After Who Are You : School 2015
.
Chapter 2
.
Don't Like, Don't Read!
.
Don't copy WITHOUT my permission!
.
.
.
Setelah memasukkan handphonenya ke kantong celananya. Bokdong langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Taekwang yang tertidur lelap. Ia berniat untuk membangunkannya. Dan sepertinya itu akan menjadi hal yang sulit.
Seingatnya dulu, Taekwang sangat sulit untuk dibangunkan. Hal yang sangat menyebalkan baginya dulu.
Bokdong mulai mengangkat tangan kanannya dan menusuk pipi kiri Taekwang pelan. Taekwang memang tertidur dengan menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan.
"Sungjae-ah…" Panggil Bokdong sambil menusuk pipi Taekwang berkali – kali.
"Sungjae-ah…" Panggil Bokdong kembali.
Benar – benar Gong Taekwang ini. Menyusahkan.
Taekwang yang merasakan pipinya ditusuk dengan jari berkali – kali merasa terganggu.
Yang benar saja. Siapa yang berani mengganggu macan tidur?
"Uri Sungjae… Ayo bangun…"
Taekwang yang mendengar nama panggilan tersebut langsung membuka matanya lebar dan menegakkan tubuhnya. Namun, ia menyesalinya karena kepalanya langsung pusing.
"Akhirnya…" Ujar suara namja di depannya.
Taekwang langsung mengerjapkan matanya berkali – kali dan menatap namja di depannya.
'Siapa namja ini? Berani sekali dia mengganggu tidurku.' Batin Taekwang.
"Nugu?" Tanya Taekwang ketus.
"Ah… Kau tidak mengenalku, Sungjae-ah?" Ujar Namja tersebut.
"Kau siapa? Kenapa memanggilku dengan nama itu?!" Tanya Taekwang yang semakin sebal. Namja di depannya ini benar – benar tidak memberinya jawaban.
"Aku Go Bok Dong. Apa kau lupa?" Tanya namja tersebut yang ternyata adalah Bokdong.
'Aku seperti pernah mendengar nama itu…' Batin Taekwang.
'Tunggu dulu… Jangan – jangan dia…'
"Ji Soo?" Tanya Taekwang.
"Ah… Kupikir kau melupakanku… Annyeong Sungjae-ah. Kita bertemu lagi." Ujar Bokdong.
Taekwang melotot tak percaya. Namja di depannya ini, benar – benar Go Bok Dong? Jisoo-nya?
"Sungjae-ah, jangan melotot begitu. Matamu bisa keluar nanti." Ujar Bokdong yang langsung tertawa.
"Babo!" Ujar Taekwang sambil mendorong dahi Bokdong dengan tangannya.
"Gong Taekwang!" Panggil Yi Ahn.
Taekwang yang mendengar Yi Ahn memanggilnya langsung menolehkan kepalanya ke sebelah kiri dengan malas.
"Mwo?!" Tanya Taekwang sebal.
"Ini hari pertamanya dan kau malah mulai mem-bullynya." Ujar Yi Ahn.
"Bully? Yang benar saja." Sungut Taekwang.
"Kalau aku membullynya, kau mau apa?" Tanya Taekwang.
"Aish anak ini." Ujar Yi Ahn yang mulai sebal.
"Sungjae-ah." Ujar Bokdong sambil menyentuh kedua pipi Taekwang dan mengarahkannya untuk menatap dirinya.
Taekwang hanya bisa menunjukkan ekspresi bingungnya saat ini. Dan ekspresi tersebut membuat Bokdong tertawa. Ia langung mengacak – acak rambut Taekwang dengan tangan kanannya. Membuat Taekwang merengut sebal dan Yi Ahn yang menatapnya tak percaya.
"Kau tidak berubah." Ujar Bok Dong.
"Untuk apa aku berubah. Kamu tuh yang berubah. Kau pikir aku tidak tahu kelakuanmu di Busan selama ini?" Balas Taekwang sebal.
"Kalian, saling mengenal?" Tanya Yi Ahn bingung.
Bokdong langsung menurunkan tangannya dari kepala Taekwang dan mulai menatap Yi Ahn.
"Aku teman kecilnya." Jawab Bokdong.
"Benarkah? Aku tak percaya. Mana mungkin Taekwang memiliki teman sepertimu." Ujar Yi Ahn.
"Aish! Saekki-ya!" Teriak Taekwang tak terima.
Sedangkan Bokdong, ia hanya tertawa melihat Taekwang yang secara tidak langsung di bully oleh temannya sendiri.
'Aku akan mencoba menyukai tempat ini, Sangtae-ah.'
Jam makan siang sudah tiba dan Taekwang berencana untuk pergi ke kantin. Mengambil jatah makannya tentu saja. Dan sepertinya dia melupakan Bokdong.
Buktinya, ia sudah berjalan keluar kelas melalui pintu belakang tanpa menunggu Bokdong terlebih dahulu.
Bokdong yang menyadari bahwa Taekwang pergi langsung saja berdiri dari kursinya dan berlari kecil untuk menghampiri Taekwang.
"Gong Taekwang! Kenapa meninggalkanku? Kau jahat sekali..." Ujar Bokdong sambil merangkul bahu Taekwang. Mengagetkan saja.
"Ahhh... Aku lupa kalau kau ada disini." Balas Taekwang.
"Jahatnya..."
"Berhenti merajuk!" Ujar Taekwang kesal.
"Tidak apakan selama itu kau?"
"Apa – apaan dengan kata – katamu?!"
Dan Bokdong hanya tertawa melihat reaksi Taekwang. Sahabatnya ini benar – benar lucu.
Taekwang dan Bokdong sudah membawa nampan mereka masing – masing. Mereka sedang berjalan untuk mencari meja yang kosong.
"Biasanya kau duduk dengan siapa?" Tanya Bokdong.
"Biasanya dengan Lee– maksudku Go Eunbi. Nah itu dia."
Taekwang langsung berjalan lebih dulu dari Bokdong. Sepertinya ia terlalu bersemangat karena melihat Eunbi. Sehingga melupakan Bokdong lagi.
"Aku ditinggalkan. Lagi." Ujar Bokdong yang langsung menghela nafas.
Taekwang yang memang tidak peduli dengan sekitar, langsung saja duduk di sebelah Shijin. Inginnya duduk di sebelah Eunbi. Tapi sudah ada Yi Ahn. Jadi ia duduk di sebelah Shijin, yang kebetulan duduk di hadapan Eunbi.
"Ya Gong Taekwang! Kenapa kau duduk disini?!" Tanya Shijin tak senang. Ia memang tidak menyukai Taekwang sejak beberapa minggu yang lalu.
Taekwang hanya menatap malas ke arah Shijin dan mulai memakan makanannya. Eunbi dan Yi Ahn hanya tertawa kecil melihat pertengkaran yang selalu terjadi setiap hari.
Tapi tak berapa lama, Taekwang bergumam dengan keras dan mengusap kepalanya yang kesakitan. Taekwang yang tidak terima langsung menatap ke kanan untuk melihat siapa yang memukulnya.
'Oh! Aku melupakan Bokdong lagi… Sial!' Batin Taekwang.
Bokdong hanya menatap ke arah Taekwang dengan malas dan langsung duduk di meja yang sama, namun berjarak 2 kursi dari Taekwang. Taekwang merasa bersalah sekarang. Ia tidak bermaksud meninggalkan Bokdong.
Bokdong sebenarnya tidak marah. Ia hanya kesal saja pada Taekwang. Sahabatnya itu seperti melupakan dirinya.
Bokdong yang sudah duduk di meja tidak langsung memakan makanannya. Ia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya dan membuka kunci handphonenya. Ia ke bagian kontak untuk mencari nama Hong Sang Tae. Setelah menemukannya, ia menekan ikon panggilan. Dan ia menunggu Sang Tae mengangkat telponnya sambil mengambil sumpit dan memakan makanannya sedikit.
'Yeoboseyo.'
"Sang Tae-ah…" Ujar Bokdong.
'Wae? Kau merindukanku eoh? Kenapa kau selalu menelponku?'
"Kau sedang apa?" Tanya Bokdong.
'Makan siang tentu saja.'
"Bersama Ah Ran?"
'Tidak, Ah Ran tidak masuk hari ini. Ia sedang sakit.'
"Ah.. Aku akan menelpon Ah Ran nanti." Ujar Bokdong sambil mulai memakan makanannya.
'Kau kenapa sih?'
"Tidak…"
'Kenapa kau masih menyimpan sifat jelekmu itu sih? Cepat katakan ada apa!'
"Kau perhatian sekali denganku. Kau menyukaiku ya?" Tanya Bokdong dengan nada bercandanya.
'Go Bokdong!'
Bokdong yang mendengar suara Sangtae yang seperti itu langsung tertawa. Menyenangkan bisa menggoda seorang Hong Sangtae.
Sedangkan Taekwang yang mendengar pembicaraan Bokdong dengan seseorang yang entah siapa itu, Taekwang tidak peduli, hanya bisa menggerutu sambil melanjutkan makannya. Ia kesal karena Bokdong lebih memilih berbicara dengan temannya dari pada mengajaknya bicara. Memang ini juga salah Taekwang sih. Ia meninggalkan Bokdong begitu saja. Pasti Bokdong juga kesal terhadapnya.
Eunbi sedari tadi juga memperhatikan tingkah laku Taekwang. Sebenarnya Eunbi ingin menanyakan perihal tingkah laku Taekwang. Tapi ia hanya ingin melihatnya dulu. Karena jika ia langsung bertanya, Yi Ahn pasti memarahinya.
Eunbi menghela nafas dalam hati. Sulit ternyata memiliki seorang kekasih.
Kembali pada Taekwang. Ia masih memakan makan siangnya dengan gerakannya yang agak kasar. Untungnya Shijin tidak memperdulikan tingkah laku abnormal Taekwang.
Sedangkan Bokdong, ia masih berbicara dengan Sangtae. 2 hari tidak bertemu ternyata membuatnya merindukan Sangtae.
"Sangtae-ah, aku bertemu dengan temanku saat aku masih kecil." Ujar Bokdong.
'Jeongmal? Baguslah kalau begitu. Jadi kau tidak akan kesepian disana.'
"Masalahnya, sepertinya ia melupakanku. Dia selalu meninggalkanku. Padahal aku belum hapal dengan sekolah ini."
Saat Taekwang mendengar kata – kata Bokdong, ia langsung menggeser nampannya ke sebelah Bokdong. Ia juga menggeser tempat duduknya.
Melihat tingkah laku Taekwang, Shijin, Eunbi dan Yi Ahn hanya bisa mentapnya heran. Mereka pikir, Taekwang sedang kerasukan. Karena mereka melihat Taekwang tersenyum tidak enak pada Bokdong dan seperti berusaha merayu Bokdong. Dasar playboy.
"Bokdong-ah…" Panggil Taekwang. Tapi Bokdong tidak memperdulikan Taekwang. Ia terus saja berbicara dengan Sangtae.
"Ya! Jisoo-ah…" Kali ini dengan nama kecilnya disertai dengan nada bicaranya yang memelas.
Bokdong yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas.
'Bokdong-ah, sepertinya temanmu itu sudah menyadari kesalahannya. Lebih baik aku pergi. Wang Junghee memintaku untuk mengajarinya matematika.'
"Baiklah, sampaikan salamku pada Ahran nanti." Ujar Bokdong.
Dan setelahnya Bokdong langsung memutus sambungan telepon dengan Sangtae.
"Apa maumu, Gong Taekwang?" Tanya Bokdong pada Taekwang sambil melanjutkan makannya tanpa menatap Taekwang.
"Bokdong-ah… mianhae…" Ujar Taekwang sambil menunduk.
"Habiskan makananmu. Nanti kau sakit. Apa kau tidak sadar kalau tubuhmu kurus sekali? Apa saja yang kau lakukan di Seoul? Benar – benar…"
Mendengar ocehan Bokdong, Taekwang langsung tersenyum lebar dan melanjutkan makannya. Ia tahu, jika Bokdong menghawatirkan dirinya setelah ia meminta maaf, Bokdong pasti memaafkannya.
"Kau yang terbaik, Bokdong-ah!" Ujar Taekwang sambil tersenyum lebar ke arah Bokdong. Tapi karena di mulutnya masih ada makanan, pipinya jadi terlihat menggembung lucu.
Dan Bokdong yang melihat Taekwang hanya bisa tersenyum menyembunyikan tawanya.
Eunbi yang sedari tadi menatap mereka jadi semakin penasaran.
'Siapa Go Bokdong sebenarnya? Kenapa ia bisa membuat Taekwang bahagia seperti itu?'
.
.
.
To Be Continue
