Summary : Aku Marisa. Aku adalah seekor kucing hitam milik seorang penyihir ternama. Aku hidup bahagia dengan majikanku, tapi, sesuatu malapetaka mengubah hidupku.

All Marisa's POV

Part 2 : Tragedi

Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasa. Aku melihat ke sebelahku, Wine masih tidur, wajahnya manis sekali. Aku menjilati pipi Wine, itu hal yang biasa kulakukan untuk membuat Wine bangun, tapi entah kenapa Wine sama sekali tidak bangun. Aku coba lakukan hal yang sama beberapa kali tapi Wine masih tetap belum bangun.

'Kok aneh sih?' pikirku 'Biasanya, kalau ku jilat sekali saja Wine pasti bangun meskipun kelelahan atau sakit'.

Aku mulai panik. Aku mencoba menyentuh wajah Wine. Dingin. Aku yang tidak percaya dengan apa yang kurasakan langsung mencoba membangunkan Wine dengan menguncang-guncangkan tubuhnya sambil mengeong keras. Tapi hasilnya Wine tetap saja tidak bangun. Aku semakin bingung, panik, pikiranku sudah mulai negatif.

'Wine.. Wine... kumohon, bangun! Bangun!' pintaku. Tapi majikanku itu tetap tidak bangun.

'Wine...'

'Wine...'

'Wine...'

.

.

.

.

.

Aku terbangun dan langsung melihat ke sampingku. Aku kaget melihat apa yang ada di situ, Wine tidak ada di ranjangnya. Aku panik. Apakah yang tadi itu benar-benar sebuah kenyataan? Oh Kami-sama, semoga tidak.

"meong" seruku. Aku mencoba memanggil Wine dengan meongan-ku tapi Wine sama sekali tidak datang. Aku semakin panik.

Klek!

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar. Aku langsung menoleh ke arahnya, dan betapa senangnya hatiku setelah tahu kalau orang yang membukanya itu majikanku sendiri, Wine. Berarti yang tadi itu hanya mimpi, Syukurlah.

"ah, ternyata kau sudah bangun Marisa, Padahal aku baru saja mau membangunkanmu" ujar Wine sambil tersenyum. Senyum yang manis dan hangat seperti biasa. Aku tak ingin kehilangan senyum ini.

"Meong~" ujarku sembari mendekati Wine dan bermanja-manja dengannya. Wine tertawa kecil karena hal yang kulakukan membuanya geli. Dia langsung mengangkatku dan meletakkanku di atas kepalanya. Ah, Wine. Senangnya bisa merasakan rambutmu yang lembut dan wangi.

"baiklah, ayo turun ke bawah. Sarapan sudah siap" seru Wine. Aku mengeong. Tak sabar untuk makan, masakan buatan Wine sangatlah enak. Setelah makan berat badanku pasti bertambah lagi.

Pagi ini Wine memasak masakan kesukaanku. Jamur. Mungkin hal ini aneh bagi kucing untuk menyukai jamur tapi dari dulu aku memang suka Jamur, suka sekali. Apalagi jamur yang dimasak oleh Wine selalu enak aku jadi semakin suka dengan jamur. Setelah makan, Wine mengajakku untuk berbelanja ke Human Village karena bahan makanan sudah hampir habis.

"hmm.. beras, ikan, sayur-sayuran, beberapa rempah-rempah.. hmm.. kurasa cukup" ujar Wine sambil memeriksa barang-barang yang dibelinya.

Tiba-tiba seseorang akan menusukkan belati kecil ke arah Wine. "Meong!" teriakku.

Wine yang mendengar meongan kerasku langsung menghindar dan segera menyembunyikanku di dalam topi penyihirnya. "diam disini sebentar ya, Marisa. Kau akan aman didalam sini"

"jadi, apa mau mu sampai-sampai mau menusukkan belati kepadaku?" tanya Wine pada beberapa orang berbaju hitam yang berdiri dihadapannya.

"berikan magic stone itu pada kami, penyihir!" seru salah seorang yang sepertinya adalah bos-nya

'magic stone? Apa itu?'

"ah, batu itu. Sayang sekali, aku tak membawanya. Lagi pula, aku tak berminat menyerahkannya padamu karena batu itu milikku". Seru Wine lalu berlari meninggalkan tempat itu.

Aku membuka sedikit topi Wine dan melihat ke belakang. Orang-orang itu mengejar kami. Kelihatannya magic stone itu barang yang sangat berharga hingga mereka mengerjar kami untuk mendapatkannya. Salah seorang dari mereka berhasil berlari melampaui kami dan langsung menghadang dari berdua terkepung. Wine mencoba mencari jalan pintas, dia melihat beberapa tumpuk kotak kayu di sebelah sebuah toko. Tanpa ragu Wine langsung berlari ke arah tumpukkan kota kayu dan menjadikannya sebagai pijakan untuk melompat ke atas atap. Tapi tampaknya orang-orang itu tidak menyerah, mereka tetap mengejar Wine.

"cih terpaksa" Wine melompat dari atap lalu memunculkan sebuah lambang sihir di tangannya dan menyebarkannya ke sekelilingnya. "magic sign : Blue Star Spica" seru Wine.

Tiba-tiba, lambang sihir yang disebarkan oleh Wine mengeluarkan bintang-bintang kecil berwarna biru terang. "Exploise!" seru Wine lagi. Bintang-bintang tersebut langsung meledak dan mengeluarkan asap yang cukup tebal. Dengan segera Wine memanggil sapu terbang kesayangannya lalu pergi dari Human Village.

"sial. Bos! Gadis penyihir itu kabur lagi" seru salah satu dari orang-orang berbaju hitam.

"tak apa. Lain kali kali kita pasti bisa mendapatkannya tenang saja" ujar si Bos sambil tersenyum licik.

.

.

.

Karena menggunakan sapu terbang kami bisa cepat sampai di Magic of Forest. Aku benar-benar bersyukur kami bisa cepat sampai rumah, aku sudah benar-benar takut tadi. Wine mengeluarkanku dari topi penyihir hitam miliknya dan langsung memelukku dengan lembut.

"kau pasti takut ya?" ujarnya lembut. Aku mengeong.

"tak apa kok. Sekarang sudah aman"

Tiba-tiba dari balik semak-semak ada sesuatu yang bergerak.

"yo! Wine" seru orang dibalik semak itu.

"aih, Mikan. Ada apa?"

"ng.. tadi, aku mendengar kau dikejar-kejar oleh sekelompok orang, ng, kau tak apa kan? Tidak ada yang terluka?" tanya Mikan pada Wine. Wine terkekeh.

"ya, aku tak apa. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Hey, mau secangkir teh?" ujar Wine.

Wajah Mikan yang tadinya terlihat gelisah karena mengkhawatirkan majikanku langsung jadi ceria. "OK!" serunya. Dan kami pun masuk ke dalam.

Di dalam rumah, Mikan meminta Wine untuk menderitakan kejadian yang baru saja menimpanya (dan juga menimpaku tentunya). Karena Mikan adalah sahabat Wine yang paling dipercaya olehnya dia menceritakan semuanya. Termasuk menceritakan soal Magic Stone.

"wow, batu warna-warni yang indah" seru Mikan kagum "aku baru pertamakali lihat yang seperti ini! Kau selalu gunakan ini untuk apa Wine?"

"hem, biasanya sih untuk mengeluarkan sihir tingkat tinggi. Soalnya batu itu memiliki energi sihir yang sangat besar" ujar Wine lalu mengambil kembali batu itu dari Mikan dan memasukkannya ke dalam sebuah kota segi delapan yang memiliki corak elemen. Wine bilang benda yang selalu ia gunakan untuk meyimpan magic stone itu namanya Hakkero.

"he? Energi sihir yang sangat besar? Pantas saja mereka mengincarnya. Kau harus mulai berhati-hati Wine." Ujar Mikan.

"sepertinya begitu"

Tak lama setelah pembicaraan yang cukup serius itu, Mikan langsung minta pamitan. Entah Wine sadar atau tidak tapi saat itu yang kulihat wajah Mikan langsung gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya.

.

.

.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Wine sering mendapat surat ancaman entah dari siapa. Surat itu berisi ancaman kalau Wine harus menyerahkan Magic Stone karena kalau tidak hal buruk akan selalu menimpanya. Tapi Dengan wajah innoncent Wine selalu mengabaikan surat-surat ancaman itu, membuangnya ke tong sampah. Terkadang Wine juga mendapat serangan mendadak dari komplotan berbaju hitam yang menyerang Wine di Human Village beberapa waktu lalu. Terror itu terus terjadi berulang-ulang. Hingga suatu malam seorang demon datang ke rumah Wine.

"malam" seru sang demon. Wine membungkukkan badannya, memberi hormat pada sang demon.

"selamat malam, Mima-sama" ujar Wine "maaf karena sudah memintamu datang ke sini malam-malam".

Mima tersenyum sambil memasuki rumah Wine.

"tak apa aku sama sekali tak keberatan, toh, aku sudah lama tidak bertemu dengan murid terbaikku" ujarnya sambil berdecak pinggang "jadi, ada perlu apa?".

"ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu Mima-sama" ujar Wine sambil menghidangkan teh untuk Mima.

"tentang?"

"Magic Stone"

"ah, batu itu. Ada yang mengincarnya lagi?".

Wine menganguk pelan. "dan kali ini mereka cukup.. menyebalkan..".

"ada apa? Kau tak sanggup menghadapi mereka?" tanya Mima sambil meminum teh yang dihidangkan Wine.

"bukan begitu.. hanya saja... aku agak sedikit takut. Ah ya! Sebenarnya.." Wine berdiri dari kursinya lalu mendekatkan dirinya ke Mima dan membisikkan sesuatu yang benar-benar tidak terdengar olehku. Mendengar hal yang dibisikkan Wine, Mima hanya diam.

"kau yakin mau melakukanya?" ujar Mima setelah mendengar hal yang dibisikkan Wine, ekspresi wajahnya yang tenang dan berwibawa langsung berubah menjadi serius. Wine menganguk pelan.

"hanya itu satu-satunya cara yang dapat terpikirkan olehku, Mima-sama".

Mima menghela nafas, "baiklah. Aku akan membantumu sebisaku Wine". Ujar sang Master lalu beranjak dari kursinya. Berniat untuk kembali. Saat di depan pintu, wine menarik pelan baju Mima. Mima yang sudah tahu kebiaasaan Wine jika menarik pelan baju seseorang langsung berbalik.

"ada apa?" tanyanya lembut.

"aku punya.. sebuah permitaan.. "

.

.

.

.

Semenjak pembicaraan dengan sang demon –yang ternyata adalah mentor Wine-, Wine jadi sibuk dengan research-nya untuk membuat sesuatu. Setiap hari dia bolak-balik ke kediaman sang mentor untuk membuat benda itu. Sejujurnya, aku tak tahu pasti benda apa yang sedang dibuat oleh Wine dan mentornya yang seorang demon itu, tapi kurasa itu sangat penting baginya. Sampai-sampai belakangan ini wine selalu tidur lebih larut bahkan sering tidak tidur. Hanya demi benda yang dibuatnya itu.

3 minggu berlalu dan Wine masih sibuk dengan research-nya itu. Sekarang ini aku hampir tidak pernah berada dalam belaian dan pelukkan majikanku. Kelihatannya yang ada dipikirannya hingga sekarang adalah bagaimana dia bisa menyelesaikan benda itu secepatnya. Dan selama 3 minggu ini pun, surat ancaman itu terus berdatangan. Semakin hari semakin banyak. Wine terlihat benar-benar stress. Aku tak tega melihatnya. Tapi aku tak dapat berbuat apapun, ayolah! Aku hanya seekor kucing hitam kecil yang takkan dapat bertahan hidup lama jika Wine tak menemukan dan merawatku hingga kini.

Aku menghampiri cermin di kamar Wine dan melihat bayanganku didalam cemin itu.

'Betapa menyedihkannya aku'. Aku mengutuk diriku sendiri karena tak bisa berguna untuk majikanku yang sangat aku sayang.

BRUK!

Aku mendengar ada sesuatu yang terjatuh di ruang research Wine. Aku bergegas melihat apa yang terjadi dibawah sana. Otakku di penuhi oleh pikiran-pikiran buruk tentang Wine. Aku mendorong pintu ruang research, untung Wine tidak menutup pintunya terlalu kuat sehingga aku dapat mendorongnya dengan cukup mudah. Saat masuk ke ruangan itu, aku dikejutkan oleh sesuatu. Aku melihat Wine terjatuh dari kursi kerjanya sambil menggenggam sesuatu di tangannya, dia pingsan. Aku mendekati Wine, wajahnya terlihat pucat. Tiba-tiba saja aku kembali teringat akan mimpiku. Mimpi jika aku takkan bisa melihat Wine lagi. Aku menjilat pipi Wine, mencoba untuk membangunkannya. Dan aku harus bersyukur, karena tak lama kemudian Wine langsung membuka matanya.

"meonngg.." ujarku.

Wine bangun lalu duduk terdiam. Aku naik ke pangkuannya, minta dimanja. Wine mengerti dan langsung mengusap pelan kepalaku.

"maaf ya Marisa, aku menelantarkanmu selama 3 minggu lebih. Tapi, karena aku sudah menyelesaikannya kau takkan terlantar lagi!" ujarnya sambil tersenyum lalu memelukku dengan lembut. "hem.. sekarang, mari buat makan malam! Kau lapar kan Marisa?"

Aku mengeong senang. Tapi meskipun begitu, pikiran burukku tentang Wine masih tak kunjung hilang. Oh, Kami-sama.. semoga pikiran burukku tak menjadi kenyataan. Aku takut kehilangan Wine untuk selamanya.

Aku memperhatikan Wine yang sedang memasak makanan untukku. Merasa diperhatikan Wine menoleh ke arahku lalu tersenyum. Senyum manis yang lembut dan hangat. Tapi semakin aku melihat dan merasakan senyuman itu. Pikiran buruk terus menghantuiku.

Okami-sama... onegai... jangan biarkan hal seperti ini terjadi..

... perasaan seperti ini tak enak..

...aku takut...

.

.

.

.

Setelah sekian lama tidak bertemu, hari ini Mikan bekunjung ke rumah Wine dan bertanya-tanya kepada majikanku kemana saja dia selama hampir 1 bulan. Tapi reaksi Wine atas pertanyaan bertubi-tubi itu hanya tersenyum dan berkata "aku hanya melakukan pekerjaanku sebagai penyihir, itu saja".

Mikan meneguk teh yang disuguhkan Wine. "lalu, apa komplotan itu masih memberimu surat ancaman?" tanyanya

"ya" jawab Wine pendek. "dan yang aku bingung, kenapa mereka bisa mengetahui tempat tinggalku?"

"hem, mungkin mereka punya mata-mata?" ujar Mikan. "lalu, Wine. Apakah magic stone itu masih ada padamu?"

"apa yang kau katakan? Tentu saja masih. Batu itu milikku. Eh, tunggu dulu. Kenapa kau menanyakan tentang keberadaan magic stone" tanya Wine pada Mikan.

Entah kenapa raut wajah Mikan tiba-tiba berubah menjadi sedikit gelisah. "ti-tidak kok.. aku hanya bertanya.. siapa tahu ternyata batu itu sudah ada di tangan komplotan yang kau ceritakan itu..."

Menyadari ada sesuatu yang salah Wine menghampiri Mikan dan menatapnya tajam, membuat wajah Mikan terlihat semakin gelisah. "apa maksud pertanyaanmu tentang magic stone, Mikan? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Wine dengan nada tegas.

Mikan berusaha menutupi wajah paniknya. Tapi karena kelihatannya tidak bisa, dengan cepat dia langsung berdiri dari kursi dan bergegas menuju pintu depan.

"ah, Mikan! Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku!" seru Wine.

"ma-maaf Wine, aku baru ingat kalau aku ada janji!" serunya sambil berlari meninggalkan rumah Wine.

Wine terdiam di pintu depan rumahnya. Berfikir.

'pasti ada yang salah..' gumamnya.

Malamnya, Wine kembali mendapat surat ancaman. Kali ini mereka menulis bahwa mereka tahu tentang keberadaan magic stone dan akan menyerang Wine besok malam jika ia memang takkan menyerahkan magic stone itu. Wine menghela nafas panjang lalu membuang surat itu ke tong sampah.

"jadi, mereka tau..." desis Wine pelan.

.

.

.

.

"Marisa, kau bisa kan simpan ini dan menjaganya sampai Mima-sama membacanya?" tanya Wine padaku sambil memasukkan sebuah kertas kecil ke kalung dileherku. Aku mengeong tanda aku bisa. Wine tersenyum lalu mengusap kepalaku.

"kucing pintar" ujarnnya.

Malam sudah tiba. Dalam surat yang di berikan pada Wine kemarin, mereka akan menyerang pada saat malam hari. Dan Wine sudah siap untuk itu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Wine.

"Mikan?" ujar Wine saat membuka pintu. "tumben kau ke sini, ada ap..."

"dimana magic stone itu kau simpan..." ujar Mikan memotong ucapan Wine.

"apa maksudmu?"

"aku tanya sekali lagi. Dimana magic stone itu kau simpan.."

Tiba-tiba komplotan berbaju hitam yang mengejar aku dan Wine di Human Village bermunculan dari balik semak.

"Wine, aku akan bertanya sekali lagi, kalau tidak menjawab kau akan tau apa akibatnya.." ujar Mikan dengan nada dingin sambil menghadapkan sebuah belati ke arah Wine.

"Mikan.. kau.."

"dimana batu itu?.."

"batu itu ada di ruang researchku yang terletak di sebelah ruang tengah" ujar Wine.

"periksa" perintah Mikan. Beberapa orang dari komplotan langsung memasuki ruang research Wine dan mengambil magic stone lalu memberinya pada Mikan sang boss. Gadis itu memperhatikan magic stone ditangannya lalu membuangnya ke tanah dan menginjaknya hingga hancur.

"dimana yang asli?" tanyanya.

"apa maksudmu, Mikan? Itu yang asli.." ujar Wine.

"tidak, itu palsu! Kau yang membuat batu itu selama 3 minggu lebih kan?" bentak Mikan pada Wine.

Wine menghela napas panjang."sss.. tak kusangka kau melakukan ini padaku, kupikir kita sahabat, Mikan"

"dimana batu itu?.."

"... padahal aku mempercayaimu.."

"cukup jawab pertanyaanku, Wine. Dimana batu itu!"

"..kau tega merusak persahabatan kita?.."

"cukup! Hentikan! Jawab saja ada dimana batu itu!"

Mikan mencoba menusukkan belati itu ke arah jantung Wine. Tapi dengan cepat Wine langsung menahan tangan Mikan dan memelintirkannya lalu mendorongnya menjauh.

"Marisa, lari!" teriaknya padaku. Aku menurut dan langsung lari keluar rumah. Tiba-tiba beberapa orang dari komplotan yang dapat menggunakan sihir menembakkan sihirnya ke arahku, tapi disaat yang sama Wine juga mengeluarkan sihir pertahanannya dan melindungiku.

"takkan kubiarkan kalian melakukannya" ujar Wine.

Aku pun berlari menjauh, meninggalkan majikanku bersama komplotan yang mungkin akan mengejarku juga nantinya. Agar mereka tak menemukanku aku bersembunyi di balik semak-semak dan diam disana. Hujan pun tiba-tiba turun dan aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi pada Wine. Tiba-tiba saja Aku kembali teringat akan mimpiku tentang Wine. Aku menggelengkan kepala dan menguatkan hatiku agar tetap diam disini sampai semuanya kembali tenang, tapi itu tidak berhasil. Pikiran buruk terus saja menghantuiku. Dan pada akhirnya aku diam-diam kembali ke rumah untuk melihat keadaan Wine.

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang aku lihat didepan mataku.

Wine, tergeletak lemas dihadapan para komplotan baju hitam itu. Nafasnya memburu. Kelihatannya stamina Wine sedang memburuk akibat hujan karena Wine memang sedang tidak sehat, sedangkan pada anggota komplotan terlalu banyak. Mikan berjalan ke hadapan Wine dan menarik rambutnya, membuat Wine mendongak paksa.

"dimana kau simpan magic stone.." ujarnya dengan tatapan dingin.

Wine tersenyum. "sampai kapanpun takkan kuberi tau" ujar Wine.

Mikan yang tidak puas dengan jawaban Wine langsung memukulinya beberapa kali hingga berdarah dan melemparnya hingga Wine menabrak pohon. Membuat tubuh Wine semakin tak berdaya. Mikan menyuruh beberapa orang dari komplotan untuk membawa Wine ke sebuah jurang yang memang tidak jauh dari rumah.

"jadi, Wine. Kau tetap bersikukuh tidak mau memberitahukan keberadaan magic stone itu?" tanya Mikan.

Wine menganguk pelan. "lagi pula kalau kalian tau pun kalian tetap takkan bisa mengambilnya. Karena aku meyimpan magic stone di tempat yang takkan bisa dijangkau oleh siapapun".

Mikan semakin kesal dengan jawaban yang dilontarkan Wine dan menyuruh anak buahnya untuk menjatuhkan Wine ke jurang. Sesuai perintah sang boss, mereka pun menjatuhkan Wine ke jurang dan pergi setelah melakukannya.

Aku berjalan pelan ke arah jurang dimana mereka menjatuhkan Majikanku. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Mereka membuang Wine begitu saja kedalam jurang. Aku terdiam. Ingin rasanya aku memaki diriku sendiri karena tak dapat melakukan apapun. Ingin rasanya aku mengutuk diri ini karena tak dapat menolong Wine. Aku mengeluarkan air mata. Menangis. Hatiku rasanya sesak, tak karuan. Tubuh ini rasanya panas. Ingin sekali aku membunuh mereka semua karena sudah berani melakukan ini pada orang yang aku sayang.

Okami-sama..

Kenapa kau lakukan ini padaku?

Kenapa kau biarkan orang yang aku sayang menghilang di hadapanku sedangkan aku tak bisa berbuat apapun untuknya?

Okami-sama...

Jawab aku...

Okami-sama..

.

.

.

.

Yakk~! Gelaappp!

Ahh... chapter 2 selesaiii w

Maaf kalo aneh dan g nyambung :P

RxR please? OwO