BukanRahasia

Disclaimer Masashi Kishimoto

By DeeraDragoneella

Terispirasidari 'Secret' by FuyutsukiHikari

.0.


Chapter sebelumnya~

"Well, Naruto yang sebenarnya itu... sangat berbeda dengan yang sekarang. Kalau kalian melihatnya, kalian tak akan menyangka jika itu adalah dia. Artis macam Emi mah, lewat" Jawaban Kurama jelas membuat Hidan dan Konan saling tatap tak percaya. Artis muda terkenal macam Emi yang cantik dan modis saja kalah? Namun, mereka mengenal betul siapa Kurama. Dan pemuda itu tak pernah membual. Sepertinya, mereka harus menunggu untuk mengetahui seperti apa sosok Naruto yang sebenarnya.


.0.

Abal, GJ, g sesuai EYD, OOC, Gender Switch, dE-eL-eL

.0.


Naruto menghentikan motornya di sekolah bertaraf Internasional yang menjadi tempat sepupu kesayangannya bersekolah, International Konoha High School. Bel pulang sepertinya sudah berbunyi, melihat banyak siswanya yang sudah keluar. Tapi, kenapa sepupu kesayangannya belum juga terlihat? Entah kenapa perasaannya tak enak. Naruto pun memilih untuk bertanya pada salah seorang anak yang berjalan paling dekat dengannya.

"Sumimasen" Naruto bertanya pada seorang gadis seumuran sepupunya setelah melepas helm teropong miliknya. Menampakkan wajah rupawannya, yang pastinya tampak begitu tampan karena rambutnya tersembunyi dibalik topinya yang terbalik.

"Ah, ha-ha'i. A-da yang bisa dibantu?" Gadis itu tampak malu-malu ketika mengucapkannya. Beberapa siswa-siswi menatapnya penasaran. Bahkan beberapa gadis jejeritan gaje menatapnya penuh damba. Bah, dia masih normal keles.

"Apa kau melihat Karin? Uzumaki Karin?" Pertanyaan Naruto membuat gadis bername tag Akihiko Sora terkejut. Untuk apa pemuda tampan dihadapannya mencari Karin?

"Hello? Do you hear me?" Naruto melambaikan tangannya di depan wajah Sora.

"A-ah. Aku men-dengarmu. Barusan aku melihatnya berjalan bersama Shisui-sensei dan beberapa teman sekelasnya menuju ruang kepala sekolah" Jawaban Sora membuat Naruto mengernyit. Untuk apa Karin kesana?

"Aa, arigatou" Naruto segera meninggalkan tempat itu setelah diberitahu letak ruang kepala sekolah. Naruto memasuki bangunan sekolah tepat ketika mobil Kurama dan Sasuke memasuki IKHS. Mereka mendapati motor merah Kurama tanpa adanya Naruto maupun Karin. Kurama keluar dari mobil diikuti yang lain. Mereka saling bertatapan heran. Meski Sasuke lebih terlihat tidak peduli, mengingat dia tidak terlalu suka pada adik Kurama yang seperti FG-nya itu. Meski Karin cantik, Sasuke tidak suka daun muda, man. Well, jarak usia mereka memang cukup jauh, 5 tahun. Sasuke kan 23 tahun.

"Kemana sepupu dan adikmu, Ku?" Tanya Konan sambil bersandar pada mobil Kurama.

"Entah. Aku akan menghubunginya" Kurama menggerakkan tangannya pada smartphonenya dan menekan dial up pada nama Naruto. Namun bukannya menjawab, Naruto malah mereject teleponnya.

"Ck. Di reject" Kurama berdecak kesal. Seperti judul lagu saja, batin Hidan nista.

"Kita tunggu saja. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal di kelas adikmu" Ucapan Gaara membuat mereka memilih duduk-duduk di samping mobil dan mengobrol. Mengabaikan tatapan terpesona para gadis dan pemuda pada mereka. Hey... mereka memang tampak seperti artis yang salah lokasi syuting jika kau ingin tahu. Jelas saja, tampang mereka diatas rata-rata orang-orang kebanyakan.


Di dalam ruang kepala sekolah~

"Saya tidak mengambilnya, Sensei. Sungguh" Karin mengatakannya dengan wajah hampir menangis.

"Tak ada maling yang mau mengaku. Jika banyak, penjara penuh" Ucapan bernada sarkastik itu keluar dari seorang gadis berambut pink, Tayuya.

"Tapi aku benar-benar tidak mengambilnya. Untuk apa aku mengambilnya-"

"Tentu saja karena kau iri pada phonsel Yuya" Potong Fuma, salah satu teman geng Tayuya.

"Aku tidak-"

"Cukup" Lerai Sarutobi Asuma, Sang Kepala Sekolah IKHS, dengan nada tegas.

"Uzumaki-san. Kurasa kau-" Kata-kata Asuma terpotong oleh bunyi pintu yang diketuk.

"Sarutobi-sama" Maito Gay, sang wakil kepala sekolah tampak tertunduk ketika tak sengaja menginterupsi.

"Ya?"

"Ada yang mencari Uzumaki-san" Jawaban Gay membuat mereka yang berada di dalam ruangan menatap tanya Karin. Karena selama ini, Karin tidak pernah dijemput.

"Suruh dia masuk" Gay segera mempersilahkan Naruto masuk begitu mendapat perintah dari Asuma.

"Koniciwa, Sarutobi-san" Ucapan bernada datar dari Naruto membuat semua orang menatapnya heran, kecuali Karin yang memasang wajah terkejut.

"Naru?" Karin menutup mulutnya tak percaya. Sepupu yang begitu dirindukannya ada dihadapannya.

"Yo, Dear" Naruto mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum memikat.

"Naruto" Karin menghambur padanya sambil menangis haru, melupakan sejenak permasalahannya.

"I miss you so bad" Bisik Karin lirih.

"I miss you, too" Naruto mengecup pucuk kepala Karin sayang.

"Ehm" Asuma berdehem dan membuat mereka melepaskan pelukan, namun tangan kiri Naruto merangkul mesra pinggang Karin. Membuat Tayuya dan Fuma bertanya-tanya siapa pemuda rupawan yang merangkul Karin mesra itu, karena setahu mereka, Karin sudah memiliki pacar. Dan itu bukan sosok pemuda dihadapan mereka.

"Jadi, Uzumaki-san. Anda akan diskors selama 3 hari karena tindakan pencurian Anda, hingga hukuman Anda ditetapkan" Ucapan Asuma membuat kening Naruto mengernyit, sedang tubuh Karin menegang disampingnya.

"Pencurian?" Beo Naruto menatap tajam orang-orang dihadapannya.

"Ya. Dia mencuri ponselku" Tayuya mengatakannya dengan berani, mengabaikan tatapan mematikan Naruto.

"Dari mana kalian mendapat kesimpulan jika Karin mengambil ponselmu?" Tanya Naruto dengan gelengan kepala. Rangkulannya pada pinggang Karin terlepas, beralih menjadi bersidekap.

"Kami menemukannya di dalam tas Uzumaki-san" Jawaban Shisui membuat Naruto terkekeh.

"Dan kalian mengambil kesimpulan langsung jika Karin mengambilnya?" Mereka mengangguk. Lagi, Naruto menggeleng sambil terkekeh.

"Astaga. Apa ini bukan dalam dorama? Karena sejujurnya aku sangat menyayangkan kebodohan kalian"

"Apa maksudmu? Kurasa kau tidak memiliki hubungan dengan permasalahan ini" Shisui menatap Naruto tak suka, merasa sedang dipermalukan.

"Tak ada hubungannya?" Beo Naruto menatap tajam Shisui.

"Karin sepupuku. Tentu saja dia urusanku. Dan satu lagi" Naruto beralih menatap Tayuya dan Fuma.

"Ponsel apa yang diambil Karin?" Tanyanya dengan dagu terangkat. Mengambil ponsel orang? Cih, untuk apa Karin mengambilnya, jika Karin memiliki jenis terbaru limited edition yang dikirimnya seminggu yang lalu.

"Iphone Princess Plus" Jawab Tayuya dengan wajah sombong.

"Ah, ponsel seharga 176,4 ribu dollar itu? Astaga" Naruto menggelengkan kepalanya menyesal.

"Ya. Memangnya kenapa? Bukankah ponselku sangat cantik? Semua orang pasti menginginkannya. Begitu juga dengan sepupumu itu" Jawaban Tayuya membuat Naruto menatapnya datar.

"Karin. Apa kau membawa ponselmu?" Karin menggelengkan kepalanya.

"Sarutobi-san" Naruto mengalihkan tatapannya pada Asuma yang kini menatapnya penuh.

"Saya rasa, sekolah melakukan 2 kesalahan besar" Shisui menahan diri untuk tidak memukul wajah datar Naruto yang dianggapnya tidak sopan.

"Dan apa itu?" Asuma mengatakannya dengan tenang.

"Pertama" Naruto menutup matanya sejenak.

"Ada peraturan berupa tidak diperbolehkannya membawa benda berharga. Dan ponsel seharga 2 milyar lebih, tentu termasuk didalamnya. Dan kedua" Naruto mengucapkannya cepat ketika Tayuya akan menyela.

"Sekolah tidak melakukan investigasi, tetapi langsung mengambil kesimpulan"

"Bukti sudah jelas. Ponsel itu ditemukan di dalam tas Uzumaki-san" Shisui tak bisa menahan dirinya.

"Apa Anda tidak pernah menonton dorama, Sensei?" Pertanyaan Naruto membuat mereka mngernyit.

"Apa yang Karin alami sudah terlalu mainstream dalam sebuah dorama. Sehingga sudah terlalu tertebak apa yang terjadi" Naruto berjalan menghampiri Tayuya yang menatapnya tak suka, sedang Fuma mulai ketakutan. Entah kenapa, gadis berambut brunette itu memiliki firasat buruk.

"Apa kalian tahu ponsel apa yang dimiliki Karin, yang tidak dibawanya ke sekolah?" Naruto menatap mereka satu per satu.

"Dragnell, N series" Semua mengernyit, kecuali Shisui yang terlihat tertegun.

"Ponsel macam apa itu?" Ejek Tayuya. Tak tahu jenis ponsel itu.

"Ponsel dengan keamanan sekelas Iphone, fitur sekelas Samsung, kemudahan aplikasi sekelas Nokia. Ponsel yang menjadi unggulan di Eropa sekarang" Semua orang menatap Shisui heran, kecuali Naruto.

"Aa, Sensei sukup tahu ternyata. Benar. Ponsel jenis ini baru beredar di dataran Eropa. Dan N series adalah seri terbaru yang hanya dibuat 7 buah. Setiap buahnya setara dengan BlackDiamond VIPN Smartphone" Jawaban Naruto membuat kedua mata gadis yang sedari tadi memojokkan Karin terbelalak tak percaya.

"Kenapa? Kalian tak percaya?" Tantang Naruto.

"Tentu saja. Orang seperti dia mana mungkin bisa membeli ponsel semahal itu" Tayuya membalas angkuh.

"Begitu?" Naruto menatap Tayuya dari atas kebawah dengan seksama.

"Memangnya kau siapa? Sampai bisa mengatakan hal seperti itu pada Karin?" Tanya Naruto dengan tatapan datar.

"Dia Namikaze Tayuya, putri kedua pemilik Namikaze Group dan salah satu pemegang saham IKHS" Fuma berusaha membantu Tayuya. Lagi pula, dia menganggap ucapan Naruto hanya bualan belaka, melupakan sejenak firasat buruknya.

"Oh, salah satu pemegang saham. Pantas saja sombong." Naruto menatap keduanya dengan seringai meremehkan.

"Ne, Sarutobi-san. Bagaimana jika kita memanggil Nara-san? Bukankah dia kepala kepolisian Konoha?" Kata-kata Naruto membuat kedua gadis itu tersentak, mereka pun merasa khawatir dan takut.

"Tidak bisa. Memanggil Nara-san bisa membuat sekolah menjadi sorotan dan-"

"Apa saya perlu memanggil pengacara saya untuk melakukannya?" Semua terhenyak, bahkan Karin tidak menyangka Naruto akan membelanya sedemikian rupa.

"Saya dengan senang hati mengajukan undang-undang pencemaran nama baik atas apa yang terjadi, mengingat Karin tidak memperoleh penanganan yang memadai"

"Tapi bukti sudah di depan mata, dia mengambilnya" Ucapan Shisui membuat Naruto geram.

"Bukti eh?" Dengus Naruto.

"Bawa kemari ponsel itu dan kita cek sidik jari didalamnya" Kembali, mereka terhenyak. Semua orang tentu tak pernah memikirkannya.

"Kenapa? Tak memikirkannya?" Naruto meletakkan tangannya dikedua sakunya dengan tatapan meremehkan pada Shisui dan kedua gadis pembully sepupunya.

"Dia bisa saja menghapusnya" Fuma mencoba menyanggah.

"Jika begitu, itu artinya tak ada sidik jari kalian juga di ponsel itu. Ah, dimana ponsel itu sekarang dan siapa saja yang menyentuhnya tadi?" Pertanyaan Naruto sontak membuat kedua gadis itu gemetar.

"Di sini" Asuma menunjukkan ponsel milik Tayuya yang tergeletak di mejanya bersama tas Karin.

"Dan hanya aku yang menyentuhnya, karena aku yang mengambilnya dari tas Uzumaki-san" Shisui menegaskan dengan tatapan tajam yang kini dia tujukan pada kedua gadis yang sedang gemetar.

"Nah, sekarang tinggal mengujinya dan-"

"Tidak perlu" Suara tegas Asuma membuat mereka menatapnya penuh.

"Aku sudah tahu pelakunya" Tayuya dan Fuma langsung berkaca-kaca, tidak tahu rencana mereka akan berantakan.

"Shisui-sensei. Tolong bawa kedua gadis ini ke ruang BP dan buat surat pemanggilan orang tua untuk keduanya. Dan kalian diskors selama seminggu. Renungkan perbuatan kalian" Kedua gadis itu membelalakkan matanya.

"Tapi, Sarutobi-sama"

"Tidak ada tapi-tapian, Namikaze-san. Atau kalian ingin hukuman kalian saya tambah?" Keduanya menggeleng dan segera mengikuti Shisui yang berjalan keluar ruangan.

"Naru-nee... Arigatou" Karin menangis terharu dalam pelukan Naruto. Karin sudah menganggap Naruto kakak perempuannya dan sering memanggilnya kakak, meski dia putri dari adik ayahnya.

"Hmm... Apapun untukmu" Naruto membelai sayang rambut merah Karin.

"Sebaiknya kau basuh wajahmu, aku akan menunggumu di depan" Karin mengangguk dan berojigi pada Asuma setelah mengambil tasnya. Tinggal Naruto dan Asuma yang saling tatap dalam diam.


.0.


"Aku tak menyangka kau disini" Asuma memecah keheningan diantara mereka. Naruto mengedikkan bahunya sambil berjalan menuju kursi dihadapan meja Asuma.

"Hanya merindukan beberapa orang" Asuma mengangguk mendengar jawaban Naruto, meski Naruto tampak ogah-ogahan.

"Datanglah ke rumah. Kurenai dan Akari pasti senang melihatmu"

"Hmm. Aku akan berkunjung akhir pekan nanti Sampaikah salam ku pada mereka. Jaa ne, Ji-san" Dan Naruto meninggalkan Asuma yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat putri sahabat istrinya yang tak pernah berubah sejak dulu, kecuali penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya.


.0.


Naruto menunggu Karin di dekat pintu keluar gedung dan mereka keluar bersama-sama. Karin merangkul mesra lengan Naruto. Mereka tampak bercanda tawa hingga mendengar suara Kurama.

"Kalian lama"

"Nii-san?" Karin menatap Kurama dan teman-temannya heran. Untuk apa mereka kemari? Batinnya. Mengabaikan Sasuke, padahal biasanya dia langsung menyerbu Sasuke dan merangkulnya antusias. Well, asal kalian tahu, Karin sangat mengidolakan orang-orang berwajah tampan dan sering membuat kekasihnya kelimpungan karenanya.

"Tak ada yang mengajakmu" Naruto mengucapkannya setelah mendengus melihat kelakuan sepupunya.

"Ya! Kita kan baru bertemu setelah sekian lama, dan ini caramu menyapaku?" Komentar Kurama kesal.

"Yo, Kurama. Long time no see" Naruto mengangkat tangan kanannya memberi salam dengan wajah datar, sedang tangan kirinya membawa helm teropong yang akan dipakaikannya pada Karin.

"Ck. Kau sungguh menyebalkan"

"That's me" Naruto menanggapi cuek sambil membantu Karin memakai helm.

"Kau mau kemana?" Tanya Kurama, melupakan kemarahannya ketika melihat Naruto menaiki motornya.

"Pulang. Aku hanya ingin menjemput Karin" Naruto menyalakan motornya, memutarnya hingga menghadap gerbang.

"Ck, ikutlah denganku ke cafe. Kami sudah menunggumu dari tadi, tahu. Hargailah sedikit" Kurama mengatakannya diiringi anggukan Konan dan Hidan. Well, mereka yang paling welcome diantara kelima teman Kurama.

Naruto menatap Karin yang mengangguk senang, karena jarang-jarang dia bisa ikut kumpul kakaknya. Naruto mendesah melihat tatapan senang Kurama.

"Oke" Naruto mematikan mesin motornya. Menimbulkan tatapan bingung mereka.

"Karin, kau harus memakai ini" Naruto melepas jaket kulitnya.

"Kau ingat jika adikmu masih memakai seragam, bukan, Ku? Karena kita tidak mungkin pulang dan mendapat ijin Uncle" Kurama mengernyit.

"Tou-san dirumah?" Naruto mengangguk sambil membantu Karin memakai jaketnya.

"Nah, kau duluan. Aku akan mengikuti dari belakang" Naruto mengatakannya setelah membantu Karin menaiki motor sport Kurama. Kurama dan kelima temannya segera masuk mobil dan meninggalkan IKHS. Meninggalkan Tayuya yang baru saja keluar bersama Fuma dan melihat Karin yang dijemput 5 pemuda tampan, mengingat keduanya mengira Naruto laki-laki.

"Cih, lihat saja. Aku akan membuatnya menyesal telah mempermalukanku tadi" Tayuya mengucapkannya dengan wajah murka diiringi anggukan Fuma. Sepertinya, keduanya tidak menyadari apa yang akan terjadi jika masih mengganggu Karin, apalagi ketika ada Naruto. #smirk


.0.


Kedelapan pemuda-pemudi itu duduk disebuah meja di lantai dua cafe yang sepi, dimana disana bertema outdor. Naruto mendudukkan dirinya sambil menikmati semilir angin yang membelai wajahnya, menghilangkan rasa gerah yang terjadi karena topi diatas kepalanya.

"Jadi, apa yang membuatmu begitu lama di dalam tadi, Naru?" Kurama membuka percakapan sambil memilih menu. Naruto membuka matanya dan menatap Karin yang menyodorkan buku menu padanya. Naruto tersenyum dan mengatakan agar Karin memilihkan menu untuknya. Toh Karin sudah tahu apa yang disukainya.

"Hei, aku bicara padamu. Kau selalu mengabaikanku jika sudah bersama Karin" Kelima teman Kurama menatap Kurama tak percaya. Pemuda sableng yang biasanya bringas itu merajuk?

"Kenapa? Cemburu? Iri?" Kurama mendecih mendengar nada sarkastik Naruto. Naruto mengangguk pada menu pilihan Karin sebelum diberikan pada pelayan disana.

"Aku hanya tak suka diacuhkan. Kau tahu itu" Kurama mengucapkannya dengan datar, kembali ke sikap awalnya. Naruto mengangguk sambil membelai kepala Karin yang sedang bersandar padanya sambil memainkan ponsel Naruto yang sama dengan miliknya dirumah. Ponsel itu tampak sederhana, tidak bertabur berlian seperti yang seharusnya. Well, diantara 7 buah ponsel Dragneel N series, memang hanya milik Naruto dan Karin yang tidak dipasangi berlian dan bertabur emas. Naruto lebih memilih menjadikannya gantungan dan perhiasan untuk Karin, karena dia tidak ingin Karin menjadi gadis sombong hanya karena memiliki ponsel mahal seperti itu.

"Aku melakukannya karena kau bisa datang dan pergi sesukamu untuk mengunjungiku, Ku. Sedangkan Karin tidak. Mengertilah saat aku bersamanya seperti ini" Kurama mendengus mendengarnya. Bukannya dia menyukai sepupu pirangnya itu, hanya saja dia sangat ingin mengobrol banyak dengan Naruto yang pemikirannya sebelas dua belas dengannya.

"Sasuke-kun" Suara seorang gadis berambut kecoklatan yang tiba-tiba datang membuat Naruto mendengus, apalagi ketika gadis itu tiba-tiba dudul di pangkuan Sasuke dan langsung membenturkan mulutnya. Refleks Naruto menutup mata Karin dengan tangan kanannya. Sedang yang lain menatap tak peduli, sudah biasa.

"Tidak baik untukmu, Karin" Ujarnya ketika Karin memberontak. Mengabaikan wajah cemberut Karin, Naruto menatap tajam pasangan itu.

"Bisakah kalian pergi mencari tempat lain?" Ucapan bernada datar milik Naruto menghentikan aktivitas keduanya. Sasuke menaikan alisnya heran, sedangkan gadis dipangkuannya mendelik tidak suka.

"Kalian merusak pemandangan di mataku" Sasuke mendengus, sedang yang lain menatap Naruto penuh minat. Kurama mah, memilih tak peduli. Sudah tabiat Naruto yang tidak menyukai hal-hal macam beginian. Gadis itu kan sangat dijaga oleh ayah dan kakak laki-lakinya yang over protective.

"Jika kau iri, kau bisa melakukannya dengan kekasihmu" Gadis dipangkuan Sasuke itu mengatakannya dengan nada tak suka yang sangat kentara. Naruto mendengus.

"Dan menjadi sepertimu?" Naruto menaikkan alisnya dengan seringai meremehkan.

"Maaf saja, aku punya selera yang tinggi" Naruto mengucapkannya tanpa melihat gadis itu yang murka dan berniat menyerangnya karena menatap Karin yang kini mendongak menatap matanya mengatakan sesuatu.

"Fuuka, sebaiknya kau pergi" Ucapan Sasuke itu membuat Fuuka, gadis berambut coklat itu mendelik tak percaya.

"Aku akan menghubungimu nanti" Tambah Sasuke yang langsung membuat wajah Fuuga tersenyum dan mencium bibirnya mesra sebelum pergi dengan memberi delikan pada Naruto yang tentu saja diabaikan.

"Ayo" Naruto dan Karin beranjak berdiri.

"Kalian mau kemana?" Tanya Kurama yang takut Naruto pergi.

"Toilet. Aku mual melihat temanmu tadi" Jawaban datar Naruto membuat Gaara dan yang lainnya menahan tawa, Sasuke mendelik dan Kurama yang hanya ber'Oh'ria.

Karin kembali merangkul mesra Naruto menuju toilet. Sasuke memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam. Tak suka dengan sikap Naruto.

"Hahaha, sepupumu benar-benar menarik, Ku" Hidan benar-benar terhibur melihat wajah kesal Sasuke.

"Hmm... Dia bahkan tidak melirik pada Sasuke atau Gaara yang notabene pangeran kampus kita" Matsuri menambahi.

"Tentu saja. Dia mah, sudah bosan melihat wajah tampan kalian, kerena orang-orang yang mengejarnya" Matsuri dan Konan mengerjap takjup.

"Jadi, dia primadona, begitu?" Tanya Matsuri penasaran. Kurama menggeleng, membuat mereka bingung.

"Dia itu Princess, di kampusnya. Tak ada yang tidak mengenalnya" Kurama menjawab bangga diiringi tatapan takjup yang lain.

"Cih, gadis sepertinya pasti hanya jual mahal" Tanggapan pedas Sasuke membuat Kurama menyeringai.

"Kenapa? Kau tersinggung karena dia tak terperdaya pesonamu, begitu?" Sindir Kurama yang memeperoleh delikan maut Sasuke.

"Well, ini memang pertama kalinya seorang gadis tidak terpikat sama sekali padamu, Sas" Gaara ikut menanggapi.

"Benar. Dan kurasa, Naruto masih polos" Ucapan Hidan membuat teman-temannya mengangguk, Sasuke yang tidak peduli dan Kurama yang mendelik tak suka.

"Jaga omonganmu, Hidan. Aku tak segan-segan merobek mulutmu jika kau mengatakan sesuatu yang tak pantas tentangnya" Glek, Hidan menelan ludah gugup melihat Kurama dalam mode bringasnya.

"Slow, Ku. Aku mengatakan apa yang kupikirkan. Bukan berniat mengejeknya" Kurama mendengus mendengar pembelaan Hidan.

"Jangan coba-coba, Sasuke" Semua orang menatap Sasuke dan Kurama heran.

"Memangnya aku kenapa?" Tanya Sasuke dengan nada datar namun tatapannya menantang.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Binar di matamu menunjukkan segalanya. Jangan coba-coba, Sas. Aku tak peduli meski kau temanku" Sasuke mendecih melihat tatapan serius Kurama. Apa salahnya bermain-main sedikit? Batinnya dongkol.

Keempat teman mereka hanya bisa menggeleng. Mereka kenal betul tabiat Sasuke, dan tentunya mereka tak ingin Sasuke melakukan sesuatu yang dapat merusak persahabatan mereka.

"Naruto" Keenam pemuda pemudi itu menatap kearah sosok yang memanggil Naruto. Nampak Naruto bersama Karin dan seorang pemuda berambut nanas yang tiba-tiba memeluk Naruto. Kurama segera bangkit melihatnya, sedangkan teman-temannya hanya menatap ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan Kurama pada pemuda itu.

Kurama melihat tubuh Naruto sedikit tegang dalam pelukan pemuda berambut nanas yang dikenalnya sebagai Nara Shikamaru, teman Naruto di LN dan detective muda terkenal yang sedang naik daun.

Naruto tampak mengangguk ketika Shikamaru meninggalkannya dan duduk bersama beberapa orang pria di meja pojok yang paling jauh dari meja-meja lain.

"Ada apa?" Tanya Naruto melihat Kurama yang berdiri terdiam tak jauh darinya. Kurama menggeleng dan memilih pergi ke toilet. Membuat kelima sahabat Kurama kecewa karena mengira akan ada tontonan menarik.

"Ada apa?" Lagi, Naruto menatap heran teman-teman Kurama itu. Karin masih setia memeluk tangan kirinya. Kelimanya menggeleng dan mencoba menyibukkan diri.

"Karin. Nanti pulanglah dengan Kurama. Aku akan menghubungi Uncle agar tidak memarahimu" Naruto mengatakannya sambil melihat jam ditangannya.

"Nee-chan mau kemana?" Tanya Karin tak rela.

"Aku harus menemui Shika. Nanti malam kita bisa mengobrol sepuasnya. Aku akan membuatkanmu coklat hangat dan kudapan spesial sebelum tidur, ne?" Naruto mengucapkannya sambil tersenyum manis, yang hanya dia tujukan untuk Karin, namun efeknya terasa untuk semua yang semeja dengannya. Naruto nampak menawan dengan senyumannya. Senyuman itu begitu hangat, menenangkan dan sangat bersinar.

"Ha'i" Karin menjawab dengan semangat dan bernada manja. Naruto masih tersenyum sambil membelai pucuk kepala kepala Karin sayang.

"Nah, aku titip Karin" Naruto beranjak dari meja mereka, meninggalkan kelima pemuda pemudi yang masih terpesona padanya dan Karin yang sibuk menghisap green tea dari sedotannya. Tak berapa lama, Kurama datang dan heran melihat tatapan teman-temannya yang pada sosok Naruto yang sudah semeja dengan Shikamaru dengan tak berkedip.

"Kalian kenapa?" Pertanyaan Kurama membuat kelimanya tersadar.

"Mereka terpesona pada senyum Nee-chan" Jawaban cuek Karin membuat Kurama mengangguk. Tidak terkejut.

"Sudah ku bilang, kan" Katanya bangga sambil menatap teman-temannya dengan pongah.


-TBC-


Chapter kali ini cenderung menunjukkan kasih sayang Naruto ke keluarganya dan interaksi pertamanya dengan saudara tirinya.

Gomene belum bisa balas review kalian satu2, tapi aku sudah baca semua kok
Arigatou buat semua Readers #bungkuk2

Juga terima kasih teruntuk yang follow and fav cerita ini. Hontou ni arigatou gozaimasu

Maaf karena update lama ;)

See you next Chap :D