.
Haebaragi [Chapter 2]
Byun's PLOT
.
Hari minggu. Hari spesial dimana para mahasiswa menikmati istirahat—setidaknya sampai jam makan malam.
Petra telah mencanangkan suatu piknik dari jauh-jauh hari. Erd, Auruo, Gunter dan Eren tentu saja menyetujui dengan senang hati mengingat Petra yang menyediakan segala makanan. Aku tak bisa menolak. Eren merayuku.
Maka dengan ketidakrelaan, Eren menyeretku paksa menuju halaman depan Shina yang penuh dengan orang. Uh, apa Petra cukup peka untuk tahu bahwa aku tidak suka keramaian?
Kami yang terakhir tiba disana dan aku dengan ogah-ogahan duduk di hamparan kain persegi empat dengan pola kotak-kotak. Eren duduk disebelahku dan langsung membantu Petra menyiapkan makanan.
.
Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama
.
Segalanya berlangsung lancar ketika sesi makan terlewat. Kini mereka berlima memulai percakapan menggelikan dan seperti biasa, aku terlalu malas untuk bergabung. Aku lebih memilih memperhatikan sekeliling dan mendengus mendapati banyak pasangan yang juga mengadakan piknik di sekitar kami.
Catat, pasangan.
Apa cuma kami satu-satunya yang piknik bersama seperti ini?
.
Cih, siapa peduli.
Sesekali melirik Eren, bocah itu tertawa dengan keras ketika Auruo meledek salah satu guru yang ia katakan sangat kaku. Setelah pengakuan kami kemarin, sempat ada kecanggungan yang terjadi. Namun sifat mentari Eren menyingkirkan awan-awan gelap kecanggungan diantara kami. Aku menghargainya. Walaupun tak ada status yang berarti selain teman, saling mengetahui perasaan masing-masing telah menjelaskan segalanya.
Samar, kudengar Eren meringis sambil memejamkan mata. Tak terlalu terlihat yang lain sebab mereka tengah terfokus pada Erd yang kini bercerita. Sepertinya kepalanya sedikit pusing.
Tampaknya aku menyepelekannya.
Kemarin Eren mengalami demam secara tiba-tiba—entah karena analisis Hanji benar atau hal lain. Walau tidak terlalu parah, dan Eren telah meminum obat penurun panas, aku tidak berhenti mengkhawatirkannya. Bodohnya, aku percaya saja dengan senyuman riangnya tadi pagi. Aku terlalu terlena dengan rayuan wajah memelas 'anak-anjing-yang-terbuang' hingga teledor seperti ini.
Lagi. Wajahnya berubah pucat. Lagi, Eren memegangi dadanya di tengah-tengah percakapan. Lagi, ia tersedak cukup keras ditengah tawanya dalam pembicaraan tentang Hanji.
"U—huk!"
"E-Eren!" Petra cepat tanggap, "Kau baik-baik saja?"
"Astaga! Kau kenapa?!" suara Erd.
"Apa tersedak?" Auruo berspekulasi.
"Ini, minumlah!" Gunter mengambilkan segelas air putih.
Segera aku mencengkram bahu Eren, bertanya melalui sorot mata. Ia memandangku balik, seolah berkata 'aku baik-baik saja', kemudian menerima air dari Gunter. Napasnya mulai stabil. Eren memandangi orang-orang yang mengkhawatirkannya lalu nyengir bodoh lagi.
Cih, entah kenapa aku merasa kesal dengan cegirannya itu.
"Tidak apa-apa, Senpai, aku tertawa berlebihan hingga tersedak air liurku sendiri, hehehe…"
"Haaah… dasar kau ini…" Petra memberi tepukan lembut pada pucuk kepala Eren.
"Ceroboh sekali." Auruo menggerutu.
"Berhati-hatilah…"
"Terkadang terlalu bersemangat juga tidak baik, Eren…"
Eren terseyum lebar. Walau tak bicara, matanya memancarkan kesenangan yang sangat besar. Kupikir, ia bahagia memiliki orang-orang yang sangat peduli padanya.
Aku melepas cengkramanku, masih melirik Eren was-was. Obrolan kembali dilanjutkan. Eren berhasil terlihat baik-baik saja. Sikapnya menanggapi obrolan juga semangat dan selalu ingin tahu, seperti biasa. Ia tertawa seperti biasa saat mendengar hal lucu.
Namun tak lama kemudian secara tiba-tiba batuk yang cukup keras dan berulang kembali dialami Eren. Semua panik, terkejut.
"Eren!"
Eren terlihat sangat menderita. Aku menepuk-nepuk punggungnya, berharap bisa meringankan sakit Eren. Khawatir, tentu saja.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi?! Eren!"
Tolong, berhentilah… jangan terbatuk lagi…
"Eren!"
…kumohon.
"—huk."
Berhenti… batuknya terhenti.
"Eren! Ada apa sebenarnya? Kau sakit? Apa flu kemarin belum sembuh dan malah semakin parah?" tanya Petra bertubi-tubi.
"Ti—dak…apa-apa." Kemudian ia tersenyum lemah. "Senpai…"
…
Cukup. Aku muak.
.
Segera aku menarik tangan Eren, memaksanya berdiri. Dia menatapku terkejut bercampur bingung. Yang lainnya juga begitu.
"Kemarin malam dia demam, mungkin kelelahan. Hari ini biarkan dia istirahat satu hari penuh. Aku akan menjaganya."
Tanpa memperdulikan apapun lagi, kuseret Eren menuju kamar. Awalnya ia meronta, berteriak padaku berkali-kali bahwa ia tak apa—masih bisa melanjutkan acara piknik kami tapi aku dengan tegas berkata bahwa ia harus istirahat, dan tidak ada penolakan. Akhirnya ia menurut. Aku tahu dia ingin menghargai Petra dan yang lain, tapi tak harus memaksakan diri juga.
Bocah ini… sebenarnya kau sakit apa?
Pintu kutendang dengan kasar. Kulihat Eren sedikit limbung, mungkin pusing lagi. Ia berjalan pelan menuju ranjang dan menjatuhkan diri sehingga menimbulkan 'gedebug' keras. Sudut matanya basah.
Aku menutup pintu dengan pelan, melangkah mendekati Eren, kemudian berdiri di sampingnya sembari melipat tangan di dada. Eren menatapku dengan sayu. Aku tidak suka, melihatnya begini.
"Akan kuambilkan kompres dan obat. Kau beristirahatlah dan jangan memikirkan apapun lagi."
Aku hampir pergi ke Ruang Kesehatan sebelum sepasang tangan Eren yang panas menahan lengan kiriku.
"Senpai…"
Kulirik Eren yang menggigit bibir bawahnya, "Apa?"
"Jangan pergi…" matanya beradu pandang dengan mataku.
"…kumohon."
Satu kata yang cukup membuatku luluh. Kutepis dengan lembut tangan Eren kemudian duduk di tepi ranjangnya.
"Kau membutuhkan sesuatu?"
Dia menggeleng lucu, menatap lekat-lekat selimut biru pemberian ibunya. Mungkin Eren hanya ingin aku menemaninya. Mungkin benar batuk tadi bukan karena demam, tapi karena penyakit sialannya itu.
"Rivaille-Senpai," ia menatapku dan aku balas menatapnya.
"Hm? Kenapa?"
"Senpai… sudah tahu, bukan?"
Jeda.
"Tahu apa?" banyak kemungkinan muncul di kepalaku tentang pertanyaannya yang ini.
"Tentang…" lagi-lagi ia menggigit bibir bawahnya.
.
"…penyakitku."
Benar saja. Dia menanyakan hal yang paling tidak ingin aku singgung. Tapi aku tak bisa mengelak lagi.
"Kenapa kau menyembunyikannya?"
Entah. Apa pertanyaanku terlalu sensitif? Eren tiba-tiba mengubah posisi duduknya, ia memunggungiku.
"Karena bunga matahari… penuh dengan kepura-puraan."
… aku tak suka jawabanmu.
"Bisakah kau menjawab dengan benar?"
Emosi. Aku muak dengan semuanya. Eren terlalu memaksakan diri, ia terlalu memikirkan segala hal tapi dirinya sendiri tidak ia perhatikan. Persetan dengan semuanya, aku tak peduli. Kenapa… kau begitu pasrah?
.
Kemana…cahayamu?
.
"Aku hanya tak ingin merepotkan semuanya…" suara Eren terdengar parau.
Rasanya ada yang meremas jantungku.
"Rivaille-Senpai, Petra-Senpai, Erd-Senpai, Gunter-Senpai, Auruo-Senpai, Hanji-Senpai dan Erwin-Senpai juga… kalian sangat baik padaku… aku tak ingin membuat kalian khawatir… cukup Erwin-Senpai saja, dan aku sudah merasa sangat bersalah. Sekarang, melihat Rivaille-Senpai khawatir padaku, aku merasa seperti seonggok beban…"
Sesak. Sekali. Beban dia bilang?
"Kau hanya tak suka dikasihani."
"Uh…ya, Senpai benar…"
Eren memeluk kedua lututnya dengan erat, menyembunyikan wajahnya disana. Samar kudengar ia mendesah panjang.
"Sebenarnya kau sakit apa?"
Sungguh, aku tak ingin menanyakan itu.
Kulihat bahunya menengang, ada jeda sejenak—
"Tidak tahu…"
—Apa?
"Aku membakar hasil diagnosis dokter. Aku tidak ingin tahu apa penyakitku, karena aku menolak keras diobati. Lagipula, aku tak ingin membebani ayah dan ibu dengan biaya pengobatan yang pada akhirnya sia-sia, karena… penyakitku tidak ada obatnya."
"…" …shit.
Apa. Apa apa apa? Apa sebenarnya parasit itu?! Aku merasa frustasi. Tidak ada obatnya? Jangan gila, bocah! Sesak napas, mungkin gangguan pernapasan. Pneumonia? Kanker paru-paru? Batuk Eren disertai darah…
Sial sial sial! Aku baru belajar tahap-tahap umum dunia kedokteran, belum mengkhusus ke spesialis. Ini sama sekali tidak membantu. Jika penyakit Eren separah itu, mungkin virus. Bisa diobati dengan antibiotik. Tidak, tidak, aku tak bisa hanya menduga-duga.
Kenapa dia membakar hasil diagnosisnya…
"Senpai…" kulihat Eren kini menatap langit-langit kamar. Entah membayangkan apa. Tubuh ringkihnya tampak rapuh dimataku. Seolah sedikit sentuhan akan menghancurkannya. Ia terlalu pasrah…
.
Aku tidak suka. Eren yang seperti itu, aku tidak suka.
.
"Erwin-Senpai yang mengajakku ke Rumah Sakit pertama kali setelah memasuki Shina. Dia memergokiku ketika aku sesak napas parah di toilet siswa. Aku sudah tahu tentang penyakitku sejak lama, aku sengaja tidak memperdulikannya. Semakin lama Erwin-Senpai semakin mengkhawatirkanku, aku tidak suka melihat tatapan iba yang ia berikan padaku… Walau aku menolak, dia terus memaksaku ke sana. Aku diberikan obat penawar rasa sakit. Dan dua hari yang lalu…"
Eren kembali menenggelamkan wajah pada kedua lututnya. Bahunya bergetar halus. Dan isakan kecil yang lolos dari bibirnya kemudian, sukses meruntuhkan segala pertahanan pengecutku.
"Senpai… hiks, aku… aku divonis, hanya akan bertahan dua tahun…"
.
Hancur sudah.
.
"Apa… yang harus kulakukan? Hiks… Senpai, apa yang bisa kulakukan—jika hanya dua tahun…?"
.
Bahkan aku bisa mendengar suara retakan hatiku.
.
"Senpai—hiks, aku… tidak kuat…"
.
Cukup!
Dengan kasar aku mencengkram kedua pundak Eren dan membalikkan badannya menghadapku dengan cepat. Hal yang kemudian sedikit kusesali, karena melihat wajahnya yang penuh air mata. Wajah kesakitan, kesedihan, putus asa… aku seolah diremukkan melihat Eren yang seperti ini. Sakit, lebih sakit dari apapun. Sakit dari dalam, aku tak bisa menahannya.
"Huks…sakit, Sen-Senpai…" Tapi aku sudah muak, muak mendengar segala keputusasaaannya.
"Kau… bodoh," aku tak kuasa melihat wajahnya, membuatku semakin merasa bersalah.
Eren sesenggukan. Menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Ya… aku memang bodoh…"
…apa...?
Ia menatapku nyalang, terlihat emosi. Mungkinkah… kau tersinggung, Eren?
Karena aku tak menyukai keputusanmu?
"Kau benar! Aku sangat bodoh! Aku bodoh karena lebih memilih untuk mati!"
PLAK!
.
Aku menampar Eren.
.
Matanya membulat tak percaya. Sepertinya tamparanku cukup keras hingga pipinya memerah. Maaf, Eren, maafkan aku.
"Kenapa… kau semudah ini putus asa? Kenapa kau membiarkan parasit itu menggerogoti dirimu!"
Aku berteriak padanya. Pada Eren. Dalam mimpi pun tak pernah kubayangkan akan melakukan ini.
"Kau tidak mengerti!" dia balas berteriak, menangis lagi, "Aku sengaja! Kau tahu kenapa? Karena dari dulu aku memang ingin mati!"
"DIAM." Tanpa sadar nada suaraku berubah dingin. Aku tengah berusaha untuk tidak memukul Eren. Mati-matian aku mengepalkan tanganku.
"Tidak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan." Aku berujar tegas, "Kau tahu apa hal yang mendasari sebuah penyembuhan?" kemudian menatap manik hijaunya tajam,
.
"Itu adalah, keyakinan untuk sembuh."
.
Eren diam.
Mata itu kembali menangis.
.
Aku meraih wajahya, menangkupnya diantara kedua tanganku. Perlahan aku menghapus air matanya, hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu.
"Ta-tapi… dokter sudah mem—"
Kubungkam bibirnya dengan bibirku. Eren terlonjak, takkan kubiarkan kau mengatakan hal bodoh itu lagi. Memang siapa dokter yang berani-beraninya memberi Eren waktu dua tahun? Ia tak berhak menentukan umur Eren-ku. Ia tak bisa… menghancurkan segala harapan dan impian matahariku.
Eren mengerang ketika aku memperdalam ciuman kami. Kurasakan napasnya semakin panas saat aku memasukkan lidahku dan bermain dengan lidah miliknya. Aku mendominasi.
Kuakhiri penyatuan kecil itu dengan maksud memberikannya ruang untuk bernapas, tapi Eren malah menarik leherku mendekat, kemudian ia yang melumat bibirku.
Tak bisa kutahan, senyuman kemenangan karena Eren juga menginginkan hal yang sama.
"Emmph—argh…"
Erangan dan desahannya membuatku mabuk. Aku berusaha menahan diri untuk tidak menyerangnya, mengingat Eren masih butuh istirahat.
Lagi-lagi aku melepas tautan kami dan kulihat bocah nakal itu terengah-engah dengan wajah yang merah membara. Kuseka bekas saliva di bibirku, dan juga di bibirnya. Ia merunduk malu, astaga manis sekali.
"Eren, dengarkan aku," Aku kembali mengangkat wajahnya, ia memandangku bingung, "Tunggulah setahun lagi."
Kepala dimiringkan, "Menunggu…apa?"
Kupejamkan mata, menarik napas, membulatkan tekad. Memberi semangat pada diriku sendiri.
Demi Eren.
.
"Aku akan menjadi dokter terhebat di dunia. Satu-satunya dokter yang akan merawatmu hingga kau sembuh, dokter hebat yang akan memberimu harapan hidup 100 tahun."
.
Tercekat.
Ia menahan napasnya. Kuyakinkan ia, bahwa ia harus kuat. Bahwa ia harus menggenggam erat janjiku.
"Demi kita."
Kemudian matanya kembali berkaca-kaca, kembali menumpahkan cairan bening itu. Eren memelukku erat dan menangis keras. Aku balas memeluknya, merutuk betapa pengecutnya aku. Seharusnya, ini kulakukan sejak dulu. Seharusnya, keputusan ini sudah kuambil sejak pertama aku menyadari redupnya sinar mentariku.
Harusnya aku tidak terlalu banyak berpikir. Harusnya aku tak perlu mempertahankan egoku sebagai seorang Rivaille yang tak peduli dengan apapun selain dirinya sendiri. Harusnya aku lebih mengerti bahwa, aku lebih bahagia menanggung sakit yang Eren rasakan dibandingkan dengan menuruti keinginannya agar aku lebih baik tidak tahu apapun.
.
"Ri-Rivaille…a-aku…"
Aku tersenyum tipis. "Katakan, Eren… katakan saja."
.
"A-ku… ingin—hiks, hidup…"
.
"Katakan lebih jelas."
Eren menarik napas panjang, masih dalam pelukanku.
.
"Aku ingin hidup, Rivaille..."
.
"Katakan lebih lantang."
.
"Aku ingin hidup!"
.
.
Ini pertama kalinya aku memohon padamu, Tuhan.
Kumohon, berikan Eren kesempatan.
.
.
.
-Continue-
.
.
.
BIG BIG BIG BIG BIG THANKS FOR :
Petra Kindness Raliya hahaha... Levi kerasukan apa sampe tau bahasa bunga ._. /ditimpuk vacuum cleaner/ Arashinah Erennya aja gatau dy sakit apa /muka inosen/ /minta ditimpuk/ part depan kayaknya ada :D /kayaknya ._.v/ Hoshigami Sheiakkhhk-aduh iya2 lepasin dulu cekekannya .-. eng...iya deh gaada yang mati. MUNGKIN /duaarr/ hehehe.. liat nanti aja :p /sok misterius/ /dicekek lagi/ update! ga lama kan? /kedip kedip gaje/ syalala uyeeaduh uname nya bikin nyanyi(?) ._. kayaknya ini ga bakalan angst, soalnya authornya ga becus /bunuh diri/ yuzuru ya kalo misalnya sad ending... kita lihat sisi baiknya(?) ._. /apaan?/ /gaada o_o/ | Kim Victoria yosh! udah update :D wahaha itu bahasa bunganya nyontek di salah satu doujin RiRen /plak/ /ketauan._./ nah! aku juga gatau dy sakit apa /ditimpuk/ pokoknya sakit parah /ga jelas baget -_-/ aaa makasih banget! review lagi yah :D
.
Hehehe... /nyengir malem jumat/ makasiiih banyak! Yang fav/follow juga makasiih /ketjup basah :*/
.
A/N : Susah banget bikin POV-nya Rivaille, jadi nyesel ._. /ditimpuk/
Maap kalo ada yang ngaco dan ngawur /apabedanya-_-/ dan ga sesuai dengan reaita, fakta dan berita(?), namanya juga epep, apapun bisa terjadi /ciaciacia/
Ga bisa bikin scene romantis romantisan huweee TTT_TTT maapkan sayah yang ga ada aura romantisnya iniii /elap ingus di kaosnya Rivaille/ /langsung mandi kembang/
sekali lagi makasih banyak, readers! :D :D
.
