Hai minnaaa…!

Alhamdulillah yah! Natsu udah update…^^ *ala Syahrini*

Yosh! maksih banyak buat para readers yang udah nge-review chapter sebelumnyaaa…

Natsu sweneeeeng banget ama tanggapan-tanggapan para readers tentang fic jelek Natsu yang satu ini…

Yosh! Buat yang login, Natsu udah bales lewat PM! Silahkan cek inbox masing-masiiiing!

Trus, buat yang gak login, balasannya ada di akhir cerita yah!

Yosh! tanpa panjang, lebar, luas, tinggi, volume lagi, silahkan membacaaa…

.

.

Disclaimer : Riichiro Inagaki and Yusuke Murata selalu masuk dalam mimpi Natsu *plakkk!*

Tittle : Hiruma family

Story by : Natsu Hiru Chan

Rated : T

Pairing : HiruMamo selalu ada di hati Natsu

Genre : Romance and family

Warning : Abal, GaJe, norak, OOC, OC, ancur, typo bertebaran seperti debu di rumah author, tokoh baru yang gak jelas, pokoknya ancur lah!

Summary : Setelah menikah, bagaimanakah kehidupan Hiruma dan Mamori dalam satu keluarga? Ditambah dengan kehadiran seorang iblis kecil, berparas malaikat?

Don't like, don't read!

.

.

.

.

'Hiruma-kun… tunggu aku… aku akan menyusulmu! Kerena aku tidak bisa hidup tanpamu…' batin Mamori.

Esoknya, terbanglah pesawat DHA E3 (ngarang!) dari Kanto, Jepang, siap menuju wilayah New York, Amerika.

Chapter 2 : Kehidupan di Amerika

.

.

New York, jam 7 malam, waktu Amerika.

Di sebuah gedung pencakar langit, di tingkat ke 32, seorang pemuda berambut spike pirang, tengah berdiri sendirian tepat di depan jendela yang sangat besar. Kedua tangannya ia masukkan di saku celana jeans hitamnya, yang ia pasangan dengan T-shirt biru tua bergambar emo. Mata emerald-nya memandang lurus ke depan, sedangkan mulutnya sedari tadi sibuk mengunyah permen karet less sugar-nya.

Langsung saja seringaian iblis mengembang di bibirnya, memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya yang runcing. "Kekekekeke… dia datang…" gumamnya masih dalam keadaan menyeringai.

000~HIRUMA FAMILY~000

Terlihat saat ini, seorang gadis berusia sekitar 24 tahunan, tengah berjalan menyusuri kota yang diberi julukan, 'kota yang tak pernah tidur' ini. Wanita tersebut, dengan celana jeans birunya, dengan kaos putih, serta mantel merah, dan syal merah marun-nya, sedari tadi terlihat berjalan dengan wajah bingung. "Dia dimana sih?" tanyanya entah kepada siapa. 'Mungkin banyak orang yang mengenal You-kun di sini! Baiklah, aku akan tanya pada seseorang,' batinnya.

"Errr, permisi…" sapa wanita tersebut, sambil menghampiri seorang pria tua, memakai kacamata.

"Can I help you, young lady" ucap orang itu ramah.

"I'm from Japan… so―"

"Ah, kau orang Jepang? Istriku juga orang Jepang! Silahkan anda berbahasa jepang saja…" potong pria itu melemparkan senyum ramahnya pada sang gadis.

"Eh, i―iyah…"

"Kalau begitu, ada yang bisa saya bantu?"

"Em, apakah anda mengenal atau pernah melihat pemuda ini?" tanya gadis itu sambil menunjukkan selembar foto.

"Hmmm… ah! Dia 'kan Hiruma Youichi! Quarterback terhebat dari Jepang itu 'kan?"

Si gadis terlihat sedikit memerah, mendengar orang yang dicarinya, dipuji seperti itu. "I―iya… apa anda pernah melihatnya?"

"Tidak nona, saya sangat menyesal…"

Terlihat tampang kekecewaan dari gadis muda tersebut. Si pria terlihat menyeringai.

Tiba-tiba saja pria yang berumuran sekitar 50 tahun itu, menarik tangan si gadis masuk kerumahnya. "GYAAAAAAAA!"

Di dalam rumah,

"Malang benar nasibmu nona!" ucap pria itu langsung merebahkan tubuh mungil nan indah milik Mamori, yang baru saja tadi bercakap-cakap dengannya, di sofa.

Tubuh Mamori langsung gemetaran ketika melihat pria itu, mulai membuka bajunya. "A―apa yang akan kau lakukan?" tanya Mamori dengan nada gemetaran.

"Orang Jepang huh? Istriku pasti tidak akan marah jika aku memperkosa orang yang berkebangsaan sama dengannya…" ucap pria itu makin menyeringai, membuat Mamori semakin bergetar.

"Jangan macam-macam!" tegas Mamori mulai mundur.

"Tenanglah nona… ini adalah New York… tidak akan masalah 'kan?"

"Aku bukan NONA! Aku sudah berSUAMI!" tegas Mamori dengan sedikit rona merah di wajah mulusnya.

"Siapa lelaki yang beruntung itu? Atau, aku harus bilang, lelaki yang sial, karena istri cantiknya ini, ternodai oleh pria lain?"

"Kau tidak perlu tahu!"

"Cih! Mana mungkin kau yang sudah bersuami, jalan-jalan di kota ini malam-malam? Pasti kau ditinggalkan suamimu, dan kau berniat untuk mencari penggantinya hah? Lagipula… kau ini benar-benar cantik, NYONYA…"

Mamori sedikit tertegun mendengar kata 'ditinggalkan' dari sang pria. Dia langsung ingat bahwa suaminya, Hiruma memang pergi meninggalkannya, tanpa alasan. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat orang yang paling ia sayangi itu. Tapi…

"Suamiku tidak mungkin meniggalkanku! Aku yakin, dia pasti sangat menyayangiku, seperti aku menyayanginya! Tapi, meskipun misalnya dia meninggalkanku seperti yang kau bilang, aku tidak akan mencari penggantinya! Tapi itu hanya MISALNYA! Suamiku tidak mungkin meninggalkanku! DIA SANGAT MENCINTAIKU!" tegas Mamori emosi. Sepertinya dia marah ketika pria mesum itu menjelek-jelekkan suaminya.

Mamori terkejut bukan main ketika melihat, pria itu tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya.

"Selamat datang di NewYork. Nyonya Hiruma-sama…" ucap pria itu tersenyum lembut. Mamori masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat, sekaligus didengarnya.

"A―apa maksud anda?" tanya Mamori tak mengerti.

"Hn… nama saya Ronald Nozhard. Saya adalah bawahannya tuan Hiruma-sama. Kemarin, tuan Hiruma-sama memberi saya intruksi bahwa, jika saya mendapatkan gadis yang berciri-ciri seperti anda, dan sedang mencarinya, maka saya harus melakukan ini padanya. Sepertinya tuan Hiruma-sama memberi intruksi yang sama pada semua bawahannya yang ada di Amerika ini." Jelas Ronald.

Wajah Mamori langsung memerah padam mendengar penjelasan Ronald. Dari mana Hiruma tahu kalau Mamori sedang mencarinya? Apa teman atau keluarganya yang ada di Jepang yang memberi tahunya. Tapi, rasanya tidak mungkin, bagi Mamori.

"Maaf, saya tadi sudah lancang…" sesal Ronald membungkukkan tubuhnya.

"Eh? Ti―tidak apa kok! Lagipula, itu bukan kemauan anda… ohya, jadi, apa anda tahu dimana Youichi-kun?" tanya Mamori yang kelihatan menahan kesabarannya untuk bertemu Hiruma.

"Tentu saja… silahkan…" ucap Ronald seraya kembali memasang bajunya, dan mengajak Mamori keluar.

Mamori melihat Ronald. mempersilahkannya untuk masuk ke mobil merah, yang terkesan begitu mewah. "Silahkan Nyonya Hiruma-sama…"

"Te―terima kasih…"

Maka mobil itu pun melesat cepat, menuju kesuatu tempat.

000~HIRUMA FAMILY~000

"Hiruma-sama, ada di dalam…" perkataan itu cukup membuat jantung Mamori berdegup cepat.

Yah, saat ini, ia dan Ronald sedang berdiri di depan pintu otomatis yang berada di atas gedung pencakar langit bertingkat 36 tersebut. "Saya cukup sampai di sini. Permisi…" pamit Takaro seraya berlalu meninggalkan Mamori. Mamori hanya menatap Takaro senang.

Pandangannya kembali tertuju pada pintu yang ada di depannya. Dengan gemetaran, Mamori lalu memencet tombol merah yang ada pada pintu tersebut.

Tanpa suara dari sang pemilik ruangan, pintu itu langung terbuka seperti liv (tulisannya gini yah?) begitu saja di depan Mamori. Mamori sedikit terkejut, namun ia berusaha agar tetap tenang.

Bagaimana tidak, saat ini, dia akan segera bertemu dengan pria yang sebulan lebih tidak bertemu dengannya. Mamori lalu menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya panjang. Perlahan-lahan, Mamori mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan tersebut.

"You-kun?" ucap Mamori sedikit terkejut, ketika yang ia lihat di ruangan tersebut hanyalah meja besar, kursi putar, rak-rak buku, dan dokumen-dokumen yang menumpuk di sana. Ingin rasanya ia menangis ketika menyadari bahwa orang yang dicarinya tidak berada dalam ruangan ini.

"You-kun? Youichi-kun?" sekali lagi Mamori memanggil nama itu, dan melangkah lebih jauh, mengamati setiap inci dari ruangan tersebut, mencari sosok sang iblis.

'Dia… tidak ada di sini…" gumamnya tersenyum kecut.

Tesss…

Tanpa Mamori sadari, air matanya mulai menetes di pipinya. "Ah? Kenapa aku menagis?" gumamnya menghapus air matanya.

Dia lalu menunduk. Wajah cantiknya tertutupi oleh poni auburn-nya. Dia gertakkan giginya kuat-kuat.

"KAU BODOH YOU-KUUUUNN!" teriak Mamori entah pada siapa. Kali ini ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya.

"Kau bodoh! Kau bodoh! Kau bodoh!" entah berapa kali Mamori mengucapkan kalimat itu. Dia langsung berjongkok, dan memeluk lututnya erat-erat, dan menanamkan wajahnya di sana.

"Kata siapa, istri sialan?"

Mamori merasakan seseorang membelai pipinya dari belakang. Suara itu? Suara yang tidak asing lagi baginya. Suara yang bisa menenangkannya. Suara orang yang sangat dicintainya.

Mamori langsung menoleh ke sumber suara. Matanya membulat sempurna, melihat seorang pria, berambut spike pirang, yang memakai T-shirt biru tua, dan celana jeansnya. Saat ini, pria tersebut sedang berjongkok, sambil menyeringai setan.

Mamori masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu langsung memegang bahu Mamori, dan membantunya berdiri. Mamori reflex mengikutinya.

"Mukamu itu jelek sekali, istri sialan! benar-benar jelek!" ejek pria tersebut.

"Y―Youichi-kun…" gumam Mamori tak percaya.

"Kenapa tadi kau bilang kalau aku ini bodoh istri sia―" perkataan Hiruma langsung terpotong ketika Mamori langsung memeluknya erat. Sangat erat… Mamori pun menangis di dada Hiruma. Hiruma hanya menatap Mamori datar.

Ia lalu membalas pelukan Mamori dengan tangan kirinya, sedangkan tangannya mengusap lembut puncak kepala sang istri, berusaha menenangkannya. "Kau cengeng sekali, istri sialan…" ejek Hiruma menyeringail setan.

"Kau bodoh Youichi-kun! Kau tidak tahu betapa menderitanya aku ketika kau tidak ada! Hatiku terasa tercabik-cabik ketika Youri-chan bertanya dimana ayahnya! Kau tidak tahu rasanya… dan kau malah enak-enakan disini! Aku pikir, kau akan meninggalkanku! Aku takut… takut sekali… hick…" teriak Mamori di sela-sela tangisannya. Dia semakin mempererat pelukannya pada sang suami.

Hiruma menatap Mamori sendu, namun tidak dilihat oleh Mamori. "Hn, aku tahu itu, istri sialan… kau pikir, kau saja yang merasakannya?" lirih Hiruma memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan SEDIKIT rona pink tipis di pipi putihnya.

Mamori tertegun mendengar perkataan Hiruma. Ia lalu mendongkak ke atas, menatap wajah tampan iblis, yang telah membahagiakannya.

"Sudahlah, istri sialan! jangan menatapku seperti itu! Kau jelek sekali!" ucap Hiruma menanamkan wajah Mamori di dada bidangnya. Mamori reflex mengikutinya. "Uhm… arigato Youichi-kun…" lirih Mamori mempererat pelukannya.

"Hn."

000~HIRUMA FAMILY~000

Terlihat kini Mamori terduduk di sofa putih yang empuk. Sedangkan Hiruma duduk di sofa yang sama, di samping Mamori. Laptop VIAO putihnya setia berada di pangkuan setan yang satu ini, seakan lebih berharga dari istrinya. Yah memnag, karena sedari tadi Hiruma hanya cuek, dan memainkan pacar (laptop)nya tersebut. Mamori yang diperlakukan seperti itu hanya menatap Hiruma sebal.

Karena merasa canggung, Mamori memutuskan untuk membuka obrolan. "You-kun―"

"Bagaimana anak sialan itu?" potong Hiruma tanpa melirik ke arah Mamori sedikitpun.

"Ah? Maksudmu Youri?" tanya Mamori memiringkan kepalanya.

""Memangnya siapa lagi, istri jelek, tua, bodoh sialan?" ejek Hiruma bertubui-tubi.

Mamori hanya mendengus kesal. "Kau 'kan juga tua, You-kun! Kita 'kan seumur! Dan aku ini tidak bodoh! Aku 'kan hanya ingin memastikan!" kesal Mamori.

"Terserah kau istri jelek! Jadi, dimana anak sialan itu?"

"Hm, Youri aku titipkan pada Suzuna-chan, dan Sena-kun! Dia akan baik-baik saja!"

"Oh…"

"Ngomong-ngomong, kau kenapa pergi sih? Terus, kenapa kau tidak mengabarkan siapapun?"

"Kau mau tahu saja!"

"Tentu saja! Aku 'kan istrimu!"

"Ya,ya,ya…" kata Hiruma malas.

"Terus, kenapa?"

"Aku ada urusan kantor, istri sialan! kalau aku memberi tahumu, kau pasti akan mengomel-ngomel tidak jelas lagi! Lagipula, aku sudah memberi tahu orang tua sialan itu, agar menjagamu! Tapi dia malah memberi tahumu, dimana aku! Lihat saja! Akan kusebarkan rahasia-rahasia sialannya nanti!"

Mamori tertawa kecil melihat tingkah Hiruma. "Terus, kenapa kau tahu aku akan datang?"

"Si orang tua sialan jelek itu bilang, kalau aku akan menemukan sesuatu yang hebat beberapa hari yang akan datang ini, dan aku langsung tahu maksudnya! Jadi keuperintahkan semua anak buah, dan budak-budak sialanku untuk mencarimu! Dan aku langsung punya firasat bahwa kau akan datang hari ini, tepat 2 jam yang lalu. Kau tahu, firasatku ini tidak pernah meleset!"

'Kemampuannya mengerikan…' pikir Mamori.

"Kalau begitu, ayo pulang ke Jepang…" ajak Mamori memegang tangan Hiruma dengan nada manja.

"Aku tidak bisa, istri sialan! urusanku masih banyak!"

"Tapi Youri-chan…"

"Tenang saja! Kau percaya saja pada si cebol sialan dan cheer sialan itu!"

"Jadi, maksudmu, aku harus tinggal di sini?" tanya Mamori sedikit meninggikan suaranya, dan langsung berdiri dari sofa.

TAPP…

Hiruma lalu menutup laptopnya, dan meletakkannya di meja. Ia pun ikut berdiri mengahadap Mamori. Hiruma langsung meraih pinggul Mamori, dan memeluknya erat. Dengan sigap, Hiruma pun mengecup lembut bibir Mamori. Mamori yang diperlakukan seperti itu langsung ber-blushing-ria.

Kurang lebih tiga puluh detik, Hiruma pun melepas ciumannya, dan menatap Mamori lembut. "Tentu saja, istri sialan! kita akan bersenang-senang tanpa gangguan dari iblis kecil sialan itu…" goda Hiruma memagang dagu Mamori.

Mamori memejamkan matanya erat, menahan malu. Yah, meskipun sudah sepuluh tahun hidup bersama, Mamori tetap saja sensitif dengan sentuhan sang suami.

Tapi Mamori berusaha melawannya. Dia pun mendorong lembut Hiruma, menjauhkan tubuhnya dan tubuh iblis yang satu ini. "Gomen, You-kun… aku tidak bisa! Aku tidak bisa melalaikan tanggung jawabku sebagai ibu, hanya untuk kepentinganku sendiri.

"Kepentinganku juga, istri sialan…"

"Gomen You-kun… tapi aku tetap tidak bisa! Kau itu sudah besar tahu! Sedangkan Youri-chan itu masih kecil! Dia tidak bisa hidup, tanpa seorang ibu…"

"Aku juga tidak punya ibu, tapi aku masih bisa hidup sampai sekarang, istri sialan…" ucap Hiruma datar. Namun Mamori dapat melihat raut kesedihan dari mata emerald milik Hiruma.

"You―"

"Sudahlah, istri sialan! kau pulang saja ke Jepang, bersama anak sialanmu! Aku masih ada banyak urusan disini…" ucap Hiruma seraya berbalik, membelakangi Mamori. Hiruma pun mengambil langkah pergi.

Mamori menatap Hiruma sambil menahan tangsinya. Dia menggenggam tangannya erat-erat, dan menggertakkan giginya kuat-kuat. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi mereka harus bertengkar lagi.

"You-kun…" panggil Mamori dengan nada gemetar. Namun yang dipanggil tetap berjalan, tanpa mengubris orang yang memanggilnya.

"You-kun…" panggil Mamori lagi. Kini tetesan air matanya mulai keluar dari pelupuk matanya.

"Hick…" Mamori mulai terisak. Namun sang iblis tetap tidak mengubrisnya. Sepertinya dia ngambek Mamori lebih mementingkan anaknya, dari pada dirinya sendiri. Dia tetap berjalan.

Hiruma langsung merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Erat… sangat erat.

Hiruma pun berbalik, melihat siapa yang memeluknya, meskipun dia tahu siapa orang itu. Dilihatnya seorang wanita cantik bertubuh mungil, yang memeluknya erat. Seakan tidak ingin kehilangan dirinya.

Sang pemeluk, merasakan pelukannya di balas. Yah, saat ini Hiruma membalas pelukan sang istri, Mamori Anezaki. "Gomen, You-kun… tapi kumohon! Kita jangan bertengkar duluuu! Aku sangat mencintaimu! Kumohon jangan… jangaaaann…" pinta Mamori menangis di dada Hiruma.

"Hn, terserah kau saja, istri sialan!"

Maka mereka pun berpelukan di ruangan itu, dalam waktu yang cukup lama. Kasih sayang mereka, cinta mereka, rasa kasih mereka, menyatu dalam sebuah pelukan hangat, antara seorang iblis dan malaikat…

~HIRUMA FAMILY~

"Ah? Benarkah You-kun?" tanya Mamori berbinar-binar.

"Memangnya aku harus mengulanginya berapa kali, istri sialan?" ucap Hiruma datar sambil memainkan ponselnya.

"Ngyaaaa! Arigato Youichi-kuuuunnn…" histeris Mamori langsung menghambur ke pelukan Hiruma. Hiruma hanya mengelus lembut puncak kepala Mamori dengan tatapan datar.

"Jadi, kapan aku menyuruh Suzuna-chan dan Sena-kun datang ke sini, membawa Youri, Natsu dan Aoi?" tanya Mamori dalam pelukan Hiruma.

"Kau terlambat istri sialan! Mereka sudah ada dalam perjalanan,"

"Apa? se—sejak kapan?"

Hiruma lalu menunjukkan monitor ponselnya pada Mamori. Mamori sedikit menyipitkan matanya untuk membaca pesan yang ada pada ponsel merah tersebut.

To : Cebol sialan

Hai cebol sialan! kau harus cepat ke sini! Bawa istri sialan, dan dua anak sialanmu! Dan jangan lupa membawa iblis kecil sialan itu! Kalau kau terlambat, maka akan kuhancurkan rumah sialan orang tua sialanmu! YA-HA~

BLETAKKKK!

Hiruma sukses mendapatkan jitakan dari Mamori. "Apa yang kau lakukan istri sialan?" protes Hiruma.

"Kau ini! Kapan sih, kau bisa berubah?"

"Tidak akan pernah, istri sialan!"

"Huh! Kau benar-benar menyebalkan, You-kun!"

"Kekekeke… tapi, kau kau menyukaiku 'kan, istri sialan?" goda Hiruma.

Wajah Mamori sontak memerah, "k—kau jangan bodoh! Bukannya kau yang mencintaiku?"

"Tapi kau yang duluan mencintaiku, istri bodoh!"

"Tapi, kau yang menembakku, dan mengajakku menikah! Suami menyebalkan!"

"Tapi kenapa kau menerimaku?"

"Karena aku mencin—" wajah Mamori langsung memerah. "Sudahlah You-kun! Aku malas berdebat denganmu!" akhirnya Mamori mengalihkan pembicaraan. Hiruma hanya tersenyum puas, telah memenangkan perdebatan ini..

Ting tong…

Bel ruangan Hiruma langsung berbunyi (emang ada?). Mamori langsung berlari menuju pintu, dan membukanya. Hiruma hanya kembali duduk di sofa, dan memainkan laptop tercintanya.

"KYAAAA! SUZUNA-CHAAAANN!" histeris mamori langsung berhambur ke pelukan Suzuna setelah ia membukakan pintu. Suzuna hanya membalas pelukan Mamori dengan senang hati.

"Dimana yang lain?" tanya Mamori melepaskan pelukannya.

"Ah, mereka sebentar lagi datang kok, tenang saja…"

Tepat, setelah itu, Sena, yang menggendong Aoi dengan tas gendong, menggendong Natsu dengan tangannya, dan Youri digendong di punggung Sena. Terlihat ia berlari dengan kecepatan cahayanya.

"Hah…hehh…hehhh…" desah sena kelelahan seraya menurunkan Youri dan Natsu dari gendongannya.

"KAA-SAAAANNN!" teriak Youri langsung saja menghambur ke pelukan Mamori. Mamori antusias membalasnya dengan begitu erat. Sangat erat… seolah tidak ingin melepaskan sang buah hatinya lagi.

"You-chan!" lirih Mamori. Terlihat setetes cairan bening di ujung matanya.

"Kaa-san, kenapa Kaa-san lama sekali liburannya? Jahat! Kaa-san dan Tou-san senang-senangnya liburan di Amerika, terus Youri di tinggal! Jahat! Nanti Youri akan melaporkan kalian berdua, biar kalian dikenai pasal!" kesal Youri mengerucutkan bibirnya kesal. Mamori, Suzuna, Sena, dan Natsu hanya bisa ber-sweat drop-ria berjamaah.

"Y—You-chan, siapa yang mengajarkanmu begitu?" tanya Mamori tak percaya.

"Ahahaha… aku pernah membacanya, di buku kelas 6," jawab Youri menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. 'Anak SD yang mengerikkan!' pikir keluarga Kobayakawa secara bersamaan, keuali Aoi tentunya.

DRRRTTTTT DRRRTTT…

Tembakan Hiruma langsung menggelegar di bangunan itu. Mamori langsung memeluk Youri, Suzuna memeluk Aoi, dan Sena langsung memeluk Natsu.

"Hei udang-udang busuk! Apa yang kalian lakukan di pintu sialan ini? Menghalangi angin masuk saja," datanglah si iblis pengacau dunia, Hiruma Youichi sambil meneteng AK-47 kesayangannya di bahunya.

"You-kun! Anginnya 'kan dari jendela ruanganmu! Bukan dari sini! Bilang saja kau mau mengganggu kami!" protes Mamori.

"Kekekekeke… aku tidak suka angin dari sana, istri sialan!"

"Huh! Percuma berdebat denganmu!"

"Percuma, karena pada akhirnya kau yang kalah 'kan, istri tua?"

"Kalah? Aku tidak sudi kalah denganmu! Dan sekali lagi kuperingatkan, KAU JUGA SUDAH TUA!"

"Aku masih awet muda, selain itu aku masih tampan!" ucap Hiruma narsis.

"Aku juga begitu!"

"Benarkah? Lalu keriput di wajah jelekmu itu apa? Apa karena cream puff sialan bodohmu itu?"

"Keriput? Aku tidak keriput! Aku masih cantik!" ujar Mamori ikutan narsis. "Dan lagi, jangan masuk-masukkan tentang cream puff!"

"Kau keriput!"

"Tidak!"

"Keruiput,"

"TIDAK!"

Sena, Suzuna, Youri dan Natsu hanya ber-sweat drop melihat 'sambutan selamat datang' dari pasangan Hiruma yang satu ini.

000~HIRUMA FAMILY~000

09.00 pm, waktu Amerika.

Terlihat kini Hiruma sedang berdiri di depan jendela kaca hotel, yang cukup besar itu. Sinar bulan setia meneranginya, beserta dengar seluruh penduduk di sana, yang masih tetap terjaga. Tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya. Sedangkan sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.

Hiruma langsung merasakan seseorang menyentuh bahunya dengan lembut. Tanpa menolehpun, Hiruma sudah tahu siapa yang sudah 'lancang' menyentuh bahu kekarnya.

"Kau belum tidur, istri sialan?" tanya Hiruma datar tanpa menoleh sedikitpun.

"Aku belum ngantuk…" ucap orang yang dipanggil 'istri sialan' itu. Siapa lagi, kalau bukan Anezaki Mamori. Satu-satunya cewek tangguh, yang dapat menaklukkan iblis yang satu ini.

"Bagaimana dengan anak sialan itu?"

"Ehm, Youri sudah tidur… dia tidur berdua dengan Natsu…"

"Lalu, pasangan cebol sialan itu?"

"Kau tidak boleh begitu You-kun! Sena-kun dan Suzuna-chan tidur di satu kamar, bersama dengan Aoi. Lagipula, kenapa malam ini kau banyak tanya sekali You-kun?"

"Memangnya salah, kalau aku tertular virus 'cerewet' sialanmu?" goda Hiruma. Mamori hanya menggembungkan pipinya kesal.

Hening menyelimuti mereka…

"Em, You-kun?" tanya Mamori membuka obrolan.

"Hn,"

"Bagaimana degan pekerjaanmu?"

"Biasa saja,"

"Kalau klub Amefutomu?"

"Biasa saja,"

"Bagaimana kondisi perusahaanmu?"

"Biasa saja,"

"Kok dari tadi kau cuma bilang BIASA SAJA sih?"

"Terserah aku, istri sialan! ini mulutku sendiri!"

"Ya,ya,ya… aku tahu…" ucap Mamori dengan satu niat. Mengakhiri perdebatan ini…

"Baiklah, istri sialan! cepat tidur! Bersiap-siaplah untuk besok!" ucap Hiruma seraya meninggalkan Mamori.

"BESOK? Apa maksudnya?" gumam Mamori.

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

Hahahaha… akhirnya chapter dua selesaaii…

Maafkan author abal ini. Natsu emang gak bakat nge-bikin fic gini…

Baiklah, silahkan para readers yang Natsu hormati, mereview fic GaJe ini…

Ohya, nih balasan review buat yang gak login :

. Y0uNii D3ViLL :
Makasih udah RnR… XD Makasih juga udah bilang keren! Gomen, HiruMamo kurang mesra di chapter kali ini… tapi Natsu bakal lebih berusaha!

. Just Reader :
Hahaha… makasih udah bilang suka… You nii-kun gak jahat koook… XD makasih udah RnR… X3

Yosh! sekali lagi makasih buat semuanya!

Natsu boleh minta review dari para reader-san lagi?

Mau saran, kritik, pujian, konkrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Okay, akhir kata, DON'T FORGER TO REVIEW !

~ARIGATOU~

NATSU HIRU CHAN