Mind Gate
Author: memoryRy
Translator and Editor: Me
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Genre: Romance, Fantasy, Humor(?)
Warning: Genderswitch! for uke
Disclaimer: Cerita ini bukan punya saya, tapi punya memoryRy, salah satu author di asianfanfics . com (hilangkan spasi). Alhamdulilah saya sudah mendapat izin dari memoryRy untuk menerjemahkannya dan mengubah genrenya menjadi genderswitch. Sekali lagi cerita ini BUKAN PUNYA SAYA. Oke, sekian dan terimakasih.
Credit: memoryRy AFF
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
"Mwo? Aku tidak menyembunyikan siapapun di kamarku!" Yunho menyangkal tuduhan ayahnya.
"Tapi, kenapa dia keluar dari kamarmu setelah kau pergi ke sana?" kekeuh Mr. Jung.
"Appa, percayalah.. aku tidak tahu dia datang darimana. Aku tidak akan berani berbohong padamu."
Jihye, adik perempuan Yunho mulai angkat suara. "Mmm.. apa kalian.. tidak berpikir kalau dia hantu?"
"Oh, berhenti berkata hal-hal konyol! Yunho, jika kau ingin membawa seorang gadis setidaknya perkenalkan dulu pada kami," kata Mr. Jung sebelum berjalan ke kamarnya yang berada dekat dengan ruang tamu.
Sementara itu, Jaejoong yang masih berlari kencang mulai kehabisan nafas. Perlahan dia melambatkan larinya hingga menjadi berjalan.
"Aigo, sepertinya aku kena karma sampai hal seperti ini bisa terjadi. Hhh.. aku harus kembali ke lab.. hhhh tapi aku capek..hhh..." kemudian Jaejoong memjamkan matanya, membayangkan sebuah sofa panjang cokelat di dalam lab dan keinginannya untuk berada disana.
Puff!
Sekali lagi, dia merasa jatuh ke sesuatu yang tak berdasar.
Puff!
Dia mendarat di sebuah sofa dan langsung menerima dua suara teriakan dari sofa di seberangnya. Jaejoong duduk dengan cepat lalu menatap Yoochun dan Junsu yang tampak shock.
"Tenang guys, ini aku!" Jaejoong berhenti, menatap Junsu. "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah tadi kita berpisah di halte bus?"
"Oh! Aku, aku kembali kesini lagi... ada sesuatu yang tertinggal.." Junsu tergagap saat Jaejoong menatapnya penuh tanya.
"Oke, tapi apa yang kau lakukan di pangkuan Mr. Park..?"
Junsu terlonjak dan langsung melompat saat tersadar dia duduk di pangkuan Yoochun. Sedangkan Yoochun masih membatu melihat Jaejoong.
"Kami tidak melakukan apa-apa.. apa yang kau lakukan disini?" tanya Junsu mengalihkan pembicaraan.
"Ah! Mr. Park aku ingin memberitahumu sesuatu! Ini bekerja! Gem ini bekerja! Aku berteleportasi dua kali!" jelas Jaejoong antusias. Seperti yang Junsu duga, Jaejoong sangat mudah teralihkan perhatiannya.
.
.
.
"Oppa, bagaimana menurutmu?" tanya Jihye sembari mengenyakkan diri di sofa dengan Yunho mengikuti di belakangnya.
"Aku, aku tidak yakin.. aku melihatnya duduk di kafe hari ini, menatapku dengan matanya yang besar.. dan, dan.. aku juga melihatnya saat latihan, dia berdiri sendirian di bawah pohon lalu berlari ke sebuah bangunan kecil yang kutahu adalah bekas lab.." Yunho berhenti. "Oh my god.. jangan-jangan..?"
"Ne, aku pikir dia hantu dari lab itu oppa, dan kelihatannya dia mengikutimu.."
"Andweeeee, apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun!" Yunho berteriak panik.
"Rileks oppa.. kau hanya perlu bertanya padanya, apa yang dia inginkan darimu, saat dia menampakkan dirinya lagi."
"Tapi..." Yunho tampak berpikir.
"Tapi apa oppa, kau takut?"
"Aniii, dia terlalu cantik dan cute untuk ditakuti. Aku hanya, aku baru sadar kenapa Changmin terlihat dingin tadi. Kemungkinan dia sudah tahu.. dia kan bisa melihat hal-hal mistis."
"Kalau begitu telepon dia sekarang!"
Yunho mengambil ponsel dari saku celananya dan memanggil Changmin.
"Yeoboseo hyung?"
"Min, aku ingin menanyakan sesuatu.." mulai Yunho.
"Apa?"
"Apa kau tahu yeoja yang aku tunjukkan padamu saat latihan tadi adalah hantu?"
"Apa?"
"Yeoja cantik tadi, ingat? Yang rambutnya hitam panjang, bibir merah.."
"Aku tidak tahu kalau dia hantu."
"Tapi kau bersikap dingin padaku tadi."
"Oh.. itu karena tadi Kyuhyun noona meneriakkan namamu."
"..."
"Hyung, aku tahu diam-diam kau sedang tertawa sekarang. Berhenti atau aku tidak akan bicara lagi padamu."
"Bwahahahahaa..." Yunho menghentikan tawanya. "Oh my god, I'm sorry Min.. aku tidak bermaksud menertawakan perasaanmu, tapi serius.. noona gila itu? Dia bahkan pernah memukul wajahmu!"
"..."
"Jangan bilang kau menyukainya gara-gara dia memukulmu? Dasar physco!"
"Diam hyung. Ingat untuk apa kau memanggilku."
"Oh ya aku lupa.. Oke, aku hanya ingin tahu yeoja yang kulihat tadi itu hantu atau bukan."
"Entahlah, aku tidak bisa membedakannya karena dia terlihat normal di mataku."
"Tapi, dia datang ke kamarku yang terkunci entah darimana!" Yunho mulai menceritakan kejadiaan tadi pada Changmin yang hanya mengangguk-angguk di seberang sana.
"Kalau seperti itu ceritanya, bisa jadi."
.
.
.
"Aku hanya menutup mataku dan membayangkan suatu tempat lalu puff! Aku berpindah tempat! Rasanya seperti jatuh pada kegelapan yang tak berujung dan, dan.. aku merasa melayang.. dan.." Jaejoong melanjutkan ceritanya dengan antusias sementara Junsu mendengarkannya seksama dan Yoochun memeriksa gem di tangannya penasaran.
"Warnanya berubah.." lirih Yoochun. Junsu menatapnya lalu kembali beralih pada Jaejoong.
"Jae, stop it!"
"...benar-benar gila dan- wae, waeyo? Apa yang terjadi?"
"Ssshhh.." Junsu kembali menatap Yoochun. Jaejoong diam dan ikut memperhatikan Yoochun.
"Warna gem ini berubah sedikit lebih gelap sekarang. Masih baby blue.. tapi lebih gelap.. aku harus memeriksanya."
"Apakah kau tidak perlu memeriksa tubuhku? Maksudku, aku baru saja memasuki dimensi lain," tanya Jaejoong.
Yoochun tersenyum mesum. "Kau ingin aku memeriksa tubuhmu?"
"Y-yah! Bukan itu maksudku!"
"Aish, pergi dan cek gem itu Chun. Biar aku yang memeriksa Jaejoong." Junsu mendorong Yoochun agar pergi.
Kemudian Junsu meletakan termometer di mulut Jaejoong dan mulai mengecek tekanan darahnya.
"Bhisakhah khau memberithahuku, khenapa khau memanggil Mr. Phark 'Chunn'?" tanya Jaejoong tak jelas dikarenakan benda di mulutnya.
Junsu merona. "Aku dan dia sedang dalam hubungan 'itu'."
Jaejoong mengangkat kedua alisnya.
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan jika bertemu Jung Yunho lagi?" pertanyaan tiba-tiba Junsu membuat mata Jaejoong membulat panik.
"Ooohh my Gooood, aku tidaakkk tahuuuuu...! Omo, omo! Haruskah aku keluar dan bersembunyi di tengah hutan?!"
Junsu hanya mendesah mendengar kepanikan sahabatnya itu.
.
.
.
The next day in Seoul University
Yunho berjalan di koridor kampus dengan Changmin disampingnya. Dia sedang dalam perjalanan menuju gedung Fakultas Psikologi untuk bertemu Yoochun.
"Apa kau yakin dia pemilik lab itu?" tanya Yunho untuk ketiga kalinya, hanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak salah.
"Tentu saja hyung. Aku bertanya pada sumber yang dapat dipercaya."
Sementara itu, di dalam ruangan Yoochun, Jaejoong dan Junsu tengah berbicara tentang mind gate.
"Kenapa benda ini tidak bekerja padaku?" tanya Junsu kesal pada gem ditangannya.
"Aku pikir karena fokusmu tidak sekuat Jaejoong.." jawab Yoochun agak ragu.
"Kau benar, tentu saja Jaejoong fokus.. fokus memikirkan cara untuk bisa dekat dengan namja bernama Jung Yunho."
"Hey, kalau begitu dia kekuatanku." Jaejoong menjulurkan lidahnya.
"Stop it. Tapi Jae, kau sudah membuktikan salah satu teoriku. Kita perlu menyelidiki lebih dalam lagi. Oke, pertama, mind gate ini bisa menembus waktu dan ruang dimensi yang sudah kau buktikan dengan teleportasi. Kedua, benda ini bisa mengontrol otak manusia seperti kau bisa mengontrol perkataan dan tindakan seseorang, tapi ini bukan hipnotis.. karena orang itu akan mengingat semua yang dikatakan dan dilakukannya."
"It sound amazing..." ujar Jaejoong takjub.
"Yeah! Ayo kita coba Jae!" Junsu ikut antusias dan membantu Jaejoong memakai kalung gem itu lagi.
"Tapi, dengar..." Yoochun menatap keduanya dengan wajah misterius. "Aku tahu objekmu adalah Jung Yunho. Aku hanya ingin memberitahumu teoriku yang lain. Kau bisa mengontrol pikirannya, tapi tidak dengan hatinya. Kau berhadapan dengan sains, bukan emosi."
Jaejoong dan Junsu sama-sama terdiam di tempat. Beberapa detik kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk."
Seorang yeoja paruh baya dengan baju kerja warna abu-abunya melangkah masuk.
"Ada dua orang mahasiswa dari Fakultas Bisnis mencari anda Profesor Park." Kata yeoja itu.
"Siapa?"
Yeoja itu tersenyum lebar. "Superstar-ah maaf, maksudku Jung Yunho dan Shim Changmin," jawabnya diikuti kemudian teriakan panik dari Jaejoong yang mulai berjalan cepat ke setiap sudut kantor kecil itu.
"Sedang apa kau?" tanya Junsu aneh melihat kelakuan Jaejoong.
"Aku harus bersembunyi! Dimana saja!" Jaejoong berseru dibalik sebuah kursi kecil yang tentunya tidak bisa sempurna menutupi tubuhnya.
"Oke, Mrs. Tae, biar nanti aku yang mempersilahkan mereka masuk." Mrs. Tae mengangguk dan menatap aneh Jaejoong sebelum akhirnya keluar ruangan.
"Kenapa kau harus bersembunyi darinya? Kau bahkan sudah memberitahukannya namamu." Junsu menarik Jaejoong dari balik kursi.
"Aish, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang kejadian kemarin! Setelah aku menemukan alasan yang bagus, aku akan menemuinya sendiri."
"Kau bisa bersembunyi di bawah meja," saran Yoochun dan langsung menerima deathglare dari Junsu.
"Jeongmal gamsahamnidaaaa~" Jaejoong berlari ke arah meja dan bersembunyi di bawahnya.
"Kenapa kau membantunya? Dia harus sedikit berani!"
"I will! Hanya saja sekarang aku belum siap!" seru Jaejoong dari bawah meja.
"Tidak apa-apa Su. Sekarang tolong panggilkan mereka untuk masuk." Yoochun tersenyum sedangkan Junsu mendengus.
"Tunggu, tunggu..." Jaejoong menghampiri Junsu, membuka tasnya, lalu menyerahkan ponselnya dan selembar gambar Yunho yang dia ambil dari majalah. "Please, ambil fotonya untukku dan minta dia menandatangani ini."
"Mwo?"
"Please Junsuuuu, I'm begging youuuu..." Jaejoong memohon dengan puppy eyes andalannya.
"Aish! Kau ini! benar-benar..." Junsu menerima ponsel dan gambar itu dengan kasar. Jaejoong tersenyum senang sebelum kembali menyembunyikan dirinya di bawah meja Yoochun. Junsu berjalan ke pintu sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Jae, coba untuk tidak berpikir apapun..." bisik Yoochun dengan nada memperingati.
"Wae?" Jaejoong balik berbisik.
"Karena kau sedang menggunakan mind gate."
Pintu terbuka. Dua namja jangkung masuk diikuti Junsu. Mereka membungkuk pada Yoochun.
"Good day handsome! Apa yang membawa kalian kesini?" tanya Yoochun dengan senyuman lebarnya. Changmin mengerutkan keningnya melihat namja aneh di depannya yang memakai kaos ungu, celana pendek putih, dan bando ungu yang memperlihatkan jidat lebarnya.
"Maaf profesor, jika kami mengganggu anda. Aku datang kesini hanya untuk menanyakan sesuatu," jawab Yunho berusaha tidak takjub dengan penampilan ajaib namja di depannya.
"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan? Aku harap aku bisa memberi jawaban yang kau butuhkan."
"Ehemm.. jadi, lab yang berada di dekat lapangan sepak bola adalah milik anda?"
"Ya, lab tua itu memang milikku!" Yoochun tetap tersenyum.
"Apa disana ada hantu perempuan bernama Kim Jaejoong..?"
"Mwo?" Yoochun dan Junsu membuat tampang seperti orang bodoh. Jaejoong mengernyit. Hantu?
"Ah, maaf.. kedengarannya memang tidak masuk akal, tapi kemarin aku mengalami sesuatu yang aneh..." Yunho mulai menceritakan cerita yang sama dengan Jaejoong, hanya saja kali ini dari sudut pandangnya. "...dan aku percaya dia adalah hantu dari labmu."
"Bwahahahahahaha..." Junsu tertawa sambil memegangi perutnya dan menerima tatapan kesal dari Yunho. "Mi-mian..." Junsu mencoba menghentikan tawanya sementara Jaejoong menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Oke, pertama tidak ada yang namanya hantu di labku. Yeoja yang kau lihat kemarin itu adalah salah satu asistenku, Kim Jaejoong. Dia adalah muridku dan dia masih hidup tentu saja. Kedua, apa kau ingin mencoba cookies ini Changmin?" Yoochun menyadari kalau sedari tadi Changmin menatap intens toples kecil berisi cookies miliknya. Changmin mengangguk dan langsung membuka toples itu dengan wajah bahagia.
"Lalu kenapa aku melihatnya di kafetaria fakultasku?"
"Itu karena dia ingin bertemu seseorang disana. Hai, aku Junsu.." Junsu ikut nyambung.
"Bagaimana dengan dia yang berada di kamarku?" Yunho bertanya pada Junsu.
"Mungkin yang kemarin terjadi hanyalah mimpi," jawab Junsu yakin.
"Tapi itu tidak mungkin kalau adik dan ayahku juga mendapat mimpi yang sama denganku. Dan aku yakin aku tidak sedang tertidur."
"Itu semua adalah hasil kerja pikiranmu Yunho. Kau tahu, terkadang otak manusia bisa membuat imajinasimu menjadi nyata lewat elemen alami yang mengirimkan sinyal. Seperti ini, kau terus memikirkan Jaejoong sampai otakmu mengirim sinyal elektronik kepada elemen udara di sekelilingmu dan akhirnya membuat sosok Jaejoong di depanmu," jelas Yoochun.
"Kau pasti gila," kata Yunho dingin.
"Kemudian beritahu aku, apa yang Jaejoong lakukan di kamarmu?"
Yunho mendesah. "Aku tidak tahu.. hhhh kurasa aku bisa menjadi gila berada disini.. maaf untuk mengganggu waktumu Mr. Park." Yunho berjalan keluar diikuti Changmin yang dengan berat hati meninggalkan toples cookies-nya yang hampir kosong.
Junsu hampir lupa tentang permintaan Jaejoong. Dia segera berlari keluar kantor mengejar Yunho.
"Yunho-ssi! Maaf... bolehkah aku mengambil fotomu?"
"Kau ingin berfoto denganku? Tentu saja."
"Ani, ani. Hanya fotomu.. dan tolong tanda tangani juga gambar ini."
Yunho mengangguk lalu memberikan sebuah pose cool pada Junsu. Setelah mengambil beberapa foto, Junsu memberikan selembar kertas bergambar Yunho milik Jaejoong.
"Apa yang harus aku tulis?"
"Untuk Kim Jaejoong, jangan jadi pengecut, hadapi aku, Love Jung Yunho." Junsu berkata terus terang. Yunho menatapnya penuh tanda tanya.
"Kau ingin aku menulis itu?"
Junsu mengangguk.
"Apa kau akan memberikan ini untuk Kim Jaejoong?"
Junsu mengangguk lagi.
"Berhubung dia manusia, aku akan menambahkan nomor teleponku."
Junsu mengangkat kedua alisnya, menatap tak mengerti Yunho yang masih asyik menulis. Setelah selesai dan berterimakasih, Junsu kembali ke kantor Yoochun hanya untuk menemukan Jaejoong yang berdiri dengan mata berbinar-binar.
"Apa kau berhasil mendapatkannya?" tanyanya penuh harap. Junsu tersenyum dan Yoochun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat dua murid childish-nya.
.
.
.
Night at Myeongdong street
Jaejoong tengah berjalan dengan Junsu untuk mencari makanan.
"Kau harus mentraktirku makanan yang enak..."
"Ne, Junsu.. anything you want..." Jaejoong tak bisa berhenti tersenyum sejak membaca tulisan tangan Yunho.
"Jadi, kapan kau akan meneleponnya?"
"How can I dare to call him?"
"Oh, come on! Jangan bilang kau hanya akan memandangi nomornya tanpa melakukan apapun? I've done my best as your friend!"
"Tapi, aku takut..."
"Aish! Aku dengar sendiri kalau dia dengan sengaja menambahkan nomornya. Itu artinya dia ingin kau menghubunginya!"
"Tapiiiii..."
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" segerombol yeoja lewat dan mendorong Jaejoong dan Junsu yang menghalangi jalan mereka. Jaejoong melihat kerumunan tak jauh darinya sambil berusaha berdiri dari jatuhnya.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Junsu kesal.
"Sepertinya disana ada sebuah reality show."
"Hhhhh, lupakan itu! Aku lapar..."
"Tunggu!" Jaejoong berhenti ketika mendengar beberapa yeoja meneriakkan nama yang begitu familiar di telinganya.
"Oh, tidak lagi..."
"Ayo!" Jaejoong menarik Junsu untuk lebih dekat dengan jalan yang dipenuhi orang itu.
Mereka melihat Yunho berdiri dengan beberapa artis lainnya dan bersiap untuk saling adu street dance. Jaejoong menatap takjub setiap gerakan Yunho. Oh my God, seandainya saja Yunho menyadari keberadaannya lalu berjalan gentle ke arahnya layaknya seorang ksatria putih yang bersinar.
Orang-orang berteriak ketika Yunho jatuh dan tiba-tiba berdiri. Jaejoong menatapnya khawatir tapi sedetik kemudian matanya membulat saat Yunho balik menatapnya dan berjalan tepat ke arahnya.
"Jae! Apa yang kau pikirkan?" Junsu berbisik.
"Oh my God..."
Dalam hitungan detik Yunho sudah berdiri di hadapan Jaejoong. Para yeoja berteriak histeris sementara para security berusaha untuk menenangkan mereka. MC berulang kali memanggil Yunho tapi namja itu mengabaikannya.
"Kau lagi."
"A-apa yang kau lakukan disini?" Jaejoong tergagap.
"Entahlah, kau yang menyuruhku."
"Ne? Kenapa aku?"
"Karena aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ada suara di kepalaku yang menyuruhku untuk berjalan ke arahmu. Apa kau tahu sesuatu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya cepat lalu berbalik kabur. Lagi. Junsu mengikutinya sedangkan Yunho terdiam di tempatnya, membatu.
.
.
.
Phsycodiagnostic Class
Jaejoong menatap kosong buku di depannya. Dia menutup wajah dengan satu tangannya seraya menyandarkan kepala ke meja. Menganggap penjelasan Yoochun di depan kelas sebagai lagu pengantar tidur.
"Berhenti melamun atau memikirkan hal-hal aneh lagi seperti semalam. Yang kau perlukan adalah menyibukkan diri."
"Aku bosan..."
"Kelas Chunnie tidak pernah membosankan," bela Junsu.
"Untukmu.." Jaejoong mendesah. Dia berpikir, andai saja...
BRAKK! Pintu kelas dibuka dengan kasar dan disana berdiri Yunho dengan jaket kulit hitamnya dan kacamata hitam yang membuatnya terlihat cool. Para yeoja di kelas menjerit histeris melihat sosoknya yang bak model.
"Kim Jaejoong!" Yunho berseru seraya melepas kacamata hitamnya.
Jaejoong membentuk mulutnya menjadi huruf 'o' sementara Junsu berbisik. "Aigo Jae... jangan katakan ini yang sedari tadi kau lamunkan."
"Excuse me, Mr. Jung. Apa yang sedang kau lakukan di kelasku?" tanya Yoochun dengan mata menyipit.
"Maaf profesor, tapi aku juga tidak tahu.. aku, aku sedang dalam sesi pemotretan di taman kota, tapi kemudian pikiranku menyuruhku untuk lari kemari dan menyerukan namanya."
"Kau berlari dari taman kota kesini? Itu sangat jauuhhh..." ujar Yoochun terkejut.
"Ne... i-itu sebabnya.. aku.." Yunho merasakan kepalanya pusing dan pandangan matanya mulai mengabur. Sedetik kemudian dia terjatuh. Pingsan.
Seisi kelas menahan nafas, kaget. Yoochun berlari menghampiri Yunho dan memeriksa detak jantungnya. Kemudian dia menatap tajam Jaejoong.
"Kim Jaejoong! You better got your ass here!"
.
.
.
A Black Space
"Gadis itu melakukannya lagi. Benar-benar mengganggu..."
Seorang namja dengan yukata hitam, melayang di udara kosong. Mata dinginnya perlahan terbuka. Tangannya menggenggam erat sebuah pedang samurai.
"Aku benar-benar harus keluar dari tempat ini dan memukul kepalanya.. dasar bocah bodoh."
.
.
.
To be continue...
