YOU STILL NOT UNDERSTAND

.

.

.

Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Warning : BL, Suasana aneh, dan apalah itu

Eoo0O0ooS

27_01

Part 2

Gemerlap di alam bawah sadar...

.

.

.

"Hoam~" Kesadaran penuh sudah diperoleh pemuda itu. Bersurai kemuning dengan keahlian perfect copy, Kise Ryouta. Dia melegang, sementara otot-otot sendinya yang kaku mulai terasa rileks. Ia merasa lebih santai dibanding keseharian lamanya.

"Ahn..." Kise mengernyit kala mendengar suara sensual yang menggenang di pelupuk, mengitari telinganya bak lebah yang siap menyengat kapan saja. Hanya saja, suara desahan itu tak cukup menganggunya yang ada ia akan tergelak dan tergoda sebentar lagi.

Mungkin.

"...kun." Kise tak jelas mendengarnya hanya sayup-sayup. Pemuda pemilik feromon ini menjejalkan telapak kaki yang tak terlapisi apapun ke ubin, mengelilingi ruang tengah apartemennya. Kalau saja asal suara yang menggertak batinnya itu berasal dari sini.

"Ku-ku..." Kise menghentikan langkah. Sendi ototnya yang sudah kembali rileks terasa tegang kembali.

Makhluk putih-pucat mulus. Tanpa pembungkus. Iris azure yang besar—menatap dirinya dengan tampang innocent. Bibir tipis nan mungil, bagian bawahnnya sedikit digigit. Surai biru langit nampak lepek di hiasi bando telinga anjing dan bagian paling pentingnya... eh, bukan penting maksudnya bagian paling menggoda, si pemuda mungil ini tengah memasang pose...

Uh...

Bagaimana cara Kise untuk mendeskripsikannya.

Duduk huruf 'W' dengan kedua tangan berada di antara kedua selangkangannya. Yah, begitulah sederhananya.

"Kise-kun..." Kuroko sang objek yang tengah dijumpai Kise tengah mendongak dengan kedua alis sayu dan bibir cemberut. Mirip tekstur wajahnya saat menjumpai Kise sepulang dari rumah makan penyedia steak gratis dahulu. Yah, masa-masa anak seirin lelah lantas kelaparan.

#Season 1 Episode 5 (kalau kalian berkenan melihat ekspresinya saat itu ^^)

Namun, keadaan sekarang sudah jauh lebih menggemaskan dari itu. Ini sudah periode berakhirnya winter cup.

"Kurokocchi!" Kise meremas rambut pirang, lantas membelalakkan mata tak percaya dengan kondisi Kuroko sekarang. Pemuda bersurai babyblue yang kemarin malam menjabat sebagai kekasihnya itu tengah duduk di sofa dengan bando telinga anjing. Dan jangan pernah lupakan ekspresi menggemaskan yang dibuatnya sekarang, tetapi ini hanya segelintir masalah yang mampu membangkitkan nafsu seorang pemuda penyandang nama Kise Ryouta.

"Ke-kenapa Ku-kuro... uh!" Kise menahan nafas ketika Kuroko beranjak dari posisi duduknya dan memilih berlutut. Kuroko mengerjap pelan dengan tubuh yang lepas dari lindungan kain. Benar-benar tak terjamah sehelai benangpun dan ada kendala lain yang membuat iris madu Kise nyaris keluar, ada ekor anjing di ah, kalian tahulah di mana.

"Aa-apa... ma-maksud ini semua?" Kise mampu menyelesaikan kalimatnya dengan terbata-bata. Wajahnya merah padam—gugup menyerang tanpa rem.

Lalu apa respon Kuroko sekarang?

"Uh~" Kuroko kembali cemberut. Alhasil membuat Kise yang mulai merasa kehabisan nafas menyentuh dada pelan.

"Ke-kenapa Kurokocchi mengeluh dengan sedemikian rupa?" Jika dibandingkan teko panas yang siap meletup, lalu menimbulkan cicit nyaring. Rasanya debaran jantung Kise masih lebih nyaring dari itu sekarang.

Kuroko beranjak mendekati Kise. Lantas menutup kedua matanya malu-malu, kedua pipi pucatnya nampak memerah.

"Ugh!" Satu lenguhan lagi. Maka Kise dapat lepas kontrol.

"Kise-kun..." Kise ikut memejamkan mata, kala kepala Kuroko makin dicodongkan ke arahnya dengan susah payah. Kise meremas ujung piyama.

"Kise-kun." Leher Kise terasa basah. Panas terasa menjalar di sana.

Tunggu! Kise merasa harga dirinya sebagai seme direngut.

"Ya, Sayang?" Jawab Kise sudah dapat beradaptasi, mengilangkan kegugupannya yang kentara melanda irama detak jantungnya yang mulai tak karuan dan berharap dapat menguasai keadaan, di raihnya pelan bahu Kuroko yang tampak gemetaran.

"Kise-kun." Ah, panggilan itu lagi. Pikir Kise sambil tersenyum lantas benar-benar menutup matanya kembali menarik Kuroko agar lebih dekat dengan dirinya.

Jemari mungil Kuroko terasa menyentuh perutnya perlahan.

Huh, memangnya sejak kapan Kuroko melepas kancing piyama sang small-forward?

"Kise-kun!" Eh? Kenapa Kuroko marah.

"Kise-kun!" Lagi! dan kali ini seperti disertai dengan guncangan bahu pada dirinya.

"PLAAKK!"

"Huah~" Kise langsung berteriak lantas mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.

"Eh?!" Kise melotot dan mendapati pemuda mungil bersurai biru langit itu berdiri sambil memiringkan kepala. Satu tangannya tengah memegang tangkai cangkir.

Kise mengamati Kuroko;dari surai berantakannya sampai ujung jemari kaki. Sweater putih berlengan panjang yang tampak kebesaran dan celana pendek berwarna kuning sebatas paha. Itu baju yang dipinjamkan Kise pada Kuroko semalam.

"Ah!" Kise menggaruk-garuk rambut yang mulai bertambah kusut.

"Kenapa Kise-kun susah sekali dibangunkan?" Kuroko kembali menegakkan kepala sembari mengerjap pelan. Duh, imutnya.

"Eh?" Kise langsung menepuk dahi. Tentu saja Kuroko mengenakan pakaian, bukan seperti yang ia lihat di alam bawah sadarnya tadi.

Kise memperhatikan rambut Kuroko yang berantakan. Tak ada bando dengan telinga anjing seperti yang ia temui, kemudian ekor matanya intens melihat badan Kuroko. Kalau saja dari sana ada ekor coklat muda tengah melambai-lambai.

Nihil. Benar-benar tak ada. Intinya semua yang Kise alami tadi hanya mimpi.

"Huh," Kise menghela nafas sambil mengelus dada.

"Kurokocchi?" Panggil Kise masih duduk di tepi kasur. Kuroko menjawab dengan deheman.

"Cari celanaku yang lebih panjang!" suruh Kise sambil mengarahkan telunjuknya di lemari pakaian, kemudian beranjak dari duduknya sambil melegangkan kaki. Berniat keluar dari tempat itu.

Kuroko memutar badan, meratapi punggung Kise yang jauh lebih besar dari miliknya.

"Kenapa?" Tanya Kuroko bingung. Seingatnya Kise bilang tak ada lagi pakaian yang seukuran tubuhnya dan lagi ini pilihan Kise, bahkan Kise tak memikirkan komentar dirinya dan memilih mengeringkan rambutnya. Yah, itu terjadi begitu saja, dengan kontrol Kise tentu.

"Soalnya, keadaanmu seperti itu tak pantas dilihat." Jawab Kise tanpa berbalik ke arah lawan bicaranya langsung. Gertakkan di gigi Kise nyata menyiul di daun telinga si mungil.

Kuroko membulatkan mata, pegangannya pada tangkai cangkir bergetar.

"Tetapi, Kise-kun yang me..." Kuroko menundukkan pandangan.

"Bodoh, kubilang tak pantas! Ya, tak pantas! Kau mau menggodaku, Hah?!" Kise berbalik dengan tatapan tajam.

"PRAANGG!"

"Glek!" Kuroko menelan ludah. Kise tak pernah menatapnya seperti ini sebelumnya. Di genggamnya kedua ujung sweater dengan gemetaran. Dan lupakan soal cangkir yang sudah pecah barusan.

"Ha-i!" Sahut Kuroko lebih gemetaran, ia langsung membalikkan badan. Tak mau lagi menyaksikan tatapan sinis yang ditunjukkan Kise. Bahkan melupakan nasib malang si cangkir.

"Deg!" Kise meremas dadanya. Jelas ia merasakan perih di sana.

"Maaf..." Gumam Kise pelan. Seraya membalikkan badan kembali.

"Eng... Kise-kun!" Panggil Kuroko lagi, kali ini dengan celana lain yang ada di genggamannya.

Kise membalikkan badan dengan enggan. Mungkin ia harus mengucapkan sesuatu yang lain agar Kuroko tak keras kepala dan sesegera mungkin menuruti perintahnya.

"Payah! Buat jijik saja!" Kise tak jadi membalikkan badan, ia keluar dari kamarnya sambil mengcak-ngacak rambut.

Kuroko menundukkan kepala. Masih belum menerima kata-kata yang diucapkan Kise tadi. "jijik?" tanya Kuroko pada dirinya sendiri.

Ia mengigit bibir bagian bawah, menahannya agar tak terisak. Sementara bunyi berdebam mengiringi.

"Kurokocchi tak ada latih tanding'kan?" Tanya Kise di sela-sela kegiatan menyetirnya, ia tak ingin melihat wajah Kuroko langsung. Lebih memilih meneliti pemuda imut itu lewat pantulan lain. Sedikit diliriknya kaki Kuroko yang sudah terbalut celana panjang sebatas mata kaki, tetapi justru kaki mulusnya yang sudah ditutupi dengan sempurna itu membuat pipi Kise merah. Tentu saja karena terlintas kembali di benak seorang Kise mengenai mimpi pagi yang menghujaninya.

Kuroko melihat ke arah Kise. Ada gurat kecewa di sana. Lantas digigitnya kembali bibir, kali ini untuk membantu menenangkan batinnya yang sejak tadi tak tentram. Ia mengangguk lesu sekaligus menunduk.

"Hai!" Kise masih menahan diri. Ia tetap fokus ke depan, meneliti jajaran gedung-gedung tinggi yang tak berkesudahan, mengamit ranting-ranting pohon yang tak banyak lagi, tetapi cukuplah untuk menyibak udara sejuk.

Kuroko menelan ludah. Kata-kata kasar yang dilontarkan Kise di apartemen sang model tak bisa ia lupakan begitu saja, begitu teringat malahan menjadi kecaman di otak Kuroko. Lantas kenapa ia tak mengubrisnya saja, lalu pura-pura tak menganggapnya serius.

Jijik. Kata-kata itu tentu sangat menusuk dirinya, itu tak hanya berkesan sarkastis. Namun, lebih dari yang Kuroko bayangkan. Kuroko makin lama menunduk. Melamuni kenyataan pahit yang sulit diteguknya begitu saja. Pahit! Seperti sake, meski Kuroko sendiri tak pernah menelan dan mencicipinya langsung.

Kuroko meremas celana Kise yang jelas longgar di kakinya.

'Apa Kise-kun jijik melihat tubuhku?' Terlontar pertanyaan naas itu. Tentu tak dijawab apa-apa oleh Kise, sebab hanya dibicarakan dalam relung hatinya.

Kuroko tak ingin menutupi ini begitu saja, melupakannya, lantas bergerak seperti semula, tetapi apa yang dirasakan Kise menurutnya sudah 'pasti'. Kise benci melihat tubuhnya. Itu saja.

Meski mereka harus berbagi kamar semalam—dengan lampu temaram yang akhirnya, diam-diam di matikan Kise. Sembari menggelitik pipi Kuroko untuk memastikan bahwa Kuroko benar-benar sudah tertidur pulas atau belum.

'Kise-kun benci melihatku.' Kuroko semakin menguatkan gigitan pada bibir bagian bawahnya. Sakit.

"Sudah sampai. Mau aku antar sampai ke pintu?" Tawar Kise.

Kuroko berhenti pada kegiatan berpikir, ia dongakkan kepala untuk menatap Kise lebih lanjut. Kise menatapnya sambil mengangkat sebelah alis seraya tersenyum tipis.

Deg. Senyum Kise-kun tak pernah setipis ini.

"Mau tidak?" Ulang Kise sambil memainkan grendel kunci dengan ragu.

Kuroko makin terlihat kecewa, tetapi segera ia tangkis itu. Kuroko berniat memalingkan wajah, tetapi sebelum itu terjadi justru Kise yang terlebih dahulu menyudahi kontak mata mereka.

Mesin mobil Kise berhenti. Kuroko meringis pelan. Membuka pintu mobil dengan cepat. Kise yang menyadari itu segera menarik kunci mobilnya, kemudian ikut-ikutan membuka pintu mobil, berambisi untuk menyusul Kuroko.

"Terima kasih... Kise..." Kuroko tak menoleh ke arah Kise. Ia berjalan ke perkarangan rumahnya dengan cepat.

Kuroko tak mau lagi melihat wajah Kise. Sudah cukup ia tahan perih sejak tadi, kalau lebih jauh dia pasti lebih merasa tak sanggup...

...untuk...

...melepaskan Kise.

Kami belum berakhir-kan?

Sementara itu. Kise tampak tertegun, ada embel-embel yang hilang dari kalimat Kuroko.

"Kise?" Tanya Kise pada dirinya sendiri, disibaknya poni lepek di dahi.

Selama ia kenal Kuroko, tak pernah didengarnya Kuroko menghilangkan partikel 'kun'.

"Heh?!" Dilayangkan tinju ke arah kepala Kise, padahal nyaris ia bisa menghindarinya kalau saja pemuda yang lebih pendeknya darinya itu tak menundanya dalam hitungan detik.

"Bicara apa kau ini?!" Kedua alis pemuda itu mengkerut. Mungkin sebentar lagi akan dijejalkannya tapak kaki berlapis sepatu sport ke badan pemuda dengan posisi small forward tersebut.

"Se-senpai!" Kise langsung mendudukkan badan ke lantai ruang basket dengan ogah-ogahan. Ia merapikan bentuk rambutnya yang makin tak karuan berkat ulah kapten Kaijo itu.

"Kau harus segera minta maaf! MIN-TA MA-AF!" Kembali dilayangkan kepalan tangan Kasamatsu ke surai Kise bahkan lebih keras.

"Huh, pasti kurokocchi salah paham'kan?" Kise menompang dagu dengan telapak tangan, tak mau lagi mengubris deathglear-double kill yang menghujaninya barusan.

"Tentu saja bodoh! Masa caramu melindunginya begitu. Kubilang apa? Kau memang lebih pantas jadi model ketimbang aktor." Cetus Kasamatsu ikut-ikutan mendudukan diri di lapangan sementara telapak tangannya di angkat. Mengomando para pemuda yang tengah berlatih.

"Apa aku kirim sms saja, ya?" tanya Kise seraya bangkit dari duduknya, namun sebelum benar-benar dapat melangkahkan kaki. Ia menolehkan kepala ke arah sang kapten, berharap mendapat saran atau sekedar persetujuan dari pria itu.

"Tidak! Temui si bocah menghilang itu langsung!" Suruh Kasamatsu sembari melipat kedua tangan di depan dada.

"Begitu, ya."

Lantunan derap sol sepatu beriringan tak tentram. Menyingsing teriknya sang mentari pada indera pendengaran Kise Ryouta. Matanya menerawang, lepas dari itu diambilnya ponsel dari saku jas sekolahnya.

"Ah, Kuro—" Kise memilih membungkam mulutnya, kemudian menempatkan diri di balik dinding mansion yang di huni Kuroko. Ia bukannya belum siap menghadapi pemuda mungil itu, ada sesuatu yang mendorong batinnya agar mendengar sesuatu terlebih dahulu.

"Sudahku bilang, bukan? Kau tak akan kuat." Pemuda bersurai biru gelap tampak membuntuti Kuroko dari belakang dengan dua beban di tangan kanannya. Ransel.

Kuroko yang sengaja berjalan di depannya hanya menundukkan kepala.

"Mau kugendong ke kasur seperti semalam, hmm?" Tawar pemuda itu, lalu menepuk pundak Kuroko pelan.

"Gendong?! Semalam?!" Kise melotot tak percaya, nyaris keluar dari tempat persembunyiannya kalau saja tak mendapati sesuatu yang lain hingga membuat suasana hatinya bertambah panas.

Kuroko mengangkat kepala.

Wajahnya tampak bersemu merah.

"Jangan lakukan itu lagi! Kakiku sakit gara-gara Aomine-kun." Tolak Kuroko sambil cemberut. Di dorongnya pagar mansion dengan susah payah sehingga membuat Aomine si pemuda tinggi berkulit tan itu ikut ambil bagian.

"Begini saja tidak bisa." Ucap Aomine terkesan sarkastis. Di acaknya surai Kuroko dengan tangan kiri.

Kise berdecak sebal digenggamnya erat-erat ponsel yang sejak tadi lepas dari saku jasnya.

"Apa-apaan mereka itu?!" Kise keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tak bisa terus-terusan mengintai seperti mata-mata. Lagipula ini bukan gaya Kise, ia akan melabrak mereka langsung. Seperti yang diharapkan ego pribadinya. Sementara duo biru sudah memasuki perkarangan legang.

"Ka..." terpotong.

Kening pucat Kuroko tampak kusut, sementara telapak besar Aomine menyibak helain poni halusnya.

Kise makin mempererat cengkraman, giginya sudah lama bergemelutuk.

"Aomine..." Kuroko tampak terdorong ke depan hingga tak dapat melihat tubuh Kuroko dan Aomine langsung. Sebab terhalang dinding marmer nan tebal. Namun, sebelum tubuh Kuroko lepas dari penglihatan Kise.

Manik azurenya sempat melirik Kise.

Membulat.

'Apa Kurokocchi terkejut karena ketahuan olehku?' tanya Kise dalam hati. Pemuda blonde ini tersenyum miris, gurat kecewa jelas tergambar di wajah tampannya.

Kise langsung mendorong pagar besi, geraknya cepat dan gegabah. Kise menatap sengit saingan yang dulu sangat dikaguminya itu. Aomine, berkat pemuda itu ia mengenal kata 'kuat'. Berkat pemuda itu ia kenal 'basket'. Berkat pemuda itu, ia takut akan 'kekalahan'. Dan berkat pemuda itu juga, ia melesak dengan badan tegap lantas mengayunkan 'tinju' ke rahang kokohnya.

"Kise?!" Aomine berniat membenarkan posisinya, tetapi tubuh Kuroko yang berada di atasnya membuat Aomine sulit bergerak dengan cekatan. Alhasil, tinju itu melesat tanpa tameng.

Mata Kise tampak berkaca-kaca, kemudian membalikkan badan seraya menyeka air mata yang mulai menggenang. Berlalu dari area itu.

"Tsk! Bodoh!"

Rembulan menggantung di atas sana, terik sudah tersingkir sejak lama. Bunyi tik-tok yang bising mengelabui indera pendengaran mereka. Tinggalah dua insan di mansion sempit ini.

"Aku..." Si surai biru gelap mulai menarik risleting makhluk mungil dihadapannya. Jemari besarnya bergerak cekatan.

"Menyukaimu..." ditariknya perlahan-lahan seragam bagian bawah yang masih melekat pada kaki pucat si empu.

"Ugh~" lenguhan pelan keluar dari bilah bibirnya.

"Tetsu." Sesudah mengucapkan itu, si mungil tampak menggeliat. Kedua matanya yang sejak tadi terpejam perlahan-lahan bergerak-gerak gelisah di balik sang lindungan, kelopak mata.

"Hmmph~"

"Sepertinya Kurokocchi memang belum menerima pernyataan sukaku." Kise menundukkan kepala—menompang dahinya di stir mobil. Resah dirasakannya sejak tadi.

"Apa aku yang terlaku memaksa?" Terkembang senyum di bibir Kise, kemudian ada tawa kecil yang mencuat dari mulutnya, tetapi itu bukan realita.

"Dari dulu..."

Terbayang raut datar Kuroko.

Pemuda itu selalu tampak manis di matanya.

"Kita ini..."

Kuroko pernah tersenyum bahagia dan itu cukup sering ditunjukkannya.

Bahkan jika ia hanya terseyum tipis'pun.

Kuroko masih terlihat imut.

"...hanya sepihak'kan?"

Stir mobil Kise tampak berputar-putar. Dahinya yang sejak tadi menempel di sana sebagai objek sanggahan terasa ikut diputar paksa.

Disambut dentuman keras.

.

.

.

To Be Countinued...