Errr… Natsu mau mengumumkan sesuatu, tapi readers jangan kecewa ya =='

Jadi begini nih, teman-teman Natsu pada pada baca fic ini.

Ah… to do point aja deh. Natsu gak jadi buat fic ini jadi rated M. habis, dibaca sama teman-teman sih, Natsu jadi malu banget. (o/o)

Jadi yah.. fic ini tetap ber-rated T. mungkin ada sedikit adegan *piiiiip* tapi adegan itu gak dideskripsikan secara benar-benar dan cuma sekilas aja :D

Well, jangan kecewa ya my dear readers.

Naruto is not mine, it's Masashi Kishimoto's sensei.

There are lots of anime which doesn't belong to me.

.

.

.

.

.

Tetangga Cantik

"Erm… K-kau s-s-siapa?"

"A-aku… Hi-Hinata Hyuuga dari k-k-kamar 18. Yo-yoroshiku!"

"Sasuke Uchiha. Kamar 19."

"O-oh…"

.

.

.

.

.

"Sasuke, jadi ke kuil?"

Sasuke menoleh ke sebelah kanannya. Pemuda berambut kuning uke-nya Er*a, pemuda berambut kuning yang sudah menjadi sehabatnya selama 13 tahun. Sasuke rada-rada dilema menjadi sahabat Naruto. Di sisi lain, Naruto sangat kontras dengannya. Kalau Naruto diumpamakan matahari, maka Sasuke adalah… bulan?

Yah, apapun Sasuke, yang jelas dia sangat kontras dengan Naruto.

Di sisi yang lain lagi, mereka berdua mendukung satu sama lain. Walaupun tidak terlihat jelas, namun Sasuke benar-benar mengganggap Naruto sebagai sahabat. Mungkin dilema itu disebabkan karena karena kebodohan Naruto yang SEPERTINYA kelewat batas.

"Kau benar-benar bodoh. Sangat."

"Na-nani? Kenapa aku? Bukankah yang bilang mau ke kuil sebelumnya? BAKA TEME!"

Sasuke memukul dahinya. Sebaliknya, Naruto tersenyum bodoh seperti biasanya, menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rapi, mirip sekali seperti bintang iklan pasta gigi pepso**nt.

"Itu hanya sarkasme, dobe."

"O-oh… sarkasme rupanya? Hehehe"

Seperti di kartun-kartun, di atas kepala Sasuke muncul lampu yang menyala tiba-tiba.

TING!

Pemuda otaku cakep ini menyengir samar. Sambil merangkul bahu Naruto, Sasuke membisikkan suara husky-nya ke telinga Naruto yang menurutnya bau.

"Kalau kau idiot seperti ini, pasti seme-mu merasa kecewa. Malah bukan mustahil kalau kau dihajarnya habis-habisan."

Mulut cerewet Naruto menganga lebar seperti penyanyi seriosa.

Oh, betapa terhiburnya Sasuke melihat ekspresi bodoh si bodoh ini. Andai saja ada Dora*mon di sini, mungkin ia sudah minta kembali ke waktu 5 detik tadi untuk melihat wajah bodoh itu untuk kedua kalinya.

"Semoga Er*a-chan tidak marah padaku, kami-sama."

"Er*a tidak nyata, baaakaaaa!"

"Er*a-chan itu nyata, BODOH!"

"Tidak, IDIOT!"

"IYA!"

"TIDAK!"

"Kalian sedang apa?"

.

.

.

.

"Ojou-chan, kau berasal dari mana? Logatmu tidak seperti orang Tokyo kebanyakan."

Nenek pemilik kos-kosan yang ditempati seorang gadis berambut biru sekarang sedang menjamu gadis cantik ini.

"U-um, saya da-dari Kyoto."

"Ooooh… Pantas saja, kau terlihat seperti gadis jepang klasik."

Wajah si gadis menjadi merah.

Nenek itu tertawa melihat gadis yang duduk di depannya ini. "Tenang saja, ojou-chan, aku memujimu. Jarang sekali gadis-gadis jaman sekarang bersikap sopan sepertimu. Kau mengingatkanku pada Yamato Nadeshiko." Sambil meniup-niup teh hijaunya, gadis itu hanya tersenyum menanggapi pujian si nenek.

"Oh ya, aku belum tahu namamu, ojou-chan. Panggil saja aku Chiyo, atau Chicchan, hahahahahahhahah!" Lawak nenek bernama Chiyo itu. Hinata yang sweatdrop tertawa kecil.

"Hi-Hinata Hyuuga desu. Mohon bantuannya s-selama saya ada di sini, Chi-Chiyo-baasan."

Chiyo memeluk Hinata dengan erat. Tak lupa juga tepukan hangat yang bersahabat di punggung mungil Hinata. Begitu juga dengan Hinata, ia membalas pelukan Chiyo.

Melepas pelukannya, Chiyo mulai mengangkat koper-koper Hinata yang besar dan berwarna biru tua. Melihat seorang nenek tua –bisa dibilang sudah bungkuk, Hinata buru-buru menghentikan tangan si nenek untuk mengangkat koper-koper besarnya.

"Ch-Chiyo-baasan, tidak perlu! Bi-biar aku saja yang me-mengangkatnya!"

Chiyo cuma menolehkan kepalanya ke belakang dengan ekspresi bosan.

Eh, dia malah terkekeh. Wanita tua yang sudah mengangkat masing-masing koper Hinata di kedua tangannya hanya berkata:

"Aa, daijoubu da yo, Hinata-chan. Lagipula, aku adalah mantan Yakuza dulu, kekuatanku tidak tertandingi! Bahkan 'adik-adik'ku memanggilku "Shiroi Suna". Bukankah itu hebat? Ahahahhahhahahha!".

Jadi dia… Seorang Yakuza dulunya?

"Haruskah aku… me-memanggilmu 'anego' daripada 'baa-san?'" canda Hinata.

Lagi, Chiyo terkekeh.

"Silahkan kalau kau mau, gadis kecil, ahahahahaahahhaahhha!"

"…"

"Aku serius. Kau boleh memanggilku anego, hehehe."

Sambil mengikuti Chiyo menuju kamarnya, Hinata segera menanamkan sesuatu di pikirannya.

Pelajaran pertama Hinata di hari pertama di kos-kosan sewaannya: jangan pernah bercanda dengan mantan Yakuza.

.

.

.

.

.

"Kalian seperti anak kecil saja, berkelahi hanya gara-gara mempermasalahkan ketidak-nyata dan kenyataan sebuah barang."

Perempuan dengan rambut pink ini berkacak pinggang menanggapi sahabaat dan pacarnya ini. Tunggu… pacar? Pacar? Sasuke? Atau Naruto?

"Bukan salahku, Sakura-chan! Si Teme ini yang salah! Masa dia bilang bahwa Er*a-chan tidak nyata?" ucap Naruto yang menggembungkan pipinya sambil menunjuk-nunjuk jarinya kearah Sasuke. "Kan Er*a-chan sangat cantik, kau saja kalah, Sakura-chan!".

CTIK

Urat berbentuk jalan simpang empat muncul di dahi lebar Sakura Haruno.

"Hhhh… Naruto, apa perlu aku mengecat rambut ku menjadi merah?" Tahan emosimu, Sakura…

Tampaknya gadis ini tidak suka apabila pacarnya itu lebih memilih tokoh anime yang tidak nyata ketimbang dirinya yang nyata dan lebih cantik. Ooooh… ternyata Naruto pacarnya.

Tahan emos-…

"Tidak, kalau kau mengecat rambutmu menjadi merah, maka image Er*a-chan akan rusak."

KLIK

Ya! Naruto bodoh! Kau sudah mengaktifkan bom nuklir produksi Haruno Lab.

Merasakan death glare dan aura membunuh dari kekasihnya, Naruto segera menaruh kedua tangan di depan tubuhnya seraya berjalan mundur menjauhi Sakura yang sudah berjalan maju dengan tinju yang sudah dikepal keras-keras sampai jemarinya menjadi berwarna putih.

"Sakura cantik, Sakura pintar, Sakura cool, Saku-…"

BUAAGH!

"SHANNAROOOOO!" ditinjunya wajah Naruto yang bisa dibilang tampan itu. Sementara Sasuke menyengir hebat melihat sahabat –rival-nya itu melayang indah sampai akhirnya wajah bodohnya itu menabrak paving block di depan kampus.

"Sa-Sakura-chan, ma-"

BUGH!

Belum sempat si pirang meminta maaf, pacar brutalnya itu memukul kepala Naruto. "URYAAAAAA! TIDAK ADA MAAF UNTUK ORANG MESUM DAN BAKA SEPERTIMU!"

Sebenarnya sih Sasuke kurang suka –ralat- tidak suka kalau kepala Naruto dipukul terlalu sering. Kenapa? Apa karena Sasuke sangat menyayangi Naruto?

Tidak, Sasuke hanya tidak mau otak yang beradi di dalam kepala si pirang itu menjadi semakin bodoh. Ia tidak mau menjadi pelarian 'kursus privat'-nya Naruto.

Tapi, melihat pasangan seme dan uke itu menghibur Sasuke selayaknya pasangan lakon yang menghibur penonton.

.

.

.

.

.

Hinata membereskan barang-barangnya yang sudah masuk ke dalam kamar kos-nya. Beruntung sekali Hinata dapat kamar bernomor 18, sesuai nomor kesukaanya. Benar-benar lucky!

Dikeluarkannya sebuah bingkai mungil berwarna putih dari tasnya. Bingkai itu berfotokan sebuah keluarga harmonis dengan seorang ayah yang sedang menggendong gadis kecil berambut biru, seorang ibu yang menimang bayi sambil tersenyum hangat, serta anak laki-laki berambut coklat sedang berdiri di tengah-tengah suami-istri tersebut.

Jari tangan Hinata menyentuh bagian depan foto itu sambil tersenyum sedih. Bisa diingatnya dengan jelas berbagai kenangan indah keluarga yang 'pernah' harmonis itu.

.

.

.

Sebuah taman ala jepang yang indah dan rapi. Dikelilingi bunga iris jepang dan kolam ikan koi berhiaskan kerikil ab-abu di sekitarnya.

Mencelupkan tangannya ke dalam kolam, Hinata memandangi ikan-ikan koi yang berwarna orange dan putih. Salah satu ikan koi itu menarik perhatian Hinata.

Koi itu berwarna hitam, dan di dekat kedua matanya ada bintik merah terang yang lucu.

"Kau sedang apa, Hinata-chan?" seorang anak laki-laki berambut coklat dengan maa peraknya itu datang menghampiri Hinata dari belakang. Alhasil, gadis kecil yang tengah jongkok ini terjatuh ke dalam kolam ikan koi.

"HINATA!"

"Huwaaaaa! Nii-chan jahat! Okaa-saaaaan! HUWAAAAAAA!"

Tangisan Hinata semakin nyaring. Mendengar ribut-ribut di taman, Hiashi dan istrinya segera mendatangi asal suara terkejutnya Hiashi dan sang istri melihat anak perempuan mereka yang manis kini sedang basah kuyup sambil menangis.

Di atas kepala Hinata, ada bungai teratai yang menutupi kepala Hinata seperti poninya. Dan, tak ketinggalan juga bunga teratai yang sedang mekar-mekarnya membuat Hinata terlihat sangan lucu.

Hiashi tersenyum sambil mengangkat Hinata dari kolam. Sang ibu pun menasehati anak lelaki itu dengan lembut. Bayi yang berada di gendongan wanita itu juga tertawa riang saat keluarganya berkumpul seperti ini.

.

.

Merasa membuang waktu, Hinata segera melanjutkan beres-beres. Mungkin barang-barang Hinata yang lain akan sampai besok pagi. Sekarang ini, hanya ada futon, kulkas, dan kotatsu di ruang tamunya.

Mungkin ia akan makan malam bersama Chiyo-baasan saja, berhubung belum ada makanan yang mengisi kulkas kosong miliknya.

.

.

.

.

.

"Okay, class. Enough for today, I hope you could do some research for additional score in your report card. Especially you, Naruto."

"E-eh? Errr… yes, absolutely, sir!"

"Do you know what I'm talking about, Mr. Uzumaki?"

"Of course, sir!"

Sasuke sudah bisa melihat tangan Naruto yang mulai berkeringat, begitu juga dengan dahinya. Sasuke yakin bahwa Naruto pasti tidak mengerti apa yang dibicarakan Kakashi, guru bahasa inggris mereka.

"Tell me, then., What I was talking about?'

Bingo! Perkiraan Sasuke benar. Oh, betapa ia ingin tertawa melihat wajah Naruto yang menderita itu. Wajah bodohnya itu hampir menyamai wajah bodoh Nobi*a Nobi.

Kakashi menghela napas, wajahnya yang ditutupi masker itu terlihat lelah. Tentu saja, guru manapun yang masuk mengajar, pasti merasa lelah menghadapi Naruto.

.

.

.

.

.

"Sialan si Kakashi itu! Hanya karena aku tidak tahu apa yang dibicarakannya, dia langsung menyuruhku membersihkan toilet laki-laki!"

"Heh, makanya jangan melamun. Sudah tahu kapasitas otakmu cuma 2 gigabyte, kau masih berusaha memenuhinya."

"Aku ingin rasanya membunuhmu, TEME." Naruto menekankan kata-katanya dengan penuh dendam.

Sasuke yang merasakan Naruto yang mulai marah, segera menyiapkan kartu as terbaiknya. "Kalau kau membunuhku, siap-siap saja Sakura membunuhmu. Bagaimanapun juga, cinta pertama tidak bisa hilang begitu saja."

Ya, Sasuke adalah cinta pertama Sakura. Sudah 10 tahun Sakura mengejar-ngejar Sasuke dari umur 9 tahun. Kini, umurnya sudah 20 tahun. Baru tahun lalu Sakura dan Naruto jadian. Sepertinya sih Sakura sudah menyadari cintanya yang akan selalu bertepuk sebelah tangan.

"TEMEEEE!"

.

.

.

.

"Oi, Chiyo-baa, ada makanan?"

Seorang pemuda berambut pantat ayam memasuki rumah nenek Chiyo tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tampaknya Sasuke tidak peduli, toh sudah 2 tahun ia tinggal di kos-kosan ini.

Menunggu respon yang tidak kunjung datang, langsung saja Sasuke memasuki dapur nenek Chiyo. Segera saja Sasuke membuka kulkas, dengan harapan mencari makanan yang dapat ia makan untuk memenuhi rengekan perutnya yang mulai merengek nyaring.

"Heh, lucky me. Beberapa onigiri."

Sasuke segera memanaskan onigiri itu di dalam microwave yang terletak di atas meja makan. Sembari menunggu onigiri-nya panas, pemuda ini menarik kursi dan duduk diatasnya sambil membuka G*ogle lewat i-Phone kesayangannya.

Seketika, matanya Sasuke terbelalak melihat artikel di Go*gle setelah ia menaruh kalimat "Miku*u A*ahina doujinshi free read".

Be… begitu banyak artikel yang memuat tentang tokoh kesayangannya! Tidak menunda-nunda waktu, Sasuke segera meng-klik artikel itu. Hohoo… si pangeran Uchiha ini tampaknya sudah berpikir yang tidak-tidak, terbukti dari darah yang mengalir dari hidungnya.

TING

Microwave bermerek Philips itu sudah menyelesaikan tugasnya untuk memanaskan makanan Sasuke.

"Cih. Mengganggu."

Tapi mau tidak mau, Sasuke harus mengambil onigiri itu. Kalau tidak, sayonara kepada hidup sehat 5 sempurna miliknya yang ia bangga-banggakan.

Begitu akan mengambil piring, Sasuke melihat notes kecil berwarna pink dengan gambar-gambar yang cute.

Kalau kau mengambil makanan, tolong buatkan makanan lebih, Hinata-chan akan datang meminta makan malam

Menaikkan sebelah alisnya, Sasuke memandangi nama asing yang tertera di kertas itu. Setahunya, tidak ada orang bernama Hinata di daerah kos-kosan milik Chiyo-baa. Yang ada hanyalah Karin, Shikamaru, Ino, dan Gaara.

Belum sempat Sasuke membuka kulkas untuk menyiapkan makanan lebih, pintu rumah itu sudah diketuk. "Chi-Chiyo-baasan, i-ini Hinata…".

Keh, tampaknya gadis bernama Hinata itu sudah datang. Pikir Sasuke. Barangkali Hinata hanyalah seorang perempuan jelek, gendut yang pasti bakalan nge-fans pada dirinya.

Sebelum buka pintu, tidak lupa Sasuke mengelap darah yang mengalir deras dari hidung mancung seperti porselen itu.

Dibukanya pintu kayu yang kelihatan masih baru itu.

DEG

Terkejutlah Sasuke saat mendapati seorang gadis yang cantik, langsing, manis, mungil, dan… bohay? Belum lagi gadis ini memakai pakaian yang umumnya tidak pantas dipakai untuk perempuan dengan tubuh sepertinya!

Jika dilihat dari mata orang normal, Hinata hanya memakai pakaian normal seperti wanita pada umumnya. Rok selutut berwarna hitam dengan atasan berwarna putih yang tangannya menggembung dan kerahnya yang lebar memperlihatkan sedikit bagian pundak Hinata yang mulus.

Tapi di mata si mesum –yang anehnya tampan ini, pakaian yang dipakai Hinata ini terasa vulgar! Bagaimana tidak, dia seperti memperlihatkan bagian pundaknya kepada Sasuke! Belum lagi leher putih mulus itu!

"Erm… K-kau s-s-siapa?" Tanya gadis cantik bernama Hinata ini pada Sasuke. Hinata lupa, sebelum menanyakan nama orang, perkenalkan dirimu terlebih dahulu.

"A-aku… Hi-Hinata Hyuuga dari k-k-kamar 18. Yo-yoroshiku!"

Lah, memang pada dasarnya si cakep ini omes, ia cuma bisa menatapi Hinata sambili bermimis-mimisan ria. "Sasuke Uchiha. Kamar 19."

"O-oh…"

5

4

3

2

1

Hinata yang menyadari tatapan Sasuke, segera menggampar pipi si cakep.

"KYAAAA! HENTAI OTOKO!"

Ups, sepertinya perjalanan Sasuke yang memiliki tetangga baru yang cantik akan penuh dengan kerikil.

Ganbatte, Sasuke!

.

.

.

Sementara di tempat tukang pijit…

"ITTAII!"

Terlihat seorang nenek dengan satu cepol di atas kepalanya sedang dipijit pinggangnya yang keseleo.

"Harusnya aku tidak mengangkat koper itu sendirian…"

.

.

.

.

.

.

.

TBC~

Review yaaa! Jangan lupa :D

Sekali lagi, review