Vocaloid © YAMAHA
The Path Between Us
© khiikikurohoshi
Chapter 01
T h e B e g i n n i n g
―
Cip… cip… cip… cip…
Burung-burung itu hinggap di ranting pohon, berkicau-kicau untuk menyambut mentari. Bulan sudah berganti dengan mentari. Pagi sudah menjelang.
Hari ini hangat. Tidak ada sedikit pun tanda akan hujan.
Lalu, sepasang mata aqua itu terbuka secara perlahan. Setelah merasa kesadarannya sudah kembali seutuhnya, pemilik mata aqua itu mendengus. Tersenyum kecut, dia menghapus keringat yang sempat bercucuran dari dahinya. "Ck. Mimpi itu lagi…"
Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah tipis kamarnya. Memberi sedikit penerangan terhadap kamarnya yang gelap.
Tiba-tiba pemilik mata aqua itu teringat sesuatu.
…sekolah.
Sambil bersungut-sungut, pemilik mata aqua itu bangkit dari ranjangnya, kemudian beranjak dari sana. Sambil menguap, dia bergerak menuju kamar mandi.
―
Class 2-D
"Jadi,"
Seorang gadis yang menyelipkan headset di dalam telinganya menguap lebar. Sementara guru biologi yang berdiri di atas podium menjelaskan panjang lebar, gadis itu justru memainkan pensil mekanik di antara jemari-jemarinya dan mendengarkan lagu melalui MP4.
Tok. Tok.
Guru biologi itu mengetuk papan tulis dengan kapur yang dipegangnya, kemudian, "Kagamine Rin! Jangan santai saja! Dengarkan penjelasan saya!" dia membentak.
Gadis yang mendengarkan lagu dari MP4 itu mendesah malas. Dengan santainya, dia membalas, "apa penjelasanmu, Gakupo-sensei? Tentang fotosintesis? Xylem? Phloem? Susunan daun dan batang? Hama? Fungsi akar, batang, daun? Huh… ayolah… aku sudah bosan mendengar itu semua."
Setelah itu, Gakupo-sensei bungkam. Tiga urat nadi memang sudah menghiasi dahinya. Ingin rasanya dia menyuruh Kagamine Rin untuk pergi keluar ruangan. Tapi dia sadar diri. Bagaimanapun, Kagamine Rin sangatlah jenius. Walau masih SMP, otaknya setara seperti para profesor. Memang sikapnya sangat menyebalkan dimata guru-guru, tapi para guru mencoba dan berusaha keras untuk bersabar diri. Meski hal itu pastilah sangat berat pantangannya.
"Kalau begitu… pelajaran selesai sampai di sini!" dengan langkah cepat, Gakupo-sensei meninggalkan ruangan kelas.
Seisi kelas yang semula hening tanpa suara, mendadak menjadi riuh rendah.
"Wohoo! Rin memang hebat!" seru seorang siswa sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara.
"Kebanggaan kelas kita, deh!" siswa lain menggebrak meja sambil tertawa seperti kakek-kakek.
"Yey! Pelajaran biologi berakhir satu jam lebih cepat dari biasanya! Cihui!" salah satu siswi yang rambutnya diikat tengah langsung loncat-loncat kegirangan.
Sedangkan yang menjadi biang keladi dalam masalah tadi, tetap bergeming di tempatnya. Headset masih tenggelam di kedua telinganya. Dan musik masih mengalir lembut di dalam kepalanya.
"Rin… lagi-lagi kau melakukannya…" ringis seorang gadis berambut hijau yang duduk di depan Rin. Dia membalik badannya ke samping, kepalanya tertoleh pada Kagamine Rin dan sebelah lengannya dia tumpu di atas penyangga kursi.
"Hm?" Rin mengangkat kepalanya yang tadi dia tundukkan. Entah sejak kapan mulutnya mengunyah sesuatu.
"Ini sudah yang ke… sepuluh! Dalam seminggu ini Rin sudah membungkam sepuluh guru! Wohoo…! Aku bangga sekali padamu deh, Rinny sayang!" tiba-tiba seorang gadis dengan rambut berwarna magenta yang diikat dua seperti angin topan mencubit kedua pipi Rin dengan gemas.
"Teto… ngapain kau kemari? Kelasmu itu di sebelah." Rin bertanya dengan wajah dark.
"Eh? Kelasku di sebelah, ya? Sejak kapan?" Teto bertanya balik. Mulutnya berbentuk seperti huruf 'w'.
"Sudahlah. Teto… jangan selalu menggoda Rin. Segeralah kembali ke kelasmu." Gadis berambut hijau yang duduk di depan Rin menyela sambil membelai puncak kepala Teto.
"Ah! Gumi memang paling sayang padaku! Aku juga sayang padamu, Gumi!" Teto hampir saja memeluk tubuh Gumi erat-erat jikalau Gumi tidak bergerak cepat. Dengan lihai, tangan Gumi terulur untuk menahan dahi Teto.
"Jangan salah paham, nak." Gumi menatap Rin yang kepalanya tertunduk lagi. "Ada apa, Rin? Mood-mu lagi jelek?" tanya Gumi. Khawatir.
"Hah?" Rin mengangkat kepalanya. Tapi kemudian dia paham dengan raut wajah Gumi yang terlihat sangat khawatir. Tentu Rin mengerti semua tentang Gumi. Sebab, bagaimanapun juga, Gumi adalah teman pertamanya saat menginjakkan kaki di Crypron Future Academy.
"Memang ada apa dengan Rin?" tanya Teto kemudian.
Gumi tersenyum pada Teto. Menampakkan wajah seolah-olah dia adalah kakak bagi Teto. "Mood-nya sering memburuk akhir-akhir ini. Ah, sudahlah. Kau harus kembali ke kelas sekarang, Teto. Oke? Kumohon…" karena Gumi meminta dengan wajah memelas, Teto pun menurut pada Gumi. Dengan ikhlas tentunya.
Ini rahasia. Tapi Teto menyukai Gumi. Kalian paham kata menyukai dalam kamus Teto?
Setelah Teto pergi dan menutup pintu kelas 2-D rapat-rapat, Gumi yang mulai angkat suara. "Ingin mencari angin sejuk?"
Tanpa menimbang-nimbang, Rin menarik dirinya dari bangku dan melangkah lebih dulu dari Gumi.
―
Rooftop
Rin duduk di atas tangki air berbentuk tabung yang diletakkan tepat di salah satu sudut atap sekolah yang jikalau dilihat dari atas berbentuk segi empat. Sedangkan Gumi duduk di atas pagar pembatas. Matanya menerawang jauh melihat langit. Tak terkecuali Rin.
Itulah enaknya jika bisa bersantai di puncak bangunan tinggi.
"Nah," Gumi membuka percakapan setelah mereka diam selama hampir lima menit. "Kutebak kau teringat pada Len lagi."
Tubuh Rin menegang saat mendengar nama Len. Sedikit.
"Aaah…" Rin menghela napas panjang. "Apa itu salah?" tanya Rin kemudian. Manik aqua-nya tertutup separuh.
"Tidak. Sama sekali tidak salah. Justru hal itu… biasa saja. Merindukan adik sendiri bukanlah kejahatan yang salah." Gumi berkomentar. Kakinya terayun-ayun membelah angin.
Rin terdiam. Tangannya menggenggam erat sebuah ponsel yang tidak terlipat.
"Lalu," Gumi menepis kebungkaman lagi. "Aku yakin masih banyak hal yang membuat mood-mu rusak."
Rin tersenyum samar. Sambil membaringkan dirinya di permukaan tabung air, dia menyahut. "Yah… kau memang selalu tahu masalahku. Aku kagum padamu." Gumi terkekeh mendengar perkataan Rin. "Hmm mmm… memang masih banyak. Tapi aku tidak akan memberitahukan sisanya padamu. Maaf."
Gumi tertawa. Sekilas dia bisa mendengar tawanya terombang-ambing di udara. "Hahaha! Tidak apa-apa, sobat. Aku mengerti perasaanmu. Dan, kita ganti topik saja. Akhir-akhir ini kulihat kau akrab dengan senior kita. Hatsune Mikuo-senpai." Kata Gumi.
Rin mengangkat alisnya, kemudian tertawa. "Ha. Kami akrab karena sama-sama sekretaris OSIS. Tidak lebih. Kenapa? Kau cemburu?" tanya Rin. Dia tahu kalau wajah Gumi merona sekarang.
"Tidak! Aku tidak cemburu. Huh! Kau selalu menggodaku soal beginian!" elak Gumi. Sebelah pipinya menggembung.
"Siapa yang memulai duluan topik ini, sobat? Hm?" Rin mendesak. Membuat Gumi membungkam mulutnya sendiri. "Oh, ya. Aku tahu kau suka dia. Teto, 'kan? Dia juga suka padamu."
"Ugh, aku masih normal Rin." Gumi mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kalau begitu… Gumiya Megumi dari kelas sebelah, benar? Aku tahu kalau kalian…" Rin sengaja menggantungkan perkataannya. Tanpa sepengetahuan Gumi, wajah Rin sudah berubah menjadi wajah seorang 'penindas' sekarang.
"Eh? Aku dan Gumo? Aah… tidak. Kami cuma teman…! Teman!" Gumi mengelak sambil menyilangkan telunjuk kiri dan kanannya.
"Gumo… hm? Akrab sekali. Panggilan sayang untuknya, nona Megumi Nakajima? Wah, lihat. Bahkan ada namamu di namanya. Lucu juga, Gumiya Megumi Nakajima. Hahaha." Rin mendesak lebih jauh. Membuat Gumi tidak bisa menyimpan rona wajahnya lagi.
"Ugh. Aku menyerah, Kagamine Rin-san. Kau menang, kau menang."
Rin tertawa.
Tapi kemudian tawa itu hilang ketika ponselnya bergetar menerima e-mail. Dia memang selalu mengubah profil ponselnya menjadi vibrate mode saat sekolah.
"Kita kembali yuk, Rin. Sebentar lagi pelajaran bahasa dimulai."
―
Meanwhile, somewhere in Narita Airport
"Alice. Kau yakin ingin ke sekolah itu sekarang?" tanya seorang gadis berambut biru gelap. Tangannya terulur untuk membuka pintu jok belakang mobil limousine mewah ini.
"Tentu. Aku sangat yakin. Kau sendiri gimana, Ringo? Berubah pikiran?" gadis yang diketahui bernama Alice itu balik bertanya pada temannya yang memiliki rambut pendek berwarna biru gelap.
Ringo Akane menghela napas. Dia mengacak-ngacak rambut pendeknya lalu menggeleng. "Apa boleh buat. Aku diutus untuk melindungimu selama di Jepang. Tapi tolong jangan gegabah, Alice."
Alice terkekeh, "kau berkata seolah-olah kau tidak mengenalku. Sudahlah. Kita berangkat!"
Alice memasukkan dirinya ke dalam mobil limousine. Kemudian Ringo mengikutinya.
"Crypton High Academy, aku datang!"
[ Kagamine Rin P o V ]
"Daagh, Rin! Sampai ketemu besok!"
Aku membalas lambaian tangan Gumi sambil tersenyum simpul. Setelah dia turun, pintu kereta langsung tertutup dengan mulusnya. Rumahku berada satu stasiun lebih jauh dari Gumi.
Tapi, tujuanku bukanlah ke rumahku. Aku harus pergi ke Shibuya karena suatu hal. Untuk ke Shibuya, kurasa tidak perlu memakan waktu lama. Sebaiknya aku harus cepat. Atau kalau tidak, aku bisa dihukum oleh orang-orang itu.
"Kau tahu soal Clear?"
Aku mengangkat alis. Oh, ternyata siswi-siswi dari sekolah lain.
Tapi… apa katanya? Clear…? Ooh… lagi-lagi soal orang itu. Yah, Clear adalah nama yang tidak asing di pendengaran masyarakat Tokyo. Sebab dia adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak pandang bulu saat membunuh orang yang sudah menjadi targetnya.
Anak-anak? Dewasa? Pria? Wanita? Kaya? Miskin? Semuanya.
Pembunuh handal yang wajahnya tidak diketahui karena selalu bergerak cepat di malam hari.
Bagiku, Clear itu… hanya pengecut yang menyedihkan. Tapi juga… memprihatinkan.
"Tahu. Dan aku sangat mengaguminya!" siswi yang berkuncir dua menjawab demikian.
"He? Kau mengagumi seorang pembunuh? Ukh… jangan bilang kalau…" temannya yang memiliki rambut coklat diikat seperti ekor kuda langsung menyilangkan tangan di depan wajahnya, membuat pertahanan.
"Tidak! Bukan itu maksudku! Duh, kau ini. Maksudku… aku mengaguminya karena dia sangat luar biasa! Setiap membunuh orang, jejak keberadaannya selalu tidak diketahui! Selain itu, dia juga cantik! Oh, dan—" siswi berkuncir dua itu langsung dibungkam temannya.
"Cukup. Tunggu dulu. Kau pernah melihat wajahnya? Kenapa kau tidak memberitahukan hal itu padaku? Pamanku pasti bisa menangkapnya kalau kau memberitahu soal wajahnya padaku! Ayolah, kumohon…" siswi berambut coklat yang diikat seperti ekor kuda mengguncang pundak siswi yang berkuncir dua.
"Tidak! Aku tidak pernah lihat wajahnya! Maksudku, aku suka rambutnya yang panjang berwarna keperakan! Itu dia yang kumaksud cantik!"
Ting!
Aku mendengus, kemudian melangkahkan kakiku keluar dari kereta. Yah… sebenarnya aku masih penasaran dengan pembicaraan siswi-siswi itu. Tapi… sudahlah. Toh, aku sudah tahu apalagi yang akan mereka katakan.
Aku melirik jam di ponselku.
Tepat jam enam sore.
Sial. Aku harus cepat kalau sudah jam begini.
Dengan memburu langkahku, aku pergi menuju rumah orang-orang itu.
[ NORMAL P o V ]
"UGH! KENAPA SEPERTI INI!"
Ringo hanya menyilangkan tangannya di depan dada sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya meliuk-liuk mengikuti gerakan Alice yang terus berganti-ganti.
Semula Alice menggebrak-gebrak meja yang terletak di sudut ruangan, kemudian loncat-loncat di atas tempat tidur dengan kesal, lalu muncul di hadapan Ringo dan memuncratinya dengan komentar-komentar tidak jelas. Dan gerakan itu terus berulang-ulang seperti film kartun.
"Alice… bisakah kau berhenti melakukan gerakan yang sama terus-menerus? Aku bosan melihatnya."
"Oh." Alice langsung menghentikan gerakannya. "LALU… AKU HARUS MELAKUKAN GERAKAN APA LAGI? MEMUKUL KEPALAMU? MENUSUK JANTUNGMU? ATAU MENGINJAKMU?"
Ringo menghela napas.
Dia emosi berat… pikir Ringo.
"Yah… aku tahu kau marah. Tapi… bagaimana bisa kita ke Crypton Future Academy kalau saja sudah gelap? Sekolah itu sudah tutup, oke?" Ringo menepuk puncak rambut pirang Alice.
"Ta—" "Lagipula…" Ringo menyela.
"…pekerjaanmu sudah ditetapkan." Ucap Ringo. Tatapan matanya berubah serius. Alice menaikkan alisnya.
"Ah." Alice menundukkan kepalanya. Wajahnya merengut. "Secepat ini ya…?"
―
Kagamine Rin's House
BYUUUR!
Rin menghamburkan dirinya ke dalam kolam yang kedalamannya mencapai dua setengah meter.
"BUAH!" Rin menyembulkan kepalanya ke permukaan air. "SIAAAL! LEGA BANGET!" Rin menjerit sambil tersenyum senang. Dia menghembuskan napasnya lalu merebahkan diri di permukaan air. Sepasang matanya menerawang menatap bulan purnama.
"Cantik…" Rin berbisik. Sebelah tangan dia angkat seolah-olah ingin menangkap bulan tersebut. Langit yang berwarna hitam pekat nampak bersinar akibat taburan bintang kecil di sekitarnya. Awan sama sekali tidak nampak saat ini. Mereka seolah-olah pergi demi manusia yang ingin menikmati indahnya bintang dan bulan di malam hari.
Pyuk.
Rin menghela napas. Dia mengepalkan tangannya yang terangkat, menutup kedua mata, dan mendesah.
"Len…"
Seperti itu.
Rin sadar apa yang dia desahkan barusan. Itu soal Kagamine Len. Adik kembarnya yang tersayang. Kembali tersusun puzzle masa kecil di benaknya.
Saat itu musim panas.
Rin mengenakan dress putih polos tanpa lengan yang panjangnya nyaris menutupi kaki. Seperti biasa, pita putih yang berwujud seperti telinga kelinci bertengger manis di puncak kepalanya. Kedua tangan kecilnya memeluk sebuah boneka kelinci besar pemberian ayahnya.
Sedang Len mengenakan kaos putih lengan panjang dengan vest coklat yang membalut kaos putih tersebut. Celana pendek hitam selutut dengan kaos kaki putih dan sepatu hitam mengkilap. Juga dasi pendek berwarna merah yang diikat di bawah kerah kaos putihnya.
Ibu tidak keluar dari rumah untuk mengucapkan selamat tinggal. Sama sekali tidak.
Ayah keluar dari rumah dan langsung menarik paksa lengan Len. Wajahnya seram.
Len menatap Rin dengan tatapan tak berdaya. Dia menangis, dalam hatinya.
Rin menangis dan meraung-raung meminta agar Len pulang. Tapi dia tahu Len takkan kembali.
Tak lama setelah hari itu, ibu meninggal dunia sambil membawa rumah. Rin diadopsi keluarga baru tak lama setelah tinggal di panti asuhan. Keluarga baru yang aneh…
Kepingan puzzle di benak Rin seketika terpecah. Seolah-olah kepingan tersebut bertubrukan dengan ingatan lainnya.
"Cih. Mereka selalu saja mengganggu ketenanganku!" Rin menyelam ke dalam kolam lalu berenang ke pinggiran. Sambil berlari-lari kecil, Rin pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
―
00:00 am
Povrezhdennyĭ Café
Tring.
Sepasang pintu kembar itu terbuka. Menampakkan sosok misterius yang mengenakan tudung dan cadar putih hingga menutupi wajah dan kepalanya.
Sosok misterius itu menoleh ke kiri. Nampak beberapa pria yang sedang adu kekuatan. Berani bertaruh, itu pasti demi uang. Menggelikan. Di sisi lain, nampak pria kurus berkacamata yang sudah menghabiskan tiga… atau tujuh botol minuman keras. Faktanya, dia mabuk dengan wajah kusut yang sangat jelek.
Café ini selalu nampak seperti ini. Kacau. Jelek. Menjijikkan. Ugh.
Povrezhdennyĭ itu bahasa Rusia. Artinya 'rusak'. Pas sekali dengan kondisi aslinya.
Tanpa melihat-lihat lagi, sosok misterius itu melangkah dengan mulus dan duduk di salah satu kursi bar.
"A... gudnaĭt! [Ah… selamat malam!]" bartender berkumis itu menyapa dalam bahasa Rusia pada si sosok misterius sementara tangannya menuang bir pada tiga gelas besar. "Apa anda ingin segelas Champagne? Itu adalah menu terbaik di sini."
"Non [Tidak]." Si sosok misterus menjawab dalam bahasa Itali. Sementara si bartender kebingungan, tangan si sosok misterius bergerak pada pahanya sendiri. Mengambil sesuatu.
Dengan gerakan singkat, dia menodongkan sebuah pistol pada bartender tersebut. "Katakan padaku. Apa ada orang yang bernama Alice di sini?" si sosok misterius itu bertanya dengan nada sinis yang tajam. Membuat sang bartender tidak mampu berkata-kata.
Tak disangka oleh si sosok misterius, salah seorang pemabuk melihat aksinya. Dengan gerakan lincah yang agak limbung, si pemabuk mengapit lengannya pada si sosok misterius itu.
"Kau sudah menodongkan pistol pada bartender favorit kami, sobat. Tindakanmu itu sungguh… hik. Tidak sopan…"
Ckrak!
Seorang pria kurus berkacamata yang tadi meminum tujuh botol minuman keras merampas pistol dari tangan si sosok misterius.
"Sebaiknya kau jangan bergaya dengan tudung dan cadar putih mencolokmu ini. Lepas!" pria kurus berkacamata itu menyuruh seorang lelaki terdekat untuk melepas tudung dan cadar putih si sosok misterius.
"Jangan lepas," si sosok misterius berkata ketika tangan seorang lelaki gemuk tinggal satu senti di hadapannya. "Kau akan menyesal dan berteriak bagai orang gila jika kau lepas."
"Hah! Kau sengaja mengelabui pemabuk, heh? Sialan ka—" lelaki gemuk yang bertugas untuk membuka tudung dan cadar putih si sosok misterius seketika membeku tubuhnya seusai dia lepas tudung dan cadar putih itu. "Ka… kau… Cle… ar…" dia berkata dengan tersendat-sendat. Matanya membolak penuh ketakutan.
Si sosok misterius menyeringai. Manik matanya yang berwarna keperakan berkilat-kilat.
"Ap—Clear! GUAH!"
Clear meninju dagu seorang pemabuk yang tadi menahan tubuhnya. Si pemabuk limbung seketika. Clear melepas semua kain yang menutupi wajahnya hingga rambut panjang berwarna silver yang menjadi ciri khasnya melambai dengan sangat indah.
"Aku cuma ingin mencari orang yang bernama Alice. Jangan bergerak atau... kutembak kalian." Clear mengambil dua pistol dari jas panjangnya yang berwarna hitam. Dia mengarahkan sebelah pistol ke sisi kiri dan sebelahnya ke sisi kanan. Jalanan untuk keluar dari café terbuka lebar bagi Clear. Sebab semuanya saling menyudutkan diri ke sisi kanan dan sisi kiri.
DOR!
Clear menarik pelatuk pistol yang dia pegang di sebelah kiri.
Brugh!
Seorang pria seketika ambruk dengan darah yang keluar dari dahinya.
"Berniat memotretku? Maaf, tapi aku bukan seorang model. Aku adalah pembunuh bayaran. Camkan itu baik-baik."
Clear menghela napas. "Aku datang untuk mencari orang yang bernama Alice. Mengakulah. Siapa diantara kalian yang memiliki nama itu." Clear menyimpan pistolnya kembali ke dalam jas. Tak seorang pun yang mengangkat tangan, atau menyahut: 'aku yang bernama Alice.'
Memang mustahil ada orang yang namanya asing begitu di sini. Tapi… mustahil Master bermain-main denganku, Clear berpikir dalam hati. Sementara Clear terdiam lama, pria kurus berkacamata yang tadi merampas pistol Clear langsung berlari meninggalkan café.
Clear membolakkan mata.
"Cih!" sambil mendecakkan lidah, Clear melompat turun dari meja bar dan berlari cepat untuk mengejar pria kurus berkacamata tersebut.
―
Clear melompat dari satu atap ke atap lain. Dari tempatnya, dia bisa melihat pria kurus berkacamata yang dikejarnya masih berlari sekuat tenaga.
"Sudah kuduga." Clear bergumam. Dia memburu langkahnya lebih cepat. Setelah jarak antara dia dan pria kurus berkacamata itu semakin menyempit, Clear meloncat turun dari atap dan menghadang jalan mangsanya.
"Ke, kenapa kau memburuku? Aku bukan buruanmu! Aku bukan Alice! Pergi kau!" pria itu menodongkan pistol pada Clear dengan tangan yang gemetar hebat. Itu pistol Clear…
"Yah… kau memang bukan Alice yang aku cari." Clear berjalan mendekati pria yang sedang gemetaran itu. "Tetapi, aku yakin kalau kau adalah kawan dari Alice yang aku cari itu."
Clear menarik sebuah pisau dari saku belakang celananya.
Berkali-kali dia ingin menyayat tiap bagian tubuh dari pria yang menjadi mangsanya. Tetapi pria itu lincah. Dia menghindar berkali-kali dengan gerakan tak terduga.
Clear tahu suatu hal. Peribahasa yang berbunyi: 'sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.'
Sama seperti, selincah-lincahnya pria itu bergerak, akhirnya pria itu terkena sayatan. Di sisi kiri leher.
"Ukh!" dia mengerang sambil menyipitkan sebelah matanya.
"Menyerahlah." Clear mengayunkan pisau itu dan…
JLEB!
Clear tersentak ketika merasakan telapak tangannya berdenyut kesakitan. Disaat Clear lengah, pria itu terkekeh dan melompat tinggi. Mendarat di permukaan suatu atap rumah.
"Kita akan bertemu lagi." Kata pria itu lalu pergi.
"Brengsek…" Umpat Clear. Dengan sedikit memaksa, Clear mencabut anak panah yang menembus telapak tangannya. "Lain kali… aku akan membunuhnya."
―
Pria kurus berkacamata yang tadi di kejar Clear jatuh terduduk di sebuah gang kecil. Napasnya tersengal dan bajunya basah akibat keringat. Dia memegang wajahnya dan merobeknya.
Oh. Ternyata itu topeng silicon.
"Kh… sialan. Ternyata dia yang bernama Clear itu. Master benar. Dia berbahaya."
"Ringo! Kau baik-baik saja?" seorang gadis yang wajahnya tertutupi tudung coklat berlari mendekati temannya.
"Alice… ya? Un. Aku tidak apa-apa. Sepertinya Clear tidak ingat wajahku. Berkat… topeng ini." Akano Ringo berdiri, menepuk-nepuk lututnya yang kotor lalu merenggangkan badan. "Terimakasih karena sudah melindungiku." Ringo berucap sembari membungkukkan sedikit badannya.
Alice mendorong tudungnya ke belakang. "Ini juga tugasku." Alice memegang sebuah busur yang terbuat dari besi. "Master menyuruh kita untuk membunuh Clear, tetapi kita harus saling melindungi. Pembunuh bayaran itu memang mengerikan. Ayo, kemari, kurawat lukamu." Alice menarik pergelangan tangan Ringo.
Bersama-sama, mereka meninggalkan gang kecil tadi.
―
Meanwhile, in the same time…
Hup!
Seorang gadis melompat dari atap rumah dan mendarat di sebelah Clear. "Perlihatkan lukamu." Suruh gadis itu. Clear menunjukkan lukanya pada gadis yang baru datang itu.
"Kau telat, Natsune. Ugh, hati-hati. Itu tembus, lho." Clear menyipitkan sebelah matanya karena merasa perih.
"Maafkan aku. Aku memang baru diizinkan keluar sekarang. Selain itu, kau gimana? Master bisa marah jika kau gagal dalam misi. Terlebih, kau sudah dianggap profesional." Gadis yang mengaku namanya Natsune bertanya. Dia adalah penanggung jawab Clear selama bekerja.
Clear menghela napas seusai lukanya dibalut perban.
"Yah…" Clear menggaruk puncak kepalanya. "Biarkan saja. Ada kalanya seorang pembunuh bayaran profesional gagal dalam misi."
Natsune menatap Clear dengan prihatin. "Kalau kau ada masalah, ceritakanlah padaku. Ingat, gedung sekolah kita berdekatan."
Clear tersenyum kecut tanpa sepengetahuan Natsune. "Aku punya banyak masalah yang harus aku pendam sendiri." Clear berkata sementara tangannya melepas rambut peraknya. Menampakkan rambut pendek sepunggung yang lepek. Warnanya honey blond…
"Kita harus melapor pada Master, Natsune. Ayo." Clear berkomando. Natsune mengikuti langkah Clear dari belakang.
To Be Continued
A/N-satu: BURUK O|||O (mengakui)
A/N-dua: Membingungkan! Diksinya berantakan! O|||O (panik).
Membingungkan… banget ya? O|||O karena kepikiran soal: 'sekolah. besok sekolah' aku langsung labil. Yaa… aku ini pelajar bodoh yang benci sekolah (jangan ditiru!)
Hell. Aku tahu cerita ini ribet dan kayaknya kebanyakan basa-basi O|||O terus adegan bertarungnya nggak jelas banget O|||Oa
AAAAH! Cukup masa-masa suramnya! O-P-T-I-M-I-S dikit napa sih! ? Dx
Baiklah! Terserah mau jelek atau buruk atau membingungkan atau gaje, yang pasti… *sigh* aku bakal belajar lagi supaya bisa membuat fic ini berkembang! x) *two thumbs up*
A/N-tiga: (a) Ringo Akano: OC-ku yang kugambarkan sebagai gadis pendiam dan agak misterius. Tapi sebenarnya dia agak licik sih xD. Ringo Akano bisa diartikan sebagai 'Apel Merah'. Tapi biar namanya Ringo, dia bukan berarti cinta mati sama apel. Sebaliknya, dia kurang suka apel xD ya, begitulah.
(b) Natsune Himawari (Natsu/Nattchin): OC yang belum terlalu jelas gambarannya di kepalaku. Niatnya, aku pengen jadiin dia UTAU xD (tapi belum kepikiran bisa bikin VB). Dia itu anak SMA yang jujur sama perasaannya. Kalau mau marah ya marah, kalau mau nangis ya nangis. Mungkin agak naif juga sih? xD Natsune Himawari diartikan sebagai: Natsu (Musim Panas) dan Ne (Suara). Himawari (Bunga Matahari).
(c) Clear dan Alice: kutegaskan, MEREKA BUKAN OC-KU. Tapi NAMA mereka penting di cerita ini xD
Last: Sudah ya, sampai ketemu di chapter berikut!
Flame is accepted (entah kenapa sekali-kali aku mau coba di flame /plak) xD
