Behind the Scenes

Oo—O—oO

Genre: Parody - Friendship

Rate: T

Warning: Beneran jadi shonen ai di chapter ini dan pembunuhan karakter Ea dan Landkarte yang sangat keji. Ngomong-omong, bagi yang jantungnya lemah, sangat amat tidak disarankan untuk membaca bagian yang terakhir. Bukan menjadi tanggung jawab Authoress kalau misalnya ada yang masuk ke UGD karena serangan jantung, oke? #kabur

Disclaimer: Punyanya Amemiya Yuki-sensei & Ichihara Yukino-sensei! Kalau saia yang punya, saia bakal bikin satu volume khusus buat Landkarte x Ea buat fangirling-an. =w=

Summary: Tuhan. Dewa. Dewi. Iblis. Verloren. Kor. Apapun itu yang ada di dunia—tolong sadarkan Lance dari mimpi buruk dimana seorang Landkarte yang kemana-mana selalu memakai jubah dan tudung kepala ala orang alim kini berlagak (sok) centil dan (sok) imut dengan pakaian yang mencolok mata seperti itu...

Oo—O—oO

Chapter 2

Kapitel 76: Ea

Oo—O—oO

~P. 21-22~

"Ini harusnya sudah cukup... Kita sudah merekam pengkhianatan Sri Paus di dalam Cuvere," ucap Landkarte sambil mengamati tulisan yang ia buat di dinding Cuvere. Tangan kanannya menggenggam sabit yang disandarkan di bahu kirinya.

"Aku tidak pernah menyangka kalau ia menginginkan Kotak Pandora..." sahut Ea yang berada di sebelahnya. Berbeda dengan Landkarte, ia menggenggam sabit dengan tangan kirinya dan disandarkan pada bahu kanannya. Mata amethyst-nya turut mengamati tulisan yang merekam pengkhianatan yang membuat siapapun tidak akan percaya kalau hal itu fakta. "Walaupun dia akan segera dieksekusi, jika perang dimulai karena hal ini, banyak nyawa tak berdosa yang ikut melayang. Ini bukanlah masalah kecil."

Landkarte memasang wajah merajuknya. "Ea, hanya kau seorang yang punya Book of Hades. Jadi ketika Sri Paus meninggal nanti, kau bisa menuliskan namanya untuk disegel di lingkaran neraka kesembilan."

Dengan tampang datar khasnya, Ea menjawab, "Itu memang rencanaku, sebenarnya." Setelah berkata demikian dengan nada lugas seperti biasa, ia berbalik menghadap Landkarte dan berkata, "Kalau kau membawa Vertrag pergi mengelilingi God House, kau bisa menghancurkan Kotak Pandora di Land of Seele. Tapi orang yang mempunyai jiwa Verloren masih entah di mana di dalam militer."

Dari ekspresi merajuk, wajah si empunya mata hijau cerah berubah kelam. "Begitulah. Sepertinya ia sudah menjadi Mayor Jendral di sana."

"Kalau orang yang punya kekuatan Verloren mendapatkan terlalu banyak kekuatan, kita akan mendapatkan izin untuk membasminya. Kali ini mereka memberi kita tanggung jawab ini karena kita dikenal dekat dengan militer."

"Ya—kita akan pergi bersama. Tetapi aku masih tidak mengerti kenapa di naskah nanti aku harus mengoperasi wajahku yang sudah sejak lahir tampan ini menjadi keriputan macam Katsuragi bawahannya si Ogi—tunggu." Ea jawsdropped, kru film banjir sweatdropped, sedangkan Landkarte meringis pelan dengan tangan menggaruk belakang kepala yang tertutupi tudung jubah. "Ehm... Maaf. Kebablasan curhat colongan habis baca naskah tadi... Bisa diulang lagi adegannya?"

Entah karena gemas dengan sobatnya yang mendadak narsis atau apa, akhirnya Ea memilih ikut turun tangan untuk menjitak Landkarte dengan ujung sabitnya—dan lagi, pengambilan gambar harus kembali tertunda karena si empunya rambut pirang keemasan terkapar setelah mendapat 'jitakan manis' dari si empunya mata amethyst.

.

~P. 23~

.

'Gerak-gerik militer terlalu mencurigakan. Kami akan menyusup masuk dan menyelidikinya.'

Tulisan yang baru saja Ea tulis di dinding Cuvere itu menarik perhatian Landkarte untuk sejenak. Sementara Ea berbalik untuk pergi dan berkata, "Kita selesai; ayo pergi sekarang," ia masih berdiri di tempatnya sambil menggenggam erat salib yang didekatkan ke wajahnya. Matanya tertutup, mendoakan sesuatu dalam hati—dan tanpa sadar, membuat jantung Ea dag-dig-dug tidak karuan. Antara berharap kali ini Landkarte tidak salah mengulangi dialognya atau memang karena ekspresi khusyuk Ghost yang sebaya dengannya itu yang 'cute' (bagi authoress dan Ea sendiri—yang terakhir masih belum terbukti kebenarannya), hal itu masih belum bisa diketahui yang mana yang merupakan fakta dan yang mana yang merupakan khayalan semata.

Itu, hingga sosok yang berasal dari Distrik 1 itu mengangkat tangan dan membuat semua mata mengerjap heran.

"Tolong cut sebentar—apa ada yang punya obat penenang jantung? Habis dia masang wajah kayak gitu jantungku langsung berdegup kencang, enggak tahu kenapa..." Ucapan polos dari Ea itu sukses membuat bulir keringat menggantung di dahi Landkarte, Profe ber-fangirling ria di belakang kamera, dan beberapa orang bergubrak ria di tempat.

Ah. Jadi penyebabnya yang kedua, toh, ternyata...

.

~P. 27-28~

.

"Ini Book of Hades! Kau Ea, 'kan?!"

Terdengar suara tawa dari sosok tengkorak berjubah gelap di depan Lance. "...sudah lama tidak ada orang yang memanggilku begitu selama sepuluh tahun terakhir, Relikt."

Dengan jari telunjuk terarah ke depan dan suara yang lantang seperti biasa, uskup berambut pirang dengan poni panjang itu berkata, "Kami sudah lama mencari-carimu! Kenapa kalian tidak menghubungi kami selama sepuluh tahun ini? Dan sekarang... apa yang kau maksud dengan 'pengkhianat'?! Kalian tidak seperti ini dalam memori yang sudah kulihat di Cuvere... Sebenarnya apa yang telah terjadi?!"

Jari yang hanya tulang belulang dijentikkan. "Itu hal yang mudah. Kau hanya perlu menggunakan kekuatanmu untuk melihat ke masa laluku."

Sabit dengan simbol Relikt di pangkalnya terayun. Kabut muncul saat Lance mulai menggunakan kekuatannya untuk melihat masa lalu rekannya yang sudah lama hilang itu—seperti yang sosok itu minta barusan. Mohon diperhatikan; Lance sama sekali tidak menyadari bahaya yang ada di depan matanya sekarang.

.

"L-L-Landkarte?" Suara Ea. Nada yang tertangkap oleh telinganya adalah nada tidak percaya—dikarenakan kabut yang masih menghalangi matanya, Lance masih belum bisa melihat dengan jelas apa yang dilihat oleh mata amethyst Ghost dari distrik tetangganya itu. Baru beberapa saat kemudian, setelah kabut itu menghilang, mata Lance ikut membelalak lebar seperti halnya mata Ghost bersyal tebal itu sekarang saat mendapati pemandangan yang lumayan 'mengerikan' di hadapannya.

Sosok berambut pirang keemasan dengan poni panjang sebelah seperti dirinya (hanya saja rambut sosok itu lurus, tidak keriting heboh seperti miliknya) tengah berpose ala girlband yang tengah booming kala ini. Mata hijaunya mengedip centil, tubuhnya (yang mohon diperhatikan berdada rata) dibalut seragam militer untuk wanita—namun dengan celana pendek yang tidak mencapai lututnya dan kaki jenjang yang tidak memakai apapun selain stoking hitam ketat.

"Bagaimana kalau aku menyusup masuk ke militer dengan pakaian seperti ini, Ea~?"

Tuhan. Dewa. Dewi. Iblis. Verloren. Kor. Apapun itu yang ada di dunia—tolong sadarkan Lance dari mimpi buruk dimana seorang Landkarte yang kemana-mana selalu memakai jubah dan tudung kepala ala orang alim kini berlagak (sok) centil dan (sok) ehmseksiehm dengan pakaian yang mencolok mata seperti itu...

"Demi apa si Landkarte jadi kayak cewek yang pingin banget jadi anggota girlband Korea gitu...?"

.

Teriakan "CUT!" terdengar sangat keras (ketara sekali kalau si peneriak adalah Landkarte yang malu berat) sebelum kegelapan menyelimuti mata Lance—juga Ea—yang tumbang beberapa saat kemudian dengan hidung bersimbah darah.

Setelah beberapa menit yang panjang berlalu dengan adu bacot antara penulis naskah dan Landkarte, akhirnya sutradara setuju untuk tidak menampilkan bagian yang 'wow' sangat itu—dan pada akhirnya, 07 Ghost kapitel 76 pun beredar tanpa adegan yang membuat Ea terkapar untuk yang pertama kali karena ingatannya yang 'iya-iya' itu.

.

.

To Be Continued.

A/N: Gaje emang, saia tahu—apalagi di bagian terakhir. –w- *dibunuh Yandere!Landkarte* Tapi jujur sejujur-jujurnya jujur, saia enggak bisa nahan diri buat menistakan duo yang kemana-mana berdua itu di sini. #shot Akhir kata, tanpa banyak bacot lagi... RnR please?

Hints buat chapter selanjutnya: kapitel 88 halaman 7 panel terakhir—Rahel-chan, saia tahu dirimu tahu apa yang saia maksud di sini. #winks