Divine
Cast : Kuroko Tetsuya, GOM, Mayuzumi Chihiro, dll
Pairing : AkashixTetsuya (namun bakalan lama jadi tunggu aja ya)
Genre : penulis tidak bisa menerka genre cerita jadi tebak sendiri saja :v :p
Length : Chapter, mungkin alur nya lambat. Jadi di mohon bersabar ^^
Rated : aman (T)
Warning! : GS/GenderBender, ooc, mungkin akan beda dengan yg ada di karakter, dan mungkin sedikit ada boyslove.
Penulis tidak mendapatkan apapun dan bentuk apapun dari menulis cerita, ini hanya hobi semata. Penulis masih pemula jadi mohon bantuan nya, mana yg harus di perbaiki.
Mereka (Karakter/cast) bukan milik penulis, mereka milik pemilik nya yakni : Fujimaki Tadatoshi
Tapi cerita ini murni milik saya, jadi selamat membaca!
Summary :
Kelahiran nya sendiri adalah suatu kesalahan.
Dosa yg bertentangan.
Hidup maupun mati.
Tidak ada yg melindungi nya.
Prolog :
Chapter 2 : Mentari di awan mendung
"Leonchi!" entah sudah keberapa kali Kise memangil Golden Reriever milik nya, padahal ini sudah waktu nya sarapan.
Biasanya Leon akan mengganggu nya yg tengah menyiapkan peralatan sekolah dengan gonggongan dan goyangan ekor milik nya dengan semangat, meminta perhatian terlebih perut nya.
Pemuda blonde itu pun melirik ke jam dinding, jarum jam sudah merangkak mendekati angka 7, dari pada terlambat ke sekolah dan mendapatkan hukuman. Kise meletakan mangkuk berisikan makanan Anjing tersebut di lantai, dengan tatapan yg menyendu.
"yah sudah ssu, mungkin dia sedang sibuk dengan teman-teman nya" ucap nya pada diri sendiri, apalagi ia pernah melihat Leon tengah bermain dengan anjing pemilik tetangga sebelah nya.
Dan dugaan nya benar kala ia keluar dari apartemen, Kise melihat Leon tengah bersama dengan Golden Reriever lain nya, namun tubuh nya lebih kecil dari Leon, seperti nya ia betina, apa mungkin Golden Reriever ini pacar Leon? Memikirkan saja membuat Kise terkikik geli.
"Leonchi!" Golden Reriever milik nya menengok ke arah nya, Leon langsung menggonggong semangat, namun tidak beranjak dari duduk nya, Kise lagi-lagi terkikik.
"dasar,, anak itu sudah punya pacar dan aku tidak tahu ssu" gumam Kise geli.
"makanan sudah kusiapkan ssu! Jadi jangan gigit ujung sofa ya!" gonggongan milik Leon kembali bersahut, seolah mengerti perkataan si majikan. Setelah mengetahui dimana posisi Leon, membuat Kise lega untuk berangkat ke sekolah.
Pemuda blonde itu tidak kawatir akan Leon yg tersesat, anjing itu bahkan lebih pintar dari nya kalau masalah lokasi. Bahkan dulu Kise pernah tersesat, dan untung ada Leon di sana.
.
(/ ^0^)/ Defense \\(^0^ \\)
.
Bagi Kise Ryouta, Kuroko Tetsuya adalah teman berharga nya, walaupun mereka baru bertemu dan bertegur sapa kala itu, Kise langsung mengerti bagaimana Kuroko Tetsuya.
Pemuda bersurai baby blue yg bahkan banyak orang yg tidak mengetahui keberadaan nya.
Awal ketika Kise mengenal Kuroko ketika pemuda mungil tersebut di caci maki oleh Aomine Daiki yg sampai saat ini pemuda blonde itu tidak mengerti alasan di balik kebencian Aomine terhadap Kuroko.
Kise benci dengan pembullyan, ia paling benci saat orang lemah di tindas dengan semena-mena. Namun ia bukan orang yg suka mencampuri urusan orang lain, namun entah mengapa kaki nya bergerak sendiri, dan volume keberanian nya meningkat dalam seketika.
Kise langsung menarik Kuroko yg tengah di cengkram kuat oleh Aomine. Meskipun ia banyak bicara, namun ia jarang menyumpah serapahi seseorang, dan demi Kuroko ia berteriak seakan pasien rumah sakit jiwa yg kabur dari rumah sakit.
Perdebatan, teriakan dan caci maki keluar begitu saja dari kedua nya. bukan Kise namanya jika ia mengalah, namun juga bukan Aomine jika ia kalah.
Jika bukan karena ada nya guru yg melintas di koridor, maka teriakan-teriakan penuh kebencian itu pasti masih terjadi, bahkan mungkin di tambah dengan adegan pukul memukul.
Kise menatap Kuroko yg masih setia diam, ketika ia sudah meredakan amarah nya, ia langsung siap menghadapi pemuda mungil tersebut. ketika kedua netra tersebut bersibobrok, Kise seketika menahan nafas.
Pemuda blonde itu akui jika warna mata Kuroko sangat cantik, namun langit tanpa awan itu kosong dan hampa.
Ada sesuatu yg di pendam oleh pemuda mungil ini dan Kise tidak tahu itu apa, tapi janji dengan tandatangan hati nurani, berstempel materai seumur hidup itu tanpa ia sadari sudah terbuat.
"kun,, Kise kun" Kise mengerjapkan kedua mata nya, dahi nya mengernyit saat melihat lambaian tangan mungil milik Kuroko tepat di wajah nya.
ada sirat kekawatiran pada dua bola biru langit, Kise mengukir senyum, mengirim sinyal dia baik-baik saja.
"kau melamun" kata Kuroko dengan minim ekpresi milik nya. Kemudian mengalihkan perhatian nya pada ponsel milik pemuda blonde yg ada di samping nya, melihat gambar Leon yg selalu di elu-elukan oleh Kise.
Bahkan menceritakan bagaimana mereka bertemu, bagaimana manja nya Leon, dan cemburunya Kise ketika Leon sudah memiliki pasangan.
Kise masih terdiam, perlahan tubuh nya ia rebahkan di samping kanan tubuh Kuroko, menatap bongkahan kapas di atas sana, saat ini mereka berada di atap sekolah, makan siang selalu mereka lakukan disini, terlebih suasana kantin yg tidak pernah sepi.
Mungkin karena Kuroko sendiri tidak menyukai suasana ramai, jadi Kise mau tidak mau mengikuti Kuroko kemana perginya pemuda mungil tersebut.
Sebenarnya Kuroko tidak memaksa Kise untuk selalu bersama nya, namun insting Kise yg setara induk kucing tersebut tidak tega meninggalkan Kuroko sendirian.
"Leon" ponsel sudah ada di tangan pemilik nya, Kise melirik pada Kuroko yg bersender pada tembok, aquamarine ikut menikmati gumpalan kapas yg tengah senang nya terombang-ambing di terpa angin.
"dia cantik seperti Kise kun" sambung nya pelan, dan Kise langsung mendudukan tubuh nya tanpa menyadari apa yg baru saja di ucapkan oleh pemuda mungil di depan nya, menatap Kuroko dengan mata bersinar aneh. Satu alis Kuroko naik melihat nya.
"deshou~ dia memang can… eh tunggu? Aku tampan ssu!" dan untuk pertama kali dalam 2 bulan hubungan pertemanan mereka, Kuroko Tetsuya tertawa dengan bebas.
Dan Kise bersumpah ia akan membuat Kuroko tertawa dan tersenyum setiap waktu dan tidak akan membiarkan orang lain menghapus senyum indah tersebut.
.
(/ ^0^)/ Defense \\(^0^ \\)
.
Latihan sudah di lakukan beberapa waktu yg lalu, Nijimura sebagai kapten dari team basket Teikou pun kini berada di ujung lapangan, tengah membicarakan sesuatu hal bersama pelatih.
Sesekali mata hitam pemuda bersurai sama dengan warna mata nya menatap ke tengah lapangan, dimana junior dan teman-teman seangkatan nya tengah berlatih,
ia bahkan sempat mendengar Hyuuga Junpei yg tengah mengomel karena para junior yg sering mengeluh, dan Kiyoshi Teppei yg sering menenangkan Hyuuga.
Nijimura tersenyum tipis, kemudian pandangan nya jatuh pada rambut biru muda yg berlari pada barisan belakang sendiri dengan nafas terengah-engah, Nijimura menghela nafas.
Onyx milik Nijimura menatap pelatih nya lalu meminta ijin masuk ke dalam lapangan, pria paruh baya itu ikut menatap ke tengah lapangan dan mengangguk, mengijinkan.
"istirahat sebentar!" teriakan Nijimura bagai air di padang gurun, dengan serempak mereka langsung tergeletak tak berdaya di atas lantai.
"ugh~ aku lapar~" keluh sosok tinggi di atas rata-rata yg tengah menekan perut nya, Kuroko menatap teman club nya, kemudian langsung berdiri dan mengambil tas nya yg tidak jauh dari nya.
Tangan kecil itu menggeledah dan mencari, hingga ketemu, sebuah biscuit yg ia beli tadi siang bersama Kise ketika makan siang.
"ini Murasakibara kun" tangan kecil berbalut kulit pucat itu terjulur, Murasakibara Atsushi bergeming, kepala nya mengadah menatap sosok mungil yg ada di depan nya.
Lumayan lama dan membuat Kuroko kikuk sendiri.
"ini untuk ku?" tanya Murasakibara tidak yakin, Kuroko mengangguk kemudian duduk di sebelah Murasakibara
Tangan besar itu ragu untuk mengambil, tapi karena lapar akhirnya di ambil juga.
"terimakasih Kuro Chin" Murasakibara berucap tulus, dahi Kuroko mengernyit.
"Kuro Chin?" gumam nya pelan. Ternyata tidak hanya Kise dan Midorima yg berbicara dengan logat dan penambahan suffix aneh di belakang nya,
ini mungkin pertama kali nya Kuroko berbicara dengan Murasakibara sehingga tahu kosa kata pemuda kelebihan kalsium tersebut.
"ne~ Kuro Chin" Kuroko menolehkan kepala nya, mendapati Murasakibara yg sudah selesai makan. Kuroko tidak menyahut namun masih tetap menunggu lanjutan kalimat dari Murasakibara.
Bungkus biscuit di remat dan di lempar ke tempat sampah dengan ketepatan sasaran 100% akurat.
"kau menyukai basket?" tanya Murasakibara dengan nada malas seperti biasa. Kuroko mengalihkan tatapan nya di tengah lapangan,
dimana para senior tengah bermain basket, jari telunjuk dan jempol tangan mengapit dagu, seperti berfikir.
"suka" balas Kuroko singkat. Murasakibara mengangguk.
"tentu saja ! Kurokochi amat sangat menyukai basket daripada kita ssu!" kini Kise ikut menimpali, tubuh nya ada di belakang Kuroko dan mendekap nya erat.
Murasakibara merengut melihat nya, dan dengan cepat langsung mengangkat Kuroko dan memangku nya, mengabaikan protesan dari Kise.
"tubuh Kuro Chin ringan sekali, apa tidak apa-apa jika masih di basket?" semalas-malas nya nada Murasakibara, sebenar nya anak kelebihan kalsium ini sangat lah perhatian.
Kuroko tersenyum dan menggeleng "tidak Murasakibara kun, aku akan baik-baik saja" balas Kuroko meyakinkan.
"tentu saja nanodayo, apalagi jika… hei Kuroko apa zodiac dan golongan darah mu?" belum apa-apa Midorima sudah menanyakan suatu hal yg sensitive di awal obrolan.
"kalau aku Gemini dengan golongan darah A ssu!"
"aku tidak bertanya nanodayo"
"hidoooi ssu!"
Argument antara Midorima dan Kise terus berlanjut, dengan rengekan Kise yg membuat telinga sakit, keseriusan Midorima dalam berbicara, dan Murasakibara yg masih memangku Kuroko proktektif, tidak mengijinkan Kise menyentuh Kuroko mungil nya dari jangkauan.
Membuat Kise semakin merengek, dan itu sampai pada tengah lapangan, dimana Aomine yg tengah mendrible bola basket, pemuda dim itu berdecih tidak suka ketika Kuroko terlihat bahagia di sana.
.
(/ ^0^)/ Defense \\(^0^ \\)
.
Brak!
Kejadian itu begitu cepat, hantaman antara daging dan tulang berbalut bulu-bulu halus nan tebal dengan mobil kecepatan sedang di depan apartemen milik Kise Ryouta.
Hari ini setelah berlatih, Kise yg beberapa hari lalu sudah berjanji pada Kuroko Tetsuya untuk menemui Leon. Mengajak pemuda baby blue ke apartemen nya.
Namun niat tinggalah niat, jarak tinggal beberapa meter, tepat di depan dimana apartemen Kise, membentang jalan raya yg tidak lah besar, namun beberapa mobil sering melintas disini.
Sepertinya Leon yg sebelum nya tengah bermain dengan 'Annie' nama Golden Reriever milik tetangga Kise langsung berlari kencang saat penglihatan nya melihat sang majikan yg baru pulang.
Kise juga langsung berbinar malihat Leon, namun binar itu hilang saat kejadian mengerikan itu terjadi tepat di hadapan nya.
Kuroko Tetsuya mendekap mulut nya dengan kedua telapak tangan nya, darah Leon membasahi hitam nya aspal, tubuh Kise masih mematung di tempat.
Kemudian tersentak kaget, sadar akan apa yg terjadi ketika kaki Leon bergerak-gerak. Dengan cepat Kise berlari, orang-orang yg tinggal di perumahan itu pun mulai banyak.
"Leoon!" Kise berteriak histeris, banyak orang merasa kasihan pada Kise dan tidak melakukan apapun. Kuroko dengan cepat menghampiri Kise, memeluk nya dari samping, menguatkan.
"Kise kun, ayo kita bawa ke rumah sakit" saran Kuroko, hati nya mencelos mendengar teriakan histeris Kise, baru pertama kali ini ia melihat Kise menangis.
Setelah menghentikan taksi, mereka pun naik ke dalam, dengan Kise yg masih meraung, tangan pemuda blonde itu bergetar hebat akibat darah yg masih mengucur deras di tubuh Leon.
Hingga suara batuk Leon terdengar, anjing yg sekarat itu mengeluarkan batuk darah hingga tubuh nya kejang, sampai kemudian lemas seperti jiwa yg sudah meninggalkan raga nya.
"Leon! Bertahanlah!" Kise semakin histeris, kawatir dan panic menjadi satu. Sedangkan Kuroko sudah tidak tahan untuk menahan tangis, pemuda mungil itu tahu apa yg terjadi.
Tangan kecil nya turun untuk meremat tangan berlumuran darah milik Kise. "Kise Kun, sudahlah…"
"tidak Kurokochi! Leon!"
"Leon sudah pergi"
"tidak! Tidak! Leon tidak mungkin meninggalkan ku!"
Setelah kejadian dimana terenggutnya nyawa Leon, Kise semakin menjadi pribadi yg pendiam. Membuat Kuroko semakin cemas, bahkan Kise kadangkala membolos sekolah yg tidak pernah ia lakukan sama sekali.
.
(/ ^0^)/ Defense \\(^0^ \\)
.
Kise Ryouta, 13 tahun, di nyatakan gagal jantung sejak ia baru lahir. Ia di vonis dengan batas umur sampai 20 tahun. Hidup nya sejak ia kecil selalu berada di sekitar rumah sakit, karena sering keluar masuk nya ia di rumah sakit.
Hingga suatu ketika ia ingin bunuh diri hanya karena tidak menginginkan orang tua nya banyak pikiran terlebih karena dari nya, ia bahkan sering mendapati ibu nya yg sering menangis di malam hari, ayah nya yg bingung mencari dana untuk perawatan nya, Kise hanya tidak menginginkan orang tua nya repot dengan dirinya yg tidak berguna ini.
Angin membelai rambut pirang nya yg mulai memudar, bahkan volume rambut nya mulai berkurang dan mulai menipis, mata topas itu menatap lurus, ia bahkan tanpa rasa takut menatap bawah, dimana ia saat ini tengah berada di lantai paling atas sebuah rumah sakit tempat dimana ia di rawat.
Mobil dan orang-orang terlihat kecil sekali dari sini, Kise tersenyum senang. Merentangkan kedua tangan nya, siap melayang, namun tidak terjadi saat mendengar gerutuan sosok yg ada beberapa meter di samping nya.
Sosok itu belum menyadari ada sosok lain yg tengah mengawasi gerak-gerik nya saat ini, sosok dengan warna rambut kuning yg sama seperti nya merengut saat akan menapaki pagar pembatas. "sial ini tinggi sekali" gumam nya kesal. Dan dengan susah payah sosok itu berada tepat 2 meter di samping Kise.
"Heeey!" gadis mungil itu berteriak dan Kise tersentak kaget, tubuh gadis yg ada di samping nya memang mungil, tapi teriakan nya luar biasa membuat telinga Kise berdengung parah.
"aku tidak akan kalah dari kalian semua ssu! Lihat itu ssu!"
"ano" Kise mulai mengintrupsi, dan kepala yg sama-sama berhias mahkota pirang itu pun menoleh.
"apa yg kau lakukan?" tanya Kise pada akhirnya, gadis pirang itu masih menatap nya kemudian tersenyum.
"yo~!" sapa nya tidak sadar dengan apa yg ia lakukan, dahi Kise mengernyit.
"tentu saja aku akan terbang ssu,,," hening beberapa saat kemudian gadis itu kembali berteriak sangat nyaring. Kaget akan adanya sosok lain di sana. Bahkan Kise yakin yg salah pada dirinya bukan jantung nya melainkan telinga nya.
"a apa ya yang ka kau lakukan!?" tanya gadis itu histeris takut, Kise kembali melongo.
"aku? Sudah pasti terjun"jawab Kise ringan, gadis itu sudah pucat pasi mendengar jawaban Kise.
"jangan kau coba-coba ssu!"
"heh?"
"kenapa kau ingin terjun ssu? Ini tidak adil sekali, bahkan warna rambut kita pun sama ssu?"
"bahasa mu aneh sekali" gumam Kise tidak menanggapi ucapan gadis mungil tersebut.
"jadi siapa namamu ssu?"
"Kise Ryouta, kau?"
"Nakamura Rio desu, yorosiku Kisechi!"
"Chi?"
Nakamura Rio, 12 tahun, gadis yg sudah menggagalkan aksi bunuh diri Kise Ryouta walau ia sendiri juga ingin terjun dari lantai atas gedung rumah sakit.
Namun semenjak percobaan bunuh diri Kise Ryouta dan juga Nakamura Rio, hubungan mereka pun semakin dekat, dan bahkan berubah menjadi persahabatan.
"eh!" Kise terkesiap, ia baru sadar jika dirinya kini tengah tersesat, menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah horror milik nya.
Dan bodoh nya ia juga lupa membawa ponsel. Tidak elit jika ia menangis disini, namun ia ingin sekali menangis, seharusnya ia mendengarkan perkataan orang tua nya
Namun saking bersemangat nya mengenai jalan-jalan sendirian nya kali ini, membuat Kise jadi kalap dan lupa membawa barang yg berharga di tahun modern ini. pemuda blonde itu menghela nafas, nasi sudah menjadi bubur, mau di kata apalagi.
Kaki nya mulai pegal dan ia ingin sekali merebahkan tubuh nya yg sakit ini di atas ranjang, seketika ia jadi menyesal untuk jalan-jalan. Mata topas itu melihat bangku yg ada di salah satu taman, dengan lunglai Kise mendudukan tubuh jangkung ringkih nya di sana.
Berkali-kali ia menghela nafas, jika ibu nya tahu akan hal ini, pasti ia akan di ceramahi habis-habisan mengenai nasib baik yg akan menjauh jika banyak menghela nafas.
Ngomong-ngomong masalah ibu nya, Kise malah rindu ibu nya yg baru beberapa puluh menit tidak di lihat nya, hingga suara gonggonan anjing mengintrupsi nya.
Anjing jenis Golden Reriever menatap nya dengan mata hitam milik nya. Kise seketika menegak kan tubuh nya, kemudian membungkuk membelai lembut nya bulu-bulu halus milik Golden Reriever di hadapan nya.
"hey, kau sendirian?" tanya Kise yg masih setia mengelus lembut bulu-bulu halus. Dan gonggongan penuh semangat milik Golden Reriever kembali menyahut. Kise tersenyum senang.
"dimana pemilik mu hmm~"
"yo~ Kisechi! Selain profesimu menjadi terjun bebas dadakan, kau juga suka menculik anjing milik orang lain ssu…" Nakamura Rio dengan setelan santai nya berjalan tenang menuju Kise yg tengah merengut tidak terima akan ucapan sang gadis.
"jangan katakan kau tersesat Kisechi~"
"ma mana mungkin! Dan hentikan logat aneh mu itu! tidak lucu sama sekali!" malu tentu saja di rasakan oleh Kise, bahkan warna merah kini merambat sampai ujung telinga nya dengan sempurna.
Nakamura Rio malah makin menyeringai senang, menjahili Kise adalah salah satu hobi nya kali ini, dan itu sangat menyenangkan terlebih melihat wajah pucat Kise menjadi merona.
"heeee~~ benarkah tidak lucu~~ padahal aku sudah mencoba selucu mungkin untuk Kisechi ssu~~" mereka pun tidak hanya berbincang di taman, Kise yg jarang mendapatkan hari bebas pun meminta Nakamura agar menemani nya.
Dan mereka benar-benar menghabiskan hari bebas Kise dengan bersenang-senang di mall Tokyo hingga malam menjemput, berfoto bersama, tertawa bersama, dan melakukan kegiatan yg tidak pernah ia lakukan selama ini.
Kise benar-benar beruntung memiliki Nakamura, untuk pertama kali ini di kehidupan nya yg akan berakhir, ia berharap jika di berikan umur panjang.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Kise kembali harus di rawat di rumah sakit. Dan intensitas bertemu nya Kise dan Nakamura pun semakin menipis, mereka bahkan kadang tidak pernah bertemu selama beberapa hari.
Hingga, ketika Kise berada di lantai atas rumah sakit dengan alasan mencari udara segar pun tercengang kaget, sebenarnya perasaan nya ada yg aneh, hingga hati nya membawa nya kesini, tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Nakamura.
Kedua bola mata dengan warna topas itu pun membelalak horror, di sana di ujung gedung, tepat nya benar-benar di ujung, terdapat gadis mungil bersurai blonde.
Jantung nya berdebar dengan kencang, bahkan saking kencang nya ia yakin debaran itu bisa mendobrak tulan rusuk nya.
"Nakamura?" bisik nya lirih, seakan di panggil gadis itu menoleh, kemudian tersenyum hangat.
Di pantulan bola mata topas milik nya, file di otak nya langsung mengeluarkan profil gadis mungil yg telah ia kenal selama beberapa bulan ini, tidak mungkin ia salah mengenal orang. Namun hati nya menolak dengan apa yg terjadi, kepala nya menggeleng.
"Kisechi~ ini benar-benar aku ssu~" suara Nakamura membuat Kise tersadar, kepala itu mendongkak menatap gadis yg masih mempertahankan senyum hangat nya.
"a apa, yg ka kau lakukan NAKAMURAAA! ITU BERBAHAYA BODOH!" Kise tidak bisa menahan lagi, ia langsung memuntahkan ketakutan nya saat ini.
Nakamura mengernyitkan dahinya, merengut dengan bibir terkerucut seperti di tali dengan karet rambut nya.
"kau berani membentak ku ssu!"
"TENTU SAJA DASAR NAKAMURA BOKEE! KEMARI ATAU KU SERET KUNCIR KUDA JELEK MU!"
"jelek?! Kisechi Hidoi ssu~! Padahal aku sudah susah payah mengikat rambut jelek ku ini agar cantik ssu,,"
Hening menguasai setelah itu, Nakamura juga diam, biasa nya gadis itu akan banyak bicara dan tingkah nya membuat Kise sakit mata, namun entah mengapa keterdiaman Nakamura ini membuat Kise takut.
"Naka…"
"ne Kisechi~" Kise diam, ucapan nya terpotong dan ia tidak berniat memotong ucapan Nakamura dengan cacian nya.
"kau masih ingat perkataan ku ketika pertemuan pertama kita?" Kise kembali memilah file-file yg telah tersimpan di memori otak nya hingga kedua bola mata nya membola dengan diameter selebar-lebar nya.
"JANGAN LAKUKAN ATAU TIDAK KUMAAFKAN SEUMUR HIDUP MU NAKAMURA!" Nakamura tersenyum tipis, kemudian membalikan tubuh nya mengarah pada gedung-gedung bertingkat lain nya.
"kau cerdas seperti biasa Kisechi, aku iri"
"apa yg….."
"maaf,"kening Kise terlipat.
"maaf," Nakamura mulai melepaskan genggaman nya pada pembatas, dan Kise dengan gerakan cepat yg ia bisa melaju.
"maafkan aku" dan kemudian tubuh Nakamura melayang jatuh, Kise berteriak histeris, berlari sekuat tenaga namun apa daya kaki-kaki nya lemas dan Kise terjatuh terkantuk lantai, hal yg ia dengar terakhir kali nya adalah ucapan selamat tinggal dari Nakamura.
Nakamura Rio, 12 tahun, meninggal dunia tepat pukul 12.00 dengan pendarahan, gegar otak dan tulang patah parah, putri seorang pemilik rumah sakit yg biasa menjadi rumah kedua Kise Ryouta.
Putri dari Nakamura Indra dan Nakamura Yuki ini tidak pernah di anggap oleh keluarga nya, diskriminasi dan selalu membedakan Rio dengan adik laki-laki nya.
Ayah Rio tidak pernah menganggap Rio sebagai putri nya, bagi nya anak perempuan tidak akan mendatangkan nasib baik, bahkan untuk kelangsungan garis keturunan Nakamura.
Bahkan di sekolah pun ia di olok-olok karena hubungan masalah keluarga nya yg tidak rukun sama sekali. Pernah suatu ketika ia mencoba melukai teman kelas nya karena selalu mengolok nya, dan kejadian tersebut malah membuat jalinan dengan keluarga nya semakin rumit sampai saat ini.
Nakamura Rio, 12 tahun, mengalami depresi berat di umur nya yg masih belia dan memutuskan hidup nya, meninggalkan keluarga nya yg menyesal dan Kise Ryouta dengan trauma nya.
.
(/ ^0^)/ Defense \\(^0^ \\)
.
Kilatan cahaya dari bohlam-bohlam lampu taman yg aktif ketika malam mulai menampakkan diri membuat Kise Ryouta terseret bangun dari dunia lamunan nya, ketika melihat sekeliling nya yg seperti nya terlalu asing bagi dirinya.
Pemuda blonde itu pun menghela nafas nya, lagi-lagi ia tersesat, jika dulu ketika ia tersesat maka ada Leon dan Nakamura yg membantu menemukan jalan rumah nya. namun saat ini…
"Kise Kun"
"Kyaaaaaa!" Kise menjerit dengan tidak elit nya, meloncat dengan kedua kaki di tekuk di atas kursi pinggir taman dengan tubuh gemetar ketakutan.
Ia menatap horror sosok yg ada di samping nya, tepat nya sosok biru langit yg tengah duduk di samping nya dengan kotak kardus di atas pangkuan.
"Kurokochi!"
"domo Kise kun" tangan mungil itu terangkat dengan santai nya, tanpa mempedulikan wajah pucat si pemilik surai blonde.
"kau mengagetkan ku saja ssu, dan apa itu?" jari-jari milik Kise tertuju pada kardus yg ada di pangkuan si mungil, Kuroko mengangguk paham dan mulai membuka lipatan kardus dengan hati-hati.
"oh,, aku menemukan ini" setelah kardus di buka, buntalan bulu warna hitam dan putih memenuhi indera penglihatan topas milik Kise.
Terlebih ketika buntalan itu bergerak dan mendongkak menampakkan manik biru langit nya. seketika panah imajiner berupa panah cupid menusuk dada Kise.
"Kyaaaa~~~!" dengan kilat, Kise langsung mengangkat anak anjing tipe seiberian husky dan berputar-putar layaknya menemukan harta karun.
Keceriaan Kise yg di lihat Kuroko membuat pemuda mungil itu tersenyum tipis, awal nya ia akan memberikan anak anjing itu pada siapapun yg mau, namun melihat Kise yg kembali ceria karena anak anjing, Kuroko pun mengurungkan niat nya.
Epilog :
Untuk Kisechi
Mungkin kata maaf tidak akan mengembalikan segala nya, namun aku masih tetap akan mengatakan kata maaf untuk Kisechi.
Aku yakin jika Kisechi akan menanyakan kenapa aku melakukan hal konyol ini?
"mati dengan bunuh diri disebut hal konyol? MATI KONYOL MEMANG IYA!" Kise berteriak lantang, tangan nya meremat sebuah kertas hingga tak berbentuk. Kertas berisikan surat terakhir dari Nakamura.
Air mata lagi-lagi tidak bisa di tahan, ia mengalir adanya tanpa hambatan. Setelah menyaksikan bagaimana sahabat nya terjun dari lantai atas rumah sakit. Kise pun tumbang.
Saat ini ia berada di kamar rawat inap nya, ayah nya pulang sebentar untuk mengambil sesuatu dan ibu nya yg tengah keluar mencari makan. Kise mendapati surat ini ketika hari ke tiga setelah kematian Nakamura.
Orang tua gadis itu mendatangi nya, mengatakan kata terimakasih dan juga penyesalan yg teramat. Kise berdecih dalam hati, 'terlambat' pikir nya. Nakamura sudah mati dan penyesalan baru datang.
Dengan tangan gemetar dan air mata yg mulai mau berhenti, Kise Ryouta mengkukuhkan hati nya untuk kembali membaca surat itu.
Selama aku hidup, aku merasa hidup ku benar-benar memuakkan. Orang tua ku tidak menginginkan ku, hanya karena aku terlahir sebagai perempuan, mereka memperlakukan ku seperti sampah. Rumah sakit dimana Kisechi selalu di rawat adalah milik orang tua ku.
garis keturunan di junjung tinggi di kaluargaku. Karena adikku terlahir sebagai laki-laki, perlakukan kami sungguh berbeda. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana itu, namun jujur,, jika terlahir kembali aku lebih memilih menjadi anak kalangan biasa.
Di sekolah pun aku tidak memiliki teman sama sekali, mereka terlalu membosankan, bisnis dan bisnis yg menjadi bahan pembicaraan, memang nya mereka berumur berapa? Seperti kakek dan nenek tua saja. Memuakkan!
"kau sudah memiliki ku bodoh!"
Hingga suatu ketika aku tidak sengaja mencelakai teman ku, bukan tida sengaja, mungkin sengaja, dia terlalu cerewet membuatku kesal saja.
Warna merah itu menetes tanpa henti, darah nya mengucur seperti keran dan itu membuat ku senang. Aku menusuk cutter milikku ke wajah jelek nya.
"kenapa kau lakukan itu?" suara Kise mulai menyendu.
Setelah kejadian itu orang tua ku semakin membenciku, dan aku semakin muak dengan hidup ku. hingga aku memutuskan untuk mati. Dan di saat itu lah aku bertemu dengan Kisechi.
"dan aku masih ingat wajah bodoh mu itu"
Pertemuan kita benar-benar aneh menurut ku.
"tentu saja, dasar gila."
Pertemuan pertama di saat akan bunuh diri? Benar-benar lucu. Aku memutuskan untuk tidak terjun saat itu. sangat benar-benar tidak lucu jika kita mati berdua.
Aku ingin terjun sendiri, terbang sendiri, aku ingin agar orang tua ku melihat ku seorang, tidak ingin adanya orang lain. Bahkan Kisechi. Aku tahu aku egois.
"kau memang egois"
Kisechi orang nya pintar dan menyenangkan. Tapi bodoh dalam berteman, Kisechi terlalu kaku, Kisechi juga terlalu meremehkan orang ssu, menyebalkan. Namun Aku suka ssu!
Sebenarnya Kisechi itu baik ssu, hanya terlalu dingin dan membatasi diri saja. Berteman lah dengan banyak orang ssu, jangan pilih-pilih, jadilah menjadi Kisechi sendiri, jangan batasi diri Kisechi ssu.
Di saat akan menjelang terjun solo ku, aku senang bisa bertemu dengan Kisechi. Masih segar di ingatan ku ketika kita bermain bersama, aku menyukai nya dan aku menikmatinya ssu! Ini adalah moment pertama ku dengan seseorang, bahkan dengan orang tua ku pun tidak pernah.
"si bodoh ini, menamakan aksi bunuh dirinya dengan terjun solo? Yg benar saja! Apa-apaan ini! kaku! Bodoh! Dan tidak punya teman?!"
Kisechi tidak perlu gundah lagi, Kisechi akan bisa merasakan bagaimana berlari, Kisechi akan merasakan banya nya teman, Kisechi akan melakukan apapun setelah ini dan yg terpenting Kisechi dapat bermain basket tanpa takut jatuh. jantung ini, tolong Kisechi jaga.
Bukan Cuma rambut ita yg sama, bahkan jantung kita juga. ini takdir ssu! Aku bahagia bisa mendonorkan jantung ini untuk Kisechi, aku senang bisa membuat orang yg aku sayang masih tetap hidup ssu.
"dan dengan seenaknya meninggalkan ku"
Kisechi, aku senang bertemu dengan Kisechi. Jika aku terlahir kembali, aku ingin bertemu dengan Kisechi. Aku ingin berteman dengan Kisechi. Kisechi, sayonara~
Nakamura Rio
Kise kembali meremat kertas itu sekali lagi, dengan gerakan pelan, pemuda blonde yg akan menjalani transplantasi jantung itu pun turun dari ranjang. jarum suntik berselang infus di lepas. Kepala nya sakit jika terus di kamar, terlebih setelah membaca surat dari Nakamura.
Langkah kaki nya terhuyung, genggaman tangan yg berisikan kertas di buka, kertas dengan gambar beruang kuning menggemaskan. "jelek sekali" gumam Kise menatap gambar-gambar. Semakin Kise melihat kertas lusut tersebut, semakin hati nya sakit.
Dengan gerakan kasar ia langsung membanting buntalan kertas yg ada di tangan nya, ingin sekali menginjak namun tubuh tidak memungkiri hingga kaki beralas sandal itu pun terpeleset dan Kise pun jatuh. Gelak tawa masuk ke dalam gendang pendengaran Kise.
Kepala kuning itu pun menoleh ke kanan, dimana sumber suara berasal. Bangsal anak-anak.
"bukan kah ini?" bisik nya pelan, ini adalah bangsak anak-anak pengidap kanker. Ada perasaan hangat dan tergelitik saat melihat anak-anak itu tertawa puas, bahkan dengan tingkah konyol nya.
Kise tersenyum bodoh, jari tangan nya menggaruk tenguk yg tidak gatal sama sekali. 'dengar Nakamura bodoh! Aku akan mendapat teman lebih banyak dan lebih baik dari pada dirimu!'
"un? Kise kun? Kise kun?" suara datar Kuroko naik satu oktaf, menghancurkan lamunan Kise yg berjelang beberpa menit. Manik berisikan topas itu mengerjap.
"iya Kurokochi?" tanya Kise polos, Kuroko menghela nafas, menggendong anak anjing yg baru ia temukan.
"nama nya"
"aaaah~~" Kise paham dengan cepat, kepala nya mendongkak menatap bintang, berfikir. Kemudian menoleh menatap Kuroko yg masih bergeming.
"hmmmmm~?" Kise menatap Kuroko kemudian beralih ke anak anjing, ada yg aneh pikir nya.
"Tetsuya Nigou?"
"Eh? Nigou? Kedua? Kenapa?" Kise tersenyum mendengar pertanyaan beruntun Kuroko.
"karena kalian mirip ssu!" Kise berkata dengan semangat, mengangkat Nigou tinggi-tinggi sambil berputar-putar layak nya ballerina. Sedangkan Kuroko, lebih memilih duduk dan berfikir 'adanya kemiripan' dengan Nigou.
'Kurokochi, terimakasih, atas segala nya, terimakasih sudah menemukan ku, terimakasih sudah menemaniku, terimakasih atas Nigou, dan aku akan melindungi Kurokochi apapun yg terjadi, karena Kurokochi adalah teman yg berharga' Kise Ryouta berikrar dalam hati.
Di tempat lain, di sebuah gang yg sempit dan gelap, tubuh itu memang besar, tinggi nya meman tidak masuk akal, tenaga nya bisa di katakan seorang monster.
Namun hatinya yg lembut tidak dapat bisa berbuat apa-apa saat teman-teman nya menganggu dirinya, memukul tubuh nya dengan benda apapun yg mereka temui.
Murasakibara Atsusi, pemuda bersurai ungu itu hanya bisa pasrah saat siswa sekolah lain menyeret nya ke sebuah gang sempit, dan menghajarnya habis-habisan. Ini sudah biasa di alami oleh nya, bahkan ia tidak bisa membalas mereka.
Bukan karena tidak bisa hanya karena masih mengingat ucapan ibu nya setiap waktu, jika ia tidak boleh menyakiti siapapun, walau ia di sakiti.
Setelah puas, mereka langsung meninggalkan Murasakibara yg terkapar di ujung jalan buntu. Telapak tangan besar nya menekan luka yg ada di dahinya, setetes darah mengalir.
Pemuda bertubuh tinggi itu pun menghela nafas. Kemudian berdiri karena ia tidak mau membuat ibu nya menungu dan mengawatirkan dirinya.
TBC
Yoshaaaa! Chapter 2 akhirnya,,, terimakasih yg sudah mendukung dengan review, fav dan mungin Follow…. ^^
Review, Follow, Favo adalah bentuk dukungan kalian,,,
sampai jumpa di chapter berikut nya... ^^
