TITLE : Complicated

AUTHOR : LightningKlass

GENRE : School life, drama, romance, friendship

RATE : T

SUMMARY : Sanghyuk, Jaehwan, dan Hongbin selalu saling mendukung sejak mereka memiliki cinta mereka masing-masing. Namun tiba-tiba, semua berubah. Mereka pun terjebak dalam perasaan mereka terhadap satu sama lain.

A/N : hai! Author bawa FF baru nih! FF lama sih,, Cuma Author perbaharui wkwk... dan karena FF ini sudah totally finish, Author ga akan update terlalu lama kayak FF yang kemaren hehe.. sekalian untuk chapter pertama, author langsung update hehe... so... just enjoy ^^

Chapter 1

-Let's Go Hang Out-

_Jaehwan POV_

Bel sekolah berbunyi, tepat ketika Pak Guru mengakhiri pelajaran terakhir. Seluruh murid langsung berlarian keluar kelas, menyebabkan keheningan di seluruh penjuru gedung sekolah pecah. Sedangkan aku masih duduk di bangkuku, sembari menyandarkan dagu di atas ranselku di atas meja.

Aku menghela nafas, "Haah~~"

"Hyung kau baik-baik saja?" Tanya Hongbin sembari membereskan barang-barangnya.

"Ne~~ Aku hanya merasa bosan." Ucapku, sembari memeluk tasku dengan malas. "Aku suka berada di sekolah. Tidak ada yang bisa kulakukan di rumah."

"Kalau begitu ke kafe saja, yuk!" Sebuah suara muncul dari bangku di belakangku dan Hongbin. Yang barusan bicara itu Sanghyuk.

"Oh! Boleh juga! Ayo!" Kata Hongbin penuh semangat, kemudian melanjutkan beberes ranselnya.

Aku masih dengan posisiku, "Tapi aku capeeek~~~"

"Kalau begitu pulang saja, istirahat." Kata Wonsik, berdiri di sampingku. Sanghyuk juga sudah berdiri di samping Hongbin.

"Tapi di rumah pasti bosan!" mereka terdiam dan menatapku aneh. Aku senang ketika mereka kebingungan karena tingkah anehku. Aku tertawa kecil, kemudian berdiri. "Tidak, aku hanya bercanda. Ayo, ke kafe."

Ketika kami melewati gerbang, Wonsik tiba-tiba berhenti. "Tunggu, Hongbin. Kau tidak mengajak Taekwoon hyung sekalian?"

"Tidak. Dia pasti sudah dengan klub sepak bola-nya."

Kami sampai di kafe langganan kami dan memesan minuman. Lalu kami berbincang-bincang tentang berbagai hal. Tentang sekolah, guru-guru aneh atau bahkan yang killer, dan juga tentang beberapa teman freak di sekolah. Kami tertawa selama berbincang-bincang. Menyenangkan. Aku benar-benar merasa nyaman ketika bersama mereka.

Saat Wonsik dan Sanghyuk tengah berbicara tentang hal-hal gila yang aku dan Hongbin tak mengerti, Hongbin, yang duduk di sampingku tiba-tiba berbisik padaku.

"Maaf, hyung. Aku tak bisa mengajaknya. Kau tahu kan, dia ketua di klubnya. Dia sangat sibuk."

Aku tersenyum pada Hongbin. "Iya, tidak apa-apa. Selama aku bersama kalian, aku senang, kok."

Ia pun tersenyum padaku.

"Yah, Kalian! Jangan bisik-bisik di depan orang lain!" Teriak Wonsik. Hongbin tertawa, sedang aku hanya memutar bola mataku.

"Yah! Jangan teriak di depan telingaku!" Sanghyuk protes pada Wonsik. Lalu ia menatapku dan Hongbin. "Ngomong-ngomong, kalian membicarakan apa? Pasti tentang aku, ya?"

Aku dan Hongbin menatapnya dengan tatapan jijik.

"Hah? Untuk apa kami membicarakanmu?!"

"Mungkin karena wajah tampanku ini?" Sanghyuk mengedipkan salah satu matanya. Hongbin hanya tertawa.

"Ewhh.. Just go to the hell, can't you?!" Aku menatap tajam padanya.

"No.." Katanya sambil kembali bersandar di kursinya. "Lagipula tidak ada yang mau dijadikan sebagai topik pembicaraan oleh big-nose ini." Ia dan Wonsik tertawa setelahnya.

"Yah! Bisakah kalian berhenti meledek hidungku?! Ibuku bilang ini sebuah kebanggaan." Aku berdiri dan menggebrak meja. Okay, aku benar-benar sudah naik pitam karena dua orang di depanku ini.

"Oh, apa karena itu kau terus membiarkan benda itu bertengger di wajahmu? Ahaha!" Tambah Wonsik.

"YAHH!"

"Jaehwan!" Hongbin memegang salah satu bahuku, memaksaku kembali duduk di kursiku. "Kita di sini hanya bercanda. Hidungmu tidak aneh, kok. Kami tahu itu."

Aku hanya melipat kedua lenganku di depan dada, dan memalingkan wajahku dari dua anak freak itu. Bibirku mengerucut. Mereka masih tertawa, sampai seseorang datang dan memeluk Wonsik dari belakang kursinya. Orang itu adalah Hakyeon hyung. Kekasih Wonsik.

"Wonsikkie~~~"

"Hakyeon hyung?" Wonsik berdiri, dan memeluk Hakyeon setelah mengecup sebelah pipinya. Sedangkan mataku melirik ke arah seseorang. "Kenapa kau ada di sini, hyung?"

Hakyeon hyung melepaskan pelukannya dari Wonsik agar dapat melihat wajah kekasihnya lebih jelas. "Tadi aku sedang jalan-jalan dengan teman-temanku, lalu aku melihatmu di sini. Jadi kuputuskan untuk mengajakmu nonton."

"Tapi aku juga sedang bersama teman-temanku."

Hakyeon hyung menoleh ke arah kami.

"Oh, Hai Sanghyuk! Jaehwan! Hongbin!" ia melambaikan tangannya. Kami hanya membalas senyumannya, dan membalas lambaian tangannya. Kemudian ia kembali menatap Wonsik, poutting. "Ayolah, Wonsikkie~ Teman-temanku sudah pulang duluan."

Wonsik berpikir sejenak. Ia melirik kami bertiga. Kami pun hanya bisa mengangguk. Ia kemudian tersenyum pada Hakyeon. "Baiklah kalau begitu. Ayo!"

Senyuman lebar tumbuh di wajah Hakyeon hyung. Ia dan Wonsik bergandeng tangan, lalu berjalan menjauh. "Annyeong, Sanghyuk, Jaehwan, Hongbin! Sampai jumpa lagi."

"Annyeong!"

Hening... Aku dan Sanghyuk saling tatap, sebelum menoleh untuk melihat Hongbin, yang masih tersenyum dan melambaikan tangannya. Tapi kemudian wajahnya berubah sedih, dan kemudian menunduk.

Aku menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkannya. "Hongbin-"

"Shh.." Ia mendesis, lalu mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum. "Aku baik-baik saja, hyung. Sudah sering kulihat ini. Sudah biasa."

Kemudian kepalanya tertunduk. Aku dan Sanghyuk tahu tentang perasaanya pada Wonsik.

Sakit bukan? Melihat orang yang kau cintai bermesraan dengan cintanya di depan matamu. Dan cintanya itu bukanlah dirimu. Sangat menyakitkan.

Kami sudah sering menngatakan pada Hongbin untuk berpaling dari Wonsik. Tapi ia tidak mau.

Ia selalu berkata,

"Aku mencintainya, dan itu tak akan berubah. Tidak peduli dia sudah memiliki Hakyeon hyung di sisinya, aku akan terus mencintainya."

Bodoh? Ya, tentu saja. Dia juga tahu akan hal itu. Tapi ia tak bisa berhenti mencintai cinta pertamanya. Tipikal anak muda.

Kudengar ia menangis. Aku pun memeluknya, mencoba untuk menenangkannya.

_Nobody's POV_

Jaehwan berbaring di kasurnya, mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Yang ada di pikirannya hanya Hongbin.

Namun tiba-tiba, bayangan di otaknya berbuah menjadi Taekwoon. Wajahnya memerah. Ya, Jaehwan menyukai Taekwoon, kakak dari Hongbin. Namun tak ada yang tahu tentang hal ini selain Hongbin.

Dan menurutnya, memberitahu hal ini pada Sanghyuk atau Wonsik itu mustahil. Mereka hanya akan menertawai Jaehwan, entah kenapa.

Tiba-tiba ibunya, Nyonya Lee, memanggil dari lantai bawah.

"Jaehwan! Bisa bantu Umma?!"

"Ada apa, Umma?! Aku sedang mencoba untuk tidur!" Jaehwan menutup wajahnya dengan selimut.

"Ini baru jam delapan, Jaehwan! Dan jangan buat suaraku rusak hanya karena kau terlalu malas turun dari tempat tidur!" teriaknya lagi.

Jaehwan pun segera berdiri dan beranjak meuruni tangga sembari bergumam apapun untuk mengomel. Karena ia tahu ia tak mungkin mengomel di depan ibunya.

"Ada apa, Umma?"

"Kita akan mengadakan pesta kecil untuk ayahmu, saat dia pulang nanti. Aku bermaksud membuat bulgogi dan semacamnya. Tapi kurasa kita kekurangan garam. Kau pergi beli, ya?" Jelas nyonya Lee.

"Pesta? Pesta apa?"

"Jabatan ayahmu naik di perusahaannya. Hebat, kan?" tanya Nyonya Lee meminta tanggapan dari anaknya, selagi ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Ia berikan uang itu pada Jaehwan, yang masih menatapnya dengan bingung. Alisnya naik, dan mulutnya menganga. "Apa? Kau tidak percaya?"

"Bukan.. Aku hanya berpikir- Umma, bukankah itu berlebihan? Itu hanya sebuah jabatan." ucapnya.

"Ya, ya.. Terserah kau mau bilang apa. Sekarang cepat berangkat beli garam!" Teriak Nyonya Lee.

Jaehwan melonjak, dan dengan cepat berlari menuju sepedanya, dan mengayuhnya menuju minimarket terdekat.

Saat Jaehwan sampai di sana, ia lihat Sanghyuk dengan seorang gadis. Gadis itu kekasihnya. Cantik dan imut. Namjoo.

Namjoo adalah teman sekolah mereka seangkatan, namun ia berada di kelas lain. Sanghyuk jatuh cinta pada gadis itu pada pandangan pertama. Jaehwan tak mempermasalahkannya karena menurutnya, Sanghyuk dan Namjoo benar-benar pasangan yang cocok. Ketika Jaehwan membuka pintu minimarket, Sanghyuk memanggilnya.

"Yah! Big-nose!" Jaehwan menoleh. Ia melemparkan tatapan tajam pada sahabatnya itu. "Bercanda, bro!" Ucap Sanghyuk, menyikut lengan Jaehwan.

"Hai, Jaehwan!" Namjoo melambaikan tangan pada Jaehwan.

"Hai, Namjoo." Jaehwan tersenyum. "Kalian sedang apa di sini?"

"Kami habis nge-date."

Mata Jaehwan terbelalak, "Tapi ini kan malam Rabu." Keduanya mengangguk. "Kita masih sekolah besok!" Mereka kembali mengangguk. Keduanya memeletkan lidah mereka.

Jaehwan hanya bisa geleng-geleng tidak percaya.

"Kau sendiri sedang apa di sini?" Tanya Namjoo.

"Aku disuruh beli garam."

"Untuk?" (Ini terkesan kepo ya -_-")

"Umma bermaksud untuk membuat pesta kecil-kecilan untuk appa, karena jabatannya di perusahaan naik." Jelas Jaehwan.

Hening sejenak.

"Bukannya itu sedikit.. Um... Berlebihan?"

"Ya, kupikir juga begitu. Tapi umma memintaku, ya aku lakukan saja. Sudah, ya, aku buru-buru. Annyeong, Sanghyuk! Namjoo!"

Jaehwan membuka pintu dan memasuki minimarket. Saat ia tengah mencari garam, tiba-tiba ia menabrak seseorang. Jaehwan membungkuku meminta maaf.

"Ah! Ma- maaf!"

"Jaehwan?" Suara ini. Jaehwan sangat kenal suara ini. Suara lembut ini. Ia megangkat kepalanya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Taekwoon hyung?"

Rupanya Taekwoon, tengah berdiri tepat di depannya. Jaehwan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Aku- Aku hanya sedang mencari garam."

Memang orang yang kalem, Taekwoon hanya mengangguk. Jaehwan pun berjalan menjauh untuk menemukan apa yang ia cari secepat mungkin. Setelah menemukannya, ia tidak langsung pergi ke kasir, tapi kembali ke tempat Taekwoon yang masih berdiri di depan rak snack.

"Ng.. Maaf, hyung." Taekwoon menoleh kepadanya sedangkan tangannya terus mengambil banyak snack dari rak di depannya. "Apa Hongbin baik-baik saja? Maksudku.. Apa dia terlihat sedih saat pulang sekolah tadi?"

Taekwoon mengangguk. "Ia tersenyum seperti biasanya." Jawabnya.

Jaehwan hanya mengangguk dan menghela nafas. Kemudian ia menatap Taekwoon yang matanya kembali fokus pada snack di depannya. Oh, God! Dia tampan sekali! Batin Jaehwan, menjerit dalam hatinya.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

"Yeobosayo?"

"LEE JAEHWAN! KENAPA KAU LAMA SEKALI?!" Wanita di seberang telepon itu menjerit, dan Jaehwan beruntung karena menjauhkan ponselnya dari telinga di saat yang tepat.

"Ma- maaf, umma! Aku bertemu teman di sini, jadi-"

"Aku tidak peduli! Sekarang cepat pulang, sebelum ayah yang pulang lebih dulu!" Nyonya Lee memutuskan panggilan, sebelum Jaehwan sempat mengatakan apapun.

"Umma-mu mengerikan." Taekwoon berkomentar.

"Ya, memang.. Maaf, hyung. Aku harus pergi sekarang.. Annyeong!" Jaehwan berlari menuju kasir, dan segera pulang setelah selesai membayar.

=To Be Continued=