Ohayou, konnichiwa, konbanwa, minna-san! Fi datang lagi membawa chapter 2. Banyak terima kasih Fi ucapkan untuk yang sudah fave dan follow fic sederhana ini. I'm so grateful to you guys. ^^
Balasan review dari chapter sebelumnya: (karena nama Guest lebih dari satu, Fi gabung balesannya, ya :))
Guest: Empat bagian utama berarti fic ini cuma 4 chapter saja? Bagian utama di sini masing-masing terdiri dari beberapa chapter, jadi fic ini lebih dari 4 chapter :). Ditunggu kelanjutan sekuel St. White's Day Romance. Waduh Fi masih mengumpulkan ide, tapi terima kasih semangatnya ^^. Ini nyesek... Syukurlah kalau feel-nya terasa... Hhe :). Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^
May: Naruto memang nggak peka, sih, maafin Naruto ya... Hhe. Amiin! Doakan saja semoga Hinata bisa bahagia :). Waduh jangan panggil senpai, Fi masih pemula.. Hhe. Okay ini sudah lanjut, semoga nggak mengecewakan. Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^
Untuk yang review login, Fi bales via message. ^^
Well, then, happy reading, minna-san! Hope you like it!
.
~Hinata no Tame no Aijou~
ヒナタのための愛情
A Naruto Fanfic by FiDhysta
Rated: T
Genre: Drama, Hurt/Comfort, Romance
Pairing: Naruhina, Kibahina
Warning: Newbie, OOC, Typo(s), Canon
Disclaimer: I don't own Naruto. Kishimoto Masashi does.
.
If you don't like, just click the 'back' button, okay? ^^
.
Summary: Penolakan Naruto berdampak berat bagi hati Hinata. Meskipun diliputi rasa ragu, Hinata mencoba untuk menghargai keputusan tersebut, kemudian membuka hatinya untuk orang lain—orang yang tanpa disadarinya selalu ada kapanpun tanpa ia minta. Hinata dan yang lainnya pun harus belajar untuk memahami apa yang sebenarnya hati mereka inginkan, sebelum kesempatan itu terlewat dan menyisakan sebuah penyesalan. "Aku tak peduli walaupun aku menjadi orang ketiga. Aku ingin selalu bersamamu."
.
Chapter 2
A Shoulder to Lean on
.
Pagi hari di desa Konohagakure selalu menyegarkan. Dengan banyaknya pepohonan dan burung-burung yang berkicau merdu, angin semilir turut membawa perasaan nyaman bagi setiap warga desa untuk memulai beraktivitas dengan semangat.
Setidaknya itulah yang kuharapkan akan kurasakan juga.
Namun sayang, aku tidak bisa turut merasakan demikian. Tidak setelah aku mendengar jelas kata-kata Naruto-kun semalam. Kata-kata bagaikan ribuan jarum yang ditujukan langsung ke hatiku.
.
"Tapi, kita...akan terus seperti ini, 'kan?"
.
Kata-kata penolakan itu tak kunjung hilang dari ingatanku, melekat erat dan terpatri di benakku meskipun berulang kali kukatakan pada diriku sendiri untuk berusaha melupakannya.
Karena setiap kali aku mengingatnya, ketika aku bangun di pagi hari dengan mata yang bengkak, setiap kali aku menyadari bahwa ingatan tersebut bukanlah hanya sekedar mimpi buruk, semakin nyata pula rasa perih yang mendera di hatiku.
Menggigit bibir, aku terus melangkah perlahan menuju tempat yang sudah kuhafal di luar kepala walaupun harus berjalan sambil menutup mata. Tentu saja aku tidak benar-benar menutup mata—kali ini aku hanya berjalan sambil terus menunduk. Syukurlah aku tidak menabrak siapapun selama perjalanan ke sana.
Merasa bahwa aku sudah tiba di tempat tujuan, aku mengangkat kepala dan mendengar seruan dari seseorang yang kukenal dengan baik sejak kecil.
"Tsuuga!"
Rupanya Kiba-kun sudah sampai terlebih dulu. Dia tengah berlatih sendiri—jika Akamaru tidak dihitung—menerjang batang kayu yang dianggapnya adalah sosok lawan bertarungnya.
Memasang senyum kecil untuk menyamarkan wajahku yang mungkin masih terlihat sembab, aku mengambil langkah maju dan menyapa rekan setimku itu.
"Ohayou, Kiba-kun, Akamaru."
Pasangan shinobi dan anjing ninja itu menghentikan gerakan mereka. Si pemuda kemudian berbalik dan langsung tersenyum lebar begitu melihatku, sementara anjing raksasa itu menggonggong riang.
"Yo, Hinata! Akhirnya kamu datang juga," sapanya, mengusap keringat yang mengalir ke lehernya. "Aku sudah bosan hanya menyerang objek yang tak bergerak dari tadi."
Aku mengungkapkan penyesalan lewat raut wajahku, lalu berujar pelan, "Ma-maaf ya, aku bangun kesiangan... Aku membuatkan onigiri untuk makan siang sebagai gantinya," aku mengangkat kotak bekal yang dibungkus dengan selembar kain berwarna ungu. Sekilas aku melihat Kiba-kun melontarkan pandangan heran, tapi raut wajahnya sudah kembali berubah normal sebelum aku menyadarinya.
"Hehehe, thanks. Letakkan saja bekalmu di bawah pohon situ, lalu ayo kita mulai latihan taijutsu," Kiba-kun menunjuk sebuah pohon di belakangnya dengan ibu jarinya. Aku segera berlari dan menaruh kotak bekalku di sana, kemudian kembali ke tempat Kiba-kun berdiri.
"Baiklah, ayo kita mulai, Kiba-kun," aku sedikit meregangkan tangan lalu memasang kuda-kuda. Kiba-kun menoleh untuk menghadapiku lalu ikut memasang kuda-kuda, setelah sebelumnya melirik ke tempat aku meletakkan kotak bekal tadi.
"Heh, bersiaplah, Hinata. Aku tak akan menahan diri, lho!" cengirnya percaya diri.
Memusatkan chakra di telapak kaki, kami melesat dengan cepat dan mulai saling menyerang dan menangkis.
.
.
.
"Hei, Hinata, apa cita-citamu?"
Aku mengangkat wajahku yang sebelumnya terus mengarah pada sebuah batu di depan kakiku, beralih menatap sosok pemuda tegap yang berdiri di sebelahku.
Menyadari aku belum menjawab pertanyaannya, dia kembali bersuara, "Cita-citamu sebelum kamu masuk ke akademi dan menjadi seorang shinobi... Apa kamu punya?" dia tak menatap wajahku, pandangannya tetap datar terarah ke bawah—aku jarang melihatnya memasang wajah seperti itu.
Pandanganku kembali teralih pada objek yang kutatap sebelumnya. Sikapku saat ini juga bukan merupakan kebiasaanku. Kurasa sekarang kami sama-sama sedang meninggalkan sifat khas kami.
"Aku...ingin menjadi seorang shinobi yang kuat seperti chichi-ue, dan baik hati seperti haha-ue," aku mulai membuka suara. Kurasa suaraku yang terdengar olehnya lebih lemah daripada yang kukira, karena dia menoleh padaku setelahnya, seakan ingin mendengarkan dengan lebih seksama.
Menangkap reaksinya sebagai tanda bahwa dia ingin mendengarkan lanjutan ceritaku, aku kembali meneruskan.
"Tapi kenyataannya aku selalu mengecewakan chichi-ue. Aku tak cukup kuat untuk memenuhi harapannya, selalu saja aku kalah oleh adikku ketika latihan. Aku sempat merasa sangat putus asa dan malu ketika melihat kekecewaan di wajah chichi-ue, lalu langsung lari dari dojo tanpa pikir panjang. Akibatnya, aku menabrak anak-anak nakal yang kemudian menggencetku."
Aku menghela nafas mengingat kejadian itu. "Aku bersyukur waktu itu...Na-Naruto-kun yang menolongku melawan anak-anak itu," merasakan sedikit keberanian dalam diriku, aku berpaling menatap wajahnya yang sedikit terkejut.
"Aku?" dia menunjuk hidungnya sendiri, sedikit memiringkan kepalanya membuat surai pirangnya terayun. Ekspresi heran itu membuatku tersenyum lembut. Dia sudah kembali pada perilaku polosnya.
"Wa-wajar kalau Naruto-kun tidak ingat. Waktu itu bahkan kita belum saling mengenal, dan juga Na-Naruto-kun jatuh pingsan setelah dihajar ketiga anak itu," aku melihat alisnya bertaut, "D-dan saat itu Kou langsung datang menjemputku sebelum aku sempat berterima kasih padamu," rupanya kebiasaan gugupku juga sudah kembali. Aku yakin wajahku sudah merona sekarang.
Dia mendengus geli. "Tak usah berterima kasih kalau aku saja tumbang seperti itu. Berarti aku gagal menolongmu, 'kan?"
Aku menggeleng, senyumku tak juga hilang dari bibirku. "B-bukan cuma saat itu... Naruto-kun selalu menolongku, entah sadar atau tidak," dari posisiku yang berlutut di atas rumput, aku meraih setangkai bunga lili di samping batu di depan kakiku, mengelus kelopak putihnya yang menguarkan aroma segar.
"Ini juga adalah berkat Naruto-kun... Aku bisa menjadi dekat dengan N-Neji-nii-san."
Tersenyum lemah, Naruto-kun turut mengambil posisi berlutut di sebelahku. Sebelah tangannya mengusap permukaan batu yang mengkilat, tanda bahwa batu itu belum lama terpasang di sana.
"Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya ingat pernah mengatakan bahwa kamu jauh lebih menderita daripada dia yang berasal dari Bunke. Dia menginginkan kebebasan. Cita-citanya adalah bisa terbang bebas seperti burung di angkasa," tatapan matanya menerawang.
Aku menggigit bibir bawahku yang mulai bergetar. "Dia sudah bebas. D-dia sudah memilih sendiri jalannya untuk merasakan kebebasan."
Pemuda di sebelahku mengangguk, lalu menghela nafas.
"Neji benar-benar peduli padamu, Hinata. Meskipun dulu dia bilang dia membencimu, aku bisa lihat bahwa dia selalu memperhatikanmu," ucapnya setelah hening beberapa saat.
"Ya...aku tahu," aku memejamkan mataku yang mulai terasa panas, "Pada awalnya Neji-nii-san tak mau menunjukkan perhatiannya padaku, tapi perlahan dia membuka hati untukku. D-dia menemaniku latihan ketika chichi-ue lebih memilih untuk melatih Hanabi, di-dia m-mengajariku untuk mengasah kemampuan jyuuken... D-dia m-mencemaskan aku yang di-diserang musuh dalam misi..."
Aku membawa bunga itu ke depan dadaku dan menggenggamnya erat. "Di-dia...me-melindungiku dari serangan itu de-dengan nyawanya sendiri," air mataku kini mulai tumpah dari kedua mataku.
Sejenak tenggelam dalam isakanku sendiri, aku mendengar Naruto-kun kembali menghela nafas berat.
"Neji melindungimu yang ingin melindungiku saat itu. Seperti kata Neji, hidupku kini bukan lagi milikku seorang. Aku tak akan menyia-nyiakan hidup ini, yang telah dipertahankan oleh Neji, olehmu, dan semua orang lainnya. Aku akan menjadi seorang Hokage dan melindungi kalian semua. Itu adalah cita-citaku."
Perlahan aku membuka mataku, dari balik bulu mataku yang basah aku melihat wajah Naruto-kun yang kini sudah terarah padaku, menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Namun sorot kesedihan masih tersisa dari mata birunya.
"Sudah seminggu sejak perang berakhir, dan kamu masih juga terlihat murung. Syukurlah kamu juga ada di sini saat aku datang tadi, sebenarnya aku ingin membicarakan ini denganmu. Aku agak cemas."
Tangkai bunga lili yang tadi Naruto-kun letakkan di samping pusara Neji-nii-san kini menjadi objek penyaluran perasaanku. Merasakan setitik kebahagiaan ketika pemuda itu mengatakan dia mencemaskanku, aku menggenggam tangkai itu semakin erat.
"Tidak baik terus-terusan memendam kesedihanmu, karena akan jadi penyakit, lho! Kalau kamu butuh mengeluarkan semuanya agar bisa kembali ceria, aku bisa meminjamkan bahuku untuk tempat bersandarmu," mataku melebar seiring dengan detak jantungku yang berlomba, "Makanya, keluarkan saja semuanya sekarang sehingga besok kamu bisa kembali tersenyum seperti biasa."
Bertolak belakang dengan cengiran yang sudah kembali ke wajah tampannya, aku justru merasakan desakan air mataku semakin memaksa untuk keluar. Kali ini aku tidak menahan semuanya, kubiarkan seluruh luapan emosi dan rasa kehilanganku akan Neji-nii-san mengalir begitu saja.
Aku tidak cukup memiliki keberanian untuk bersandar di bahu Naruto-kun, sehingga aku hanya menunduk sambil meremas tangkai bunga dalam kedua tanganku. Sebagai gantinya, Naruto-kun meletakkan sebelah tangannya di bahuku yang gemetar, tersenyum sendu membiarkan diriku menumpahkan air mata yang tak lagi terbendung.
Sore itu, aku menangis sepuasnya di hadapan makam kakak sepupuku, ditemani oleh pemuda yang selalu mengisi hatiku sejak lama. Betapa aku merasa bersyukur bahwa dia ada di sisiku saat ini, menghiburku dengan segala kelembutannya.
.
.
.
Aku mengerjapkan mataku. Memutar pergelangan kakiku sehingga tubuhku berbalik cepat, aku melihat kepalan tangan Kiba-kun terarah cepat ke kepalaku. Aku tak memperkirakan serangannya yang satu ini, refleks aku memejamkan mata rapat-rapat dan bersiap untuk menerima impact serangannya. Jantungku berdetak cepat, tapi selang beberapa detik aku tak juga merasakan benda keras menerjang kepalaku. Aku membuka mata, dan kusadari Kiba-kun telah menghentikan gerakannya di tengah-tengah sebelum melukaiku.
"Kita istirahat dulu, Hinata. Sudah waktunya makan siang," Kiba-kun menurunkan kepalan tangannya, meregangkan tubuh sejenak kemudian melepas hitai-ate dari dahinya yang sudah basah oleh keringat.
Aku masih termenung, belum sepenuhnya lepas dari rasa terkejut. Masih bisa kurasakan jantungku berdebar-debar di dalam rongga dadaku. Ketika Kiba-kun menatapku dengan cengiran lebar di wajahnya, barulah aku tersentak sadar dari lamunanku. Aku tersenyum kikuk dan mengangguk padanya.
.
.
.
Matahari bersinar tepat di atas kepala, Sang Raja Siang mungkin mampu membakar siapa saja yang berjemur di bawahnya di tengah hari begini. Aku dan Kiba-kun lebih memilih berteduh di bawah pohon tempat aku meletakkan bekalku sebelumnya, menikmati angin semilir yang masih terasa sejuk—syukurlah angin masih bersahabat di samping teriknya pancaran sinar matahari—sedangkan Akamaru berbaring di sisi lain pohon. Dia menguap lebar dan tampaknya sudah siap untuk memulai tidur siang.
Kedua tanganku membuka simpul kain pembungkus kotak bekal di atas pangkuanku. Setelah tutupnya diangkat, tampaklah beberapa onigiri yang kubuat pagi tadi.
"Ini Kiba-kun, silakan," tawarku, menyodorkan kotak itu ke arahnya. Pemuda itu memilih-milih sebentar lalu mengambil salah satu onigiri yang berukuran paling besar.
"Thanks," cengirnya, lalu menggigit onigiri tersebut. Aku tersenyum menanggapinya, kemudian mulai memakan onigiri-ku dalam diam.
"Ngomong-ngomong, Hinata... Apa kamu sudah mau bercerita sekarang?" tanya Kiba-kun tiba-tiba, membuatku menghentikan kunyahanku dan meliriknya bingung.
"Aku merasa kamu agak aneh dari tadi pagi kau datang. Seorang Hyuuga Hinata yang kukenal sangat jarang bangun kesiangan, selain itu kulihat kamu kurang fokus."
Aku berpikir mungkin Kiba-kun membicarakan performaku saat latihan tadi, namun dia segera melanjutkan lagi sebelum aku sempat bertanya.
"Yah, gerakanmu di latihan hari ini memang kurang maksimal, tapi aku sudah melihat kamu tidak fokus sejak pertama datang," ucapnya yang membuatku sedikit mengerutkan kening. Dia lalu menunjuk ke arah kotak bekal di pangkuanku.
"Tadi pagi waktu aku menyuruhmu meletakkan bekal itu di bawah pohon," dia memulai, "kamu langsung berlari dan meletakkan kotak itu di bawah pohon di belakangku yang kutunjuk, padahal pohon di sebelahnya adalah pohon tempat aku meletakkan barang-barang bawaanku," jelasnya, kali ini menunjuk ke arah pohon di sebelah kirinya, dan mataku membulat menyadari barang-barang Kiba-kun tersimpan di bawahnya.
Sekarang aku mengerti maksud Kiba-kun. Biasanya aku selalu menyimpan semua barang bawaan terkumpul di satu tempat sebelum memulai latihan. Pemuda ini memang terlalu mengerti kebiasaanku.
"Aku jadi sadar kalau kamu hanya melihat apa yang kutunjuk, tapi tak memperhatikan yang lainnya. Seperti memakai kacamata kuda," dia menyempatkan bercanda, tapi aku sudah terlebih dulu tenggelam dalam pikiranku sekali lagi.
Apa sebaiknya aku bercerita padanya?
Pemuda di sampingku melahap sisa potongan onigiri di tangannya. "Shino tak akan pulang dari misinya sampai minggu depan, jadi sementara ini hanya aku yang bisa mendengarkanmu," ujarnya sambil menatap langit, kemudian pandangannya beralih padaku yang masih terdiam.
"Jadi? Apa kamu sudah ingin bercerita sekarang? Jujur saja, aku tak suka melihatmu murung begini," mata hitamnya menatap lurus kedua manik pucatku, untuk sesaat suara seseorang melintas di dalam kepalaku.
.
"Sudah seminggu sejak perang berakhir, dan kamu masih juga terlihat murung."
.
Aku merasakan mataku mulai memanas.
.
"Aku agak cemas."
.
Cepat-cepat aku memutuskan kontak mata kami lalu menghela nafas berat. Aku tak bisa terus begini. Kiba-kun sahabatku dan aku harus menghargainya.
"Kiba-kun... Ada sesuatu yang ingin kuceritakan."
.
Ketika aku selesai menceritakan semua yang terjadi kemarin, apa yang kulihat dan kudengar, serta apa yang Naruto-kun katakan padaku, Kiba-kun terdiam dengan mata terbelalak sedangkan aku tertunduk, menahan air mata yang aku takutkan akan turun kapan saja. Setelah hening beberapa saat, aku mendengar pemuda itu membuang nafas panjang.
"Sudah kuduga ada sesuatu... Memakan cinnamon rolls dua hari berturut-turut tak mungkin masih membuatmu murung seperti ini," dia menyisirkan jemarinya di rambut coklatnya yang berantakan.
Rasa sakit di dadaku kembali terasa ketika sekali lagi mengingat kejadian semalam. Aku mencengkram kain celanaku, berharap itu dapat mengurangi rasa perih di dadaku.
"A-aku tahu Naruto-kun memang hanya menaruh hati untuk Sakura-san...t-tapi aku tak tahu kalau mendengarkan kalimat itu langsung darinya akan terasa s-sesakit ini," aku menarik kedua lututku di depan dada untuk kemudian memeluknya, menyembunyikan wajahku di balik lutut dan lenganku.
"Kau tahu, rasanya aku ingin menghajar si bodoh yang tidak peka itu," suara Kiba-kun terdengar rendah dan tajam, mungkin dia mengucapkannya dari sela-sela gigi yang terkatup.
Aku menggeleng lemah. "J-jangan, Kiba-kun. Ini adalah keputusan Naruto-kun, kita tak bisa mengubahnya hanya karena paksaan."
Hening sesaat, sebelum akhirnya kudengar Kiba-kun kembali menghela nafas. "Baiklah," ucapnya singkat.
Merasakan tatapan Kiba-kun padaku, aku perlahan mengangkat kepala dan mendapati pria itu tengah menatapku intens. Ini pertama kalinya kulihat sorot matanya yang seperti itu, dan ini membuatku gugup. Degupan jantungku mulai berpacu tanpa kusadari.
"Kalau begitu, biarkan aku yang berada di sisimu sebagai gantinya," ucapnya tegas, "Aku akan menjadi sandaran untukmu setiap kali kau membutuhkannya."
Aku membulatkan kedua mataku. Kata-kata ini...rasanya mirip...
.
"Aku bisa meminjamkan bahuku untuk tempat bersandarmu,"
.
Mengedipkan mataku sekali, aku melihat kilatan yang tak biasa dari mata beriris hitam Kiba-kun. Tidak, ini tidak sama. Perasaan ini...
"Aku tak peduli walaupun aku menjadi orang ketiga. Aku ingin selalu bersamamu," kata-kata Kiba-kun membuat debaran jantungku kian tak menentu, rasa gugup serta merta menyelimutiku seolah memperkirakan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Aku menyukaimu, Hinata."
.
.
.
TBC
.
Glossary:
Chichi-ue= panggilan hormat untuk ayah
Haha-ue= panggilan hormat untuk ibu
.
.
A/N: Uwaaa, chapter ini bahkan lebih pendek dari chapter pertama... Maaf, maaf! Fi usahakan chapter berikutnya lebih panjang... X(
Feel free to give your comments by reviewing! Fi akan senang sekali menerimanya. ^^
Flame tidak akan Fi anggap, karena Fi percaya selalu ada cara yang lebih baik daripada menggunakan kata-kata kasar dan makian tak berdasar.
See you in the next chapter! ^^
Arigatou gozaimashita—FiDhysta, 2014
