Disclaimer : Aoyama Gosho dan Masashi Kishimoto


Chapter 2

.

"Berapa persentasi perempuan berambut pirang strawberry yang menjadi incaran pembunuh di New York? Bagaimana kalau dia melebarkan targetnya dan tidak menyerang wanita dengan identitas dan ciri-ciri tertentu?" tanya Shiho sambil menyeruput kopi panasnya.

"Warna rambutmu sangat jarang terlihat bahkan di kalangan blasteran dan kami telah menyebarkan peringatan secara spesifik untuk setiap perempuan melalui semua media," kata Shuichi lalu mengikuti gaya Shiho menyisip isi cangkirnya, "oh, kopi buatanmu enak."

"Hn…" Shiho cuma tersenyum kecil, matanya mengerling kearah Shinichi yang dari tadi tidak mau menatap gadis itu sedetik pun, alih-alih matanya lebih tertarik pada dekorasi minimalis ruang keluarga rumah Professor Agasa. Sepertinya Shiho yang mengatur tata letak perabot dan lukisan di rumah mungil ini, kalo tidak karena Shinichi bisa membayangkan bagaimana berantakannya keadaan rumah Hakase sebelum Haibara tinggal disana dulu.

"Kalian tidak perlu khawatir karena aku bisa menjaga diri," kata Shiho lagi dengan tenang. Sasuke yang duduk disampingnya, mengalungkan tangannya di belakang punggung Shiho. Dia tersenyum, "Shiho aman bersamaku."

"Persentase perempuan berambut pirang strawberry hanya empat persen dari sepuluh ribu orang. Dan yang tinggal di New York hanya 154 orang. Semua yang terdaftar dalam database kependudukan telah diberi peringatan secara langsung. Kami bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk meningkatkan patroli," kata Shuichi tajam.

"Bagaimana dengan Los Angeles?" tanya Sasuke.

"Sejauh ini—hanya 53 orang. Jauh lebih sedikit bukan?" kata Shuichi.

"Apa kalian juga memperkirakan perempuan yang mengecat warna pirang strawberry? Dua pembunuhan telah terjadi dan kalian berdua menghabiskan waktu terbang kesini untuk mengecek keadaanku?" tanya Shiho sarkastik. Shinichi mengalihkan pandangannya cepat dan menatap gadis itu lekat-lekat untuk pertama kalinya semenjak dia menjejakan kaki di rumah Hakase, "Kau tak bisa dihubungi. Kenapa kau tak membeli ponsel baru?" tuduhnya dengan nada sinis yang samar.

"Aku memang akan membelinya besok, Kudo." Balas Shiho tajam.

"Pastikan kau membelinya—atau kau ingin aku membelikan untukmu?" ejek Shinichi.

"Lucu sekali. Gajiku cukup untuk membeli semua ponsel mode terbaru yang terpajang di toko," balas Shiho sambil menyipitkan matanya.

Sasuke menyela, "Aku yang akan membelikannya untukmu. Kau suka model apa?" Shiho tersenyum padanya, "Kau yang pilih saja."

Shinichi tak tahan lagi, dia bangkit berdiri. Kopinya di atas meja terlupakan—dia sama sekali belum meminumnya dan sepertinya tak berminat sama sekali.

"Pesawat kita terbang jam tiga subuh bukan?" tanyanya pada Shuichi. Detektif FBI itu mengangguk dan ikut berdiri, "Miyano, ingat jika ada orang-orang yang mencurigakan disini, telepon aku atau polisi setempat."

Shuichi hendak menyerahkan kartu namanya ketika ponselnya berdering lagi. "Halo, Akai disini. Ya, kami telah berada di Los Angeles sekarang. Korban ketiga? Apa maksudmu?"

Shinichi menyipitkan matanya, alisnya berkerut. Dia mengamati Shuichi yang mukanya makin muram sepanjang pembicaraannya berlangsung. Setelah Shuichi menutup ponselnya, dia beralih kearah Shiho dan Sasuke. "Ada korban ketiga, Mariko Takeda, ditemukan tewas tiga jam lalu. Disini, Los Angeles."

Nafas Shinichi tersentak keras, bibirnya menipis.


"Kau tau kalau warna merah sangat cocok denganmu?"

Mariko tersenyum, "Oh ya? Tapi sebenarnya aku benci warna merah. Jika bukan kau yang memintanya—aku tak akan pernah memakainya."

"Ah, warna merah menambah kecantikanmu—terutama rambutmu… "

"Hm… warna pirang strawberry maksudmu?"

"Benar. Kau sangat memesona malam ini…"

"Kau pintar bicara. Kau jangan berdiri saja—ayo, masuk."

"Baiklah…"

"Bagaimana? Aku sudah menyiapkan makan malam."

"Wah, nasi kari. Aku sangat menyukai nasi kari."

"Benarkah? Apa lagi yang kausukai?"

"Merah…"

"Kau sudah mengatakannya tadi. Yang lain?"

"Darah…"

"A-apa maksudmu?"

"…"

"J—JANGAN! TOLONG! SE—"

JLEB. Cipratan darah mengotori dinding dan jatuh menetes pelan membasahi lantai.

JLEB. JLEB. JLEB. JLEB.

Lalu sunyi senyap.


"Mariko Takeda, dua puluh tiga tahun. Berambut pirang strawberry, tinggal berdua dengan adik perempuan satu-satunya. Sang adik sedang berada di rumah bibinya ketika kejadian berlangsung. Lima tusukan. Area tusukan menyerang jantung dan paru-paru. Korban tewas karena kehabisan darah. Tidak ada DNA ataupun sidik jari yang tercecer di lokasi kejadian perkara," kata petugas polisi berseragam dengan nada formal.

Shuichi mengerutkan keningnya, "Adik? Dua korban sebelumnya merupakan anak tunggal. Dimana dia?"

Salah satu petugas polisi memberi kode pada Shuichi dan Shinichi. Mereka mengikutinya ke salah satu ruangan interogasi. Disana seorang gadis berambut pirang strawberry yang identik dengan warna rambut Shiho duduk di salah satu bangku. Raut wajahnya pucat pasi.

"Takeda-san? Miyako Takeda?" tanya Shuichi sambil melirik berkas sekilas.

Gadis itu menggangguk, bola matanya terlihat kosong. "Apa yang terjadi sebenarnya? Aku merasakan sesuatu yang buruk. Kenapa kalian tidak membiarkan aku masuk kedalam rumah?" desisnya lemah. Di luar ruang interogasi yang berkaca dua lapis dimana hanya orang luar hanya bisa melihat kedalam, Shiho dan Sasuke berdiri memperhatikan Miyako.

"Katakan sesuatu padaku… katakan, please…." Miyako mulai terisak. Badannya gemetaran dengan begitu hebat.

"Takeda-san…. Kakakmu… telah meninggal beberapa jam yang lalu," Shuichi berhenti sebentar, "dia diserang ketika seorang diri. Kapan terakhir kalinya kau bertemu dengannya?" lanjutnya dengan pelan. Tangis Miyako meledak. Shinichi menatapnya dengan perasaan campur aduk, dia merasa déjà-vu. Dia teringat bagaimana Shiho dulu menangis di dadanya. Kehilangan seseorang yang dekat dan segalanya bagimu—membuatmu hancur dan tercabik-cabik. Dan dia bisa menyelami kedukaan Miyako sekarang. Berbulan-bulan sebagai Conan telah mengubahnya—lebih peka pada perasaan manusia.

"Takeda-san…kami akan melakukan segalanya untuk menemukan pembunuh kakakmu. Kau tidak perlu menjawab jika belum siap, tapi kami benar-benar membutuhkan keteranganmu. Apa kau tau—siapa saja orang-orang yang terakhir bertemu dengan kakakmu?" tanya Shuichi pelan-pelan.

Miyako mengangkat wajahnya, masih ada sisa-sisa air mata disana, "K-kakakku… dia tampak begitu senang beberapa hari ini… dia bilang ada kencan untuk pertama kalinya dengan seseorang yang dikenalnya di taman."

"Kau tau siapa pria ini?"

"Tidak… aku sama sekali tidak tau. Aku sengaja pergi kerumah bibiku karena kakakku akan mengajak pria itu ke rumah…"

"Pria ini… apa kakakmu memberikan nama atau keterangan tertentu secara spesifik?" tanya Shuichi lagi.

"Tidak. Dia cuma bilang kalau pria ini tampan dan tak mau cerita lagi lebih lanjut…" Miyako mengatup bibirnya rapat-rapat, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali. Pertanda kalau dia tidak ingin diwawancarai lagi.

Shuichi mengangguk pertanda mengerti lalu menggumam, "Jika kau ingat sesuatu, hubungi kami secepatnya. Kau dalam perlindungan polisi sekarang dan kami telah mengontak bibimu. Dia akan datang beberapa saat lagi." Agen FBI itu hendak beranjak meninggalkan ruangan ketika Shinichi untuk pertama kalinya bersuara, "Takeda-san, aku merasa sangat bersimpati atas kehilangan kakakmu—tapi kami pasti akan menemukan pria itu."

"Siapa kau? K-kau bukan salah satu dari mereka—polisi…" sahut Miyako lirih.

"Aku Shinichi Kudo—detektif swasta…"

"Kudo-san, please… temukan pria itu." Gadis itu mulai terisak lagi, Shinichi hanya mematung memandangnya dan kemudian menepuk bahunya pelan. Setelahnya dia dan Shuichi meninggalkan ruangan interogasi. Di luar dia melihat Shiho dan Sasuke—yang saling bergenggaman tangan. Sakit di kepalanya berdenyut lagi.

"Gadis itu juga berada dalam bahaya…" desis Shiho hampir tak bersuara. Shuichi berhenti dan menatapnya intens. Dia teringat janjinya pada Akemi, dan dia tak akan berhenti untuk menepatinya—untuk melindungi gadis itu walau nyawa taruhannya.

"Dia akan berada dalam perlindungan polisi dan FBI," kata Shuichi tegas, "dan kau juga—Miyano. Kau dalam perlindungan kami sepenuhnya sekarang."

Sasuke tertawa kecil lalu berkata dengan nada menantang, "Telah terjadi tiga pembunuhan dan apa yang dilakukan FBI selama ini? Menunggu korban jatuh lebih banyak?"

Shuichi menyipitkan matanya, "Uchiha-san, penyelidikan sedang berlangsung."

"Tentu saja penyelidikan sedang berlangsung karena dari setiap serial killers—kalian butuh pembunuhan lagi supaya bukti terkumpul lebih banyak sebelum menangkap siapa pembunuh sesungguhnya." Sasuke tersenyum mengejek. Dia melepaskan genggaman Shiho dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Tiba-tiba Shinichi merangsek ke depan dan hampir berdiri sejajar dengan Sasuke. Matanya menatap pria itu dengan penuh determinasi. "Uchiha-san, apapun yang kau katakan—tidak akan membuat kami menyerah. Kami akan menemukan bajingan itu!" Bibir Shinichi menipis. Dia mati-matian menahan emosinya untuk menyerang Sasuke. Dia bahkan tak mengenali amarahnya sendiri—terasa asing baginya. Dia tak pernah membiarkan semua perasaan tak nyaman ini menguasai dirinya, tapi hatinya terasa sesak—membuatnya susah bernafas. Dia tak tau kenapa Uchiha itu bisa menyulut kemarahannya begitu saja. Mungkin penyebab segala kejengkelannya kali ini adalah gara-gara sakit kepalanya yang berdenyut sekarang, atau genggaman jemari Shiho pada tangan kokoh Sasuke atau pembunuhan berantai terjadi lagi walau FBI telah memberi peringatan secara besar-besaran.

"Kudo…"

Cuma itu yang dikatakan Shiho dan mampu membuat Shinichi mundur beberapa langkah. Dia menghela nafas beberapa kali, bergerak menoleh kearah gadis itu untuk menyentak lengannya lalu menyeretnya pergi. Sasuke yang melihatnya hendak mengejarnya tapi Shuichi menghalanginya.

"Hey! A-apa-apaan ini, Kudo!" Shiho meronta dan hendak melepaskan cengkeraman pria itu. Shinichi mengeraskan rahangnya dan tak memperdulikan seruan gadis itu. Dia bahkan tak mengerti apa yang sedang mengganggu pikirannya sekarang dan membuat amarahnya meluap begitu saja hingga tak bisa berpikir jernih. Detektif ini tetap mencengkeram lengan Shiho dan tak memperdulikan tatapan polisi lainnya pada mereka. Setelah menemukan daerah lorong yang sepi, dia berhenti. Shinichi mendorong bahu Shiho hingga punggung gadis itu menyentuh dinding dan memerangkapnya dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain masih menjepit lengannya dengan kuat.

"Kudo, ada apa denganmu?" Shiho mengerutkan alisnya dan berseru dengan gusar, "kau menyakiti lenganku."

Shinichi seperti baru tersadar dan dia buru-buru melepaskan pegangannya, "Maafkan aku, Miyano…." Shiho menyipitkan matanya, "Kenapa dengan kau sebenarnya?" gadis itu menggosok lengannya yang terasa kebas karena cengkeraman Shinichi.

"K-katakan padaku siapa Sasuke Uchiha ini. Siapa dia!" bentaknya tanpa sadar. Nafasnya terengah-engah. Bola mata kebiruannya menggelap. Kepalanya terasa begitu nyeri—seperti dentaman palu bertalu-talu menyerang syaraf. Ini adalah sakit kepalanya yang paling buruk dari selama ini.

"Dia kekasihku." Shiho melipat kedua tangannya dan menatap Shinichi dengan penuh determinasi. Gadis itu bahkan mengeryitkan alisnya karena sikap detektif itu dan mulai merasa cemas. Ini bukan Shinichi Kudo yang dikenalinya selama ini—pria ini beda. Terasa sedikit berbahaya, karena Shinichi bukan pria yang membiarkan dirinya dikuasai emosi. Dia mengutamakan logika dan akal sehat diatas segala-galanya.

"Sial. Sejak kapan kau berkencan dengannya?" Shinichi menatapnya dengan muka muram.

"Hey! Sejak kapan kau tertarik dengan urusan pribadiku?" tantang Shiho, dia tak suka diinterogasi soal kehidupannya. Dan Shinichi tidak berhak mengatur-aturnya, dia bukan Ran.

"Sejak hari ini. Dimana kau bertemu dengannya?" seru Shinichi kesal. Dan dia tak suka ditentang keinginannya, dari dulu dia selalu berhasil memperoleh semua yang diinginkannya.

Shiho menghela nafas panjang, tatapan matanya dingin namun menyelidik.

"Kudo. Kau harus menenangkan diri dulu. Kapan terakhir kau tidur? Kau mulai kehilangan konsentrasi dan kekurangan tidur membuat emosimu tidak stabil." Suara Shiho yang tenang mulai merasuki pikirannya. Shinichi menghela nafas, berulang kali dan akhirnya melambat. Setelah nafasnya teratur, dia mulai mengacak-acak rambutnya frustasi. Nyeri yang melanda kepalanya tak berkurang.

"Apa ada sesuatu terjadi dengan Mouri-san?" tanya Shiho pelan.

"Kenapa harus ada yang terjadi dengan dia?" desis Shinichi.

"Kudo." Cuma itu yang dikatakan Shiho. Matanya menatap Shinichi dengan begitu dalam dan pria itu menyerah, "Miyano—aku…"

Shiho memotong perkataannya, "Kau mengerutkan keningmu tiga kali dalam lima belas menit. Kau mengalami sakit kepala dan memburuk selama beberapa hari ini."

"Deduksimu bagus. Tapi aku tidak ingin tergantung pada painkiller atau apapun yang kau resepkan selama ini melalui Hakase."

"Darimana kau tau kalau aku yang menulis resepnya?" tanya Shiho kalem.

"Miyano, aku mengenalimu luar dalam."

"Wah, aku tersanjung." Shiho tertawa kecil, "Oh ya, aku memiliki sedikit pengetahuan tentang akupuntur dan jika kau tak keberatan…"

"Oh—aku jadi kelinci percobaanmu lagi?"

"Kau mau apa tidak?" kata Shiho sambil mengalungkan kedua tangannya dan mencibir.

"M-mau. Aku mau."

"Mau apa, Kudo?" goda Shiho sambil menyunggingkan senyum liciknya.

"Kau ini—" Shinichi menggeretakan gigi, dan berpura-pura hendak berbalik. "Menunduklah," suara Shiho menghentikannya, dia mengikuti perintahnya dan merasakan tangan Shiho pada keningnya.

Gadis itu mengangkat jemarinya dan membelai rambut Shinichi dengan kukunya, "Kau harus membiarkan aliran darah di kepalamu lancar atau nyerinya tidak akan berhenti."

"Hmm…" Shinichi memejamkan matanya, keenakan, "jangan berhenti…" dia menunduk dan hampir menyandar pada tubuh gadis itu. Entah kenapa, keberadaan gadis itu membuat hatinya nyaman—bahkan sakit kepalanya berkurang banyak.

Shiho hanya nyengir dan melanjutkan gerakannya, menyisir setiap helai rambut pendek Shinichi dengan kukunya. Dia bahkan memberi sedikit tekanan di samping kening pria itu.

"Shiho?" gerakan tangan gadis itu terlepas. Shinichi membuka matanya—menoleh ke arah suara.

"S-sasuke?"

"Ayo kita pulang sekarang." Tatapan Sasuke beralih ke Shinichi sekarang. Bola mata onyx itu terlihat begitu dingin.

"Sasuke, aku akan bersama Kudo sekarang. Kami ingin membicarakan sesuatu. K-kau pulanglah duluan… Aku akan menelepon ponselmu nanti."

Pemuda berambut raven itu menyipitkan matanya lalu meninggalkan Shiho tanpa berkata apa-apa.

Shinichi yang hatinya terbelah dua antara membiarkan Shiho bersamanya atau pulang bersama Sasuke—membiarkan emosinya menang kali ini. Dia tau keamanan Shiho sekarang adalah yang terpenting dan dia yakin—dia sanggup menjaga gadis itu lebih baik daripada pria tak dikenal yang menjadi kekasih Shiho beberapa bulan terakhir.

"Well, seperti masa lalu bukan? Kita bersama-sama memecahkan kasus."

Shinichi menggumam, "Yeah—kau tak tau betapa aku merindukan masa lalu bersama Detective Boys."

"Kau ingin APTX 4869 lagi?" tanya Shiho sarkastik.

"Hey, kau ini sama sekali tidak lucu."

"Ha-ha." Shiho memutar bola matanya.

Mereka saling melemparkan pandangan dan tersenyum kecil.

"KRING…KRING…"

Shinichi mengambil ponselnya, "Ya, Kudo disini…. APA? Ya… Aku akan kesana sekarang, Akai." Shinichi mematikan ponselnya. Mukanya bertambah muram.

"Ada apa?" tanya Shiho cemas.

"Gadis itu—Miyako Takeda menghilang. Dia meninggalkan pesan untuk mencari pembunuh kakaknya. Sial, dia pergi begitu saja dan tidak ada yang memperhatikannya. Bibinya yang histeris mencari dia kemana-mana. Bagaimana dia bisa lolos dari pengamanan yang begitu ketat?"

"Dia tau sesuatu…" gumam Shiho.

"Darimana kau tau?"

"Percayalah padaku, Kudo. Dia tau sesuatu tentang pembunuh itu…"

Shinichi mengangguk, dia segera bergerak cepat menyusuri lorong demi lorong untuk kembali ke tempat interogasi, disana Akai dan timnya sedang berdiri mengelilingi seorang ibu yang berambut putih. Wanita itu menangis histeris.

"Kalian harus menemukannya—Miyako-chan akan mencari pria itu…" wanita itu terceguk karena tangisnya lalu melanjutkan, "…padahal dia hanya ke belakang sebentar untuk ke kamar mandi."

Shuichi terlihat sibuk menelepon dan memberi intruksi sementara itu Jodie sedang berusaha menenangkan wanita tua itu. Shinichi dan Shiho mendekati Shuichi dengan wajah muram.

"Sudah berapa lama semenjak Miyako Takeda menghilang?" tanya Shinichi pada detektif FBI itu.

"Sepuluh menit lalu."

"Mungkin dia masih berada tidak jauh dari sini," sahut Shiho. Shuichi mengangguk, "Kami telah mengirimkan tim untuk mencarinya. Dia tidak akan bisa lari jauh."

"Kita pasti akan menemukannya!" Shinichi menggeram dan mengerutkan keningnya muram.


Hgh… Hgh.. Hgh…

Desah nafas Miyako Takeda masih terengah-engah. Langkah panjangnya memantul di sepanjang gang kecil dan kumuh. Bau sampah dan pesing menampar indra penciumannya, tapi dia tak peduli. Dia ingin secepat mungkin pergi mencari bajingan yang telah membunuh kakaknya dengan kejam. Pria bangsat itu akan menerima balasannya—dia akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Kakaknya yang sangat cantik, baik dan ramah pada setiap orang, semua akan sangat kehilangannya. Air matanya menetes tanpa henti—Miyako menghapusnya buru-buru. Dia harus berpikir jernih untuk memancing pria itu—andai dia tau dimana bisa menemukannya.

Langkahnya terhenti di salah satu simpang gang, suasana saat itu masih sepi karena telah tengah malam. Tiba-tiba dia merasa ketakutan mencengkeramnya, memicu adrenalinnya hingga nafasnya terhenti. Ada pantulan langkah seseorang yang mendekat—pelan dan berhati-hati.

"Siapa itu?" suara Miyako terdengar serak.

"Kau baik-baik saja, nona?" Hanya suara pria dan silau senter terekam di ingatan Miyako yang terakhir sebelum kegelapan menyelimutinya.

.

.

.

tbc


A/N : Rating diturunkan karena tidak ada adegan yang mencapai M-rated setelah gw menulis semua chapternya hehe.

Thanks untuk Pika Julia, guest 1,2,3,4,5, Chairunissa Hailey, Marutaro, Hiru-neesan, Haibara Retha, Hai Miyano.

Semua chapter telah selesai diketik dan akan dipublish setiap beberapa hari sekali, begitu gw ada waktu.

Thanks for reading ^_^