Akhirnya bisa post chapter 2,
Terimakasih untuk reviewnya dan para pembaca semua yang menantikan kelanjutannya. *PD banget!
Di cerita ini aku menulis dari sudut pandang orang ketiga, tapi merefleksikan sudut pandang orang pertama yaitu Hermione. Enjoy!
You know? I know you love me.
By Dragonjun always with LOVE
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 2
September 1991
Seperti yang kuduga Hermione Granger memang penyihir kelahiran Muggle yang paling menyebalkan. Dia disukai para guru karena pintar, tapi menurutku biasa saja. Tangannya selalu terangkat setiap guru mengajukan pertanyaan. Sebenarnya aku tau jawabannya, tapi aku malas saja menjawab. Tapi memang kelahiran Muggle ada yang tidak bisa dia pelajari hanya dari buku yaitu terbang. Aku mau tertawa melihatnya memanggil sapunya yang tak mau terangkat ketangannya sungguh menyedihkan, aku rasa dia takut ketinggian. Sayangnya dalam pelajaran terbang si Potter malah terpilih sebagai seeker Gryffindor. What? Ini sungguh menyebalkan dan ini gara-gara si bodoh Longbottom.
1 Nopember 1991
Hari ini aku melihat Hermione Granger duduk bersama Scarhead Potter dan Redhead Weasley, aneh! karena baru kemarin aku melihatnya menangis. Kata Pansy karena si Weselbee mengatainya sehabis pelajaran mantra, tapi hari ini mereka malah ngobrol bersama begitu akrab. Padahal sebelumnya bahkan tak ada yang mau berteman dengannya, hanya si bodoh Longbottom yang mau mendengarkannya bicara. Dia terlalu bossy. Dan sekarang dia berteman dengan duo bodoh itu, ini sungguh menyebalkan melihatnya. Double Damn! I don't like it.
Sudah seminggu tahun ajaran baru dimulai. Hermione merasa bahwa Hogwarts merupakan sekolah normal pada umumnya, namun dari mana kau bisa membandingkan sekolah sihir dengan sekolah normal? Mungkin Hermione membandingkannya dengan waktu dia di Hogwarts dulu, jelas sangat berbeda dan tak normal. Setiap tahunnya selalu saja ada bahaya yang mengancam mereka, dia pun bertanya-tanya kenapa disetiap inseden itu selalu Hermione, Harry dan Ron terlibat didalamnya. Batu bertuah, kamar rahasia, Sirius, piala api, umbridge, dan yang lainnya jelas tidak normal.
Dua sahabat baikknya itu, entah apakah dia akan bertahan kalau saja tidak ada dua sahabatnya itu? Jelas mungkin jawabannya tidak. Hermione tak pernah dengan cepat berbaur dengan lingkungan sekitarnya, terutama karena sifat bossynya. Itupun berlaku disini sebagai guru, tidak banyak murid yang bisa langsung dekat dengannya.
"Pagi Profesor!" sapa dua orang murid kelas enam yang bertemu jalan dengannya menuju aula besar.
"Pagi!" jawab Hermione tersenyum lebar. Dua murid perempuan yang menyapanyapun membalas senyumnya tanpa namun kemudian tidak ada lagi percakapan yang lebih jauh, bahkan ketika sekarang dia sudah menjadi sangat ramah, mereka malah tampak sangat segan dengannya, ya, karena dia adalah pahlawan perang apalagi yang perlu ditambahkan?
Tapi tidak dengan pemuda yang baru saja keluar dari kantornya. Hermione mengutuk dirinya sendiri kenapa dia harus lewat lorong ini. Jelas kalau orang mengetahui seperti apa kelakuannya saat sekolah dulu kau tak akan menyapanya dengan tersenyum lebar.
"Pagi Profesor!" dua murid yang tadi menyapanya menyapa pemuda sombong itu.
"Pagi." Ya, jawaban Draco Malfoy amat sangat singkat, tapi dua orang murid kecentilan itu tersenyum lebar dan malah ikut berjalan bersamanya ke aula.
"Kau mau pergi ke aula, professor?" tanya salah satu dari murid itu. Hermione mendengus, dia menahan diri untuk tidak menengok kebelakang.
"Ya," Hermione mendengar Draco menjawab. Tetap sangat singkat dan Hermione amat kesal dibuatnya. Baru satu minggu dia mengajar dan hampir disetiap sudut sekolah semua orang membicarakannya. Hermione sudah mencoba menutup telingannya rapat-rapat ketika nama Draco, Malfoy atau yang menyebalkan ada yang memanggilnya si Sexy –demi apa dia tidak sexy– terucap oleh salah satu dari mereka namun tetap saja, apa yang mereka bicarakan selalu saja bisa terdengar olehnya.
"Permisi aku masih ada perlu," kata Draco. "Granger!" panggil Draco dari belakang kepalanya.
"Ya," jawab Hermione menghentikan jalannya dan membalikkan badan. Pemuda berambut pirang keperakan itu sedikit berlari mengejarnya.
"Kebetulan bertemu disini," kata Draco.
"Ada perlu apa, Malfoy?" Tanya Hermione memotong pembicaraan.
Draco menaikkan satu alisnya, wajahnya dingin sulit dibaca. "Kelasku akan melakukan duel untuk jam pelajaran hari ini, aku butuh ramuan standar perlengkap untuk duel. Professor McGonagall mengatakan padaku kau yang menyuplainya, mengingat kau guru ramuan," kata Draco.
"Kenapa kau tidak memintaku kemarin, itu perlu persiapan dan, ughh…" Hermione benar-benar malas meladeni Draco, dia memang yang selalu menyuplai standar ramuan untuk para guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, tapi dia benar-benar lupa karena … karena Draco Malfoy lah yang sekarang memegang jabatan itu.
"Baru diberi tau kepala sekolah tadi malam, kau yakin aku mau mengetuk kamarmu malam-malam hanya untuk mengatakan hal ini?" kata Draco menekankan kata-kata terakhir. "Dan kalau kau punya masalah jangan lampiaskan kepada orang lain," katanya melanjutkan.
"Aku tidak melampiaskan pada orang lain," jawab Hermione menahan marah.
"Katakan pada dirimu sendiri. Kalau kau masih bersikeras tak mengakui, bagaimana tampangmu sekarang. Aku bisa saja memaksamu naik sapu terbangku dan akan kubuat kau mengakuinya," kata Draco, Hermione melotot. Ya, Draco Malfoy tau dia takut ketinggian.
"Kau.." kata-kata itu tak terselesaikan. Hermione mengeretakan gigi, Hermione tidak yakin apakah yang dia baca itu memang benar-benar terjadi.
"Easy! Kalau kau tak bisa, kau tak perlu memaksakannya. Aku hanya bertanya, berikan padaku kalau ramuan itu sudah siap," kata Draco tetap dengan suara dinginnya, tersadar sepertinya dia terlalu banyak bicara. "Dan kau tak perlu melampiaskan apapun masalah yang sedang kau hadapi pada ku," katanya lagi lalu mengarahkan tumitnya meninggalkan Hermione yang masih berdiri kaku, berjalan menuju aula. Jubah hitamnya berkibar sangat anggun, bahunya terlihat sangat gagah dilihat dari belakang, Hermione perlu mengingatkan dirinya berkali-kali kalau itu Draco Malfoy.
.
.
Suara burung-burung hantu yang mengantarkan pos pagi ini mengawali sarapan pagi Hermione,salah sarapan paginya hari ini sudah dihabiskan dengan berdebat dengan Draco Malfoy, serius bahkan setelah lima tahun dia tak bertemu dengannya sekarang Hermione harus menghabiskan waktu bertemu lagi dengan pemuda itu. Tak ada yang berubah darinya masih arogan, sombong dan full self-centris. Tapi harus diakui untuk gadis-gadis yang sedang puber dan betebaran di Hogwarts dia benar-benar popular.
Hermione mengutuk dirinya sendiri kenapa kedatangan pria itu begitu mempengaruhi hidupnya, dia masih tetap Draco Bloody Malfoy. Tapi benarkah dia masih Draco Malfoy yang dulu? Kalau dia benar Draco Malfoy yang dulu, apa dia masih menyukainya seperti yang dia tulis dijurnal? Tapi tunggu apa yang dia tulis itu benar? Semua itu membuatnya pusing seminggu belakangan ini.
Dan entah kenapa Hermione lebih memperhatikan penampilannya sekarang. Bercanda, dia hanya akan berkutat diruang kelas bawah tanah yang gelap dan bau, kenapa juga dia perlu repot-repot untuk sedikit menguncit kuda rambutnya, atau menggunakan parfum, dan hell, Hermione bahkan sedikit memakai make up. Apa yang terjadi pada Hermione yang selalu percaya diri.
Dan sekarang untuk ke lima kalinya dia menatap kaca jendela besar yang menghadap kearah Danau hanya untuk melihat refleksi dirinya dan merapihkan helaian rambutnya yang jatuh membingkai rambutnya. Dan ini hanya karena dia akan mengetuk pintu kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam untuk mengantarkan ramuan yang harus dia berikan.
'Tok tok tok'
Satu kali dia mengetuk
'Tok tok tok'
Dua kali dia mengetuk,
Kesal, Hermione membuka saja pintu itu. Begitu membuka pintu akhirnya dia tau kenapa tak ada yang menjawab ketukannya, karena terlalu berisik, terdengar suara mantra yang berterbangan di ruangan. Hermione melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan berjalan menuju meja guru. Hermione melihat meja itu kosong, Draco sedang tak ada disana. Hermione memutuskan menaruh saja ramuan itu di atas meja, namun sebelum dia mencapai meja itu tiba-tiba dia tak mendengar apapun, tak melihat apapun, gelap, gelap dan gelap.
.
.
Hermione membuka matanya yang berat perlahan. Apa yang terjadi padanya? Dia hanya mengingat kalau tadi dia berada di ruang kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dan sedang membawakan ramuan untuk kelas itu. Sekarang dimana dia? Di hospital Wings? Really? What's happen?
Hermione mengedarkan padangannya dan menemukan pemuda bersurai platina duduk disebelah ranjangnya, wajahnya tersungkur di kedua tangannya, Hermione tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Hermione berusaha memanggilnya namun hanya bunyi erangan yang keluar. Pemuda itu langsung menatapnya, matanya melebar dan kemudian dia berjalan menjauh. Dia datang lagi bersama Madam Pomfrey yang langsung memberinya ramuan menjijikan.
Hermione menemukan kembali suaranya. "Kenapa aku disini?" tanyanya entah pada siapa.
"Karena kau sungguh Bodoh. Seharusnya kau meminta izin kalau mau masuk kelas orang lain, Granger!" jawab Draco dingin.
"Kau terkena manta bius, Miss Granger. Tapi ketika kau terjatuh ramuan penenang yang kau bawa terminum dalam jumlah yang bisa dikatakan besar. Beruntung Mr Malfoy langsung membawamu kemari," jelas Madam Pomfrey.
Hermione mengangguk kecil, kemudian kembali menatap Malfoy, wajahnya mengeras. "Seharusnya kau menutup botol ramuanmu rapat-rapat. Kau benar-benar bodoh," kata Draco habis sabar.
Jujur saja Hermione tak mengerti akan sikap Draco ini. Apa dia khawatir padanya? Atau dia marah padanya? Madam Pomfrey meninggalkan mereka berdua. Mereka hanya diam seribu bahasa. Tak ada yang memulai pembicaraan, Hermione menyadari kalau ternyata langit sudah gelap, obor-obor di dinding rumah sakit itu menyala. Aku harus berterima kasih padanya, kan? Tapi sebelum dia mengatakan apapun. Draco lah yang kemudian berbicara.
"Aku harus pergi," kata Draco kemudian meninggalkannya dengan tanda tanya besar. Hermione melongo memandangnya pergi.
Juni 1992
Hebat, aku dikalahkan oleh Granger, disemua mata pelajaran yang aku pilih bersamanya. Satu kata untuknya, MENYEBALKAN. Father tak habis-habisnya memarahiku dan menceramahiku tentang kemurnian darahdan betapa dia malu aku dikalahkan oleh penyihir kelahiran muggle.
September 1992
Aku masuk menjadi anggota Quidditch SLYTHERIN. Ayah bahkan menyumbangkan tujuh sapu terbang baru NIMBUS 2001. Tapi Hermione Granger, nona tau segala yang ternyata tak tau segala hanya bengong seperti orang bodoh ketika aku mengatai dia darah lumpur, aku yakin dia tak mengerti apa maksudnya. Aku tak sabar melihatnya besok, si bodoh Pothead dan Weselbee pasti sudah memberitahunya sekarang.
Januari 1993
Hermione Granger ada di rumah sakit. Sudah lebih dari dua minggu dia tidak masuk kelas. Banyak yang bilang kalau dia adalah korban penyerangan pewaris Slytherin. Ini menyebalkan semua guru selalu menyebut namanya seakan kami semua orang bodoh. Memangnya hanya dia yang bisa menjawab pertanyaan.
April 1993
Kemarin aku benar-benar berharap bahwa dia adalah korban berikutnya dari si pewaris Slytherin, tapi melihatnya terbujur kaku kenapa aku tak merasa gembira?
September 1993
Dia ikut Arythmancy. Hermione Granger ikut Arytmancy, di satu-satunya Gryffindor yang mengambil mata pelajaran ini. Demi Melin, dia berada di tengah-tengah para kutu buku Ravenclawa dan ular-ular Slytherin dan dia masih saja mengacungkan tangan. Dia cari mati. Tak ada Poty dan Wesel yang akan membantunya kali ini, bahkan tak ada sibodoh Goyle dan Creebe, kelas ini hanya untuk orang-orang pintar. Mari kita buktikan siapa yang lebih pintar Miss Know-it-all.
Juni 1994
You know? Dia menamparku. MENAMPARKU! Fuck!
dia menamparku hanya gara-gara membela ayam peliharaan si pengawas binatang liar yang mencoba menjadi guru dan demi Salazar yang Agung ayam itu menyerangku dan hampir membuatku mati.
Sebenarnya tamparannya tak menyakitkan, serius tangannya bahkan halus sekali. Tapi aku merasa dipermalukan, Fuck! Kenapa aku harus menulis tentangnya, Hermione Granger.
_TBC_
