Author : deeralpaca
Pairing : Krishan, minor GTOP
Disclaimer : They own each other. I only own this story.
Rating : PG? Some bad words, but safe. You can read this fic with your grandma together ^^
1
Luhan tersenyum di depan loker PO Box-nya. Itu adalah surat terpendek yang pernah dikirim Laxy Galaxy, atau yang sering Luhan panggil dengan 'Laxy' saja. Sahabat penanya itu tidak pernah mengiriminya surat yang lebih sedikit dari 4 halaman sebelumnya. Orang itu sangat suka bercerita. Dia bercerita tentang apapun, tentang dirinya, sifat-sifatnya, keluarganya, tempat dia tinggal, pekerjaannya, karya-karyanya. Semuanya. Cukup aneh menerima sebuah surat yang berisi hanya hampir satu halaman surat darinya.
Luhan bertemu dengan teman penanya ini 6 bulan yang lalu. Mereka kenal di sebuah acara radio, ketika itu Luhan adalah tamu untuk acara tersebut. Tao, sahabatnya sejak SMA yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri, merupakan DJ di stasiun radio tersebut, mengundangnya untuk menjadi pembicara. Topik hari itu adalah "Tidak Ada Yang Salah Dengan Gay". Luhan adalah salah satu dari apa yang orang-orang sebut sebagai aseksual. Sejak kecil dia tahu dia memiliki orientasi yang berbeda. Luhan tidak pernah memiliki ketertarikan seksual pada anak perempuan, atau ketika dia sudah dewasa, wanita. Pada mulanya dia pikir itu terjadi karena memang dia bekerja di bidang fashion, di mana hampir semua laki-laki yang bekerja di bidang itu menyukai sesama jenis. Namun bahkan kepada lelaki, Luhan tidak tertarik. Hasratnya ada hanya untuk fashion. Fashion telah mencuri hati dan pikiran Luhan sejak dulu.
Ketika anak laki-laki lain senang bermain robot dan mobil-mobilan, Luhan bermain bersama kakak perempuannya, Lu Li, dan bersama mereka mengutak-atik gaya berpakaian koleksi boneka barbie Lu Li. Saat remaja laki-laki lain bermain sepeda ketika Luhan SMP, dia lebih suka berada di rumah memperhatikan kakaknya mendisain baju dan terkadang membantunya menjahit baju-baju tersebut. Ketika memasuki SMA, anak laki-laki lain semua terlibat dalam kegiatan olahraga, Luhan memilih untuk mengambil kursus menjahit dan menjadi designer untuk pakaian-pakaian yang dijual di online shop kakaknya. Dan ketika pemuda-pemuda lain memilih jurusan yang keren-keren seperti hukum, bisnis, atau teknik ketika kuliah, Luhan memilih seni, jurusan fashion dan dia lulus sebagai salah satu mahasiswa dengan nilai tertinggi di kampusnya. Sekarang Luhan memiliki fashion label-nya sendiri, yang khusus merancang baju-baju perkawinan, dan labelnya cukup terkenal di Beijing.
Ya, dia sering kali ber-onani, namun dia tidak pernah ingat alasan dirinya melakukan itu. Tentu dia sering berbicara tentang wanita, juga pria, dengan teman-temannya; dia memuji seorang gadis jika dia cantik dan mengagumi lelaki-lelaki tampan, tetapi tidak pernah mengalami ketertarikan secara seksual maupun romantis pada orang lain. Sampai dia mengenal seseorang ini melalui sebuah panggilan telepon.
"Aku lahir di keluarga berkecukupan, memiliki orangtua yang sangat penyayang dan luar biasa, juga seorang kakak perempuan yang tidak akan aku tukar dengan siapapun," Luhan dan Tao terharu dengan apa yang pemuda ini katakan tentang keluarganya. "Aku.. menyukai perempuan, pada awalnya. Ciuman pertamaku.. terjadi saat aku SD, dengan seorang anak perempuan yang sangat aku sukai. Dia sangat cantik. Tetapi.. itu hanyalah sebuah permainan untuk kami. Maksudku.. kami sama-sama masih kecil. Kami tidak bertahan lama. Aku sadar aku menyukai sesama jenis ketika aku SMA. Aku pindah ke Canada pada usia 15 tahun dan melanjutkan sekolahku di sana sejak itu. Aku memiliki pacar, perempuan, di sini dan di sana, tetapi.. Aku tidak tahu yah,aku merasa itu.. tidak.. tidak benar saja pacaran dengan seorang perempuan."
"Wow, pacar di sini dan di sana? Kau benar-benar seorang player ya?" ledek Tao. Alih-alih marah, pemuda di saluran seberang itu tertawa dengan suaranya yang berat. Suara pria itu lebih dari indah dan membuat Luhan merinding ketika mendengarnya. Rendah, serak dan seksi. Luhan terus membayangkan bagaimana rupa pemilik suara ini.
"Tidak! Aku bukan player!" dia membela dirinya. "Aku selalu berpacaran dengan 1 wanita, tetapi.. aku hanya tidak pernah sendiri terlalu lama," katanya, mengundang tawa dari Tao dan Luhan. "Suatu hari, ketika aku kembali ke Beijing untuk berlibur, teman dari seorang sahabatku yang menjemputku di bandara. Well.. bisa dikatakan aku mengalami apa yang disebut dengan naksir pada pandangan pertam—"
"Aku pikir orang-orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama?" Luhan memotong si penelepon, berpikir kalau orang itu salah bicara.
Luhan merinding lagi ketika si penelepon terkekeh dan melanjutkan, "Tidak. Aku belum pernah menjalani sebuah hubungan yang cukup layak dikatakan sebagai hubungan yang berdasarkan cinta."
"A~h," kedua sahabat itu mengangguk mendengarnya.
"Dia adalah teman dari sahabatku, dan.. terasa sangat aneh pada mulanya, memiliki ketertarikan pada teman sejenis. Aku tumbuh di keluarga yang melarang hal-hal semacam ini, jadi.. cukup sulit bagi diriku sendiri menerima kalau aku.. mm.," si penelepon terdengar ragu, jadi Luhan membantunya dengan mengatakan, "Tidak normal?"
Luhan langsung menyesali kata-katanya ketika si penelepon mengatakan dengan tegas, "Tidak. Bukan tidak normal. Berbeda. Hanya berbeda. Normal.. adalah kata yang sangat.. berbahaya. Normal, mengandung.. banyak pengertian dan.. orang-orang biasanya mengintepretasikan 'normal' sesuai dengan orientasi mereka masing-masing. Kau harus.. melihat kedua sisi koin untuk benar-benar mengerti maksud kata normal. Untuk kami.. para gay, menyukai.. mencintai sesama jenis itu normal, di mana kalian yang 'normal' menganggap itu tidak normal."
Perkataannya menyambar kedua sahabat itu bagaikan petir di siang bolong. Penjelasan pemuda itu sangat sederhana, tetapi membuka pikiran Luhan, dan juga Tao, tentang seksualitas.
".. Jadi.. pada akhirnya aku menerima kenyataan kalau aku tertarik pada pria. Aku mencintai wanita dan aku mengagumi mereka, tetapi perasaan itu tidak akan lebih dari rasa hormat dan.. rasa cinta kepada seorang kakak, atau adik."
Luhan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya setelah mendengarkan cerita itu. Cinta atau bukan, Luhan masih ragu karena dia juga belum pernah merasakan itu sebelumnya, dan ini hanyalah sebuah panggilan telepon. Luhan hanya mendengar suaranya. Tetapi yang jelas Luhan sangat tertarik pada pria ini. tidak secara seksual (mungkin sedikit, mengingat suaranya yang sangat seksi dan menggetarkan hatinya) tetapi secara romantis mungkin, dia sangat terpesona. Di akhir percakapan, ketika panggilan tersebut sudah tidak disiarkan on-air dan Tao sedang mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan, Luhan membisikkan permintaannya pada Tao. Luhan meminta bantuan Tao untuk mendapatkan nomor teleponnya. Pemuda itu menolak, memberikan nomor PO Box sebagai gantinya. Dia mengakui kalau dia adalah seseorang yang suka menulis dan memilih surat sebagai sarana komunikasinya dengan orang-orang.
Jadi di sinilah Luhan sekarang, di hadapan lokernya yang dia buka 6 bulan yang lalu demi sahabat penanya ini, kebingungan membaca surat terpendek yang pernah dia terima dari pria romantis yang juga konyol yang menggunakan nama Laxy Galaxy sebagai panggilannya. Laxy Galaxy? Serius?
