Tittle: Only One

Genre: Romance, School life, Friendship, Hurt/comfort

Rated: T +

Disclaimer: Boboiboy © Animonsta Studios

Warning: All Human, No Alien, No super power, Typo, alur entahlah :'v , dan berbagai kesalahan teknis lainnya.

No like? Don't Read. Dont be silent reader. hargailah ~~

* Enjoy Reading *

"Nggak tahu..tapi yang pasti itu bukan tulisanku!"Jawab Dira penuh penekanan.

"Jangan mengelak terus bodoh, kalau memang kau itu fansku mengaku saja." Suara itu membuat semua orang refleks menatap ke arah sumber si pemilik suara tak terkecuali Dira.

Halilintar..orang yang barusan bicara itu kini tengah menatap Dira sambil menarik sedikit uJung bibirnya, membuatnya senyuman sinis terukir di wajah tampannya.

"Apa?! Aku? Fans mu? Cih! Jangan bermimpi!"Ujar Dira sinis, ia lalu bergidik ngeri membuat Dira mencibir.

"Sudah tertangkap basah masih tak mau mengaku, dasar bibik tukang gosip."Sindir Halilintar.

"Ya! Aku memang bukan fansmu paman tukang marah!" Dira berkacak pinggang sambil menatap Dira penuh emosi, murid lainnya langsung geleng geleng kepala karena lagi-lagi mereka bertengkar.

"Paman kau bilang? Tidak lihat muka ku yang masih imut begini?"Halilintar berdiri dari tempat duduknya sambil menatap Dira tajam.

"Imut? Yang ada mukamu itu boros!"jawab Dira tak mau kalah, Halilintar membuang napas kesal.

"Dasar bibik tukang gosip."Umpat Halilintar yang membuat mata Dira melebar.

"Daripada kau Paman tukang marah, ah tidak, bukan Paman tapi Kakek!"

"Kalau begitu kau adalah Nenek bawel dengan kapasitas otak dibawah rata rata."

Dira membulatkan matanya, lagi lagi pria itu menyinggung soal otaknya.

"YAK HALILINTAR! Jangan menghina kelemahan seseorang!"Protes Dira dengan suara meninggi.

"Hei kalian berdua!." Dira dan Halilintar langsung menghentikan aksi debat tak bermutu mereka begitu Pak Amir yang sedari tadi diam kini membentak mereka berdua karena sudah kehilangan kesabarannya.

"Apa kalian pikir ini arena tanding suara ternyaring hah?"Bentak Pak Amir yang membuat Dira dan Halilintar menundukan kepala mereka.

** Ve **

"Ying." Dira menahan Ying ketika gadis itu terlihat ingin meninggalkan ruangan kelas begitu bel tanda istirahat berbunyi, Ying menoleh dan terlihat memaksakan seulas senyum pada Dira yang kini tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.

"Apa kau tahu siapa yang kira kira menulis surat itu?"Tanya Dira to-the-point walau sebenarnya ia sudah tahu siapa yang menulisnya.

"Eh.. tahu."Jawab Ying gelagapan, Dira mengangkat alisnya.
"Benarkah? Tapi..sepertinya aku tahu siapa yang menulisnya."Jawab Dira sambil memasang mimik serius.
Ying terlihat terkejut namun secepat mungkin ia merubah ekspresinya itu.
"Benarkah?"Tanya Ying pelan, sangat pelan.
Dira mengangguk cepat.
"Emm. Dan aku yakin kau juga tahu."Ujar Dira, Ying menatap Dira dengan perasaan bersalah, pasti gadis itu sudah tahu semuanya.
"Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau suka pada paman menye-eh maksudku Halilintar?"Tanya Ying hati hati
"Maaf Dira...karena ku kau jadi dituduh begitu."Sesal Ying tak menjawab pertanyaan Dira barusan.
"Kalau begitu ayo kita katakan yang sebenarnya."Ujar Dira mantap, ia baru akan melangkahkan kakinya kalau Ying tak menahannya.
"Jangan." Ying menahan tangan Dira cepat, ia menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah memelas.
"Tolong jangan bilang kalau itu tulisanku Dira-ya, aku takut kalau nantinya Halilintar akan benci denganku."Ucap Ying memohon.
"Bagaimana denganku? Apa kau pikir Halilintar tak akan benci padaku? Ah bukan, tepatnya tambah membenciku? Sebenarnya aku tak peduli mau dia membenciku atau apa, tapi semua anak di kelas ini akan menganggapku munafik..terutama..Gempa, dan mungkin berita ini akan tersebar satu sekolah mengingat fans Halilintar tersebar dimana mana, apa menurutmu ini tak akan merugikanku?"Ucap Dira panjang lebar, ia menatap Ying yang tengah menunduk.
"Maaf..Tapi, aku masih belum siap kalau Halilintar tahu semuanya." Ying mendongakan kepalanya dan menatap Dira dengan wajah polosnya itu, Dira menghela napasnya yang terasa begitu berat.
"Aku mau pergi dulu." Dira berjalan pergi meninggalkan Ying yang mematung, Ying lalu terduduk lemas di bangkunya, ia harus siap kalau Dira akan memberitahu semua orang tentang perasaannya pada Halilintar.

"Aaaa menyebalkan!" Dira mengacak rambutnya frustasi sambil menyenderkan tubuhnya di tembok yang ada di rooftop sekolahnya.
Sebenarnya yang membuatnya kesal bukanlah karena kenyataan bahwa Ying yang menulis suratnya, tapi melainkan ia kecewa dengan sahabatnya yang ternyata menyembunyikan perasaanya pada Halilintar, selama ini Dira selalu menceritakan segalanya pada Ying, walau ia tahu mungkin Ying terkadang sampai bosan mendengarkannya, tapi bukankah itu jauh lebih baik ketimbang merahasiakannya dari sahabatmu sendiri? Dira percaya pada Ying, itu sebabnya ia selalu menceritakan semuanya pada gadis itu, baik tentang Gempa, kekesalannya pada Halilintar, masalah pelajaran bahkan sampai masalah keluarganya, tapi kini Dira seakan baru sadar bahwa selama ini ia tak benar benar mengetahui Ying, ia hanya sekedar tahu hobby gadis itu, makanan minuman kesukaannya, prestasinya di bidang dance, hanya mengenai info umum yang mungkin semua orang bisa mudah mengetahuinya, ia tak pernah tahu apa Ying pernah berpacaran sebelumnya, siapa orang yang sedang ia sukai, apa masalahnya, tidak pernah. Ying seolah menutup diri darinya, setiap Dira meminta Ying yang bercerita gadis itu akan menggelengkan kepalanya sambil berkata "tak ada hal yang menarik dariku", ia juga selalu bilang tak ada orang yang ia sukai, katanya ia malas memikirkan pria, education is number one,tapi buktinya? Tsk. Gadis itu malahan ternyata menyukai seseorang bahkan begitu menyukainya dan yang lebih membuatnya terkejut lagi, orang itu adalah Halilintar, pria paling menyebalkan di antara semua makhluk yang ada di semua planet di dunia ini, apa selama ini Ying tak pernah menganggapnya sebagai seorang sahabat?

"Aku penasaran kalau ada Tsunami apakah kau masih tetap melamun seperti itu."

Suara itu membuat Dira kembali ke alam sadarnya, ia tersentak dan langsung menoleh cepat ke arah suara itu.
Deg. Dira rasa jantungnya akan segera copot dari tempatnya begitu matanya bertemu dengan pria yang sudah sangat tak asing baginya yang kini sedang menatapnya sambil menyenderkan sebelah bahunya di dinding, pria itu kini hanya berjarak beberapa centi darinya .

"G... Gempa?"Ujar Dira gugup.
Gempa tersenyum membuat jantung Dira bereaksi lebih dari biasanya, kalau Dira adalah ice cream sudah bisa dipastikan ia sudah meleleh.

"Akhirnya ada juga yang bisa menemukan tempat persembunyianku."Ujar Gempa diselingi cengirannya yang selalu sukses membuat jantung Dira melompat lompat, Oh God… kenapa bisa ada pria sesempurna ini?

"Eh? Ah..maaf."Dira menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal.

Gempa mengerutkan kening, " Kenapa minta maaf?"

"Karena aku telah mengganggumu."Ujar Dira ragu, Gempa terkekeh mendengar perkataan polos Dira sedangkan Dira kini terperangah untuk yang ke berapa kalinya, pria itu benar benar tampan kalau tertawa begitu, ini pertama kalinya ia bicara sedekat ini dengan Gempa.

"Bahkan tadi kau tak mengeluarkan suara sedikit pun, bagaimana bisa kau megangguku, Dira?"

Mungkin rasanya berlebihan kalau Dira kini merasa begitu senang karena Gempa memanggil namanya barusan, tapi percayalah bagi Dira rasanya memang jauh lebih menyenangkan ketimbang saat Papa Zola tak hadir di kelas dan membuat jam pelajaran fisika menjadi jam kosong.

"Surat yang tadi-"

Deg. Dira menelan ludahnya begitu Gempa menyinggung tentang surat itu, pasti pria itu salah paham.

"Apa benar kau yang menulisnya?"Tanya Gempa lagi, Dira baru sadar kalau sedari tadi Gempa lah yang lebih banyak bicara ketimbang dirinya.

Dira menggeleng mantap.
"Tentu saja bukan, dan tak akan pernah."Ujar Dira penuh keyakinan.

Gempa menganggukan kepalanya paham.
"Tapi aku lihat Halilintar sangat senang tadi. Tapi, baguslah kalau begitu." Gempa tersenyum, ia lalu melirik arlojinya.

"Sudah mau bel, lebih baik kau turun sekarang, jangan melamun lagi, mengerti?" Dira tak menyanggupi ucapan Gempa karena ia masih tak percaya dengan apa yang diucapakan Gempa tadi, baguslah kalau begitu? Apa maksudnya?

"Haih, kembali melamun? Kalau begitu aku turun duluan, sampai bertemu di kelas nona pelamun."Gempa melambaikan sebelah tangannya lalu berjalan menuruni anak tangga.

"Apa maksudnya bagus? Apa jangan jangan…Aih mana mungkin, tapi kenapa dia bilang begitu?! Omo, jantungku kenapa jadi berdegup sangat cepat begini?! Tapi tunggu, apa maksudnya Halilintar senang? Ah masa bodoh.. Dududududu."

**Ve**

Dira bersenandung ria sembari memasukan peralatan sekolahnya ke dalam tas-nya, beberapa anak menatapnya heran, tadi saat pelajaran Pak Amir ia terlihat begitu kesal tapi sekarang malah berbanding terbalik.

Bum.

Dira menghentikan senandungannya begitu suara cukup keras itu terdengar, ia mengelus dadanya kaget, lalu matanya menangkap tumpukan buku yang tiba tiba saja ada di atas mejanya, dengan cepat Dira menaikan titik fokusnya dan mendapati si pelaku yang barusan meletakan kasar tumpukan buku buku itu.

"Yak, mengagetkan ku saja!"Omel Dira sambil menatap Halilintar, pria yang tepat berada di depannya dan kini tengah menatapnya datar.

"Duduk."Perintah Halilintar tanpa basa basi, Dira mengerutkan kening tak mengerti.

"Untuk apa?"Tanya Dira, Halilintar mendengus.

"Jangan pura pura lupa, tentu saja mengikuti pelajaran tambahan."Jawab Halilintar kesal, Dira mencibir, pria itu sepertinya punya penyakit darah tinggi.

"Sekarang? Astaga, aku lapar."Dira meringis sembari mengelus perutnya.

Halilintar melirik arlojinya, lalu kembali menatap Dira masih dengan ekspresi yang sama.

"5 menit, ku beri waktu 5 menit untuk membeli makanan di kantin, kalau lebih berarti waktu belajarnya aku tambah 1 jam. "Tegas Halilintar sambil membalik kursi yang ada di depan Dira dan duduk disana.

Dira mengerjapkan matanya, apa ia sedang berada dalam pelatihan militer sekarang?

"Apa apaan? Kau pikir aku ini-"

"Time is running."Ujar Halilintar santai tanpa mengindahkan ucapan Dira yang terpotong barusan, dan malah pura pura tertarik dengan buku fisika yang dipegangnya, walau begitu Halilintar dapat menangkap dari sudut matanya bahwa kini gadis itu telah menatapnya geram.

"Lupakan! Aku tidak jadi lapar."Jawab Dira ketus membuat senyum tipis terukir di wajah pria tampan itu

** Ve **

Ying menopang dagunya sambil membolak balik lembar demi lembar buku tanpa ia baca sedikit pun, ia masih merasa tidak enak pada Dira, karena dirinya gadis itu jadi dituduh menyukai Halilintar, padahal jelas jelas Dira menganggap pria itu adalah rival terbesarnya.

"Aku menganggu tidak?" Ying tersentak dan mendongak cepat begitu sebuah suara mengejutkannya, ia menatap Gempa, pria yang kini tengah tersenyum dan sedang berdiri di hadapannya, pria itu membawa beberapa tumpukan buku yang Ying yakini selama ini menjadi kunci dari segala pengetahuan yang dimiliki Gempa, pria yang begitu pintar dan juga idola sahabatnya.

"Duduk saja."Jawab Ying sambil tersenyum, Gempa balas tersenyum ia lalu duduk dihadapan Ying membuat beberapa mata memandang mereka iri, Ying sendiri juga heran, dari sekian banyak tempat yang masih kosong, kenapa namja itu memilih duduk disini?

"Kau sering kesini?"Tanya Gempa membuka pembicaraan, pria itu melirik Ying sekilas lalu kembali menfokuskan perhatiannya kepada buku di tangannya.

"Eh? Tidak juga."Jawab Ying sedikit gugup, ini adalah pertama kalinya ia berbicara secara empat mata dengan idola sekolah itu.

"Pantas aku jarang melihatmu."Jawab Gempa sambil mengangguk maklum, Ying terdiam, gadis itu kini memikirkan topik apalagi yang harus mereka bicarakan, ia memang tak begitu pandai dalam membuat topik, berbeda dengan Dira yang sangat bawel.

Keheningan sempat terjadi diantara mereka berdua, sampai akhirnya Gempa memutuskan membuka suaranya, "Ying, apakah kau..sudah memiliki pacar?"Ying mengangkat kepalanya dan menatap Gempa kaget begitu pertanyaan itu meluncur dari bibir pria itu sedangkan Gempa kini menatap gadis itu lekat

** Ve **

"Benar delapan nomor."Halilintar mengembalikan buku bersampul cokelat itu kepada Dira begitu ia selesai mengoreksi pekerjaan gadis itu, "Benarkah? Wah Hebat."Ujar Dira bangga, takjub akan pekerjannya sendiri.

"Yak..kau itu benar delapan nomor dari tigapuluh nomor."Ulang Halilintar penuh penekanan, Dira menganggukan kepalanya, "Iya aku tahu, hebat kan? Biasanya hanya lima"Jawab Dira sambil tersenyum senang, Halilintar menatap gadis di hadapannya tak habis pikir. Ia lalu menghela napas beratnya, kali ini ia sudah malas untuk meledek gadis itu. Pria itu menatap ke sekelilingnya, kelas sudah kosong, hanya menyisakan dirinya dan gadis yang menambah beban hidupnya sekarang ini, harusnya Halilintar bisa pulang cepat dan menggunakan waktunya untuk beristirahat.

"Harusnya pria itu saja yang mengajarimu."Gumam Halilintar pelan, namun Dira masih bisa mendengarnya, Dira mendongak, "Siapa maksudmu?"Tanya Dira tak mengerti, Halilintar menghela napasnya, pria itu lalu mendekatkan wajahnya pada Dira sehingga membuat gadis itu memundurkan tubuhnya, "Pria yang kau sukai."Jawab Halilintar santai, Dira melebarkan matanya namun gadis itu buru-buru merubah ekspresinya, "Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."Kilah gadis itu cepat, ia lalu berpura-pura membaca buku di genggamannya.

"Apa kau benar-benar menyukai Gempa?"Tanya Halilintar yang membuat gadis itu menatapnya, "Dia baik, tampan, pintar dan juga bisa menghargai perempuan."Jawab Dira dengan memberi penekanan di akhir kalimatnya membuat Halilintar menatapnya sengit.

"Kalau seandainya dia menyukai gadis lain bagaimana?"Tanya Halilintar lagi, Dira mengerutkan keningnya, sejak kapan seorang Halilintar jadi banyak tanya seperti ini?

"Memangnya ada yang sedang ia sukai?"Tanya Dira mulai penasaran, Halilintar terdiam, pria itu lalu berpura-pura membaca buku di tangannya membuat Dira menatapnya penasaran.
Sedangkan Halilintar diam-diam menatap Dira yang kembali fokus pada bukunya, pria itu menghela napas pelan, kenapa harus Gempa?

** Ve **

Ying berjalan menyusuri jalanan kota Netherly dengan tatapan kosong, gadis itu menghela napas berat, ucapan seseorang itu masih terngiang jelas di kepalanya.

"Aku menyukaimu Ying." Ying masih tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi sore, seorang Galang Stevano William alias Gempa menyukainya, apa itu masuk akal? Bukan hanya karena pria itu anak populer tapi kenyataan bahwa ia dan Gempa jarang sekali berbicara membuat itu semua terasa mustahil. Ying masih ingat betul bagaimana gugupnya Gempa saat pria itu menyatakan perasaannya, setelah itu pria bermata bulat itu buru-buru pergi tanpa menunggu respon dari dirinya.

"Kenapa bukan Halilintar saja yang bilang begitu."Ujar Ying pelan, ia selalu mengharapkan pria berkulit pucat itu yang mengatakannya tapi rasanya itu tak akan pernah terjadi. Mungkin seharusnya ia senang karena ini merupakan hal yang langka tapi ia tak merasakan perasaan senang apapun, justru baginya ini adalah berita buruk, karena kalau sampai Dira mengetahuinya, ia bisa menyakiti gadis itu dua kali.
Gadis menghentikan langkahnya begitu teringat sesuatu, gadis itu merogoh ponselnya dan mengetik beberapa nomor namun gerakan tangannya terhenti sebelum gadis itu menekan tombol panggil, Ying mematikan ponselnya dan mengurungkan niatnya untuk menelpon sahabatnya itu, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk minta maaf, mungkin lebih baik ia melakukannya besok.

** Ve **

"Selesai."Halilintar menutup bukunya begitu merasa cukup memberi pelajaran tambahan untuk gadis di hadapannya untuk hari ini.

"Selesai? Akhirnya.."Dira bersorak senang, seolah dirinya baru bebas dari penjara atau sejenisnya, Halilintar menatap gadis itu datar, namja itu melirik arlojinya, Jam 7 lewat 30 menit? Itu artinya ia mengajar gadis itu selama 2 setengah jam? Halilintar berdecak, benar benar menyita waktunya.

Dira membereskan perlengkapan sekolahnya dan beranjak dari bangkunya, gadis itu lalu menatap Halilintar yang masih diam, "Terimakasih untuk pelajaran tambahannya! Yah setidaknya aku lebih mengerti ketimbang dengan Cikgu Papa."Ujar Dira sambil tersenyum, membuat kedua mata gadis itu menyipit sempurna.

Halilintar memperhatikan gadis itu lekat sampai akhirnya ia mengalihkan pandangannya dan mengangguk singkat, "Aku pulang dulu ya Kak–eh Hali."Pamit Dira yang bergegas meninggalkan ruangan kelas, Halilintar masih diam sampai akhirnya sesuatu terlintas dipikirannya, pria itu menahan gadis itu dengan tangannya membuat langkah Dira terhenti dan gadis itu menatap Halilintar heran.

"Mau pulang bersama?"Tanya Halilintar ragu, Dira memasang wajah heran, "Y-Ya?"Tanyanya, takut salah dengar, Halilintar menghela napas, apa telinga gadis itu bermasalah?

"Aku tanya..mau pulang denganku tidak?"Ulang Halilintar kesal, Dira terdiam sesaat membuat Halilintar merutuki ajakannya barusan namun akhirnya gadis itu mengangguk singkat, "Boleh!"Jawabnya mantap membuat Halilintar menghela napas lega.

Hening. Begitulah yang terjadi sekarang diantara dirinya dan Halilintar sedari tadi, Dira yang sebenarnya paling tidak tahan dengan kondisi seperti ini rasanya ingin mencairkan suasana, masalahnya ia tak tahu harus bicara apa karena mereka jarang sekali berinteraksi, ralat, mereka memang sering berinteraksi satu sama lain tapi rasanya itu lebih pantas disebut adu mulut.

"Fisika itu sebenarnya mudah."Dira mendongakan kepalanya begitu mendengar suara berat barusan, ia menatap Halilintar, pria yang barusan bicara itu tapi tatapan pria itu masih lurus ke depan.

"Mudah apanya."Gumam Dira pelan, kalau ia diberi lima permintaan mungkin salah satunya akan ia gunakan untuk menghapus mata pelajaran itu dari sekolahnya.

"Kau hanya harus menggunakan logikamu, nilai Biologimu sangat bagus tapi kenapa nilai Fisikamu sangat berbanding terbalik?"Tanya Halilintar, pria itu menghentikan langkahnya yang membuat Dira juga berhenti. "Aku benci Fisika."Jawab Dira ketus, Halilintar mengangkat alisnya, "Kalau Biologi?"

"Aku menyukainya, pelajarannya menyenangkan."Jawab Dira lagi, Halilintar menganggukan kepalanya paham lalu kembali berjalan dan lagi-lagi Dira mengikutinya, "Padahal menurutku Biologi lebih sulit."Ucap Halilintar, ia kurang menyukai pelajaran itu, tapi walaupun begitu tetap saja nilainya masih terbilang bagus.

"Bagaimana kalau aku mengajarkanmu pelajaran itu?"Usul Dira tiba tiba dengan wajah berseri-seri, Halilintar mengerutkan keningnya, pria itu lalu buru-buru menggeleng, "Nilaiku sudah cukup bagus."Jawab Halilintar dengan nada gengsi sedangkan Dira mencibir.

"Tentang surat tadi siang."Tubuh Dira membeku begitu Halilintar mendadak menyinggung tentang insiden memalukan itu, padahal Dira tak mengingat soal kejadian itu sedari tadi.

"Apa kau memang-"Ucapan Halilintar terpotong karena Dira dengan cepat menyelanya, " Nggak, bukan aku, aku sama sekali tak menulisnya."Elak Dira dengan cepat.

"Lalu kenapa bisa begitu isinya?"Tanya Halilintar masih ragu, Dira terdiam, apa ia harus bilang yang sebenarnya? Tapi ia tak mungkin tega dengan gadis itu, bagaimana pun juga Ying adalah sahabatnya.

"Kata Pak Amir kertas itu diambil dari laci meja temanmu, Ying!" Ujar Halilintar lagi karena gadis disampingnya itu hanya diam, Dira menggerutu pelan, ia benar benar benci situasi seperti ini.

"Yang jelas bukan aku yang menulisnya."Jawab Dira cepat, gadis itu lalu berjalan terburu-buru meninggalkan Halilintar yang sedang terlihat memikirkan sesuatu.

Halilintar mempercepat langkahnya, langkah kakinya yang besar membuatnya dengan mudah menyamai posisi gadis itu, "Apa Ying yang menulisnya?"Tanya Halilintar lagi, dan kali ini ekspresi Dira menjadi bertambah tak karuan. " Tidak tahu, aku tak tahu."Kilah gadis itu namun Halilintar sepertinya terlalu pintar untuk membaca raut wajah seseorang atau mungkin wajah Dira memang tak pandai untuk berbohong.

"Jadi selama ini surat-surat itu berasal darinya."Gumam Halilintar, ia sama sekali tak menyangka semua surat yang ia terima di loker sekolahnya berasal dari gadis pendiam itu.

"Surat? Surat apa?"Dira yang sebenarnya berniat untuk mengunci mulutnya sampai pulang ke rumah akhirnya membuka suaranya, ucapan Halilintar barusan cukup membuatnya penasaran.

"Ra-ha-sia."Jawab Halilintar dengan nada meledek membuat Dira ingin sekali menimpuk pria itu dengan batu, "Ucapkan terimakasihku padanya atas surat-surat itu."Halilintar kembali bersuara sedangkan Dira sama sekali tak mengerti maksud perkataan pria itu, "Surat apa?"Tanya Dira heran, "Pokoknya sampaikan saja."Sahut pria tampan itu tanpa menjawab pertanyaan Dira barusan, Dira hanya memutar bola matanya dan memilih untuk menanyakannya pada Ying besok.

"Rumahmu sudah dekat?"Tanya Halilintar, rasanya mereka sudah jalan sedari tadi tapi tak sampai-sampai.

"Itu rumahku."Dira menunjuk rumah berukuran besar yang terletak tak jauh dari mereka sekarang, Halilintar memperhatikan rumah itu sesaat sampai akhirnya kembali menatap gadis dihadapannya, "Mulai besok kita tambahan pelajaran di rumahmu saja."Ujar Halilintar.

"Rumahku?"Tanya Dira kaget sedangkan Halilintar mengangguk santai. "Kenapa? Ada yang salah? Sekolah kita menjadi sangat horror ketika malam."Ucap Halilintar dengan eskpresi seram dan itu cukup sukses membuat Dira bergidik, "Benarkah?! Sekolah kita banyak hantunya?"Tanya Dira takut, sedangkan Halilintar mengangguk dengan ekspresi meyakinkan. "Aku paham, mulai besok belajar dirumahku saja."Jawab Dira dengan wajah luar biasa pucat dan tegang membuat Halilintar harus menahan tawanya.

"Kalau begitu kita harus pulang sekolah bersama."Ujar Halilintar lagi yang membuat Dira mengerjapkan matanya, dia bilang apa tadi? Pulang bersama? Setiap hari mereka akan pulang berdua? Dira hanya bisa berharap mereka berdua tak akan beradu mulut selama perjalanan pulang.

"Baiklah."Dira menyetujui tawaran tak langsung Halilintar itu dengan ragu sedangkan Halilintar membalasnya dengan anggukan kecil.

"Rumahmu dimana? Tadi kau bilang arah rumah kita searah."Tanya Dira.

"Rumahku tak jauh dari sini, masuklah."Halilintar mengangkat sebelah tangannya, bermaksud mengucapkan perpisahan pada gadis itu, Dira mengangguk lalu ia tersenyum, "Terimakasih telah mengantarku, hati-hati di jalan!"Ujar Dira tulus, Halilintar mengangguk singkat, pria itu lalu memperhatikan Dira yang kini berjalan menuju rumahnya, ia membalikan badannya ketika gadis itu benar benar sudah masuk ke rumah.

Halilintar memasukan kedua tangannya ke kantong celananya dan berjalan pulang, sebenarnya ia bisa sampai ke rumah daritadi karena jarak rumahnya dan sekolahnya begitu dekat, tapi ia hanya ingin memastikan gadis itu sampai ke rumah dengan selamat, kalau sampai Gempa tau ia begitu membela-belakan diri seperti ini pasti pria itu akan menertawainya, memangnya sejak kapan Halilintar Ferdiansyah Putera menjadi begitu peduli terhadap orang lain?

** Ve**

"Aku pulang."Halilintar memasuki rumahnya, pria itu mengedarkan pandangannya dan saat itu ia mendapati Ayahnya yang tengah duduk di ruang tamu, namun Ayahnya tidak sendiri, disampingnya ada seorang pria yang tengah duduk manis yang kini menatapnya dengan mata besarnya, "Gempa? Sedang apa kau disini?"Tanya Halilintar heran, Tuan Ferdiansyah yang notabene adalah Ayah Halilintar bangkit berdiri dan menepuk pundak Gempa, "Aku akan meninggalkan kalian berdua, Halilintar, dia sudah menunggumu daritadi, kenapa kau pulang selarut ini? Ponselmu juga tidak bisa dihubungi."Tanya Tuan Ferdiansyah sambil menatap anak tunggalnya itu. "Ah, ponselku mati Ayah."Jawab Halilintar, baru teringat batre ponselnya habis. Tuan Ferdiansyah hanya menggeleng, lalu pria itu berjalan menaiki anak tangga.

"Yak, tumbenan sekali kau kemari."Halilintar duduk disamping Gempa dan melirik pria itu sekilas, biasanya Gempa memang sering kerumahnya untuk bermain playstation bersama tapi biasanya pada siang hari.

"Aku ingin minta pendapatmu."Ujar Gempa dengan wajah serius,

"Kalau kau ingin meminta pendapat tentang percintaan, sayang sekali Galang Stevano, kau salah orang."Jawab Halilintar datar.

"Aku yakin aku datang ke orang yang tepat, kau tahu kan gadis yang aku sukai selama ini?"Gempa menatap Halilintar, menunggu jawaban dari pria itu, Halilintar terlihat berpikir sebentar sampai akhirnya ia mengangguk, "Tadi sore aku menyatakan perasaanku padanya."Ujar Gempa yang membuat mata Halilintar melebar, "A-Apa? Maksudmu pada Ying?"Tanya Halilintar kaget, Gempa terkekeh mendapati ekspresi pria itu lalu ia mengangguk, "Aku tak mau terus terusan menahan perasaanku padanya."Jawab Gempa.
"Lalu reaksi gadis itu bagaimana?"Tanya Halilintar, mendadak nama Dira terlintas dipikirannya.
"Entahlah, saat aku menyatakan perasaanku aku langsung pergi tanpa menunggu jawabannya."Ujar Gempa terlihat sedikit menyesali perbuatannya tadi, tapi ia memang tak bisa menahan rasa gugupnya tadi.

Halilintar terdiam, ia kembali mengingat surat yang dibacakan Taufan tadi siang di depan kelas, apa surat itu memang dari Ying? Mungkin kedengaran tak masuk akal mengingat gadis sependiam itu ternyata selama ini mengidolakan dirinya tapi akan jauh lebih mustahil kalau sampai Dira yang mengirimnya.

"Hei Hali, kau melamun?"Suara Gempa barusan mengejutkan Halilintar dan membuat lamunannya buyar seketika, "Eh? Tidak, jadi bagaimana?"Halilintar menatap Gempa yang memperhatikannya dengan tatapan heran.

"Mungkin besok aku akan menyatakan perasaanku lagi dan memintanya untuk menjadi kekasihku."Jawab Gempa mantap, Halilintar mengerjapkan matanya, apa pria itu serius? Gempa memang populer dan diidolakan tetapi ia benar-benar payah dalam urusan wanita, pria itu terlalu pemalu, yah mungkin sama payahnya dengan Halilintar.

"Kau yakin?"Tanya Halilintar sangsi, Gempa mengangguk, "Yang penting aku lega dan tahu perasaannya padaku selama ini."Jawab pria itu lagi, Halilintar hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, kalau sampai benar surat yang selama ini ia terima di lokernya adalah pemberian Ying itu berarti perasaan Gempa selama ini tidak terbalas pada gadis itu.

"Bagaimana rasanya dapat penggemar baru?"Halilintar menoleh pada Gempa begitu pria itu melontarkan pertanyaan padanya.

"Aku tak menyangka kalau selama ini Dira menyukaimu."Ujar Gempa lagi.

"Itu bukan darinya."Jawab Halilintar singkat, Gempa mengerutkan keningnya.

Kenapa kau yakin sekali?"Tanyanya, Halilintar menghela napas, "gadis bawel seperti itu menyukaiku? Benar benar mustahil."Jawab Halilintar yang dibalas oleh anggukan dari Gempa, "Benar juga sih, tadi dia juga bilang padaku kalau surat itu bukan darinya."

"Kapan dia bilang begitu?"Tanya Halilintar penasaran.

"Tadi, saat jam istirahat, dan aku bilang bagus kalau memang bukan dia yang menulis suratnya."Jawab Gempa enteng.

"Bagus kenapa?"Tanya Halilintar tak mengerti.

"Karena kalau sampai ia menyukaimu pasti dia akan patah hati karena kau tak mungkin menyukainya, kalian kan selalu bertengkar."Jelas Gempa yakin.

'Tapi sekarang kau yang akan membuatnya patah hati, bodoh'Umpat Halilintar dalam hati.

.
-TBC-

Reader Dira sekalian, terjawab sudah siapa penulis surat cinta buat Halilintar itu. Cieee si halilintar nyebelin tapi perhatian juga wkwkwk. Menurut kalian, ch ini gimana? Kurang pendek kah? Maaf kalo kepanjangan dan alurnya kecepetan. Soalnya, Ve rencana mau buat ff Marriage life. Terus kasih kesan dan pesannya buat Ve di ch ini ya! Luangkanlah waktu barang sedetik saja, buat balas review! Eh! Maksudnya, semenit. Atau lebih. Jangan jadi silent reader. Setidaknya, walaupun jelek, Ve sudah berusahagg. Sekian dan terima kasih ^^

Balasan Review:

Selena Andromeda:

Yups! Si ying emang polos banget! Tapi jangan dibawa pulang, entar Ve nggak punya chara buat ff ini :v. Kamu request haliying. Tapi, Ve nggak bisa menjamin. Pokoknya ikuti aja deh update ff ini. Ciee yg tebakan nya bener. Dira itu emang Singkatan dari Dinda Rafika. Pairing Taufan? Siapa ya? Wkwkwk

Terima kasih atas review nya. Review terus ya!

putri Kegelapan:

Wooaahhh makasih. Iya, ini udah next. Review terus ya!

Cinta keluarga:

Miliy-chan suka? Waahh terimakasih sama-sama (ini Ve bingung). Ho'oh! Jarang banget. Makanya Ve buat deh. Tapi banyak juga sih(plin plan). Untuk pairing, masih rahasia. Makasih udah request. Ve sueneng banget!. Cieee yg secret admirernya Halilintar!. Akh ikutan gila dong! #diBomHalilintar

Halilintar: Entah, si Ve ini kayaknya lagi setress sama UAS. Tapi kita tunggu aja. Ok makasih, review terus ya! Bagusan kalo enggak

Ve: Tiba-tiba sadar dan gigit rumput*

Halilintar: Ini udah lanjut. Padahal menurutku ini jelek banget. Tak suruh hiatus adja.

Ve: Noooooooooo

Halilintar: Ikh! Aku ini nggak nyebelin, aku pandai dan ketjeh#OOC.

Terimakasih atas reviewnya. Jangan review lagi.

Dan: Huaanjeeessr itu!

Kinkin369:

Halilintar: Njirr ada lagi yg bilang aku ngeselin TT. Maksih deh udahmau suka. Ini udah next kok.

Shidiq743:

Ve: *ngambil laptop* ok ini udah lanjut. Review terus please!

REVIEW! SI HALILINTAR JANGAN DI ANGGAP! PLIIISSS DAKUH CAPEK NGETIK!

Halilintar: -_-!**ve****Ve**