Masih untuk merayakan Naruhina Fluffy day, chapter kedua di bawa serta.

Yosh, dozo, minna-san...

Disclaimer: Masashi Kishimoto, but this fict is origin of me.

Warning: AU, lil OOC, Naruhina all the ways, a bit of romance, Hujan. School-life,typo(s)? sorry #ojigi. Jika nggak suka, sebaiknya tidak menyakiti diri sendiri. ^^

Saya mengerjakan fict ini dengan mendengarkan 'If' from Kana Nishino.

Love Rain

Karena Cinta tak pernah memandang waktu…

Hello Girl: Part II

.

.

.

Aku tak pernah bisa mengerti,

Kenapa "Perbedaan", adalah hal termanis yang kita miliki?

(Naruto x Hinata)

.

.

.

Percayakah kalian pada benang merah? Semacam bentuk tak kasat mata yang mengikat kehidupan satu dengan kehidupan lainnya. Samar, sama sekali tak tersentuh, tapi selalu berhasil membuatmu menemukan bahwa; dialah takdirku!

Dalam Klan Hyuuga, tak ada namanya kebetulan. Tapi Hinata selalu menyebut kesialanya yang dibawa ketika berdekatan dengan si Uzumaki kurang ajar itu dengan kata itu; kebetulan.

"Kebetulan saja dia nyerobot payungku."

"Kebetulan saja dia duduk di sampingku."

"Sial! Kenapa kebetulan dia jadi partnerku sih?"

Lalu ketika kelas tambahan musim dingin dimulai, mereka berdua bertemu lagi-demi mendongkrak nilai yang tak mencapai persyaratan-di kelas yang sama. Bisa kita lupakan kehadiran Shino yang mulai dengan muridnya; Hinata, atau dengan sosok Ino yang memulai dengan ceramahnya karena muridnya, Naruto, terlambat.

Hinata dan Naruto sama sekali tak menyapa, duduk berjauhan dan tenggelam dalam pikiran sama; kenapa dia ada di ruangan yang sama denganku?

Pada akhirnya Aburame mengajak Hinata ke lapangan yang mulai mendapatkan serpihan salju, praktek lebih penting daripada teori dalam olahraga.

Ocehan Ino berhenti, dan dia mulai membuka buku matematika-setelah memerintahkan Naruto melakukan hal sama. Gadis itu menuliskan beberapa angka dan konstanta di papan tulis, lalu juga menulis beberapa simbol kemudian mengerjakannya sendiri sambil membuka ocehannya yang baru. Kali ini tentu saja berisi proses penyelesaian soal yang ada.

Setengah hati pemuda Uzumaki itu menyimak. Matanya yang bak refleksi samudera dangkal di musim panas, lurus menghadap papan tulis, tapi konsentrasinya terpecah. Sampai akhirnya Ino memergokinya melamun, lalu meledaklah kemarahannya sambil berkata bahwa tidak seharusnya Naruto menyia-nyiakan niat baiknya yang telah bersedia membatalkan janji pergi ke pemandian air panas bersama teman-teman lainnya demi menjadi tutor si Uzumaki.

"Hh, iya, iya." Naruto menghela nafas, menghembuskan udara dari mulutnya dengan keras, lalu mulai menanyakan apa yang tidak ia ketahui pada Ino.

"Ano, Ino, tolong ulangi dari awal. Bicaramu terlalu cepat-ttebayo."

Dan dengan mengumpat, "BAKA!" secara nyaring, gadis bersurai panjang itu pun terpaksa mengulangi lagi bagaimana limit sin x per x menjadi bernilai sama dengan limit x per sin x.

~Aiko Fusui~

Kelas tambahan diadakan seminggu penuh di awal liburan semester ganjil. Sedangkan liburan musim dingin tahun ini hanya memberikan waktu sampai tahun baru; hanya dua minggu.

Bagi Hinata yang notabene anak rumahan, hal itu bukan masalah besar. Apalagi dia hanya berangkat tiga kali dalam minggu ini, mengingat hanya pelajaran olahraga yang membuat rapor-nya tercoreng.

Senin. Rabu. Jumat.

Hari ini di kalender, Selasa menjadi nama yang diingatkan Hanabi sebagai waktu menonton film bersama. Gadis kecil itu berlari ke kamar nee-chan-nya, menggeser soji yang tak dikunci, lalu terkaget di ambang pintu melihat Hyuuga berambut indigo panjang yang telah rapi dengan seragamnya.

"Maafkan Nee-chan, ada sedikit keperluan di sekolah, Hanabi-chan." Alasan itu keluar begitu saja dari bibir Hinata. Ia hanya ingat bahwa ia harus segera ke sekolah di musim dingin yang menyentuh natal. Alasan sebenarnya, sama sekali abstrak.

Sesuatu kebutuhan abstrak yang tak terlihat itu menarik dirinya, mendekat ke tempat yang sama sekali tak ia rencanakan. Kebutuhan itu datang begitu saja ketika ia terbangun. Melihat kalender di hari Selasa, hatinya nyeri. Kebutuhan itu pun semakin menguat.

Awalnya ia pikir kebutuhan tak terpenuhi itu timbul karena ia tak terbiasa dengan hari libur. Tak terbiasa seharian duduk diam di rumah. Ahahaha, ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia juga tak terbiasa tidak menemui si Kurang Ajar Uzumaki barang sehari.

Tapi pikirannya sama sekali tak bisa diajak kompromi, semua kelakuannya hari ini hanya berdasarkan insting liar yang baru pertama kali menghampiri dirinya.

Yang ia tahu, semakin ia mendekati gedung luas berlabel Hansho Gakuen, kebutuhan itu semakin menyentak degup jantungnya secara menggila. Membuat setiap ujung saraf di telapak tangannya bergetar tak nyaman, tapi juga menolak untuk tidak dipenuhi.

Kebutuhan itu dengan janggalnya menggebu bersamaan dengan tangannya yang membuka pintu geser kelas. Ketika mata perak bagai bulannya bertemu dengan sapuan safir milik si Kurang Ajar, secara ajaib kebutuhan itu terpuaskan. Entah kenapa, hanya dengan menatap mata pemuda yang namanya sudah ia blacklist, ia menjadi tenang.

Hatinya terasa utuh.

Tanpa sadar, bibirnya melengkungkan senyuman.

"Apa yang Kau lakukan disana, Hinata?" suara Ino di sudut lain menyita perhatian, merusak sambungan bentang merah tak telihat.

Gadis Hyuuga itu menggeleng, secara perlahan berkata, "Aku tidak tahu."

"Merindukanku, mungkinkah?"

Seketika pipinya merona, hangat menyebar di muka saat tahu bahwa Naruto si Kurang Ajar-lah yang mengatakannya.

"Bu-butuh seribu tahun lagi, Baka-sama!" balasnya, mukanya masih merah.

"Lalu kenapa kau ke sini? Kau tidak ada jadwal, kan?" Naruto menyerang lagi. Sepenuhnya Ino dan Fisika terlupakan.

"B-biarin! Terserah A-aku, kan!"

Naruto menyeringai, "Dasar aneh."

Hinata membalas, "Dasar bodoh!"

"Mendokusei-hime."

"Baka-sama!"

"Kulit pucat!"

"Kumis!"

"Pelit!"

"Bod-"

"STOP!" Ino akhirnya berteriak, menengahi, kembali berbicara cepat sebagai bentuk frustasi karena dua teman sekelasnya yang selalu bermasalah.

Di dua pihak, mereka saling tatap dengan kebencian yang tajam, mengacuhkan segala ocehan Yamanaka yang benar-benar berusaha memperpanjang sisa kesabarannya.

"Kalian itu benar-benar beda..." suara Ino mulai terkendali, menyita perhatian karena disuarakan secara dalam.

"...tapi akhirnya aku tahu persamaan kalian." Yamanaka pirang menatap dua pasang mata yang menunggu dengan tak sabar, membalas dengan tatapan 'aku-lelah-melihat-kalian'.

Bening dan jelas, Ino melanjutkan kalimatnya. "Kalian sama-sama keras kepala."

Hinata berlari pulang.

Esok hari, gadis itu berangkat lebih awal, menyimpan roti selai dan daging asap di kotak bekal, lalu berjalan menuju sekolah. Berharap si rambut pirang yang belakangan membuat hatinya kebingungan, datang terlambat.

Salju di jalan masih berwarna seputih buku tulis, mengeratkan jaketnya, Hinata berusaha berjalan lebih cepat.

Apa yang tengah 'dia' lakukan sekarang?

Pertanyaan misterius itu datang begitu saja, bersamaan dengan potret diri Uzumaki Naruto yang perlahan mencuat dari persembunyian terdalam hatinya.

Hinata terperanjat, menggeleng keras, merutuki diri sendiri kenapa si Kurang Ajar bisa memunculkan pertanyaan itu dalam dirinya.

Pipinya menghangat, matanya berair, dan seolah ada luapan begitu banyak perasaan yang merambat dari ujung-ujung jari kakinya. Semakin membuatnya kehilangan logika saat bayangan cengiran si Kurang Ajar terus melintas tanpa henti.

Dan entah darimana gaung itu berasal, tiba-tiba suaranya begitu dekat dengan dirinya. Imajinasi liar yang menggoda. Memanggilnya, menyebut namanya dengan semangat. Ia menghela nafas, menghembuskan udara yang terasa berat lalu pasrah pada kendali tak kasat mata yang kini menjeratnya pada perasaan tak bernama.

Ia kembali melangkah, terus dengan pipi bersemu karena sepanjang jalan tak bisa menghilangkan embel-embel 'Naruto' barang sebentar. Hinata tiba di kelasnya yang sepi, melewati kelas lain yang juga telah memulai kelas tambahan di hari sepagi ini.

Menuju bangkunya di samping jendela, duduk termangu menatap ke gerbang sekolah yang sama sepinya dengan kelas. Matanya sama sekali tak mengganti fokus. Sempat heran, dan memilih membiarkannya tanpa menelusuri hatinya lebih dalam; mencari apakah matanya melihat Naruto datang.

Sepuluh menit, bosan yang tiba. Dia menghela nafas.

Tidak ada.

Memutuskan untuk memakan bekal, sarapan. Merogoh ke dalam tas, mengeluarkan kotak hijau yang menyebar aroma pengundang lapar. Ia beranjak ke wastafel di kamar mandi, mencuci tangan sebentar sebelum duduk lagi di bangkunya demi menghadapi makanan yang terbuka.

"Itada-" harapannya menggantung di udara.

Grek- pintu terbuka. Sepasang mata bertemu sepasang mata lain. Pipi putih bersemu tanpa komando. Mulut bergetar, ingin menyapa.

"Oh, Ohayou si Pelit." Tapi dia mendahului.

"O-ohayou..." menunduk, menggenggam tangan di pangkuan rok seragam musim dingin.

"Eh? Apa Kau sakit?"

Hinata tak mengerti. Seingatnya ia bangun di pagi hari dengan kondisi yang sangat baik; degup jantung yang berdentum cepat, mata yang mengerjap membiaskan cahaya, dan keringat yang mengalir dari pelipis. Apa yang salah dengan dirinya? Ia tak bisa disebut sakit. Ia normal.

"Kau tahu, Kau sama sekali tak membalas ejekanku. Itu membuatku khawatir, yah- sedikit." Naruto menggaruk pipinya yang entah sejak kapan menyebar semburat merah.

Wajah Hinata makin merah. Jantungnya terpompa oleh katrol dengan putaran gila-gilaan ia tersanjung, benar-benar tersanjung. Tapi tak tahu harus bagaimana.

Hening menginterupsi dengan baik. Dan keduanya terlalu canggung untuk merusak setiap keistimewaan yang ada sampai...

Kruyuk

Aroma daging dari bekal Hinata telah mengundang paduan suara perut Naruto yang nyengir malu-malu. Kecanggungan itu rusak seperti cangkang kosong yang dibenturkan ke dinding. Tawa lepas dari Hinata dan tawarannya kepada Naruto atas bekal untuk berbagi bersama, memacu adrenalin ringan bagai kepak sayap yang menepuk waktu.

Hinata sama sekali tak menyesal ketika tadi pagi ia dengan sengaja mengambil dua pasang sumpit.

Ino datang, tapi menghentikan langkah di balik pintu, dari tempatnya yang aman, mengamati pemandangan menarik di dalam kelas. Matanya membelalak, bahkan merasa mimpinya semalam belum terputus. Tapi kemudian ponselnya bergetar, lalu menyadarkannya bahwa semua yang ia hadapi adalah nyata.

Pesan masuk. Isinya mengajaknya untuk bermain di teater.

Gadis itu melengkungkan senyum, menyeringai kala ide jahil datang ke kepalanya.

Air dan minyak sedang akur. Tak salah membiarkan mereka seperti ini. Nah, selanjutnya biar diurus tangan Tuhan.

Ino melenggang, mengetik pesan singkat pada Shino. Tetap dengan seringai yang manis.

Oh, jangan lupa mengirim pesan pada Naruto-kun juga! Hihihi.

~Aiko Fusui~

-.-

'Maafkan aku, Hinata

Hari ini aku tidak bisa datang'

To: Hinata Hyuuga

From: Shino Aburame

-.-

Padahal hari ini adalah jadwal ujian prakteknya. Hinata sudah siap menangis tatkala Naruto meneriakkan "Kuso-ttebayo!" secara mendesis. Pandanganya teralih, mengamati perubahan wajah Naruto yang mulai menyadari reaksinya.

"Ino tidak datang." Naruto bilang.

'Jadi dia juga.' Dalam hati. Hinata merasakan dentum perasaan lain. Asing dan memikatnya pada satu solusi yang awalnya ditolak mentah-mentah oleh mereka berdua.

"A-aku bisa jadi tu-tutormu, asal Kau ju-juga jadi tutorku."

Oh, bukankah ini akan membahagiakan Anko-sensei?

Pada dasarnya, Naruto cepat menyerap pelajaran. Hanya saja ia tak pandai meletakkan rumus dan angka secara benar. Rumus A diletakkan pada soal C, rumus C diterapkan pada soal B, sedangkan rumus B hilang dari memori otaknya.

Hinata perlu kantong kesabaran yang lebih besar demi menggerus pertahanan bebal otak Naruto yang mudah marah bila disebut 'bodoh'.

Gadis itu menghela nafas berkali-kali. Ini akan sulit, pikirnya. Berdebat dan saling memaki, merasa benar, lalu salah satu akan mengerucutkan mulut sambil merona ketika benar-benar tak mencapai jawaban yang benar.

Menghabiskan waktu selama dua jam lebih demi menyelesaikan lima soal integral, tiga soal limit, dua soal kesetimbangan, tiga soal gravitasi, tiga soal persilangan gen, dan empat soal kelistrikan. Sama sekali tak menyadari bahwa 17 soal itulah yang membuat mereka semakin dekat. Bersentuhan tanpa rasa canggung, hanya diliputi rasa kesal karena berbeda pendapat. Mendekatkan wajah dengan mata membelalak karena tak ingin kalah.

Dan ketika sadar dengan apa yang tengah mereka lakukan, meja menjadi pelindung dari banyaknya rasa malu yang timbuk sebagai indikasi semburat merah yang tampil dengan indahnya.

Rintik hujan kemudian turun saat keduanya berada di lapangan bola-giliran mentutori Hinata. Gadis itu tak terlihat keberatan dengan air langit yang menuruni pipinya, tapi di depan gawang sana, Naruto berusaha menyelamatkan diri.

"Kau bisa pergi dari sana." Hinata bilang, suaranya serak bertanding dengan hujan. Ia maklum pada sifat Naruto yang tidak suka hujan, apalagi hujan yang bisa membuat bajunya basah seperti itu.

"Mengusirku? I stay here!" Naruto berkacak pinggang, meski langsung lepas karena masih berusaha melindungi kepalanya dari basah, sia-sia.

Di garis pinalti, Hinata tertegun beberapa saat. Di depan matanya kini berdiri lelaki yang berbeda dari yang pernah ia kenal. Di rundung hujan; hanya menggerutu. Di serang basah; menggetarkan kedua kaki tapi tak mau berlari. Naruto di depannya, bukan lagi Naruto si Kurang Ajar. Ia bersedia terkena air, rela bajunya basah, di hari dimana seharusnya Shino yang mengisi posisinya sebagai tutor Hinata.

Hinata merona, melengkungkan sebentuk senyum samar. Ini... manis.

"Cepat tendang!" Naruto berteriak, mukanya tertekuk karena sekarang dia telah sempurna basah. Kalau bisa, ia akan berlari sedari tadi, menjaga agar tubuhnya tetap kering. Tapi seolah dicengkeram sebentang benang manis, kakinya tak mau bergerak. Hatinya tertanam pada gadis yang mengambil ancang-ancang di depannya.

Stay Here...

Dalam hati, Hinata berkata, 'Kebetulan dia sedang baik.'

Bola bersentuhan dengan punggung kaki, melayang menembus butiran lemah air hujan. Menghambatnya, namun tetap tersampaikan dengan baik ke pelukan si penjaga gawang.

"Ulangi! Kali ini harus gol!"

Hinata mengangguk, menuruti perintah Naruto untuk menggunakan kekuatan penuh. Ketika tendangan dilancarkan, bola tetap ditangkap dengan mudah oleh Naruto. Pemuda itu berteriak, mengulangi perintah sama. Kesekian kali Hinata mengangguk, menghela nafas dan menyingkirkan air hujan yang mulai mengganggunya.

Gadis itu membulatkan tekad, mengumpulkan semua tenaganya di kaki kanan. Menendang bola sekeras yang ia bisa, sayangnya meleset ke kiri, Naruto bergerak ke sana. Bersiap menerima bola yang menurut prediksinya akan melewati tepi luar gawang, alias tidak gol. Tapi prediksinya salah. Bola lebih dulu membentur di sudut dalam tiang gawang sebelah kiri saat Naruto membentangkan tangannya ke sana, menyebabkan si bola memantul ke bagian kanan yang hampa dari penjagaan. Naruto tidak siap berakselarasi dengan keadaan tubuh melayang.

"GOL!" Hinata berteriak di tengah lapangan, Naruto terengah-engah meski wajahnya menampakkan senyuman takjub. Rambut mereka lepek, menyentuh tiap sisi leher dan wajah masing-masing.

Gadis itu berlari, menghampiri Naruto yang masih terduduk di depan tiang kiri gawang. Wajahnya menampakkan kepolosan seorang Hyuuga yang murni tanpa dibuat-buat. Naruto mendongak, menghadapi keindahan istimewa di depannya. Dalam pandangannya, Hinata yang basah, berjongkok di depannya, rambut yang terlihat lebih gelap dan berat, dengan senyuman mengembang, baju melekat sempurna ke tubuh, dan mata perak yang berbinar bagai bulan; Naruto harus menyebutnya apa kalau bukan 'Cantik'?

"Kau lihat tadi? Lihat kan, Naruto! Gol! Gol!" bahkan suaranya kini terdengar begitu adiktif. Dan coba dengar saat dia menyebut namamu, Naruto. Bukankah kau menyukainya?

Tak ada pelukan tiba-tiba, apalagi kecup mesra dari bibirnya. Tapi derai tawa dari keduanya cukup membuat hujan merasa sangsi telah turun mengguyur keduanya di tengah lapangan, berharap hujan tak akan menjadi peluntur kebahagiaan manis yang sungguh tak terlupakan.

Takdir.

Ketika bola itu sempurna menjebol gawang, bersamaan dengan itu, Hinata telah memasuki hati Naruto dengan irama hujan.

Halus, menyebalkan, dan tak bisa ditolak.

~Aiko Fusui~

Singkat cerita, Naruto Uzumaki lolos dalam pencapaian nilai eksaknya di kelas tambahan. Ino hanya datang ketika teman-temannya tidak mengajaknya keluar rumah untuk bersenang-senang. Dan Shino tak pernah datang lagi karena sebagian serangga peliharannya bermasalah dengan suhu dingin bulan Desember.

Hinata tak bisa mendapatkan nilai sempurna di bidang olahraganya, tapi tetap bersyukur dengan nilai tujuh puluh delapan karena berhasil mencetak gol ke gawang Naruto yang katanya tak terkalahkan sebagai kapten tim sepak bola sekolah.

Ohya, perlu dicatat, Naruto bersikeras mengatakan bahwa keringatnya tidak akan membuat bajunya basah.

"Aku berkeringat, bukan basah!"

Karena itu, ia selalu menjadi yang terbaik di kelas wajib olahraga. Terkenal karena tendangannya yang lincah, shooting yang tepat dan indah, dan gerakannya yang tak bisa diprediksi. Guy-sensei menawarinya untuk mengikuti pendaftaran pemain muda Manchester United sejak kelas satu. Tentu saja ia tak menolaknya, ditambah ia juga salah satu penggemar Setan Merah yang tak pernah mau mengalah di klasemen Liga Inggris.

Melewati tahun baru, melewati valentine, tepat di bulan Hanami, berita bahagianya datang.

Dari Inggris, dengan cap resmi klub Manchester United, mengundang bocah hyperaktif yang tak suka hujan itu bergabung dengan klub junior mereka. meninggalkan jepang selama pelatihan.

Seperti di bayangan kalian, Uzumaki penyuka ramen itu berlonjak-lonjak gembira di depan Guy-sensei yang tak mampu menghentikan air mata harunya. Dengan surat bercap kebanggaan Setan Merah, ia berlari berkeliling sekolah, menyapa satu per satu anak yang ia temui.

"Gue masuk Manchester! Gue masuk Manchester! Dattebayoooo…"

Hinata tak luput dari serangannya. Bahunya diguncang dengan semangat. Wajahnya menerima banyak suka cita yang terbias dari lawan bicaranya. Tawa yang keluar dari bibir Naruto sebenarnya mengundang tawa yang lain. Tapi, entah kenapa Hinata tidak bisa membiarkan dirinya lebur dalam euforia tersebut.

Kelasnya ramai oleh celoteh, Naruto ditarik ke tengah dan dirungrung banyak pertanyaan. Pemuda itu tak berubah tawanya, meski kepalanya kini dielus-elus kasar oleh sahabat-sahabatnya.

"Si Dattebayo mau ke Inggris! Gila! Ahahaha."

Hinata tersudut dalam perasaanya sendiri. Matanya terasa berat dan basah. Ia seharusnya senang karena si Kurang Ajar tak akan lagi mempunyai kesempatan memanggilnya 'Si Pelit'. Tapi yang ada hanya rasa sesal. Ia seharusnya bahagia karena tak harus bertengkar lagi setiap saat dengan si pirang mata laut itu. Namun yang muncul hanya rasa sedih. Dan ia seharusnya bisa turut bersuka cita menerima kenyataan bahwa salah satu temannya berhasil meraih mimpinya. Tapi sungguh, ada rasa egois yang muncul dan menyuruhnya untuk menahan keberadaan pemuda itu di sisinya.

Hinata tak tahu harus berbuat apa.

Jam pelajaran sudah usai sedari tadi.

Ia berdiri, dengan jaket dan tas yang aman di lekukan lengan kanannya. Memberanikan diri menghampiri euforia di tengah kelas dengan Uzumaki Naruto sebagai pusatnya. Logikanya yang tersisa menyuruh seluruh sarafnya untuk memberi ucapan 'selamat' sebagaimana teman biasa.

Menampik keegoisan yang muncul, ia akan jadi dewasa.

Ia harus siap menghadapi ini. Perasaan tak bernama yang entah kapan bisa ia singkirkan.

"Naruto, si Kurang Ajar..." ia memanggil lirih. Tapi cukup untuk membuat semua orang tersita perhatiannya. Sepenuhnya menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh gadis Hyuuga yang katanya tak bisa akur dengan si Uzumaki.

Bola mata peraknya beremu warna langit di depannnya, sama dengan yang lain; menunggu.

"Ya, Hinata si Pelit?"

"S-selamat, semoga sukses di I-Inggris."

Lalu Hinata berlari pulang, menyimpan semua air mata yang tidak pernah bisa ia mengerti datangnya.

Rasa sakit yang sama, muncul begitu saja di benak Naruto. Seperti di tekan kuat-kuat oleh setipis benang tak kasat mata.

~Aiko Fusui~

.

.

.

Moshimo sukoshi demo ano shunkan ga surete tara

(If that instant had been slightly different)

Futari wa chigatta unmei wo tadotte shimatteta

(We would have walked on separate paths of fate)

(If - Kana Nishino)

.

.

.

Bersambung

Jika pengen tahu chapter berikutnya, saya minta reviewnya. ^^

Saya juga butuh suntikan semangat.

Terima kasih pada: Algojo, Amanojaku Miyanoshita, dan Faris Shika Nara(terima kasih sudah menunggu, kelanjutannya bisa dibaca sekarang^^), Azzaqiyy(apa itu premium? ehehe), Soraya Uehara(ehehehe, terima kasih sudah penasaran), Hyuga Arika(iya, awalnya mereka nggak akur), K(ohya? Iklan molto yang mana?), Hoshi no Nimarmine(terima kasih, update-nya sudah datang^^), Nataka-san(terimakasih sudah ngambek #lha? Ehehehe, maksudnya sudah fave ), Kirei-neko(awalnya pengen oneshot, tapi jadi panjaaaaaaaaaaaaaang banget, jadi di multi saja. Terimakasih ^^)

Terima kasih sudah membaca.

Salam hujan

Aiko Fusui