merangkul bahu dua bocah yang diketahui bernama Ace dan Sabo. "Aku senang mereka datang..." seringai tipis pun menghias wajahnya.
"Oi! Aku tidak mengijinkan mereka menginjakan kaki di rumah ini" sergahan Ichiji tidak dipedulikan oleh Sanji, si blonde seksi itu malah menggeret anak-anak didiknya masuk dengan santai.
"Kau yang membuatku absen sehingga mereka datang kesini, Onii-chan yo~" ledeknya puas sekali.
Dan... Ichiji langsung bungkam.
.
.
.
.
.
Waktunya balas dendam.
Sanji menggiring anak didiknya yang diketahui adalah sekelompok bocah tengik yaitu, Ace, Sabo, Luffy, Bartolomeo, Law, Zoro dan Duval kedalam ruang makan keluarga Vinsmoke.
Yonji adalah orang pertama yang protes.
"Oi Oi! Apa-apaan ini? Kenapa kau membawa bocah-bocah gelandangan kemari?" si bungsu reflek menggebrak meja dengan tenaga babonnya sampai tidak sengaja membuat cokelat panas Niji tumpah ke paha si putra kedua itu.
"YONJI! BANGS*T! KAU MENUMPAHKAN MINUMAN BERHARGAKU—"
Secepat kilat Sanji melemparkan vas bunga mahal milik Reiju yang ada di meja makan tepat ke kepala Niji.
PRAAANKK
"NIJI BRENGS*K! JANGAN MENGUCAPKAN KATA-KATA KOTOR DI DEPAN ANAK DIDIKKU!—"
Niji hanya bisa diam menerima hujan lokal dari saudara pirangnya itu.
"—AAAAHHHH! VAS BUNGA KU! SANJI! ITU BARANG ANTIK BODOH!" Reiju yang tadinya tenang dan kalem sekarang ikut nunjukin muka bringasnya.
"Ma—maaf Reiju, aku reflek, kumohon salahkan Niji"
Secara otomatis Reiju beralih pada Niji.
"NIJI! KAMU HARUS MENGGANTINYA DENGAN MODEL YANG SAMA!"
Bersyukur, Sanji jadi adik kesayangan Reiju, jadinya dia aman-aman aja. Tapi Niji yang kepalanya bocor pun gak terima disalahin.
"HAAAHH?! KENAPA AKU YANG HARUS MENGGANTINYA TEME?! DIA KAN YANG MELEMPARKANNYA!" si biru teriak ngotot sampe leher sama mukanya berurat, tangannya dengan kesal menunjuk-nunjuk Sanji.
Yang di tunjuk? Senyum penuh kemenangan dong. Makan tuh pembalasan!
"Benar! Tapi Vas-nya pecah karena kena kepalamu! Coba kalau tadi Vas bunganya kau tangkap, pasti tidak akan pecah"
"HAA—AAHHH?!"
Sementara ketiga Vinsmoke lagi ribut, Sanji kembali fokus pada murid-muridnya. Ia menyuruh mereka duduk di kursi-kursi yang kosong. Kira-kira masih ada sepuluh kursi lagi jadi mereka nggak perlu takut gak kebagian duduk. Ruang makan orang tajir mah gitu emang, MEGAH.
"Kebetulan sekali, kami tadinya sedang sarapan, jika kalian masih lapar kalian bisa ikut makan bersama kami"
Mendengar nada penuh kasih sayang dari guru idaman mereka, semuanya berseru kompak.
"WUAAHHH BENARKAH SENSEI?"
Sanji yang melihat tampang-tamang polos bin dungu muridnya, tanpa sadar terkekeh geli.
"Tentu saja! Anggap saja seperti rumah kalian sendiri" Dia kemudian memanggil Cossete dan menyuruhnya untuk menyiapkan hidangan tambahan lagi di meja makan.
"Maaf, kami jadi merepotkanmu Sanji-sensei" tukas Marco sembari menggeplak kepala Luffy yang tangannya udah siap-siap mencomot pasta milik Reiju. Dia merasa nggak enak aja tiba-tiba di geret masuk trus di ajak makan bersama sama keluarga milioner tersebut.
Sanji mendengus geli. "Tidak apa-apa Marco-sensei, lagi pula ini adalah hari spesial" Marco sendiri cuma mendelik gak paham.
"Seharusnya disini ada sembilan belas koki profesional, tapi khusus hari ini aku meliburkan mereka karena aku ingin memasak, haha.."
"WUOH BENARKAH?"
Luffy yang memang mendengar pembicaraan kedua Sensei-nya berseru antusias.
"BERARTI HARI INI KAMI AKAN MAKAN MAKANAN YANG DIBUAT OLEH SANJI-SENSEI DONG?" sambungnya membuat yang lain ikut berbinar.
"Wah... benar juga, sudah lama sekali kita tidak makan makanan yang dibuat Sanji-sensei" celetuk Law diikuti anggukan dari yang lainya.
"UWAAAHHH SANJI-SENJEEEIII! SUDAH LAMA SEKALI KAMI MERINDUKAN MASAKANMU" di pojok kiri ada Duval dan Bartolomeo yang langsung menangis serempak.
"Oi, Sensei, apa kau masih ingat makanan favoritku?" suara berat dari bocah yang rambutnya sewarna dengan Yonji terdengar jelas di telinga Sanji yang langsung tersenyum lalu membalas "Tentu saja, tapi hari ini aku membuat menu lain"
Si bocah yang rambutnya ijo tadi, sebut aja Zoro, malah buang muka sangking senengnya karena si Sensei masih inget sama makanan favoritnya dia.
"Oi Zoro-ya, jangan terlalu cepat ke-PEDEAN Sanji-sensei juga pasti ingat dengan semua hal-hal yang kubenci" bocah bertato, alias Law yang duduk di samping Zoro menyela cepat.
Kesekian kalinya Sanji mendengus geli "Oi Law, apa kamu masih membenci roti dan umeboshi?"
Law sendiri langsung diam sambil menggaruk leher belakangnya, dia gugup sangking senengnya kayak Zoro karena si Sensei kesayangan masih ingat sama hal-hal pribadinya.
"OI LUFFY JANGAN RAKUS!"
Pandangan Sanji langsung saja beralih kearah trio ASL yang lagi berebut makanan. Di sana, Ace sedang menepis tangan Luffy yang hendak mencomot makanannya.
"HOI ACE! KAU JUGA JANGAN MENGAMBIL BAGIANKU!" tidak mau kalah, sekarang giliran Sabo yang menabok tangan Ace yang hendak mencomot bagiannya.
Beralih ke sisi lain, terlihat dua orang bodoh di pojok sana, Duval dan Bartolomeo, mereka malah asik ber-fanboy-ria dengan air mata berlinang. Memperlakukan makanan di depan mereka layaknya anugrah paling indah yang mereka terima.
"Ini sungguh lezat... uwooh... aku tidak bisa menahan air mataku~"
Melihat semua kegaduhan itu Sanji jadi teringat akan masa lalu. Dulu, mereka semua ini anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Lugu dan Konyol. Penuh dengan rasa penasaran dan juga suka melakukan macam-macam hal. Dari yang masih wajar sampai yang sangat tidak wajar sekalipun. Bahkan sangking menggemaskannya tingkah mereka, Sanji sempat dibuat geram(?) sendiri.
Omong-omong kalau tidak salah ... sebagian dari mereka banyak yang tidak naik kelas kan? Salah tiga diantaranya adalah Ace, Sabo dan Law.
Iya, benar juga...
Sanji kini malah melamun dengan satu tangan menopang dagu. Matanya terpejam untuk berfikir. Dia bahkan tidak merasa terganggu dengan keadaan berisik di sekitarnya. Kalau di telaah lagi dia juga sempat di buat kepalang kesal oleh beberapa om-om genit penuh modus yang selalu beralasan untuk menjenguk anak-anak mereka yang imut-imut menyebalkan ini.
Saat itu ...
.
.
.
.
.
.
.
.
Pojok Review ;
rae kuppa : Apa hayoooo ... iyalah, harem!sanji forlaifu
GPEG : Waduh kalem mbak, nafas dulu la~ Iya rasain tuh niji biarin dia saia bikin kena apes mulu di fic ini kualat soalnya ama gin. Wqwq... saia pun bingung gimana menjelaskan secara rinci betapa autisnya tingkah mereka. Tau nih ichiji, ngiri aja dia kerjaannya ama gin yang nasibnya mujur, omong-omong dari pada bikin rated M saia lebih suka yang cuma nyerempet-nyerempet aja kalo sampe bablas ga baik buat kesehatan wokwokwok /taboked/
Prissycatice : Emang mured-murednya sanji kan makhluk gembel ga guna semua wqwq, iya sanji kan setia sama yayang gin. Ehem, reted T saja sudah cukup. Kasihan Sanji kalo ratednya jadi M, ga bisa napas nanti /hoi/ secara murid squad aja udh berapa jumlahnya, belom om om squad, belom guru-guru squad, seme squadnya sanji banyak emng.
Panda. Blackwhite : Lumayan fic gembel ini bisa jadi berkah ... aduhh dikasih cookies lagi, makasih yak /cium kamoh/
kenbunshokus : iya, makasih perhatiannya ya, udah kebal kok saia sekarang :')
aoi : okay... tenang saja, sodara sanji di sini brocon akut kok :3
Pii : Ehh iya.. wokwokwok /udh basi woi/ hal ini mengingatkanku akan pertemuan awal kita yang penuh nista hiks /apasih/
Shin Aoi : Ku juga butuh all x sanjiii huweeee /nanges/ tapi sampai sekarang yang bikin asupan di indo cuman sedikit, kebanyakan dari luar hiks, saia sedih.
kiyooo : iyaaa syudah~
moutonshot : Makasih udah memberiku semangat~ TvT /aermataberlinang/ iya repot memang jadi gin, sanji banyak yang demenin, plus nasib gin yang paling mujur diantara para seme squad sanji, ya gimana gak pada iri coba. Iya udah ku sampaikan salam mu ke mas gin wqwq.
Hansolie : Sudah lanjut~ iya memang jarang :') makanya banyak yang kehausan asupan.
the fangirl in a wheelchair : Jangan follow saya, nanti sesat /eleh/ iya memang, dia itu penyihir kelas kakap eh bukan dia itu aphrodite gak ada yang bisa menandingi daya tariknya, hanya dengan senyuman, seme squad pun dapat di lumpuhkan /lebeyy/ hoho sayang sekali... tapi ketiga benda itu tidak akan mampu menangkal pesonanya titisan aphrodite ini /tolong hentikan/ anu... omong-omong yg naruh ember air itu... ah lupakan saja... wqwq iya ya, seharusnya sanji pake alasan lain, di sengat tawon contohnya /lebih ga masuk akal bodoh/ haha... maafkan daku harus membuatmu menunggu Q^Q
GreenLicious19 : Vinsmokecest itu banyak penggemarnya, cuman di indo jarang yang bikin asupannya hiks. haus saia tuh...
AR Vinsmoke : Iya emng ada terusannya, hiks saya aja yg ga punya waktu buat nerusin /elehalasan/ saia juga kok cinta sanji sama seme squadnya /uhuk/
A/N : Sekian bacotan dari saya dan sampai jumpa!
