Hari terakhir sekolah.

Logan memasukkan barang-barang dalam lokernya ke dalam tas. Bisa dilihat, ada buku-buku seberat 3,5 kilogram yang tidak normal dibawa setiap hari ke sekolah, dan sebuah replika Saturnus.

"Hai, Logan!" seorang perempuan berambut coklat menghampiri Logan dengan setumpuk buku tahunan di tangannya.

"Here's your yearbook, have a great holiday!" katanya sambil menyerahkan buku tahunan pada Logan.

"Thanks," Logan menerimanya.

"Whazza, Logan?"

"Yo! Car—wooot?" Logan kaget melihat Carlos berdiri di belakangnya sambil menenteng tas kemping besar.

"Kenapa kau membawa tas kemping?"

"Aku baru saja selesai mengambil barang-barangku di loker," jawab Carlos santai.

"Dan barang apa saja yang kau simpan disana sampai butuh tas kemping begini?" Logan facepalm.

"Semua buku, perlengkapan hoki, helm cadangan, many things." kata Carlos.

"Bagaimana bisa kau meninggalkan semua barang-barangmu di loker sekolah? Apa saja isi tas-mu selama ini?" Logan mengunci lokernya, dan dia berjalan menuju pintu utama dengan Carlos.

"Those are heavy!" Carlos membela diri.

Tiba-tiba seorang perempuan berambut hitam kecoklatan—brunette- menghadang Logan dan Carlos.

"Carlos! Here's your year book!" katanya. "By the way, kalian melihat James? Kalau kalian bertemu, berikan buku tahunannya. Aku sudah mengisinya dan terlalu malu untuk menyerahkan padanya. Gotta go, bye!" perempuan itu berkata dengan sangat cepat. Setelah memberikan dua buku itu, dia cepat-cepat pergi.

Tolong masukkan efek suara jangkrik disini.

"Hey, sign mine." kata Carlos sambil menyerahkan buku tahunan ke Logan.

"Mine too," dan mereka bertukar buku tahunan.

"Dear, Carlos. Semoga kau masih hidup tahun depan,"

"Dear, Logan. Get a life."

Lalu mereka mengembalikan satu sama lain.

.

Saat-saat dimana jam pelajaran sedang berlangsung adalah saat paling membahagiakan untuk Kevin. Karena dia bisa bersantai di ruangannya tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya. Saat dia sedang asyik duduk di kursinya sambil menghadap kipas angin—

"Kev, have you seen Nick?" Joe tiba-tiba masuk dan menyodori Kevin dengan pertanyaan.

"Oh my... Bisakah satu hari saja orang masuk ke ruanganku tanpa pertanyaan?" keluhnya.

"Dia benar. This school is creep me out! The girls trying to chase me everyday! Dan ada satu laki-laki misterius dengan helm yang terus mencoba menyerangku dengan Cuda!" kata Joe sambil mengarahkan kipas angin di meja Kevin ke arahnya.

"Tenang, ini hari terakhir sebelum liburan musim panas. Setelah ini kau bisa kembali pada kehidupan lamamu." kata Kevin.

"Ow... Ini hari terakhir sekolah?"

"Ya."

"Benarkah? Wow! That's awesome!"

"Kembali ke topik awal. Aku belum melihat Nick dua hari terakhir." Kevin kembali ke pokok permasalahan.

"Apa gertakanku kemarin membuatnya benar-benar pergi?" duga Joe.

"Nick isn't that immature, unlike you," kata Kevin.

"I am mature!" Joe membela diri.

.

Years ago.

Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Kevin pada pukul 1 dinihari. Dalam keadaan setengah sadar, Kevin membuka pintu dan menemukan Joe berdiri di depan kamarnya sambil memeluk bantal.

"Can I sleep with you tonight, Kev?" pinta Joe.

"Kau sudah SMP, sudah saatnya kau menyadari kalau sweater di bawah ranjangmu itu bukan monster." Kevin menutup pintu kamarnya.

.

"I was 12, okay?"

"Oh? Benarkah? Let me think... Tahun pertama Frankie masuk sekolah, how's that?"

.

Years ago. (Secara spesifik tidak disebutkan untuk merahasiakan usia asli mereka)

Tom dan Sandy Lucas duduk di atas sofa sambil memegang report card keempat anaknya. Sementara anak-anaknya duduk di atas karpet, menunggu reaksi orang tuanya.

"Kevin, what a great progress!" puji Sandy.

"Nick, great rank as always—" komentar Tom.

"Frankie, raport pertama yang mengesankan," lanjut Sandy.

"Oh, how's mine?" tanya Joe semangat.

Tom dan Sandy saling berpandangan dengan raut wajah kurang yakin. Akhirnya, ayahnya angkat bicara,

"Well, at least you've tried."

"Me what?" Joe menatap saudaranya satu per satu dengan tatapan tidak percaya, terlebih pada Frankie.

"Rank-ku dikalahkan anak kelas satu SD? Memangnya dia siapa? Conan?" Joe marah-marah tanpa alasan yang jelas, dan langsung pergi masuk ke kamarnya.

.

"Kev, itu luka lama yang tidak akan kita ungkit lagi." kata Joe mencoba untuk tetap terlihat santai.

"You didn't take shower for three days! We almost called the police that time!"

"Oke! Kevin, kembali ke masalah utama, dimana Nick sekarang!" Joe mengalihkan topik sebelum ia terlihat lebih bodoh lagi.

"Sudah coba hubungi dia?"

Joe menggeleng, "Tidak pernah hidup. Aku sudah ke hotel tempat dia menginap, tidak ada tanda-tanda keberadaannya, dan tidak ada yang tahu dia kemana,"

"Inilah mengapa seharusnya kita tinggal di satu hotel yang sama!" kata Kevin. Mendengar itu, Joe tidak menjawab. Dia diam sambil memandang langit-langit.

.

1 minggu yang lalu.

'Rules are rules, Joe. Kalian dibiayai di satu hotel, satu kamar.'

"Ayolah, Stella! Kamar itu hanya punya satu ranjang!" pinta Joe.

'Tapi cukup untuk kalian bertiga, kan?'

Nick merampas telepon genggam Joe dan berbicara pada Stella, "Aku tidak bisa tidur seranjang dengan dua orang ini. C'mon, Stella! FBI tidak sepelit itu, kan? Ini misi penting! Kami butuh dukungan moral dan fasilitas! Ayolah, kau ahli dalam bidang mengakali biaya seperti ini kan, Special Agent Stella Malone?" bujuk Nick.

'Aku tidak bisa, maaf.'

"Ini alasan kenapa seharusnya Stella sekali-kali jadi agen lapangan! Supaya dia tidak benar-benar patuh pada peraturan!" kata Joe.

'Excuse me?'

"No, Stella. You're pretty, I love you." Joe cepat-cepat meralat kata-katanya.

"Bagaimana kalau kami bertiga tinggal di hotel yang berbeda?"

'Berikan padaku tiga nama tersangka, dan aku bisa mengakalinya dengan mengatakan kalian menyelidiki tiga orang berbeda untuk satu kasus,'

"That's a deal!" kata Nick dan Joe bersamaan.

.

"Kami punya cerita kami sendiri, Kevin..." kata Joe.

Disaat tidak ada yang tahu mau bicara apa lagi, seorang perempuan berambut coklat masuk sambil membawa dua buah buku tahunan.

"Mr. J! Mr. K! Ini buku tahunan kalian." katanya sambil menyerahkan buku tersebut pada mereka berdua.

"Guru juga dapat buku tahunan?" tanya Joe.

"Ya. Kau masuk nominasi. Coba lihat."

Joe membuka buku tahunannya, dan melihat ada fotonya terpampang di 'Wall of Fame'. "Best Glasses? Aku seharusnya menjadi 'Best Face' atau 'Most Handsome' atau 'Best Haircut'!" protes Joe.

"You wear Ray-Ban. No one ever wear a sunglasses for a regular glasses." kata Kevin. "Dan siapa Danielle Deleasa yang menandatangani yearbook-ku dengan tulisan warna pink dan ada dua gambar hati di akhir pesan?" kata Kevin sambil menunjuk salah satu halaman kosong tempat orang menandatangani yearbook. Di bagian bawah halaman tersebut memang ada sebuah pesan berbunyi, 'Have a nice summer, cupcake! You're cute!'

"School nurse," jawab perempuan itu. "Have a great summer!" katanya sebelum meninggalkan ruangan itu.

"Wow... Aku harus mencari nomor teleponnya nanti," kata Kevin sambil terus memandangi pesan di buku tahunannya. "Baiklah, kita bisa urus itu nanti. Kembali pada kasus. Kau sudah dekati Hawk?"

"Dia jatuh ke tanganku seperti bulu." Joe tersenyum puas.

.

Kemarin.

Joe masuk ke dalam ruangan wakil kepala sekolah sambil membawa sebotol Vodka.

"Hai, Mr Hawk!" sapanya.

"Hai, guru-baru-mencurigakan-yang-aku-tidak-tahu-namanya!"

"Mr. Vice Principal, kau tahu... Aku sudah berada selama beberapa hari di sekolah ini. Dan aku merasa aku benar-benar butuh seorang senior yang bisa membimbingku. Seseorang yang dewasa, bijak, bisa diandalkan—"

"Yeah, berhenti menjilatiku! berikan Vodka-mu, dan aku akan memberitahukanmu A sampai Z tentang semua yang harus kau ketahui!" kata Hawk. Joe memberikan Vodka yang dibawanya, dan bertanya sekali lagi.

"Mr. Hawk. Aku dari dulu penasaran, bagaimana kisah masa lalu seorang yang hebat sepertimu?"

Hawk terdiam sejenak, memandang Joe dengan tatapan heran. "Kid... Wow, belum ada yang menanyakan tentang masa laluku. Aku... Aku merasa tersanjung," katanya.

"I know. Aku benar-benar menyanjunggmu, Mr. Hawk. Mungkin kau mau berbagi pengalamanmu denganku yang masih hijau ini?"

Hawk tertawa kecil, "Baiklah, kalau kau memaksa. Ini akan memakan waktu cukup lama,"

.

"Aku harus mendengarkan kisah masa lalunya selama 6 jam. Dan untungnya, enam jam cukup untuk membuatnya mabuk berat. Dan akhirnya aku berhasil mengorek informasi, dia benar-benar pengedar narkoba. Lalu besok malam, dia akan bertransaksi dengan salah seorang kliennya di gudang tua yang ada di luar Dallas."

"Kau tahu siapa kliennya?"

"Tidak. Dia keburu pingsan." kata Joe dengan sedikit nada kecewa.

"Stetson Family, dari luar mereka adalah keluarga selebriti, tapi sisi gelapnya? Mereka salah satu drug dealer paling terkenal di Las Vegas,"

"Nick! You're back!" kata Kevin senang.

"I'm never leaving," ralat Nick.

"Lalu kemana saja kau dua hari ini?" tanya Joe.

"Las Vegas. Duh." jawab Nick santai.

"Kau pergi ke Las Vegas tanpa sepengetahuan kami?" Joe terlihat kaget.

"If I told you, especially you, Joe—" Nick menunjuk ke arah Joe. "-kalian pasti meminta ikut dan menghambat investigasi-ku."

"Oh, ayolah! Itu bukan pertama kalinya kita ke Las Vegas, kan?" kata Kevin.

.

6 bulan yang lalu.

Kevin, Joe dan Nick baru saja sampai di bandara internasional Las Vegas. Garis bawahi kata bandara. Kevin dan Joe terlihat takjub dengan sederetan mesin jackpot yang menggoda sekali untuk dimainkan.

"Ayo, kita harus segera cari tempat menginap." kata Nick. Tapi percuma, dua orang di belakangnya sudah hilang dan dalam sekejap sudah berada di depan mesin jackpot.

"Just 10 minutes." pinta Joe dan Kevin.

.

"Dan akhirnya kalian bermain selama 5 jam!" kata Nick.

"Salahkan mesin jackpot yang mengundang nafsu itu!" kata Kevin.

"Dan tidak ada ruginya, aku bisa membeli iPhone baru," Joe memamerkan telepon genggamnya.

Nick tidak menjawab, dia pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan penemuannya. "Drug dealer gelap seperti Hawk pasti banyak berurusan dengan orang-orang sejenisnya di kota paling berdosa itu. Jadi aku mencari tahu kesana dan mendapat keluarga Stetson."

"Stetson... Jett Stetson? Aktor sok ganteng itu?" tebak Joe.

"Benar. Dan dia bersekolah di Palm Woods Academy."

"Yang berarti dia adalah penghubung antara keluarganya dan pengecer narkoba yang kita cari,"

Joe dan Nick memandang Kevin dengan wajah datar, "Pengecer?"

"Oke, itu mungkin bukan bahasa yang keren!" kata Kevin membela diri. "Tapi masalahnya, dimana letak gudangnya? Kita tidak mungkin mengelilingi hutan, kan?"

"Hei, kau bilang murid yang kau tanyai kemarin itu pergi ke gudang yang ada di tengah hutan diluar Dallas, kan?" kata Nick.

"Mungkin itu gudang yang sama." tambah Joe.

"Dia bilang perjalanannya memakan waktu sekitar tiga jam." kata Kevin.

"Great, I'll call Macy and ask her to find it via GPS," Nick mengeluarkan telepon genggamnya.

"Macy?" tanya Joe dan Kevin bersamaan.

"What? Kalian tahu dia, dia dari CART *), dia kerja bersama kita,"

"Kau tidak pernah memanggil perempuan dengan nama depan mereka—kecuali Stella-" kata Joe.

"Okay, fine, Mrs. Misa. Puas?" Nick menghela nafas panjang lalu menelepon Macy.

'Hai, Nick!'

"Hai, Macy. Dengar, aku punya permintaan. Bisa kau pastikan titik tempat sesuai dengan keterangan yang kusebutkan?"

'You're dealing with CART, baby!'

"Cari gudang yang berada di dalam hutan yang lokasinya di luar Dallas. Perjalanan dari kota ke sana kurang lebih dua jam, kepadatan lalu lintas dan kecepatan kendaraan rata-rata,"

'Kau harus lebih spesifik tentang kecepatan rata-rata.'

"Dua jam untuk perjalanan di malam hari, range 80-110 km/jam."

'Kau mau aku melakukannya dengan cepat atau dengan keterangan selengkap-lengkapnya?'

"Surprise me,"

'Oke, satu gudang tua, 180 km dari Reverchon Park, Dallas. 20 km dari pinggir jalan ke area hutan. 79 x 64 meter persegi. 6 pintu masuk, utara, selatan, timur, barat, tenggara dan timur laut. Terakhir dipakai Agustus 1983 sebagai gudang anggur. Tidak pernah dipakai lagi sampai Februari 2007 dibeli oleh pria bernama George Hawk.'

"Thanks, Macy."

'Anytime.'

.

Besok malam.

Hari sudah menunjukkan nyaris pukul 9 malam, dan Logan masih berada di Kwik-E-Mart untuk membeli cemilan tengah malam. Jam 12 malam ini, dia mau menonton 'No String Attached' dan akrtis favoritnya, Natalie Portman. Setelah merasa keranjang belanjaannya penuh, Logan berjalan menuju kasir.

"Hei, Logan! Kau masih berkeliaran di luar rumah jam segini?" perempuan berambut brunette itu nampak sedikit terkejut melihat Logan.

"Ya, hanya keluar untuk membeli beberapa snack," kata Logan sambil menyerahkan barang belanjaannya.

"Have you seen Nick? Dia belum mengambil buku tahunannya. Kalau kau bertemu dengannya, tolong berikan. Karena besok aku sudah tidak berada di Dallas lagi," perempuan itu menyerahkan buku tahunan pada Logan.

"Kau membawa ini?"

"Mengantisipasi kalau tiba-tiba aku bertemu saat dia belanja disini,"

Logan memandangi buku tahunan itu untuk beberapa saat, lalu dia berkata—

"Hei, boleh pinjam pulpen?"

.

Nick baru saja selesai membeli tambahan ammo untuk senjatanya. Menurut rencana, mereka bertiga akan langsung bertemu di lokasi perkara saja. Mengikuti insting, dia sengaja melewati Reverchon Park. Dan benar saja, empat buah mobil dengan tipe yang sama diparkir disana. Nick memarkir mobilnya agak jauh, dan mengintai mereka dengan scopes-nya.

"Silver Mercedes-Benz SLS AMG *), huh? Mereka benar-benar villains."

Dari balik lensa scopes-nya, bisa terlihat Hawk sedang bersama beberapa orang bergaya mafia dengan jas dan kacamata hitam. Samar-samar terlihat juga kalau mereka dibekali dengan senjata. Hawk masuk bersama tiga orang ke dalam salah satu mobil, dan pergi duluan. Dilanjutkan oleh dua mobil lainnya. Sementara—

"Holly crap!" umpat Nick saat salah satu dari mereka menyadari kalau dia sedang mengintai mereka. Nick langsung membanting setir, berbelok, dan lari dari tempat itu secepan mungkin.

Dor! Satu tembakan mengenai ban mobilnya. Mobil Nick oleng, dan sepertinya akan menabrak sebuah pohon. Dua detik saja terlambat keluar, Nick mungkin sudah mati sekarang.

"Astaga, untung aku tidak memakai sabuk pengaman," desahnya. Untuk pertama kalinya saudara-saudara, pelanggaran lalu lintas menyelamatkan hidup seseorang.

Dua dari sisa anak buah Hawk mengejarnya. Nick langsung mengambil barang-barangnya dan lari menghindar. Sepertinya dia akan berbuat kriminal sebentar lagi.

.

Logan memasukkan barang-barang belanjaannya ke jok belakang mobilnya, saat seseorang tiba-tiba saja berlari ke arah mobilnya, membuka pintu pengemudi, dan langsung tancap gas. Semua terjadi dalam hitungan detik dan untungnya, Logan terpental masuk ke dalam mobil bukan keluar. Dengan panik, dia menutup pintu penumpang belakang, dan maju untuk melihat siapa yang mencuri mobilnya bersama pemiliknya.

"Nick?"

"Dimples?"

Dor! Satu tembakan nyaris mengenai mobil Logan.

"Holly crap! Apa yang terjadi?" jerit Logan panik. Dengan susah payah, dia setengah merayap untuk mencapai kursi penumpang depan.

"It's just a dream! Kau tutup matamu, dan begitu bangun, ini semua tidak pernah terjadi!" kata Nick.

Logan menutup matanya, sepuluh detik kemudian, dia membuka matanya dan masih panik, "Still here!" teriaknya. "Astaga! Aku harusnya dari dulu mengambil tindakan! Ada yang salah denganmu! Sekarang kau mencuri mobilku dan kejar-kejaran dengan mobil yang menembak ke arah kita?"

"Diamlah! Dan pasang sambuk pengaman!"

Dor! Dor! Dua tembakan lagi. Masih belum mengenai mobil Logan.

"You stupid! We're gonna die!"

"Tenanglah, dimples! Kau mengganggu konsetrasiku!"

"Kau gila! Kuberitahu, kau sudah kehilangan akal sehat! Astaga, ada mobil dibelakang mengejar kita!"

"Oh crap,"

"Jangan injak gas lebih dari itu! Ini mobil rental!"

"Oke, dimples! Pop quiz! Berapa peluang keberhasilan jika aku menembak orang-orang dibelakang dengan kecepatan seperti ini!"

"You what?"

"Just answer!"

"Oke... Ah... Mobil ini melaju dengan kecepatan 78km/jam, dan mobil dibelakang kurang lebih sama. Jarak antara dua mobil sekitar 300 meter. Jalanan cukup ramai, pencahayaan remang-remang, tidak ada angin, dan ada sekitar tiga sampai lima mobil yang berada diantara dua mobil ini. Nick, kurasa peluangnya nyaris nol," kata Logan.

"Oh yeah?" Nick langsung memutar setir ke sebelah kanan dan melaju di jalan satu arah yang sepi. "Bagaimana kalau disini?"

"Yah, karena tidak ada kendaraan disini, kurasa akan lebih baik!" "Wait a minute—" Logan tiba-tiba menyadari kalau dia terlibat makin jauh dalam kasus ini.

"Lanjutkan analisismu!"

"Argh! Kau benar-benar menyebalkan! Hm... Pistol yang kau pakai-"

"Glock 23 *)"

"Glock 23. 40 S&W, berat 19,3 gram, bisa mengisi sampai 16 peluru berdiameter 10 mm, tegangan maksimum 240 Mpa, peluru—"

"Warrior Arms JHP,"

"Warrior Arms JHP, 155 gram, kecepatan 376 m/s yang artinya 104,4 km/jam, kemampuan 712 Joule—"

"Logan, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, langsung saja, apa aku bisa menembak atau tidak!"

"Ini gila, tapi kurasa kau bisa berhasil—48 persen,"

"Tida kusangkan pengetahuanmu tentang senjata bagus juga. Alright, dimples! Pegang setir,". Dengan susah payah Logan dan Nick mencoba untuk bertukar posisi duduk sambil terus melaju dengan kecepatan mengerikan. Dan setelah itu Nick mengambil sesuatu dari belakang bajunya.

"Holly crap!"

"What? Never seen bolt-action rifle before? Aku masih punya tiga rifle lagi."

"Bagaimana kau bisa mendapatkan Carcano M91/38? *)"

"Mudah, ini hanya tiruan," kata Nick santai. "Tapi kemampuannya tidak kalah dari yang asli," Nick membuka jendela, memasang scopes di rifle-nya dan bersiap-siap untuk keluar dan menembak.

"Kenapa kau menyuruhku bersusah payah memikirkan kemampuan Glock-mu kalau ujung-ujungnya kau menggunakan Carcano?" protes Logan, dia merasa dipermainkan.

"Karena kalau Glock saja berhasil, apalagi senjata ini, kan?" dan kali ini Nick benar-benar bersiap. Setengah badannya kini sudah berada di luar mobil.

Dor! Satu peluru menyerempet mobil rental Logan. Mereka sudah mengambil langkah duluan. Melihat mobilnya kena peluru, Logan pun naik darah.

"Oke! Ini sudah diluar batas! Bunuh mereka, Nick!" kata Logan.

"Haha, thanks. Good advice," kata Nick sakarstik. Dia pertama-tama mengincar kepala musuh yang berada di kursi penumpang belakang. Namun nampaknya dia sudah menyadari kepalanya diincar, maka dia dengan cekatan langsung mengambil senjatanya dan mengeluarkan kepalanya dari balik jendela.

"Stupid." satu tembakan Nick tepat mengenai kepala orang itu. Mengingat kemampuan senjata ini seperti apa, orang itu terpental keluar dari mobil dengan setengah kepala pecah, jatuh terpental ke aspal dan bisa dipastikan mati.

Merasa situasi makin tidak terkendali dan kehilangan satu anggota, pihak musuh mulai menembakkan peluru bertubi-tubi. Dan salah satunya berhasil mengenai kaca belakang mobil Logan. Nick langsung kembali masuk sebelum tembakan liar itu mengenainya.

"Astaga! Aku akan ditagih untuk semua kerusakan ini!" kata Logan.

"Logan, changed plan! Kau bisa menggunakan pistol?" tanya Nick.

"Aku cuma pernah bermain airsoft gun dengan peluru BB," kata Logan.

"Bagus, berarti kau amatiran."

"Excuse me?"

Nick mengeluarkan Glock 23 miliknya, "Aku ingin kau mengacaukan konsentrasi mereka,"

"Hah? Kau menyuruhku untuk menembak orang yang ada dibelakangku dan menyetir kedepan disaat yang bersamaan?"

"Dimples, kau bisa melakukannya. Kau jenius! Saat mereka sibuk mengelak tembakan amatir-mu, aku bisa menyerang mereka," kata Nick. "Hanya tersisa tiga peluru disini, masih ada tiga musuh dibelakang sana. Aku tidak mau membuang peluruku,"

Logan menghela nafas berat, "Berikan Glock-mu!" Logan merampas pistol itu dari Nick. Tangan kirinya siap dengan pistol dan tangan kanannya memegang setir. Dia memastikan jalanan benar-benar aman di depan dan—

Dor! Dor! Dua peluru ditembakan Logan secara beruntun ke arah belakang, dan mengenai salah satu ban mobil mereka. Nick langsung keluar dan menembak kepala satu orang lagi yang juga duduk di kursi penumpang belakang.

Dor! Dor! Dua tembakan lagi dari Logan, satu diantaranya berhasil memecahkan kaca depan mobil perak itu.

"Eat that! Siapa suruh memecahan kaca belakang mobilku!" Logan tertawa kemenangan.

Dor! Musuh dibelakang membalas Logan dengan satu tembakan yang mengenai kaca spionnya.

"Ini benar-benar diluar batas kesabaranku!" Logan menembak sekali lagi, dan entah kebetulan atau tidak, tembakan Logan selanjutnya berhasil menembuk kepala musuh yang duduk di samping pengemudi.

"Wow, Logan! Ternyata kau bukan amatiran!" puji Nick. Tapi yang dipuji malah ketakutan.

"Aku membunuh seseorang dengan pistol yang bahkan bukan milikku!" jeritnya.

"Yang terakhir." Nick sudah bersiap untuk menembak si pengemudi, tapi tidak disangka-sangka dia malah langsung banting setir ke arah pohon, menabrakkan diri dan—

BAM! Mobil Mercedes-Benz itu meledak dengan naas.

"Dia bunuh diri?" tanya Logan tidak yakin setelah mereka berada cukup jauh.

"Dia benar-benar penjahat berkarakter," Nick masuk ke dalam mobil. "Dia tidak mau hidupnya berakhir ditangan pihak lawan,"

Sejenak keduanya hening. Kemudian, Logan membuka topik pembicaraan lagi.

"I can't believe it. Meskipun tidak sengaja, tapi aku sudah merenggut nyawa seseorang dengan tanganku. Oh damn! Aku bahkan gemetaran memegang setir!" umpatnya sambil memukul setir.

"I know. Aku juga punya pengalaman membunuh pertamaku," kata Nick. "Dan tenanglah, kau membunuh musuh negara." hibur Nick.

"Ya, tapi mereka manusia juga kan? Sejahat apapun mereka, pasti ada yang berduka untuk mereka!" kata Logan. Nick tidak membalas.

"Aww, maaf. Aku tidak bermaksud menyalahkan pekerjaanmu, aku—" Logan salah tingkah saat menyadari kalau dia sudah salah bicara.

"It's okay, Logan." Nick langsung memotong. "Aku juga sering memikirkan tentang keluarga mereka. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa minta maaf pada mereka secara pribadi—"

Logan tidak menjawab. Keduanya pun kembali terdiam satu sama lain.

"Hei, Nick. Aku tidak akan dituntut karena membunuh seseorang kan?"

"Tenang, namamu tidak akan kusebutkan di laporan,"

"Great,"

Sekali lagi hening. Tolong masukkan efek suara jangkrik disini.

"Buku tahunanmu," Logan menyerahkan buku tahunan yang diambilnya dari Kwik-E-Mart tadi.

"Apa maksud dari 'Kita selesaikan masalah ini sehabis liburan. Jangan kabur'?"

"Tadinya aku mau menyelesaikan masalah antara kau, aku dan Camille. Tapi setelah kejadian ini... Lupakan saja." kata Logan. "Dan ngomong-ngomong aku menjadi 'Best Dimples' tahun ini."

Sekali lagi hening.

"Nick, karena aku sudah terlibat sejauh ini, kurasa aku bisa sekalian mengantarmu,"

"Thanks, dimples."

Tapi, tiba-tiba saja mobil itu berhenti dengan sendirinya.

.

"Habis bensin? Kenapa kau tidak meminjam mobil yang lebih irit bensin?" Nick frustasi di pinggiran jalan sambil memandang mobil sewaan Logan.

"Aku tidak tahu! Aku tidak pernah berfikir kalau aku harus menyetir keluar Dallas dan terlibat dalam misi agen rahasia!" Logan membela diri.

"Aku tidak akan sampai tepat waktu..." Nick terlihat makin gelisah.

"Oke, bad timing but—Kau harus menjelaskan padaku, kau ini siapa, mereka itu siapa dan aku sekarang sedang terjerumus dalam masalah apa?" tanya Logan bertubi-tubi.

Nick mengambil nafas panjang sebelum menjawab, "Aku Nick Lucas, aku FBI. Dua saudaraku, Joe dan Kevin juga FBI. Singkatnya, kami FBI bersaudara,"

"Nick!"

"Oke, kami bertiga pergi ke Dallas untuk menyelidiki adanya kasus perdagangan obat terlarang ke remaja di Dallas,"

"Wait, kenapa federal agen menangani kasus seperti ini? C'mon! We're in Dallas! Biasanya polisi setempat saja yang menangani kasus seperti itu," kata Logan.

"Ya, sampai salah seorang agen FBI ditemukan tewas ditembak saat dia tidak sengaja memergoki transaksi,"

"Aw—wait! Jadi ini kasus perdagangan obat terlarang dan pembunuhan? Holly crap! Kenapa kau membawaku pada kasus berbahaya begini!"

"Logan, keterlibatanmu itu tidak disengaja. Kau saat itu berada di lokasi dan waktu yang salah, dan aku sedang dalam keadaan mendesak dan... Sekarang bagaimana caraku untuk menangkap mereka!" sekali lagi Nick memarahi mobil tidak berdosa itu.

"Ya, aku tahu. Tidak mungkin tiba-tiba ada mobil yang lewat dan memberi tumpangan kalau mereka tahu tujuanmu kemana," Logan memperburuk suasana.

Sepuluh detik saja, mungkin Nick sudah menembak kepala math-geek ini dengan Carcano-nya. Namun, sebuah mobil Red Ferrari 458 Italia berhenti di depan mereka *).

"Hai, butuh tumpangan?" suara familiar itu membuat Logan tercengang.

"Kendall?"

"Hei, Nick! Sepertinya kau mengalami krisis!" dari jendela kursi penumpang belakang, ada lagi suara familiar yang kali ini membuat Nick kaget.

"Kevin?" teriaknya. Dan satu kepala lagi keluar dari jendela. "Joe?"

"Logan! Wah, padahal tadinya aku mau menyombong padamu begitu aku kembali ke Dallas,"

"James?" Logan histeris.

"We're having a 007 moment!"

"And Carlos?" dia nyaris pingsan.

"Bukannya seharusnya kita bertemu di sana, kenapa kalian berdua ada disini dan menumpang mobil orang?" Nick menunjuk-nunjuk mobil Kendall.

Kevin melirik ke arah Joe. Joe mengangguk sekali dan melirik ke arah James. James sibuk menyisir rambutnya tapi sempat melirik ke arah Carlos di belakangnya. Carlos mengangkat bahunya dan melirik ke arah Kendall. Kendall mengangkat alis kanannya dan melirik ke arah Kevin. Kevin melirik ke arah Nick dan berkata,

"We have our sad story too..."

.

Dua puluh menit yang lalu.

Hasrat Joe untuk menendang 1953 Buick Skylark Convertible*) milik Kevin sudah tidak terbendung lagi. Sungguh dia tidak bisa percaya, dari 365 hari dalam setahun, mobil itu memilih hari ini.

"Ini alasan kenapa kau seharusnya memilih mobil yang lebih tahan banting!"

"Don't blame on me or my baby! You hurt her feeling!" Kevin mengusap-usap spion mobilnya dengan penuh cinta.

"Bagaimana cara kita sampai tepat waktu kalau seperti ini?" Joe makin panik.

"Kita bisa menunggu kendaraan lewat dan mengantar kita sampai ke dekat sana," usul Kevin.

"Ya, kemudian kita akan bilang 'Hei, kami Joe dan kevin, kami berdua adalah FBI yang ingin menangkap pengedar narkoba! Haha!' tidak, kan, Kev?"

"Oke, rencana B. Joe, kau bisa melepas semua bajumu dan berdiri di pinggir jalan sana. Aku yakin pasti akan ada kendaraan yang berhenti. Setelah itu akan kutembak dia dan kita bisa kabur dengan kendaraanya,"

"Kevin! Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan ketampanan dan keseksian tubuhku untuk melakukan tindakan kriminal itu!" tolak Joe.

"Lalu, apa kau punya ide lain lagi? Tidak mungkin di tengah-tengah jalan sepi seperti ini ada orang yang lewat membawa mobil dan berkata, 'Hei! Bukannya kalian Kevin dan Joe?' tidak, kan?"

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti, dan pengemudinya berkata, "Mr. J? Mr. K?"

.

"Jadi singkat cerita, Kendall, Carlos dan James sedang dalam perjalanan ke luar kota dan melihat kami berdua sedang kesusahan di pinggir jalan. Dan kami pun menumpang mereka. Tidak kusangka kau juga akan mengalami krisis yang sama bersama si dimples," Joe mengakhiri cerita.

"Jangan bilang kalian berdua sudah cerita pada mereka!" duga Nick.

"Ya, tentu! Kami sudah tahu kalau kalian bertiga adalah FBI bersaudara!" timpal Carlos.

"Kalian berdua adalah agen federal! Bagaimana bisa kalian membongkar identitas kalian semudah itu?"

"You told me too, Nick" kata Logan.

"Oke, cukup semuanya! Kalian punya misi yang harus diselesaikan, kan? Masuklah!" Kendall mengakhiri pembicaraan.

.

"Nah, apa kita punya rencana baru?" Joe memulai rapat dadakan.

"Dari tempat keberangkatan Hawk, ada tiga mobil. Dua sudah berangkat ke sana, dan satu sudah kulumpuhkan—" kata Nick.

"Ehem!" Logan berdehem cukup keras dari kursi penumpang paling belakang.

"Oke, Logan banyak membantu tadi. The point is, dugaanku, pasti lebih dari 8 orang. Dan orang yang bertransaksi dengannya pasti juga tidak mungkin sendiri," lanjut Nick.

"Jadi kita hanya bertiga, dan harus menghentikan lebih dari sepuluh orang?" Kevin terlihat kurang yakin.

"Hei! Kalian melupakan kami berempat!" kata James.

"No way! You guys still underage!" tolak Nick.

"Jangan meremehkan kami! Kami sudah saling mencoba membunuh selama lebih dari sepuluh tahun!" kata Kendall. "Ya, meski sebenarnya kami tidak benar-benar ingin mencoba membunuh satu sama lain," Kendall mengonfirmasi.

"Tapi kurasa tidak ada salahnya mengajak mereka—" kata Joe. Saat keempat pemuda ini menatapnya dengan tatapan senang karena merasa telah diberi kepercayaan—

"Mereka bisa jadi umpan!" lanjutnya.

"Auch!" Joe menjerit kesakitan saat James menginjak kakiknya. "What was that?"

"Really, Joe? We are way better than you think!" kata James. "Carlos sangat jago dalam karate!" James menunjuk Carlos dibelakangnya, sementara Carlos tersenyum bangga sambil memukul-mukul helm-nya.

"Aku, dewa dalam permainan airsoft gun dan pistol karet!" James menunjuk wajahnya sendiri.

"Kendall tahu bagaimana cara menggunakan tongkat hoki-nya, bukan Cuma untuk berolahraga, tapi juga untuk membuat orang geger otak!" James melanjutkan.

"Hei, kenapa Cuma aku saja yang terkesan jelek?" protes Kendall.

"Dan Logan, Logan is the brain! Mungkin dia terlihat paling lemah, tapi dia punya kemampuan berlari diatas rata-rata!"

"Singkatnya, kami berempat sudah terlibat sejauh ini, apa kalian tidak mau kami sekalian membantu?" tawar Logan.

Nick, Joe dan Kevin saling melemparkan pandangan satu sama lain, sampai akhirnya Kevin yang angkat bicara. "Kalau kalian mati dalam medang pertempuran, jangan hantui kami,"

"Deal!" koor empat pemuda itu dengan semangat.

.

Mobil Kendall berhenti di pinggiran jalan yang jauh lebih sepi lagi. Di sebelah kanan-kiri mereka hanyalah hutan yang horror dan gelap. Namun, dari kejauhan samar-samar mereka bisa melihat ada sebuah bangunan yang bercahaya, tanda kalau ada orang didalamnya.

"Itu gudangnya," kata Kevin.

"Aww yeah! I'm so excited!" James terlihat sangat bersemangat. Dia dan Carlos sekali lagi melakukan high five.

"Oke, Logan, rencana, sekarang!" kata Nick.

"Why me?"

"Just answer!" koor yang lain.

"Let me think... Kita bisa menggunakan dua orang dengan self-defense tinggi untuk menjadi umpan. Kurasa akan banyak orang berjaga di sekitar gudang itu."

"Aku dan Carlos bisa melakukannya. Lagipula, tugas mengalihkan perhatian hanya bisa dilakukan oleh orang tampan sepertiku," kata James, sempat-sempatnya membanggakan dirinya sendiri. Dia mengeluarkan Cuda dan memakainya.

"Cuda? Jadi kau yang menyerangku selama ini?" Joe membelak kaget.

"I'm the face! You can't take that from me!" James membela diri.

"Haha, kau hanya iri karena aku lebih tampan darimu, James!" ejek Joe.

"I am not!"

"Yes you are, kiddo!"

Kevin memberikan Joe head-slap, dan Carlos memukul kepala James dengan tongkat hoki agar mereka berdua diam. Tiga orang yang lain hanya poker faces.

"Begitu mereka lengah, satu orang menembak mereka dari jauh," lanjut Nick.

"I'm the best sniper here," Kevin mengangkat tangannya.

"Tapi bagaimana kalau ada yang menyadari mereka ditembak?" kata Kendall.

"Nah, itu tugas sniper nomor dua. Saat James dan Carlos mengalihkan perhatian penjaga, satu orang lagi bersembunyi diantara penjaga di depan dan penjaga yang berada lebih dekat dengan gudang," kata Logan.

"Jadi begitu penjaga pertama jatuh dan penjaga kedua menyadari itu, sniper kedua langsung menembak. Oke, kurasa aku bisa melakukan tugas itu," kata Joe.

"Setelah penjaga diluar berhasil dikalahkan, aku dan Kendall akan menyamar dan masuk. Sementara yang lain bersiap di tiap-tiap pintu masuk disekeliling gudang," kata Nick.

"Dan saat kalian menyerang, aku akan membawa mobil mendekati gudang supaya kalau terjadi apa-apa, kita bisa langsung kabur," Logan mengakhiri rencananya.

"Kurasa ini akan berhasil," kata Kevin.

"Hei, tapi kalian berempat kan tidak punya senjata?" tanya Joe.

Kendall, Logan, James dan Carlos saling melempar pandangan, dan berkata dengan mantap, "We are the weapon itself."

.

Mission Possible-but difficul tasks-

Higanbana Rin Lidde-2011

T. Humor/Adventure

I own nothing. Nor Big Time Rush or Jonas, or anything mentioned in this fiction

.

Yeah! Chapter dua! How's that? Lebih kerasa nggak actionnya? Atau pada bingung? Saya sendiri juga bingung. Inilah kalau author picisan mencoba menulis ala serial crime.

Chapter depan adalah yang terakhir. You gonna love it.

Respect and support everyone in these fandoms by buying their works properly. Also if you want to try some dangerous scenes here, please don't.

Xoxo

Rin

.

Keterangan:

*) Computer Analysis Response Team. Tugasnya untuk menganalisis semua bukti yang berhubungan dengan teknologi.

*) Soundwave, autobot antagonis di Transformers Dark Of The Moon bertransformasi menjadi Silver Mercedes-Benz SLS AMG.

*) Glock 23 .40 S&W adalah senjata yang biasa digunakan oleh agen FBI.

*) 6.5x52mm Mannlicher Italian Carcano M91/38 Bolt-Action Riffle adalah senjata yang digunakan oleh pembunuh Presiden Amerika Serikat JFK.

*) Mirage salah satu autobot di Transformers Dark of The Moon bertransformasi menjadi Red Ferrari 458 Italia.

*) 1953 Buick Skylark Convertible adalah mobil yang dibeli Kevin di episode pertama Jonas LA.