kaca jendela

:

Lalu hujan menggiringku menonton pagi bersama fajar yang lumpuh ditotok awan. Menanggalkan satu persatu jingga seperti ruh-ruh yang

kabur dari jasad dengan berbagai macam sebab. Katanya, kematian adalah wahyu paling sederhana

yang di bingkai kabut rahasia.

.

Aku pun memahami waktu yang telah menyihirmu untuk pura-pura lupa

pada bahagia dalam wujud sekantung air mata. Tak pernah ada ritual simpel buat perpisahan. Dengan wajah carut-marut,

tapak sungai yang mengalir di pipi dan punggung yang melengkung merengkuh kekosongan.

.

Sejenak, kudapati ada hening yang beranjak dan jejak

yang menggenang di atas meja. Barangkali usai sudah perjalananmu dari ajang

sambang menyambangi kenangan dan perjudian patah hati di sebuah pagi

dari balik kaca jendela

: aku, tak pernah ada.