Oh-Ah! Chaptered
2 : Hell!
SeJong
Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Jung Jaehyun
And others
Rated M : Boy x Boy, bad language, mature contect
Friendship, Romance, Humor
Sorry if any some typo ^^
cicimotLee
Ini benar benar di luar dugaan, ketika kau merasa menderita dan penderitaanmu belum berakhir lalu ada lagi penderitaan yang lain, Kim Jongin. Sangat ironis...
"Kenapa kau tidak memberitahuku soal DIA itu si bajingan yang melecehkanmu bodoh!? Aku akan langsung menghajar nya tadi"
Jongin menatap Jaehyun sarkas, yang ada Jaehyun mati muda jika melawan orang yang sedari tadi di umpatinya dengan sumpah serapah paling kotor dari mulut Jung Jaehyun.
"Berhentilah memasukan sampah kedalam mulutmu Jae!"
Jongin meneguk soda yang di belikan Jaehyun, ia menatap jauh ke jalan raya. Kini duo itu sedang beristirahat di sebuah cafe pinggir jalan, dan Jongin bercerita perihal kenapa ia ingin cepat pulang dari Hotel -sialan- itu, akar masalahnya ada pada Shixun yang tiba tiba berdiri di depannya dan menyeringai bodoh padanya. Jogin is not a gay please!
"C'mon man! Dia tidak tau malu masih bisa bisa nya menatapmu penuh nafsu" Jaehyun menelusurkan tatapannya dari ujung rambut hingga kepala Jongin dan-
"Well, you also look so damn sexy"
Fuck you Jung!
"Bedebah! Jangan pernah katakan itu lagi, menjijikan"
Jaehyun menggedikan bahu, ia memakan waffle nya kembali sambil berselancar si snapchat, memposting gambar waffle nya ditemani sari jeruk ala cafe dan dua jari yang membentuk peace di atas pesanan klasiknya itu, FYI Jung Jaehyun memang anak yang lebay. Terlalu banyak gaya, perfeksionis, eksis dan mementingkan reputasi yang terjunjung tinggi, dia juga suka pujian, ck!
"Jadi, bagaimana nasibku setelah ini? Tidak mungkin aku ikut testing. Tidak Jae, lebih baik kau penggal tanganku daripada aku bertemu dengannya lagi" Jongin berucap panjang lebar, Jaehyun jadi merasa kasihan.
"Menurutku, belum tentu dia ada kaitannya dengan Hotel itu, bisa saja dia hanya klien kan?" Jaehyun memberikan opini masih dengan perhatian pada ponselnya, kali ini dia men-stalk akun seorang model cantik di instagram, LylyMaymac atau apalah itu namanya I don't care bout.
"Iya sih, tapikan bisa aja orang licik seperti dia itu punya banyak muka Jae"
"Kulihat tadi, wajahnya cuman satu"
"You're not stupid right?" Jongin inginnya sih menyembur wajah –sok- tampan Jung Jaehyun dengan soda miliknya yang tersisa setengah, ah tapi jika Jaehyun marah dia tidak bisa pulang karena si Jung itu meninggalkannya, dia kan numpang.
"Oke, jadi sekarang maumu bagaimana ? Aku sudah tidak punya koneksi lagi selain Hotel itu"
Jongin melipat kedua tangan di dada, dia menatap Jaehyun yang cekikikan entah karena apa namun, Jongin ingin sekali menjumpalitkan kursi kayu yang di duduki Jaehyun.
"Aku juga tidak tau, yang jelas kau harus membantuku adik manis!"
Jaehyun mendongakan pandangannya dari ponsel pada Jongin yang menaik turunkan alis dengan sangat tidak kece. Maksudku, dia malah terlihat konyol ewh, tidak enak di lihat sama sekali.
"Ayolah , aku juga tidak punya banyak koneksi pekerjaan bahkan aku sendiri bekerja di CECI karena di ajukan oleh si Taeyeong itu, kau ingat kan Miss Gom?" seolah tak menghiraukan tatapan membunuh Jongin, Jaehyun masih tetap memanggilnya Miss Gom. Jika begini, rasanya lebih baik Jaehyun memanggilnya secara tidak sopan dengan tidak memakai embel embel 'hyung' daripada panggilan laknat itu.
"Oi, kau masih mengingat Taeyeong? Aku sudah lupa bahkan pada warna rambutnya"
"Tentu, kami satu SMA dulu. Taeyeong terakhir kali memakai warna rambut abu-abu saat aku melihatnya" Jaehyun terlihat antusias membicarakan sahabat lamanya itu pada Jongin
"Ohya? Wah, dia pasti sangat tampan sekarang. Lebih tampan darimu"
"Hey, aku cassanova saat SMA dude!" Jongin mencebikan bibirnya dengan wajah yang demi apapun sangat jelek
"Ewhhh, kau jelek sekali. Taeyeong lebih tampan juga darimu"
"Aku lebih tua bodoh! Panggil aku dengan sebutan yang benar"
"Baik baik, maafkan aku Miss Gom"
"YA!"
Dan pada akhirnya duo itu malah saling mengejek satu sama lain, sebelum-
"By the way, ponselku masih ada di…" Jongin melotot horror dan menggebrak meja kemudian sebelum melotot pada Jaehyun yang cengo karenanya "-SHIXUUNNNNN"
Well, you was realize it Kim Jongin.
.
.
.
.
.
Sehun menatap keluar jendela mobil Merchedez Benz yang di tumpanginya, ia mendengarkan music dari ponsel Jongin yang masih berada di tangannya. Well, isi ponsel Jongin sangat menarik dan itu membuat Sehun lupa pada ponselnya sendiri.
"Tuan Oh, kita sampai" seorang lelaki berumur yang mengemudikan mobil itu menyampaikan pada Sehun. Lelaki pucat itu hanya mengangguk dan turun dari mobil tanpa sepatah kata pun, sang sopir hanya menghela nafas karena sudah hafal tabiat tuannya yang memang kelewat cuek pada orang lain, ia kemudian memarkirkan mobilnya untuk menunggu sang majikan.
Sehun berjalan tenang menuju sebuah rumah yang dari luar terlihat sangat unik, pintu kembar dari pohon jati itu terlihat kokoh di hiasi berbagai tanaman rambat yang sengaja di dekorasi supaya menarik. Untuk mencapai pintu utama itu, Sehun menaiki undakan tangga yang terbuat dari marmer dengan paduan batu alam berwarna merah membuat kesan elegan. Rumah itu memiliki dua lantai dan di balkon lantai dua terlihat ada 2 jendela besar yang kita ketahui sebuah kamar.
Sehun membuka pintu kembar yang tidak terkunci itu, ia melangkah masuk dan menutupnya kembali. Nampak seperti tidak ada orang di dalam sini, Sehun melanjutkan jalannya dan memasuki sebuah ruangan di dekat ruang santai.
"Mark?" Sehun mendekati seorang lelaki muda yang duduk meringkuk di kasur single bed dekat dinding, ruangan yang terlihat seperti kamar tidur itu menunjukan kesan dingin karena cat dindingnya berwarna hitam, ada computer lengkap dengan PS-2 di pojok ruangan.
"Sehun? Apa Sehun membawa makanan?" bocah yang ia panggil Mark segera melompat dari atas bed dan menghampirinya dengan senang.
"Tidak, kau mau makan apa hari ini?" Sehun menyambut Mark dengan baik walaupun nada suaranya masih tetap datar
"Eum, Mark mau Sirloin steak"
Sehun tersenyum tipis kemudian mengelus rambut hitam Mark, lelaki muda berusia 17 tahun yang tinggal disini 3 tahun yang lalu. Sehun menjaga anak ini sepenuh hati, sudah ia anggap sebagai keluarganya. Sehun tidak bisa membawa Mark ke Apartement miliknya apalagi ke Rumah nya yang masih ada kedua orang tuanya sendiri, Mark akan di kucilkan.
"Baiklah, mau makan disini apa di luar?"
"Di luar saja, Mark mau melihat badut kelinci. Sehun mau kan?"
Sehun mengangguk, ia menatap kasian pada Mark. Lelaki muda itu adalah seorang autis yang keterbelakangan mental sejak dirinya kecil. Mark berpikir sangat lambat dan dia bersifat seperti bocah 5 tahun di usianya yang tak lagi muda. Mark juga anti social dan sangat introvert, dia akan sulit di dekati orang baru karena menurutnya orang asing itu jahat, dia hanya ingin berbicara banyak dengan Sehun saja.
"Baiklah, ayo!"
"Yeayy, Terimakasih Sehun"
Sehun hanya tersenyum, ia lalu keluar kamar untuk menunggu Mark berbenah. Ia melihat ponsel Jongin menampilkan sebuah pesan masuk, 'Jaejae'.
'Bajingan sialan! Kembalikan ponselku dan masalah kita selesai! Sekarang, di Han-gang Park'
"Ck, semudah itu untuk bertemu denganmu. Babby gom"
Sehun berjalan menuju dapur rumah ini, dia melihat seorang wanita dewasa yang terlihat baru pulang dari kegiatan berbelanja.
"Luna nuna?"
"Astaga! Yaampun Sehun, kau membuatku kaget" Luna Park, wanita cantik yang berasal dari Busan yang ia ajak untuk bekerja dengannya, Luna di percayakan Sehun untuk menjaga Mark di rumah ini, dan Luna menyanggupinya di mulai sejak 2 tahun yang lalu.
"Maaf, nuna sibuk?"
"Tidak Hun, aku baru meninggalkan rumah untuk belanja"
Sehun mengangguk paham, "Kemana yang lain? Jongdae hyung, Lay Ge, Jenie dan Taeyeong?"
Luna masih menata bahan makanan yang ia bawa kedalam kulkas "Jongdae sedang ada urusan dengan klien dari Jepang, mereka meminta pengiriman Morfin(1) di perbanyak karena peminat Opium(2) mulai menipis"
Sehun menggumam, ia juga sempat mendengar berita itu dari Jenie dua hari yang lalu. Mungkin Jongdae memilih turun tangan untuk mengurus klien yang satu ini, FYI orang Jepang memang memiliki sifat Perfectonis dan itu sangat cocok dengan kepribadian Jongdae yang 'simple as I can' seperti motto hidup lelaki itu.
"Lay Ge?"
"Ah, dia baru saja berangkat ke China dua jam sebelum sekarang. Jenie keluar untuk menyelundupkan Heroin di bandara Gimpo dan Taeyeong mungkin sedang berkecan, I mostly not over care" Luna mengedikan bahunya setelah menyampaikan informasi dari berbagai ragam sisi orang-orang yang bekerja pada Sehun.
"Lalu, nuna sendiri tidak ingin keluar?"
"Aku lebih suka hari kamis di rumah, lagipula taman belakang belum aku urus hari ini" Luna menambahkan tawa jenaka di dalam kalimatnya, wanita cantik itu berjalan mondar mandir sedari tadi sambil mengobrol dengan Sehun.
"Ohya, tadi ada Key kemari. Dia bilang teman temannya meminta LSD(3) untuk pesta nya malam minggu ini"
"Oh, dia masih berlangganan? Haha, hanya dia satu satunya orang luar yang tau markas kita ini"
Luna ikut tertawa dan mengiyakan perkataan Sehun "Oh, Mark" wanita itu memekik kemudian saat Mark berlari menuju kearah mereka dengan pakaian yang rapi
"Wahhh, kamu mau jalan-jalan ya? Pasti senang sekali" Luna menepuk kedua pundak Mark, lelaki kecil itu menunjukan cengiran lucunya pada Luna, seseorang yang selalu ia anggap Ibu.
"Ya, Sehun mengajakku"
"Tentu, hati-hati ya. Jangan lupa, bawakan aku sesuatu haha" Luna becanda, namun hal itu di anggap serius oleh Mark
"Mama mau apa? Biar Mark belikan banyak untuk Mama"
Luna tertawa semakin keras, ia gemas sekali pada Mark. Bagi Luna, bocah lelaki bernama asli Korea Lee Min Hyung itu tidak terlihat seperti orang yang keterbelakangan mental, Mark tampan dan ia sangat mahir bermain game.
"Tidak, tidak. Aku becanda, sana pergi sebelum sore. Kau harus bertemu dokter Do untuk terapi" Luna membenahi hoodie kuning yang di pakai Mark, ia lalu menatap Sehun dan lelaki tampan itu mengangguk.
"Kami pergi dulu"
.
.
.
.
.
"Ibu...! huaaa, si hitam itu mencuri tiramisu ku di kulkas, Bu!"
"Astaga, ada apa ini?" wanita berumur senja terlihat melangkah tergesa menghampiri teriakan putra bungsunya dari arah dapur. Jongin baru saja di antar pulang oleh Jaehyun siang ini, dan bungsu Kim itu sudah mengacau di rumah karena teriakan nya yang engga banget -_-
"Yuri, jangan goda adikmu terus" setelah tau biang masalahnya dimana, Nyonya Kim menggelengkan kepala dan menengahi dengan sabar ketika ia melihat Yuri sang anak tengah memakan sekotak tiramisu di meja makan dengan Jongin yang terus manyun di samping kulkas, tiramisukuuuuu.
"Ibu, aku tidak tau ini punya Jongin. Dan kau! Kau memanggilku hitam seolah kau memanggil dirimu sendiri dasar hitam"
"Ibuuuuuuu" Jongin semakin memanyunkan bibirnya, inikah si Bengal yang mengancam Shixun jika dia ingin melaporkannya pada polisi?
"Yaampun, sudah Jongin ikhlaskan saja. Nanti Ibu minta Ahra untuk membelikanmu yang baru"
Jongin berhenti memanyunkan bibirnya dan ia menatap sengit Yuri bahkan saat kaka baiknya itu yang telah memberikan panggilan 'Gom' padanya menjulurkan lidah pada Jongin.
"Awas kau hitam, ku doakan jodohmu di ambil orang. Doa orang teraniaya itu ampuh" Jongin masih mendumel tidak jelas bahkan untuk sekedar berkata sopan pada sang kaka yang berselisih umur dua tahun dengannya.
"Cih, sok teraniaya. I don't care, aku sudah bertunangan dan Minho akan menikahiku tahun depan adik manis. Jadi jangan sok mendoakan tidak baik bagi kaka tercantikmu ini"
"Dasar hitam, Ibu. Yuri nuna bilang aku jelek"
"Hey, dasar tukang fitnah. Tidak bu, aku tidak bilang apa-apa"
+++HunKai+++
Jongin menjatuhkan tubuhnya pada kasur, ia menatap langit langit kamarnya yang di hiasi tempelan bintang kecil, dia ingin sekali berkeluh kesah pada Ibunya, dia belum bercerita apapun pada wanita yang paling di sayanginya itu, Jongin merasa belum siap.
Apalagi jika Ayahnya tau mengenai hal ini, bisa jadi Jongin guling dia karena tidak mau menjalankan perusahaan milik beliau dan lebih memilih mencari karir yang lain, sudah ada yang menjamin tetap saja cari yang lain, Kim Jongin memang tidak mau terikat dalam komitmen, rite?
"Jonginie Gom! Ada temanmu di luar!"
Teriakan Yuri dari lantai satu menggelegar hingga telinganya sakit, sungguh. Yuri itu jika teriak sangat membahana seperti memakai Toa dadakan, Jongin tidak sadar saja jika teriakannya juga sama keras, dasar. Btw, semua anak Nyonya Kim teriakannya melengking bahkan Ahra sekalipun, mungkin Nyonya Kim berharap semua anaknya jadi penyanyi, ya penyanyi gagal.
"Iya iya, aku turun"
Jongin dengan malas beranjak turun dari ranjang dan menuruni tangga menuju lantai satu, dia bisa melihat Yuri sedang menonton televisi dan Ibunya yang sibuk membuat bimbap di dapur. Jongin menghiraukan kaka keduanya itu yang sedang menatap haru drama di televisi, huh drama queen.
Jongin membuka pintu utama rumahnya dan terlihat seorang lelaki tampan sekaligus cantik berdiri dengan senyum di wajahnya menatap Jongin, itu tetangganya.
"Hay Jonginie Gom"
Shit!
"What's up Baek? Mengajakku mencari wanita? Mengajakku menonton film porno? Atau mengajakku menjaili seorang kakek tua? No, no no no" Jongin berbicara sendiri sebelum Baekhyun-tetangganya- menjawab walaupun untuk sekedar mengambil nafas. Jongin menggerakan jari telunjuk kanannya ke kiri dan kanan sebagai tanda penolakan.
"Ck, ayolah Jongin. Aku tidak sebejat yang kau katakan barusan"
"Lalu, apa urusanmu datang ke rumahku tuan muda Byun?"
Byun Baekhyun tertawa nista, dia memang selalu tertawa over seperti itu. Sebetulnya apa yang di lakukan Baekhyun selalu over, hingga Jongin mual sendiri dengan tingkah ajaib temannya itu.
Teman? Ah, yes!
"Baek!"
Baekhyun yang tadi hendak menjawab, dilihat dari mulutnya yang sudah mangap lebar lebar jadi berhenti mendadak, masih dengan mulut menganga.
"Bisakah kau membantuku mencari pekerjaan?"
Butuh waktu sekitar 15 detik untuk keduanya saling bertatapan, menghayati lawan masing-masing, mendalami manik mata masing-masing, oh ayolah ini bukan drama yang sedang Yuri tonton.
"Fuck you Jong! Aku bahkan masih jadi pengangguran, kau menyindirku?"
Jongin mengerjapkan kedua matanya bingung, namun kemudian ia ingat bahwa lelaki berambut ungu di depannya ini sama malas dengannya. Masih mending dia tidak mau mengurus usaha keluarga tapi masih mencari kerja, lah Baekhyun? Taunya celana dalam warna warni para jalang di berbagai Bar, dasar mesum.
"Maaf, aku lupa jika kau-"
"Ya ya ya, I just lazy and I don't think so. Jadi, aku kesini ingin menyampaikan pesan Jaehyun untukmu" Baekhyun membuka kunci layar ponselnya dan menunjukan isi pesan yang Jaehyun kirim padanya, Jaehyun dan Baekhyun lumayan dekat karena ia teman Jongin juga.
'Shixun menyuruhmu menemuinya pukul 3 Miss Gom'
"Pffttt" Baekhyun menutup mulutnya menahan tawa, hal itu tak luput dari perhatian Jongin dan melihatnya Jongin segera menggeplak kepala kecil Baekhyun
"Dasar bodoh, itu tidak lucu. Sudah sana pulang!"
BLAM
Baekhyun menatap shock pintu di depannya yang dengan kejam Jongin tutup dengan keras tepat di depan wajahnya, yaampun kejam sekali pada tetangga sendiri. Awas saja, Baekhyun tidak akan mau mengajak Jongin bermain lagi, hey kau bukan bocah tuan muda Byun!
"JONGIN, IBU SUDAH BILANG JANGAN BANTING PINTU"
"Maaf bu… Jongin lupa"
Baekhyun tertawa sarkatis mendengar Jongin yang di marahi Ibunya "Rasakan!"
.
.
.
.
.
Jongin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman Sungai Han. Udara musim ini lumayan dingin di sore hari, Jongin merapatkan mantel tebalnya dan menaikan zipper mantel itu, sudah 15 menit menunggu dan si bajingan Shixun belum juga menampakan batang hidungnya, sialan. Apa Jongin di tipu? Dan dia sudah seperti orang bodoh menunggu disini.
"Jika dia membohongiku, akan ku patahkan tulangnya"
"Wow, kejam sekali"
Huh?
Jongin membalikan badannya cepat dan langsung di sambut senyuman jelek Shixun untuknya, lelaki itu memakai kacamata hitam trendi yang Jongin yakini harganya sangat mahal, Shixun memakai kemeja dari bahan jeans dan celana Logo di padu sepatu Vans berwarna hitam pekat, lagi lagi Jongin merasa terdominasi bahkan melihat dari penampilan seorang Shixun saja.
"I'm awesome right?"
No, no, no
"Tidak, kau jelek" itu refleks, Jongin hanya menutupi kegugupannya yang entah datang dari sisi mana yang jelas Jongin ingin menutupinya.
"Ck, naif"
"Apa katamu? Sudah cepat, kembalikan ponselku!"
Jongin menegadahkan satu tangannya di depan Shixun yang menatapnya arrogant, namun lelaki tan itu tidak pantang menyerah. Shixun pikir dia takut pada lelaki pucat itu, huh? No, and never.
"Satu kali bercinta, dan ponselmu kembali"
What the hell! Tha's so askjhlsjmlh. Jongin hampir saja melayangkan tinjunya pada wajah rupawan Shixun sebelum sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"SEHUN, SEHUN"
Keduanya menoleh kearah samping dan terlihat lelaki muda yang berlari kedarah mereka, tepatnya Shixun. Itu Mark, lelaki kecil itu membawa seikat bunga lili yang entah ia beli darimana bersama paman Kang –sopir Sehun- yang di percayakan untuk menjaganya.
"Se-sehun?" Sedangkan Jongin terbata dalam suaranya, ia seperti tidak asing dengan nama itu. tapi Jongin lupa atau tepatnya masih samar samar ingat akan nama itu.
"Mark, kemari!" Shixun atau well, Sehun. Memberi isyarat pada Mark agar segera mendekat, lelaki muda itu tersenyum lebar dan memeluk Sehun saat sudah sampai di depannya, Sehun balas memeluk Mark dan mengusak rambut Mark seperti seorang kaka pada adiknya, ia dan Mark berselisih 6 tahun.
"Ini untukmu Sehun" Mark memberikan bucket bunga lili yang di bawanya pada Sehun, sedangkan Jongin disana merasa jadi obat nyamuk, jika ini di dalam foto ia ingin di crop saja rasanya.
"Hey!"
Jongin menegur, membuat perhatian Sehun dan tentunya Mark beralih pada lelaki tan itu. Jongin memicingkan matanya, ia kesal sudah menunggu Shixun eh Sehun, eh apalah itu hanya demi ponsel tapi sekarang malah menyaksikan drama sabun tidak penting kedua orang asing itu.
"Oh, hyung!" Mark nampak terkejut dan menunjuk Jongin dengan mata membulat, hal itu lantas membuat Jongin juga merasa tidak nyaman. Kenapa anak itu menunjuknya dengan penuh keterkejutan dan menatap Jongin seolah mengingat ingat seseorang.
"Kamu kan-"
"Ah Mark, dia namanya Jongin. Ayo salaman" Sehun memotong ucapan Mark membuat si lelaki muda mengalihkan tatapannya pada Sehun dan mengerutkan kening. Mark ingin bertanya namun Sehun sudah lebih dulu mengajaknya bicara "Mark tunggu di mobil saja yah, aku ada urusan dengan Jongin"
Mark semakin mengerutkan keningnya, namun ia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti dari Sehun jadi ia kembali menatap Jongin dan mengulurkan tangan pada lelaki seumuran Sehun itu "Hallo Jongin, aku Mark Lee" Mark tersenyum senang, ia yang biasanya takut pada orang asing tapi kini mau bahkan untuk bersalaman dengan Jongin sebelum dia pergi ke mobil
Jongin menaikan alisnya, ia melihat senyuman Mark yang sangat tulus dan begitu lebar sehingga tanpa ragu Jongin menyambut uluran tangan kanan Mark untuk di jabatnya "Aku Jongin"
Mark tersenyum setelah Jongin membalas jabatan tangannya, ia ingin sekali memeluk Jongin. Mark tidak tau tapi, aura Jongin sangat berbeda dan ia suka.
"Senang bertemu denganmu. Sehun nanti ajak Jongin main ke rumah yah?" Mark selanjutnya merajuk pada Sehun agar mengajak Jongin bermain ke rumah.
Sehun mengiyakan permintaan Mark, ia mengusak kepala Mark sebentar sebelum melihat paman Kang yang menjemput Mark menuju mobil. Jongin memperhatikan semua itu, ia heran karena sempat melihat mata sopir Sehun itu melihatnya dengan tatapan terkejut yang sama seperti Mark namun ia tak ambil pusing, mungkin dirinya terlalu tampan hari ini.
Sehun kembali ke hadapannya dan berdiri angkuh, ia menyaku kedua tangan di dada dan melepas kacamata hitam yang ia pakai.
"Jadi, namamu Sehun?" Jongin bertanya memastikan, ia hanya tidak mau saja di tipu lagi oleh bajingan yang sialnya sangat hot ini
"Ya, tapi aku lebih suka nama Shixun"
Jongin menganggukan kepalanya, "I see, dan kau bisa mengembalikan ponselku sekarang!"
"Tidak semudah itu"
Sehun menatap Jongin di sampingnya, tinggi badan Jongin yang hanya mencapai hidungnya membuat ia merasa benar benar bisa mendominasi anak ini. Sehun memang selalu bermain dengan banyak wanita maupun pria, apapun jenis gender yang penting bisa memuaskan hasrat seksual nya Sehun sih fine fine saja, termasuk Jongin.
"Kau pamrih, kembalikan ponselku sialan!" Jongin mengepalkan tangan kanannya di depan wajah Sehun yang berjarak beberapa inch dari wajahnya, sekali bogem Jongin yakin hidung mancung pria itu akan patah dan mengeluarkan banyak darah, tapi kenapa tangannya tidak bisa di gerakan? Ah payah
"Satu ciuman, Babby gom"
Sehun menurunkan tangan Jongin yang menghalangi wajah mereka, ia mendekatkan wajahnya perlahan hingga angin dingin menerbangkan anak rambut brunette Jongin dan dilihat dari jarak dekat, lelaki barbar itu sangat manis, tanpa sadar Sehun tersenyum. Jongin merasa terdominasi dan sulit menggerakan anggota tubuhnya, bola mata hitam Sehun menatap mematikan persendiannya.
"Ka-kau"
"Three-" Sehun mulai menghitung seiring wajahnya yang semakin maju
"Two-"
"Ya! Ap-apa apaan huh"
"One"
Kiss~
Jongin membelalakan mata bulatnya saat lagi lagi Sehun berhasil mengecup bibirnya bahkan dengan sekaligus melumatnya penuh irama, tidak seperti saat kemarin kemarin yang langsung menciumnya penuh nafsu sekaligus keinginan seks yang menggelora, Sehun terlihat menikmati ciumannya saat ini, hingga Jongin yang mengaku akan mematahkan tulangnya itu juga ikut terbawa suasana.
Sebenarnya, Jongin terbawa suasana atau memang menikmati?
.
.
.
Jongin merenung di balkon kamarnya mala ini, suara notifikasi LINE dari ponselnya menemani seiring dengan jauhnya pikiran Jongin berlayar. Baru saja Ahra mengantarkan bingkisan kotak Tiramisu cake ke kamarnya dan ia menghabiskannya secepat kilat, he almost like all like sweet things.
Jongin meraba bibirnya sendiri, tadi sore itu sungguhan. Ketika Sehun menciumnya dan setelahnya lelaki tampan itu bilang jika dia harus memanggilnya Sehun saja. Dan liciknya, bajingan itu memasukan seluruh kontak media social yang dia miliki kedalam ponsel nya sendiri, hingga saat ini ponselnya penuh notifikasi pesan dirty talk menjijikan dari Sehun.
Ini Jongin belum ingat siapa itu Sehun?
Sepertinya iya,
"Hahhhh, dia benar benar belum pernah menyentuh penisnya sendiri" Jongin mengolok ponselnya yang menampilkan aplikasi LINE dimana Sehun memberinya pesan berupa ucapan kotor seperti 'Your lips so damn kissful' 'Blowjob my dick and we will go to heaven' 'Well, aku ingin melanjutkan yang kemarin pagi denganmu Babby Gom'
Jongin muak dan ingin muntah rasanya melihat pesan chat Sehun yang sungguh sangat kotor, ia akan mengadu pada Jaehyun dan jika lelaki muda itu akan menghajar Sehun dia tidak akan melarangnya lagi.
'Talk that to my pet you are jerk!'
.
.
.
.
Jenie menatap Sehun penuh seringaian, gadis itu selalu menang jika bermain kartu dengan Sehun dan tentunya taruhan yang mereka perebutkan akan jatuh ke tangannya. Haha, si Gembong Narkoba Oh Sehun memang lemah dalam hal seperti ini.
"AS, kau kalah dude" Jenie bersorak lagi dan melemparkan kartunya pada wajah Sehun yang menekuk jelek saat ini. Di markas hanya ada Sehun, Jenie, Luna dan Mark jadi saat ini keadaan markas bisa di bilang sepi.
Markas?
Yeah, ini markas milik Oh Sehun untuk menjalankan bisnis nya yang sudah menghasilkan keuntungan dengan sangat cepat dan menyebar keseluruh pelosok dunia, ia adalah seorang Gembong Narkoba yang memiliki markas di Korea dan Rusia yang terkenal memang dengan markas gelap penyelundupan drugs di seluruh dunia.
Sehun merekrut banyak orang terpercaya dalam bisnis gelapnya ini, termasuk Jenie. Seorang gadis muda berusia 19 tahun yang mahir menipu banyak orang dengan wajah seribu watak miliknya, so danger.
"So, uang dari klien di Jepang akan jadi miliku? hahaha"
"Yeah yeah, shut up your lough young girl!" Sehun meminum bir miliknya dan menghiraukan tawa Jenie yang demi apapun sungguh mengganggu. Taruhannya adalah uang hasil penjualan drugs nya akan di berikan pada Jenie secara keseluruhan jika dirinya kalah.
"You have lose, feel regreat?"
"No, I'm fine. Satu juta won untuk gadis nakal seperti mu bukan apa apa"
Lagi lagi Jenie tertawa akan tingkah Sehun yang menurutnya konyol, siapa suruh memberikan taruhan tidak itung-itung pada Jenie yang memiliki pendiria kuat, apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan dia berikan lagi, Jenie's motto for life.
"Ok. Aku akan mengambil check nya dari Jongdae saat dia sudah pulang" Jenie meminum bir nya, ia melihat Sehun mengibaskan tangan kirinya seperti mengusir nyamuk
"Oh ya, kau mau ikut party di rumah Key malam minggu?"
Sehun menaikan alisnya, namun ia menyeringai saat memiliki satu ide yang mungkin bisa membuatnya lebih dekat dengan Babby Gom alias Jongin, ck apa yang kau rencanakan Oh Sehun.
Sehun menatap Jenie penuh seringai licik "That's sound good"
TBC
Gom is mean Bear in Korean ok...
Haiiii, wahhh aku gak nyangka responnya lumayan huhu seneng deh. Maaf yah kalo chap ini kurang memuaskan. Masih pada bingung yekan? Wkwkwk, ya semuanya akan terjawab seiring chapter ko tenang aja/plaked/. Panggil aku Cimot ae yah atau Mot atau Lee juga boleh kkkk. review di tunggu, review adalah penyemangat loh *kiss*
Ini ada beberapa nama drugs yang aku akan bahas :
Morfin : Morfin ini jenis narkotika yang di gunakan dengan cara di suntikan pada pembuluh darah dan menimbulkan eporia juga rasa berdebar debar
Opium : ini zat yang biasa di gunakan dengan cara di hisap karena kecanduan
LSD : Lysergic acid, ini banyak bentuknya tapi yg d mksd disini yang pil aja biar gampang wkwk LSD bisa menimbulkan khayalan dan candu.
Semoga bisa di jadikan pelajaran, ambil sisi positif nya guys karena aku juga sama belajar.
Ohya, disini Luna itu Luna Park dari f(x), kalo Mark jelas dia NCT, terus Jenie itu dari Black Pink. Thank's… ada yang mau nanya atau kasih saran? Review dan PM thank you ^^
