Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Chapter 2: Rahasia Hati (Kise Ryouta)

Kamu begitu senang ketika kamu tahu, Kise Ryouta, teman kecilmu akan pindah rumah dekat dengan rumahmu. Kamu satu sekolah dengannya sejak SD hingga SMP, tapi berbeda sekolah sejak masuk SMA.

Sebenarnya, hal itu baik-baik saja karena masih bisa berkomunikasi dengan media elektronik, tetapi itu tidak akan pernah sebanding dengan bertemu langsung. Itu, dan juga karena kamu merindukannya.

Kise tidak akan pernah mengerti, bahwa kamu sudah menyimpan rasa padanya sejak lama. Yang ia tahu hanyalah kenyataan tentang kamu dan dia yang bersahabat.

Menjengkelkan, tetapi ia memang begitu.

-X-

Suatu hari, kamu berkunjung ke rumahnya dengan sepeda. Maklum, ia sudah pindah sejak seminggu yang lalu. Kise begitu antusias melihat kedatanganmu, dan segera mengeluarkan sepedanya dari bagasi. Lama-kelamaan menjadi suatu rutinitas untuk kalian bersepeda bersama.

Biasanya, kalian berdua akan pergi ke sebuah pos kompleks, dan duduk disana, sambil saling bercerita. Seperti sekarang.

"Menurutmu, apa itu cinta?" tanyamu, ingin mengetahui pendapat Kise, lelaki yang diam-diam kamu cintai.

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Kise bertanya balik sambil tertawa, membuat wajahmu terasa panas. Tawanya terasa menyenangkan.

"Aku hanya ingin tahu pendapatmu..."

"Apa kamu sedang jatuh cinta?" Kise bertanya lembut, "Seingatku kamu tak pernah seperti ini sebelumnya."

"Ya, aku sedang jatuh cinta," kamu memutuskan untuk bercerita tanpa memberi tahu bahwa orang yang kamu sukai adalah Kise yang sedang ada dihadapanmu. "Dia seseorang yang tidak peka, mudah sekali tertawa, dan berlaku baik pada siapa saja. Tak ada perbedaan antara aku dan gadis-gadis lainnya."

Kamu memandang Kise, menunggu reaksinya, namun nihil. Ia hanya menatapmu, seolah berkata akan terus mendengarkanmu. Kamu menarik napas, berusaha untuk bersabar.

Lalu, kamu menghembuskan napasmu pelan. "Dia seorang yang populer di sekolah sih.. wajar bila ia begitu."

"Siapa orang itu? Perlukah kuberitahu padanya agar memberikanmu kesempatan?" Kise berkata dengan perasaan menggebu.

Kamu mengulas senyum tipis, "Tidak perlu, sungguh."

Kemudian, kamu berdiri. Menatap mata Kise beberapa saat. "Yuk, kita bersepeda lagi."

Dan, Kise hanya mengikuti perintah yang kamu katakan. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaanmu tentang apa itu cinta.

Baru sesaat kamu berpikir begitu, Kise bergumam samar dan pelan, hampir tidak terdengar. "Suatu saat kuberitahu jawabannya untukmu."

-X-

Kamu tidak habis pikir, bagimana Kise tidak memahami perasaanmu. Bukankah ia sudah kenal denganmu sejak lama?

Lalu, Kise memanggilmu. Dan bertanya, "Siapa sih lelaki itu?"

"Penasaran?" tanyamu, tidak dapat menahan diri untuk tersenyum.

Kise berdeham. "Iya, sangat."

"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Kise," katamu, bersiap melangkah masuk ke dalam rumah. "Sampai jumpa."

"Tunggu sebentar.. aku masih sangat penasaran, tahu."

Kamu memandang Kise, lalu memberokan senyuman terbaik yang kamu punya. "Suatu hari kamu akan tahu kok."

Kise balas memandangmu, terlihat depresi. Tetapi kamu yakin bila ini belum saatnya.

Belum, biarkan persahabatan ini masih berlangsung untuk sementara waktu...

-X-

Hujan turun dengan deras beberapa hari ini, membuat kamu beberapa kali terpaksa untuk pergi-pulang ke sekolah tanpa payung, alias kehujanan. Hingga pada hari keempat, kamu jatuh sakit dan tidak dapat bersekolah.

Kise mengunjungi rumahmu, menjengukmu yang tampak tidak sehat. Wajahmu merah padam karena sakit, juga karena kau menyukainya.

"Kubawa materi pelajaran hari ini," kata Kise, lelaki itu menaruh kertas-kertas diatas meja belajarmu. "Aku pindah rumah dan sengaja ikut masuk ke sekolah yang sama denganmu bukan untuk menjadi pengawalmu."

"Kalau begitu tidak usah datang saja," balasmu ketus.

"Gomen. Kau tersinggung?"

"Iya," kamu menjawab, "ubahlah kebiasaan itu.. jangan selalu mengungkap apa yang kau pikirkan. Bisa-bisa orang takut bicara jujur denganmu, takut dibalas menyakitkan tanpa kau pikir."

Itu juga salah satu alasanmu tidak ingin memberitahu perasaanmu pada Kise.

Dia kekanakan.. tetapi entah bagaimana, kamu menyukainya.

Kemudian, tanpa kamu ketahui, Kise sudah menglihat-lihat isi meja belajarmu. Menemukan sebuah buku bergambar menara Tokyo yang sangat menarik.

Kise penasaran, membuka lembaran buku tersebut dan membacanya. Baru setelah sekian menit, kamu menyadarinya dan merebut buku tersebut dari tangan Kise.

Karena itu bukan sembarang buku bersampul gambar menara Tokyo, tapi juga karena berisi curahan hatimu mengenai Kise.

Wajahmu yang memerah semakin merah. Lalu, kamu menunggu Kise berbicara padamu.

"Tadi itu... apa?" tanya Kise, suaranya sedikit bergetar. Tampaknya ia kaget.

"Perasaanku yang sesungguhnya."

Kise memandangmu lekat, lalu menghembuskan napas pelan. "Maaf, tetapi aku tidak bisa, membalas perasaanmu."

"Tidak apa-apa," katamu tersenyum lirih, "aku mengerti mengapa kau tidak ingin membalas perasaanku, dan aku tidak berharap untuk kau membalasnya."

Kise masih memandangmu lekat, dan kamu bersembunyi dibalik selimut. Kamu mendengar langkah kaki Kise keluar kamarmu, mungkin merasa tak enak dengan suasana canggung ini.

Perlahan dan tanpa kamu sadari, kamu mulai menangis dibalik selimut. Dan kamu sadar akan sesuatu, bahwa kamu benar-benar jatuh cinta padanya.

-X-

Hari ini ulang tahun Kise.

Mengingat hal itu, kamu beranjak dari tempat tidur dengan pelipis yang masih terasa pening.

"Aku... harus mengucapkan... selamat ulang tahun padanya..." rintihmu, berjalan keluar kamar.

Sudah dua hari sejak insiden Kise mengetahui rahasia hatinya, dan sejak itu kalian belum saling menghubungi.

"Ibu, aku pergi dulu ya," tukasmu kepada ibumu. Kamu tidak peduli kalau ibumu memanggil-manggilmu. "Aku mau bertemu Kise dulu, bu."

Lalu, kamu mulai mengendarai sepedamu keluar rumah, menuju rumah Kise, hanya itu yang kamu pikirkan.

Sesampainya di rumah Kise, napasnu sudah terengah, wajahmu memerah, dan jantungmu berpacu cepat. Dengan sembarang kamu memarkirkan sepedamu.

Dan secara kebetulan, Kise juga sedang keluar rumah. Ia kaget ketika menemukanmu.

"Sedang apa disini?" tanya Kise, suaranya terdengar khawatir, ia memegang keningmu. "Kau masih demam."

"Kise..." kamu memanggil namanya lirih, "Selamat ulang tahun..."

Lalu, tubuhmu terhuyung kedepan, untung saja Kise menahan dirimu agar tidak jatuh dengan mendekapmu.

"Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini?" tanya Kise lembut. Dia menatapmu dengan tatapan intens.

"Karena aku sedang jatuh cinta padamu..." bisikmu lirih, lalu menatap jauh kedalam bola mata Kise. "Sekali lagi... selamat ulang tahun."

Kise mempererat dekapannya, pelukannya terasa hangat.

"Mungkin sekarang aku tidak membalas perasaanmu... tetapi aku berjanji akan membalas perasaanmu."

-X-

Setahun kemudian...

Sudah banyak hal yang terjadi dan kamu lalui bersama Kise.

Hari ini, ulang tahun Kise tiba lagi. Lelaki itu mengajakmu duduk di pos kompleks seperti biasanya.

"Karena ini ulang tahunku, apapun yang kupinta akan terkabul, kan?" ujar Kise kepadamu, "benar, kan?"

"Iya."

"Kalau begitu..." Kise mendekatkan wajahnya padamu, "Saatnya membalas perasaanmu."

"A-apa?" tanyamu, merasa terkejut. Apa tidak salah mendengar?

"Jadilah kekasihku." pinta Kise, "Ini permintaanku, dan pasti terkabul."

Kmau mengulas senyum tipis, "kau jahat sekali... tahu kah aku menunggu lama sekali?"

"Aku tahu. Karena itu maafkan aku," kata Kise sambil tersenyum lembut, lalu menarikmu dal pelukannya yang hangat.

-owari-

Yeaaa... selesaiii...

Hola! Kembali lagi dengan fictku ^^ saat membuat cerita ini, aku baru teringat bila ulang tahun Kise sudah dekat, jadi kubuat seperti ini deh :D

Ini adalah fict sekuel dari "You", Kuroko x readers. Terima kasih pada li-chin, Misaki Younna dan Yuki'NF Miharu yang udah ngasih usul, dan membuatku memiliki ide untuk membuat sekuel Gom x readers. Hm, mungkin gak bakal Gom doang kali ya :" kalo ada chara lain yang kutemukan idenya untuk dipasangkan dengan readers pasti kubuat, hahaha xD

Terima kasih yang telah membaca cerita ini, juga yang telah mereview fanfict "You" ^^ Sampai bertemu di chapter lainnya :D