Selamat pagi/siang/sore/malem #plak
Author is return *sok inggris*. Saatnya author menterbitkan CHAPTER 2. Yah walaupun yang mereview sedikit sekali, tapi tidak apa-apa, author akan berusaha sebaik mungkin *backround api berkobar*
Ok langsung dimulai, semua crew siap-siap
Kamera. . .
Rolling. . .
Action!
Disclaimer : Bleach selamanya tetep punya abang Tite Kubo tercinta #plak
Tapi fic ini punya Reina Rukii
Pairing : IchiRuki
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Chapter 2 : I'm a past, You are the future
Do You Remember Me ?
By Reina Rukii
. . .
Malam berganti pagi. Mentari datang dan mulai menyinari bumi. Menyambut setiap manusia yang tinggal pada pijakan tanah ini. Udara dingin saat malam hari yang terasa karena hujan itu kini digantikan oleh cahaya surya yang hangat dan bersinar cerah. Habis gelap terbitlah terang. Itulah sebuah istilah yang sering kita dengar. Kata yang sederhana namun bermakna dalam. Embun pagi ini begitu terasa menyejukan. Sisa-sisa air hujan yang turun semalam menetes-netes dipucuk dedaunan dan ujung-ujung genting. Jalanan menjadi becek karena kubangan air yang disebabkan oleh hujan semalam. Kicauan burung mulai terdengar oleh setiap indera pendengaran manusia yang mulai menggeliat pada tempat tidur mereka masing-masing. Namun tidak bagi seorang pemuda berambut orange yang sedang tertidur disebuah kursi papan. Sinar matahari yang masuk kedalam halte begitu menyilaukan, sehingga mengganggu tidur nyenyak sang pemuda. Perlahan tapi pasti pemuda itu membuka kelopak matanya. Saat matanya hampir terbuka sempurna, ia langsung mengerutkan keningnya dan menutup matanya lagi saat menerima cahaya mentari langsung yang jatuh tepat pada mata hazelnya. Ia mencoba bangun dari kursi dan membuka lebar matanya kembali.
"Ahh sudah pagi ternyata" Ucap Ichigo. Saat itu pula Ichigo merasa ada sesuatu yang janggal disini. Ada sesuatu yang kurang. Ia mencoba mengingat-ngingat lagi kejadian semalam.
"Ah- wanita itu. Dia kemana ?" tanya Ichigo meski tahu tak akan ada satu pun yang menjawabnya.
"Ha-ah paling dia pulang ke rumahnya, aku juga harus pulang" Ichigo mulai bangkit dari kursi dan berjalan ke luar halte. Saat itu langkahnya terhenti, ia menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Dari sikapnya pasti telah kita ketahui bahwa orang itu kebingungan. Betul ?
"Argh. . .aku lupa jalan pulang. Aku harus lewat mana nih!" Ucap Ichigo dengan nada frustasi.
"Kesini saja deh" Ichigo pun berjalan kearah kanan.
~Do You Remember Me ?~
"Ini kan jalan yang tadi kulewati ?" Ucap Ichigo yang terheran-heran karena ia telah melewati jalan ini sebanyak sepuluh kali *buset*
"Argh sial sepertinya aku tersesat, bagaimana aku pulang , kalau dari tadi aku hanya berputar-putar tidak jelas tanpa arah" Ucap Ichigo yang mulai ralat sudah frustasi. Di jalan gang itu suasana sangat sepi, tidak seperti di Karakura ataupun Tokyo yang selalu ramai. Ichigo berhenti tepat disebuah rumah sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil pula. Desain rumahnya biasa saja tapi hiasan bunga dan tumbuhan yang tertata rapi membuatnya tidak biasa. Kemudian seseorang keluar dari rumah itu. Seorang wanita bertubuh kecil dan pendek layaknya anak SMP *dicincang *, memiliki bola mata violet seperti kristal bening. Dan mengenakan kemeja bergaris horizontal berwarna putih dengan lengan pendek dan dilengkapi dengan rok panjang berwana ungu dengan motif yang menghiasi berwarna senada dengan bajunya. Perpaduan yang sangan serasi. Ia melihat keluar pagar. Ia terkejut sesaat melihat orang yang berada di depan rumahnya. Seorang pemuda berdiri dengan raut wajah pasrah dan frustasi, kerutan di dahinya bertambah banyak.
"Kau ?" Ucap Rukia memanggil pemuda itu.
"Ah kau Rukia, beruntung aku bertemu denganmu" Raut wajah yang tadi frustasi sekarang tampak berseri-seri saat bertemu dengan wanita yang ia temui kemarin. Ichigo menghampiri tempat Rukia berdiri.
"Se-sedang apa kau disini ?" Tanya Rukia dengan mengerutkan dahinya menyamai pemuda berambut jingga itu.
~Do You Remember Me ?~
Rukia datang dari dapur menuju ruang tamu yang kecil itu dengan membawa dua cangkir teh. "Jadi kau tersesat ?" tanya Rukia ragu-ragu.
"I-iya begitulah, aku baru pertama kali kesini jadi aku tak ingat jalannya" Jawab Ichigo sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal.
"Apa orang ini tak ingat sama sekali dengan siapa aku sebenarnya dan kota ini ? Jadi dia benar-benar tak mengingatku" batin Rukia. Sesaat mimik wajahnya berubah menjadi sedih dengan tatapan sendu dan kepalanya tertunduk seperti sedang melamunkan sesuatu. Ichigo yang melihat perubahan ekspresi Rukia menjadi khawatir.
"Eng- ada apa ?" Tanya Ichigo dengan hati-hati. Rukia pun tersadar dari lamunannya dan kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah seseorang yang berada dihadapannya. Ditatapnya rambut jingga yang menghiasi kepalanya itu, kemudian mata hazelnya, hidung mancungnya, dan matanya tertuju pada. . .bibirnya. "Apa yang aku pikirkan" batin Rukia. Sedangkan Ichigo yang merasa ditatap itu terheran-heran dan juga menjadi salting. Rukia pun tersenyum "Tidak ada". Ichigo tercengang dalam hatinya "Tak pernah kubayangkan dapat melihat senyumannya yang indah itu lagi dengan jarak sedekat ini".
"Mana orang tuamu ?" tanya Ichigo berbasa-basi memecah suasana kaku yang terjadi diantara mereka.
"Aku tinggal sendiri disini, kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Aku baru pindah kesini kemarin" Jawab Rukia yang suaranya terdengar berat.
"Oh begitu maafkan aku sudah bertanya tentang itu" Ucap Ichigo yang menyesal karena mulutnya mengeluarkan pertanyaan itu.
Rukia pun tersenyum "Tidak apa-apa. Aku tidak sendirian kok, masih ada kakak iparku di Sereitei" Ucap Rukia sambil meminum tehnya.
"Oh begitu" Ichigo hanya bisa ber-oh ria. Terbesit keinginannya untuk menemani perempuan ini.
"Oh ya kau mau pulang hari ini, sayang sekali stasiun kereta hari ini tutup, tidak beroperasi" Ucap Rukia dengan wajah yang menyesal.
"Apa ? lalu kapan beroperasi lagi ?" Tanya Ichigo yang sedikit kecewa.
"Aku tidak tahu kapan" Ucap Rukia yang sedang mengelus-elus bagian pinggir cangkirnya.
"Ah sayang sekali" Ichigo mendengus kesal kemudian mengambil tehnya yang telah lama ia diamkan disana lalu mulai meminumnya.
"Kalau kau mau, kau boleh tinggal disini" Tawar Rukia pada pemuda yang duduk dihadapannya itu. Sedangkan Ichigo langsung tersedak dan terbatuk-batuk akibat tawaran Rukia tadi. Raut wajahnya menjadi bingung dan tidak percaya dengan apa yang barusan Rukia katakan. Namun jauh dalam hatinya ia berteriak kegirangan.
"Eh- apa ?" Tanya Ichigo mencoba memastikan.
"Ya kau boleh tinggal disini kapanpun kau mau" Ucap Rukia dengan jelas, padat, dan akurat #plak
~Do You Remember Me ?~
"Jadi sekarang kenapa kau membawaku ke sini ?" Tanya Ichigo yang bingung dengan sikap Rukia. Setelah Ichigo setuju dengan tawarannya ia langsung menarik tangannya ke tempat ramai yang bisa kita sebut adalah "Pasar" (ps: pasar baju lho)
"Bodoh, tentunya kita harus beli beberapa pakaian untuk kau pakai selama tinggal dirumahku!" Ucap Rukia dengan nada yang kasar berbeda dengan sebelumnya.
"Oh baiklah, kau benar aku tak bawa baju" Ucap Ichigo yang wajahnya sedang tersungut-sungut. Sementara itu Rukia mulai berjalan lagi sambil tetap menggandeng tangan pemuda yang berada disampingnya. Entah wanita ini tak sadar atau sadar dan dengan sengaja melakukannya yang jelas Ichigo menyadarinya sedari tadi dan sekarang wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Rukia berjalan menuju kios emperan yang menjual banyak pakaian dan celana. Sesampainya dikios itu, Rukia mulai memilih-milih baju yang pas dan cocok untuk Ichigo, sedangkan Ichigo hanya menatap keadaan sekitar kios itu dengan tatapan asing.
"Naa bagaimana dengan ini, sepertinya cocok" Ucap Rukia yang sedang memegang kaos berwarna jingga tua bermotif tulisan dibagian atas kaos tersebut dan menyamakan ukurannya dengan tubuh Ichigo. "Ternyata benar, sangat cocok" Rukia tersenyum puas. "Pegang yang ini aku akan mencari lagi" perintah Rukia yang tanpa aba-aba sudah mulai bersemangat mencari suatu pakaian yang pas dan cocok. Ichigo hanya melongo melihat sifat yang lain dari gadis yang sedang ia tatap. Kemudian ia tersenyum.
"Nah sekarang aku sudah selesai membeli pakaian untukmu, sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu ?" Tawar Rukia dengan dihiasi senyuman yang terukir diwajah manisnya itu.
"Terserah padamu sajalah" Jawab Ichigo pasrah.
"Baik aku anggap itu jawaban Ya" Rukia mulai menarik tangan Ichigo lagi mengelilingi pasar. Ichigo hanya bisa pasrah mengikuti kemauan gadis yang tengah menarik tangannya itu. Asalkan ia tersenyum dan tertawa senang, aku juga senang. Pasar itu semakin ramai oleh pengunjung. Ini bukan pasar yang menjual kebutuhan makanan, sayuran, ikan, bumbu atau apa. Tapi pasar ini menjajarkan penjual baju, mainan, makanan, hiburan dan berbagai macam. Rukia menarik seorang pria berambut jingga itu kesana-kemari dengan bersemangat. Langkahnya berjalan menuju penjual jajanan. Ia membeli dua tusuk takoyaki. "Ini untukmu satu" Rukia menyodorkan satu tusuk yang berisi empat buah takoyaki. "Kau suka takoyaki kan Ichigo ?" Tanya Rukia.
"I-iya aku suka takoyaki" Jawab Ichigo gugup karena gadis dihadapannya tau makanan kesukaannya itu kemudian mengambil takoyaki itu dari tangan mungilnya. Sambil berjalan mereka melahap habis satu tusuk takoyaki yang dibeli oleh Rukia. Saat sedang berjalan tiba-tiba langkah gadis pendek itu terhenti, ia melihat satu kios yang menjual berbagai macam benda berbentuk chappy. Matanya berbinar-binar melihatnya. Ichigo yang baru sadar Rukia tak ada disampingnya menoleh kebelakang dan melihat gadis itu berdiri sambil melihat kearah kios yang menjual benda kekanak-anakkan itu. Sesaat mata hazelnya menatap mata gadis berwarna violet itu kemudian beralih pada satu titik yang gadis itu lihat.
"Rukia ayo!" Ajak Ichigo pada gadis yang dipanggilnya Rukia itu. Rukia tersadar dari lamunannya dan menyahut Ichigo. "I-iya" Rukia menurut kemudian mulai mengikuti langkah pemuda berambut jingga itu. Ia memajukan bibirnya tanda bahwa ia sedikit kecewa karena dalam lubuk hatinya ia ingin sekali mengunjungi kios itu dan membeli semua benda serba chappy itu. Ichigo melirik sesekali kearah Rukia, ia tertawa kecil melihat raut wajah gadis itu yang menurutnya sangat lucu.
"Kenapa kau tertawa ?" Tanya Rukia yang merasa heran dengan sikap pemuda disebelahnya itu.
"Tidak" Ucap Ichigo sambil tersenyum menatap wajah gadis manis dihadapannya.
"Apa yang lucu dari wajahku heh ?" Tanya Rukia yang mulai kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Aku bilangkan tidak ada" Ichigo tersenyum manis.
"Hu-uh dasar jeruk menyebalkan!" Ejek Rukia dengan penuh penekanan pada kata "Jeruk" dan kemudian ia kembungkan pipinya sehingga membuat Ichigo gemas padanya. Sesaat senyuman yang terukir diwajah tampan pemuda itu menghilang diganti oleh kerutan dahi yang semakin banyak.
"Dasar cebol" Ichigo membalas ejekan yang diberikan olehnya lalu tangan pemuda itu menyentuh pipi sang gadis dan mencubitnya hingga gadis itu meringis-ringis.
"Ah aw sakit- lepaskan!" Rukia memberontak mencoba lepas dari cubitan yang diberikan secara gratis oleh Ichigo. Ichigo pun melepas cubitannya dan tersenyum yang diselingi oleh tawanya. Rukia mengelus-elus pipinya yang kini berwarna merah dan kembali mengerucutkan bibirnya. "Sungguh dia sangat imut saat berekspresi seperti itu" batin Ichigo. Ichigo berjalan mendahuluinya. Gadis bermata indah itu menatap punggung pemuda yang perlahan mulai jauh. Tatapannya berevolusi menjadi tatapan sendu bukan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan. Namun segera ia tepis dan kembali tersenyum. Senyum yang menyakitkan. Bola mata violetnya memantulkan bayangan orang berambut nyentrik itu. Ia bergumam pelan "Aku menemukanmu"
~Do You Remember Me ?~
Sinar sang surya kini mulai terik. Sang penerang bumi itu kini sudah berada dititik paling atas. Pantas saja karena ini sudah tengah hari. Panas yang dipancarkannya mampu membuat orang-orang tidak tahan dan memilih berdiam melindungi diri di tempat yang teduh. Tapi tidak untuk sepasangan lelaki dan perempuan yang sedari tadi menghabiskan harinya dengan bercanda tawa, berkeliling dan bermain sepuasnya. Selayaknya anak kecil yang masih ingin bermain sampai lupa waktu. Seperti itu lah mereka saat ini. Mereka seperti dua orang yang merindukan masa kecil. Dua orang yang tertawa lepas entah apa yang mereka tertawakan. Tapi sesekali mereka bertengkar dan kemudian baikkan lagi. Sungguh pasangan yang aneh bagi kebanyakan orang. Entah apa yang mereka rasakan saat ini. Mereka saling merasa nyaman terhadap satu sama lain. Seakan sudah lama kenal dan sudah begitu akrab. Ichigo menariknya ke tempat sewa sepeda. Ia menyewa satu buah sepeda yang dilengkapi dengan boncengannya dibelakang. Setelah membayar Ichigo menaiki sepeda itu. "Ayo naik" perintah Ichigo. "Kita jalan-jalan". Rukia mengangguk senang dan ia duduk dengan posisi membelakangi punggung Ichigo.
Cahaya matahari masih bersinar terik menembus dedaunan pada jejeran pohon-pohon dipinggir jalan. Pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi itu melindungi dua orang dengan sepedanya dari panas. Daun-daun hijau itu nampak begitu bersinar saat terkena sinar. Semilir angin membuat ranting pohon dan daun itu bergoyang. Sayup-sayup terdengar suara khasnya yaitu suara daun yang bertabrakan satu dengan yang lain saat bergerak tertiup angin. Seorang pemuda berambut jingga mengayuh sepedanya dengan pelan, seakan mengikuti irama angin dan suasana disini. Sedangkan gadis berperawakan kecil yang memunggungi sang pemuda itu memejamkan matanya sesaat untuk menghirup aroma yang sangat sejuk ini kemudian menghempaskannya kembali ke udara bebas. Perlahan ia rentangkan tangannya. Mencoba meresapi angin yang menyentuh kulitnya yang halus. Rambut hitamnya bergerak mengikuti arah angin berhembus. Ia bersandar pada pungung lebar sang pemuda. Kelopak matanya perlahan terbuka. Ia menatap keatas langit. Betapa ia suka dengan langit karena langit itu menenangkan dan begitu damai. Suasana masih membisu. Keduanya masih enggan untuk mulai mengucapkan kata. Mereka lebih memilih diam dan menikmati pemandangan. Ichigo tersenyum saat gadis yang berada dalam boncengannya ini merentangkan tangannya.
Rambut orange nya melambai-lambai tertiup angin. Sungguh suasana yang sangat damai baginya, karena jarang baginya menemukan tempat seperti ini di Karakura. Rukia masih terus menatap langit, seakan sedang memikirkan atau mengingat sesuatu. "Sudah lama sekali rasanya kita pernah merasakan hal ini. Untuk kedua kalinya kau memboncengku. Membawaku berjalan-jalan. Senyumanmu memang tak pernah berubah, segalanya yang ada dalam dirimu memang tak berubah namun. . .sayang kau tak mengingat kenangan kita. Tapi aku bahagia bisa bertemu denganmu sebelum aku pergi lebih jauh darimu, meski sampai kapan pun kau takkan mengingat masa lalu" batin Rukia. Wajahnya terukir sebuah senyuman bahagia tapi ada sedikit kesedihan yang terkandung dalamnya. Mata violetnya menerawang keatas langit. Kemudian memejamkannya perlahan. Angin berhembus menerbangkan beberapa daun yang telah mengering yang telah berwarna kecoklatan. Berguguran jatuh keatas tanah.
~Do You Remember Me ?~
Hari mulai sore. Sinar terik yang tadi dipancarkannya kini sudah agak meneduh, tidak seterik tadi. Musim panas yang memang sangat cerah membuat siapa saja malas untuk keluar rumah. Desiran ombak yang terdengar. Burung-burung yang berterbangan. Pasir pantai yang halus. Semua itu begitu memanjakan mata hazel dan violet yang sedang duduk diatas sebuah tembok pembatas dekat pantai. Angin laut yang menerpa wajah mereka terasa panas. Kulit gadis bermata violet itu begitu bercahaya saat sinar cahaya bumi itu menembus lapisan ozon dan mengenai kulitnya. Mereka hanya memandangi paradiso yang tersaji secara langsung dihadapan mereka. Begitu sunyi hanya ada suara ombak yang terdengar.
"Aku selalu teringat pada seseorang di pantai ini" Ucap Rukia membuka percakapan. Tatapan matanya masih tertuju pada pantai didepannya. Ichigo menoleh kearah gadis itu berada dan ia mulai mendengarkan apa yang Rukia katakan. "Aku selalu mengingatnya, tak pernah aku lupakan sedikit pun. Rasa sakit yang tertumpuk berhari-hari membuatku menjadi lebih kuat. Saat kerinduanku semakin tak bisa ditahan rasanya aku ingin menangis tapi aku tak boleh menangis" Ucap Rukia dengan suara yang terdengar lirih. Ichigo tertegun mendengarnya. Terbesit rasa cemburu, kesal, dan sakit saat tahu bahwa perempuan disampingnya ini mempunyai perasaan kepada laki-laki lain yang jelas-jelas sudah dengan tega meninggalkannya.
"Aku ingin bertemu dengannya lagi, hanya untuk menyampaikan sesuatu padanya" Rukia menghela nafas yang terasa berat kemudian tersenyum dan menatap wajah Ichigo. Ichigo pun mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandang wajah manis sang pemilik violet itu. Masih tetap memandang wajah sang pemuda "Sepertinya kau telah meninggalkan masa lalu dan tidak mencoba untuk mengingatnya. Kau seperti waktu yang berjalan maju, tak peduli apa yang telah kau lakukan dimasa lalu. Yang bisa kau lakukan adalah menanti sambil menatap masa depanmu dan tanpa kau ketahui aku hanya masa lalumu dan aku tidak akan lagi hadir dalam masa depanmu itu. Rasanya aku ingin sekali menghentikan waktu saat ini. Supaya aku bisa terus menatapmu seperti ini dan berada di sampingmu. Aku tahu aku hanya masa lalumu dan takkan datang pada masa depanmu. Tapi aku harap kau bisa mengingatku selamanya, dan aku pun juga akan mengingatmu". Gadis bermata indah ini menyandarkan kepalanya pada lengan berotot sang pemuda.
Hari ini,saya berkelana dalam ingatanku
Aku melalui di sekitar akhir jalan ini
Kau masih memegang erat-erat, meskipun saya tidak bisa melihatmu lagi
Aku kehilangan jalan lagi
Aku berdoa kelangit, saya ingin melihat kamu terus
Aku yang ingin melihat kamu terus
Hal ini tidak bisa jika tanpa kamu
Aku tidak bisa tanpa kamu
Tidak apa-apa jika saya sakit selama satu hari dan tahun seperti ini
Tidak apa-apa bahkan jika hatiku sakit
Ya karena aku hanya mencintaimu
Aku tidak bisa mengirim kamu pergi sekali lagi
Aku tidak bisa hidup tanpa kamu
Itu tidak bisa jika tanpa kamu
Aku tidak bisa tanpa kamu
Tidak apa-apa jika saya sakit selama satu hari dan tahun seperti ini
Tidak apa-apa bahkan jika hatiku sakit
Ya karena aku hanya mencintaimu
Hati saya teluka
Aku berteriak untuk mencarimu
Di mana kamu?
Kau tidak bisa mendengar suaraku?
Untuk saya...
Jika saya menjalani hidup saya lagi
Kalau aku lahir lagi dan lagi
Aku tidak bisa hidup tanpa kamu selama sehari
Kau adalah satu yang akan ku jaga
Kau adalah satu yang akan ku cinta
Aku...ya karena aku cukup senang jika kubisa bersamamu
~Do You Remember Me ?~
Setelah mengembalikan sepeda yang disewa oleh Ichigo. Mereka berdua hendak akan pulang karena hari sudah gelap. Terlihat sekali beberapa bintang yang bermunculan dilangit, namun bulan sepertinya sedang absen dari kehadirannya malam ini. "Ayo kita pulang" Ajak Ichigo pada gadis kecil bermata violet itu. Ia kemudian menggandeng tangan mungil sang gadis. Mereka pun berjalan beriringan. Di sela-sela mereka berjalan terdengar sebuah suara yang entah berasal dari mana.
Kruyuk. . .kruyuk. Rukia menahan malu saat perutnya berbunyi minta diisi. Wajahnya sampai memerah karena saking malunya. Jelas ia malu karena bunyi yang dikeluarkan cukup keras sehingga dapat terdengar oleh siapa pun yang berada di dekatnya termasuk Ichigo. Langkah Ichigo terhenti, ia menoleh kesamping kemudian tertawa. "Sepertinya ayam yang ada dalam perutmu minta makanan ya ?" Ucap Ichigo dengan senyuman lebar yang terukir diwajah tampannya itu. Sedangkan Rukia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu itu.
"Ayo kita cari kedai makan" Ajak Ichigo menarik pergelangan tangan Rukia agar Rukia mengikuti kemana langkahnya. Mereka pun sampai disebuah kedai makan sederhana yang masih buka dan menjual mie ramen yang terkenal lezat disini. Ichigo memesan dua porsi mie ramen karena ia sendiri juga lapar akibat seharian ini belum makan. Kemudian mulai duduk di kursi yang telah disediakan. Aroma kaldu yang terbang diudara bebas itu membuat ruangan ini menjadi bau khas mie ramen. Rukia yang sudah tidak sabar ingin makan hanya bisa mengeluarkan liurnya dari mulut saat melihat mie ramen yang kini telah tersaji dihadapannya. Dengan segera ia mengambil sumpit kemudian melahap habis mie ramen itu dengan rakus. Mulut kecilnya ternyata mampu memuat mie ramen yang begitu banyak. Ia seperti orang yang sangat kelaparan. Ichigo hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian tersenyum melihat tingkah laku lain dari diri gadis yang masih melahap mie ramennya.
"Kau benar-benar lapar ya ?" Tanya Ichigo sambil memasukan daging kedalam mulutnya.
"Heuheuheu. . .iya akuw sangat laparr" Jawab Rukia yang masih menguyah mie ramen yang tertumpuk penuh dalam mulutnya. Ichigo tersenyum kemudian mengacak pelan rambut hitam pendek itu. "Makannya pelan-pelan jangan buru-buru" Ucap Ichigo dengan penuh perhatian. Slurp. .kuah terakhir dihabiskan oleh gadis bertubuh kecil ini. Ia menyeruput langsung dari mangkuknya.
"Ahh kenyang!" Ucap Rukia sambil menjilat bibirnya sendiri takut takut masih ada yang tersisa dimulutnya.
"Ah aku juga sudah selesai, ayo kita pulang" Ajak pemuda berambut jingga itu.
"Ini pak uangnya,mie nya sangat enak" Ichigo memberikan sejumlah uang pada pemilik kedai makan tersebut.
"Terima kasih anak muda, siapa gadis yang bersamamu itu, kekasihmu ya ?" goda sang pedagang paruh baya itu pada Ichigo. Ichigo hanya tersipu malu. Rukia yang mendengarnya pun wajahnya ikut-ikutan merah. "Ti-tidak dia bukan kekasihku, ka-kami hanya teman" elak Ichigo dengan gugup. Seperti biasa ia selalu menggaruk kepalanya itu.
"Hahaha kalian lucu sekali anak muda. Yasudah kapan-kapan mampir kesini lagi ya"
"Iya kalau kami sempat" Ucap Ichigo sambil tersenyum garing.
Malam mulai larut. Langit yang tadinya berwarna biru cerah, kini telah berubah menjadi hitam legam. Sinar dari bintang-bintang yang bertebaran di atas langit yang luas mampu menerangi bumi ini walau sinarnya tak secerah bulan ataupun matahari. Mereka (bintang) seperti segerombolan makhluk hidup yang selalu bersama. Ada bintang yang sedang berkumpul ada juga yang menyendiri. Sambil berjalan aku (Rukia) menatap kelangit malam.
"Langitnya indah" gumam Rukia dan tentunya masih dapat terdengar oleh telinga Ichigo. Ichigo pun ikut menegadahkan kepalanya keatas. Menatap sesaat kemudian tersenyum. "Yeah kau benar, langit malam ini sangat indah, seindah dirimu Rukia" Ichigo mengalihkan pandangannya. Kini mata hazelnya menatap wajah mungil yang juga tengah menatapnya itu. Entah kapan langkah mereka terhenti. Kini keduanya diam terpaku. Rukia menatap mata hazel milik Ichigo, ia mencoba berkelana untuk mencari sesuatu dalam pikirannya. Tapi wajah Ichigo nampak sangat serius dengan kata-katanya. Tak ada sedikit pun fakta bahwa ia sedang bercanda. Perlahan tapi pasti wajah Ichigo semakin mendekat dengan wajah sang gadis. Ichigo membungkukan badannya agar bisa menyamai tingginya. Kepala Rukia mulai terasa sakit dan pening, jantungnya berdegup cepat, nafasnya mulai tak teratur. Tapi mata violetnya tak mau lepas dari pandangan. Ia bergumam dalam hati "Argh. .kepalaku. Sakitku kambuh, aku tidak bisa meringis kesakitan di hadapannya. Tapi ini sakit sekali, aku tidak kuat. Tuhan kumohon jangan ambil nyawaku sekarang, aku ingin bersamanya sampai ia mengingatku lagi" Tangannya menggenggam lengan Ichigo, takut jika ia tiba-tiba jatuh pingsan. Ichigo semakin mendekat, tangan yang satunya ia lingkarkan dipinggang yang begitu ramping. Ichigo menutup jarak diantara mereka. Nafas Ichigo kini telah menyentuh kulit Rukia. Gadis bermata violet itu mulai menutup matanya. Tapi tangannya yang sedang memegang erat lengan pemuda itu, ia genggam lebih erat tanda bahwa rasa sakit yang ia rasa semakin sakit. Hidung mancung pemuda berambut orange itu telah menyentuh bagian pipi kiri sang gadis.
Sunyi. Tak ada yang terjadi. Mata hazel yang tadi tertutup sekarang kembali terbuka namun posisi mereka tetap sama. Ichigo berhenti karena merasakan cengkraman kuat dari tangan Rukia. Kepalanya beralih ke pundak Rukia. Ia memeluk gadis itu. Memeluknya sangat erat seakan ia takut kehilangan gadis yang baru ia temui kemarin itu. Entah apa yang ia rasakan, seakan ia sudah mengenal gadis ini lama sekali. Rukia yang terkejut mencoba membuka kembali mata indahnya itu. Bola matanya melirik kesamping, dilihatnya tubuh Ichigo yang telah memeluk dirinya. Namun rasa sakit yang ia rasa belum juga pulih. Ia masih mencoba menahannya agar ia tidak berteriak. Rukia tidak membalas pelukan pemuda ini.
"Sa-kit" Ucap Rukia parau. Ichigo sedikit melonggarkan pelukannya. "Sa-kit" Rukia masih mengucapkan kata itu dengan suara yang sama. Matanya memerah, air mata yang hendak keluar ia tahan. Ichigo yang terheran-heran melepas pelukannya dan menatap wajah gadis dihadapannya.
"Sa-kit. Argh" Rukia tak bisa menahannya lagi. Kedua tangannya memegang kepalanya mencoba menekan rasa sakit itu.
"Ru-rukia kau kenapa ? apa kau sakit ?" Tanya Ichigo yang mulai khawatir dengan keadaannya. Kedua tangannya menyentuh pundak Rukia. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung jatuh. Matanya terpejam erat-erat. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Tangannya menjadi dingin seperti mayat.
"RUKIA! RUKIA!"
To Be Contiuned. . .
Akhirnya selesai juga *author langsung tepar* setelah perjuangan yang tak kenal lelah *lebay* author bisa juga menyelesaikan chapter ini. Suwer kepala author pusing pas mikirin gimana cara mendeskripsikan ceritanya. Yah walau akhirnya menjadi seperti ini mohon dimaklumi. Author buat cerita ini kebanyakan terinspirasi dari lagu-lagu yang sering author dengerin. Biar feelnya lebih kerasa aja gitu. Arigato buat yang udah review *meski yang review cuma dua orang*
Yaudah dari pada dengerin author curcol, aku harap kalian bersedia memberikan komentar kalian dengan bersedia mereview fic ini *puppy eye*
REVIEW PLEASE
(^.^)a
