INITIAL U.n10
Present by KeyKeiko
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
Warning : Fic ini mungkin mengandung , AU, OOC, Typos, etc ...
Pairing : Naruto U, Ino Y, Sasuke U, Sakura H
Genre : Friendship and Angst
.
.
Tiga Hari kemudian
Sakura, Ino dan Sasuke saat ini sedang menemani Ino untuk menemui seorang editor karena perintah ayahnya. Editor itu bernama Kakashi. Kakashi adalah teman baik ayah Ino. Wajar saja jika saat ini Ino dan Kakashi terlihat akrab. Sakura dan Sasuke yang mengantar Ino masuk kedalam kantor itu, ikut meramaikan suasana di ruang kerja Kakashi yang sepi.
"Ino-chan, aku harap ayahmu mau kembali membuat novel terbarunya. Aku dengan senang hati akan membantu ayahmu," ucap Kakashi ramah.
"Oh, tentu saja aku akan menyampaikan hal itu pada ayah. Oya, Kakashi-san. Aku mau tanya. Sebagai seorang editor terkenal, apa kau juga pernah menangani manga dari seorang pemula?" tanya Ino antusias.
"Pernah. Bahkan ada karya mangaka pemula yang telah rilis ke pasar dan menjadi best seller," jawab Kakashi jujur.
"Contohnya seperti apa?" tanya Sasuke yang mulai ikut tertarik dengan obrolan ini.
"True love in School. Sang pemula ini kira-kira usianya hampir sama seperti kalian. U.n10 inisialnya." Mereka bertiga terkejut mendengar pengakuan itu.
"Baru pemula bisa sesukses itu." Ino sampai menggelengkan kepalanya.
"Dari isi cerita yang ia sajikan, cerita itu adalah true storry. Aku kagum dengan bahasa dan tekniknya membuat manga sehingga menarik untuk dibaca," puji Kakashi.
"Aku jadi penasaran seperti apa U.n10." Sakura berharap ia bisa bertemu dengan sang mangaka dan meminta tanda tangannya.
"Sebentar lagi dia kesini menyerahkan revisi manga terbaru yang bergenre fantasi," ucap Kakashi memberi angin segar pada mereka bertiga. Mereka bertiga sangat antusias dan memohon pada Kakashi untuk bertemu dengan U.n10.
Tok
Tok
Tok
"Sepertinya itu dia. Duduklah yang manis, di bilik ruang sebelah sana. Aku akan ke mejaku untuk menemuinya," perintah Kakashi.
Ceklek. Handle pintu di buka. Kakashi kemudian menyambut tamunya itu dengan ramah. Kakashi kemudian mempersialahkan sang mangaka ini duduk menghadapnya.
"Maaf Kakashi-san ini revisi yang kemarin." Pemuda berambut pirang itu masih menatap berkas yang sedang ia cari di tasnya. Ia kemudian mengeluarkan tumpukan kertas yang berisi sketsa gambar manga terbarunya beserta naskah ceritanya. Di samping meja kerja Kakashi, tiga orang yang sejak tadi menunggu U.n10 sekilas merasa pernah mendengar suara itu. Mereka bertiga saling berpandangan.
Kakashi kemudian memeriksa kembali hasil revisi kemarin. Ia membaca naskah dan memperhatikan dengan detail manga hasil karyanya. Hampir satu jam Kakashi sibuk meneliti kembali karya Naruto. Naruto hanya diam dan menanti jawaban dari Kakashi selanjutnya. "Dibagian ini, sebaiknya kau merubah alur cerita agar tidak terlalu panjang."
"Aku akan memperbaikinya, Kakashi-san."
'Benarkah itu Naruto. Ya ampun, kenapa dia tidak pernah bercerita kalau dia seorang mangaka?' batin Ino kesal.
'Tunggu, ini memang suara Naruto. Kalau True Love in School adalah kisah nyata, itu artinya bukankah dia menceritakanku sebagai tokoh utama dalam manganya? Pantas saja, aku seperti membaca kisahku,' batin Sakura.
'Kau keterlaluan, dobe. Tanpa seijinku kau menjual cerita konyolmu itu. Aku menyesal berteman denganmu,' batin Sasuke kesal.
"Untuk tokoh utama, apa memang di gambarkan dengan warna rambut biru?" tanya Kakashi lagi.
"Aku ingin menciptakan tokoh utama sebagai sosok misterius namun terlihat konyol dari luarnya." Naruto kembali menjelaskan manga yang telah di revisi itu.
"Overall semua bagus, tapi ada bagian yang mesti di perbaiki. Oya, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Hah, siapa? Tapi maaf, aku tidak bisa. Adikku sedang menunggu di luar. Aku harus mengantar adikku cek up, Kakashi-san."
"Memangnya tidak bisa di tunda lagi?"
"Tidak bisa. Lain kali saja, mungkin. Aku pamit pulang, Kakashi-san. Tolong sampaikan maafku pada seseorang itu. Terima kasih atas waktunya." Naruto memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan itu, ia kemudian pergi keluar menemui adiknya yang berada di luar. Saat Kakashi kembali menemui Ino dan teman-temannya, mereka beramai-ramai keluar dari ruangan itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Kakashi heran.
"Mengejarnya," jawab Ino kesal. Ino, Sakura dan Sasuke kemudian mengejar Naruto yang berjalan dengan seorang gadis.
"Naruto!" teriak Sasuke kesetanan.
"Sepertinya ada yang memanggil onii-chan." Shion kemudia menoleh kebelakang diikuti dengan Naruto.
'Ino, Sakura dan Sasuke? Bagaimana mereka bisa ke sini?' batin Naruto tak tenang. Naruto berhenti berjalan. Ino, Sakura dan Sasuke kemudian mendekatinya. Mereka saing berhadapan. Naruto tampak terkejut.
Naruto berusaha tenang. Ia lantas menyapa ketiga temannya ini. "Ino, Sakura dan Sasuke. Kebetulan sekali bertemu di sini," sapa Naruto ramah.
Buaghh..
Buaghh..
"Onii-chan!" teriak Shion histeris ketika Sasuke tiba-tiba melayangkan pukulan demi pukulan pada Naruto.
"Kau pantas mendapatkan itu," ucap Sasuke marah.
"Apa maksudmu, Sasuke?" tanya Naruto tidak mengerti. Shion yang melihat kakaknya terjatuh akibat mendapat bogem dari Sasuke langsung membantu kakaknya berdiri.
"Kau membuatku malu Naruto. Haru itu adalah aku bukan? Dan Chiha itu Sasuke bukan?" Sakura ikut bersuara.
"Aku bisa jelaskan ini semua. Tolong beri aku kesempatan untuk bicara." Naruto memohon pada ketiga temannya.
"Menjelaskan apa lagi, ha! Kau membuatku malu dengan memaparkan aku seorang lelaki feminim. Kau puas, dobe!"
"Tega sekali kau membohongi kami, Naruto!" teriak Ino kecewa.
"Kau puas! Karyamu meledak di pasaran. Kau sekarang bergelimang harta bukan. Kau menjijikkan. Kau memanfaatkan temanmu sendiri, dobe." Sasuke terus memaki Naruto. naruto terdiam seribu bahasa. Dirinya mengaku salah. Shion yang melihat kakaknya terpojok, ikut menguatkan hati Naruto.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu, Ino, Sakura dan Sasuke," kata Naruto menyesal.
"Terlambat!" ucap Sakura geram.
"Nasi sudah menjadi bubur. Kami tidak ingin melihatmu lagi." Sasuke akhirnya berjalan meninggalkan Naruto. Sakura dan Ino mengikuti langkah Sasuke dan memandang benci pada Naruto.
"Onii-chan."
"Aku memang salah, Shion-chan. Aku memang pantas mendapatkan hukuman," ucap Naruto lirih.
Shion memeluk kakaknya dengan erat. "Aku percaya onii-chan tidak seperti itu."
"Terima kasih, Shion. Ayo kita segera cek up," ajak Naruto.
"."
Key
"."
Seminggu kemudian
Seminggu setelah insiden itu, Ino, Sakura dan Sasuke menjauhi Naruto. Tidak ada yang tahu perihal mereka, pasalnya jika masalah ini tersebar luas, maka itu akan memperburuk citra Ino, Sakura dan Sasuke . Mereka bertiga memilih diam. Sasuke bahkan tidak lagi sebangku dengan Sasuke lagi. Ini membuat Naruto sedih. Kembali lagi Naruto harus menghadapi kesepian. Ia benar-benar merasa berasalah pada ketiga temannya itu. Naruto ingin meminta maaf namun mereka selalu menghindar. Hingga saat ini, Naruto berusaha meminta maaf pada mereka dengan mendatangi rumah mereka. Lagi-lagi sia-sia. Mereka menolak bertemu atau memaafkan mereka.
"Moshi-moshi."
"Nii-chan, kau ada dimana?" tanya Shion di seberang telepon.
"Aku di depan rumah Sasuke. Ada apa Shion-chan?" Naruto sedikit khawatir jika adiknya menelpon seperti ini.
"Apa mereka masih belum memaafkan Nii-chan?"
"Masih belum, Shion. Aku akan berusaha mendapatkan maaf mereka. Kau tenang saja." Naruto menghibur adik tersayangnya. Shion tahu jika Naruto sangat depresi atas kejadian ini.
"Nii-chan, sebaiknya pulang. Aku khawatir dengan nii-chan."
"Aku sudah mau pulang kok. Kau sedang apa?" Naruto kembali bertanya pada Shion. Naruto berjalan ke arah halte tak jauh dari rumah Sasuke.
"Sedang membaca surat permintaan maaf Nii-chan yang berada di lacimu," ucap Shion lirih.
"Heii, jangan khawatir. Aku akan menyelesaikan semuanya. Kau tenang saja. Sudah dulu ya. Aku mau masuk ke bis. Jaa-nee."
Naruto kemudian masuk ke bus. Ia tidak sabar bertemu dengan adiknya. Adiknya pasti menunggunya dengan khawatir. Bis melaju ke arah sudut kota Tokyo dengan kecepatan sedang, Naruto duduk di bangku belakang sambil mendengarkan music. Selama bus ini berjalan, ia tengah memikirkan sesuatu untuk meminta maaf pada ketiga temannya. Memikirkan hal itu, membuatnya frustasi.
Perjalanan masih lama, Naruto kemudian mengambil buku yang ada di dalamnya. Ia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu.
'Bila waktuku tiba dan telah habis pada waktunya, aku berharap bisa kembali ke masa lalu dan menggunakan waktuku hanya untuk meminta maaf pada kalian. Sasuke dan Sakura, teman terbaikku yang pernah kumilikki. Teman yang memberikan aku pelajaran berharga tentang bagaimana mengungkapkan perasaan terpendam, tentang bagaimana menjadi diri sendiri. Meski aku tahu,kalian tampak sempurna dari luar tapi sebenarnya kalian berbeda saat menjadi diri sendiri. Ino, satu-satunya gadis yang aku cintai, kau ibarat bunga yang akan selalu mekar sepanjang tahun. Kau gadis yang kuat dan selalu bersemangat. Kau matahariku, meski aku tahu perasaanmu bukan untukku. Kalian sungguh beruntung terlahir dari keluarga yang utuh, ayah dan ibu masih lengkap, kakak maupun adik juga senantiasa menemani. Kalian juga orang yang berkecukupan. Aku tidak iri pada kalian, aku justru senang kalian tidak mengalami hal sama sepertiku. Aku dan adikku hanya orang miskin yang bertahan dengan membuat manga dan mengarang novel. Kami bahkan lupa rasanya pelukan hangat orang tua kami. Tapi satu hal yang akan selalu kujaga, Shion. Malaikat mungilku yang harus ku jaga hingga suatu hari nanti aku bisa mengantarnya ke altar pernikahan bersama orang yang mencintainya. Terima kasih, dan maafkan aku.
Selesai menulis itu dibukunya, Naruto kembali memasukkan bukunya ke dalam tas. Beberapa menit kemudian bis turun di halte dekat apartemannya. Naruto keluar dari bis, dan berjalan sekitar sepuluh meter menuju apartemannya. Ia lantas buru-buru menaiki lift. Beberapa saat kemudian, ia turun dar lift dan berjalan sampai di depan apartementnya.
Tok
Tok
Tok
"Tadaima."
"Okaeri, onii-chan. Akhirnya onii-chan pulang," teriak Shion girang.
"Hei, kalau aku tidak pulang, siapa yang akan menjagamu," ucap Naruto mengacak-ngacak rambut adiknya.
"Iya dech, aku kalah. Nah, sekarang onii-chan mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam. Oke!"
"Oke, cantik."
","
Key
"."
Dua minggu kemudian Konoha High School
Dua minggu ini kelas begitu begitu tenang. Saking tenangnya sampai mereka tidak menyadari sosok pemuda yang selama ini membuat suasana kelas menjadi ramai ini tidak masuk sudah hampir dua minggu. Naruto hapir dua minggu tidak masuk sekolah. Di sudut lain dari bangku pemuda rambut pirang, sosok Shikamaru tengah mengamati bangku kosong milik temannya itu.
"Shikamaru, kau memperhatikan apa?" tanya Neji.
"Tidak, aku hanya merasa bangku itu kosong sudah lebih dari seminggu. Tidak biasanya anak itu membolos selama itu," ucap Shikamaru pada Neji.
"Kau benar. Iruka-sensei bahkan bertanya-tanya soal ke absenan Naruto." Neji menceritakan hal itu pada Shikamaru.
"Kau tahu rumahnya Naruto. Mungkin kita bisa kesana menemuinya," ucap Shikamaru peduli.
"Rumahnya yang lama sudah dijual. Sekarang tinggal dimana, aku tidak tahu." Neji membeberkan fakta baru tentang Naruto.
Shikamaru menyerngitkan dahinya. Naeji sepertinya berkata jujur. "Kenapa kau bisa tahu? Kau teman kecil Naruto?"
"Dulu Naruto dan keluarganya tinggal di sebelah rumahku. Saat ia masih kelas satu SMP, orang tuanya meninggal dirumah mereka karena perampokan. Beruntung Naruto dan adiknya bisa selamat, Shika?"
"Lalu sekarang?"
"Aku dengar dari ayahku, penyebab kematian orang tuannya adalah bermotif persaingan bisnis. Tak lama setelah itu, aku dengar Naruto melalui pengacara pribadi kedua orangtuanya, menjual rumahnya. Asset seluruh keluarganya di jual untuk kelangsungan hidupnya bersama adiknya yang sering sakit-sakitan." Neji menceritakan panjang lebar tentang masa lalu Naruto.
"Kenapa kau tidak cerita soal ini padaku?" Shikamaru mulai kesal. padahal jika dipikir-pikir, Naruto juga mainnya sejak kelas tiga SMP.
"Aku baru tahu itu Naruto tetanggaku dulu. Aku langsung mengenalinya ketika aku pindah ke sekolah ini, Shika. Aku tidak memberitahumu karena itu adalah privasi Naruto. Setelah mendengar ini, aku harap kau tidak mengatakannya pada siapapu. Janji?"
"Janji."
Pembicaraan mereka, tanpa sadar di dengar oleh Ino yang sejak tadi memperhatikan kedua temannya dari belakang. Ino seakan hatinya tertusuk sebilah pedang mengetahui kenyataan yang membuat dadanya sesak. Ia ingin menangis, namun tidak bisa. Naruto memang bersalah karena membohonginya, namun semua bukan sepenuhnya salahnya.
.
.
"Kau kenapa Ino? Sejak tadi aku lihat kau diam terus," ucap Sakura sambil meneguk jus di tangannya.
Ino kemudian menatap gadis berambut pink ini. Ia bingung harus memulai berbicara apa pada sahabatnya. "Tidak, aku hanya berpikir jika orang melakukan kesalahan, pasti ada sebabnya."
"Maksudmu Naruto? Sudahlah, jangan bahas orang itu lagi. Aku dan Sasuke-kun benar-benar malu karenanya. Rasanya aku ingin membakar manganya itu," ucap Sakura kesal.
"Apa kalian benar-benar tidak memaafkannya? Tiga minggu lalu, dia selalu berusaha meminta maaf pada kita, bukan?" ucap Ino serius.
"Kenapa kau seperti ini? Bukankah kau juga dibohonginya." Suara Sakura mulai meninggi. Ia kesal dengan sikap Ino.
"Bukan itu, maksudku."
Sakura melihat Ino tidak percaya. "Kau, berkata begitu, karena bukan kau yang jadi tokok utama dalam manga itu, Ino. Aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun, Ino."
"Sakura."
"Jangan membicarakannya lagi. Please!" Sakura kemudian berlalu menginggalkan Ino sendirian di kantin. Hari ini membuatnya kesal setengah mati pada gadis blonde itu. Naruto, nama itu tidak ingin lagi Sakura dengar.
.
.
Sakura berjalan ke sebuah tempat yang biasa ia habiskan dengan kekasihnya. Di tempat inilah, Sasuke pertama kali menyatakan perasaannya. Sakura kemudian menghampiri Sasuke yang duduk di bawah pohon Sakura yang ada disana. Ia berjalan mendekat ke arah kekasihnya.
"Sasuke-kun, kau ternyata di sini. Sejak tadi aku mencarimu." Sakura kemudian duduk di sebelah Sasuke. Sasuke kemudian membersihkan bangku yang berada disampingnya untuk ditempati Sakura.
"Duduklah. Aku merindukanmu," ucap Sasuke lembut.
Sakura tersenyum lembut ke arah Sasuke. Ia lantas bertanya pada kekasihnya. "Kau sedang apa di sini?"
"Hanya sedang berpikir saja. Sakura, kau sudah makan? Kalau belum, ini aku bawakan bento."
"Aku belum Wah, kelihatannya enak. Aku mau, Sasuke-kun."
"Buka mulutmu, Sakura." Sakura tidak menyia-nyiakan kesempatan makan siang bersama Sasuke. Ia kemudian membuka mulutnya dan Sasuke memasukkan makan tersebut.
"Ini enak sekali, Sasuke-kun. Aku sungguh iri padamu. Kau bisa masak, sedangkan aku yang perempuan tidak bisa masak makanan seenak ini," puji Sakura.
Sasuke tersenyum mendengar ucapan Sakura. Kekasihnya ini membuatnya sejenak masalah yang sedang mereka alami. "Kau bisa belajar denganku kalau kau mau, Sakura."
"Terima kasih banyak, Sasuke-kun. Aku bersyukur, bisa menjadi kekasihmu." Sakura langsung menghambur ke pelukan Sasuke. Sasuke sempat terkejut, namun ia kembali tersenyum dan membalas pelukan itu.
","
Key
"."
Empat tahun kemudian
Tiga orang mahasiswa dari sebuah universitas ternama di Jepang, saat ini sedang melakukan magang praktek di sebuah rumah sakit terkenal di Tokyo. Mereka bertiga mengenakan jas putih layaknya seorang dokter profesional, padahal kalau dipikir, mereka belum menjadi dokter, namun jas putih tersebut tampaknya sudah sangat pas mereka kenakan. Mereka bertiga adalah Sakura, Sasuke dan Ino. Ketiganya mengambil jurusan kedokteran.
"Sakura, akhirnya kita magang juga. Sebentar lagi impian kita menjadi dokter akan terwujud," ucap Ino senang.
"Tentu saja, Ino-chan. Selama ini kita sudah bekerja keras untuk sampai ke tahap ini." Sakura tak mau kalah dengan ucapan Ino.
"Ladies, sebaiknya kita segera menuju ke ruang dokter Tsunade untuk melapor." Suara Sasuke menginterupsi keduanya yang saling melempar candaan.
"Siap boss!" suara baritone Ino dan Sakura.
.
.
"Selamat siang dokter Tsunade. Maaf kami terlambat," ucap Ino basa-basi.
"Kalian tidak terlambat. Aku yang datang terlalu pagi." Dokter yang bernama Tsunade ini menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang di ruanganku. Silahkan duduk, Uchiha-san, Haruno-san,dan Yamanaka-san."
"Aku akan menjelaskan tugas kalian di sini selama enam bulan. Untuk pasien pertama yang akan kita tangani bernama Uzumaki Shion. Ini datanya. Tolong di pahami catatan medisnya." Dokter Tsunade kemudian memberikan catatan medis sang pasien. Sakura, Sasuke dan Ino terkejut membacanya.
'Uzumaki Shion? Apa dia ada saudara Naruto?' batin Ino.
'Uzumaki?' Adik Naruto kah?' batin Sasuke.
"Kenapa reaksi kalian seperti itu? Apa kalian mengenalnya?" tanya dokter Tsunade pada ketiganya.
"Ah, tidak. Kami hanya merasa nama ini tidak asing di dengar," ucap Sakura gugup.
Dokter Tsunade memaklumi ucapan Sakura. "Jelas saja kalian tidak asing. Dia adalah novelis muda berbakat. Nah, aku harap kalian mau membantu dokter Mei Terumi. Maklum saja, gadis cantik ini susah di tangani. Aku harap kalian merawat pasien dengan profesional dan mematuhi kode etik, " ucap dokter Tsunade ramah.
"Kami mengerti," ucap mereka bersamaan.
.
.
Sakura, Sasuke dan Ino mengikuti langkah Tsunade untuk menemui dokter Mei. Dokter Mei sendiri adalah dokter pembimbing mereka. Mereka telah sampai di ruangan dokter Mei, dokter Tsunade kemudian mengetuk pintu dan masuk keruangan dokter Mei diikuti Sakura, Sasuke dan Ino Tsunade menyerahkan tanggung jawab ketiga mahasiswa magang itu pada dokter Mei. Dokter Mei menyambut mereka dengan ramah.
"Nah, kalian bisa belajar dari dokter Mei. Aku masih banyak pekerjaan. Selamat bertugas, Sakura, Sasuke dan Ino," ucap dokter Tsunade pamit.
"Umm."
Setelah itu dokter Tsunade pamit meninggalkan ruangan, dokter Mei kemudian mengajak mereka bertiga ke sebuah ruangan milik pasien yang tadi pagi Tsunade beritahukan.
"Pasien ini sedikit susah di tangani, minna. Aku harap kalian sabar." Dokter Mei menjelaskan dengan ramah.
"Dokter, bagaimana karekter pasien yang akan kita perikasa?" tanya Sasuke.
Dokter Mei menatap ketiga mahasiswa magang itu, ia kemudian menjelaskan riwayat sang pasien. "Dia seorang gadis yang kesepian. Meski berbakat dalam hal membuat novel, tapi dia seorang yang rapuh. Ia mengalami kelainan jatung sejak kecil dan kakaknya mendonorkan jantungnya pada adiknya. Ia sering keluar masuk di tempat ini."
"Kesepian? Memangnya keluarganya dimana?" tanya Sakura penasaran.
"Ia seorang yatim piatu. Gadis itu dulunya memiliki kakak laki-laki, namun empat tahun lalu, kakaknya meninggal karena kecelakaan. Bus yang ditumpanginya menabrak truk." Dokter Mei kembali melanjutkan langkahnya sambil bercerita.
"Oh, kasihan sekali gadis itu." Ino turut bersimpati atas apa yang terjadi pada calon pasiennya.
"Lalu, kenapa gadis itu susah di tangani, dok?" Sakura bertanya kembali.
"Dia selalu ingin mencoba bunuh diri. Semua orang disini tahu, jika ia sudah masuk ke rumah sakit ini, kasusnya pasti sama. Percobaan bunuh diri."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ia merasa bersalah pada kakaknya, gara-gara penyakitnya, kakaknya harus bekerja keras membiayai pengobatannya dan harus meregang nyawa saat berusaha menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Kita sudah sampai," ucap Dokter Mei lirih.
Ceklek
Handle pintu dibuka dari luar. Keempat orang itu masuk kedalam ruangan VVIP. Kamar itu hanya diisi satu orang saja. Dokter Mei kemudian mendekati sang pasien yang sedang melamun itu. Sakura, Sasuke dan Ino mengikuti langkah dokter pembimbingnya.
"Pagi Shion-chan." Sang dokter menyapa pasiennya dengan ramah.
'Dia adik Naruto kan? Kalau gadis ini benar adiknya Naruto itu berarti Naruto telah...? Meninggal?' batin Sasuke shock.
'Ini mustahil. Dia adik Naruto yang waktu itu kan?' Ino membatin dalam hati.
"Hmm." Gadis yang di sapa hanya menjawab singkat tanpa mau menoleh pada sang dokter. Dokter Terumi memaklumi hal itu. Gadis didepannya memang senang sekali melihat keluar jendela.
'Ini pasti salah. Naruto tidak mungkin meninggal, kan?' batin Sakura.
Dokter Terumi langsung mendekati Shion. Ia kemudian mengecek detak jantung Shion dengan stetoskop yang setia dibawanya. "Kau sudah baikan?" tanya dokter Mei.
"Hidupku tidak pernah merasa baik ketika onii-chan masih hidup, dokter." Ucapan Shion menjadi sangat dingin. Sakura, Sasuke dan Ino menjadi ragu untuk memeriksa keadaan gadis di depannya.
"Aku yakin, kakakmu akan sedih kalau Shion berwajah seperti itu. Hari ini aku membawa temanku. Mereka akan merawatmu, Shion," hibur dokter Mei. Ia kemudian menyuruh Sakura, Sasuke dan Ino mendekat dan memberi perintah untuk mengecek keadaan Shion secera teliti. Shion kemudian menoleh ke arah Sakura, Sasuke dan Ino.
'Mereka Sakura Haruno, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino?' batin Shion ketika menoleh ke arah didepannya.
"Tidak perlu memeriksaku. Aku yakin kalian mengingatku bukan? Sakura Haruno, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino?" ucap Shion dingin.
"Ah, Shion. Rupanya kau masih mengingat kami," ucap Ino berusaha menutupi wajah gugupnya.
"Kalian saling kenal?" tanya dokter Mei heran.
"Mereka mantan teman onii-chan, dok."
"Bagaimana kabar Naruto sekarang, Shion?" tanya Ino lagi. Sasuke dan Sakura hanya diam mendengarkan pertanyaan Ino.
"Kau tidak perlu tahu itu. Bukankah kau sudah melupakannya? Jadi untuk apa menanyakan kabar orang yang sudah meninggal?" ucap Shion sinis.
"Maksudmu apa?" tanya Sakura geram. Dokter Mei hanya bisa diam, tanpa mau ikut campur urusan mereka.
"Setelah kakakku bertemu dan meminta maaf pada kalian, itu terakhir kalinya ia menemui kalian." Shion mulai kesal. Selama ini ia cukup menahan emosinya karena kehilangan Naruto.
"Itu karena kakakmu keterlaluan." Sasuke mulai kesal dengan ucapan Shion.
"Kalau kau belum mendengar penjelasan kakakku, jangan pernah berkata seperti itu. Pergi! Jangan pernah kesini!" usir Shion.
"Shion-chan. Tenangkan dirimu," ucap dokter Mei.
Shion mulai mengamuk. Ia melemparkan obat-obatan yang ada dimejanya secara membabi buta. "Pergi! Aku bilang pergi dari hadapanku!"
"Ino, tolong pegang Shion. Aku akan meyuntikkan obat penenang!" perintah dokter Mei langsung dilakasanakan. Ino berusaha memegang tangan Shion. Dokter Mei tidak tinggal diam, ia langsung membuka pelindung alat suntik lalu memasukkan obatnya ke dalam alat itu. Sang dokter kemudian menyuntikkan obat penenang itu kedalam tubuh Shion. Beberapa saat kemudian, Shion terlelap tidur.
Dokter terumi menghela nafas lega. Ino yang tadi sempat panik, akhirnya juga merasa lega. "Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya."
.
.
'Shion-chan, ini kami. Kau baik-baik saja kan? Kami harap kau selalu menjaga kesehatannmu. Kami sangat menyayangimu.'
.
.
"Okaa-san, Otou-san, nii-chan," igau Shion.
"Shion," panggil Ino lembut.
"Ngggehhh." Shion kembali mengerang. Ia kemudian perlahan membuka matanya. Menyesuaikan cahaya kamarnya. Shion kemudian melirik seseorang yang sempat memanggilnya.
"Shion. Kau sudah bangun," ucap Ino lega.
"Kau! Kenapa masih disini. Aku tidak ingin bertemu denganmu!" ucap Shion kesal.
"Tidak! Aku perlu mendengar ceritamu, Shion." Ino membentak Shion. Ia ingin gadis itu bercerita.
"Aku sudah bilang, kakakku sudah meninggal. Jelas! Sekarang pergilah. Aku ingin istirahat."
"Tidak sebelum kau menceritakan dengan detail."
"Kau benar-benar keras kepala." Shion akhirnya menyerah pada orang yang dicintai kakaknya dulu. Ia kemudian bangkit dari ranjang, dan membuka lemari pakaiannya. Ia lalu mengambil sebuah buku milik kakaknya yangs selalu ia bawa.
"Ambil ini dan pergilah," perintah Shion.
"Tapi aku ingin mendengar ceritamu. Bukan membaca buku ini."
"Buku itu perasaan onii-chan. Semua tertuang di sketsa itu. Aku ingin istirahat, nona Yamanaka." Shion mulai melunakkan sikapnya pada Ino. Ino kembali tersenyum ke arah Shion.
"Terima kasih banyak. Aku akan pulang. Besok aku akan menemuimu lagi. Senang bisa bicara denganmu," ucap Ino tulus. Dengan begini, tidak ada beban lagi yang tersimpan di hati Shion, sedangkan Ino, ia mungkin akan mengetahui rahasia teman masa lalunya sedikit demi sedikit.
"."
Key
"."
Ino House
Ino tengah memandangi buku yang tadi di berikan Shion. Ia penasaran dan langsung membukanya. Gambar pertama yang dilihatnya ada sketsa wajahnya.
"Naruto." Nama itu terdengar lagi. Ia terisak melihat wajah yang di lukis Naruto. Ino kembali membuka lembar halaman kedua. Disana ada sebuah catatan kecil.
'Ino. Kapan ya aku bisa mengungkapkan perasaan ini. Aku semakin terjatuh dalam pesona iris aqua marinemu.'
"Naruto baka!" ucap Ino ketika membaca tulisan Naruto.
Hiks..hiks.. Ino kembali terisak ketika halaman demi halaman yang ia lihat adalah gambar dirinya juga Sakura dan Sasuke. Saat sedang membuka halaman ke sepuluh, ia menemukan sebuah catatan lagi, dan Ino membacanya dalam hati.
'True Love In School adalah karya persembahanku untuk kedua temanku, Sasuke dan Sakura yang saling mencintai. Aku harap aku bisa berani mengungkapkan perasaan ini pada Ino. Aku sungguh salut pada kalian. Semoga kisah cinta kalian abadi sampai maut memisahkan. Aku harap aku tidak membuat kalian kecewa karena aku membuat manga ini berdasarkan kisah nyata. Maafkan aku jika ini salah.'
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu, Naruto. mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini," kata Ino lirih. Ino kembali membuka halaman selanjutnya. Lagi-lagi sketsa wajahnya menghiasi buku setebal lima puluh halaman itu. Ia tersenyum, namun seketika, ia membuka lagi tulisan tangan Naruto. Ino menduga ini tulisan terakhir Naruto sebelum dia meninggal.
'Bila waktuku tiba dan telah habis pada waktunya, aku berharap bisa kembali ke masa lalu dan menggunakan waktuku hanya untuk meminta maaf pada kalian. Sasuke dan Sakura, teman terbaikku yang pernah kumilikki. Teman yang memberikan aku pelajaran berharga tentang bagaimana mengungkapkan perasaan terpendam, tentang bagaimana menjadi diri sendiri. Meski aku tahu,kalian tampak sempurna dari luar tapi sebenarnya kalian berbeda saat menjadi diri sendiri. Ino, satu-satunya gadis yang aku cintai, kau ibarat bunga yang akan selalu mekar sepanjang tahun. Kau gadis yang kuat dan selalu bersemangat. Kau matahariku, meski aku tahu perasaanmu bukan untukku. Kalian sungguh beruntung terlahir dari keluarga yang utuh, ayah dan ibu masih lengkap, kakak maupun adik juga senantiasa menemani. Kalian juga orang yang berkecukupan. Aku tidak iri pada kalian, aku justru senang kalian tidak mengalami hal sama sepertiku. Aku dan adikku hanya orang miskin yang bertahan dengan membuat manga dan mengarang novel. Kami bahkan lupa rasanya pelukan hangat orang tua kami. Tapi satu hal yang akan selalu kujaga, Shion. Malaikat mungilku yang harus ku jaga hingga suatu hari nanti aku bisa mengantarnya ke altar pernikahan bersama orang yang mencintainya. Terima kasih, dan maafkan aku.
"Baka! Kenapa dulu aku menolakmu saat itu."
"Naruto. Maafkan aku!" tangis Ino pecah. Ia tidak sanggup lagi membuka buku itu. Hatinya benar-benar hancur. Naruto, orang yang mencintainya dengan tulus, telah pergi untuk selamanya. Tanpa meninggalkan firasat atau pesan kepadanya. Dirinya sungguh bodoh. Ia menyesali keputusannya yang mendiamkan Naruto untuk waktu yang lama. Kini ia hanya bisa membenamkan kepalanya di balik selimut. Menangisi kebodohannya.
"."
Key
"."
Dua hari kemudian
"Maafkan kami," ucap Sakura ketika menyerahkan buku sketsa Naruto pada Shion.
"Bukan salahmu, nee-san. Aku yang justru harus minta maaf atas kesalahan onii-chan pada kalian." Shion kini mulai terbuka pada Sakura, Ino dan Sasuke.
"Harusnya kami tidak bersikap kekanak-kanakan." Sasuke kemudian bersuara.
"Aku harus pergi menyiapkan pernikahanku."
"Kapan kau menikah, Shion?" tanya Ino lembut.
"Seminggu lagi. Aku ingin mempersiapkannya segera dan aku juga ingin berhenti mencoba bunuh diri."
"Kami akan membantumu," ucap Sasuke ramah.
"Terima kasih."
"Bukan masalah," ucap Sakura tersenyum.
.
.
THE END
Udah ah, kabur dulu...kaborrrrr.
Thanks so much buat minna yang mau mampir baca n review,,, arigatougozaimaz
