RE-MAKE STORY

ORIGINAL STORY BY OtsuTaka-chan Amadeus Matsumoto

Cerita ini bukan asli milik saya, cerita ini aslinya milik Otchuu. Aku cuma remake dengan beberapa cerita yang aku ganti nyesuaiin sama Chara disini karena asli ceritanya milik Otchuu tuh OC alias Ori Chara. www aku beraniin diri buat minta izin sama Ochuu tuh pas dengerin lagunya Luhan – Our Tomorrow. Rasanya pas dengerin lagu itu langsung kepikiran sama Luhan. Karena dulu pas Otchuu bikin cerita ini tuh kita sering banget gosipin teman aku yang namanya dipake sama Otchuu buat nama di FF ini dan ya..

Dan yang pasti aku udah dapat izin dari Otchuu ya~ :3

Kalau mau cerita aslinya silakan PM nanti akan aku kasih linknya .

Happy read and review ? Heheheh

Let Me Be The One

Original Story by Otsu and Re-Make by me, DeathSugar

HunHan

.

.

.

Happy Reading and review please~

.

.

][ DeathSugar ][

Chapter 2

Let Me be the ONE

Present and Enjoy reading, guys ..

— Sehun's POV —

"Kau..." desisku.

Aku benar-benar kaget melihat wajah anak ini. Kai yang berdiri di samping kananku menyikut pinggangku pelan, membuatku tersadar dari keterkejutanku.

"Kau kenal dia, Hun?" tanya Kai agak berbisik, aku beralih menatapnya.

"Tidak" kataku singkat.

"Lalu kenapa reaksimu seperti itu, ha?" matanya menyipit, menatapku dengan curiga.

Bibirku mengatup. Oh ya, aku hanya kaget melihat wajah yang sama dengan yang ada di pameran foto Lay-Hyung kemarin. Anak di depan kami ini bukannya merespon pertanyaan Kai yang menanyakan namanya malah beranjak pergi memegang tali kendali anjing yang di bawanya.

"Huahahahahahahahahahahahahah" tawa Chanyeol meledak.

"Aku tidak tahu kalau rasanya diacuhkan seperti ini. Tao-ya.. apa kau bawa kantong plastic? Ingin rasanya kututup mukaku ini~" Chen menambah-nambahi.

"Kau menantangku, Unta. Kau mau aku hajar?!" Kai menggulung lengan kaosnya bersiap menghajar Chanyeol dan Chen yang menertawakannya.

"aku bawa plastic. Tapi kurasa plastic 'pun enggan untuk digunakan Si Hitam ini." Tao menahan tawanya saat itu karena Kai sudah memberinya tatapan, 'diam kau Panda!'

Tapi Kai tidak menyerah, bocah ini memang nekat. Aku salut dengan keberaniannya untuk berkenalan dengan anal ini, atau mungkin Kai memang sudah putus urat malunya. Entahlah..

"Hei Nona!" Kai memanggil anak itu.

Alisku ku angkat sebelah, rupanya panggilan Kai membuat anak itu berhenti berjalan. Ia menatap kami dengan tatapan datar.

"Aku belum tahu namamu" sambung Kai.

Astaga, anak bener-bener. Kenapa bebal sekali! Anak itu tidak suka padamu Hitam !

Anak itu hanya menatap kami untuk beberapa detik, lalu membuka bibirnya mengucapkan sesuatu.

"Ya! Aku laki-laki, dan bukan Nona. Kau tidak tahu? Aku ini ssang namja!" ujarnya membuat mataku melebar mendengar suaranya yang memang tidak bisa di sebut seperti perempuan, tapi tidak terlalu laki-laki juga. Suaranya itu lembut, ada sesuatu yang membuat suara itu begitu membuatku merasa…. Ugh entahlah.. seperti ingin selalu mendengarnya.. lembut dan dingin diwaktu yang sama..

"Eh? Benarkah?" ku lihat Kai tampak sedikit kaget.

"Tapi kau manis dan imut-imut loh, yakin kau laki-laki?" Chanyeol ikut-ikutan entah sejak kapan padahal tadi dia sibuk dengan Chen dan Tao.

"Mau bukti, eoh?"

Aku menatap anak itu dengan tatapan menyelidik. Yah, apa yang ku lihat memang tampilannya memang terlihat seperti anak laki-laki kebanyakan, jeans biru yang sobek di bagian lutut dan baju yang sedikit kebesaran di badan kecilnya, tapi dia tidak terlalu kecil juga, dia mungil mungkin lebih tepatnya, wajahnya juga manis dan imut diwaktu yang sama apalagi bibir dan hidungnya itu, uuughh—membuatnya terlihat lucu dan selalu ingin menciumnya, membuatnya terlihat seperti wanita, tidak ada jakun—eh ada walau tidak terlalu terlihat, dan yang terpenting tidak ada payudara besar, dadanya rata. Hehe~

"Masih ingin kenalan?" tanya anak itu datar.

Sungguh aku benar-benar ingin tertawa melihat wajah shock teman-temanku. Aku bahkan bisa melihat wajah Kai yang menahan malu dan gondok diwaktu yang sama. Chanyeol dan Chen juga terlihat shock. Tentu saja, selain aku, Chanyeol dan Tao yang terlihat malas berkenalan dengan anak manis dihadapan kami, Kai dan Chen yang terlihat begitu antusias. Astaga.. dan ketika mereka tahu ada seorang laki-laki, seorang NAMJA yang mereka goda, aku yakin setelah ini mereka akan mempertanyakan orientasi mereka. Kecuali Chanyeol. Ya, 'kudengar dia memilik pacar seorang lelaki—teman masa kecilnya. Tapi entahlah, Chanyeol tidak terlalu terbuka soal siapa itu Baekhyun atau Bacon?

Kembali ke sosok manis dihadapan kami ini. Anak itu masih menatap kami, sampai Kai pun bersuara. Menyadari kebodohannya mungkin.

"Eh...t-tidak...maaf.. haha" Kai berkata sedikit shock. Bahkan nada tertawanya itu terlihat sekali seperti dipaksakan. Astagaa..

"Tidak masalah. Kalau tidak ada keperluan lagi, aku permisi" Anak itu kembali berjalan meninggalkan kami bersama anjingnya. Dan tawa Chen kembali membahana. Aku hanya mengulas senyum tipis melihat tingkah kekanakan mereka.

"Sudah ayo pulang! Cukup sampai disini saja latihan hari ini!" kata Kai. Mukanya terlihat kesal sekali.

Anak-anak beranjak kembali ke lapangan, Chanyeol dan Tao tidak berhenti menertawai Kai yang sedang kesal. Aku hendak mengikuti mereka, tapi aku teringat akan sesuatu. Ah tidak, lebih tepatnya aku harus memastikan sesuatu! Ku putar kakiku mengikuti anak manis itu, jalannya tidak terlalu cepat jadi aku bisa mengikutinya.

"Hei kau!" panggilku lantang. Tapi anak itu masih terus berjalan dengan anjingnya. "Kau yang berbaju garis-garis!" seruku lagi. Berhasil, ku lihat dia menoleh padaku dan berhenti berjalan. Ku percepat langkahku mendekatinya. Sepertinya aku benar-benar lelah malam ini, padahal hanya mengejar anak ini tapi rasanya sangat lelah.

"Ada yang bisa ku bantu?" tanyanya menatapku datar dengan ke dua matanya yang polos dengan bulatan hitam di tengah yang besar. Err—mata itu..

"A-ada yang ingin ku tanyakan" aku menyahut. Rasanya aneh juga di tatap oleh anak semanis ini.

"Apa?"

Aku menarik nafas, lalu menghembuskannya. Tiba-tiba saja aku grogi, aneh.

"A...aku melihat fotomu di pameran foto teman Hyung-ku. Apa kau modelnya?"

Anak itu diam beberapa saat menatapku.

"Foto?" ia memiringkan kepalanya sedikit. Jari telunjuknya ia angkat dan kemudian ia letakkan didagunya. Bibir kissable itu mengerecut lucu seraya jari telunjuknya mengatuk-ngatuk dagunya, ia terlihat tengah mengingat-ingat. Astaga.. wajah ini… Ah, imutnyaaaaa~. Hah?! Apa yang ku pikirkan sih?! Sadar Oh Sehun ! yang berdiri dihadapanmu itu adalah seorang NAMJA ! DIA ITU LAKI-LAKI !

"Ah itu, aku hanya ingin memastikan apa kau orang di foto itu atau bukan" kataku cepat, otak ku sudah mulai konslet sepertinya.

"Memang seminggu yang lalu ada orang yang memintaku untuk jadi modelnya, tapi untuk satu foto saja"

"Apa temanya angel?"

Dia mengangguk. "Iya, kenapa?"

"Jadi benar itu kau?"

"...mungkin, entahlah" pipinya bersemu. Dia malu?

"Aku benar-benar suka foto itu, kau terlihat menjiwai" kataku tulus. Hey, aku benar-benar suka fotonya. Jangan berfikiran kalau aku ini menikung. Tidak. Aku masih normal dan masih menyukai dada besar seorang wanita. Oke?!

"Pameran ya..." ia mendesis.

"Kenapa?"

Dia menggeleng.

Aku diam, tidak tahu harus bicara apa lagi, dan dia sendiri sepertinya kepikiran soal pameran foto yang ku singgung tadi.

"Anjingmu?" bibirku bergerak sendiri. Ia menatapku lagi, lalu menatap anjing yang berdiri di dekat kakinya.

"Bukan, punya orang" ucapnya menatap anjing tersebut.

"Oh..." hanya itu yang keluar dari mulutku.

"Ada lagi yang mau kau tanyakan?" ia langsung menatap ke mataku. Dan ku akui tatapan polosnya itu 'menakutkan'. Entahlah.. untuk satu hal aku akui tatapan mata itu seperti memiliki pesona untuk selalu menatapnya, dan ketika kau terlalu hanyut akan pesona mata bak rusa itu, kau akan tenggelam dan akan bisa kembali lagi. Mata itu benar-benar indah.

"Ah tidak...maaf menyita waktumu" ujarku. Aku sadar sudah bertingkah bodoh.

"Tidak masalah, permisi" ia menundukkan kepalanya sedikit, sopan sekali.

Ku garuk rahangku yang tidak gatal, rasanya beberapa menit tadi aku jadi orang idiot. Anak itu sudah jauh beberapa langkah dariku dan aku ingat belum menanyakan namanya. "Hei!" seruku lagi. Dia menoleh padaku.

"Siapa namamu?!" tanyaku setengah berteriak. Ia menatapku diam, lalu bersuara.

"Luhan, Xi Luhan" jawabnya tanpa ekspresi khusus. Namanya unik. Tidak terdengar seperti nama orang Korea kebanyakan.

"Aku Sehun! Maaf sudah mengganggumu lagi!"

Luhan menundukkan kepalanya lagi sedikit, dan kali ini aku membiarkannya pergi. Namanya unik, orangnya juga unik. Begitu juga dengan namanya yang seimut dengan wajahnya. Tuhkan.. apa yang baru saja aku pikirkan, ha?

"Oi Albino!" suara Chanyeol memanggilku. Aku memutar kepalaku ke belakang.

"kita mencarimu, kau tahu.. kemana saja, ha?"

— Sehun's POV END —

…..

Langit malam berangsur berubah dengan hiasan gumpalan awan berwarna abu-abu. Guratan-guratan gradasi orange, abu-abu dan hitam terlihat indah pagi hari ini. Tak lama Matahari akan menampakkan wujudnya di langit, membagi sinar hangatnya dan memberikan kenyamanan bagi sebagian orang.

Jam dinding di lorong tersebut telah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Pemuda bertubuh mungil yang mengenakan baju garis-garis hitam putih itu melongokkan kepalanya di belokan lorong―mengintip ke lorong yang lain dan tampak menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan sesuatu. Tidak ada siapapun disana, hari masih terlalu pagi dan lorong Rumah Sakit masih cenderung sepi, hanya segelintir orang yang duduk di kursi tunggu dan para perawat yang mondar-mandir.

Ia tak merasa tidak mengenal perawat-perawat itu. Ia pun melepas kucir rambutnya—yang ia gunakan untuk menguncir rambut depannya dengan gaya apple hair itu. Membuatnya terlihat begitu manis dan imut. Lalu mengacak rambut coklat caramel miliknya. Dengan rambut yang berantakan seperti ini akan membuat kesan ia baru bangun tidur. Pemuda berkulit pucat itu mulai melangkahkan kakinya menyusuri lorong, melewati kamar rawat yang masih hening karena kemungkinan penghuninya masih terlelap, tidak seperti dirinya yang justru baru kembali dari luar.

Bukan untuk yang pertama kali baginya. Pemuda bertubuh mungil itu mempercepat langkahnya begitu menginjakkan kaki di kamar bangsal Khusus. Di tandai dengan pagar kecil yang memisahkan antara bangunan yang di pakai untuk umum dengan bangunan yang di khususkan.

Lorong di Blok tersebut lebih sepi di banding sisi bangunan Rumah Sakit yang lain. Di karenakan para penghuni kamar rawat di Blok tersebut di huni oleh pasien penderita penyakit parah, tak sedikit pula yang berumur pendek. Pemuda itu menuju kamar rawat yang berada paling ujung. Kamar bernomor 32 dengan plat nama Xi Luhan. Namanya.

Luhan cepat menarik handle pintu kamarnya yang tidak terkunci dan buru-buru masuk ke dalam. Helaan nafas kecil meluncur dari celah bibir basahnya setelah menutup pintu kembali dan bersandar dengan memejamkan mata. Tapi saat ia membuka kembali kelopak matanya, tubuhnya seolah kaku mendadak ketika melihat sosok pria berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya―berdiri di dekat jendela dengan ke dua tangan terlipat di dada.

Pria paruh baya tersebut menatap balik Luhan yang diam tertegun menatapnya.

"Sudah jam berapa ini?" tanya pria itu. Kalem namun terdengar agak marah. Luhan melirik jam dinding di kamar rawatnya. Pukul 05.35.

"...jam setengah enam..." jawab Luhan pelan.

Pria berambut hitam rapi itu menghela nafas samar, memasukkan tangannya ke saku jas putihnya.

"Bukankah aku sudah bilang kau harus kembali sebelum jam sepuluh? Kenapa malah kembali dini hari?" Luhan hanya diam, tak menjawab pertanyaan Dokternya.

"Luhan aku sudah mengijinkanmu untuk keluar, tapi kenapa kau melanggar aturan? Kalau kau terus seperti ini, kau bisa tidak akan menginjakkan kaki sedikitpun di luar Rumah Sakit" nada putus asa. Dokter paruh baya itu menatap pasiennya dengan tatapan sedih.

"Aku tahu, aku minta maaf" Luhan menundukkan kepalanya.

"Ada yang melapor padaku kalau beberapa hari ini kau pulang pagi. Apa yang kau lakukan di luar?"

Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada"

"Kau mengajak jalan-jalan Momo lagi?" Luhan mengangguk.

"Kau pakai sarung tanganmu?" Lagi-lagi ia mengangguk."Perbannya tidak kau lepas 'kan?" Kepala Luhan kembali menggeleng.

Dokter itu menghela nafas pelan, tersenyum lembut,"Ok, ayo duduk, kita periksa dulu" suruh Dokter, Luhan menurut dalam diam.

[Luhan's Pov]

Dokter Lee selesai memeriksaku. Perban yang membalut tangan kiriku kini telah lepas dan dia menyuruhku untuk mandi. Dan disinilah aku. Di dalam kamar mandi, duduk di lantai tepat di bawah shower yang mengguyur tubuhku dengan air dingin. Ini untuk yang pertama di hari ini, karena aku harus mandi sesering mungkin setiap harinya, karena itu aku cukup kebal dengan air dingin.

Ku usap wajahku yang terus di terguyur air, lalu memperhatikan tangan kiriku yang agak memerah, dan ada kulit yang mengelupas. Warnanya tidak sama dengan kulitku yang agak pucat, kata Dokter Lee warnanya akan kembali seperti semula setelah di obati.

Luka ini aku dapat seminggu yang lalu, waktu itu aku benar-benar lupa tidak memakai sarung tangan saat keluar, padahal hari masih sore, biasanya aku juga tidak akan keluar jika tidak malam hari, tapi waktu itu aku benar-benar ingin melihat Burung Dara yang katanya banyak di Taman Kota saat sore hari, jadi aku kesana.

Tangan kiriku ku kibas-kibaskan pelan dan aku pun berdiri, mematikan shower lalu mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Setelah mengeringkan tubuhku, ku pakai baju yang sudah di sediakan di lemari kecil di dekat keranjan baju kotor. Aku memakai celana hijau untuk pasien dan memakai kaos berwarna putih yang berbahan dingin, karena aku tidak bisa terkena segala suatu hal yang panas.

Saat aku keluar dari kamar mandi, suster Hyemi ternyata berada di kamar rawatku untuk mengantar sarapan pagiku. Ia tersenyum ramah padaku.

"Pagi Lu… Makan yang kenyang ya" katanya. Aku mengangguk kecil.

Suster Hyemi keluar setelah mengambil baju kotorku. Aku berjalan ke tempat tidur dan duduk di pinggirnya, menatap napan berisi sarapan pagi ku yang sama setiap harinya, menunya akan di ganti jika aku sudah mengatakan 'bosan'. Meskipun begitu tidak ada yang special dari menunya. Hanya sepiring nasi tim, sayuran, salad, dan ikan yang di tim, susu, segelas air putih lalu buah. Makananku memang terlalu banyak sayuran, karena sayur adalah penopang hidupku.

Aku tidak nafsu makan saat ini, aku juga mengantuk. Oh ya, aku ingat. Aku menoleh menatap kalender meja yang ada di dekat napan, hari ini hari rabu, berarti hari ini Xiumin akan pulang. Ah, bagaimana aku bisa lupa tadi. Luhan Pabboya!

Agak tergesa-gesa aku memakai sandal empuk khusus Rumah Sakit dan keluar dari kamar rawat. Ku percepat langkahku menuju bangsal, letaknya di luar Bangsal Khusus ini, tidak terlalu jauh.

Aku berjalan tanpa hambatan di lorong-lorong, tapi melihat sebuah kolam kecil yang ada di tengah-tengah lorong dengan atap terbuka―dekat dengan Ruang Periksa membuatku harus berhenti berjalan. Kolam ikan itu bermandikan cahaya matahari dari atas yang tanpa atap. Aku berjalan miring merapat ke dinding, seperti kepiting lalu dengan cepat melalui lorong ini.

"Lu-ge!" itu suara Xiumin.

Aku menoleh dan berbalik. Xiumin berjalan ke arahku dengan pakaian rapi, bukan baju pasien Rumah Sakit lagi. Aku bahkan bisa melihat senyum cerah yang menghiasi wajahnya.

"Aku datang ke kamarmu tapi kau tidak ada, mau kemana?" tanya Xiumin setelah berdiri di depanku.

"Ke tempatmu" jawabku pendek.

"Kau pulang hari ini 'kan?" tanyaku kemudian, aku tidak lagi melihat perban yang melilit di kepalanya. Xiumin mengangguk.

"Aku ke kamarmu mau pamitan, eh kau malah mau ke tempatku" Bibirnya mengerucut lucu. Pipi gembilnya itu terlihat semakin menggembung lucu.

"Pulang sekarang?" tanyaku.

"Kau akan baik-baik saja 'kan?" Xiumin bertanya balik padaku. Aku hanya mengangguk, walau aku sendiri tidak yakin akan hal itu. Xiumin merogoh saku celana jeansnya, lalu meraih tanganku. Ia meletakkan sebuah koin kuno berwarna perak ke telapak tanganku.

"Untukmu, ini benda keberuntunganku" katanya tersenyum. Aku menatap koin kuno itu.

"Kalau ini benda keberuntunganmu kenapa kau tertabrak mobil?" tanyaku bingung.

"Ah kau ini!" dia memukul kepalaku pelan. "simpan saja, siapa tahu kau akan segera menyusulku keluar dari Rumah Sakit" Ku genggam koin itu dan mengangguk pelan.

"Aku harus pergi, jaga diri baik-baik ya, kapan-kapan kita ketemu lagi" ujarnya. Aku cuma bisa mengangguk. Xiumin melambaikan tangan padaku seraya beranjak. Aku hanya menatapnya sampai dia menghilang di belokan. Hhhh.. Hari ini temanku satu-satunya di Rumah Sakit telah pergi, dan aku akan benar-benar sendiri.

"Kenapa lesu, Lu?" suara Dokter Suho di belakangku. Aku menoleh. Benar saja, Dokter Suho yang mengajakku bicara. Salah satu Dokter magang yang masih muda yang ada di Rumah Sakit ini.

"Xiumin pulang hari ini" jawabku seadanya.

"Oh...ya aku dengar. Hebat juga Anak Bakpao itu tidak mati, hahahaha"

"Aku kembali dulu Dok" kataku malas.

"Hey, sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku Dok, aku belum resmi jadi Dokter"

"Tapi 'kan Dokter jadi Co ass, sebentar lagi lulus 'kan?"

"Iya, tapi 3 bulan lagi aku baru lulus. Just Suho atau Hyung, kita cuma beda 3 tahun"

"Tapi kita beda—"

"Yah...kau memang lebih babyface, kalau aku 'kan tampan" dia tertawa pelan. Anyway, Para suster sering bicara tentang Dokter Suho. Seorang Dokter Magang dengan wajah angelicnya. Oke dengan tambahan Orang Kaya. Dokter Suho masih mengagumi ketampanannya sendiri. Dokter Suho dia juga orang baik dan friendly, meski dia tahu orang seperti apa aku ini.

"Aku mau kembali dan tidur, ngantuk" aku berbalik memunggunginya.

"oh.. Selamat tidur Lu!" dia tersenyum dan aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan.

Aku terus berjalan menyusuri lorong, lalu menatap koin perak di genggaman tanganku. Aku menghela nafas menatapnya, koinnya ku masukkan ke saku celana. Semoga saja kata-kata Xiumin tadi benar-benar terwujud. Secepat mungkin aku ingin keluar dari tempat ini, Keluar dari tempat yang menjadi rumahku beberapa waktu terakhir ini, keluar dari rumah sakit maupun dari ragaku. Dengan begitu aku bisa menyusul Baba dan Mama di atas sana.

To Be Continued~

Nah aku apdet lagi nih. Mood mumpung masih bagus dan kerjaan juga lagi bersahabat. Hehehe semoga begini terus ya ..

Ah makasih yang udah review dan fav / follow ya. Heheh

Nah udah kejawab kan soal yang Tanya Luhan itu cewek atau cowok. Jadi cerita ff ini ialah.. BL atau YAOI ! wkwkw XDDD

Nah soal pair lain .. aku ga bisa janjiin sih. Bingung ngebaginya. Btw.. ntar makin kesini abaikan soal musim yang ada dicerita ini ya. ._. Btw bulan april di Korea itu musim apa sih ? heheheh

BIG THANKS TO :

kimyori95 | Fiew12 | ChanKai Love Love | Anggi Pris Pyromaniac Exo-l924 | SkylarO (dia yang punya cerita aslinya XD) | samiyatuara09 | Erliyana | Baby Lu | NoonaLu , dan beberapa Guest yang sudah mau baca dan review.

Aku bales beberapa review nih ..

SkylarO : Iya neng . salah ketik. Baru tahu . ntar deh diedit lagi bagian Suho dan Lay yang tertukar . XD makasih neng . ternyata neng juga punya akun FFn ? XD wkwkw XDDDD btw namamu itu .. aku jadi inget si Sky dan si Kembar . www hayu kapan kamu lanjut itu cerita ? :v

Anggi Pris Pyromaniac Exo-l924 : gak kok. Lulu bisa denger kok , wkwkw XD iya ntar juga ketemu sama Sehun lagi di chap depan . hehehe..

Guest : nah Luhan udah ketahuan kan dia laki apa wadon(?). Luhan cowok kakak ! aku masih belum tega GS-in(?) si Luhan . hehehe XD

Fiew12 : TANTEEEE ! *kedip najis* dih tante baca juga ternyata . XDD iya cerita punya Otsu manis-manis emang. Gaya bahasanya simple tapi ngena. *halah* Lulu sama Bacon tetep cowok kok tante . wwkwkw XDDDD iya mungkin kenal dulu.. Otsu itu yang demenannya Ruki juga kok tant . mungkin pernah ngobrol jaman jaman masih kepelet Ruki ? XD

kimyori95 : Luhan kenapa ya? Hm.. XD jawabannya ada di chapter depan . wkwk XD ada ntar jawabannya kok. XD Phobia siang hari? Ada yang begitu ? O.O ga kok ga.. XDD

05 Juni 2015

© DeathSugar