.

The Alpha's Mate

.

.

Bagian 2

.

main pair: Suho/Lay

Disclaimer: Karakter yang digunakan bukan milik saya.

warning: wolf!au, omega!verse, boyslove, menye, minim dialog, MPREG

Naik ke rate M

.

Notes: Btw aku gak jadi bikin ini drabble wkwk, maaf ya plin plan. Jadi ini berlanjut ya, aku dah nemu plotnya ;") semoga tetep suka.

Oh ya ini ada sedikit glosarium;

The Alpha: posisi tertinggi dari hierarki serigala. Alpha dari para alpha (yang memimpin pack) Memiliki tubh serigala tinggi besar, bermata merah, dan yang paling kuat. Biasanya mereka sangat dominan, haus kuasa, dan tidak mau kalah. The Alpha selalu laki-laki. Mate the alpha bisa omega atau beta.

Alpha: posisi tepat dibawah the Alpha. Sifat mereka hampir sama seperti The Alpha, namun mereka akan tunduk dengan perintah The Alpha. Alpha bisa laki-laki bisa perempuan. Mate mereka bisa omega/beta. Bola mata mereka berwarna abu-abu.

Beta: posisi di bawah Alpha, mereka biasanya jadi tangan kanan Alpha. Pintar dalam menyusun strategi penyerangan, biasanya bertugas dalam perburuan, lebih sabar ketimbang the alpha/alpha. Bisa laki-laki dan perempuan. Mate mereka bisa omega/the alpha/alpha. Beta perempuan bisa mengandung, namun tidak untuk beta laki-laki. Bola mata serigala mereka berwarna biru terang.

Omega: posisi paling lemah. Mereka biasanya submisif, lembut, dan penurut. Mereka paling sering diremehkan oleh posisi lain karena kedudukan mereka yang lemah. Kelebihan mereka adalah mereka bisa mengandung, bisa laki-laki atau perempuan. Bola mata serigala mereka berwarna keemasan.

Wolf hybrid: manusia yang bisa berubah wujud ke serigala.

Wolf pack: sekumpulan/kawanan pack, biasanya ada satu Alpha yang menjadi pemimpin.

Heat: masa dimana sang omega akhirnya memasuki masa subur (bisa dibuahi). Biasanya muncul saat omega telah mencapai umur 17 tahun, namun ada beberapa omega yang mengalami heat terlambat, namun kehadiran pasangan mereka akan mendorong hormon mereka untuk akhirnya mengalami heat. Kayak haid sih ya XD wkwkwk.

Mate: pasangan sejati wolf. Hanya satu seumur hidup.

Soulmates: sepasang mates. Saat bertemu, mereka akan merasakan perasaan jatuh cinta secara langsung.

.

.

.

ooOOoo

Yixing tahu seharusnya ia sarapan di kamar saja hari ini.

Meskipun ia dan dan Joonmyun mendapat perlakuan istimewa dari ibu dan anggota packnya yang lain. Menanyainya ini-itu dengan nada penuh perhatian dan kelembutan, menyiapkan piring porselen untuknya dan menyuguhkan menu sarapan kesukaan Yixing dengan telaten. Tidak pernah sebelumnya ia diperlakukan bak raja seperti ini.

Ini adalah kali yang pertama, dan sejujurnya Yixing menyukainya.

Namun ia membenci sorot menyebalkan yang anggota packnya lemparkan padanya, sepanjang ia berjalan dari kamar menuju kesini. Mungkin diam-diam mereka menyadari cara jalannya yang sedikit aneh—well, pincang, karena damn—ini masih sakit, tahu. Atau mungkin mereka melihat leher Yixing yang hampir tujuh persen tertutupi oleh bercak ungu hasil karya Joonmyeon semalam.

Yixing bisa merasakan sensasi panas yang masih terasa membakar di kulit lehernya, tempat dimana Joonmyeon menyematkan tanda kepemilikan resminya atas Yixing disana.

Tanda itu menjadi pengingat Yixing akan kegiatan mereka semalam suntuk di atas ranjang. Ia bahkan bisa mengingat detail demi detail saat Joonmyeon melesakan taringnya di perpotongan lehernya, rasa sakit yang kemudian berubah menjadi nikmat adiktif yang luar biasa.

Meski Joonmyun bersikap manis, tapi ketika berada di atas ranjang, sisi The Alpha-nya langsung menggedor keluar.

Posesif, dominan, tak mau dikalahkan.

Mencengkram kedua tangan Yixing di sisi kepala, menggeram penuh kuasa di atas tubuhnya.

Ia dengan beringas membubuhkan gigitan- gigitan yang menuntut kepemilikan, menyapukan lidahnya di sepanjang kulit tubuh Yixing yang terekspos udara malam. Bergerak dengan penuh kekuatan, memuaskan kumpulan kenikmatan Yixing di dalam sana.

Walaupun Joonmyun melakukan permainan kasar, tubuh Yixing justru berenang dalam euforia.

Entahlah, ia merasa bahwa dirinya semacam freak yang sebenarnya punya dirty kink yang terpendam—ah, shit.

Yixing menggelengkan kepala cepat-cepat untuk menghilangkan fantasi terkutuk yang bisa-bisanya mampir di kepalanya. Satu tangannya bergerak ke lehernya, menyentuh tanda kepemilikan itu yang telah berubah menjadi sebuah tato, berbentuk unicorn dengan tanduk yang tampak layaknya tetesan air.

Yixing memutar akal, berusaha menutupi lehernya dengan melingkarkan syal disana, berkata dengan lantang bahwa ia merasa kedinginan jadi ia mengenakannya. Tapi tidak akan ada orang bodoh yang percaya alasannya.

Ini adalah bulan Juni, musim panas. Terik matahari sedang panas-panasnya menyengat. Orang macam apa yang mengenakan syal di musim panas yang gerah seperti ini selain Yixing seorang, huh?

Ia tak bisa menahan delikan tidak terima yang ia layangkan pada orang-orang di sepanjang meja makan-yang masih saja betah menggodanya dengan kerlingan mereka, terutama para omega yang berusaha menyembunyikan senyum dan kikikan geli mereka-bahkan Luhan dan Yifan tak ketinggalan ambil bagian.

Kakaknya dan mate-nya itu sedari tadi tertawa puas di samping Yixing tanpa sungkan, sedang para alpha lainnya menepuk-nepuk bangga punggung Joonmyun yang mendudukan diri di sisinya yang lain. Alpha-nya itu tidak memberi tanggapan berarti. Ia hanya tertawa kecil digoda seperti itu.

Yixing menekuk dahi dan menggertakan gigi. Menyadari ekspresi tidak sukanya, Joonmyun hanya memberinya seringai kecil di sudut bibir. Kala ia menolah pada mate-nya itu, Joonmyun mengedipkan mata padanya, sebelum kembali berbicara dengan anggota keluarganya yang lain.

Yixing memutar mata, bibirnya berkedut karena senyum yang ingin mendesak keluar. Namun ia telan bulat-bulat senyum itu, memasukan gumpalan nasi itu ke mulutnya dengan sumpit yang tergenggam di tangan kanannya, sementara ia merutuki dirinya sendiri karena begitu cepat luluh dengan perlakuan si The Alpha kepadanya.

Ia mengabaikan percakapan yang terlempar di sepanjang meja makan. Ayahnya, Joonmyun dan para alpha yang lain membahas topik yang sama, politik. Sedang para omega sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri, entah mereka membahas apa, Yixing tidak terlalu memperhatikan.

"Kapan kau akan membawa Yixing kembali ke Korea, Joonmyun?"

Suara Ayahnya yang mengalun ringan itu berhasil merebut atensi seluruh meja, tak terkecuali Yixing yang langsung membekukan segala pergerakan yang dibuatnya. Ayahnya tadi bilang apa-

"Ke korea?"

Bukan. Bukan Yixing yang mengajukan pertanyaan itu, melainkan Luhan.

"Tentu saja," Ayahnya mengangguk cepat, sama sekali tak menyadari jika putra keduanya berbalik mengenggam dua gagang sumpitnya lebih erat. "Pack Joonmyun ada di Korea, Luhan. Kau tentu menyadari bahwa Joonmyeon berasal dari pack seberang. Jadi mau tidak mau Yixing harus pergi ke Korea mengikuti Joonmyun—"

"—dan meninggalkan kita?" Luhan berseru, tampak marah.

"Tentu saja," kata Ayahnya, yang membuat hati Yixing dengan bodohnya terasa terpelintir ngilu,

"Yixing harus pergi."

Kalimat Ayahnya itu seolah mengusirnya. Yixing justru merasa... Ayahnya bahagia padanya bukan hanya karena ia menjadi mate seorang The Alpha dan berhasil mengangkat derajat keluarga dan packnya, tapi karena akhirnya Yixing bisa segera angkat kaki dari sini.

Tidak lagi menjadi beban bagi orangtuanya.

Tidak lagi menjadi malu bagi keluarganya.

Yixing tersenyum pahit, meletakannya sumpitnya di meja tanpa suara. Tidak ada yang menyadari pergerakannya, lagipula. Tangan kanannya berpindah ke atas lututnya, mengepal—menahan segala gejolak emosi dalam dada.

"Kenapa tidak Joonmyun saja yang bergabung dengan pack kita, Baba? Seperti Yifan dulu," Luhan masih bersikeras, tampak tidak rela berpisah dengan adiknya. Oh, Luhan yang polos.

Ayahnya di seberang meja tertawa rendah, "Kau tidak lupa kalau Joonmyun adalah seorang The Alpha kan, Luhan? Ia tidak mungkin meninggalkan pack aslinya dan bergabung dengan pack kita. Joonmyun adalah pemimpin mereka disana. Kalau Joonmyun disini, siapa yang akan memimpin dan menjaga mereka?"

Yixing baru menyadarinya.

Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan ia harus meninggalkan packnya dimana ia tumbuh besar di dalamnya.

Meninggalkan teman-temannya, sanak saudara, Ayah, Ibu, Luhan, Yifan, yang selalu melontarkan ejekan ejekan untuk menggodanya bersama Luhan.

Realisasi baru menghantamnya, Joonmyun memang bukan berasal dari sekitar sini. Tentu saja, terlihat dari nama dan aksen chinanya yang agak kaku. Yixing tahu, ia tidak tinggal di Changsa atau China sekalipun.

Ia tinggal di Korea. Joonmyun pasti datang ke China karena diundang oleh Alpha pack-nya hingga Yixing bisa menemukannya di acara ulangtahun Luhan.

Namun Yixing tidak yakin alasan kedatangan Joonmyun hanya untuk menghadiri pesta semata, pasti ada sesuatu yang lain. Mungkin semacam urusan bisnis diantara para alpha, entahlah Yixing tidak pernah mengerti.

Yixing tahu jika Joonmyun adalah pemimpin dari pack seberang, dari negara orang. Jika Joonmyun berasal dari sini, pasti mereka akan bertemu lebih awal.

Seorang wolf hybrid memang memiliki kemampuan untuk bisa merasakan dimana mate mereka berada. Hidung mereka mampu mencium aroma memabukan mate mereka jika berada dalam jarak puluhan meter.

Namun berbeda jika jaraknya terlalu jauh, bahkan jika lain negara, mereka tidak bisa melakukannya. Ada keterbatasan dari indra penciuman mereka yang sensitif.

Menjadi mate dari The Alpha,mengharuskannya-memaksanya untuk mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Termasuk meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan pack asli Joonmyun.

Bukan masalah fundamental yang ia pikirkan jika ia harus berimigrasi ke Korea, Yixing cukup yakin dengan kemampuannya berbahasa Korea, karena ayahnya menyekolahkan Luhan dan dirinya di sekolah akreditasi terbaik yang memberi tambahan mata pelajaran bahasa asing. Yang ia benci adalah kenyataan jika ia pindah ke Korea, maka ia harus meninggalkan kehidupannya disini.

Andai saja ia bermating dengan Alpha biasa, maka ia tidak harus pergi. Alphanya itu bisa bergabung dengan pack Yixing jika pasangannya itu menginginkannya.

Tapi beginilah nasibnya, menjadi mate The Alpha.

Ia tidak punya pilihan lain.

Bahu Yixing sedikit tersentak saat ia merasakan kehangatan menjalar di tangannya yang ia letakan di atas lutut. Yixing menoleh pada sang pemilik tangan—Joonmyun memberinya tatapan penuh simpatik, tangannya di bawah sana bergerak, memberikan usapan menenangkan di atas permukaan kulitnya, sementara Baba dan Mamanya masih saja berdebat dengan Luhan mengenai kepindahannya.

Yixing menunduk.

Ia menutup matanya selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk melepas genggaman tangan Joonmyun dan berdiri dari kursinya hingga menimbulkan deritan nyaring. Semua kepala langsung tertoleh ke arahnya, dan keheningan melingkupi ruangan itu detik itu juga.

Yixing merasa tenggorokannya tercekik. Semua beban ini, dan seluruh pasang mata yang menatapnya dengan sorot kaget, termasuk Joonmyun disampingnya-membuat ia sukar bicara. Ia tidak pernah merasa nyaman menjadi pusat perhatian, tidak akan pernah, ia rasa.

"Aku..." Yixing memaksa suaranya keluar dan tidak bergetar. Ia tidak boleh terlalu menunjukan kelemahannya. Tidak boleh.

"Aku butuh waktu sendiri," ucapnya final.

Yixing berbalik pergi, menolak untuk melihat ekpresi orang-orang disekitarnya atas deklarasinya.

Terutama Joonmyun.

Ia belum sanggup.

.

Ia tidak bisa.

ooOOoo

Yixing membiarkan kakinya berlari, sejauh yang ia bisa.

Ia membiarkan desir dinginnya angin yang mengenai seluruh tubuhnya, seluruh bulunya yang putih bak salju. Keempat kakinya bergerak cekatan dan lihai, menghindari akar-akar kayu besar yang menghalang jalan. Suara gemerisik dedaunan yang bergesekan menjadi nyanyian dan teman bagi dirinya.

Yixing berlari dan berlari, hingga akhirnya kedua iris emasnya berhasil menangkap hamparan danau yang membentang di depan mata, riaknya bergemilau, begitu indah bagai laksana surgawi.

Ia berhasil mencapai danau, membiarkan paru-parunya meraup udara sebanyak mungkin untuk mensubtitusi nafasnya yang patah-patah. Yixing mendekat ke tepian, menunduk ke permukaan air—mengamati bagaimana pantulan dirinya dalam wujud serigala, dua kelereng keemasan yang berkilau, kepala yang dipenuhi bulu berwarna putih, dua buah telinga yang berdiri tegak, moncong yang runcing dengan hidung kecil berwarna hitam.

Kedua kaki belakangnya membawanya bergerak mundur menjauhi air, kemudian ia mengganti wujud serigalanya kembali ke wujud manusia. Menyisakan dirinya, tanpa sehelai benang satu pun sebagai pelindung, terduduk di tepi danau dengan kedua tangan mendekap lutut.

Yixing biarkan pikirannya melayang. Danau ini menyimpan banyak kenangan, ia tahu. Ia membayangkan masa kecilnya dengan Luhan yang menyenangkan, bermain sepuas mereka dari pagi hingga petang.

Orangtua mereka tidak selalu berada di sisinya dan Luhan, jadi hubungan antar kakak adik itu mengerat dengan sendirinya.

Sekelebat memorinya, Luhan dan segala rasa sayangnya menghampirinya. Saat Yixing tertawa, saat Yixing menangis, saat Yixing berjanji padanya bahwa mereka akan selalu bersama.

Luhan.

Luhan, kakaknya yang ia sayangi.

Luhan, kakaknya satu-satunya.

Kakak terbaik yang pernah ada.

Luhan, kakaknya yang sebentar lagi ia akan tinggalkan—

Sebelum ia sempat bernostalgia lebih lanjut, telinganya yang sensitif menangkap gemerisik suara semak-semak yang bergeser di belakangnya.

Tubuh Yixing menegang, ia sudah bersiap untuk mengubah kembali wujudnya menjadi serigala-saat serigala berbulu hitam yang tinggi besar itu muncul yang muncul dari semak-semak. Matanya merah terang.

Yixing kenal betul iris itu.

Iris yang membuat tubuhnya serasa digerayangi kupu-kupu, iris yang membuat ia merasa aman dan nyaman, yang sorotnya tidak pernah berubah. Hangat dan pengertian. Begitu kontras dengan kelereng berwarna merah menyala yang menghias matanya.

Serigala itu mendekati Yixing, melarikan ujung hidungnya ke telinga dan leher Yixing, mengusak wajahnya disana dan sesekali memberinya jilatan dengan lidahnya, membuat Yixing mau tidak mau tersenyum tipis. Oh tentu saja ia tak akan membiarkan Yixing sendirian disini. Seorang alpha terlalu posesif untuk memberiarkan omega mereka berkeliaran seorang diri.

Tubuh besar serigala itu menjatuhkan diri, meringkuk di belakangnya, mengurung Yixing dalam dekap tubuhnya yang besar dan penuh bulu-hangat, sehingga punggungnya bisa beristirahat di perut serigala itu. Serigala hitam itu mengeluarkan suara deruan rendah di dekat telinganya, suaranya berat dan mengirim sensasi menggelitik di perut Yixing.

Ia menoleh, tangannya terangkat untuk mengusap sisi wajah sang serigala besar. Naik ke kedua telinga runcingnya lalu turun ke rahangnya, menggosoknya dengan telapak tangannya, lembut dan hati-hati, membiarkan kedua kelopak mata wolf itu menutup dan dua telinganya berkedut-kedut, menandakan bahwa ia menyukai perlakuan Yixing padanya.

"Aku baik-baik saja, Joonmyun." Suara Yixing memecah keheningan nyaman yang melingkupi diri mereka.

Joonmyun membuka mata dan mengeluarkan suara deruan yang seolah tidak yakin. Ia merasakan Joonmyun bergerak dari posisinya, lantas berpindah ke samping Yixing, membuat Yixing ikut menegakan duduknya. Serigala besar itu berubah menjadi sosok manusia dalam sepersekian detik. Sosok manusia yang kemarin malam menghangatkan ranjangnya, berbagi malam yang panas dengannya.

"Aku benci aku harus melihatmu sedih," aku Joonmyun, ia kembali mengenggam tangan Yixing kuat-kuat. "Kau tidak harus-"

Yixing menempelkan jarinya ke bibir lelaki itu, "Aku tidak mau mendengarmu mengatakannya,"

"Yixing..."

Yixing menggeleng, tak mau tahu. Ia dengan tubuh polosnya, beringsut mendekat ke sisi tubuh Joonmyun yang sama polosnya, kemudian meletakan kepalanya ke bahu tegak sang The alpha walau sempat terselip keraguan di dalamnya.

"Kau terlalu baik padaku,"

"Kau mate-ku,"

"Tapi kau adalah The Alpha, Joonmyun." kilah Yixing, tegas.

"Lalu?" Lengannya melingkar di tubuh Yixing, tangannya mengambil beberapa helai rambut yixing, memainkan baby hair yang berada di tengkuknya, "Bukan berarti aku harus semena-mena padamu kan?" Ia menarik diri dan menangkup pipi omega itu, sorotnya tenang. Yixing jadi ingin menangis karenanya.

"Aku sudah menantikan momen ini Yixing. Menemukan mate-ku yang selama ini aku cari. Aku berjanji aku akan membuatmu bahagia, selama yang aku bisa," Ia mengambil jeda,

"Meskipun menjadi mate The Alpha bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi aku berjanji aku akan berusaha untuk tidak membuat pekerjaan itu menjadi lebih berat. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa. Walau kau harus tahu bahwa aku mungkin saja melakukannya, membuatmu sedih atau kecewa karena posisiku ini, dan aku minta maaf soal itu."

Hatinya ngilu, seolah ditusuk oleh belati tak sakat mata mendengar Joonmyun meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Oh ayolah, menjadi The Alpha bukanlah sebuah kesalahan, memang.

Joonmyun adalah The Alpha, itu takdirnya. Joonmyun juga tidak bisa memilih untuk tidak memiliki mate pengecut seperti Yixing, bukan? Yixing membenci dirinya karena ia begitu lemah. Begitu takut.

"Bukan salahmu, sungguh. Berhentilah menyalahkan dirimu—"

"Kau juga harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Yixing." Ia menatap Yixing dengan sorot tegas, tak bisa membuat siapapun berpaling dari tatapan intimidasinya. Menunjukan aura The Alpha, aura aslinya.

Dengan sekali tatap seolah Joonmyun bisa membacanya seperti sebuah buku yang terbuka, seolah ia bisa membaca pikirannya. Yixing tahu jika ikatan antara soulmates akan menguat setelah proses klaim seorang alpha diberikan ke leher sang Omega.

Mereka bisa merasakan perasaan satu sama lain, ketika mereka senang, sedih, gelisah, sampai rasa sakit karena luka fisik di tubuh mate mereka. Bahkan kini Yixing bisa merasakan tanda klaim Joonmyun di kulitnya kembali berdenyut, panas karena efek dominan Joonmyun yang menguar kuat.

Panas yang membakar itu tak bertahan lama setelah Jonmyun membawa wajahnya mendekat hingga dahinya bersentuhan dengan lelaki itu. "Kau, Zhang Yixing," lirihnya, nafasnya yang segar menentramkan jiwa, "Kau adalah orang yang dipilihkan alam untukku. Mereka mengikat kita bukan tanpa alasan didalamnya, aku yakin. Mereka memilihmu untukku karena kau memang orang yang tepat," ia berkata,

"Aku tahu kau tidak siap. Tapi aku berjanji aku akan selalu menjagamu, karena kau mate ku. And we are meant to be together." Ia berbisik di telinga lelaki itu dengan suaranya yang rendah. Pria itu menarik diri, mengukir senyum. "Jadi...jangan takut oke?"

Yixing bisa merasakan jantungnya menggedor tulang rusuknya. Ia mendongakan kepalanya, bertukar pandang dengan lelaki itu. Ingin ia hanyut dalam manik jelaga yang tak punya dasar itu. Yixing menghirup nafas panjang,

"Aku akan ikut denganmu,"

Joonmyun tampak terkejut, "Yixing, kau tidak—"

Ia menggeleng, "Aku ingin belajar menerima takdirku Joonmyun. Aku... aku akan berusaha untuk tidak lari lagi," meski meninggalkan Luhan tidaklah mudah. Meski meninggalkan keluarga dan pack tempat ia tumbuh besar adalah hal yang sulit.

Joonmyun menatapnya selama beberapa detik. Yixing tak mengatakan apapun.

Sampai lelaki itu akhirnya memeluknya, mendesahkan nafas panjang. Ia bisa merasakan perasaan bangga luar biasa yang dirasakan pria itu dari dekapnya.

"Aku mencintaimu,"

Yixing tidak membalasnya. Ia hanya bisa menarik kepalanya membenturkan bibirnya dengan lelaki itu, menciumnya.

.

Maafkan aku.

Maafkan aku belum bisa mengatakannya, Joonmyun.

ooOOoo

Sedih memang, meninggalkan orang orang yang selama ini ada dan tumbuh bersamanya.

Ayahnya masih memeluknya dengan rasa bangga, Ibunya memeluk dan menciumnya dengan rasa haru tak terkira, begitu pula dengan anggota packnya yang lain. Luhan bahkan hampir tak melepaskan pelukannya saat sesi berpamitan, tawa dan tangis pun tak terelakan diantara kedua saudara itu. Ia memeluk Yifan yang terakhir, mate kakaknya itu tampak sedih, tidak seperti kesehariannya yang menampilkan raut bitch face atau seringai karena berhasil mengerjai Yixing. Yixing semakin tak kuasa meninggalkan mereka semua, sejujurnya. Ia pasti akan merindukan semua ini.

"Jangan berkerut-kerut seperti itu," katanya pada lelaki tinggi itu, "Aku tahu kau sedih karena kau tidak akan bisa membully ku lagi kan?" tanyanya dengan nada jenaka.

Yifan mengusak-usak rambutnya, memutar mata kemudian. "Oh yeah, tentu saja." Ia menarik Yixing ke pelukannya dengan tiba-tiba, memeluknya erat. "Jaga dirimu baik-baik, little brother."

Yixing menahan diri untuk tidak menangis, tidak. Luhan sudah terlalu banyak menangis untuk dirinya, bahkan kakaknya itu masih tersengguk-sengguk keras di belakang Yifan. "Aku berjanji," ia berbisik di dada pria itu, sebelum menarik diri, tersenyum lebar.

"Jaga kakakku juga, ya?"

Yifan mengangguk, tanpa keraguan, satu tangannya kembali mengusak surai Yixing hingga membuatnya menjadi sarang burung, menghiraukan protes dari yang bersangkutan, "Yeah, dan kau, cepat berikan banyak keponakan untukku, oke?"

Yixing meresponnya dengan meninju perut pria itu, mengabaikan pekikan terkejut Yifan. "Harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Kau kan yang lebih tua," Ia berbalik pada kakaknya dan berseru, "Lu-ge, semoga kau tahan lama-lama bersamanya ya,"

Kakaknya itu hanya mengangguk-angguk, tidak membalas apapun selain sesenggukan karena terlalu banyak meneteskan air mata. Yifan memeluk pinggang mate-nya dan menariknya mendekat ke sisinya. Yixing tersenyum simpul melihat pemandangan itu. Ia tahu kakaknya akan baik-baik saja selama Yifan ada di sampingnya.

Yixing melambaikan tangan pada anggota packnya, terutama pada Ayah, Ibu, Luhan dan Yifan. Ia masuk ke dalam mobil jeep yang telah terparkir di depan rumah, dimana Joonmyun telah menunggunya di kursi belakang, sengaja memberinya momen sendiri bersama keluarga dan anggota pack-nya. Salah satu anggota packnya ada di kursi kemudi, Huan gege, yang dengan baik hati menawarkan diri untuk mengantar mereka ke bandara.

Detik begitu mobil bergerak pergi, Joonmyun meraih kepalanya dan membawanya ke bahunya, berkata, "Bersandarlah, aku tahu kau membutuhkannya."

Yixing menutup mata dan menghela nafas, menyukai bagaimana aroma citrus Joonmyun memanjakan penciumannya.

"Kau baik-baik saja?" Joonmyun menggumam di telinganya, Yixing mengangguk-angguk dan menegakan tubuh.

Joonmyun tersenyum, menyandarkan punggungnya dengan helaan nafas panjang.

"Kau tahu, Aku bersumpah, Luhan sedari tadi menatapku seolah ia ingin mencekikku detik itu juga," ia berucap, Yixing tentu menyadari intensinya yang ingin mengubah suasana menjadi lebih ringan.

Yixing memberinya kekehan kecil, "Ya, terkadang ia memang suka lupa kalau dia itu omega dan bukan alpha,"

"Dia pasti sangat menyayangimu, ya?"

Yixing tersenyum, sedih, "Kami sangat dekat saat kami masih anak-anak,"

Joonmyun yang menyadari wajah sendu Yixing, mengulurkan tangan agar wajah Yixing menghadap padanya, membiarkannya mengagumi setiap detail parasnya.

"Kau tidak perlu takut, ada aku. Di sampingmu,"

Kepala Yixing terangguk-angguk, perlahan dengan telapak tangan Joonmyun masih menempel di pipinya.

"Kau akan mendapat keluarga baru disana,"

Yixing mengulas senyum, yang dibalas oleh Joonmyun kemudian.

"Atau kita bisa juga membuat keluarga sendiri," Senyum yang dilengkungkan Joonmyun berubah jahil,

"Aku, kau, dan bayi-bayi kita kelak,"

Yixing membuang muka, tidak sebelum ia menghadiahi sikutan di rusuk Joonmyeon untuk menutupi wajahnya yang memerah padam.

Damn.

Hanya butuh beberapa hari bagi Kim Joonmyun untuk mulai menjungkar balikan perasaannya.

.

.

.

Mereka akhirnya mendarat di tanah Korea. Hal pertama yang dilakukan Yixing ketika kakinya menapak aspal bandara adalah mengirup nafas dalam-dalam, merasakan sensasi udara tanah negeri gingseng tempatnya berpijak kini.

Walau udara disini tak ada beda, tapi Yixing tahu ada sesuatu yang tak sama. Bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa menandingi perasaan nyaman ketika berada di negeri sendiri.

Setelah mengurus administrasi dan ssgala tetek bengeknya, mereka keluar banda. Yixing agak terkejut saat sebuah mobil ternyata sudah terparkir cantik, menunggu kedatangan mereka dengan seorang pemuda berkulit tan yang memberi keduanya senyum hangat. Seorang alpha.

"Joonmyun-hyung!" pemuda itu memeluk si The Alpha dengan erat, yang dibalas Joonmyun dengan kekehan ringan.

"Hai, Jongin. Kau tidak perlu repot-repot menjemputku, kau tahu. Aku tidak ingin merepotkanmu,"

Yixing sedikit terkejut dengan interaksi antara mate-nya dengan anggota pack-nya yang begitu hangat tanpa sedikitpun formalitas. Joonmyun begitu terbuka, tidak menuntut hormat seperti The Alpha kebanyakan.

"Oh ayolah, hyung. Kau berlebihan," Jongin mengibaskan tangan tak acuh. Ia berbalik pada Yixing, tersenyum sama ramahnya dengan tangan terulur. "Senang bertemu denganmu. Aku Kim Jongin,"

"Dia adalah anggota pack-ku, Yixing. Aku biasanya mempercayainya untuk menjaga pack saat aku tidak disini," tambah Joonmyun di sisinya.

Yixing membalas uluran tangan itu dan tersenyum ala kadarnya. Sungguh, ia payah dan ia selalu canggung saat bertemu orang asing untuk kali pertama. "Aku Zhang Yixing." Ujarnya dengan bahasa korea, walau aksen Chinanya masih melekat disana.

Jongin memberinya senyum pamungkas, membukakan pintu mobil untuk Yixing dan Joonmyun, berkata. "Mari kita pulang,"

Pulang.

Ya, ke rumah Joonmyun.

Rumah barunya.

ooOOoo

Yixing tidak menduga jika rumah tempat pack Joonmyun bernaung benar-benar jauh dari pusat kota, seperti yang alpha-nya itu katakan di dalam mobil.

Mobil mereka melaju dalam kecepatan sedang menuju ke perbatasan kota paling ujung. Rumah-rumah warga yang bejajar menjadi semakin jarang dan jarang, terutama ketika mereka semakin mengarah ke pegunungan. Ketika ia menolehkan kepala ke sepanjang sisi, yang bisa dilihatnya hanyalah pohon-pohon hijau yang tinggi menjulang dengan jalan sempit yang sepertinya menjadi satu-satunya penghubung di daerah ini.

Sebenarnya masuk akal juga, mereka adalah sekumpulan wolf lagipula. Kawanan serigala tentu butuh hutan untuk berburu dan berlari saat bulan purnama. Tentunya tidak aman juga bagi bangsa mereka, bangsa wolf hybrid, jika berada terlalu dekat dengan kawasan manusia. Sebisa mungkin menjaga eksistensi mereka jauh dari jangkauan manusia yang suka bersikap tamak.

Sepanjang perjalanan yang ditemani oleh rindangnya tumbuhan dan pohon-pohon yang berjajar, Yixing melihat sungai dengan air jernihnya yang membentang, mengalir tenang dengan bebatuan di tengahnya, menemani suara gemerisik dedaunan ketika angin berhembus kencang. Benar-benar pemandangan yang indah. Melihat luasnya kawasan ini, Yixing ragu jika hanya pack serigala Joonmyun yang bermukim disini.

"Ada berapa pack yang tinggal di kawasan ini selain pack-mu?" Yixing menoleh pada mate-nya, bertanya dengan nada penasaran.

Joonmyun tersenyum, "Ada tiga pack lain," ia memulai, "Pack Leo di bagian selatan, pack Jonghyun yang tinggal di dekat air terjun, dan pack Namjoon yang berada di bawah bukit,"

"Dan kau pemimpin mereka semua?" Yixing menganga, takjub, "Pemimpin dari para alpha ketiga pack itu?"

"Aku lebih suka disebut sebagai rekan, ketimbang pemimpin," balasnya dengan senyum yang berubah agak menipis, "Mereka—Jonghyun, Leo dan Namjoon, adalah orang-orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama memastikan kawasan ini selalu aman untuk pack-pack kami."

Yixing mengamati alpha-nya itu, jujur agak tertegun. Joonmyun benar-benar berbeda dari apa yang ia pikirkan dan ia baca dari literatur-literatur mengenai sosok The Alpha yang perkasa.

The Alpha yang merupakan pemimpin dari para Alpha pack di kawasan ini. Mereka biasanya digambarkan sebagai orang yang haus akan kekuasaan dan gila hormat, tapi Joonmyun tidak. Ia berbeda.

Ia tahu, ia seharusnya bersyukur akan hal itu.

Tapi justru disini, ia ketakutan.

Ia takut akan segala kemungkinan menjadi mate The Alpha seorang Kim Joonmyun yang lembut dan kharismatik. Apa yang perlu ditakutkan, ayolah?

Ia benar-benar tolol, Yixing tersenyum pahit dalam hati.

Mobil mereka melaju mengikuti sepanjang aliran sungai, melewati jembatan, sampai akhirnya Yixing bisa menangkap sebuah rumah, berukuran besar di ujung jalan.

Dari deskripsi Jongin dan Joonmyun yang mengatakan bahwa pack mereka tinggal di rumah yang letaknya di tengah hutan, Yixing membayangkan sebuah rumah berukuran sedang, bergaya country dengan kesan kuno yang tembok-temboknya tersusun dari kayu.

Bukan seperti ini. Sebuah rumah besar, bergaya modern. Eksteriornya tampak didominasi dengan jendela yang berukuran lebar dan tinggi, bertingkat, dan lis plang beton memanjang dan menjorok ke depan. Dekorasi berbagai ornamen dengan garis vertikal, horizontal, dan diagonal yang sederhana pada dinding eksterior yang luas. Benar-benar tidak terduga.

Begitu juga ketika ia menjatuhkan pandangan, ke arah bagian depan halaman rumah yang tampak ramai, ada yang berkumpul dan ada yang berlalu lalang, cukup dipenuhi oleh orang-orang dengan kesibukannya sendiri.

Yixing juga sempat melihat alat pemanggang yang diletakan di bawah pohon, seorang pria bermata bulat bertugas untuk membolak-balik daging di atasnya dengan sebuah pencapit, dan disampingnya sebuah meja panjang terbuat dari kayu telah tertatakan piring-piring makanan.

"Kenapa banyak sekali orang disini?" Yixing terheran.

Joonmyun ikut melongok ke jendela, lalu tertawa kecil. "Astaga, pasti mereka semua sedang berkumpul disini," ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menoleh pada Jongin yang tengah mematikan mesin mobil di depan. "Biar kutebak, ini semua ide Minho, bukan?"

Jongin tertawa renyah, "Kau tahu bagaimana ia, hyung."

Lalu pemuda itu berlari keluar dari mobil, Yixing melihat bagaimana Jongin belari mengendap-endap mendekati pemuda bermata bulat yang tadi sibuk memanggang, mengagetkannya dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggang dari belakang—yang membuatnya dihadiahi pukulan di dahi dengan pencapit di tangan si omega. Mungkin pemuda itu adalah mate Jongin, pikir Yixing.

Ia kembali menoleh pada Joonmyun, kepala dimiringkan. "Kau bilang mereka semua," tanya Yixing, "Apa anggota pack-mu memang sebanyak itu?"

Joonmyun tertawa, "Tidak, anggota pack-ku ada 7. Tigaa alpha, satu beta dan tiga omega. Ada Jongin, Kyungsoo, Baekhyun, Sehun, Tao, Jongdae dan Minseok. Aku akan mengenalkan mereka padamu nanti," Ia menunjuk ke luar jendela, "Selain yang aku sebutkan tadi, yang lainnya adalah anggota pack Jonghyun, Namjoon, dan Leo yang aku ceritakan tadi. Semua anggota pack itu ada disini, kurasa."

"Oh," Yixing kembali mengamati jendela. Entah kenapa ia jadi semakin takut. Semakin banyak orang yang akan tahu bahwa ia adalah mate Joonmyun, ia tidak siap menerima segala tatapan yang tentunya akan mengarah padanya.

Seperti merasakan ketakutannya, Joonmyun melingkupi telapak tangannya, menghantarkan kalor yang menyenangkan menyebar ke kulit Yixing yang dingin.

"Tidak apa apa, jangan khawatir." Joonmyun tersenyum menenangkan. Lelaki itu memang banyak tersenyum, dan Yixing sangat menyukai senyum itu. "Mereka orang-orang baik dan kau harus ingat," ia memberi remasan kecil, "...kalau aku selalu disampingmu,"

Yixing menganggukan kepala, dan setelah mengambil helaan nafas, meeka berdua beranjak dari mobil bersamaan.

"Joonmyun!"

"Joonmyun-hyung! Akhirnya kau kembali juga!"

"Kau baik-baik saja kan?"

Suara itu bersahut-sahutan, detik ketika mereka keluar dari mobil. Joonmyun mengulas senyum, mengenggam tangannya dan menariknya mendekati orang-orang itu.

"Hai kalian semua, senang melihat kalian semua masih hidup dan utuh walau aku meninggalkan kalian, hmm?" Ujarnya dengan nada jenaka pada orang-orang di sekelilinginya,yang mendapat kekehan dan tawa geli.

"Kau meremehkan kami, Joonmyun-hyung?" seorang lelaki berjalan mendekat, menyerahkan dua gelas champagne, satu untuk Joonmyun dan satu untuk Yixing. Yixing menerimanya, walau dengan gestur sungkan.

"Tidak, tentu saja tidak, Sehun," kata Joonmyun, sembari ia melingkarkan tangannya di bahu pemuda itu, "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu dan yang lain. Lagi-lagi Yixing dibuat tertegun oleh sikap hangat Joonmyun kepada para bawahannya. Mate-nya itu benar-benar penuh kejutan.

Joonmyun menolehkan kepala kesana kemari, bingung. "Kemana anggota yang lain?"

"Sedang membersihkan ikan untuk dipanggang," Sehun menggidikan dagunya, "Ayo kesana,"

Joonmyun mengangguk dan menarik tangan Yixing untuk mengikuti Sehun, berjalan ke dekat sungai, dimana Yixing bisa melihat dua lelaki, satu berpostur tinggi dan satu berpostur mungil tengah berjongkok membersihkan sisik ikan dari ember-ember di tepi sungai. Dua orang omega. Dan salah satunya—lelaki tinggi itu adalah mate Sehun. Yixing bisa mencium aroma Sehun menguar dari tubuh pria itu.

"Tao-ie, Baekhyun-hyung," Sehun memanggil, merebut perhatian kedua omega itu sehingga kepala mereka terdongak. Mereka nampak terkejut untuk sesaat, sebelum tergantikan oleh senyum lebar. Si mungil, Baekhyun, Yixing rasa, langsung menghambur untuk memeluk Joonmyun.

"Hyung, kami merindukanmu~"

"Ew, jangan dekat-dekat Baek, kau bau amis," Joonmyun berkata dengan nada setengah jijik.

Baekhyun mendongak, mengerucutkan bibir, dan Joonmyun dibuat tertawa karenanya.

Yixing menahan diri untuk tidak mendelik pada omega yang tengah memeluk alpha-nya itu.

Ia tahu, ia bisa merasakan kalau Baekhyun belum memiliki mate, ia masih untaken. Dan ia tidak menyukai omega untaken itu terlalu dekat dengan mate-nya.

Joonmyun itu miliknya

Yixing membulatkan mata. Tunggu, tadi ia berpikir apa—

"Baek dan Tao, kenalkan ini mate-ku, Zhang Yixing," Joonmyun melempar senyum pada Yixing dan memberi tanda baginya untuk mendekat. Yixing menurut, dan ia merasa bebannya terangkat berpuluh kali lipat saat akhirnya Baekhyun melepaskan pelukannya dari tubuh alpha-nya.

"Oh, kau mate Joonmyun hyung?" Baekhyun bertanya. Ingin Yixing berkata, 'Ya aku mate-nya jadi kau jangan dekat-dekat dengannya!' Tapi tentu saja ia tak akan mengatakannya, astaga ia akan mempermalukan dirinya sendiri karena bersikap kekanak-kanakan seperti itu, jadi ia pilih mengangguk saja untuk mencari amannya.

Tanpa diduga Baekhyun justru tersenyum lebar dan langsung memeluk Yixing erat-erat. Yixing dibuat tertegun sampai akhirnya Baekhyun menarik diri, namun ia tak melepaskan pelukannya dari lengan Yixing. Ia tampak begitu antusias bertemu dengannya.

"Wah akhirnya si old man itu punya mate juga. Aku senang sekali, aku pikir Joonmyun-hyung akan mati melajang seumur hidup,"

"Baek!"

"Kau sangat cocok dengannya, kau tahu—oh, astaga, astaga, astaga! Apa itu dimple? Kau punya dimple? Kyaaaa, kau manis sekaliiii," Baekhyun mencubiti pipinya dengan gemas. Antuasiasme-nya yang tak terkendali itu akhirnya mampu melunturkan kekesalan Yixing yang tadi sempat dirasakannya untuk omega itu.

Dan sekarang Yixing justru merasa ketakutan karena Baekhyun masih saja meremas-remas pipinya bagai tepung adonan.

Tao yang peka pada air muka ketakutan Yixing melempar kekehan, ia mendekati Baekhyun dan melepaskan cengkraman tangan Baekyun selembut mungkin. "Baek-hyung, hati-hati. Kau membuatnya ketakutan," ujar Tao. Ia mengabaikan gerutuan Baekhyun di sampingnya, dan mengulurkan tangan pada Yixing,

"Ni Hao, Yixing gege."

Yixing membulatkan mata mendengarnya, spontan berganti ke bahasa china. "Kau orang China juga?" Nada terkejut sekaligus senang terdengar dari sana.

Tao menganggukan kepala riang. "Yup, aku Huang Zitao," baru kemudian ia menggantinya ke bahasa korea, "Dan aku senang sekali kau bisa bergabung dengan pack kami," Tao tersenyum manis, "Kalau saja aku tidak bau ikan saat ini, aku pasti sudah memelukmu dari tadi,"

Yixing perlahan menyunggingkan senyum, walau kecil. Entah kenapa sekarang Yixing merasa lebih lega karena kehadiran Baekhyun dan Tao. Anggota pack Joonmyun benar-benar bersikap baik padanya.

"Nah Yixing, mereka berdua ini juga anggota pack-ku, selain Sehun, Jongin, dan Kyungsoo—ia yang sedang bersama Jongin saat ini, kau melihatnya?" tanyanya, mengarahkan jempolnya ke belakang punggungnya, ke tempat Jongin dan Kyungsoo yang masih berpelukan di bawah pohon rindang dekat pemanggang.

Yixing menggumam mengiyakan, jadi Joonmyun melanjutkan, "dan ini adalah Baekhyun dan Tao, yang merupakan mate Sehun. Kau juga pasti sudah mengetahuinya kan?" Joonmyun memberinya senyum.

Yixing mengangguk, sedang mate-nya itu kembali mengerling pada Sehun yang kini sudah berpindah untuk mendekap Tao, "Mana Jongdae dan Minseok?"

Sehun menegak minumannya, baru ia menjawab, "Sejak tadi pagi mereka belum keluar kamar, hyung."

Joonmyun mengernyitkan dahi, "Apa yang mereka lakukan?"

Sehun menyeringai, menaik-turunkan alisnya. "Kau pasti tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, hyung."

Yixing bersemu, sementara Joonmyun mendengus keras. "Oh baiklah, kita bisa bertemu mereka nanti,"

"Joonmyunie my bro! Kami merindukanmu,"

Seorang lelaki kurus tinggi tiba-tiba memeluk leher mate-nya itu dari belakang. Yixing mengamati pria itu dalam diam, hidungnya bisa langsung menangkap bau lelaki itu, seorang beta. Namun sama sekali tak ada sikap ketakutan atau hormat kepada Joonmyun yang notabene merupakan seorang The Alpha. Dan ia menduga kalau si beta ini bukanlah anggota pack Joonmyun, mungkin ia anggota dari pack yang lain.

Joonmyun memutar tubuh, tertawa lebar bersama lelaki itu. "Mmm, biar kutebak. Pasti pesta penyambutan ini adalah idemu, benar begitu, Minho?"

"Kau tahu aku, Joon," ia menyenggol Joonmyun dengan bahunya, sebelum mengalihkan pandangan pada Yixing, tersenyum. "Jadi ini mate-mu?"

"Kau sudah tahu?"

Minho mendecakan lidah, skeptis, "Kau lupa kita bangsa wolf bisa mencium aromanya?"

Joonmyun menepuk dahi, "Astaga, bagaimana aku bisa lupa?"

"Sepertinya kau memang sudah lapuk, gramps." Sehun menyahuti dari belakang, yang dibalas desisan tak terima Joonmyun.

"Hei, kurangajar!"

"Lagipula Joonmyun," Minho menengahi, "Kami semua telah menduga tahu kalau kau akan membawa pulang seorang omega kesini. Kau tidak pernah selama itu meninggalkan kami, jadi kami berasumsi bahwa sesuatu telah menahanmu disana."

Joonmyun menekuk kedua lengan di depan dada, menyeringai tipis. "Wow terima kasih. Kalian begitu mengenalku, kurasa,"

"Tentu saja," Minho nyengir lebar, "Omong-omong kenapa kau tidak mengenalkan mate-mu secara resmi pada kami semua?" Minho menyarankan, kembali menatap Yixing dengan seulas senyum tipis di bibirnya.

"Yeah, kurasa kau benar." Joonmyun mengenggam tangan mate-nya. Ia berdehem, agak keras untuk mengambil atensi dan berbicara dengan suara lantang, berhasil membuat semua kepala yang ada disana menoleh ke tempat sang The Alpha berdiri.

"Teman-teman, ini adalah Zhang Yixing," Joonmyun menariknya mendekat, menyelipkan tangannya untuk melingkari pinggang ramping Yixing, gestur kepemilikan yang dimengerti semua orang.

Joonmyun kembali angkat bicara, nada kebanggaan mewarnai suaranya. "Ia berasal dari China, dari pack Zhang yang menempati kawasan Changsa. Dan ia adalah mate-ku," pelukannya pada pinggang Yixing mengerat, bahkan sekarang ia memberi usapan di pinggangnya dengan begitu lembutnya, Yixing merona merah.

"Tolong perlakukan dia dengan baik, mengerti?"

"Wah orang China?" Minho mendekatkan wajah ke arah Yixing untuk mengamatinya lebih dekat. Yixing yang tidak biasa mendapat perlakuan seperti itu langsung bereaksi defensif, kedua bola matanya berganti warna menjadi keemasan dan taringnya muncul ke permukaan. Ia menggeram pada Minho hingga lelaki beta itu berjengit ke belakang.

Ia, Sehun, Tao, Baekhyun, dan Joonmyun tampak terkejut, begitu juga dengan orang-orang yang berada di sekitar mereka yang melihat kejadian ini.

Dan sejujurnya, Yixing pun sama terkejutnya. Ia hanya tidak biasa mendapat perlakuan seperti itu, dan ia tidak suka. Si beta itu telalu dekat dengannya.

Namun keterkejutan itu tak berlangsung lama karena tawa Joonmyun yang akhirnya memecah ketegangan itu, " aku harap kalian bsia mengerti kalau Yixing masih beradaptasi. Aku harap kau memakluminya dan...tolong, jangan menganggunya, Minho." Ia berkata dengan nada semi serius pada si beta yang hanya memberinya cengiran kecil.

"Untuk yang itu aku tidak bisa berjanji, Alpha." Balasnya, senelum kembali melarikan matanya mengamati Yixing dari atas ke bawah dengan alis terangkat. Ia mengerlingkan kepala pada Joonmyun dan berucap, "aku tidak menyangka kau akan mendapat omega segalak ini—"

Yixing mendelik,

Minho kembali menoleh ke pada Yixing, menyadari ekspresi kesalnya. Bukannya merasa bersalah, Minho justru tampak geli.

"Bukankah ia jauh dari tipe idealmu yang menyukai omega yang lembut, Joonmyun?"

Yixing terdiam.

Tipe ideal Joonmyun adalah omega yang lembut?

Joonmyun mengibaskan tangan, "Itu kan dulu," katanya cepat-cepat, sepertinya ia cepat menangkap perubahan raut wajah Yixing, "Sudahlah, apa kalian tidak ingin bersenang-senang? Ini pesta bukan?" tanyanya pada kerumunan itu dengan volume yang sengaja dikeraskan.

Gagasannya itu akhirnya mendapat seruan antusias dan meriah dari kerumunan, sehingga mereka akhirnya kembali melakukan aktivitas mereka.

.

Mereka semua bersenang-senang, kecuali Yixing yang justru dibuat termenung memikirkan perkataan Minho barusan.

ooOOoo

Mereka benar berpesta sepanjang malam.

Yixing mengamati bagaimana mate-nya itu menjadi pusat perhatian bersama Minho di sisinya, menyanyi dan menari sesuka hati mereka, dengan sorak-sorai yang mengiringi setiap gerakan mereka, atau tingkah konyol para alpha yang berkomplot untuk menarik tangan dan kaki Joonmyun kemudian mencemburkannya ke sungai, membuat mate-nya itu memekik nyaring karena dinginnya air yang menusuk kulit.

Yixing tak bisa menahan tawanya menyaksikan bagaimana alpha-nya itu bersenang-senang, mengagumi bagaimana ia tertawa lepas.

Yixing bisa mengerti sekarang kenapa Joonmyun begitu disukai sekaligus disegani oleh teman-temannya. Ia benar-benar pribadi yang menyenangkan.

Yixing sendiri juga bersenang-senang, sebenarnya. Anggota pack-nya begitu ramah memperlakukan orang baru sepertinya—oh dan Yixing juga sudah bertemu dengan Minseok dan Jongdae, pasangan Beta-Alpha, yang akhirnya keluar dari kamar dengan rambut dan baju yang kusut dan berantakan. Sekali pandang, semua orang juga tahu apa yang sudah mereka lakukan selama berjam-jam di dalam sana.

Mereka—anggota pack Joonmyun—selalu memastikan diri berada di dekat Yixing, mengajaknya berbicara, dan membiarkannya berbagi cerita dengan mereka, terutama Baekhyun. Omega mungil itu sangat supel, mengajak Yixing bicara seolah ia bukanlah orang baru di lingkungan mereka. Awalnya ia memang merasa canggung, namun perlakuan hangat mereka kepada Yixing membuat ia sedikit demi sedikit mulai membuka diri.

Joonmyun juga akan sesekali mengerling ke arahnya, memastikan bahwa Yixing berada dalam jangkauannya dan tidak merasa kesepian.

Yixing ingin merutuki alpha-nya yang protektif itu. Yixing baik-baik saja, sungguh.

Lagipula jika ia ditinggalkan sendirian pun, Yixing tidak peduli.

Ia sudah biasa dihiraukan, kok.

Merasakan tenggorokannya sedikit mengering setelah menghabiskan sepiring penuh daging rusa yang ditawarkan Kyungsoo, Yixing melongokan kepala ke sepanjang meja, mencari air minum untuk ditegak.

Tapi sejauh mata mengedar, yang ia lihat hanya gelas-gelas champagne dan soda. Tidak, terima kasih. Ia lebih memilih air putih. Yixing sudah terlalu banyak mengkonsumsi minuman-minuman itu. Ia sadar itu tidak akan baik dirinya. Yixing tidak bisa memastikan apa yang akan ia perbuat jika ia mabuk nanti.

Yixing bangkit berdiri, berniat mencari minuman di dapur. Namun belum sempat ia meninggalkan kursi, Minseok menyelanya.

"Kau mau kemana, Yixing?" tanyanya penasaran.

"Aku ingin mengambil air putih di dapur," jawab Yixing.

Minseok mangut-mangut, dan tersenyum. "Baiklah, dapurnya ada di bagian belakang, dekat meja makan. Lurus lalu belok kanan, nanti kau akan menemukannya dengan mudah."

Yixing menganggukan kepala, menggumam "terima kasih" pelan, sebelum membawa tubuhnya ke dalam rumah bergaya modern itu. Ia berpapasan dengan beberapa orang di dalam rumah, beberapa dari mereka mengamatinya dengan tatapan penuh penasaran, tapi Yixing berusaha keras mengabaikannya. Ia tak sengaja menemukan Jongin dan Kyungsoo yang sedang sibuk berpagut lidah di atas sofa. Yixing cepat-cepat beranjak dari sana ketika suara desah dan erangan terdengar dari sela bibir mereka yang tengah bergulat.

Tak perlu waktu lama bagi ia untuk menemukan dapur, jadi ia mempercepat langkah. Namun gerakan kakinya terhenti tepat di ambang pintu, saat ia melihat tiga orang wanita, kesemuanya omega, berkerumun di pantry dengan siku menumpu dagu, membicarakan sesuatu tanpa menyadari kehadiran Yixing karena posisi mereka yang membelakangi. Ia sebenarnya ingin melewati mereka untuk mengambir segelas air yang dibutuhkannya, namun kehendaknya itu terhenti saat ia mendengar salah satunya berbicara.

"Apa kau percaya bahwa pemuda tadi adalah mate The Alpha?"

Yixing membeku. Ia tahu. Ia tahu mereka sedang membicarakannya.

"Sejujurnya aku tidak percaya, maksudku...lihat saja gayanya. Kau tidak lihat bagaimana ia menggeram pada mate-ku?" Perempuan itu menggerutu, Yixing menduga bahwa ia pasti mate Minho. "Sungguh, sikapnya itu sangat kekanak-kanakan,"

"Lagipula apa yang spesial dari dirinya? Kupikir dia biasa saja,"

"Ya, seperti omega pada umumnya. Aku kira mate The Alpha itu adalah seorang omega yang spesial. Omega berkelas keturunan terhormat atau setidaknya, ia memiliki paras yang begitu cantik, seperti omega The Alpha dari seberang, kalian tahu? Ia cantik sekali bukan?" Perempuan itu berkata dengan nada antusias, namun setelahnya terganti oleh decakan malas, "Tapi lihatlah mate Joonmyun, begitu kontras,"

"Ya, benar. Aku tidak menyangka Joonmyun yang baik dan bijaksana mendapat mate barbar seperti itu,"

"Aku kasihan pada Joonmyun,"

Yixing bisa merasakan sesuatu di dalam sana terpelintir nyeri. Semua kata-kata itu bagai panah yang menghujam sanubari. Dia harus pergi—

Ia berbalik, jantungnya seakan ingin melompat keluar saat ia justru sudah berhadap-hadapan dengan Joonmyun. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran Joonmyun atau mencium aromanya? Ia pasti terlalu terlarut dengan aksi mengupingnya sampai-sampai ia melalaikan sekitar. Ya Tuhan.

"Joonmyun—"

"Kau mendengar mereka?"

Yixing membuang muka, menegak ludah. "Tidak, aku baru saja datang."

"Yixing—"

"Aku mau pergi dari sini kok," Yixing meralat, merutuki dirinya kemudian karena kalimatnya yang terkesan plin-plan. Jelas ia ketahuan berbohong.

"Kau tahu kan kau tidak perlu mendengarkan perkataan mereka," Joonmyun memberitahunya.

"Aku tidak peduli Joonmyun," ia beranikan diri membalas pandangan mate-nya itu, pandangannya seolah berhasil menelanjangi Yixing. Seolah ia tahu apa yang ada di pikirannya dan perasaannya. "Ayo pergi dari sini,"

"Kau terluka,"

"Jangan sok tahu," Yixing menyela, tajam, yang lalu disesalinya melihat sorot penuh pengertian Joonmyun. "Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku akan melupakannya," ia berkata, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang pada pria itu, "Ayo pergi, nanti mereka melihat kita."

Ia berusaha menarik pergelangan tangan Joonmyun, namun sang the Alpha itu bergeming. Yixing kembali mencobanya, namun detik berikutnya ia justru dibuat terkaget saat punggungnya dibenturkan ke tembok dekat pintu dapur. Tangannya yang tadi mengenggam pergelangan tangan Joonmyun di perangkap lelaki itu di kedua sisinya.

"J-joonmyun," Yixing memanggil, takut-takut. Aura Joonmyun saat ini hampir sama persis seperti malam itu, malam dimana ia mengklaim tubuh Yixing sebagai miliknya. Bola matanya merah menyala, nafsu birahi mengental di udara. Yixing merasa sulit bernafas ditatap seperti itu. Ia juga bisa merasakan hembus nafas Joonmyun yang berat dan sedikit bau alkohol.

"Joon—"

"Shhh, biarkan mereka melihat bagaimana aku menunjukan pada dunia bahwa kau..." ia menarikan bibirnya ke seluruh pangkal leher Yixing yang bersemu kemerahan, berhenti di belakang telinga, dilanjutkan dengan mengulum cuping telinga itu dan menggilingnya pelan dengan gigi.

"Milikku..."

Kalimat itu bagai ultimatum bagi Joonmyun untuk memulai intrusi. Ia menekan bibirnya, meraih bibir Yixing dan membiarkan mereka berbagi ciuman panas. Yixing yang sempat terkaget berusaha menstabilkan nafas dan detak jantungnya, ia berusaha lepas, tapi kedua tangan Joonmyun yang memenjarakan tangannya di kanan dan kiri kepalanya membuatnya hampir mustahil untuk bergerak.

Jadi ia tarikan bibirnya, membalas dan berusaha mengikuti ritme cepat bibir Joonmyun yang beradu dengannya.

"Mmhhh..."

Sang The Alpha menggeram pelan, aura dominannya makin mengabut pandangan dan kewarasan Yixing. Pria itu melepas tautan bibir mereka demi memberi kesempatan pada si omega untuk mengambil napas, tapi ketidaksabaran membuatnya kembali mencuri bibir sang pemuda untuk kesekian kali tanpa menunggu.

Joonmyun membebaskan kedua tangan Yixing untuk menarikan telapak tangannya di sekujur tubuh ramping itu, menyibak kemejanya hingga ia bersentuhan dengan kulitnya yang memanas karena nafsu,mengirimkan jutaan sengatan listrik ke tubuh Yixing yang lemah tak berdaya di bawah tangan sang the Alpha.

Joonmyun menarikan jemarinya di pahanya, mengelus dan meremas hingga Yixing mengerang. Ia mengangkat kaki Yixing, memastikannya tepat melingkar ke pinggul Joonmyun, menjadikan dinding sebagai tumpuan mereka berdua. Ia paksa kedua tangan Yixing melingkar di bahunya sementara ia menginvasi rongga mulut Yixing yang manis bak nektar.

"J-joon..."

Satu tangannya ia gunakan untuk menyangga tubuh Yixing ke dinding, sementara satu tangannya ia bawa ke atas untuk menyibak atasan sang omega dan menggulungnya hingga ke batas dada. Ketika lidah mereka terjalin dalam sebuah simpul, tangan itu mengambil satu tindakan tanpa aba-aba.

Yixing mengerang, melepas tautan. Agak keras saat tangan Joonmyeon sengaja mengusap, kemudian memelintir nipple-nya.

Alpha menyebal—o-oh, tapi ini menyenangkan.

Yixing yakin Joonmyeon sengaja melakukannya agar ketiga omega yang membicarakannya di dapur tadi mendengarnya.

Bahkan Joonmyun tidak peduli saat ketiga omega itu benar-benar beranjak keluar dan memandang mereka dengan mata membulat di ambang pintu dapur-Yixing bisa melihat mereka dari mata peripheralnya.

Dengan adanya audiensi Joonmyun semakin menjadi. Ia berikan serangan bertubi-tubi hingga Yixing harus menahan diri mati-matian untuk tidak menjerit saat Joonmyun memainkan sentuhan-sentuhan sensual ke bagian privatenya yang berada diantara kedua kakinya—mengusap, membelai, meremas.

Hingga ketiga omega itu lari tunggang langgang dengan wajah memerah karena perlakuan Joonmyun dan desah Yixing yang makin mengeras kala gerakan jari Joonmyun semakin cepat menyentuh dan bergesekan.

"Mereka...sudah pergi mhh," Yixing bicara semampu yang ia bisa, hampir mustahil karena sensasi yang sedari tadi ditunggunya itu hampir tercapai dan Joonmyun masih memainkan tangannya di dalam sana dengan gerakan lihai. Fuck.

"Biarkan saja, aku tidak mungkin tidak menyelesaikannya bukan?" geram Joonmyun dengan suaranya yang berat. Suara seksi yang sama yang ia keluarkan malam itu. Dan hanya butuh beberapa menit hingga akhirnya Yixing mencapai klimaks.

Ia benamkan wajahnya di bahu Joonmyeon untuk meredam jeritan, walau sia-sia. Ia yakin Jongin dan Kyungsoo yang duduk di sofa ruang tamu juga mendengar jeritannya.

"Kau gila," hanya itu yang ia bisa katakan sembari ia berusaha menormalkan nafasnya yang masih tersengal. Sedikit mengernyit tak nyaman menyadari celananya yang kini basah, ew, sementara Joonmyun masih menopangnya ke dinding.

Joonmyun terkekeh, "Tapi kau menyukainya kan?"

Yixing memilih membuang muka, menghindari kontak mata dengan Joonmyun. Ia biarkan keheningan melingkup diri mereka, sampai akhirnya ia memecahnya.

"Joonmyun..." panggilnya, "boleh aku bertanya?"

"Hmm?"

"Bagaimana tipe idealmu?"

Joonmyun memundurkan kepala, tampak tertegun, "Apa ini semua karena perkataan Minho—"

"Tidak juga," sela Yixing, "Aku... aku hanya ingin tahu saja,"

"Xing—"

"Sungguh, aku hanya ingin tahu saja kok. Jadi..." ia memandang Joonmyun, "Bagaimana?"

Joonmyun menghela nafas berat, "Ketahuilah bahwa perasaanku padamu tidak akan berubah karena ini, paham?" Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Tipe idealku dulu adalah seorang omega atau beta yang manis,"

Yixing mengerutkan kening. 'Well, ia tidak manis, kan?'

"Telaten, sopan—"

'Yixing tidak telaten. Ia ceroboh dan ayolah, Yixing akui terkadang sikapnya memang suka urakan.'

"Yang lemah lembut, keibuan—"

'Apalagi yang lemah lembut dan keibuan, pffttt—' Hati Yixing semakin terasa berat mendengar rentetan kalimat demi kalimat kontradiksi yang meluncur dari bibir mate-nya. Ia sungguh jauh dari kriteria ideal pasangan yang didambakan Joonmyun, mate-nya sendiri.

"Aku suka jika pasanganku adalah orang yang suka membaca-"

"Aku juga suka membaca kok!" Yixing menyambar spontan, tanpa sadar. Ia langsung menutup mulutnya begitu ia menyadarinya, wajahnya bersemu delima.

Mata Joonmyun yang tadinya sedikit membulat karena seruan Yixing, perlahan mulai melengkung. Menyipit tenggelam dengan senyum yang tercetak di bibir. Mate-nya itu sungguh menggemaskan.

Ia mendekati Yixing, meraih tangan pemuda itu yang masih menutup mulut dan memberinya kecupan singkat.

.

"Dan karena itulah, kau sempurna untukku, Yixing."

.

Aku meragukannya, Joonmyun.

.

Aku bukan mate yang baik untukmu.

.

bersambung.


Haiiiii maaf lanjutannya lama, MAAF JUGA YA KEPANJANGAN :") HAMPIR 6K NEEEH, semoga kalian ndak bosen. aku gak nyangka chap I dapet 41 review,wowwww kalian amazingggg! Oh ya, sebagian pembaca mungkin agak geli baca karakter Joonmyun The Alpha tapi lembut? ;3 ada alasannya kok buat itu, hehe so stay tune yaaa.

Dan maaf juga kalau kalian sebel sama karakter Yixing yang insecure, Yixing cuman gak siap dapet mate The Alpha, hehe dan ff ini emang lebih fokus ke Yixing dan bagaimana dia bisa menerima takdirnya jadi mate seorang The Alpha yang penuh cobaan, hahahaha.

Oh ini ada mpreg atau enggak? Ya, jadinya ada mpreg, maaf ya kalo ndak suka :( karena di plot ini dibutuhin.

Dan maaf buat yang kaget sama pair Krishan sama Taohun, ini pure karena aku pingin bikin eksprimen baru /halah/ Sebenarnya malah mau masukin Kaihun sama Baekchen tapi nanti kalian pada kaget wkwk. Oh ya, ada yang sadar Chan gak ada disini? Nanti yaaa, dia bakal muncul kok :3

Maaf ya belum bisa bales review satu satu :"D yang jelas aku baca semua dan AWWW KAWAN, KALIAN SO SWEET DAN BAIK SEKALI. TERIMA KASIH AKU HATURKAN PADA KALIAN YANG SUDAH MENYEMPATKAN REVIEW :*

Kalo masih ada yang bingung mengenai wolf!au (versi aku XD) silahkan tanya di kotak review.

Last, Review? ^^ Terima kasih ya, Have a nice day dan Selamat liburan!