Story from my diary
Cast: Cho Kyuhyun, Kim Hye Jin
Genre: Romance
Rating: Fiction T
Warning : EYD kurang baku, Geje , tak banyak menggunakan kosa kata Korea, alur membinggungkan.
Don't like it? Don't read it please.
Summary: "KAU JANGAN PERNAH PERGI KE DORM LAGI DAN JAUHI HYUNGDUELKU!"/ Suaraku tercekat saat melihat darah yang berceceran di lantai./ "Selamat, kau datang di satu detik terakhir." ucapnya dengan berkacak pinggang.
DON'T BE A PLAGIATOR !
Happy reading chingudeul !
Chapter 2
Aku tertegun melihat kemarahan Kyuhyun. Kami memang biasa bertengkar, adu mulut, dan tak jarang marah pada satu sama lain.
Tapi kali ini buatku sangat berbeda. Kemarahan Kyuhyun tak seperti biasanya. Bahakan aku bisa melihat tangannya yang gemetar menahan emosi.
Sebenarnya apa kesalahanku hingga dia semarah ini padaku?'Apa karena aku datang ke dorm tanpa memberi tahunya?'
'Tapi– apa mungkin dia marah hanya karena itu?'
Oh, entahlah. Aku benar – benar binggung. Ku fikir dia akan senang dengan kehadiranku sebagai kejutan untuknya.
Tapi tenyata semua itu salah.
Ku rasa yang di katakana Ahra eonni saat di mouse rabbit itu salah.
"Kau ini kenapa, huh? Kenapa marah – marah? Memang apa salahku?" tanyaku dengan nada yang tak kalah tinggi.
Kulihat ekspresinya semakin menggeras, membuatku takut, hingga mataku mulai terasa panas karenanya.
"KAU JANGAN PERNAH PERGI KE DORM LAGI DAN JAUHI HYUNGDUELKU!" teriaknya.
Ia lalu berbalik membuka pintu di belakangnya dan kembali menutupnya dengan kasar dari luar, meninggalkanku yang akhirnya tumbang.
Terkulai lemas dengan butiran – butiran kristal asin yang tak mampu lagi ku tahan.
"Kau benar – benar menyebalkan Cho Kyuhyun." ucapku dalam tangis.
.
Hinggga beberapa menit aku masih bertahan dalam posisiku. Duduk dengan merangkul kedua kaki dan menelusupkan kepala kedalamnya. Menagis terisak.
Aku merutuki sendiri air mataku yang tak mau berhenti menggalir.
Selama ini, aku tak pernah sekali pun menangis hanya karena dibentak atau di marahi seseorang. Tapi–
Tidak jika seseorang yang kau cintai yang membentakmu dan marah padamu atas dasar alasan yang tidak kau mengerti.
'Menjauhi hyungdeulnya? Apa maksudnya?'
Cklek!
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, kali ini suaranya sangat pelan. Tidak seperti tadi yang terdengar keras karena Kyuhyun membukanya dengan sangat kasar.
Meski sempat ragu aku akhirnya mendongakkan kepalaku. Memastikan siapa orang yang masuk kedalam kamar bercat merah muda ini.
"Gwechanna?" tanya sebuah suara yang tenang dan lembut.
Sungmin oppa–– namja pemilik suara itu perlahan mendekatiku dan duduk di lantai berhadapan denganku.
"Hye jin, gwechannayo?" tanyanya lagi.
Tangan putihnya terjulur ke arahku dan menghapus kristal – kristal bening yang mengalir di wajahku.
Bibirnya tersenyum simpul menenangkan. "Gwechannayo oppa." ucapku dengan suara parau.
"Kau tahu, kau sangat cantik saat tersenyum Jin-ah. Jadi jangan menangis lagi, arra?" hiburnya sambil masih menghapus air mataku.
Meski tak menjawab tapi aku mengganguk sebagai isayarat bahwa aku mengiyakannya.
Sungmin oppa bangkit berdiri, menggambil segelas air minum dari atas meja belajar di kamar ini lalu menyodorkannya padaku dan kemudian kembali pada posisinya tadi.
"Kyuhyunie memang kekanak – kanakan. Hanya karena cemburu dia sampai membuatmu menangis seperti ini." tutur Sungmin oppa.
Sejenak aku mencoba mencerna kata – kata Sungmin oppa. "Cemburu?" ucapku memastikan.
Sungmin oppa mengganguk dan lagi – lagi tersenyum ke arahku.
"Kyuhyunie, benar – benar payah. Ia sangat mencintaimu hingga bahkan kami pun di cemburuinya karena dekat – dekat denganmu. Padahal kami ini kan hyungdeulnya."
"Apa maksudmu oppa?" tanyaku heran. "Mencintaiku? Kyuhyun?"
"Ah, kau pasti heran. Aku tahu selama ini Kyuhyun sering berulah denganmu. Dia banyak cerita tentang hubungan kalian."
"Tapi Jin-ah––." Lanjut Sungmin oppa. "Sebenarnya dia sangat mencintaimu, hanya saja dia tak tahu harus bagaimana bersikap."
Sejujurnya ini bukan kali pertama aku mendengar dari orang terdekat Kyuhyun bahwa namja itu mencintaiku, sebelumnya saat di mouse rabbit, Ahra eonni juga menggatakan hal yang sama, tapi entah kenapa reaksiku tetap tak jauh berbeda dari sebelumnya, terkejut.
Flashback
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu, tapi rahasiakan ini dari Kyuhyunie, arra?" ucap Arha eonni.
"Saat Kyuhyun mendengar appa akan menjodohkannya, ia sangat marah. Selama hampir satu bulan lebih dia mogok bicara dengan kami sekeluarga–– aku,eomma, dan appa. Tapi begitu dia melihat fotomu, dia berubah pikiran dan langsung menyetujuinya. Bahkan merengek untuk perjodohan itu di percepat bagaimana pun caranya."
"Begitu juga dengan pertemuan pertama kalian saat makan malam keluarga." lanjut Ahra eonni. "Hampir satu setengah jam lebih dia memilih – milih baju yang cocok untuk di gunakannya saat acara itu, hanya untuk memberikan kesan pertama yang sempurna untukmu." Ahra eonni tersenyum geli.
Jangan ditanya bagaimana kondisi, ekspresi, atau reaksiku mendengar ceritanya yang terdengar sangat tidak mungkin. Yang jelas aku sangat terkejut. Selama ini Kyuhyun selalu bersikap buruk padaku. Menggomel, membuat ulah, menjahiliku–– aishh–– yang jelas benar – benar menyebalkan.
"Kyuhyunie sangat mencintaimu Jin-ah. Cinta pada pandangan pertama." ucap Ahra eonni di akhir ceritanya.
Flashback End
"Itu tak mungkin. Kyuhyunie tak mungkin mencintaiku. Setiap hari kami selalu bertengakar dan adu mulut. Itu sulit di percaya kalau dia mencintaiku, oppa." kataku dengan nada lesu, pesimis akan apa yang di katakana Sungmin oppa dan Ahra eonni itu benar.
"Aku bisa membuktikannya." ujar Sungmin nampak sangat yakin dengan ucapannya itu.
Ia lalu berteriak memanggil Kyuhyun yang tak lama kemudian sosoknya muncul di depan pintu.
"Waeyo hyung?" tanya Kyuhyun pada Sungmin oppa.
Dari nada suaranya ku rasa ia sudah tak marah lagi. Tapi tetap saja aku tak berani menoleh kearahnya.
"Kenapa kau memarahi Jin-ah hingga dia menangis, eoh?" tanya Sungmin oppa.
"Aku kan sudah menggatakannya padamu tadi hyung."
Sungmin menggerling ke arahku lalu menyahuti ucapan Kyuhyun. "Ah, kau cemburu?"
Dengan sedikit keberanian aku melirik kearah Kyuhyun, ia berdiri tegak di dekat pintu. Wajahnya sedikit demi sedikit terlihat mulai memerah.
"Aniy, siapa yang cemburu? Aku tidak menggatakan itu tadi. Aku hanya bilang aku tak suka dia dekat – dekat dengan kalian."
"Jinjja?" Sungmin oppa meminta kepastian.
"Nde." jawab Kyuhyun singkat.
Aku kembali melihat Sungmin oppa yang tiba – tiba mengganguk dan tersenyum penuh kemenangan."Kau bilang kau tak suka Jin-ah dekat – dekat dengan kami, kenapa?"
"Apa kau mencintai kami lebih dari sekedar hyungmu, eoh? Kau punya perasaan khusus pada kami?" goda Sungmin.
"Tentu saja tidak, aku masih waras hyung." Kyuhyun menjawab tegas.
"Kalau begitu apa kau cemburu karena kau mencintai Jin-ah?"
"I – itu––" Kyuhyun terlihat gugup. Ia tak langsung menyelesaikan ucapannya dan malah menggalihkan pembicaraan.
"Aissh, kau apa – apaan sih hyung." katanya lalu pergi meninggalkan kami berdua. Sekilas aku bisa melihat wajahnya yang merah padam seperti kepiting rebus.
'Apa mungkin dia benar mencintaiku?'
"Dia benar – benar mencintaimu." ucap Sungmin oppa yang sepertinya bisa membaca fikiranku. "Kau lihat kan semu merah di wajahnya tadi? Itu bukti nyata kalau dia mencintaimu Jin-ah."
Sungmin lalu berdiri dan meninggalkanku setelah menyuruhku untuk tidur. Dia bilang hari ini dia akan tidur dengan Shindong oppa di ranjang milik manajer hyung. Jadi ia berpesan untuk tidak perlu khawatir jika aku menggunakan ranjangnya.
30 Mei 2010
Kyuhyun kembali berulah.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya ku suka darinya? Wajahnya tirus, tubuhnya kurus, dengan tinggi dan kulitnya yang seputih susu itu dia lebih nampak seperti mayat hidup. (*di gorok Sparkyu)
Tingkahnya tak beda jauh dengan anak kecil, seringainya seperti iblis, dan kata – katanya sangat pedas.
Hari ini dia mempermalukanku di hadapan Minwoo oppa dan seluruh pengunjung cafe dengan marah – marah tak jelas, menyeretku keluar dengan paksa di hadapan orang – orang yang ada di sana.
Kau bisa bayangkan semerah apa wajahku. Malu dan marah campur aduk membuat rona merah yang tak sebanding dengan warna merah semangka menghiasi wajahku.
Padahal setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu dengan Minwoo oppa. Ia pulang dua minggu yang lalu, dan karena beberapa alasan aku baru bisa menemuinnya sekarang.
Tapi karena namja menyebalkan itu aku tak tahu apa aku masih punya muka untuk menemuinya lagi.
Tanpa alasan yang jelas dia mendelik tajam ke arah Minwoo oppa dan memukul pipinya keras, hingga membuatku dan pengunjung lain tersentak.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku heran pada Kyuhyun yang datang – datang langsung memukul Minwoo oppa.
Ekspresi mukanya mengeras dengan tangan yang menggepal. Ia terlihat gemetar menahan amarah yang membuncah. "Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di siang bolong begini? Berpelukan dengan pria lain selain suamimu kau pikir itu pantas huh?" ucapnya geram.
"Dan kau!" tambahnya lagi. tapi kali ini ia tujukan untuk Minwoo oppa. "Jangan pernah dekati wanitaku lagi." bentaknya.
Ia lalu dengan paksa menarik lenganku, menyeretku keluar dari cafe. Tanpa memberiku kesempatan untuk berpamitan pada Minwoo oppa.
"Yak Cho Kyuhyun, lepaskan." kataku. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan lenganku tapi sia – sia. Tangan kurusnya yang nampak rapuh ternyata mampu mencengkram lenganku kuat.
Bahkan mampu membuatku meringis sakit sangking kuatnya cengkraman itu. "Lepas. Kyuhyun lepaskan, tanganku sakit." ucapku dengan nada memohon.
Tapi sama seperti usahaku untuk lepas dari cengkramannya, permohonanku ini juga taka da gunanya. Kyuhyun malah semakin kuat mencengramku.
Ia baru melepaskannya setelah mendorongku paksa masuk ke dalam mobilnya. Aku benar – benar takut. Ini kali kedua aku melihat raut wajah yang semarah itu dari Kyuhyun.
Dengan kecepatan penuh ia melajukan mobil seperti orang kesetanan. Menerobos lampu merah, dan bahkan hampir menambrak seorang penyebrang jalan, jika orang tersebut tidak segera menarik tubuhnya mundur.
"Kyuhyun, jebal hati – hati. Pelankan kecepatan mobilmu." pintaku. Tapi sekali lagi, nihil. Kyuhyun sama sekali tak memperdulikan dan mengindahkan kata – kataku.
Pandangannya lurus melihat kedepan dengan wajah yang masih menggeras.
Setelah hampir setengah jam kami sampai di depan rumah. Kyuhyun yang masih marah keluar dari mobil dan mendahului masuk ke dalam rumah.
"Cho Kyuhyun kita perlu bicara." teriakku, namun tetap tak ada jawaban apa pun dari mulutnya.
Ia terus berjalan tanpa menoleh menyusuri anak tangga dan masuk ke dalam kamar.
Brakk
Aku memanting pintu kamar, menatap kesal Kyuhyun yang berdiri membelakangiku di dekat jendela.
"Cho Kyuhyun kita perlu bicara." ulangku. "Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan tadi huh? Memukul orang sembarangan, marah – marah tak jelas, ngebut di jalan dan––"
Suaraku tercekat saat melihat darah yang berceceran di lantai. Ku alihkan pandanganku ke sekeliling kamar dan mendapati cermin rias di depan ranjang sudah pecah dengan kacanya yang juga berhamburan di lantai sekitarnya.
Aku kembali menatap Kyuhyun dan terkejut saat melihat darah mengucur dari tangan kanannya.
Tanpa pikir panjang aku menghampirinya, meraih tangan berlumuran darah itu tapi dengan sentakan Kyuhyun menghempaskannya. Ia berbalik dan menatapku tajam.
"Ada apa sebenarnya Kyuhyun-ah? Kau ini kenapa?" tanyaku binggung.
Seketika amarahku yang tadinya meledak karena ulahnya hari ini lenyap. Khawatir dan cemas menyergapku melihat tingkah Kyuhyun sekarang ini.
Dengan paksa aku meraih tangannya lagi, tapi tidak untuk membiarkan tangan itu kembali lepas. "Apa yang kau lakukan pada tanganmu eoh? Cepat duduk, akan ku obati lukamu."
"Siapa dia?" tanya Kyuhyun dengan tatapan menusuk. Ia tak menggubris pertanyaanku atau pun suruhanku tapi malah balik bertanya. "Siapa yang bersamamu tadi huh? Dia pacarmu? Kekasihmu? Kenapa kalian berpelukan? Kim Hye Jin, kau itu gadisku. milikku, istriku. TAK SEHARUSNYA KAU BERMESRAAN SEPERTI ITU DENGAN PRIA LAIN." ucapnya kasar dengan nada tinggi yang membuat tubuhku menegang.
Tangan kirinya yang bebas menggepal hebat dan membentur dinding di sebelahnya dengan sengaja. "Kyuhyun-ah kau kenapa? Kenapa seperti ini?" tanyaku takut.
Aku benar – benar tak mengerti dengan sikap dan tingkahnya ini. Dia kenapa? kenapa seperti ini? Apa mungkin––
"Jawab pertanyaanku Kim Hye Jin." serunya lagi. "Siapa pria itu? Siapa pria yang bersamamu di cafe tadi huh?"
"Dia Minwoo oppa, sepupuku." jawabku cepat.
Ekspresi Kyuhyun nampak berubah, mimik wajahnya tak lagi menegang. "Se – sepupu?" ucapnya terbata.
Aku menggeryitkan alis dan memincingkan mata melihat perubahannya. "Nde, dia sepupuku. Kenapa? Apa jangan – jangan kau––"
"A – apa? Jangan – jangan apa huh?" Kyuhyun gugup.
Aku heran dengan namja di depanku ini. Jangan – jangan tidak hanya Heechul oppa saja yang memiliki kepribadian ganda. Tapi dia juga.
Lihat saja tingkahnya, baru semenit yang lalu dia wajahnya menggeras dan marah – marah tak jelas.
Eh, sekarang dengan cepatnya berubah. wajahnya menegang, tapi tak lagi terlihat marah melainkan lebih seperti menahan gugup yang terlihat lucu.
"Kau cemburu." kataku menggoda. Ku angkat sebelah alisku dan itu membuatnya terlihat semakin gugup.
"Si – siapa yang cemburu? Lagi pula bagaimana mungkin dia sepupumu, kalian terlihat sangat mesra. Berpelukan dan bahkan dia mencium keningmu tadi. Jangan harap aku percaya hal itu."
"Itu wajar kan. Kami sudah lama sekali tak bertemu dan lagi pula aku dongsaeng kesayangannya." ucapku membela diri.
Dengan satu jari telunjuk menggarah padanya aku kembali menggomel. "Dan apa yang kau lakukan tadi? Menghajarnya? Apa kau preman hingga bisa menghajar orang tanpa alasan, huh?"
Kyuhyun tak menjawab. Ia malah membuang muka ke arah jendela di sampingnya. 'Huft, kenapa sebenarnya dengan namja ini?Tingkahnya sangat membinggungkan.'
"Duduklah, akan aku obati lukamu." kataku memecah keheningan di antara kami yang sempat tercipta sesaat.
Aku segera menuruni tangga, menggambil kotak obat yang tersimpan di lemari lantai bawah. Lalu kembali ke kamar, menggambil handuk bersih dan air untuk membersihkan luka Kyuhyun sebelum memberi luka itu obat.
Sesekali Kyuhyun meringgis sakit saat aku menanggani lukanya. Gayanya saat ini sungguh tak sebanding dengan saat dia marah – marah tadi.
"Aauuw, ya~ pelan – pelan." keluh Kyuhyun.
"Ini sudah pelan. Tahan sebentar lagi." kataku. "Aissshh, jinjja. Kemana perginya kekuatanmu tadi huh? Kau bahkan bisa memukul Minwoo oppa dan kaca itu hingga pecah. Tapi kenapa hanya karena ini kau meringgris dan terus menggeluh hah?"
~Story from my diary~
Aku mengesampingkan sebentar kenangan – kenangan lama yang muncul saat membaca buku diaryku.
Pandanganku mengedar mendengar seorang anak memanggilku dari kejahuan. Ia seorang yeoja berumur tiga tahun,melambaikan tangannya di sela – sela kegiatannya, lalu lanjut bermain kembali.
Tepat di angka lima, jarum arlojiku menunjuk. Untuk kesekian kalinya, ia terlambat lagi
Sudah satu jam yang lalu sejak ia berjanji untuk menjemput kami di sini, tapi sampai sekarang dia belum juga muncul. Kebiasaannya ini entah kapan akan berubah.
3 Juni 2010
Aaarrhhhggg … Cho Kyuhyun menyebalkan.
Hari ini karena dia pagi – pagi aku sudah harus berlari menyusuri kota Seoul yang penuh sesak, padahal hari ini adalah hari libur.
Hari dimana seharusnya aku bisa tidur seharian penuh dan bersantai menghilangkan kepenatanku setelah beberapa hari sebelumnya sibuk bekerja di dalam kantor.
Seenaknya menyuruh orang menemuinya tanpa pemberitahuan lebih awal.
Apa dia lupa kalau mobilku sedang ada di bengkel.
Asal kau tahu saja karena rumah kami yang ada di sudut kota Seoul, tempat ini tidak terlalu sering di lalui taksi atau semacamnya.
Hanya bis yang memiliki jadwal keberangkatan empat kali dalam sehari saja yang menjadi alternatif umum untuk pergi ke pusat kota Seoul. Dan yang jelas jadwal keberangkatannya bukan di jam sepagi ini.
Karena itu aku terpaksa harus berlari sejauh satu kilometer baru berhasil mendapatkan taksi.
Smsnya yang mengerikan itu membuatku harus berlari karena tak mau menerima konsekuesi atas ancamannya yang membuatku sakit kepala.
Seharusnya aku sadar dari awal kalau aku harus slalu waspada selama tinggal serumah dengannya.
.
From: Setan Neraka
Subject: -
Re: -
Datang sekarang juga ke dorm, jangan lupa bawa makanan yang banyak.
Jika dalam 20 menit kau tidak datang aku akan mengupload wajah memalukanmu saat tidur di akun menjadikannya sebagai avatar, bukan ide yang buruk.
280188
"Awas saja kau Cho Kyuhyun. Tunggu pembalasanku." umpatku kesal di dalam taksi yang ku tumpangi. " 20 menit? yang benar saja. Jarak rumah kami dari dorm tidak sedekat itu hingga aku bisa sampai dalam waktu sesingkat itu.
Belum lagi aku harus mampir ke supermarket untuk membeli beberapa makanan. Dasar namja gila."
"Aaiisshh, bagaimana dia bisa mendapatkan password twitterku?" Aku mengacak rambutku frustasi, tak memperdulikan supir taksi yang melirik heran ke arahku dari kaca mobil.
.
.
.
Lebih dari 15 menit, akhirnya aku sampai di depan supermarket tak jauh dari apartemen Star City. Itu waktu tercepat yang bisa supir taksi usahakan untukku.
Biasanya dari rumah hingga ke kawasan apartement ini membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk sampai. Tapi karena aku terus meminta supir taksi itu untuk mempercepat laju taksinya akhirnya aku bisa sampai kurang dari waktu yang biasanya.
Dua kantong plastik besar dengan isi penuh makanan kutenteng keluar dari supermarket.
Mulai dari makanan ringan, makanan siap saji, dan bahan makanan mentah ku borong semuanya sangking tergesanya, menggingat waktu yang ku punya hanya tinggal beberapa menit lagi.
Drrtt—ddrrtt—
Aku menggeram kesal, ditengah usahaku berjalan dengan dua kantong penuh belanjaan dan tengah memburu waktu seseorang mengirim pesan.
From: Setan Neraka
Subject: -
Re: -
Hei, kim hye jin. Avatar twittermu sangat jelek, bagaimana kalau aku menggantinya?(gambar evil) kebetulan aku sedang membuka akun twittermu.
Drrtt—ddrrtt—
2 sms lain kembali masuk, sebuah pesan berisi foto ku yang sangat memalukan saat tidur dan satu pesan lagi berisi teks.
From: Setan Neraka
Subject: -
Re: -
Cepat, waktumu tinggal 2 menit lagi.
"Cho Kyuhyuuunnn." kataku kesal sambil meremas ponsel di genggamanku, seakan ponsel itu adalah namja super duper menyebalkan itu.
Aku berlari menuju tower C apartemen star city dan segera naik ke lantai 11 menuju dorm Super junior.
Tempatnya yang terletak persis di sebelah kiri lift dan coretan – coretan tangan dari para fans mereka membuatku tak kesulitan menggingat tempat ini meski sebelumnya aku hanya sekali berkunjung saat perayaan debut pertama Kyuhyun.
Teettt—
Aku memencet bel sambil menggatur nafas yang memburu karena berlari.
Sungguh, meski jarak supermarket tak terlalu jauh, tapi dengan belanjaan sebanyak ini membuatku butuh menggeluarkan tenaga ekstra untuk berlari.
Krieeet—
Pintu terbuka dan seorang namja yang sangat menyebalkan nampak dengan senyum evil yang aarrhhhggg …. membuatku sangat kesal.
"Selamat, kau datang di satu detik terakhir." ucapnya dengan berkacak pinggang.
Dengan tampang sok-nya ia menyuruhku masuk tanpa berinisiatif membantuku membawa dua kantong plastik besar di tanganku dan malah duduk di sofa menghadap layar laptopnya.
"Ya~ Cho Kyuhyun kenapa kau tak membantuku?" keluhku.
"Aku sibuk." jawabnya tanpa menggalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
'Aaaisshh benar – benar namja menyebalkan' runtukku dalam hati.
Dengan terpaksa aku masuk dan menaruh barang belanjaan di atas meja, persis di sebelah laptopnya.
"Kau hanya bermain twitter. Apanya yang sibuk?" protesku. Aku melirik layar laptopnya dan mendapati nama akunku terpampang disana.
'Omo! Ternyata dia benar – benar tahu paswordku?'
Tanpa pikir panjang aku merebut laptopnya dan menatap tak suka ke arahnnya.
"Bagaimana kau bisa tahu paswordku?" tanyaku sedikit berteriak.
"Itu bukan hal sulit untukku." Kyuhyun melenggos tak memperdulikan tatapan kesalku padanya. "Kalau password Eunhyuk hyung yang slalu berganti – ganti saja bisa aku bobol apa lagi password yeoja sepertimu." cibir Kyuhyun.
"Salah mu sendiri, siapa suruh seenaknya menggunakan laptop orang tanpa minta ijin terlebih dahulu." Kyuhyun berdiri dan menggambil kantung belanjan, membawanya ke dapur.
Sekilas aku melihatya menggubek – ngubek kantung plastik itu seperti sedang mencari sesuatu.
"Aku hanya meminjamnya karena bosan sendirian di rumah." kataku sambil menggalihkan pandanganku ke arah layar laptop dan segera mengganti password lalu meng log outnya.
"Dimana hyungdeulmu? Kenapa sepi sekali?" tanyaku ketika Kyuhyun kembali duduk di sofa sambil membawa beberapa snack yang tadi aku beli.
"Molla, mereka sudah tak ada sejak aku pulang dari jadwal pemotretanku."
"Lalu untuk apa kau menyuruhku ke sini dengan membawa banyak makanan?"
"Aku lapar, tapi tak ada makanan apa pun di dorm."
"Kau kan bisa keluar untuk membelinya atau langsung pulang ke rumah saja."
"Aku terlalu capek untuk keluar mencari makanan dan pulang ke rumah." Kyuhyun melirikku, membuatku bergidik."Lagi pula sekali – kali aku ingin mengerjai dan menyusahkanmu." katanya sambil memunculkan evil smirk.
"Ya~ apa maksdumu sekali – kali eoh? Kau itu selalu mengerjai dan menyusahkanku." protesku kesal, dan sejurus kemudian sebuah bantal kursi yang ku lempar sukses mengenai wajah tirusnya.
"Ya~" dengus Kyuhyun kesal. Ia melempar balik bantal yang ku lembar, berniat balas dendam namun lemparannya meleset.
Gerak refleksku untuk menghindar lebih cepat dari lemparannya membuatnya semakin kesal dan kejar – kejaran sambil saling melempar bantal pun tak terhindarkan.
.
.
.
"Hei Cho Kyuhyun, mana kehebatan yang selalu kau banggakan itu huh? dari tadi melempar tapi tak ada satu pun yang mengenaiku." ejekku. "Kau bahkan tak berhasil menangkapku eoh." tambahku yang sepertinya semakin membuatnya memanas.
"Ya~ awas kau Kim Hye Jin. Lihat saja aku pasti bisa menangkapmu." serunya kembali mengejarku.
Langkah kakinya semakin cepat di banding yang tadi, bahkan tangannya kini tinggal beberapa centi lagi dapat mencengkram bajuku, membuatku ikut mempercepat lari tapi sayang—
Brruggh …
Aku terjatuh dengan tidak elitnya.
Bagian belakang tubuhku yang sukses mencium lantai terasa sakit. Aku meringis dan menggelus pantatku . Badanku juga terasa berat, apa ini efek karena jatuh?
Tapi kenapa sepertinya berbeda ya?
Aku membuka kedua mataku yang tadinya tertutup karena meringis kesakitan dan saat mendonggak, betapa terkejutnya aku mendapati Kyuhyun ternyata juga ikut terjatuh dengan posisi yang—menindihku?
Ya, Kyuhyun—namja ini sekarang sedang berada tepat di atasku dengan mata yang menatapku tak berkedip.
TBC
Jangan lupa REVIEW ya^^
