Hai everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter ke dua. Anne senang banget dengan respon kalian. Syukurlah ada yang review. Anne takut kalau masih banyak yang ragu sama crossover ini. Eh tadi waktu sahur, Anne coba cek alhamdulillah ada yang review meski masih sedikit. Anne balas dulu, ya!
Ninismsafitri : jati diri Al masih lama ya kebongkarnya.. sabar.. thank you! :)
Kiru Kirua : AAAAAAAAAHHHHHHHH! *teriak pas sahur* hehehe sesuai kan, yups, nggak bakalan sulit kok ngikutinnya walaupun kamu nggak ikutin Hunger Games. Thanks :)
La31 : Hai, akhirnya ada yang ngerasa juga sama nama anak Katniss sama Peeta buatan aku ini. Anne memang kasih nama Willow dan Rye buat anak yang cowok, sengaja buat nama Prim karena alasan jalan cerita yang mulai terlihat di chapter ke dua ini. Memamg sengaja aku buat begitu karena unsur cerita. Kamu bisa baca mulai chapter ini. Thanks.. :) *peluk kamu* ^_^
Yups, langsung saja, yuk!
Happy reading!
Blitz dari kamera Al membuyarkan pandangan di sekitar hutan sementara. Kebiasaan Al setiap Minggu pagi, ia akan keluar rumah dan memilih sendiri dengan kamera menggantung di lehernya. Spot favoritnya adalah salah satu perbukitan mini yang ada di dekat perbatasan hutan dengan desa sebelah Godric's Hollow.
Pagi ini, Al ingin mencari objek baru lain seperti biasanya. Ia ingin mengambil gambar hewan-hewan hutan yang sekiranya muncul di depannya. "Semoga paling tidak aku bisa ambil gambar satu burung saja," pintanya sepanjang jalan setapak menuju hutan.
Sinar blitz selanjutnya tidak begitu kuat, Al mengaturnya sesuai kebutuhan cahaya yang ada di sekelilingnya. Mencari moment dan objek yang tepat.
"Akhirnya kau datang juga, tenanglah makhluk kecil!" Al menemukan seekor tupai hutan yang berdiam diri di dekat pohon dengan sebuah makanan di tangannya.
Beberapa teknik fotografi sedikit banyak ia kuasai melalui buku yang diberikan ayahnya. Cukup dengan membaca, Al sudah mampu mengoperasikan kamera bermoncong cukup panjang hadiah ulang tahunnya ke empat belas dari ayahnya.
Crek.. crek..!
Wuss!
Dua suara berlain sumber beradu jadi satu. Tertuju pada objek yang sama yaitu si tupai.
"Sial! Cahaya apa tadi?" pekik suara lain yang Al kenal siapa pemilik suara itu.
"Busur siapa itu?"
Busur, bukannya gambar tupai yang Al dapat, melainkan busur panah yang menancap di pohon tepat tupai itu berada sebelumnya. Tupai itu sudah lari menjauh.
"Kau?"
"Kau?" Al mendekat pada sosok gadis dengan busur di tangan dan mencangklong sekantung anak panah di bahunya. Gadis itu tetangganya sendiri.
Al menujuk bergantian antara busur yang menancap di pohon dengan kehadiran dirinya, "itu anak panahmu? Tak sengaja terambil gambar," tutur Al merasa tak enak.
"Tupai tadi buruanmu?" tanya Al lagi.
Masih tak ada sahutan dari si gadis. Dia hanya menatap Al dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Maaf kalau aku mengacaukan buruanmu karena sinar kameraku tadi,"
Sejenak tak ada pertanyaan lain dari Al, sudah saatnya ia diam menunggu jawaban dari tetangga barunya itu. "Ya, kau mengacaukan buruanku. Aku sudah hampir satu jam di sini dan baru menemukan tupai itu di hutan .. aku gagal," ucapnya.
"Maafkan aku," sahut Al menyesal.
"Tak apa, mungkin aku juga belum menguasai medan hutan ini," ia menyandarkan busur dan anak panah dari bahunya ke sisi sebuah pohon besar. "Hutan ini terlalu kecil," sambungnya.
Al terhenyak mendengar pendapat gadis itu, hutan ini terlalu kecil? Apa dia sudah gila? Aku saja pernah tersesat di dalam hutan ini, batin Al.
"Pasti kau hobi sekali, ya, berburu? Kau tampak cekatan membawa busur panah itu," Al ikut duduk di sebelah kanannya. Mereka saling diam. Takut memulai percakapan terlebih dahulu.
"Ya," jawabnya singkat. "Panah ini senjata andalan pertamaku sejak kecil,"
"Wow!" kata Al singkat. "Aku juga pernah belajar memanah, tapi bukan panah seperti itu. Crossbow. Sistemnya sama dengan panah meski terkesan seperti pistol. Tinggal arahkan ke sasaran dan tarik pelatuknya. Wuss!" terang Al dengan tangannya bergaya sok mempraktekkan cara membidik.
Gadis itu sampai tertawa melihat tingkah lucu Al dengan gerakan tangannya yang unik. "Kau lucu aa—"
"Al," tangannya mengulur ingin berjabat tangan, "Albus Potter,"
"Willow," jawabnya dengan menjabat tangan Al erat. Senyumannya tercetak jelas di wajah cantiknya. Mata birunya itu menyiratkan arti bersahabat saat menatap manik hijau Al tajam.
Al terkejut, "Willow? Bukannya namamu—"
"Prim? Primrose, itu nama tengahku," jawab Prim santai. Ia kembali mengamati sekitar hutan yang penuh dengan pepohonan rindang. Indah sekali mengingat hutan ini berada di tengah-tengah desa yang damai.
Tidak beranjak dari tempat duduknya, Al berusaha memperhatikan Prim lebih teliti. "Kau gadis kemarin, kan? Kau memang tetangga baruku. Aku tak salah lihat,"
"Kau rabun, ya? Ini memang aku. Tetangga barumu yang karena kedatangannmu kemarin membuatku tak jadi kabur dari rumah!"
"Hah?" Al semakin tak mengerti. Tetangga baru, kedatangannya, kabur, dan masalah yang lain. Apa-apaan itu semua?
"Aku tak mengerti. Baiklah, kita perkenalkan nama lengkap kita masing-masing. Menghadap aku!" pinta Al menarik posisi duduk Prim agar bisa saling berhadapan.
Sekali menarik napas dalam, Al lebih dulu memperkenalkan dirinya, "namaku Albus Severus Potter, panggil saja Al, usiaku 15 tahun dan aku tinggal di samping rumah barumu," perkenalan singkat yang jelaskan oleh Al.
Kali ini giliran Prim. Dengan gaya malas-malas, ia berkata, "namaku Willow Primrose Mellark, 15 tahun dan aku baru tinggal di samping rumahmu," seru Prim diakhiri dengan senyuman tipis.
"Lalu aku harus memanggil kau Prim seperti kedua orang tuamu atau Willow seperti kau tadi memperkenalkan diri?" tanya Al mempertegas.
Prim diam, tak mau bicara. Namanya memang itu tapi untuk urusan nama panggilan.. ia paling tak suka mengungkitnya.
"Terserah kau, kalau kau melihat diriku seperti ini.. lebih cocok nama yang mana?"
"Emm," Al coba berpikir satu nama, "Willow. Lebih mirip seperti aslinya (willow = pohon dedalu), gagah pemberani. Di sekolahku juga ada pohon yang luar biasa besar, gagah dan kuat, kami menyebutnya The Whomping Willow. Nama Prim lebih terkesan perempuan yang anteng, kau lebih cocok sebagai pohon darpada bunga, haha!" oceh Al tanpa tahu penjelasannya tadi bisa menyakitkan hati orang lain atau tidak.
Prim menatapnya tajam, "ahh maaf kalau kau tersinggung, kau perempuan yang—"
"Akhirnya!" pekik Prim senang. Wajahnya mengembang, rasa lega dan gembira luar biasa bercampur jadi satu.
"Akhirnya?" tanya Al lagi-lagi dibuat heran. Gadis ini memang aneh, batin Al.
"Akhirnya, ada yang mengakui kalau aku lebih cocok dengan nama Willow. Tuhan!" Prim menguncang-guncang tubuh Al saking gembiranya.
Beberapa burung saling berterbangan saking terkejutnya dengan teriakan Prim. Daun-daun pohon randu yang mereka sandari bergoyang-goyang terkena hempasan sayap-sayap burung yang saling adu terbang di atas sana.
Al memperbaiki tatanan bajunya yang langsung acak-acakan karena ulah Prim. Untung kamera yang tergantung di lehernya tak sempat terbentur pohon. "Sorry, aku hanya senang saja. Aku sudah sering frustasi kalau berbicara soal nama," tutur Prim sudah kembali tenang.
"Memangnya ada masalah apa dengan namamu?"
"Sejak lahir, Mom dan Dad memberi nama depanku dengan nama tumbuhan. Itu ide Mom. Jadilah aku diberi nama Willow. Tapi saat aku lahir, kata Mom ia seperti melihat sosok adiknya yang sudah lama meninggal pada diriku. Aku sangat mirip dengannya. Untuk mengenang sosok adik Mom, mereka akhirnya memberikan nama adik Mom sebagai nama tengahku, Primrose," Prim terus bercerita tentang perihal nama yang membuatnya jengkel bertahun-tahun.
"Memang aku dipanggil Willow, tapi sejak aku balita, Mom sering salah memanggilku dengan nama Prim. Anehnya, kata Mom, aku sering tersenyum saat ia memanggilku dengan nama Prim. Ya entah itu memang benar atau hanya sekedar pengalihan masaah, dari sejak itu Mom dan Dad sepakat memanggilku dengan nama Prim. Bukan Willow lagi. Tapi.. aku tak suka," tutur Prim. Ia kembali jengkel mengingat kenyataan karena kebiasaan ibunya memanggilnya Prim, teman-teman lamanya ikut memanggilnya Prim.
Al terkekeh mendengar penuturan Prim yang terlampau berlebihan memandang sebuah nama. "Itu hanya panggilan, tak perlu dipermasalahkan bukan?" kata Al.
"Nama itu penting, Al. Itu identitas. Aku tak suka karena Prim membuat Mom dan Dad memandangku sebagai Prim, adik Mom, bukan Willow putri mereka. Aku ingin jadi diriku sendiri. Seorang Willow Mellark. Kau tak tahu rasanya menyandang nama dari orang yang sudah meninggal,"
"Aku tahu!" seru Al singkat. Ia tak melihat kini ekspresi Prim yang bergantian bingung.
Kembali Al memperhatikan Prim sebelum ia mengambil gambar gadis itu cepat-cepat, "kira-kira dong kalau mau ambil fotoku!" Prim jengkel.
"Nama Albus Severus adalah nama dari dua orang idola Dad yang sudah lama meninggal. Dad menamai aku dengan nama itu untuk mengenang dua orang yang Dad anggap sebagai pria yang hebat dan berani yang pernah ia kenal. Jika kau menyandang satu nama dari orang yang sudah meniggal, aku lebih parah. DUA!" Al menunjuk kedua jarinya pada Prim.
"Dan sebab itulah, aku suka cukup dipanggil Al saja. Tak perlu panjang-panjang memanggil Albus. Aku tak suka itu. Semua orang memanggilku dengan Al. Kau juga cukup panggil aku Al, Willow!" kata Al dengan mempertegas nama Willow.
Matahari sudah semakin meninggi meski tak begitu tampak dilihat dari dalam hutan. Al dan Prim sepakat untuk keluar dari hutan dan bergegas pulang.
"Aku tak habis pikir dengan orang tua kita. Suka sekali memberi nama dengan nama orang lain yang mereka kenal," ujar Prim membenahi anak panahnya.
"Ya, mungkin karena untuk menghormati saja. sekaligus sebagai pengharapan orang tua untuk kita agar kita mampu menjadi pribadi yang baik. Nama adalah doa,"
Jalan setapah di luar hutan semakin terlihat. Cukup beberapa langkah lagi, mereka akan keluar dari area hutan lindung kawasan Godric's Hollow.
"Benar sekali, nama adalah doa. Seperti adikku, Rye. Dad adalah pembuat roti yang hebat, mangkanya saat dia lahir, Dad memberi nama adikku dengan nama Rye (Rye = gandum hitam, biasa untuk membuat roti). Benar saja, kalau kau melihat adikku, kau akan melihat dia seperti roti berjalan. Badannya kecil dan gempal seperti roti Bagel," Prim tertawa puas meledek adiknya sendiri.
Al ikut tertawa sembari membayangkan sosok adik Prim yang dikatakan mirip roti khas Polandia itu. "Sama dengan kakakku. Dia diberi nama oleh Dad dari nama ayah Dad dan ayah baptis Dad. Menurut cerita, mereka berdua dulu adalah berandal nakal yang suka menjahili orang. Sama seperti kakakku itu, James. Nakalnya sudah kronis,"
Keduanya kembali tergelak karena masalah nama saudara mereka yang terkesan lucu karena sifat mereka masing-masing. Al dan Prim mulai akrab dengan topik nama mereka.
Rumah bernuansa minimalis klasik sudah terlihat dari ujung jalan. Dari posisi mereka, lebih dulu Prim yang akan sampai ke rumahnya. Tepat di depan pagar, Al dan Prim saling berpandangan. "terima kasih untuk hari ini, seru sekali," kata Prim sebelum ia masuk ke rumah.
"Sama-sama, maaf juga kalau aku merusak hari berburumu,"
"Kau juga, kan? Kau tak mendapatkan gambar tupai itu malah mendapat gambar anak panahku,"
"Tak masalah, yang penting aku sudah mendapat foto dirimu di hutan tadi, hehe," tukas Al dan Prim memukulnya pelan.
"Rupanya kita banyak kesamaan, ya. Dari segi nama. Dan aku berharap kau bisa ceritakan tentang dirimu karena aku tahu.. kau bukan orang Inggris dari aksen bicaramu,"
Al mulai dengan analisis sederhananya. Ia menaksir Prim bukanlah orang asli Britania Raya dari cara Prim berbicara. "Ya, aku bukan asli sini. Aku dari Panem, aku tak akan menjelaskannya sekarang karena orang tua kita sedang ada di belakangmu," suara Prim tercekat mendapati orang tuanya bersama Rye dan orang tua Al beserta saudara-saudaranya sudah berdiri di belakang Al.
"Wow.. hari yang menyenangkan bukan, Al?" seloroh James langsung.
"Ahh—" kata Al gugup. Ia akhirnya melihat sosok adik Prim yang diceritakannya tadi. Benar-benar seperti Bagel.
"Kami baru saja ke rumah keluarga Potter, Prim. Kami mencarimu kemana-mana. Rupanya kau bersama Al," tutur Peeta sambil menggamit tangan Rye erat.
Prim ikut salah tingkah, "kami tak sengaja bertemu di hutan saat aku berburu tadi. Al sedang mencari objek foto," kata Prim dan Al menunjukkan kameranya.
"Ciee yang baru saja berdua di hutan.. romantisnya," bisik Lily. Harry langsung menutup mulut putrinya itu dengan telapak tangan kanannya.
"Kami harus segera pulang, Mr. Mrs Potter. Terima kasih sudah mempersilakan kami mampir,"
"Sama-sama Mr. Mellark, terima kasih juga dengan kueanya. Kebetulan saya suka sekali dengan tart karamel," balas Harry sangat ramah.
Para orang tua kembali sibuk dengan balas membalas ucapan terima kasih sebelum akhirnya mereka sama-sama pulang. "Jika sudah ada kabar, akan saya beritahukan pada anda, sir," kata Harry terakhir pada keluarga Peeta.
"Thanks, Albus.. oh Al," kata Prim sebelum ikut kedua orang tuanya kembali
"You're welcome, Willow!" balas Al sambil tersenyum senang.
- TBC -
#
Hah.. chapter 2 kelar. Maaf kalau masih ada typo dan sebagainya. Al mulai nyaman, nih, dekat sama Prim. Bagaimana kelanjutannya?
Jangan lupa tinggalkan review dan tunggu chapter selanjutnya.
Thanks,
Anne x
