Standar Disclaimer Applied

.

.

Tsuki ga taiyō o daku © Tsurugi De Lelouch

-Part 2-

.

.

[Sasuke Uchiha & Sakura Haruno]

.

.

*Enjoying Reading & Reviewing*

-I don't get any profit from this fict-

.

.

.

.

.

.

.

Berpikir tentang kebahagiaan, itulah hal yang selalu diinginkan semua pihak

Tapi, bagaimanakah jika harus mengambil kebahagiaan itu dari orang lain

Apakah itu pantas disebut kebahagiaan?

.

.

.

*2*


Tak berlangsung lama kedua anak berbeda gender ini menapaki taman di salah satu sudut kota Konohakagure. Dengan raut kelelahan membuat mereka berdua harus merebahkan tubuhnya ke hamparan rumput nan hijau. Mereka berdua tidak mengetahui kalaulah mereka diawasi oleh salah satu pengawal kerajaan atas perintah Raja— Fugaku Uchiha.

Mereka saling menatap awan yang mengelilingi langit biru dan, sesekali salah satu dari mereka melirik satu sama lain—hingga raut wajah tersipu dan memerah sekaligus.

"H-hentikan memandangku, Sasuke-sama," gerutu Sakura memalingkan mukanya.

Tak peduli dengan keluhannya, Sasuke tetap melirik gadis yang berada disampingnya. "Aku tidak memandangmu, dasar!" usilnya.

"Ayolah, jauhkan muka itu…," pinta Sakura—tepatnya Sabaku no Sakura.

Dengan sekali tarikan tangan keduanya saling bertaut dan muka mereka hanya berjarak sepuluh senti saja. Hembusan nafas memburu satu sama lain, dan perlahan pemuda beriris Onyx kelam mencoba menggoda Sakura dengan menipiskan jarak antara mereka berdua. Sontak raut wajah Sakura memerah dan terpaku dengan wajah Pangeran—salah satu pewaris tahta kerajaan Uchiha yang sangat… sangat dekat dengan mukanya.

Dan seketika, Sasuke menarik wajahnya kemudian bersiul memandang gumpalan awan yang tertiup angin dilangit seolah-olah tidak ada yang terjadi.

"Sasuke-sama mencoba menggodaku begitu…," gerutu Sakura lagi.

"Menurutmu?" tanya Sasuke singkat.

"Dasar kau!" gertak Sakura memukul bahu Sasuke. Hingga sang pangeran sedikit meringis kesakitan, "aw—hentikan memukulku, Sakura!"

Mereka pun kembali dengan kebisuan masing-masing. Walau sang Pangeran memasang raut datar seperti biasa, tapi sebernanya dirinya tersipu dengan apa yang dilakukan tadi sesaat. Bahkan ingin tertawa melihat wajah memerah Sakura.

"Sasuke-sama… Sasuke-sama…"

Suara teriakan yang memekakan telinga terutama Sasuke, dengan menghela napas dia tahu kalau kabur dirinya pasti akan begini. Sasuke paham dengan suara itu—adalah pengasuhnya dari kecil. Sasuke pun beranjak dari duduknya dan berbisik pelan dengan Sakura kemudian dia kabur entah kemana. Dan Sakura sendiri langsung berlari berlawanan arah dengan Sasuke.

Pria berusia 40 tahunan dengan rambut mirip mangkok itu menggerutu kesal dengan anak asuhnya itu mencoba kabur lagi darinya. "Sasuke-sama, kau mencoba kabur lagi?"

"Suminasen, Guy-san. Sepertinya Sasuke-sama lari ke sana," ucap pelan pengawal yang sedari mengawasi Sasuke.

"Kenapa kau tidak mengejar juga?" bentak Guy.

Seketika pengawal itu terdiam dan juga mengejar pangeran keras kepala itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan nafas tidak beraturan, Sakura merenggangkan kakinya dan duduk di balkon rumah—tepatnya milik keluarganya. Tanpa sadar ada seseorang menyentakkan dirinya di samping Sakura. "Darimana saja kau, imouto- ku sayang?" tanyanya datar—membuat Sakura kaget dan menatap horor iris hazelnut di sampingnya.

"Bukan urusanmu, Sasori-nii," sahut Sakura cuek.

"Kalau nii-san boleh tebak, kau tadi bersama Sasuke-ooji bukan?" tanya Sasori yang tepat sasaran dengan adik bungsunya.

Bibir mungil Sakura terkatup dan memilih mencubit pipi kakaknya, "dasar Sasori -nii…"

Seketika tawa membahana menguar dari bibir si sulung Sabaku, "benar kan? Niisan sudah menduganya bahkan Itachi juga tahu kalau adik sepupunya—bersama dengan adik perempuanku yang imut ini."

"Kami hanya jalan-jalan saja," sahut Sakura

"Tidak niisan bilangpun kau mengakuinya juga," goda Sasori.

"Sasori-nii, kemana Shikamaru-nii?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.

Sasori hanya mengendikkan bahunya, "tidak tahu."

"Dasar kakak tidak tahu malu. Masa keberadaan adiknya tidak tahu?" gerutu Sakura memukul pelan bahu Sasori.

"Oh—hei, mungkin dia ada urusan lain … h-hei, sakit Sakura," ringis Sasori.

"Inikah sudah sakit … dimana kekuatan samuraimu, niisan? Atau jangan-jangan niisan merayuku lagi?"

"Ti-tidak, niisan tidak merayumu tapi—" seketika tangan Sasori mencubit pipi Sakura, "lebih tepatnya menggodamu." Dan Sasori pun berlari kencang karena dia tahu pasti adiknya akan…

"Itu sama saja. Awas kau, Sasori-nii…" teriak Sakura menyusul Sasori.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ruangan berwarna keemasan tampak terusik dengan pemberitahuan bahwa ada tamu yang mengunjungi, dan pemilik ruangan itu menyuruh tamunya untuk masuk. "Suminasen, apa keperluan anda memanggilku," ucap pelan tamu tersebut.

Tangan yang sedari memegang pena bulu terhenti dan menatap iris onyx tamunya, "jangan bersikap formal begitu, anakku."

"Walau anda ayah hamba, saya tetap bersikap formal dengan anda," ucapnya patuh.

"Shikamaru, aku memberi perintah khusus denganmu," ucap datar memberi sedikit jeda, "tolong awasi pergerakan tuan Danzou…"

"Maksud anda?"

Pria itu menghembuskan perlahan napasnya, "kurasa ini tugas yang sulit bagimu, anakku. Tapi untuk kesejahteraan desa kita. Karena … mungkin persepsi ayah, tuan Danzou akan melakukan pergerakan—atau lebih tepatnya pemberontakan."

Shikamaru mengernyit bingung dengan ucapan ayahnya, kenapa ayahnya bisa mempersepsikan kalau salah satu petinggi Konoha akan melakukan pemberontakan dan orangnya adalah Tuan Danzou.

"P-pemberontakan … otousan, tidak bermaksud untuk—" ucapan Shikamaru terputus akibat ucapan ayahnya. Terlebih lagi, dia memanggil pria itu dengan sebutan ayahnya… walaupun juga dia menghormati pria itu sebagai salah satu bagian petinggi Konoha.

"Ya, kalau nyawa ayah dalam bahaya dan kemungkinan akan terbunuh. Jaga keluarga kita…," perintah pria itu.

"Ini berbahaya, otousan. Kalau aku bisa membantu, pasti nyawa otousan selamat. Tidak perlu harus memberitahu kepa—" ucap Shikamaru terputus-putus, "kenapa otousan tidak memberitahu pada Sasori-nii?"

Sang ayah tersenyum tipis, "biarlah. Lagipula tanpa diberitahupun, kakakmu pasti akan tahu. Kau tenang saja, dan satu permintaan khusus dari raja."

"Apa permintaannya?"

Wajah Shikamaru tampak kaku mendengar ucapan ayahnya yang terbilang tugas yang terberat baginya. Dan dirinya langsung pamit meninggalkan sang ayah yang akan menangis dalam hati apa yang akan diperbuatnya kali ini, karena membahayakan keluarga dan nyawanya sekaligus. Setelah mendapati anaknya keluar dari ruangannya, pria itu bergumam dalam hati, "semoga kalian baik-baik saja."

Tak berbeda dengan sang ayah. Shikamaru sendiri tengah dilanda kebingungan dengan dua tugas yang dibilang untuknya sendirian, apalagi ini menyangkut keselamatan kejayaan kerajaan Konoha tepatnya Uchiha. Walaupun dirinya seorang yang dikenal jenius dan memiliki kemampuan mengatur strategi yang akurat, tapi...

Dirinya pun melangkah pelan dan merapikan hakama miliknya tanpa sedikitpun menoleh ke arah depan. Dia masih memikirkan tugas pertama dari ayahnya. Hm, dia mempunyai ide untuk—

Dugg… brakk

Suara tabrakan yang nyaris keras dan membuat kedua manusia saling meringis kesakitan—kemudian mereka menatap masing-masing.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" ucap mereka serempak dengan menunjuk jari telunjuk mereka.

Dari raut kaget bercampur amarah menjadi—sumringah dari wajah gadis bersurai kuning pucat melihat orang yang di incarnya saat upacara peresmian samurai tepat di depan matanya.

"Benarkah kau Shikamaru?" tanyanya memastikan.

Dengan anggukan mantap seraya memegang kepalanya, Shikamaru tanpa sadar mendapat pelukan mendadak dari gadis yang ia tidak kenal. Dan sedetik dia sadar, dirinya melepas paksa gadis itu dari tubuhnya.

"Suminasen, siapa anda?" tanya Shikamaru menegakkan tubuhnya dan mengulur tangannya kepada gadis yang seenaknya memeluknya.

"Perkenalkan, aku Ino Uchiha. Putri dari Yang Mulia Fugaku Uchiha,"jawabnya dengan senyuman lembutnya.

Shikamaru terkesiap dan merendahkan badannya, "gomen, Ino-sama. hamba tidak bermaksud membentak anda. Maafkan saya."

"Ah, jangan merendahkan dirimu. Kita sesama bangsawan jadi tidak perlu sungkan padaku. Benarkah kau kakaknya Sakura? Kalau benar, dia temanku."

Pria berambut nanas ini menjawab dengan singkat sekaligus dalam hatinya berpikir dengan tugas terkhusus baginya secara langsung dari Yang Mulia Fugaku Uchiha yaitu—

"Ne, kalau begitu sebagai permintaan maaf menabrakmu tadi, boleh aku memanggilmu dengan—" Ino seraya merendahkan tubuhnya sama seperti Shikamaru, "—Shikamaru-kun?"

Shikamaru menghela napas dengan gadis yang menarik di iris Onyx-nya, "Hn, apapun permintaanmu, Yang Mulia, Ino-sama."

Seketika dua takdir saling menyatu tanpa peduli nantinya akan terjadi sesuatu yang menyedihkan atau membahagiakan. Yang jelas, hanya Kami-sama menentukan dan manusia yang menyikapinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tampak wajah yang dibilang bahagia dari sang pewaris tahta kerajaan Uchiha ketika sebuah permintaannya disetujui oleh sang Raja—Fugaku Uchiha. Ucap syukur dari dalam hatinya bahwa dirinya tidak akan menikahi gadis pilihan Obaasan-nya tapi pilihannya. Tapi, dia harus membawa orang yang dipilihnya menghadap ke depan Raja untuk memastikan apakah gadis itu pantas atau tidak mendampingi pangeran.

Berbeda dengan sang Pangeran dan Raja, di samping kanan Raja—tepatnya sang ibunda dari Fugaku Uchiha tengah bergelemutuk kesal dan menggenggam tangannya kuat-kuat, "awas kalian berdua tidak menuruti kemauanku—terutama kau cucuku … Sasuke Uchiha."

Juga sama seperti Ibu Suri, Tuan Danzou menatap tajam dua orang yang menjadi musuhnya kali ini. Sebernanya rencananya adalah menyuruh raja untuk menikahi pangeran dengan putrinya, tapi salah dugaan. Usulan yang terdengar konyol di pendengaran diterima antusias oleh Raja. Cih, umpatnya dalam hati.

"Seperti yang saya harapkan, besok kau harus membawa gadis pilihanmu ke sini," perintah sang Raja.

Sasuke tersenyum mantap, "ya, mengerti Yang Mulia. Gadis pilihanku ini adalah anak salah satu petinggi kerajaan kecuali Tuan Danzou."

Fugaku berpikir dengan gadis siapa yang berhasil mencuri hati anaknya, dan sekilas melirik masing-masing petinggi kemudian menemukan satu petinggi yang memiliki anak gadis seumuran dengan Shion. Ya, dia tersenyum dalam hati. "Ternyata anak dari dia…"

"Baiklah kalau begitu, silahkan keluar," perintah Fugaku. Dan sang pangeran—Sasuke Uchiha meninggalkan ruangan itu.

Setelah sang Pangeran keluar dari ruangannya, sang Raja langsung membahas masalah pembangunan jembatan. Tiba-tiba dia mendelik marah dengan tiga petinggi dari Tuan Danzou, Orochimaru dan Kakuzu. Karena seharusnya pembiayaan untuk para pekerja tidak sekecil apa yang telah di laporkan juga—para pekerja tidak diberi makan yang sesuai dengan gizi.

"Seharusnya pembiayaan ini tidak sekecil ini untuk para pekerja. Kemana biaya itu? Ayo jawab, Orochimaru?" ucap dengan nada tinggi mengarah ke pria berambut panjang yang tenang—mendengar pertanyaan sang raja.

"Biaya itu untuk membangun jembatan. Karena anggaran terlalu kecil, jadi kami memotong biaya makan para pekerja untuk mem—" ucapan Orochimaru dipotong kasar oleh Raja itu sendiri.

"Anggaran untuk membangun jembatan itu sudah sesuai bahkan akurat tetapi—kenapa kalian bertiga memotong biaya itu tanpa persetujuan denganku? Juga, apa yang telah di laporkan oleh Tuan Sabaku. Di sana, bahan makanan untuk pekerja dibilang sedikit," potong Fugaku. Tampak raut jengkel dari Raja dengan ketiga petinggi tersebut, seharusnya dia tidak menyetujui permintaan ibunda tapi apa boleh buat.

Raut kesal terpampang dari Danzou kepada salah satu petinggi bernama Sabaku no Shikaku, dengan senyum misteriusnya, "terlebih dulu kau akan mendapat akibatnya, Shikaku."

Hidan hanya menghela napas, "apa yang di laporkan itu tidak seperti yang terjadi di lapangan. Para pekerja semuanya baik-baik saja."

"Jika kau berkata demikian, aku pegang perkataanmu tapi—jika perkataanmu tidak benar maka hukuman telah menunggumu," ancam Fugaku.

"Ya, Yang Mulia," jawab Hidan.

"Baiklah, pertemuan ini selesai. Silahkan keluar dari ruangan ini segera," perintah tegas sang Raja langsung di sambut anggukan paham, kemudian seluruh petinggi keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan sang Raja dan Ibu Suri.

"Kenapa kau menyetujui usulan konyol, anakmu?" tanya Ibu Suri dengan tatapan tajam kepada Fugaku.

"Aku menyetujuinya karena dia sudah dewasa dan—tidak perlu lagi menyuruhnya menikah gadis yang dipilih oleh orang tua terlebih lagi gadis pilihan ibu. Dia harus memilih pilihan itu sendiri."

"Tapi mengapa kau menyetujui dia menikah dengan gadis pilihan ibu?"

Fugaku membalas tatapan yang lebih tajam kepada ibunya, "aku hanya menggertaknya supaya dia dapat memilih gadis pilihannya. Aku yakin gadis pilihannya ini betul-betul pantas mendampinginya. Dan, ibu jangan memaksa anakku menikah dengan gadis pilihan ibu."

"Terserah kau saja, Fugaku."

Ucapan ibunda membuat Fugaku agak bingung karena ibundanya memilih menyerah berdebat dengannya terlebih menyangkut dengan anaknya. Dia agaknya mencium aura tidak bersahabat dari ibunya kemudian dia berharap nyawa mereka kali ini selamat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Raut ketegangan terjadi dari kedua anak laki-laki tersulung Sabaku, salah satunya menatap tajam dengan sekelumit pertanyaan yang sulit dijawab satu persatu. Iris Onyx hanya menerima tatapan yang dibilang sangat mengerikan dari kakak tersulungnya.

"Be-benarkah kau mematai-matai Tuan Danzou, Shikamaru?" tanya pemilik Iris hazelnut seraya meletakkan sendok ke Chabudai.

"Hn, seperti apa yang kau katakan, nii-san," sahut Shikamaru.

Dengan rahang mengeras dan menstabilkan emosinya sejenak, "tugas itu sangat berat, Shikamaru. Seharusnya kau menyuruh kakakmu," ucap Sasori.

"Tidak, ini menyangkut keselamatan kerajaan Uchiha. Lagipula, aku akan meminta seseorang untuk membantuku," ucap mantap Shikamaru.

"Bagaimana kalau kaa-san dan Sakura tahu dengan hal ini?"

Seulas senyuman tipis menguar dari bibir Shikamaru, "tidak akan tahu, nii-san. Ini adalah tugas Negara, maka dari itu Sasori-nii tenang saja kalau nyawaku dalam bahaya, pesan otousan … jaga Sakura dan kaa san."

Seketika raut bersalah dari kakak tersulung Sabaku, dirinya bahkan tidak bisa membayangkan kalau nantinya adik kesayangannya akan bersimbah darah. Dia tidak dapat menyembunyikan emosi yang bergelut di dalam otaknya, seraya meminum Ocha, dia menggumamkan pelan kepada adik laki-lakinya.

"Shikamaru, bukan nyawamu saja dalam bahaya. Nii-san tahu kalau nyawa otousan dalam bahaya juga," gumam Sasori.

Shikamaru menautkan alisnya, "darimana nii-san tahu?"

"Seperti dugaan otousan, tanpa diberitahupun. Aku sudah mengetahuinya. Pesan niisan adalah jaga keselamatanmu dan ayah juga," seru Sasori.

"Nii-san juga, jaga dirimu juga Sakura dan Kaa san, kalau hal buruk terjadi," sahut Shikamaru.

Tanpa di sadari oleh keduanya, diluar Shoji. Pria kepala keluarga Sabaku terpaku mendengar perbincangan kedua anak kandungnya di dalam ruangan tersebut. Dia tahu ini kepentingan semua orang dan di sisi lain ini membahayakan keluarganya. Shikaku bergumam lirih dalam hati, "maafkan tousan…" dan dirinya pun berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruangan kedua anaknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"B-benarkah, Yang Mulia menyetujui usulmu, Sasuke?" tanya pemuda beriris Onyx seraya mencemplungkan batu di kolam kecil.

Sasuke mengangguk mantap kemudian memposisikan dirinya di samping kakak sepupunya, "entahlah, aku memberi kejutan padanya…"

Seketika dua iris yang sama saling menatap hingga suasana malam itu terasa diam dan sunyi. "Sasuke," panggil pemuda itu memalingkan mukanya dan menatap kembali kolam kecilnya.

"Hn, apa Itachi-nii?" sahut Sasuke.

Mereka pun saling bertatapan satu sama lain, lalu Sasuke paham pandangan Itachi dan bertanya sesuatu yang mungkin membuat bibir kakak sepupunya bungkam seribu kata.

"Nii-san… kau menyukai dia," gumam pelan Sasuke.

Seulas senyuman keluar dari bibir tipis Itachi, "maka dari itu ingat pesan kakak ya. Karena kau juga menyukainya sama halnya denganku." Kemudian dirinya meninggalkan Sasuke seorang diri.

Di lain pihak, Sasuke merasa ini berarti menyukai seseorang yang sama dengan kakak sepupunya. Tapi, kenapa kakak sepupunya memilih mengalah dan menyerahkan seseorang itu untuknya. Bukankah, dia pantas bahagia juga. Dirinya jugalah menjadi orang yang merebut kebahagiaan kakak sepupunya. Seharusnya kakak sepupunya pantas menjadi Raja menggantikan ayahnya juga menikah dengan gadis yang dicintainya.

Tapi, kenapa kakak sepupunya memilih untuk kalah dan menyerahkan semua di pundaknya. Kami-sama, pekik Sasuke dalam hati. Di lain pihak, dia juga harus memiliki kebahagiaan itu dan berjanji dalam hati. Lubuk hatinya terdalam untuk melindungi seseorang itu hingga nyawanya menjadi taruhan.

"Itachi-nii, walau alasanmu tak masuk akal. Aku akan menepati pesanmu itu, ini janji laki-laki."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suasana suram meliputi kedua orang yang menimbulkan aura tidak mengenakkan, walaupun sinar bulan menyusuri lekuk-lekuk jendela di ruangan tersebut. Sepasang ayah dan anak bersikukuh dengan argumen masing-masing tanpa peduli dengan malam semakin larut.

"Maksud ayah, Sasuke-ooji akan menikah dengan gadis pilihannya. Bukankah ayah sudah berjanji denganku, kalau aku akan menikah dengan Sasuke-ooji," dengus Shion.

Sang ayah menggeram kesal dengan anak tunggalnya, tak habis pikir kalau anaknya terobsesi dengan salah satu pangeran yang akan menggantikan tahta kerajaan.

"Ini diluar dugaan ayah, Shion," ucap singkat Danzou. Dia berpikir ulang dengan rencananya yang matang berhasil kacau akibat Sasuke Uchiha. Sigh, berarti dia harus mengandalkan Ibu Suri kembali. Tapi ini juga untuk kebahagiaan untuk anak perempuannya—di lain pikirannya berarti… menghancurkan kebahagiaan calon raja selanjutnya. Danzou menggeleng kepalanya dan menatap iris mata anaknya.

"Kau juga harus berusaha mendapat perhatian pangeranmu itu, ayah akan berusaha membuat kau menikah dengan Sasuke-ooji."

Shion mengangguk dan senyum berbinar-binar, "hontouka, otousan! Aku juga akan berusaha…"

Danzou segera memikirkan rencana itu… ya selintas ide cermelang menguasai otaknya. Dia harus melenyapkan sumber kebahagiaan pangeran Sasuke. Dirinya tersenyum licik dan kemungkinan meminta bantuan kepada Kakuzu dan Orochimaru.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kicauan burung menemani pagi yang cerah diiringi dengan sinar mentari yang menyuguhkan pemandangan menjadi sempurna. Suasana kediaman keluarga Sabaku terlihat ceria dengan ketiga anak dari keturunan Sabaku tengah berceloteh ria tanpa—memperdulikan sarapan mereka mendingin di chabudai, juga orang tua mereka dengan senyum bahagia menatap ketiga anaknya tampak ceria.

Sang kepala keluarga memilih sarapan pagi untuk keluarganya di balkon depan rumah mereka, sempat Sasori bingung yang secara tumben ayahnya mengajak sarapan di luar rumahnya. Di dalam hati kepala keluarga ini berharap senyum membahagiakan di keluarganya tidak akan lenyap, dan berakhir dengan kesedihan yang menyayat hati.

"Sudahlah, Sasori-nii. Aku mau sarapan, jangan menyuruhku menyiram bunga," seru Sakura menggembungkan pipinya.

Shikamaru yang disamping Sakura segera mencubit pipi adik perempuannya—hingga jitakan mendarat di kepalanya. "Apa-apaan juga, Shikamaru-nii seenak mencubit pipiku."

"Gomengomen, habis pipimu itu lucu sekali. Sayangkan kalau tidak dicubit lagi," sahut Sasori mencubit pipi adiknya.

"Kalian berdua bersengkokol mencubit pipiku, awas kalian…,"geram Sakura kembali mendaratkan kembali jitakan yang kuat di kepala kedua kakaknya.

Hingga tanpa sadar terusik dengan suara derap langkah kaki kuda dan sekumpulan manusia membawa kereta yang berukir lambang Uchiha. Segera seluruh anggota keluarga Sabaku yang menyadarinya langsung merendahkan tubuh mereka.

Pintu kereta itu terbuka dan keluar sosok gagah—sang pewaris tahta kerajaan Uchiha. Pangeran memberi perintah kepada keluarga Sabaku no Shikaku segera menegakkan kepalanya yang membuat kaget di semua pihak.

"Segera tegakkan kepala kalian, aku datang kesini mempunyai permintaan,"perintah Sasuke.

Shikaku menatap salah satu pangeran berdarah Uchiha dengan sekelumit pertanyaan yang datang dipikirannya. "Maksud kedatangan Yang Mulia, Sasuke-ooji datang kemari untuk apa?"

Sasuke menghela napas dan mengucapkan kalimat dengan satu tarikan napas, "kedatanganku ke sini adalah untuk membawa gadis anda ke kerajaan Uchiha."

Kepala keluarga Sabaku mengatupkan mulutnya dan sadar dengan usulan pangeran Sasuke kepada sang raja. Ternyata putrinya yang menjadi pilihannya… tapi berbeda dengan ibunda—istri dari Shikaku, dia tidak percaya kalau calon raja berikutnya meminang putrinya berarti pangeran ini sudah bertemu sebelumnya. Dirinya segera memberikan tatapan yang sulit diartikan kepada si sulung Sabaku.

Lain hal dengan Sakura, dirinya bahkan tidak bis mengungkapkan kata-kata untuk mengekpresikan apa yang telah terjadi. Sebuah keinginan pangeran Sasuke ternyata lebih cepat dikabulkan oleh Yang Mulia Raja.

"Maksud Yang Mulia…, meminang putriku begitu."

"Ya," jawab singkat Sasuke.

"Wakaata, silahkan hamba mengizinkan Yang Mulia membawa putri hamba," ucap Shikaku patuh.

"Arigatou. Lalu—jangan bersikap kaku padaku karena kalian telah menjadi bagian dari keluarga kerajaan Uchiha," perintah Sasuke.

Shikaku memberi perintah kepada anak perempuan bungsunya untuk ikut bersama rombongan kerajaan Uchiha. Sakura mengangguk paham dan segera berdiri dan memberi salam perpisahan kepada keluarganya dengan senyuman lembut.

Sasori bahkan harus menjawab pertanyaan yang akan menghujani otaknya dari kaa san nantinya, begitu pula dengan Shikamaru, "sepertinya tugasku dimulai sekarang."

Sasuke mengulurkan tangannya kepada Sakura yang segera disambut patuh dengan gadis bersurai muda itu dan, kemudian mereka berdua masuk ke dalam kereta itu dan meninggalkan kediaman keluarga Sabaku.

Di kejauhan, sang ibunda dari ketiga anaknya. "Ibu berharap kalian baik-baik saja, semoga kami sama melindungi kebahagiaan kalian berdua" lirihnya.

Rin tahu walau dia tidak memiliki kemampuan yang sama dengan anak bungsunya, tapi merasakan aura yang buruk yang akan mengubah bahkan menghancurkan kebahagiaan itu sendiri. Dirinya harus meminta salah satu sahabatnya untuk memberi perlindungan kepada kedua insan berbeda itu—karena sahabatnya memiliki kemampuan yang sama dengan anaknya.

"Kami-sama, lindungi mereka berdua…"

.

.

.

.

.

.

Tidak selamanya semua akan berjalan lancar

Pasti akan rintangan yang mengujinya

Semoga akan baik-baik saja

Mungkin

.

.

TBC


Tsurugi De Lelouch

06 Agust 2012, at 13.03 p.m