Fate from Lumiére

By : Natsunilusita

Sebelumnya terima kasih sudah membaca fanfik ini, ya walaupun masih seperti ini. Ini fanfik pertama yang aku buat, maaf kalau masih banyak typo. Terima kasih juga untuk yang telah me re-view, dan saatnya saya menbalas review tersebut.

Nene-san : Iya, akhirnya memang bakal Yuuram. Tapi sepertinya saya akan membalah sedikit rasa sakit hati Wolfram dulu. terima kasih sudah menyukai ff ini. Semoga Nene-san tetap suka.

Guest-san : Thank you for your review and as you wish in this fanfiction, Wolf would call off the engagement.

Nah, sepertinya langsung saja ke chapter 2, mohon saran reader sekalian dan masukannya. Terima kasih. Selamat membaca.

Fate from Lumiére : Chapter 2 "Broken Heart dan Pertemuan Takdir"

Wolfram POV

Aku terus berlari sambil berurai air mata, hingga tanpa sadar aku memasuki hutan. Aku jatuh terduduk didekat sebuah danau, aku merasa lelah dan berusaha mengatur napasku, namun yang pasti, air mataku tak mau berhenti. Semua rasa sakit ini, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, semuanya sudah hancur. Kenapa ? kenapa aku bisa mencintainya ? kenapa aku harus mencintainya ? kenapa dia tidak bisa mencintaiku ? karena aku laki-laki ?. semua pertanyaan itu terus berputar dikepalaku, menemani suara isak tangisku. Aku terus menangis, hingga tanpa sadar sebuah tangan dari samping meraihku. Tubuhku menegang, aku berharap itu Yuuri, tapi aku tau itu mustahil, dan sentuhannya pun berbeda. Dia mengusap kepalaku.

"Tidak apa-apa, menangislah."ujarnya lembut sambil terus mengusapku. Aku memandangnya, seorang wanita dengan rambut perak panjang yang terlihat berkilau dan sepasang mata berwarna lilac, tersenyum ramah. Aku tidak mengenalnya, tapi entah kenapa sentuhannya membuatku tenang dan nyaman. Aku tidak mengerti, tubuhku bergerak sendiri, memeluknya dan kembali menangis.

Normal POV

Wanita itu terus mengusap punggung wolfram dan menenangkannya. Hingga akhirnya Wolfram berhenti menangis.

"Ma… maaf." Ujar Wolfram melihat baju wanita itu yang basah karenanya. Wanita itu terlihat heran, namun saat melihat arah pandang Wolfram ia pun mengerti.

"Tidak apa-apa." Ucapnya sambil tersenyum. "Lalu, kenapa kau menangis ?" Tanya wanita itu.

Wolfram terkejut mendengar pertanyaan wanita itu, dia tidak mengenalnya, tapi entah kenapa ia bercerita begitu saja. Air matanya kembali mengalir disaat ceritanya.

"Kenapa hiks… kenapa Yuuri hiks… tidak bisa mencintaiku? Hiks… kenapa ?" tanya Wolfram disela tangis. "Apa hiks… karena aku laki-laki ?" tanyanya lagi. Wanita itu menggenggam tangan Wolfram, menenangkan.

"Aku tidak meminta dilahirkan sebagai laki-laki, hiks… bukan salahku hiks… jika aku dilahirkan sebagai laki-laki." Ujar Wolfram. "Kenapa hiks… kenapa aku harus mencintainya, hiks… kenapa aku harus mencintainya jika seperti ini ?." ujar Wolfram begitu putus asa.

"Cinta itu aneh, kau tidak bisa memilih siapa yang kau cintai." Ujar wanita itu.

"Tapi hiks… ini sangat menyakitkan, hiks… aku mencintainya hiks… tapi Yuuri tidak bisa mencintaiku hiks… dan aku tidak bisa melupakannya." Ujar Wolfram. "Lalu aku harus bagaimana ? hiks… ini menyakitkan hiks…" tambahnya semakin putus asa.

"Aku tahu kau begitu menderita Wolfram," ujar wanita itu lembut sambil mengusap kepala Wolfram. "Mencintai seseorang yang tidak bisa membalas cintamu dan disaat yang sama kau tidak bisa berhenti mencintainya, membuat rasa sakit itu semakin tak terbayangkan." Lanjutnya.

Wolfram hanya terus menangis.

"Aku bisa membantumu menghilangkan rasa sakit itu dan bahkan perasaanmu pada Yuuri." Ujar wanita itu yang sukses membuat Wolfram menghentikan tangisnya dan menatap wanita itu. "Tapi sebelum aku membantumu, aku ingin kau memikirkannya sekali lagi. Pikirkan dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya." Lanjut wanita itu sambil mengusap air mata Wolfram yang masih memangdangnya penuh tanda tanya.

"Bantuan yang akan aku berikan, dapat membuatmu tidak akan pernah mencintai Yuuri lagi, bahkan disaat Yuuri menyadari perasaannya padamu kau tidak akan bisa jatuh cinta lagi padanya." Tambah wanita perak tersebut.

"A-Apa ma-maksudmu ?" Tanya Wolfram bingung, namun wanita itu hanya tersenyum ramah.

"Sekarang kembalilah dan pikirkan baik-baik. Kau bisa menemuiku lagi disini saat kau sudah menemukan jawabannya." Ujar wanita perak itu lalu mencium kening Wolfram dan akhirnya menghilang.

Wolfram masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan siapa wanita perak itu. Sambil terus berpikir, Wolfram keluar dari hutan itu dan kembali ke kastil dan memasuki kamarnya.

Yuuri POV

Aku terbangun begitu pagi menjelang, masih sangat mengantuk. Semalam aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku melirik ke sebelahku, tidak ada Wolfram. Dia tidak kembali kemari. Semalam setelah kejadian itu, melihat Wolfram pergi dengan ekspresi terluka, semuanya mengganggu pikiranku. Aku bahkan tidak memperdulikan Putri Adeilla yang terluka dan segera menyusul Wolfram, tapi aku tidak bisa menemukannya bahkan dengan bantuan Conrad, Gunter, juga Yozak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menunggunya, tapi Wolfram tetap tidak kembali. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.

Tok Tok Tok

"Masuk" kataku dan Conrad pun muncul.

"Heika, sudah waktunya untuk sarapan." Ujar Conrad.

"Panggil aku Yuuri, lagi pula kau yang memberikan nama itu" ujarku.

"Baik, Yuuri." Ucap Conrad.

"Ok, aku akan bersiap." Ujarku sambil tersenyum dan segera menuju kamar mandi, tapi sebelum aku masuk, aku kembali berbalik dan menatap Conrad. "Conrad, a-apa Wolfram sudah kembali ?" tanyaku pelan.

"Wolfram sudah kembali. Kau tidak perlu khawatir Yuuri, dia ada di kamarnya sekarang." Jawab Conrad.

"Syukurlah, aku akan menemuinya nanti dan meminta maaf." Ujarku.

"Aku rasa itu ide yang bagus Yuuri, tapi sepertinya tidak untuk saat ini." Ujar Conrad yang membuatku heran dan langsung memandangnya bingung.

"Huh ?, ke-kenapa ?" tanyaku.

"Wolfram berpesan agar tidak ada yang mengunjungi dan mengganggunya, siapapun itu tanpa terkecuali dan meskipun itu adalah kau Yuuri. Wolfram ingin sendiri untuk sementara waktu." Jelas Conrad.

"Be-begitu?" gumamku pelan. Aku pun memasuki kamar mandi meninggalkan Conrad. Aku merasa semakin bersalah. Aku harap Wolfram baik-baik saja dan kami dapat kembali seperti dulu.