[REMAKE] Michiru Heya by Nekota Yonezou

Main Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

And others.

Genre: Romance, Drama. Rated: M

Warning: Yaoi, Some Age-Switch, OOC, No Children

Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Nekota Yonezou.

Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.

Really hope you guys will enjoy this story~

Review, kritik dan saran sangat dinanti.

No bash. If you hate ChanBaek or hate this story then don't read. Thank you.

Pls read remaker's note in the end of the story if you don't mind.

Chapter 2

Malam sudah mulai larut ketika Baekhyun kembali ke kamarnya. Awalnya dia sempat ragu untuk kembali, tetapi mengingat dia sudah keluar lebih dari tiga jam dan ada kemungkinan guru akan mulai memeriksa murid-murid yang masih berkeliaran, Baekhyun pun memberanikan dirinya. Dia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu kamarnya dan Chanyeol.

"Aku kembali!" Serunya sembari membuka pintu dengan percaya diri.

"Selamat datang," Baekhyun bisa melihat Chanyeol duduk di atas ranjangnya sendiri dan tersenyum kepadanya. "Aku benar-benar minta maaf."

"Tidak apa-apa," ucap Baekhyun berusaha keras membuat suaranya terdengar sebiasa mungkin.

Dia berdoa wajahnya tidak terlihat merah karena sejak tadi pikirannya masih dipenuhi dengan apa saja yang dilakukan oleh Chanyeol dan laki-laki tadi.

"Aku rasa sekarang baunya sudah hilang," Chanyeol melangkah untuk menutup jendela yang terbuka.

Chanyeol kemudian melangkah mendekati Baekhyun dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam kantungnya. Baekhyun menundukkan kepalanya malu. Dia bisa melihat dengan jelas beberapa tanda di bagian dada Chanyeol karena Chanyeol membuka beberapa kancing atas kemejanya. Baekhyun berpikir, pasti kliennya yang barusan benar-benar menyukai Chanyeol. Bisa dilihat dari tingkah laku laki-laki itu dan seberapa banyak kissmark yang ditinggalkannya.

"Ini." Chanyeol menyodorkan beberapa lembar uang di tangannya kepada Baekhyun. "Ini bagianmu."

Baekhyun menatap lembaran uang itu dan menghela napas panjang. "Aku tidak bisa menerimanya," ucap Baekhyun. "Itu adalah uang yang kau peroleh dari hasil kerjamu. Aku tidak bisa menerimanya."

Chanyeol tertawa. "Ini adalah uang sewa kamar ini. Pantas jika kau mendapatkannya."

Baekhyun menatap Chanyeol sendu.

"Ambillah," ucap Chanyeol sembari meletakkan lembaran uang itu di tangan Baekhyun.

"Baiklah, akan aku terima."

Chanyeol mengusap kepala Baekhyun sebelum melangkah menuju tempat tidurnya sembari meregangkan tubuhnya. Baekhyun hanya bisa menatapnya. Bagi Baekhyun, kenyataan jika Chanyeol menjual dirinya demi mendapatkan uang adalah kenyataan yang begitu menyedihkan. Dia tidak mengerti kenapa Chanyeol harus melakukan semua ini. Tapi tentu saja, semua bukan urusannya. Dia tidak seharusnya terlalu memikirkan hal ini, tapi tetap saja hal ini benar-benar mengganggunya. Membuat dadanya sesak entah kenapa.

"Selamat malam, Baekhyun." Chanyeol bergumam sembari mengangkat selimutnya menutupi tubuhnya.

"Malam."

.

.

"Jadi, bisa dibilang kau adalah administratornya," Jaehwan berkata sembari menatap dengan seksama kartu di tangannya.

Malam ini, Baekhyun memutuskan untuk menghabiskan waktunya bermain kartu di ruang rekreasi bersama Jaehwan. Ya, malam ini Chanyeol harus menggunakan kamar mereka lagi dan Baekhyun harus pergi. Beruntung Jaehwan tidak mengatakan hal-hal aneh berbau seks lagi. Tetapi tetap saja, topik yang mereka bicarakan tentang Park Chanyeol.

"Dia membayarmu untuk sewa kamar," ucap Jaehwan. "Kau pasti sangat kaya sekarang."

"Bisa dibilang begitu," jawab Baekhyun menghela napasnya.

Sudah beberapa kali Chanyeol membawa kliennya ke kamar mereka. Dan sudah beberapa kali juga Baekhyun terus mendapatkan bagian dari uang yang didapatkan Chanyeol. Sesungguhnya, Baekhyun benar-benar tidak mau menerima uang itu. Tapi, entah kenapa Baekhyun tidak bisa mengatakan tidak kepada Chanyeol.

Selalu seperti itu sejak hari pertama mereka bertemu.

Dan semua uang itu hanya Baekhyun simpan di dalam lacinya. Tidak pernah ia gunakan.

"Jadi, beritahu aku berapa jumlah yang dia berikan kepadamu?" Jaehwan bertanya penasaran.

Baekhyun memutar kedua bola matanya. "Sudah tiga jam lebih. Aku harus kembali sekarang."

Dia melangkah pergi meninggalkan Jaehwan yang masih terus menerus memanggil namanya. Jaehwan benar-benar menyebalkan. Dia tidak pernah mau berhenti membicarakan tentang Chanyeol dan bertanya ini itu. Walaupun Baekhyun menyayanginya, kalau seperti ini terus Baekhyun jadi malas juga.

"Aku..."

Baekhyun baru saja hendak mengatakan aku kembali ketika telinganya menangkap suara-suara aneh tepat ketika dia membuka pintu kamarnya. Suara desahan. Suara laki-laki memanggil nama Chanyeol. Dia terpaku di tempatnya berdiri. Otaknya berteriak menyuruhnya agar cepat pergi dari sana.

Tetapi bukannya pergi, dia malah melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam kamarnya.

Dan disana, di atas ranjang Chanyeol, Baekhyun bisa melihat Chanyeol dengan tubuh telanjangnya tengah berhubungan seks dengan laki-laki cantik yang waktu itu pernah Baekhyun lihat. Baekhyun bisa melihat dengan jelas bagaimana kejantanan Chanyeol keluar masuk di bagian belakang tubuh laki-laki itu.

Astaga, Baekhyun tidak pernah melihat dua laki-laki berhubungan badan sebelumnya. Dan ini benar-benar membuatnya shock. Dia hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Dengan wajah yang memerah dan mulut yang terbuka lebar.

Chanyeol membuka kedua matanya yang tertutup dan seketika terkejut melihat Baekhyun berdiri di hadapannya. Namun, Chanyeol segera mengendalikan ekspresinya dan menunjukkan senyum tampannya.

"Aku belum selesai," ucapnya dengan napas yang terengah-engah. "Bisakah kau menunggu di luar sebentar lagi?"

Baekhyun tersentak. Tanpa bicara dia langsung melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia membanting pintu dan berjongkok sembari mencengkeram rambutnya di depan pintu. Ini semua salahnya sendiri. Dia sudah mendengar apa yang mereka lakukan sebelum dia akhirnya memutuskan sendiri untuk melihatnya. Rasa ingin tahunya benar-benar akan membunuhnya suatu hari nanti.

Baekhyun refleks menoleh ketika pintu kamar di belakangnya terbuka beberapa saat kemudian. Dan laki-laki cantik yang baru saja bercinta dengan Chanyeol melangkah keluar. Baekhyun berdeham dan menggeser tubuhnya agar laki-laki itu bisa lewat.

"Maaf kau harus melihat yang barusan," ucapnya dengan wajah yang memerah.

Laki-laki itu kemudian berjalan pergi.

Baekhyun menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Dia bisa melihat Chanyeol tengah duduk bersandar di atas ranjangnya.

"Ini benar-benar disayangkan," ucap Chanyeol. "Aku kira kita bisa akur. Tetapi semua bahkan kacau kurang dari dua minggu."

Baekhyun terdiam. Dia merasa semuanya adalah salahnya.

"Maafkan aku," Chanyeol tertawa frustasi. "Maafkan aku kau harus melihatnya. Sekarang kau pasti jijik denganku kan?"

Baekhyun terpaku. "Akulah yang seharusnya meminta maaf!" Serunya kemudian. "Aku seharusnya segera meninggalkan ruangan ini, tetapi..."

Chanyeol menatap Baekhyun, menunggu apa yang akan Baekhyun katakan selanjutnya.

"Aku..." ucap Baekhyun kemudian. "Aku merasa penasaran"

Chanyeol terdiam setelah mendengar perkataan Baekhyun. Sedangkan, Baekhyun hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia bisa melihat ekspresi wajah Baekhyun dengan jelas dari tempatnya berada. Ekspresi itu. Chanyeol menghela napas panjang.

"Jangan menyukaiku, Baek." Ucapnya kemudian.

Baekhyun mengangkat kepalanya kaget dan menatap Chanyeol dengan ekspresi terkejut. Menyukai Chanyeol? Apa dia menyukai Chanyeol? Dan entah kenapa dia merasakan sesuatu menusuk tepat di dadanya ketika Chanyeol mengucapkan kalimat barusan. Entah kenapa Baekhyun tiba-tiba saja merasa begitu marah.

"Memangnya kenapa kalau aku menyukaimu?" sahut Baekhyun.

"Hah?"

"Bukankah itu adalah hal yang wajar?"

Chanyeol mengangkat alisnya, bingung akan pertanyaan Baekhyun.

"Aku adalah temanmu," ucap Baekhyun kemudian. "Jadi wajar jika aku menyukaimu."

Chanyeol terdiam. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum Chanyeol tertawa kecil, membuat ekspresi Baekhyun yang tadinya mengeras berubah lembut kembali. Baekhyun kini menatap Chanyeol penuh tanya.

"Baiklah kalau begitu," Chanyeol memberikan Baekhyun senyum terakhir sebelum dia berbalik dan menenggelamkan dirinya dalam selimut.

Baekhyun terdiam di tempatnya. Baiklah, dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Terutama di bagian Chanyeol yang mengatakan kepadanya agar dirinya tidak menyukai Chanyeol. Dan kenapa dia jadi tiba-tiba marah? Teman? Padahal selama ini Baekhyun hanya menganggap Chanyeol sebagai teman sekamar, bukan teman akrab atau apapun. Sejak kapan mereka berteman? Dan menyukai Chanyeol? Apa barusan Baekhyun mengatakan kalau wajar saja dia menyukai Chanyeol? Tapi Baekhyun tadi mengatakan kalau dia wajar menyukai Chanyeol karena mereka adalah teman.

Baekhyun tidak mengerti apa isi pikirannya sendiri. Baekhyun benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ini semua karena Park Chanyeol. Baekhyun rasa dia akan menjadi gila sebentar lagi.

.

.

"Baekhyun, ada senior yang mencarimu."

Baekhyun mengerenyitkan dahinya bingung. Untuk apa senior mencarinya? Selama dia bersekolah disini, dia tidak mengenal dekat satupun seniornya. Baekhyun juga tidak mengikuti kegiatan sekolah apapun. Jadi dia benar-benar bingung ketika salah satu teman sekelasnya mengatakan kalau ada senior mereka yang mencarinya.

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar kelas.

"Hai..." Baekhyun tampak kaget melihat laki-laki yang ada di hadapannya.

Laki-laki itu adalah laki-laki yang merupakan klien dari Chanyeol. Yang bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu dan juga semalam.

"Perkenalkan, namaku Luhan," laki-laki itu menyodorkan tangannya pada Baekhyun.

"Baekhyun," Baekhyun balas menjabat tangannya.

"Maaf mengganggumu tiba-tiba. Kau pasti terkejut," ucap Luhan menundukkan kepalanya.

Baekhyun bisa melihat rona merah muda di pipinya dan itu membuat Luhan terlihat semakin cantik dan entah kenapa membuat Baekhyun merasa iri.

"Sedikit," jawab Baekhyun.

"Aku kesini untuk meminta tolong padamu jika kau tak keberatan," Luhan memainkan jari-jarinya gugup.

Baekhyun hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Luhan selanjutnya.

"Mungkin kau tidak akan mengerti ini," Luhan melanjutkan. "Tapi, aku mencintai Chanyeol."

Baekhyun tersentak mendengar pengakuan Luhan. Mereka berdua saling menatap saat ini dan Baekhyun bisa melihat keseriusan di mata Luhan.

"Tetapi masalahnya, Chanyeol tidak mau memiliki ikatan dengan siapapun." Ekspresi Luhan terlihat sedih. "Selain itu, dia adalah juniorku dan aku akan lulus tahun ini. Aku sudah berjanji pada Chanyeol setelah kelulusan aku tidak akan menemuinya lagi, jadi aku ingin menghabiskan waktuku sebanyak mungkin bersamanya sebelum itu terjadi. Jadi, maukah kau bertukar kamar denganku?"

Baekhyun terpaku.

Luhan memandangnya, menanti jawaban darinya.

"Tetapi Chanyeol tidak tidur dengan teman sekamarnya," ucap Baekhyun.

"Masalah itu," Luhan mendekat kearah Baekhyun dan meletakkan kedua tangannya di bahu Baekhyun, memandang Baekhyun penuh harap. "Bisakah kau membujuknya? Aku akan memberikan apapun yang kau mau, tetapi tolonglah aku karena aku tak punya banyak waktu lagi. Jika kau mau uang..."

"Hentikan ini!" Baekhyun menepis tangan Luhan dari bahunya.

Luhan hanya terdiam.

"Tidakkah kau merasa menyedihkan menggunakan uangmu untuk tidur dengan laki-laki yang kau cintai," teriak Baekhyun. "Apakah kau tidak merasa kalau dirimu itu menyedihkan?"

Baekhyun menatap Luhan marah. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia semarah ini. Bukankah tidak masalah baginya jika dia berganti kamar? Bukankah semuanya malah akan lebih baik untuknya? Dia bisa bebas keluar masuk kamarnya seperti dulu. Tidak harus khawatir akan memergoki teman sekamarnya sedang melakukan seks dengan orang lain seperti apa yang Chanyeol lakukan.

Tapi, entah kenapa dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

"Tidak ada yang bisa aku lakukan," ucap Luhan. Air mata mulai jatuh di pipinya. "Baginya, uang adalah segalanya. Suatu hari nanti kau pasti akan mengerti."

Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak akan pindah dari kamar itu," ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkan Luhan yang masih menangis tersedu-sedu.

.

.

To be continued...

.

.

Pls don't get mad at Luhan. He's just falling desperately in love with Chanyeol. Hehe

Idk why aku ngerasa banyak bagian yang aneh di chapter ini.

So I'm so freaking sorry for that. Huhu. I'll do better for the next chapter.

Jangan sungkan buat ninggalin kritik atau saran kalian di review

karena itu yang paling aku nanti dari kalian,

so my story can be better and better in the future.

Buat yang udah review di chapter sebelumnya:

ChoKyuKev, aupaupchan, Pied Piper915 dan Byunae18

Dan juga yang udah follow dan fav story ini, terima kasih banyak.

Kalian semua adalah semangatku!

Next chapter akan aku update di malam rabu,

bersamaan dengan next chapter dari Safe With Me.

So, see you in next chapter guys!

Love you and don't forget to vote EXO for MAMA 2017!