CHAPTER 2
One step closer
Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata
Rate © T
WARNING : Humor gagal, OOC akut, dll
Summary © Peraturan yang di setujui bersama bahwa teman sekelas tak boleh pacaran.
Apa saja yang akan di lakukan Sasuke untuk mengajak Hinata 'melanggar aturan?'
Note © Fic ini terinspirasi dari keseharian Author di kampus, ketika kita sejurusan dan satu angkatan maka tidak boleh ada yang pacaran sesama teman angkatan. Berpacaran dengan teman angkatan akan di anggap Incest.
.
.
.
Sepeda lipat berwarna ungu masih terkapar tak berdaya di garasi rumah oleh karena itu hari ini Hinata memutuskan untuk berangkat bersama kakanda Neji tercinta. Hinata bangun pagi-pagi sekali karena dari zaman Majapahit, mulai dari tentara Kediri pimpinan Jayakatwang menyerang Singhasari sampai zaman Krisdayanti cerai dengan Anang, Neji selalu bangun pagi-pagi buta, pagi rabun bahkan pagi minus –eh?. Ayolah, Neji punya rambut panjang yang harus mendapatkan perhatian ekstra.
Matahari masih enggan menampakkan dirinya untuk menyinari dunia yang sudah berapa kali di isukan akan kiamat di setiap akhir tahun ataupun di hari Jum'at yang bertepatan dengan tanggal cantik (?), tapi mobil Honda Jazz merah sudah terpampang nyata di depan pagar kediaman Hyuuga. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke, ia kini sudah berdiri sambil bersandar di depan pintu mobilnya. Dari kejauhan, Sasuke melihat sebuah motor sport di kendarai oleh seseorang yang berseragam sama dengannya.
'motor ini sepertinya tidak asing' batin Sasuke tak melepaskan pandangannya dari pengendara motor yang sepertinya menuju ke arahnya.
Si pengendara motor menghentikan motornya tak jauh dari mobil Sasuke, ia membuka helm yang menutupi rambut merahnya. Ah, Gaara juga datang mengambil posisi parkir di depan kediaman Hyuuga.
"Sasuke? Apa yang kau lakukan pagi-pagi sudah di depan rumah Hinata ?" tanya Gaara heran.
"Apa maksudmu?" bertanya ala kadarnya, sementara otak Sasuke mulai berputar mencari alasan.
"Toko sayuran di komplek ini bahkan belum buka" Gaara turun dari motornya, mengambil posisi yang sama dengan Sasuke. Gaara benar-benar merasa Sasuke sudah rangkap jabatan sebagai pelajar sekaligus sebagai Ayah rumah tangga.
"Aku.. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat ada tanaman unik di taman ini dan secara kebetulan tanaman itu ada di dalam sana, ah, ternyata ini rumah Hinata. Astaga, Aku baru sadar" Sasuke mulai menunjuk sesuatu di dalam taman dengan wajah polos-polos berdosa miliknya.
"Mana ? Aku tidak melihatnya?" Gaara meninggalkan posisi nyamannya, mendekat kepada Sasuke yang sedang menunjuk sesuatu di dalam sana. Kalau di pikir-pikir berdiri tegap begitu saja tanaman korban kebohongan Sasuke sudah sangat susah di lihat, apalagi kalau hanya numpang lewat dan masih sempat-sempatnya melihat tanaman tersebut.
"Lalu kau ? apa yang kau lakukan disini? Rumahmu jelas-jelas tak di sekitar sini" tanya Sasuke menyelidik.
"Aku sedang ingin makan bubur ayam yang terkenal di komplek ini. Masih beberapa meter di depan sana. Waktu aku lewat di depan rumah ini, aku takjub melihat desain pagar ini. Kau tahu kan aku sangat ingin menjadi arsitek dan entah mengapa pagar ini sangat menarik untuk di-"
Piiippppp... ppiiippppppppp
Mobil di dalam pagar membunyikan klakson panjang yang menghentikan pembicaraan tak masuk akal dari pemuda pengagum tanaman Hyuuga dan pemuda pengagum pagar Hyuuga. Neji keluar dari mobil dengan langkah cepat untuk membuka pagar.
"Apa yang kalian lakukan disini? Tanya Neji dengan suara yang jauh dari kata sopan.
"Astaga, Sasuke. Ternyata ini rumah Neji. Bagaimana mungkin aku bisa sampai disini?" Gaara merangkul leher Sasuke dan matanya berkedip memberi kode.
"Ah, haha. Kau benar ternyata ini kediaman Hyuuga, ya ampun bagaimana bisa aku juga sampai disini" Sasuke mengikuti permainan Gaara.
"Kau ?" Neji sudah sangat bosan dengan wajah Sasuke, kali ini sepertinya Neji penasaran dengan si rambut merah ini.
"Ohayo Senpai, perkenalkan namaku Gaara, aku anak tunggal dari 3 bersaudara (?), cita-citaku ingin menjadi arsitek, aku bla.. bla.. bla.. " Maksud hati ingin bertanya 'apa yang sedang kau lakukan' tapi apa daya yang di tanya malah memperkenalkan diri sampai nama nenek dan cicitnya.
"Sasuke ? Gaara ?" Hinata muncul dari belakang mobil Neji, tak biasanya depan rumahnya sudah berisik ketika beberapa orang masih sibuk menggunakan selimut tetangga (?).
"OHHAYOO HINATA-CHAANN!" Sapa Sasuke dan Gaara bersamaan dengan nada yang sangat panjang.
"Pergi, motor dan mobil kalian menghalangi mobilku yang akan keluar" Neji mengusir tapi sepertinya tak di pedulikan.
"Hinata-chan, sepedamu masih rusak ya? Bagaimana kalau ku antar?" yosh, Sasuke mulai mengambil start jongkok.
"Apa maksudmu, Sasuke? lebih baik naik motor denganku saja, dengan menggunakan motor Hinata-chan masih akan merasakan seolah-olah berada di sepeda tanpa pengayuh" Gaara tak mau kalah.
"Aku-"
"Tidak akan, Hinata akan bersamaku" Neji mulai ikut-ikutan, sementara Hinata sudah panik sendiri.
"Neji-nii, aku-" Hinata mencoba melerai.
"Kau kan ketua Osis, pergi saja duluan. Biar Hinata-chan aku yang urus" setelah menyerang Sasuke, kini Gaara menyerang Neji.
"Ah, Gaara. Hari ini jadwal piketmu, lebih baik kau kesekolah duluan, bantu Tenten dan Matsuri membersihkan. Hinata-chan akan aman bersamaku" hari ini hari selasa Sasuke, Gaara piketnya di hari Rabu.
Perdebatan mereka terus saja berlanjut di depan pagar, Neji yang ngotot tak akan membiarkan Hinata diantar siapapun selain dirinya, Sasuke yang terus saja memaksa Gaara piket meski belum waktunya dan Gaara yang mengait-ngaitkan Hinata dengan jabatan ketua osis Neji. Ada yang aneh, suara Hinata sudah tak terdengar lagi. Neji, Gaara dan Sasuke melirik ke samping mobil Neji.
"TIDAK ADA!" mereka bertiga berteriak bersamaan, sementara di ujung jalan sana...
"Bang, ojek bang. Konoha High School ya.." tak kunjung menemukan titik terang, Hinata memutuskan untuk naik ojek saja.
.
.
.
Berdasarkan beberapa sumber, salah satu tanda kiamat adalah matahari tak muncul di siang hari. Tidak ingin kabar buruk tersebut menjadi nyata sebelum semua penyandang status Jones (Jomblo Ngenes) di dunia ini menemukan belahan hati mereka, dengan terpaksa pusat tata surya bernama matahari beranjak dari peraduannya untuk bersinar terik se-terik-teriknya. Apalagi di bawah sana, tepat di lapangan upacara KHS dua siswa sedang berdiri mengagumi keagungan bendera merah putih yang melambai-lambai tertiup angin, sungguh siswa yang memiliki jiwa cinta tanah air yang tinggi. Semangat masa muda mereka membuat sang Surya makin bersinar out loud.
Perdebatan sengit yang tak kunjung bersambung ataupun tamat layaknya sinetron di televisi membuat 3 orang siswa KHS harus terlambat masuk sekolah. Neji selaku ketua Osis memiliki 1001 alasan untuk lolos dari hukuman pidana maupun hukuman perdata guru BK KHS, sedangkan Gaara dengan status 'calon arsitek' dan Sasuke dengan status 'si percaya diri nomor 1' tak memiliki jaminan apapun untuk lolos dari hukuman. Jadilah mereka harus mengadakan upacara tunggal (karena 'konser tunggal' sudah terlalu mainstream) alias di hukum.
Neji yang lolos tanpa hukuman, berlalu di depan Sasuke dan Gaara dengan senyum yang di licik-licikkan. Hal ini tentu saja membuat Sasuke dan Gaara makin kesal saja dengan Neji. Lalu dari kejauhan tampak seorang bidadari tanpa sayap berambut panjang membawa sebotol air minum pelepas dahaga bagi para pengagum tiang bendera lapangan KHS.
"A-ano, go-gomen nee, gara-gara aku kalian harus di hukum karena terlambat. Ini ambillah" Hinata menyodorkan botol minuman. Sebenarnya bukan gara-gara Hinata juga sih, tapi mau bagaimana lagi sifat menyalahkan diri sendiri sepertinya sudah dipatenkan oleh Hinata.
"Aku tidak haus Hinata, aku kan strong" eaaa... Gaara mulai sok kuat padahal rasa hausnya sudah berontak minta air.
"berikan saja pada Sasuke, sepertinya dia sudah kehausan" sambung Gaara meremehkan sekaligus menantang Sasuke.
"Tidak Hinata, aku tidak akan membuatmu kehausan hanya karena aku meminum air minummu" Sasuke sok gentle.
"Kumohon ambillah, hitung-hitung sebagai tanda permintaan maafku" Hinata menyodorkan sambil menunduk.
"Ah, Hinata mah gitu orangnya, suka memaksa. Baiklah akan ku minum airnya" Gaara ingin mengambil botol minuman tersebut tapi buru-buru di tepis oleh Sasuke.
"Kau kan strong. Orang strong tak butuh air" kini giliran Sasuke yang ingin mengambil air botol tapi lagi-lagi di gagalkan oleh Gaara.
"Katanya kau tidak akan membuat Hinata kehausan," Gaara mengembalikan kata-kata Sasuke.
"setelah ku lihat-lihat, Hinata tidak terlihat kehausan" Sasuke memberikan pembenaran.
"Ah ada air" Seseorang merebut botol minuman di tangan Hinata.
"Gui-Sensei, JANGGAAANNNN!"
Glek
Glek
Glek
Dalam beberapa tegukan botol minuman tersebut sudah habis, di ikuti dengan kata 'ah..' dari Gui-sensei pertanda rasa dahaganya sudah hilang.
"Ingat anak muda, setelah selesai olahraga kalian wajib minum air seperti apa yang baru saja Sensei lakukan" Gui-sensei yang baru saja selesai mengitari KHS 100 kali memberikan nasehat kemudian berlalu.
Beberapa saat kemudian, ruang KHS sudah di isi dengan dua siswa yang pingsan karena dehidrasi.
.
.
.
Bagi Sasuke dan Gaara, 2 jam terasa sewindu delapan hari. Gaara lebih memilih ngadem di kantin, sedangkan Sasuke lebih memilih berdiam diri di kelas. Sasuke membuka lock-screen Iphone-nya melihat beberapa bbm yang masuk, tidak ada yang penting hanya broadcast yang berisi ancaman akan di datangi hantu jika tak menyebarkan pesan broadcast tersebut. Sasuke membuka news feed dan mendapat status Hinata yang kira-kira tertulis seperti ini 'Di cari guru les privat Matematika (tingkat SMP), bagi yang berminat ataupun mengenal guru les yang bisa mengajar diharapkan menghubungi nomor ini 021-877xxx'. Sepersekian detik kemudian, Sasuke sudah tertawa jahat.
Gaara melihat Sasuke sudah pulang lebih dulu, ini artinya 'kesempatan' mengantar Hinata tanpa adegan perdebatan menguras emosi.
"Sasuke sudah pulang , Neji juga pasti sudah pulang. Baiklah, aku akan menunggu Hinata sampai kegiatannya selesai di klub musik" hari ini adalah jadwal ekskul musik, biasanya akan selesai jam 4 sore tapi sekarang masih jam 1. Ah, meski Sasori tak mau menunggu dan membuat orang lain menunggu tapi menurut Gaara menunggu Hinata adalah kegiatan yang menyenangkan.
Di sisi lain, pemuda berambut kuning jabrik memberikan laporan kepada pemuda berambut nanas.
"APA ?" Kiba histeris.
"Hei Kiba, aku yang di beritahu. Harusnya aku yang kaget, bukan kau!" Shikamaru protes merasa peran dan kata-katanya di ambil.
"Gomen, gomen"
Shikamaru menarik nafas dalam-dalam, lalu-
"APA?" Shikamaru mengambil kembali peran dan kata-katanya yang sempat di sabotase oleh Kiba.
"Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi, kita harus melakukan sesuatu" lanjut Shikamaru yang di ikuti anggukan oleh teman-teman yang lain (Kiba, Naruto, Shino, Lee dan Chouji).
.
.
.
Dewi fortuna dan jajarannya sedang berpihak kepada Gaara, di jok belakang motornya yang sudah terbiasa kosong kini sudah di isi oleh Hinata. –ciee, nganterin pulang cieee-. Kesempatan seperti ini sangat jarang di dapatkan. Sebagai pejuang cinta, Gaara tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. –sikap yang wajib di tiru para jones-
"Arigatou, " Hinata turun dari motor Gaara, biasanya jika di antar 'teman' setelah kita mengucapkan kata terima kasih, yang mengantar biasanya langsung putar balik back to home tapi akan beda halnya jika yang mengantar adalah Gaara.
"Aku harus memastikan Hinata-chan selamat dalam perjalanan dari pagar ke dalam rumah" Ayolah Hinata, Gaara ingin masuk. Mungkin ingin berkenalan dan mengambil langkah one step closer dengan Ibu Hotaru atau Kakak Neji.
"Ba-baiklah," dengan malu-malu Hinata mengijinkan Gaara 'mengamankan' perjalanannya yang hanya berjarak sekitar 5 meter saja.
Gaara sudah merasa mencuri banyak moment di banding dengan Sasuke, nasehat semacam "Taatlah pada aturan wahai anak muda" tak di hiraukan Gaara.
'Ah, aturan ada untuk dilanggar' batin Gaara.
"tadaaimmmaaa..." Hinata mengucap salam sambil membuka sepatu lalu menggantinya dengan sandal rumah. Gaara? Tenang saja, sepertinya Gaara sudah sangat siap menghadapi apapun yang terjadi saat ia memutuskan untuk nekat masuk ke dalam kediaman Hyuuga.
Hinata heran, tak ada jawaban. Neji, Hanabi dan Ibu mana ? Hiashi tidak di hitung karena sedang berada di Australi. Hinata berjalan melewati ruang tamu, kosong. Belok sedikit ke ruang keluarga yang di dominasi oleh sofa dan karpet bulu, tampak Neji sedang duduk di sofa dengan melipat tangan di dada, kaki kanannya di angkat bertumpu pada kaki kirinya. Tampak angkuh dan sangat kesal dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Dari posisi Hinata berdiri saat ini, pandangannya terhalang sandaran sofa sehingga ia tak bisa melihat apa yang membuat kakak sepupunya sangat kesal. Penasaran, Hinata menghampiri.
"Ha ?" Hinata cengo.
"K-kau..?" Gaara juga ikut-ikutan.
"Okaeri Hinata-chan!" Sapa Sasuke santai, di depan Sasuke terdapat meja persegi panjang lalu ada Hanabi yang terlihat sibuk mengerjakan soal Matematika.
"Apa yang kau lakukan disini Pantat Ayam ?" Gaara menunjuk-nunjuk Sasuke layaknya pencuri yang ketahuan menangkap ayam tetangga.
"Aku sedang bekerja, menjadi guru les privat Hanabi" dilihat dari manapun, Sasuke bukanlah orang yang harus bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhannya. Sekarang, Gaara mengerti mengapa Sasuke pulang cepat saat bel berbunyi. Ternyata Sasuke juga sudah punya rencana yang sangat matang, terbukti dari beberapa buku Matematika yang di bawa Sasuke,kostum pun sudah berganti dari seifuku KHS menjadi blue wash jeans, kaos hitam dan sweater hitam.
"Kau si anak tunggal dari 3 bersaudara (?), apa yang kau lakukan disini? Berani-beraninya kau masuk tanpa izin" hari-hari Neji mulai kacau.
"Aku hanya memastikan Hinata aman, apa kau tidak mendengar ada banyak kejadian seorang gadis di culik saat dalam perjalanan dari pagar ke pintu rumahnya?" oh, Ayolah Gaara.
"Pergi ka-"
"Wah, wah sepertinya kita kedatangan banyak tamu hari ini," Ibu Hinata muncul dari dapur tersenyum ramah. Gaara menunduk memberikan salam dan memperkenalkan diri, takut Ibu Hinata a.k.a calon ibu mertua merasa ilfeel akhirnya Gaara memperkenalkan diri secara normal saja. Tak seperti caranya memperkenalkan diri dengan Neji tadi pagi.
"Sasuke-kun dan Gaara-kun, tinggallah untuk makan malam bersama" Ibu Hinata menawarkan,
"Tapi Bu, mereka-" di depan pagar saja, Neji tak suka apalagi kalau harus makan bersama di meja yang sama.
"HAI'" kata Sasuke dan Gaara bersamaan.
Suara gemuruh berasal dari ruang tamu, sontak seluruh penghuni ruang keluarga mengarahkan pandangan kepada sumber suara dan mendapati-
"KAMI JUGA INGIN MAKAN MALAM TANTEE..." kata ini di ucapkan dengan nada yang persis seperti iklan di tv (kami lagi latihan tante). Neji, Hinata, Sasuke dan Gaara sweatdrop berjamaah melihat kedatangan orang-orang tak di undang, Shikamaru, Naruto, Kiba, Shino, Lee dan Chouji. Tolong ! Siapa saja, selamatkan Neji yang hampir terkena serangan jantung dadakan.
.
.
.
Ibu Hinata, Hanabi dan Hinata terlihat sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk makan malam para tamu tanpa undangan. Sementara di ruang keluarga aura kejam nan sadis milik Neji sepertinya sudah menguasai ruangan, terbukti dari tak ada satupun orang yang mampu mengeluarkan suara. Sasuke yang duduk melantai di karpet bulu menunduk sambil memilin-milin bulu karpet, sesekali matanya mencuri pandang melihat Neji yang duduk di sofa, Gaara yang memilih duduk di belakang Sasuke, Chouji yang sibuk makan kripik sambil menonton acara komedi, Shikamaru, Naruto, Kiba, Shino dan Lee duduk di sofa panjang, posisi mereka terlihat hampir membelakangi Neji dan saling berhadap-hadapan.
"Jadi, ide siapa ini?" Neji mulai bersuara.
"HAHAHAHA..."
Plaakkk,
"Diam, bodoh!" baru saja, buku setebal 5 cm yang di bawa Naruto mendarat sempurna di kepala Chouji. Neji sedang marah dan Chouji malah Laugh out Loud. Sayangilah nyawa kalian.
"Aku jelas, bekerja sebagai guru les!" Sasuke memberikan alasan yang tak mungkin di tolak oleh Neji.
"Aku mengantar Hinata" di susul Gaara. Neji mulai menelusuri satu persatu dari 6 orang yang sepertinya tak memiliki alasan yang kuat untuk tetap berada di rumahnya.
Lee yang mulai risih di tatap oleh Neji memperbaiki pakaian ketatnya,
"Tenang saja, dia normal. Dia bukan penyuka sesama jenis jadi jangan melakukan gerakan tambahan. Kau mengerti?" Kiba berbisik kepada Lee yang sepertinya tak kunjung menemukan zona nyaman di pakaiannya.
"Aku ha-hanya ingin belajar Matematika juga" dengan takut-takut Naruto memeluk buku di tangannya.
"Belajar Matematika katamu? Lalu untuk apa kau membawa buku Biologi?" kata Neji melihat sampul buku yang di dominasi oleh gambar tumbuhan.
"Dasar bodoh! Itu buku Biologi" bisik Kiba kepada Naruto,
"Mana ku tahu, kau bilang buku Matematikamu ada di atas meja. Jadi ku ambil tanpa melihatnya" Naruto bali berbisik.
"Kalian yang bodoh, buku Matematika itu masih ku pinjam!" Shikamaru ikut berbisik. Mengingat buku Matematika tersebut memang masih ada di rumahnya. Oh, dude!
.
.
.
Makan malam sudah siap, Hinata mempersilahkan Sasuke, Gaara dan geng yang tak di undang untuk makan. Butuh kursi lebih untuk makan bersama, untung saja keluarga Hyuuga memiliki banyak kursi plastik.
'Persetan dengan kursinya, yang penting makan' entah kata hati siapa ini.
Neji duduk di kursi paling depan, di sampingnya ada Hinata, Hanabi dan Ibu Hinata. Sementara cecunguk-cecunguk yang lain duduk teratur tanpa perlu di perintah.
"Kau yang terlihat tak banyak tingkah, kau terlihat kalem. Pimpin doa atau kau dan teman-temanmu tidak makan" kata Neji menunjuk Shino menggunakan sumpit. Shino tampak panik dan di desak oleh teman-temannya yang lain, mau tak mau Shino harus memimpin doa.
"Sebelum kita makan, marilah kita berdoa dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai... Berdoa selesai" pemimpin doa teladan.
Makan malam sudah selesai, 8 orang asing di kediaman Hyuuga membantu bersih-bersih. Mulai dari membersihkan meja, cuci piring, dll. Setelah bersih bening seperti tanpa kaca, semua orang hijrah berkumpul di ruang keluarga bercengkerama, bercerita ini itu.
"Akan sangat seru jika kita di izinkan menginap" celetuk Lee ceplas ceplos terbawa suasana. Neji berdiri mengambil katana yang terpajang di dinding lalu duduk sambil membersihkannya. Come on, boys Neji sudah tak tahan.
"hmm... kalian ingin menginap ternyata.." kata Neji pelan sambil melihat-lihat katana kesayangan Hiashi.
"Ah, kalian saja yang menginap. Aku hampir lupa, ada yang harus ku lakukan besok pagi. Hinata-chan, aku permisi dulu... " cepat, tegas dan tangkas, Sasuke merasa sudah ada yang tak beres dengan Neji. Sasuke cepat-cepat keluar.
"Sasuke bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Baiklah, aku harus menyusul Sasuke mengingatkannya untuk memberi makan ayam peliharaan warna-warni miliknya. Permisi..." Gaara pun menyusul Sasuke, meninggalkan 6 orang yang masih ada dalam ruangan.
"Bagaimana ini ? Sasuke bahkan lupa dimana ia menyimpan ayam peliharaannya. Aku harus membantu Sasuke mencarinya. Permisi.." tak ingin berlama-lama, Shikamaru juga angkat kaki.
"Sasuke bodoh, bagaimana bisa dia memberi makan ayam kalau bibit makanan ayam saja tak punya. Aku harus menemani Sasuke ke toko langgananku. " Naruto juga sudah menemukan alasan untuk pergi.
"Naruto baka. Percuma punya bibit makanan kalau ayam Sasuke tak punya kandang. Aku harus membuatkan kandang ayam untuk Sasuke. " Kiba menyusul teman-teman yang lain.
"Aku akan ke hutan mencari kayu untuk kandang ayam Sasuke" entah sejak kapan Shino jadi tukang kandang ayam.
"Hei, Shino sejak kapan kau terbiasa ke hutan. Se-sepertinya kau butuh bantuanku untuk mengantarmu ke hutan" Lee dengan sigapnya meninggalkan ruangan horror tersebut.
Kini tersisa Chouji yang gelagapan, sementara di ujung sana berkumpul teman-temannya yang lain yang berpose angkat besi untuk menyemangati Chouji.
"Ya ampun bagaimana ini? Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku katakan..." Chouji tanpa alasan tapi mampu kabur dengan jelas meninggalkan keluarga Hyuuga yang terheran-heran...
.
.
.
TBC
Semoga tidak mengecewakan.
