Butlerku Tersayang. .
.
Standar Disclaimer Applied.
"Kurokocchiiiiiiii~!" seru Kise sambil menerjang Kuroko, walau yang diterjang segera menyingkir dan membuat Kise menabrak dinding. Akashi mendatangi Kuroko, "Kau tak apa,Tetsuya?" Kuroko mengangguk. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Hampir saja dia terkena pelukan super maut dari Kise Ryouta. Mungkin kalau perempuan akan senang jika dipeluk seperti itu, tapi bagi lelaki itu menjijikkan.
"Uhh..." Kise menggosok-gosok kepalanya yang nyeri karena 'dicium' dinding tadi. Serius, sakit banget. Tapi ini belum apa-apa, karena di rumah dia sudah pernah menerima yang lebih dari Akashi. Dia bangkit dan berjalan ke arah Kuroko, "Mou, Kuroko-cchi!"
"Ya, Kise-kun?" Kuroko menjawab acuh tak acuh. Dia masih merinding.
"Kenapa menghindar setiap kali mau kupeluk sih?" Kise 'marah' sambil mengusap-ngusap matanya. Akashi melihat Kise dan segera menghela napas.
"Karena dipeluk Kise-kun itu menjijikkan. Aku laki-laki, lho, Kise-kun." Kuroko menyuarakan pendapat jujurnya ke Kise. Kise terdiam, kemudian menerjang Kuroko dengan tiba-tiba. Tentu saja Kuroko terkejut.
"Kise-kun?" "Tuh, apanya yang menjijikkan coba? Kan cuma pelukaa~n~." Kise memeluk Kuroko dengan erat, dan Kuroko memikirkan dengan cepat cara untuk melepaskan Kise dari dirinya.
"Kise-kun, katamu kau akan segera 'menikah' dengan Akashi-kun, bukan? Kalau begitu, sekarang kau sedang selingkuh di depan Akashi-kun. Nanti Akashi-kun menangis lho." Akashi menjatuhkan buku yang baru saja diambilnya dari tasnya, dan menatap Kuroko dengan pandangan apa-apaan-kau sebelum bersiap lari. Tapi yang ditakutkannya tak pernah datang, karena Kise tak pernah melepaskan pelukannya dari Kuroko. Akashi menghela nafas lega dalam hati.
"Ahaha~, nggak selingkuh dong Kuroko-cchi... karena," Kise membisikkan sesuatu ke telinga Kuroko, dan mata Kuroko terbelalak sedikit, "mengerti?" Kise melepaskan pelukannya dari Kuroko.
"Akashicchi!" Yang dipanggil langsung berbalik, "Ya, Ryouta?"
"Aku lapaaar! Ayo makan di taman." Akashi langsung mengambil bekal makan Kise dan bekal makan miliknya dan segera menyusul Kise yang sedang berdiri di depan pintu.
.
.
.
.
"Masakan Akashicchi selalu enak ya..." Kise makan dengan lahap, dia tak berniat menyisakan apapun yang dimasak Akashi, dan itu membuat Akashi cukup senang.
"Hmm. Makannya pelan-pelan, Ryouta." Akashi mengelap mulut Kise yang belepotan rumput laut. Bekal hari ini adalah nasi rumput laut dengan lauk sosis gurita (permintaan pribadi Kise), telur dadar gulung, dan berbagai sayur. Pokoknya menu lengkap empat sehat lima sempurna, hanya kurang susunya.
"Ngg." Kise melanjutkan makannya dengan lebih pelan.
"Oh iya, Akashi-cchi..." Kise meminum teh panasnya, "beberapa hari lagi sepertinya aku tak bisa masuk sekolah. Bisa buatkan surat sakit?"
Akashi menatap Kise, "Pekerjaan di luar negeri lagi?" Kise mengangguk sebagai jawaban. "Akan kulakukan, tuan muda." "Sankyuu-ssu."
Mereka melanjutkan makan dalam diam.
.
.
.
"Hati-hati, Ryouta."
"Hmm."
.
.
.
.
Sudah dua hari berlalu. Sekarang, Akashi sedang mengecek barang bawaan Kise, karena dia tak mempercayai tuan mudanya bisa mengepak dengan bagus. Persediaan baju, peralatan mandi, mainan, dokumen-dokumen, cemilan...
Setelah mengeluarkan mainan tak penting, Akashi menutup koper Kise. Tuan mudanya sedang bertelepon dengan kliennya. Malam ini dia akan berangkat. Dan fitur ceria Kise Ryouta yang biasa terlihat sekarang lenyap entah ke mana. Karena itulah Akashi tak terlalu suka jika Kise harus berkerja. Dia jadi...
"Ah, Akashicchi, sudah selesai?" Kise memasukan telepon genggamnya ke dalam saku. Akashi mengangguk. Kise protes saat melihat Akashi yang menaruh mainan truknya di atas meja. Akashi menjawab dengan kalem bahwa itu hanya akan menambah bawaan. Kise protes lagi. Akashi memberikan tatapan mengerikan. Kise terdiam.
"Haa, cukup, cukup. Aku mau mandi dulu..." Kise pergi menuju kamar mandi dengan malas-malasan. Akashi menghela napas melihat sikap kekanakan Kise.
.
.
"Nah, selesai," ucap Akashi saat dia selesai memakaikan dasi Kise. Kise tertawa kecil, "Kau istri yang baik, Akashicchi~." Dan sebagai balasan, Kise mendapat tendangan 'lembut' ke tulang keringnya. Kise mengerang, kemudian tersenyum, "Kalau malu nggak usah main pukul dong, Akashicchi. Sakit tahu, khuhu."
Kise tak bisa menahan tawanya lagi saat melihat wajah Akashi sekarang. Merah. Walau tak begitu jelas, tapi memang ada merah di wajahnya. Kise memeluk Akashi. Dia merasakan tubuh Akashi yang tegang dalam pelukannya, sebelum kembali normal dan menyenderkan kepalanya di bahu Kise. Kise menghirup aroma Akashi sebanyak yang ia bisa.
Lima menit berlalu, dan kaki Kise kembali mendapat tendangan. Kise melepas pelukannya dan segeran melompat-lompat memegang kakinya.
"Sana, yang lain sudah menunggumu." Kise menggerutu pelan, dan keluar dari pintu dengan Akashi yang mengikuti di belakangnya.
.
.
.
TBC
.
.
Huwaa, terima kasih bagi semua yang sudah meripiuu ;w;
Balasan :
ryuu dearu : Pertama-tama, terima kasih reviewnya. Ah, di sini Akashi emang Uke kok. You know, Uke yang suka merintah seme is cute muhehehe. *smirk*#dor Mohon reviewnya lagi ya :D
Izuryuu : Terima kasih reviewnya, Izu-san. Halo~*sodorin gunting* Makasih, hehehe. Ini sudah apdet, semoga nggak mengecewakan Izu-san~
bola oranye : Terima kasih reviewnya. Ki/Aka memang udah lumayan banyak, sebagai fangirl mereka saya senang muhehehehe / Aih, makasih. Akan diusahakan, tapi karena masih awal-awal wordnya memang sengaja saya kurangi heheh. Ini sudah diapdet~Mohon reviewnya lagi~
fenghua : Terima kasih reviewnya. Akashi menjaga bayi mesum :P#dirajamgunting.
Ai Natha : WAAA!#dor Uh, terima kasih reviewnya, kak. / Haduuh, Maso!Kise is hot~ *giggles*#dilempar jauh2 Ini sudah lanjut. Mohon reviewnya lagi~
Hyorikazu : Terima kasih reviewnya. ...JANGAN KEROYOK SAYA!#kabur#didor#DOR
: sebelum saya melarikan diri, saya berterima kasih atas reviewnya DAN JANGAN TODONG SAYA PAKE GUNTING QAQ#lari#DOR
Maeva Zahra : Terima kasih reviewnya~. ...eh, potensial apaan, Zahra-san? O.o
Chappie ini kesannya cepat banget ya...#terdiam
Well, sepertinya nggak ada yang nyadari kesalahan saya di chappie satu (yay)/#DOR
Comments will always be appreciated. Thank you for reading!
