MARRY ME, NOONA!

By keiaries

T+

Romance, Drama

Jung Jaehyun x (GS) Kim Doyoung

NCT milik SM, cerita milik saya :)

.

.

.

.

.

.

.

"Noona, jam 8 nanti aku akan menjemputmu.. Kau tak ada acara apapun kan?" tanya Jaehyun yang membukakan pintu untuk Doyoung.

"Tidak ada kok, baiklah aku akan menunggumu.."

"Baiklah.." Jaehyun memberikan kecupan kecil dibibir Doyoung, "See you later.."

"Kau tak mau mampir dulu?"

Jaehyun menggaruk tengkuknya awkward, "Ms. Cath menyuruhku untuk membersihkan perpustakaan jam 5 nanti, jadi aku tak bisa mampir dulu.."

Doyoung terkikik kecil, "Selamat menjadi budak Ms. Cath.."

"Terima kasih atas ucapan selamatnya Ms. Kim -_-"


"Kita mau kemana?"

"Kita lihat saja nanti.." Jaehyun mengeluarkan senyum misterius sambil tetap fokus menyetir, "Tapi noona, sebelumnya.." Jaehyun menjeda kalimatnya.

"Hm?" Doyoung melirik Jaehyun, agaknya ia penasaran dengan kelanjutan pembiacaraan Jaehyun.

"Marry me?" Jaehyun melirik Doyoung sekilas—tentu saja ia harus lebih berkonsenterasi pada jalanan dihadapannya.

Doyoung menganga sebentar, tahu begini ia tak usah penasaran tadi, "Jae, please.."

Jaehyun mengerucutkan bibirnya, "Okay.." ucapnya pelan.

Doyoung menghela nafas, apa Jaehyun tak pernah lelah menanyakan hal itu? Bahkan Doyoung sudah cukup bosan untuk menjawabnya.

"Lagipula kenapa kita harus terburu-buru di usia yang semuda ini?" Doyoung berucap.

Jaehyun sedikitnya terkejut dengan pertanyaan Doyoung, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Sedangkan otak cerdasnya berfikir cepat untuk menemukan pertanyaan Doyoung, "Aku hanya tak ingin kau direbut pria lain.."

Doyoung menoleh, "Taeil-oppa maksudmu ?"

Jaehyun mengangkat bahunya, "Mungkin"

"Itu adalah hal yang kekanakan Jae.."

"Yang pasti aku sama sekali tak ingin kehilangan gadis pujaanku, habis aku tak bisa hidup tanpanya sih, dia sudah seperti oksigen untukku.."

Doyoung memukul lengan Jaehyun, "Gombal"


Doyoung memandang heran pada Jaehyun. Ini kan…Taman bermain?

"Taman bermain?"

Jaehyun tertawa melihat kebingungan Doyoung, "Ayo kita main!" Jaehyun menarik Doyoung ke dalam taman bermain itu.

Doyoung hanya menuruti kemana Jaehyun membawanya. Taman bermain itu memang tak sebesar dan sebesar Lotte World, tapi disini juga cukup untuk menuntaskan hasrat mereka akan kesenangan. Taman bermain ini pun tak terlalu banyak memiliki wahana, jadi tak perlu waktu lama untuk mencoba hampir seluruh wahana disana. Jaehyun dan Doyoung sendiri entah sudah mencoba berapa wahana disana. Hingga akhirnya waktu membuat mereka sadar akan keadaan perut mereka yang belum diisi dari tadi sore, keduanya memutuskan untuk mengakhiri acara bermain mereka dan makan di salah satu café disana.

"Aku pesan Half BBQ Chicken dan Iced Mocca, kau mau pesan apa noona?"

"Aku mau Chicken Salad dan Mango Juice.."

Sang pelayan tersenyum, "Pesanan akan segera datang.." lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Chagiya.." Jaehyun memegangi tangan Doyoung, menggenggam kedua tangan mungil Doyoung diantara tangan besarnya.

"Tumben sekali, biasanya 'noona'.." Doyoung terkikik.

"Ish, chagiya.." bibir Jaehyun mengerucut, "Kau cantik.." ucap Jaehyun sambil mengecup tangan Doyoung.

"Gombal.."

"Serius.." Jaehyun merengut, "Doyoungie benar-benar sangat cantik.." Jaehyun mengelus jari manis Doyoung, "Apalagi jika disini tersemat cincin emas putih yang dihiasi oleh berlian mungil, Doyoungie pasti akan tambah cantik.."

Doyoung hanya memasang wajah -_-, anak ini kalau gombal memang terkadang ada maunya, "Jung Jaehyun.."

Jaehyun mengalihkan pandangannya pada Doyoung sambil tetap menggenggam tangan gadisnya, "Aku hanya mengatakan kenyataanya.. Jari lentikmu pasti akan sangat cantik jika dihiasi sebuah cincin.. Bukan cincin biasa tentu saja, tapi sebuah cincin yang menjadi ikrar dari sebuah janji suci…"

Doyoung menghela nafas berat, "Jaehyun-ah.. Aku bahkan sudah bosan mengatakan hal ini, tunggu aku lulus dulu ya?"

Jaehyun meniup poni hitamnya, "Aku sungguh mencintaimu.." ucapnya, ia kini menatap sedih jari-jari lentik Doyoung digenggamannya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Jae.." Doyoung tersenyum semanis mungkin, ia tak ingin membuat Jaehyun semakin sedih dengan penolakannya. Jaehyun pun kembali memasang senyum kecil, ia mendongak untuk melihat senyum semanis gula itu. Hampir saja Jaehyun akan menikmati manisnya bibir Doyoung, jika saja sebuah suara tak menginterupsi kegiatan Jaehyun.

"M-maaf, ini pesanan anda… Have a good meal "


"Chagiya, chagiya! Kita naik bianglala ya~" ucap Doyoung semangat sambil menunjuk bianglala besar yang berputar dengan berbagai gemerlap lampunya yang warna-warni.

Jaehyun hanya mengiyakan. Keduanya pun mengantri untuk menaiki wahana itu.

"Wah lihat.. Kotanya mulai terlihat kecil.." ucap Doyoung dengan mata berbinar ketika bianglala yang mereka naiki mulai berputar. Sedangkan Jaehyun hanya bisa tersenyum senang melihat kekasihnya yang kini terlihat seperti seorang anak kecil polos yang pertama kalinya naik bianglala.

"Jaehyun-ah, bukannya itu kampus kita?" ucap Doyoung sambil menunjuk gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan berbagai macam taman mengitarinya. Diatap gedung terbesar terdapat sebuah lampu terang yang membentuk tulisan SM UNIVERSITY.

"Oh, geurae ? Itu memang kampus kita.."

"Wah.. Aku baru tahu jika kampus kita terlihat dari sini.."

Dan seterusnya Doyoung terus mengoceh tentang pemandangan disekitarnya. Bagaimana indahnya kerlap-kerlip lampu kota Seoul malam itu, bagaimana mobil-mobil dijalanan yang kini terlihat seperti mainan, dan lain-lain.

Semuanya berjalan baik-baik saja hingga akhirnya wahana bianglala itu berguncang hebat dan tiba-tiba berhenti bergerak. Kerlap-kerlip lampu warna-warni dan pemandangan indah lampu kota Seoul pun lenyap seketika.

Doyoung yang tadinya mengoceh dengan riang kini tiba-tiba terdiam. Tubuhnya perlahan bergetar dan mulai mengeluarkan keringat dingin. Airmatanya pun tiba-tiba menggenang dipelupuk matanya, "Jae-Jaehyun-ah.." Doyoung berbisik pelan.

Jaehyun sendiri reflek memeluk Doyoung yang ia yakini kini tengah sangat panik dan ketakutan—ia sudah hafal mati jika Doyoung phobia akan kegelapan. Doyoung sendiri segera meremat sisi hoodie yang dikenakan Jaehyun saat itu, airmatanya pun perlahan mengalir, "Jaehyun-ah.." Doyoung terus membisikkan nama Jaehyun, seakan tak ada kata lain lagi yang bisa ia ucapkan saat itu.

"Stt.. Orang-orang dibawah sana pasti sedang mencari jalan keluar untuk ini..Tenanglah.." Ujar Jaehyun menenangkan Doyoung yang hanya mengangguk. Jaehyun menghela nafas lega, setidaknya Doyoung sudah sedikit tenang. Ia pun merogoh sakunya, mengeluarkan handphone untuk menyalakan flashlight.

Jaehyun melirik keluar, diluar sana benar-benar gelap. Hampir tak ada cahaya apapun selain cahaya dari lampu-lampu mobil dan tulisan berbentuk SM UNIVERSITY. Ah.. kampusnya memang kelewat canggih, pasti lampu itu memakai tenaga cadangan.

"Chagiya, lihat.. Kampus kita tetap terang.."

Doyoung mengangkat wajahnya dari dada Jaehyun, melirik kearah gedung yang dimaksud Jaehyun. Tulisan yang menjadi ciri khas kampus mereka tetap terang.

"Bukankah aku menyatakan cintaku di atap itu ya?" ucap Jaehyun tiba-tiba. Membuat rona semerah mawar muncul diwajah Doyoung mengingat kejadian dua tahun lalu itu, lalu tersenyum kecil, "Ah benar.."

Jaehyun terkikik melihat rona itu, "Saat itu reaksimu benar-benar lucu.. Kau terdiam selama beberapa detik dengan wajah yang benar-benar merah hingga ke telinga.. Sangat manis.."

Doyoung memukul dada Jaehyun, "Ish.. Jangan mengingatkan hal itu.. Aku malu.." ucapnya lalu menenggelamkan lagi wajahnya pada dada Jaehyun, membuat Jaehyun mengeluarkan tawanya, "Itu merupakan salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku.." Jaehyun berucap sambil mengelus rambut panjang Doyoung, "Hari dimana akhirnya aku mendapat bidadari surga yang sudah kuincar setahun sebelumnya.."

"Kau ini sedang cerita atau sedang menggombal sih?" protes kecil Doyoung.

"Sungguhan.." ucap Jaehyun serius, "Dan akan banyak hari-hari paling membahagiakan lagi yang akan kulewati bersamamu.. Salah satunya adalah.." Jaehyun merogoh kotak beludru merah—yang selalu ia bawa dikantongnya. Dan membuka kotak itu menampakkan sebuah cincin, "Jika kau menerima lamaranku.."

Bibir Doyoung terbuka, ia tak mengeluarkan sepatah kata apa pun. Haruskan Jaehyun melakukannya lagi di situasi seperti ini?

"Jaehyun.." Doyoung reflek melepas pelukannya pada tubuh Jaehyun, melupakan rasa takutnya, "Komohon mengertilah.." ucap gadis itu sambil menutup kembali kotak itu. Namun Jaehyun keburu menangkap tangan itu sebelum menjauh, "Noona, justru aku yang memohon padamu agar mengerti… Aku sangat mencintaimu.." Jaehyun menatap tajam kedua mata bulat Doyoung—walau gelap ia masih bisa melihat binar mata itu.

"Jaehyun.. Pernikahan itu bukanlah sebuah perkara sederhana.."

"Aku tahu hal itu, aku bukanlah anak kecil… Lagipula walau belum lulus, kita sudah memasuki usia yang cukup untuk menikah.."

"Kau baru melewati batas umurnya setahun, kita masih tetap terlalu muda untuk menikah.."

"Banyak orang diluar sana yang melakukan pernikahan di usia semuda kita.."

"Tapi Jae—WHAAA!" wahana itu kembali terguncang dengan hebat, membuat Doyoung reflek kembali memeluk Jaehyun, "Jaehyun Jaehyun!"

"Noona.." Jaehyun mencoba melepas kedua tangan Doyoung yang melingkar erat dipinggangnya, ia masih ingin melihat wajah Doyoung, "Aku hanya ingin sebuah jawaban 'ya' darimu.."

"WHAA! Jaehyun jangan dilepas!"

Salah satu alis Jaehyun terangkat, "Apa kau akan menjawab 'ya' , jika aku tak melepasnya?"

"Iya! Iya! Aku menjawab YA!" Doyoung berucap ditengah kepanikannya, tanpa ia sadari Jaehyun tersenyum sumringah ditengah kepanikan gadisnya, "Thanks noona, kalau begitu kau boleh memelukku sepuasnya~"

.

.

.

.

.

TBC

a/n:

Hola hola~ saya datang lagi membawa chapter 2~

Apakah ini termasuk cepat dalam meng-update?

Saya sangat berterima kasih pada nhy17Boonon, Little Casper, Mifta Jannah, dhantieee, dan sblackpearlnim yang sudah me-review di chapter pertama~

Dan saya mohon don't be silent readers ya, karena saya sangat menghargai setiap review dari kalian~

Jadi~~ REVIEW PLEASE~~