A/N : Hehehehe ^~^a
Aku lama ga apdet ya? Gomen ne, untuk menyelesaikan ini aku butuh tiga hari dan bekutat dengan fic orang lain *Cari inspirasi*
Langsung aja ya~
Balas review :
NasTar WhIte :
Kamu 5 menit baca, aku penuh perjuangan keringat, tenaga, darah penuh penghabisan #lebay deh -_-"
miszshanty05 :
OKKK!
Lee Kibum :
Miris? Miris pisau? *Itu ngiris gila!*
Kinana :
Konbanwa 'naaak! -~-/
Aduh nak, piktornya buang dulu. Cukup aku aja yang punya :p #plakk!
suki da shaany :
Aku panjangan nih! Baca ya ^^
Kiseki no Hana :
Err.. baca aja deh XD
CBSB, mungkin nanti. Aku WB sama karakter utamanya... mau baca ulang dan perbaiki beberapa karakter agar lebih menonjol. XD
devilojoshi :
Um,,, beeeh kamu nih, pikirannya lemon aja. *elu sama aja!* #plakk!
niixz. valeria. 5 :
Okeh! 0,09
Byakuya – White Night :
Huweee! Dikirain nggak bakalan review Byakuya saaaaaaaan~! #dilempar centong tetangga. *Brisik woi!*
Errr... dia nggak nangis kok... yang diakhir itu beneran deh, aku bingung mau ngasih scene yang kayak apa buat dia kayak orang kesal. Eh, jadinya malah kayak orang nangis. *dasar author abal*
Baca chap dua ini ya XDD
Maaf juga kepanjangan~
Amach cie cerry blossom :
Hoho... aku juga bingung mau bales apa. #plakk!
JinK 1314 :
um!
michi *to you all* #plakk! *ganti-ganti penname orang* :
OOOOOOK!
mariashine87 :
Baca aja biar tau ;)
Maekyu :
Ok!
Azure'czar :
Cerita di sini sebenarnya simple sih. Dan banyak juga yang udah ngegunain selama aku baca fanfik-fanfik senior. Tapi aku sedikit bumbuin dengan kisah-kisah *ce'elah bahasa gue* yang menyentuh kalbu~ #plak!
baby hongstar :
Hai juga~ -.-/
Baca aja, nanti kamu tau sendiri.. err CBSB itu... aku lagi berusaha untuk mendalami karakter Inuyasha yang kubuat. Abis dia labil banget, dikit-dikit pasrah, dikit-dikit ngelawan, dikit-dikit ngebingungin ,, -,-a
Dan jadinya malah kena WB di tengah jalan #kuso *ngomel-ngomel sendiri*
ShuuKai :
Hekzzzz... kamu nungguin lemon? Silahkan dinikmati XDDD~
Yuuhee :
Baca aja, nanti kamu tau sendiri ;0
badaisakura :
Duh, ngarep banget Inu chan diselametin Sesshomaru .. :3 #smirk
Khukhukkhu... tidak semudah itu.
Maneki Neko Azu – chan :
Ah, baca aja chapter ini nanti juga kamu tau ^^
smilehyuk :
awh... ini abal kok dibilang keren.. -_-a *kepala membesar*
Kalo fic abal yang keren sih gapapa XD~~ *sama wae*
PhantoMiRotiC :
Hmm? Nggak tega bayanginnya? Ini masih mendingan dari yang satu lagi.. Inu chan agak sedikit IC. TenKyuu for reading.. ^^
Verochi chan :
Eh, kenapa dengan gaya bahasaku? 0.0a
mengundang ya~ :3 *otak piktor*
Yamaguchi Akane :
Summarynya mengundang? Mengundang nyamuk kah? O,Oa
Kebetulan di sini aku lagi digigitin ma nyamuk.
Aku nggak jago bikin lemon kok... entah kenapa setiap bikin lemon, susah banget bikin dengan word di bawah 1+ yang hot... dan harus berakhir dengan selalu 2+ *kurang lebih* ... jadi deh keliatan hot.
Masalah BDSM.. aku paling ga bisa dekskrip begituan.. eh jadinya aneh.. -_-"
Minge – ni :
Ah, pastilah dia.. siapa lagi atuh :3
Inu chan kan emang uke terunyu~
Nartichanfacebook. com :
Nih kulanjut, maaf lama ya ^^
LadySaphireBlue :
-_-" Aku dibilang hentai?! Aku kan masih polos~ *kedip-kedip* #readers muntah
Unyu tapi macho? Kesiksa batin?
Maklumlah aku kan emang spesialis(?) hurt/comfort yang susah banget keluar dari konteks itu.
URuRuBaek :
Ok ^^, baca ya~
devilluke ryu shin :
Duh... pertanyaanmu nanti terjawab dengan sendirinya.
Anon :
OK!
inuneko :
Ok! Ok.. mungkin ku DM #PHP-in orang
Astro O'connor :
Boleh kok.. ^^
:
Ini sudah apdet, silahkan baca ^^
...
Terimakasih yang sudah Review, Fave, Follow dan para silent readers... dan namanya yang kelewat, gomennasai... aku hanya manusia biasa yang yang kelebihan hormon, makanya nyalurin kefic nista begini #plakk!
Fic ini kulanjut dengan segenap rasa terima kasihku untuk kalian semua.
Let's Enjoyed ttebayo!
.
.
.
Disclaimer:
Inuyasha milik Takahashi Rumiko-Sensei
Rate :
M
Genre : Hurt/Comfort, drama, nambah atu dichapter depan (Romance)
Pairing : SesshomauXInuyasha
slight : InutashoXNaraku (Crack Pair)
Warning!
AU, Hard Yaoi, BL, BoyXboY, Rape, Lime, Hard Lemon, Crack,
OOC, gaje, alur kecepetan, ketidak nyambungan alur, typo dan sebangsanya.
Dont't Like? Yeah Dont Read!
Okey?
UzumakiKagari as Nick MyKyuubi present
Kill Me, if You Want to Have Sex With Me
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Inuyasha? Kau di dalam?"
Jemari lentik yang dengan cekatan membalutkan kain pada tubuh rampingnya terhenti saat sebuah suara terdengar dari pintu kamarnya. Ia melangkah mendekati pintu dan membukanya sedikit, melihat seorang wanita berparas cantik dengan surai hitamnya yang menjuntai hingga atas lutut berdiri di depan pintunya.
"Ada apa?" Tanya Inuyasha.
Wanita itu menggeleng, "Boleh aku masuk?" Tanya wanita itu. Tangannya terlihat mengayun-ayunkan plastik putih di depan wajahnya. "Aku bawa masakan ibuku." Lanjutnya.
Alis Inuyasha sedikit terangkat namun tetap membuka pintunya lebih lebar, memberi izinnya pada wanita cantik dihadapannya untuk masuk.
"Kemarin kenapa?" Wanita berparas cantik itu bertanya dengan tangan yang mengeluarkan bungkusan makanan dari plastik putih yang dibawanya. "Aku melihat pelanggan yang diseret dari kamarmu. Lagi."
Inuyasha mengangkat bahunya acuh dan duduk pada sisian tempat tidurnya, ia menerima bungkusan kecil yang disodorkan wanita cantik di depannya dan menggeleng saat wanita itu menunjukan masakan penuh warna hijau padanya.
"Kau terlalu pilih-pilih pelanggan tahu. Nanti kalau tidak laku baru tahu rasa." Wanita itu terkikik saat mendengar dengusan dari Inuyasha.
"Bagus jika memang aku tidak bisa lagi dijualnya." Nada bosan Inuyasha membuat wanita di depannya menggeleng pasrah. "Kagome."
"Ya?" Kagome, wanita cantik itu menoleh saat Inuyasha memanggilnya.
"Apa, kau tidak ingin keluar dari sini?" Manik kelam Kagome melihat Inuyasha memain-mainkan bungkusan kecil ditangannya dengan sesekali berhenti saat air dalam bungkusan itu berputar hingga berhenti dan kembali menggoyangkannya.
"Jangan memain-mainkan makanan Inuyasha!" Kagome memberikan tatapan tajamnya, "Dan apa maksud pertanyaanmu itu? Keluar? Kita yang sudah berada di sini hampir dari setengah umur kita Inuyasha?" Lirikan coklat madu terarah padanya. "Jangan berharap jika kau tahu sendiri itu tidak mungkin Inuyasha. Terlebih kau, Naraku san tidak akan melepaskanmu sampai kau mati pun. Kujamin itu."
"Karena tubuhku ini penghasilan terbesarnya."
Manik kelam Kagome sedikit melebar, "Inu –"
"Sudahlah Kagome, aku harus bersiap untuk kedatangan laki-laki bodoh lain yang akan mencicipi tubuhku. Jadi, bisa kau tinggalkan aku?"
Diam, entah apa yang membuat Kagome tak bisa membalas ucapan Inuyasha barusan. Pemuda di depannya kini, ia sangat tahu betapa tidak inginnya kata-kata itu terucap dari bibirnya. "Maafkan aku, aku akan pergi sekarang." Bibir berlapis gincu merahnya melengkungkan senyum kecil pada Inuyasha. Kaki berbalut gaun indah sewarna langitnya berjalan mendekati pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh pada Inuyasha. Tak ada senyum di sana, hanya tatapan lirih yang terarah pada punggung berlapis kain putih yukata yang dipakai pemuda itu. "Tidak ada yang memilih hidup seperti ini, Inuyasha." Ia tersenyum, "Makan sayurannya juga."
Cklek...
.
.
"Cih!" Inuyasha melempar bungkusan ditangannya, tak penting lagi apapun yang dipikirkannya kini. Ia bekerja di sini dan itu yang harus dilakukannya.
Ia yang diambil dari jalanan tidak seharusnya berpikir macam-macam. Naraku sudah memberinya kehidupan dan gilirannya untuk membalas semua kebaikan yang telah diberikan laki-laki itu. Kebaikan palsunya. Cara untuk membuatnya berhutang budi dan bekerja menjajakan tubuhnya sebagai pelacur.
Bahkan laki-laki itu bilang seharusnya ia bersyukur karena dirinya tidak dipaksa untuk melayani orang-orang yang menginginkan tubuhnya. Ia bisa memilih mau atau tidak. Meski kata tidak berarti membuat orang selain dirinya menjadi pemuas nafsu manusia-manusia bejat itu.
-Cklek!
"Ara~ Kau harusnya sudah siap Inuyasha kun." Suara yang sangat Inuyasha kenal milik siapa.
"Dimana aku harus menemuinya?" Inuyasha bertanya dengan tangan yang nampak sibuk melingkarkan obi dipinggangnya.
"Butuh bantuan?" Napas hangat yang menyapu tengkuknya membuat Inuyasha menghentikan gerak tangannya. Sebuah tangan porselen menyentuh punggung tangannya dan mengambil alih tali obi merah itu.
Bibir berlapis lipstik Naraku menyentuh permukaan kulit tengkuk Inuyasha, mengelus lembutnya kulit pemuda manis itu dan mengecupnya. "Apa yang kau lakukan?" Naraku terkikik mendengar nada sinis dari Inuyasha.
"Mencicipimu sebelum orang lain. Aku masih pacarmu Inuyasha kun."
Plak!
Tamparan keras melayang pada pipi kiri Naraku, "Jangan katakan itu lagi!" Nada keras itu disertai dengan gertakan gigi Inuyasha.
"Yare-yare." Hitamnya malam menatap indahnya dari iris madu, tangan Naraku menyibak helaian rambut hitamnya yang sedikit berantakan dan menyentuh sisian wajahnya yang terasa panas dan terlihat memerah. Ia tersenyum saat matanya menangkap kemarahan diwajah Inuyasha. "Ah... aku harus menutupi ini dengan riasan." Ucapnya seakan tak melihat ekspresi itu.
"Keluar!" Geram Inuyasha.
Tangan Inuyasha terangkat dan terkepal, menyisakan telunjuknya yang terarah lurus pada pintu kamarnya. "Keluar dari kamarku!" Teriak Inuyasha.
Naraku tersenyum, "Tuanmu ada diruangan khusus, dia sudah menunggumu di sana." Ia membalikan tubuhnya dan berjalan kemana telunjuk Inuyasha terarah dengan senyum yang tak ada putus-putusnya.
Blam!
Menggertakan giginya, menggeram. Inuyasha merasa dirinya bisa saja merobek bibir tersenyum Naraku agar laki-laki itu bisa tersenyum sepuas yang dia mau. 'Aku akan melihatmu tersenyum sangat puas begitu kau melihat apa yang akan kulakukan.'
Bibir tipis Inuyasha mengukir sebuah seringai dan kembali membenahi balutan kain ditubuhnya. Lalu ia berhenti dan menoleh pada kain sutra merah di atas tempat tidurnya. Naraku bilang itu adalah hadiah yang diterimanya dari Tuannya sekarang. Ia mendengus saat tangannya menyentuh permukaan halus kain itu. Begitu kaya kah orang ini sampai-sampai menghadiahi ia hal macam ini? Atau hanya seseorang yang suka menghamburkan uangnya untuk hal tidak berguna yang sekali pakai langsung buang? Toh, kimono merah ini akan ia buang seusai ia melayani si pemiliknya.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Langkah yang begitu pelan namun juga begitu memancarkan suatu keanggunan. Kecantikan yang tak bisa dipungkiri lagi melekat erat pada sosok berbalutkan kimono merah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tak membiarkan orang-orang disekitarnya untuk melihat betapa halus dan terawatnya tubuh indah itu. Hanya mengekspose cantiknya paras yang dipoles bedak, perona pipi juga lipstik merah yang tak terlalu tebal. Memancarkan kecantikan alami dari sosok itu.
Rambut putih keperakan yang biasanya dibiarkan menjuntai jatuh hingga lutut kini nampak diatur sedemikian rupa dengan kepangan panjang yang yang terlebih dulu digelung dikepala dan ditusuk beberapa perhiasan perak untuk menjaga rambut indah itu agar tak senantiasa jatuh.
Bukan lagi seorang putri dari kerajaan-kerajaan Jepang terdahulu yang konon begitu cantiknya, sosok yang terus melangkahkan kakinya pada lantai kayu bangunan sederhana itu adalah sesosok bidadari. Makhluk bukan manusia yang begitu cantik dan memikat. Bidadari yang kehilangan sayapnya dan terpaksa hidup dikalangan manusia dengan dirinya yang selalu diperebutkan oleh banyak dari manusia yang menginginkan dirinya.
Tak ada salahnya jika sesuatu yang indah diperebutkan. Wajar, karena itu adalah hak bagi mereka. Meski sang pemilik keindahan tidak menginginkannya. Tak ingin dimiliki.
"Inuyasha sama." Suara lembut itu direspon dengan lirikan kecil sang pemilik mata beriris madu. Melihat wanita cantik salah satu pengiringnya dengan tatapan bertanya.
"Apa anda baik-baik saja?" Inuyasha mengangguk kecil dan kembali menatap ke depan. "Tak seperti biasanya kau bertanya Kagome?" Suara itu nampak berbisik dan pelan, begitu halus terdengar ditelinga Kagome. Menimbulkan kontas antara Inuyasha yang dikenalnya dengan Inuyasha yang berjalan bersampingan dengannya saat ini. Seorang penghibur nomor satu yang selalu membuat tempat ini ramai. Selalu banyak yang menginginkan.
"Kali ini, kurasa sebaiknya kau tak menunjukan sifat aslimu walaupun jam kepemilikan sudah berakhir." Ucapan Kagome barusan sedikit membuatnya bingung namun tak sempat untuk Inuyasha bertanya saat di depannya kini sudah terdapat pintu penyekat, batas antara dirinya dan Tuannya untuk enam jam ke depan. Inuyasha bersorak kagum saat mendengar Tuannya kali ini membeli enam jam waktunya mengingat tarifnya yang tak bisa dibilang biasa-biasa saja sebagai seorang penghibur. Tiga puluh juta dalam satuan dollar dan itu perjam, sekali lagi. Perjam. Dan siapa yang mau menghamburkan uang sebanyak seratus delapan puluh juta dollar hanya untuk bersamanya selama enam jam?
'Orang tidak waras.' Inuyasha diam-diam menyetujui pikirannya barusan.
Sraak...
Pintu itu bergeser saat dua orang yang sejak tadi mengiringinya menarik masing-masing pintu di depannya. Membuat siapapun yang ada di dalam sana melihat sosok Inuyasha yang berlutut dan menunduk. "Hamba Inuyasha, maaf karena telah membuat Tuan menunggu."
Inuyasha terdiam cukup lama sebelum memastikan jika orang di dalam ruangan itu tidak akan menanggapi ucapannya. Ia melirik kedua wanita di sampingnya dan sedikit mengangkat tubuhnya untuk masuk dalam ruangan –entahlah, remang dan hanya sedikit pencahayaan berwarna orange dari lilin di tengah ruangan yang tertangkap oleh matanya. "Kalian boleh pergi." Suara lembut itu mengiringi pintu yang perlahan menutup dengan sang penghibur yang membungkuk dan mendekat pada satu-satunya sumber cahaya diruangan itu.
"Apa anda ingin segelas teh krisan Tuan?" Inuyasha bertanya dengan sedikit kegusaran diwajahnya. Bukan apa-apa, hanya saja orang di depannya ini sama sekali tak bersuara sejak kedatangannya. Dan terlebih lagi ia yakin jika orang di depannya ini terus saja menatapnya sejak pertama kali melihatnya.
"Tuan?" Ok, bukan salahnya ia mengeluarkan nada bertanya seperti tadi.
"Tegakan wajahmu."
Suara baritone bernada tegas itu merasuk dalam pendengaran Inuyasha, membuatnya sedikit bernapas lega karena tak harus kebingungan dengan apa yang harus diperbuatnya nanti. Hei! Dia ini 'profesional'!
Dengan perlahan Inuyasha mengangkat wajahnya yang sejak tadi menatap lantai berlapiskan tatami yang menjadi alasnya duduk. Gelap, hanya balutan yukata putih bermotif naga emas juga satu tangan yang bertumpu pada lutut yang ditekuk yang dapat dilihat Inuyasha. Cahaya ruangan itu terlalu remang untuknya dapat melihat wajah dari sang pemilik. Hanya samar-samar Inuyasha melihat helaian putih panjang yang sedikit terurai di bagian depan.
Kakek-kakek? Ia rasa bukan, karena suara baritone yang didengarnya tadi amat tegas dan dalam dan memiliki rambut putih bukan berarti orang di hadapannya ini sudah tua melihat dirinya sendiri memiliki rambut yang senada.
"Apa ada yang salah Danna sama?" Diam lagi, ukh... rasanya Inuyasha benar-benar harus menanamkan kata sabar saat ini.
Inuyasha sedikit terkejut saat sebuah tangan porselen berbalutkan kain putih terjulur hingga menyentuh dagu dan sisian wajahnya. "Danna sama?"
"Jangan pernah tunjukan wajah palsumu dihadapanku."
'Huh?' Inuyasha tak bisa menahan diri untuk tak mengerjapkan mata dengan pandangan bingung. "Maaf, saya tidak mengerti apa yang Danna sama maksud." Ia tetap mempertahankan senyumnya meski rasa bingung masih mendominasi. "Apa saya telah melakukan suatu kesalahan?"
Jemari yang menangkup wajahnya semakin lama semakin mengencang dan membuat Inuyasha meringis karena tekanan kuku pada kulit wajahnya. "D –Danna sama?"
'Astaga, apa-apaan orang ini?!' Batin Inuyasha.
Dipaksa langsung melayani, diperlakukan seperti orang yang diperkosa, diperintah untuk bersikap agresif, dihina saat melakukan sex. Inuyasha sudah berkali-kali mendapatkan perlakuan seperti itu dari ratusan pelanggannya. Tapi, diperintah untuk jangan menunjukan wajah palsunya? Ia tak mengerti arti ucapan atau perintah apa sebenarnya itu.
"Senyum itu, suara itu dan semua sikap tak bergunamu. Jangan pernah kau gunakan saat melayaniku."
"Tuan?" Hanya sepersekian detik tubuh Inuyasha didorong ke belakang hingga punggungnya menabrak tatami, ia meringis karena belakang kepalanya juga harus ikut terantuk. Dan sebelum ia sempat menyuarakan pertanyaan dalam benaknya, Inuyasha sudah dikejutkan dengan sebuah tangan yang membekap mulut dan hidungnya dengan erat. Matanya membulat dan mencengkram tangan itu, ia menatap penuh kebingungan pada –warna keemasan dalam lingkaran mata laki-laki di atasnya.
'Aku tidak bisa bernapas!' Panik, dadanya yang berpacu semakin lambat membuat Inuyasha mengeratkan cengkramannya. Meronta dan mendorong laki-laki di atasnya untuk melepaskan telapak tangan yang menghalanginya menghirup udara. "Emmmph! Emmph!"
'Ada apa dengan orang ini?!'
.
.
Plak!
"Hah! Hah! Hah... hah... kau gila!" Teriakan kesal itu meniadakan semua kesan anggun dan lembut yang dilihat sepasang iris coklat keemasan di awal penglihatannya. Wajah sensual berpoles make up pemuda di depannya telah tergantikan oleh wajah memerah, penuh kekesalan dan kebingungan akan tindakan yang baru saja dilakukannya.
Bibir tipisnya melengkungkan senyuman melihat ekspresi baru sang penghibur. "Ekspresi yang bagus."
Ctik!
Inuyasha tak bisa menahan wajahnya yang serta merta berubah menghorror. Juga satu kedutan yang bersarang didahinya. Laki-laki yang sekarang bisa ia lihat keseluruhan darinya, wajah yang begitu muda –Inuyasha yakin usianya tak jauh beda dengan dirinya- juga sepasang mata keemasan yang memandang datar dirinya ini sudah gila. Setelah membuatnya tak bisa bernapas dengan mengunci mulut dan hidungnya sampai-sampai ia harus menampar wajah laki-laki itu. Sekarang, laki-laki itu malah mengatakan ekspresinya yang marah ini bagus dengan senyum kecil yang ditunjukannya.
Sret!
Inuyasha membangunkan tubuhnya dengan cepat dan merapikan bagian depan kimononya yang sedikit tersingkap hingga bagian perpotongan lehernya terlihat. Manik madunya memandang orang di depannya dengan berusaha untuk membuat dirinya tak memaki laki-laki yang hampir mengambil nyawanya itu. Bukan mendramatisir tapi kenyataan.
"Sebaiknya saya pergi jika Tuan tidak berminat untuk ditemani." Tubuhnya membungkuk dan kembali tegak, "Permisi." Kedua tangannya mengangkat bagian bawah Kimono yang panjang menjuntai. Ia membalikan tubuhnya, bermaksud pergi dari ruangan itu sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat tarikan keras pada bagian belakang kimono yang dikenakannya dan mengharuskan ia jatuh ke belakang.
Brugh!
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk pergi Inuyasha." Mata Inuyasha terbelalak saat sebuah tangan menyusup masuk pada belahan depan kimononya dan menyentuh tonjolan kecil dipucuk dadanya. "Jangan lupakan aku sudah membayar mahal untuk enam jam waktumu."
"Ah..." Inuyasha tak bisa menahan erangannya saat telinganya dikulum oleh laki-laki yang menahan tubuhnya dari belakang, ia kembali mengerang saat tangan pemuda itu yang semakin menelusup masuk dalam kimononya.
"Kau suka kimono yang kubelikan untukmu? Kimono yang kau kenakan bahkan lebih mahal dari harga tubuhmu." Sebelah tangan lain membuka obi yang melingkar dipinggang Inuyasha dengan sangat mudah. Membuat berlapis kain yang dikenakan Inuyasha melonggar dan memperlihatkan kulit putih yang begitu halusnya saat jemari pemuda itu menyentuh setiap jengkalnya.
"Ngh... berhenti! S –siapa yang mengizinkanmu menyentuhku!" Tubuh Inuyasha berontak, mencoba melepaskan tangan-tangan yang semakin beraninya menyentuh titik-titik sensitif ditubuhnya. Inuyasha mengumpat saat tangan pemuda itu menyentuh sesuatu diselangkangannya. 'Kuso...'
"Kurasa aku tidak perlu izinmu Inuyasha." Pemuda itu menggigit perpotongan leher Inuyasha hingga Inuyasha menjerit tertahan. "Tidak untuk enam jam ke depan, kau adalah milikku."
Inuyasha tak bisa berbohong dengan tubuhnya yang terus menggeliat saat tangan yang begitu cekatannya memijat bagian selangkangannya terus saja bergerak melingkupi miliknya dengan sengatan-sengatan kecil yang harus ia akui, nikmat. Tubuhnya bergetar dengan tangan yang mencengkram erat yukata bagian depan laki-laki di belakangnya. "Ngh...–"
.
.
.
.
Mengerang, ia mendesah dengan keras. Tubuh Inuyasha tak kuasa untuk tak merespon setiap sentuhan yang laki-laki ini berikan padanya. Ia meremas kimono merah yang sudah tak lagi dikenakannya dan menjadi alas bagi tubuh telanjangnya yang kini tengah berusaha untuk tetap menahan tubuh gemetarannya dengan lutut yang tertekuk, tubuh terlungkup dan sebuah tangan yang masih senantiasa bergerak naik turun pada kejantanannya.
"Ah! Ah... Nghh... Ah!"
Kedua kaki Inuyasha merapat saat ia merasakan desiran cairan yang dengan cepat mengalir memenuhi jantanannya. Ia mengerang keras dan menggigit balutan kain di bawahnya begitu cairan putih menyembur dari kejantanannya.
Tubuhnya yang lemas dan hampir ambruk ditahan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggang dan dadanya. Memaksanya untuk menegakan tubuhnya hingga ia bersandar pada dada bidang di belakangnya. Semburat merah langsung menghiasi wajah Inuyasha saat merasakan lekukan tubuh pemuda itu bersentuhan dengan kulit punggungnya. Ia memalingkan wajahnya ke sisi lain, menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah. Membuat napasnya yang terengah dan wajah merahnya tak terlihat oleh pemuda itu.
Dadanya yang naik turun juga detakan jantungnya yang kencang terdengar begitu inginnya untuk meraup oksigen yang sangat sulit untuk dihirupnya sekarang. Lalu tanpa peringatan, rasa sakit dibagian bawah tubuhnya membuat napasnya tercekat.
"AAAH!" Inuyasha berteriak keras dengan tubuh yang bergetar, cairan putih kembali menyembur bebas dari kejantanannya yang mengacung tanpa sehelai benangpun menutupi. Matanya membulat sempurna dengan lelehan air mata yang jatuh, berlinangan dengan derasnya.
"Sa –kit..." Ucapan itu terdengar sangat lirih diantara napasnya yang terputus-putus karena suara sesenggukan yang membuatnya lebih sulit untuk bernapas. Sakit yang benar-benar sakit saat laki-laki itu memasukinya begitu saja.
"Aku tidak tahu kau akan merasakan sakit setelah bagitu banyaknya penis yang sudah memasuki analmu." Inuyasha menatap tajam wajah datar di belakangnya dan menggeram kecil. Apa maksud pemuda ini berkata seperti itu! Maksudnya ia tidak akan merasakan sakit setelah banyaknya penis manusia-manusia bejat yang pernah menyetubuhi ia memasukinya begitu? Ia juga manusia tahu!
"Kuso..." Mata Inuyasha terpejam erat, membuat butiran air bening kembali menuruni pipi putihnya dan menghapus riasan diwajahnya. Apa yang ia mimpikan semalam sampai-sampai harus mendapatkan Tuan bertitle 'bego' seperti ini –ralat, ia sama sekali belum tidur sejak kemarin-. Terlebih lagi pemuda ini membuatnya harus merusak citra seorang 'Inuyasha-sama' yang anggun dan beraura sensual dimenit-menit pertama mereka bertemu.
Inuyasha mengerang sakit saat benda dalam anusnya bergerak keluar, membuatnya merasakan sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya saat dua kulit itu saling bergesekan. Begitu panas dan perih.
Jemari berlumuran cairan putih menelusup masuk dalam belahan bibir Inuyasha, "Tidak keberatan jika kau bersihkan tanganku?"
Jika saja saat ini akalnya berada di atas, Inuyasha mungkin tak akan melakukan permintaan yang terlambat diucapkan itu –mau dibilang apa lagi, pemuda itu meminta setelah jemarinya dengan seenak udel masuk dalam mulutnya dan menjepit lidahnya-. Tapi untuk saat ini, ia merasa tak mungkin untuk menolak.
"Anak baik." Jilatan panjang pada leher Inuyasha ia berikan saat dengan patuhnya Inuyasha menjilati jari-jarinya. Ia tak menyia-nyiakan waktunya disaat perhatian Inuyasha teralihkan. Ditariknya kejantanan yang sudah setengah keluar dari rektum Inuyasha hingga tinggal ujungnya saja yang berada dalam tubuh pemuda itu.
"Ahh... tuan –" Inuyasha melepaskan jemari yang dikulumnya dan mendongak ke atas, meremas tangan yang berada dipinggangnya sebagai penyalur rasa sakit.
Cantik, lebih cantik lagi saat wajah pemuda manis itu dihiasi peluh dan semburat merah yang menggantikan warna putih kulitnya.
Tangan porselennya ia arahkan untuk menyentuh sisian wajah Inuyasha dan membuat wajah itu menghadapnya. "Sesshomaru, panggil namaku."
Mata Inuyasha perlahan terbuka, menatap wajah tampan laki-laki yang tengah menyetubuhinya itu. Menatap manik keemasan yang memantulkan cahaya temaram ruangan itu dengan begitu memikatnya dalam balutan kehangatan –atau dalam hal ini bisa dibilang begitu panasnya dengan aktivitas yang mereka lakukan sejak tadi.
"Tuan –emhh!" Kecupan yang tak lebih dari lima detik itu mengurungkan kalimat yang akan keluar dari belahan bibir Inuyasha. "Sesshomaru. Jangan buat aku mengulanginya lagi."
Tubuh Inuyasha kembali terbaring, pemuda di atasnya itu membalikan tubuhnya dan langsung mendorong kejantanannya dalam. Inuyasha memekik tertahan karena prostatnya terkena dengan telak.
Inuyasha meremas kimono yang menjadi alas tubuhnya dengan erat saat gerakan tubuhnya yang terus terlonjak semakin kencang dan brutal. Tusukan rambut pada rambutnya sudah terlepas entah kemana, juga rambutnya yang tertata rapi sudah terlihat sangat kusut dan berantakan. Kepangannya terlepas dibeberapa sisi. Membuat tak sedikit dari helaian rambut putihnya menempel pada wajahnya yang merona merah.
"Ah!... ahh..."
Suaranya tidak bisa lagi ditahan, dorongan kuat dibagian bawah tubuhnya terus saja memberi Inuyasha rangsangan yang memabukan. Berkali-kali membuatnya melenguh dengan dada yang membusung karena ujung dari benda yang terus menubruknya itu selalu mengenai prostatnya. Tak sekalipun memberinya jeda untuk sekedar mengambil napas.
Geraman kecil terdengar dari Sesshomaru. Ia meraih kejantanan Inuyasha yang sejak tadi nampak begitu ingin dijamah, mengacung dengan cairan precum yang terus keluar dari lubang kecil diujung kejantanannya. Inuyasha melenguh karena mendapatkan rangsangan lebih saat analnya tengah dimasuki dengan brutal. Tubuhnya terus menggeliat dan terdorong bersamaan dengan pinggul Sesshomaru yang semakin seringnya bergerak maju dan mundur.
Tubuh Inuyasha mengejang, kejantanannya yang terus menerima rangsangan semakin mengeras saat ia merasakan klimaksnya yang hampir datang. Ia mengerang, anusnya menjepit kejantanan Sesshomaru dengan kencang. Membuat pemilik manik keemasan itu berdesis karena sempitnya lubang yang ia masuki.
Sesshomaru menundukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Inuyasha dan mencium bibir kemerahan yang terus mengalunkan desahan tak terputus itu. Satu tangannya ia arahkan untuk menggenggam sebelah tangan Inuyasha yang mencengkram kimono di bawah tubuhnya. Menautkan jari-jari mereka. Alisnya mengernyit saat desiran air yang begitu terasa hangat mengalir dikejantanannya. Ia menyodok dalam dan terdiam, menanamkan jauh kejantanannya dilubang Inuyasha saat cairan dalam tubuhnya menyembur keluar. Melingkupi kejantanannya dan memenuhi ruang dalam tubuh Inuyasha. Hanya sepersekian detik Inuyasha menyusul dirinya dengan semburan sperma yang membasahi perutnya sendiri dan Sesshomaru.
Napas mereka tersengal-sengal, begitu rakusnya untuk menghirup oksigen yang seakan menghilang dengan cepat dari tubuh mereka. Inuyasha terlihat kelelahan. Tubuhnya yang begitu lemas dengan peluh yang mengucur deras dari pori-pori kulitnya. Wajah cantiknya terlihat berantakan dengan semburat merah yang tak ada hilangnya dari kulit putihnya. Bibir yang bengkak dan tetesan saliva yang sesekali turun dari ujung bibirnya menambah keindahan dari sisinya yang lain. Sesshomaru menjilat bibir bawahnya sendiri melihat begitu erotisnya wajah pemuda manis di bawahnya sekarang. Kejantanannya yang melemas beberapa saat lalu langsung mengeras dan membuat Inuyasha yang sudah setengah jatuh dalam mimpinya harus membuka kedua mata lelahnya dan menatap penuh horror pada laki-laki yang 'masih' menjadi Tuannya itu.
"K –kau..." Napasnya masih sedikit tersengal namun tak dapat untuk menutupi keterkejutan dari suaranya. Ia meneguk ludahnya sendiri saat melihat senyuman tipis diwajah ta –tampan Tuannya. 'Sial! Dia tampan sekali!' Inuyasha meruntuki dirinya sendiri karena harus dengan tidak relanya mengakui jikalau pemuda di atasnya itu memang sangat tampan.
Bibir Inuyasha mengalunkan sedikit desah saat tubuh di atasnya menunduk dan mendekatkan tubuh mereka. Ia bergidik merasakan napas hangat yang menerpa tengkuknya. "Round two." Suara berat itu membuat tubuh Inuyasha menegang untuk beberapa saat. Hanya beberapa saat, karena tak sampai dua detik ia sudah merasakan tubuhnya kembali terlonjak dengan rasa panas dan suara kecipakan di bagian bawahnya. Desahan dan erangan kencang kembali mengalun dari belahan bibirnya.
Ia menggeram penuh kekesalan disela desahannya dan menatap tajam wajah ta –tampan. 'Arrrghhh! Sialan!' Lagi-lagi Inuyasha berpikir laki-laki di atasnya ini tampan. Ukh... walau benar, ia rasa harus menambahkan satu hal lain lagi dalam benaknya. Laki-laki tampan dan juga brengsek.
Err... rasanya kalau laki-laki brengsek, tiap hari juga dia temui kan?
"Ah... Haah! Ah!" Inuyasha rasanya malam ini akan benar-benar bekerja dengan ekstra. Bagian bawah maupun suaranya. Laki-laki di atasnya itu nampak begitu senang saat desahan serak Inuyasha terdengar olehnya. Ukh... ukhh... Dia tidak akan bisa bekerja untuk beberapa hari ke depan. Bisa dijamin.
Peluh menetes jatuh dari tubuh keduanya, bercampur dan membasahi alas dari aktivitas duniawi yang mereka lakukan. Hanya ruangan bercahaya temaram yang menjadi saksi bisu dari kegiatan mereka. Kenikmatan, hasrat, nafsu dan rasa dominasi menyelimuti ruangan itu. Tak merasakan lagi dinginnya malam di luar sana. Hanya ada gairah yang semakin memuncak seiring dengan puncak dari kenikmatan yang kembali mereka rasakan.
Untuk kali ini, tubuh Sesshomaru ambruk menimpa Inuyasha di bawahnya. Napasnya terengah namun masih dapat kembali mencium bibir merah milik Inuyasha yang nampak sudah membengkak. Desah lemah terdengar dari Inuyasha meski kini pemilik surai putih itu berada diambang kesadarannya. Ia melenguh saat laki-laki di atasnya mencabut benda miliknya. Matanya yang setengah terbuka menatap sayu Sesshomaru yang tengah memakai kembali yukata putihnya. Inuyasha menutup matanya saat rasa lembab dan hangat menyentuh keningnya. Samar-samar ia mendengar ucapan laki-laki itu sebelum ia benar-benar jatuh dalam tidurnya.
"Aku akan kembali."
Inuyasha tak memberi tanggapan atas ucapan itu. Ia terlalu lelah hanya untuk kembali membuka matanya dan membiarkan tubuhnya diselimuti rasa hangat –entah oleh apa.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Hangat, Inuyasha mengerang saat sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh pelan pipinya. Ia beringsut mundur begitu sentuhan itu berubah menjadi tepukan ringan, meski lembut namun tetap saja ia merasa terganggu. Satu tangannya ia gunakan untuk menepis pelan sesuatu itu. Ia lelah, dan masih ingin memejamkan matanya barang satu atau dua jam lagi.
"... sa ...yasha. Inuyasha."
Erangan Inuyasha semakin terdengar saat telinganya menangkap suara yang memanggil-manggil namanya. Dengan sedikit umpatan dalam hati, akhirnya ia memilih untuk membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap seseorang yang nampak tengah duduk di sampingnya. Wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya.
"Maaf membangunkanmu Inuyasha. Tapi Naraku san menyuruhku untuk membangunkanmu karena bayaran untuk waktu tidurmu sudah habis." Gadis itu berucap dengan senyum kecil diwajahnya.
Alis Inuyasha berkerut, "Waktu –tidur?" Ia berucap dengan suara yang terbilang hampir tak terdengar. Gadis berumur tujuh belas tahun di sampingnya sedikit terkejut saat mendengar suara Inuyasha namun ia memilih untuk mengacuhkannya dan mengangguk, "Tuanmu semalam membayar waktumu pada Naraku san dan mengatakan padanya untuk membiarkanmu tidur sampai kau bangun sendiri." Ucap gadis itu.
Inuyasha langsung menatap gadis itu dengan wajah terkejut, Tuannya semalam membayar lebih untuk membiarkan ia tidur lebih lama? Apa maksudnya?
"Naraku san sudah bilang jika tidak perlu melakukan itu juga, dia akan membiarkanmu tidur lebih lama. Tapi orang itu terlihat memaksa sekali dan langsung memberikan cek kosong pada Naraku san." Lanjut gadis itu, ia mengingat-ingat kejadian semalam saat dirinya tengah merapikan kamar Naraku. Laki-laki dengan paras tampan dan rambutnya yang begitu memukau dirinya datang dan berbicara mengenai Inuyasha. Terlebih ia ingat betul dengan ekspresi wajah laki-laki itu. Begitu memaksa dengan aura tekanan dari setiap kata-kata yang dikeluarkannya. Ia bahkan sedikit terkejut saat sebuah lembaran cek melayang kearah Naraku, meski 'bos'nya itu tak sekalipun mengambil cek yang jatuh di dekat kakinya.
Bahkan sampai laki-laki itu pergi, Naraku seakan tak menganggap cek itu hingga ia sendiri yang mengambilnya dan meletakan lembar cek itu dimeja samping tempat tidurnya. Setelah itu ia diperintahkan untuk membiarkan Inuyasha istirahat hingga enam jam dan membangunkannya jika waktu enam jam itu sudah lewat.
Gadis itu menghentikan lamunannya saat mendengar geraman kesal dari pemuda di sampingnya. Ia melihat Inuyasha yang membangunkan tubuhnya hingga duduk dan menyebabkan kimono merah yang menutupi tubuhnya tersingkap hingga pinggangnya. Menampilkan tubuh bagian atasnya yang terlihat begitu mengkilap karena sisa-sisa cairannya sendiri juga tak lupa dengan beberapa kissmark disekitar lehernya –tidak. Tapi dihampir seluruh tubuhnya. Kagome mengalihkan pandangannya keluar saat melihat pemuda itu menarik kimono merah yang menutupi bagian pinggang ke bawah dan memakainya ditubuhnya.
"Antar aku pada Naraku." Ucap Inuyasha, suaranya yang serak memaksanya untuk meneguk ludahnya beberapa kali. Ia membawa tubuhnya untuk berdiri namun ia langsung menghentikan gerakannya saat rasa pegal dan perih dibagian pinggulnya begitu terasa. Ia berdecak dan meremas pelan pinggangnya.
"Sebaiknya ku antar kau ke kamar, Inuyasha." Kagome memberikan pandangan memaksa saat Inuyasha terlihat bersiap mengucapkan protes. Wanita itu tersenyum melihat anggukan kecil Inuyasha dan membantu pamuda itu untuk berdiri.
Kagome terus berjalan di samping Inuyasha, memapah pemuda itu disepanjang jalan berlantaikan kayu di rumah bergaya tradisional jepang yang baru saja mereka lewati. Ia sedikit kesulitan saat menuruni tangga rumah itu dan beralih pada gedung besar bercat putih gading yang berada persis di samping rumah itu. Ia berhenti berjalan saat dua orang laki-laki bertubuh besar mendekatinya dan mengambil alih untuk menolong Inuyasha berjalan. Nampak sekali pemuda bersurai putih itu menolak keras saat kedua orang itu menawarinya untuk digendong dan memilih untuk berjalan. Meski tetap butuh bantuan.
Begitulah Inuyasha. Inuyasha yang ia kenal delapan tahun lalu. Sosok yang untuk pertama kalinya ia lihat saat Naraku –bosnya sekarang- membawa pemuda itu ke tempat ini. Menjadikannya bagian dari orang-orang menjijikan. Sekedar sampah masyarakat yang terpinggirkan.
Sampah, namun tetap dibutuhkan oleh kalangan-kalangan atas. Sebagai pemuas hasrat, sebagai pelampiasan dari kebutuhan orang-orang yang tak pernah melihat mereka sebagai manusia yang sederajat.
Kagome menghela napasnya. Tidak akan ada habisnya kalau ia teruskan pemikirannya barusan. Terlalu memikirkan nasib itu tidak bagus juga untuk dirinya sendiri.
"Kagome chan?" Gadis berambut panjang itu menoleh ke belakang saat mendengar namanya dipanggil, ia membungkuk saat melihat orang yang sudah memanggilnya.
"Sudah kau bangunkan Inuyasha?" Pertanyaan itu datang dari seorang pemuda yang tengah berjalan mendekati gadis di depannya. Ia berhenti di samping gadis itu dan menyerahkan semacam bingkisan kecil berwarna merah transparan pada gadis itu.
"Sudah. Inuyasha baru saja masuk ke kamarnya." Jawab Kagome. Mata gadis itu melirik kecil bingkisan ditangannya. Pandangannya menyiratkan kekaguman pada sesuatu yang terlihat dari dalam bingkisan itu. "Kau suka?" Kagome mendongak, menatap laki-laki yang tengah tersenyum ramah padanya.
"Maksud Naraku san?" Ia bertanya balik dengan pandangan tidak mengerti.
Naraku tersenyum dan melirik sesuatu yang ada ditangan gadis itu, "Ambil saja. Aku bosan terus diberi hal macam itu. Ah~ walau bagaimana pun aku ini laki-laki. Bukan perempuan penyuka perhiasan macam begitu." Ucapnya.
Kagome langsung mengembalikan bingkisan kecil ditangannya pada Naraku, ia mengeleng kuat dan menunduk dalam. "Sa –saya rasa saya tidak pantas untuk menerimanya Naraku san!" Ucapnya cepat.
Naraku terkekeh pelan melihat reaksi gadis di depannya itu. "Kalau begitu kubuang saja." Ucap Naraku, tangannya bersiap untuk membuang bingkisan ditangannya sebelum kemudian itu terkekeh saat melihat wajah terkejut gadis di depannya. "Ambillah, kau sudah bekerja keras hari ini." Ia tersenyum dan kembali memberikan bingkisan itu pada Kagome.
"Ini sudah siang, sebaiknya kau pulang sebelum Shota mencarimu karena terlambat pulang." Kagome tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk dan tersenyum kecil sebagai ucapan terima kasihnya.
.
Senyum dibibir merah Naraku memudar saat Kagome tak lagi berada dihadapannya. Menggantikan ekspresi penuh keramahannya dengan raut datar tak terbaca sebelum kembali tersenyum tipis saat merasakan tatapan tajam dari arah belakangnya.
"Bukankah ini terlalu cepat, Sesshomaru kun?" Tubuhnya berbalik, menghadapkan dirinya pada seseorang yang berdiri tegak tak lebih dari tiga meter darinya. Seorang pemuda dengan jas hitamnya yang begitu pas dipakainya. Naraku membalas tatapan tajam dari balik kacamata hitam yang digunakan pemuda itu dengan ramah.
"Dan ini masih terlalu pagi." Ucap Naraku lagi.
Tangan berbalut jas hitam itu bergerak melepas kacamata hitam yang membingkai manik coklat keemasannya, memberikan pemandangan indah dari netra yang bersinar tak kalah indahnya saat terkena cahaya matahari. "Dimana dia."
Jemari kokoh Naraku menyentuh sisian wajahnya sendiri kemudian tersenyum menatap sosok sempurna dihadapannya. "Mungkin kau belum tahu, tapi dia tidak akan menerima orang yang sama. Siapapun itu." Ucap Naraku.
"Kecuali aku." Naraku tersenyum lebih lebar saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut orang dihadapannya. "Dimana dia."
"Kagura." Seorang wanita cantik langsung menghadap Naraku, "Panggil Inuyasha kemari." Ucapnya yang disertai anggukan dari wanita itu. Tak lupa dengan senyum nakal yang ia tunjukan pada sosok tampan Sesshomaru.
.
.
Ini menjengkelkan, sungguh menyebalkan saat dirinya harus bersusah payah hanya untuk berjalan keluar dari kamar mandi. Masuk saja Inuyasha harus berjalan dengan kaki tertatih dan berpegangan pada dinding dan sekarang, setelah ia selesai membersihkan dirinya dari sisa-sisa laki-laki brengsek itu. Ia harus kembali bersusah payah untuk keluar dari kamar mandi. Shit! Apa mau dikata, bagian pinggang dan selangkangannya seakan remuk saat ini. Nyeri juga ngilu setiap kali ia menggerakan kakinya untuk berjalan.
"Orang itu..." Ia menggeram, langsung menghempaskan tubuhnya pada bahan empuk tempat tidurnya. Ia butuh lebih banyak istirahat, juga beberapa jam lagi untuk menghilangkan tanda terkutuk yang dibuat orang itu. Ia mengumpat saat menatap seluruh tubuhnya dicermin, melihat begitu banyak kissmark yang bertebaran ditubuhnya. Leher, dada, perut, punggung, bahkan juga dipahanya dan mandi dengan air es itu bukan pilihan bagus dipagi hari. 'Orang-orang itu sudah gila!'
Cklek!
Inuyasha melirik pintu kamarnya yang terbuka.
"Hei bocah, ada yang mencarimu."
"Yang lain saja. Aku lelah." Jawab Inuyasha –mengernyit saat suaranya masih terdengar serak, ia mengibaskan tangannya dan mulai terpejam. Tak mengindahkan lagi wanita cantik dengan pakaian minimnya yang masih berdiri di depan pintunya.
"Cih! Kau bersikap seperti harga dirimu itu selangit." Ucap Kagura kesal. "Kenapa orang sepertimu bisa sangat diinginkan diranjang, sikapmu saja liar!" Inuyasha tak mendengarkan.
Kagura menggeram dan berjalan cepat mendekati Inuyasha, "Dengarkan saat aku bicara padamu!" Ia menarik tangan Inuyasha hingga membuat tubuh terbaring itu terbangun.
Inuyasha tersenyum dan melirik pergelangan tangannya yang dicengkram cukup kuat. "Kau tahu, menyakitiku sama dengan kehilangan jatahmu." Manik merah itu menatap penuh kekesalan pada Inuyasha sebelum melepaskan tangan dalam cengkramannya.
"Aku tidak dalam mood untuk berurusan denganmu. Tuan tampanmu semalam ingin bertemu denganmu. Dia ada di bawah." Ucap Kagura, ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi Inuyasha.
Mata Inuyasha mengerjap. Di bawah? Tuannya yang semalam? 'Hah?' "Tunggu, apa maksudmu tuanku semalam ada di bawah?" Tanya Inuyasha.
Kagura menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Aku tidak tahu kau itu tuli." Ucapnya dan kembali berjalan.
Inuyasha berdecih mendengar nada sinis wanita itu, wanita yang hanya punya tubuh moleknya untuk dijual. Tapi –tuannya semalam itu, bukankah laki-laki itu?
'Ah!' Lengkungan bibir tipis diwajahnya menambah kesan manis paras Inuyasha. "Aku tahu cara membuatmu 'tersenyum lebar' Naraku."
.
.
.
.
.
Terkejut, orang-orang yang tengah dengan santainya berlalu lalang dan melakukan aktivitas lain diruangan besar itu terkejut saat melihat seseorang melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga.
Tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi jika kesempurnaan itu memang tidak ada. Lantas apa yang mereka lihat saat ini. Seorang pemuda bersurai putih panjang yang dibiarkan tergerai menutupi punggung semampai yang terbalut oleh kaos putih tipis berlengan panjang dengan kerah yang mengekspose leher jenjang dan bahunya. Terkesan feminim, namun lebih santai dengan celana levis selutut yang dikenakannya.
Inuyasha tersenyum saat dalam lingkupan matanya ia melihat Naraku yang menatapnya dengan sedikit kerutan didahi, juga seseorang yang nampak berdiri tegak tak jauh dari Naraku. Pandangan tajam dan wajah minim ekspresi yang cukup ia ingat digelapnya ruangan saat itu.
"Selamat pagi." Sapaan itu terdengar bersamaan dengan kaki berbalut sendal rumahannya yang selesai menapaki anak tangga terakhir. Menambah kesunyian pada ruangan besar yang mendapatkan suguhan tak biasa dari seseorang yang kini nampak tersenyum manis pada mereka.
Manik Inuyasha menatap sosok Naraku yang masih berdiri di tengah ruangan, "Ada yang kau butuhkan dariku Naraku san?" Tanya Inuyasha, kakinya berjalan mendekati Si pemilik nama. Dalam hati, Inuyasha ingin sekali bersorak ria melihat tatapan terkejut yang tak bisa ditutupi Naraku.
Naraku terdiam, pemuda yang kini berdiri di sampingnya ini sudah berhasil membuatnya bungkam untuk beberapa saat. Aneh, dan mengejutkan. Inuyasha tidak pernah akan bersikap 'manis' diluar jam kerjanya. Apalagi jika mendengar mantan Tuannya yang kembali menginginkan untuk ditemani. Tidak seperti sekarang, memberinya senyum manis dengan pakaian santainya. Bibir Naraku tersenyum kecil, "Ara, kau rapi sekali Inuyasha kun." Ia membuka kipas ditangannya hingga menutupi sebagian dari wajahnya.
"Aku tahu apa jawabanmu, tapi di sini ada yang bersikeras ingin bertemu denganmu." Ia berbalik dan menatap sosok yang berdiri tak jauh darinya –menolak, itu yang ia pikirkan. "Sesshomaru sama ingin ditemani lagi olehmu, apa kau bersedia?" Tanya Naraku.
"Sepertinya dia senang dengan pelayananmu semalam."
Senyum itu tak terputus, masih dengan senantiasanya berada pada bibir tipis Inuyasha saat langkah kakinya terus berjalan mendekati pemuda bersurai putih perak dihadapannya. Ia sedikit mendongak untuk menatap langsung manik keemasan yang sama seperti ingatannya –tajam.
Sebuah tangan terangkat dan menyentuh sisian wajah Inuyasha, memberikan belaian lembut pada pipi putih yang ternyata lebih halus dari perkiraannya. Manik coklat keemasannya bergerak, menelusuri setiap garis lekuk dari wajah cantik di depannya. Lalu tangan itu turun, mengikuti lekukan indah dari dagu hingga leher jenjang yang begitu halus menyentuh kulit tangannya sebelum berhenti pada sebuah titik merah yang begitu mencolok di tengah warna putih kulit sang pemuda.
"Memperhatikan hasil karyamu, Tuan?" Pertanyaan itu mengalihkan pandangan Sesshomaru kembali pada coklat madu yang terbingkai oleh garis mata Inuyasha. Ia kembali tersenyum saat tangan itu bergerak ke belakang lehernya, juga dengan tubuh laki-laki itu yang sedikit membungkuk kearahnya.
"Sudah kubilang," Inuyasha sedikit tersentak merasakan hembusan hangat dari nada dingin dikulit lehernya, "Jangan tunjukan wajah palsumu dihadapanku."
Tubuh Inuyasha sedikit gemetar saat sapuan lembut dari bibir Sesshomaru menyentuh kulitnya. 'Shit!' Ia meruntuki dirinya sendiri karena reaksi tubuhnya yang tak ia inginkan. Harusnya ia yang menggoda laki-laki ini. Bukan malah sebaliknya!
Sesshomaru tersenyum tipis diantara sapuan bibirnya pada bahu Inuyasha, "Tubuhmu masih mengingat apa yang kita lakukan semalam."
Inuyasha terdiam. Tidak, ia tidak membiarkan begitu saja laki-laki dihadapannya ini menyentuhnya. Tapi, tubuhnya sekarang tak menuruti apa yang diperintakan otaknya. Apalagi dengan tambahan jika ia juga mengakui tubuhnya belumlah lupa akan sentuhan pemuda itu.
"Kalau begitu, kau juga seharusnya tahu satu hal." Tangan Inuyasha menarik kencang dasi biru yang dipakai Sesshomaru, "Aku. tidak. suka. disentuh. diluar. jam. kepemilikanku." Lanjut Inuyasha dengan tekanan penuh dalam ucapannya.
Tubuh yang begitu dekat, dengan wajah sang pemilik surai putih keperakan yang terbenam disisian leher Inuyasha membuat beberapa orang yang melihat hal itu hanya bisa terdiam mematung dengan wajah yang bersemu merah. Berpikir jika kedua orang yang tengah dalam posisi tak biasa itu terlihat begitu mengumbar kemesraannya.
"Tubuhmu menunjukan sebaliknya." Bisikan hangat ia menambah kedutan kesal didahi Inuyasha. "Sebenarnya apa maumu, Tuan?" Tanya Inuyasha serendah mungkin, menunjukan jika ia tak suka pada apa yang dilakukan orang didepannya itu.
"Kau."
Ctik!
"Aku benci kau." Bisik Inuyasha. Ia memicingkan matanya, menatap iris keemasan Sesshomaru dengan sinis. Berbanding terbalik dengan Sesshomaru yang terlihat tenang dengan setiap perubahan sikap yang ditunjukan oleh pemuda manis itu.
"Naraku san." Inuyasha menoleh ke belakang, "Boleh kugunakan ruangan 'itu'?" Tanyanya pada Naraku.
Kipas yang senantiasa menutup sebagian wajah Naraku kembali dilipatnya, memperlihatkan senyum simpul pada bibir berlapis perona merah Naraku. "Jika kau menginginkannya Inuyasha kun." Ucapan itu disertai dengan sebelah tangannya yang mengambil sebuah kunci berwarna silver dari balik kimononya.
Inuyasha mendorong kecil tubuh Sesshomaru dan berbalik, berjalan mendekati Naraku dan mengambil alih kunci kecil ditangan laki-laki bersurai hitam itu. "Anda ikut Tuan?" Tanyanya dengan lirikan kecil dan sebuah senyum manis dibibirnya. Tersenyum, tapi bukan karena pemuda bersurai putih keperakan yang tengah menatapnya dengan datar itu. Inuyasha tersenyum karena melihat ekspresi terkejut yang sejak tadi ditutupi Naraku dengan senyum diwajahnya.
Tak ada gerakan bibir untuk pertanyaan yang jelas ditujukan Sang pemuda manis itu padanya. Pemilik iris coklat keemasan itu berjalan tegap mengikuti Inuyasha yang kini tengah melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Tidak berbalik karena Inuyasha yakin jika Tuan'nya' cukup mengerti dengan satu kalimat tanya yang tadi ia lontarkan.
Lirikan kecil dari mata Inuyasha mengarah pada deretan sofa yang diduduki oleh beberapa 'penghibur' wanita berpakaian minim yang mulai berbisik-bisik setelah kaki itu menjejak di lantai dua ruangan itu. Dari sudut matanya, ia sangat tahu jika topik pembicaraan yang membuat mereka ramai adalah pasti dirinya. –Mungkin tidak sepenuhnya karena dirinya, mengingat laki-laki yang berjalan dua langkah di belakangnya juga ikut andil.
.
.
"Sekarang." Inuyasha menghentikan langkahnya, "Untuk apa kau kembali!" Tubuhnya berbalik dengan sebuah telunjuk yang sudah mengacung tepat di depan wajah laki-laki bersurai putih keperakan dihadapannya.
"Heh." Inuyasha mendengus mengejek, "Jangan katakan kau tidak tahu jika aku tidak pernah melayani satu orang brengsek dua kali!" Inuyasha mendongakan sediikit wajahnya, tak lupa dengan raut muka tak suka yang ia tunjukan.
Namun bukannya sikap yang ia tunjukan itu membuat kesal atau marah laki-laki di depannya, laki-laki itu malah melangkahkan kakinya mendekati Inuyasha. Membuat Inuyasha harus menekuk tangannya meski jari telunjuknya masih menunjuk wajah pemuda itu.
"He –hei!" Inuyasha memundurkan langkahnya cepat dan kembali meluruskan tangannya. "Jangan mendekat!" Ucapnya galak. Mata coklat madunya memicing, mempertajam garis matanya hingga terlihat menyipit.
Sesshomaru memandang datar wajah serta semua sikap yang ditunjukan Inuyasha padanya. Tak benar-benar mendengarkan apa yang diucapkan pemuda manis itu. Ia lebih tertarik pada visualisasi yang tertangkap oleh matanya. Satu langkah, dan ia membawa dirinya mendekat. Membuat sedikitnya tatapan terkejut dari pemuda itu karena ia menangkap tangan yang sejak tadi mengambang di depan wajahnya. Memerangkap tangan itu diantara genggaman jari jemarinya.
Inuyasha mengerjap, rasa lembut yang melingkupi bibirnya juga rasa –ceri? Baiklah, yang benar saja! Pemuda ini memakai pemanis rasa ceri untuk bibirnya?! –Tunggu! Bukan itu masalahnya! Laki-laki ini seenak jidat sedang menciumnya. Menciumnya. Mencium –
"Kau terlalu berisik." Urat kedutan kesal didahi Inuyasha seakan bersiap untuk pecah mendengar tiga kata menyebalkan itu.
"Bukan berarti kau boleh menciumku Tuan brengsek –Hei! Kembalikan kuncinya!" Protesan itu terdengar saat kunci yang ada dalam genggamannya sudah beralih pada tangan putih yang teracung tinggi.
"Kau yang mengajakku. Sekarang tunjukan dimana ruangan 'itu' yang kau maksud." Inuyasha berusaha meraih kunci ditangan laki-laki itu dengan kaki yang berjinjit dan meloncat namun kemudian berhenti karena merasa percuma, baginya sangat jauh sekali untuk dicapai tangannya yang menggenggam kunci kecil berwarna silver. Ia meruntuki tinggi tubuhnya yang di bawah rata-rata anak berusia tujuh belas tahun.
"Ho... sebegitu tertarik kah kau padaku, Tuan?" Raut wajah itu lagi-lagi menunjukan ekspresi mengejeknya. "Kau ..." Inuyasha menyentuh sisian wajahnya, terus menuruni lekukan leher dan elusan terakhir pada tulang belikatnya. "Menyukai tubuhku?"
-Grep!
"Eh –mmh!" Tangan yang ditarik, tubuh yang tentu saja mengikuti kemana tarikan itu membawanya, menubruk dada bidang yang terbalut oleh jas hitam dan terakhir, Inuyasha merasakan bibirnya yang dilumat kembali oleh pemuda itu. Lebih lama, dan melibatkan daging lentur yang dengan mudahnya menerobos masuk dalam mulutnya. Dan tentu sial bagi Inuyasha, laki-laki di depan –err yang memeluknya ini adalah seorang goodkisser.
Sebelah tangan Inuyasha terlihat mencengkram erat bagian punggung dari jas hitam yang digunakan Sesshomaru. Ia butuh bernapas, tetapi nampaknya laki-laki ini masih belum memberikannya ruang untuknya meraup sedikit oksigen. Lidah yang terasa sedikit kasar terus saja menyapu seluruh ruang dalam mulutnya. Terkadang menggelitik langit-langit rongga mulutnya hingga erangan –yang seharusnya protesan- Inuyasha terdengar berkali-kali karenanya.
Dan ... entah untuk keberapa menitnya ciuman itu pun berakhir dengan Inuyasha yang langsung mengambil sebanyak-banyaknya oksigen disekitarnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena napas yang tertahan cukup lama juga diperparah dengan kakinya yang sejak tadi terus gemetaran. Tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya jika saja tangan yang melingkar erat dipinggangnya tidak menahan dirinya.
" –ngh!" Satu lenguhan lolos dari belahan bibir Inuyasha, ia kembali mencengkram jas Sesshomaru, mencoba untuk menahan suaranya saat hisapan-hisapan kecil pada perpotongan bahu dan lehernya terus saja merangsang birahinya.
Inuyasha tak mendengar suara lain selain suaranya, mendesah dan malahan semakin keras saja setiap kali bibir lembut pemilik surai keperakan itu menyentuh kulit tubuhnya. Sentuhan yang seakan memberikan sengatan-sengatan kecil yang terus berulang dan menjalar menuju selangkangannya. "Ahhh... "
"Tuan, tuan." Sapuan bibir Sesshomaru berhenti saat telinganya mendengar suara yang memanggil dan tarikan kecil pada bagian belakang jasnya. Ia menegakan kembali kepalanya, melihat wajah pemuda manis dipelukannya sudah berubah semu dengan mata yang sayu sebelum menoleh ke belakang. Menemukan seorang gadis kecil dengan mata coklat kehitamannya yang telah menginterupsi kegiatannya. Menatap dirinya dengan pandangan polos.
"Di sini punya peraturan." Gadis itu menunjuk sesuatu ditangan Naraku. "Jangan melakukannya di luar kamar. Jadi bisa berikan kunci itu pada Rin?" Tatapan polos itu mengarah langsung pada manik coklat keemasan miliknya.
Sesshomaru melirik pemuda dalam dekapannya sejenak –yang menatapnya penuh kekesalan- dan menatap kembali gadis itu. Ia menyerahkan kunci ditangannya dan mengikuti langkah kaki sang gadis yang berjalan mendahuluinya. Namun ia berhenti dan kembali melihat Inuyasha, sepertinya pemuda ini tidak kuat untuk berjalan.
Ia mengubah sedikit posisi tangannya kepunggung pemuda itu dan menunduk. Mengangkat tubuh itu dengan kedua tangannya.
"He –apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" Inuyasha berdecak saat tatapan pemuda itu malah menatapnya dengan datar. "Aku tidak pernah setuju untuk melayanimu! Hei! Rin, kembalikan kunci itu padaku!" Inuyasha meronta dan mencoba menggapai gadis kecil yang masih setia berjalan di depannya. Lebih tepatnya tidak mengindahkan dirinya.
"Ini kamarnya." Tangan gadis kecil itu mengarahkan kunci ditangannya pada lubang kecil di bawah kenop pintu. –klik! "Silahkan tuan." Ucapnya seraya membuka pintu coklat di depannya.
"Rin!" Teriakan Inuyasha membuat gadis kecil itu menatapnya. "Aku tidak bilang akan melayani laki-laki ini!" Tunjuk Inuyasha pada orang yang masih setia menggendongnya.
Gadis kecil itu merengut, "Nii chan kan yang bilang sendiri. Tou san juga bilang Nii chan sudah setuju." Ucap gadis itu.
"Aku tidak pernah bilang iya! Dan jangan panggil pria itu Tou san! Dia bukan ayahmu!"
"Tapi aku tinggal di rumahnya tahu!" Balas gadis itu tak kalah sengit.
"Anak kecil menyebalkan! Hei Tuan! Sampai kapan kau mau menggendongku! Cepat turu –UWAA!"
Sesshomaru menatap gadis kecil di depan pintu ruangan yang baru saja ia masuki sebelum menutup pintu itu –setelah mengambil kunci yang masih tertanam pada pintu- dan berbalik. Menatap seseorang yang beberapa saat lalu ia lempar –benar-benar dilemparnya- ke dalam ruangan, meringis dan mengelus-elus pantatnya yang berciuman mulus dengan lantai berlapis karpet merah ruangan itu.
"Ugh... KAU!" Inuyasha membiarkan tubuhnya terbaring miring dengan tangan yang masih mengelus pantatnya. "Seenaknya saja melemparku! Kau pikir ini tidak sakit apa! Aku ini manusia! Bukan batu, baka!" Kesal Inuyasha. Pemuda itu masih menggerutu kecil tanpa tahu jika laki-laki yang ia teriaki itu mengunci pintu di belakangnya dan berjalan mendekatinya.
"Kau itu –Hei! Turunkan aku! Kenapa kau malah menggendongku lagi!" Dan, -brugh! Inuyasha kembali dilempar.
"Sekarang kau tidak akan protes lagi kan?"
Ctik!
Kedutan kesal langsung hinggap didahi Inuyasha. "KAU ITU BERPURA-PURA BODOH ATAU MEMANG BODOH SIH?!" Teriak Inuyasha frustasi, ia melempar bantal yang berada di atas tempat tidur tepat kewajah laki-laki yang berdiri di sisi tempat tidur itu.
Inuyasha's POV
Aku tidak tahu dan aku tidak mengerti. Aku tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, maksudku –tidak pada orang asing yang pernah menikmati tubuhku. Bukan sikap kasarku, tapi entah kenapa aku selalu merasa kesal. Kesal pada semua kelakuan pria asing dihadapanku ini.
-Dan yang paling aku tidak mengerti adalah, bagaimana bisa diriku bersedia untuk melayani orang ini untuk kedua kalinya. Ini main-main, awalnya begitu. Rencanaku, membuat orang yang selalu mengumbar senyum menjijikan itu punya ekspresi lain diwajahnya.
Sekarang, aku malah terjebak dengan Tuan sialan macam ini. Di kamar yang jelas bukan pilihan bagus untuk hanya aku dan dia berada di dalamnya.
Aku menatap tajam laki-laki itu saat sebelah kakinya terlihat menaiki tempat tidur dengan satu tangannya yang melonggarkan dasi biru miliknya. Terlebih saat ia menunduk dan tangannya yang lain bertumpu disebelah kepalaku. "Waktuku tidak banyak untuk menemanimu mengobrol."
Hah? Apa dia bilang? Siapa juga yang mau mengobrol dengannya. Aku bicara karena dia saja sudah membuatku kesal. Dengan satu tanganku didadanya aku menahan pergerakan laki-laki itu. "Dan kau punya waktu untuk melampiaskan nafsumu?" Kulihat ia tersenyum tipis dan membawa wajahnya lebih dekat padaku. Hembusan napasnya yang hangat menggelitik kulit wajahku.
"Jadi kau ingin aku melayanimu, Tuan?"
"Kau akan melayaniku." Alisku berkerut mendengar nada datar tanpa celah itu. Che! Orang ini sedikit pemaksa. "Bagaimana jika aku tidak mau?" Tanyaku lagi. Aku terdiam saat ia menyatukan bibir kami dan menjilat bibirku sebelum melepaskannya.
"Kau harus." Ah... ia menjilat bibirku lagi, hingga kurasakan gigitan-gigitan kecilnya dibibir bawahku. Kupalingkan wajahku, memutus ciuman sepihak yang dilakukannya dan menggunakan tanganku untuk menutup bibirnya yang akan kembali menciumku.
"Kau pemaksa, Tuan." Mataku menyipit saat ia memasukan satu jariku ke dalam mulutnya, tubuhku gemetar tanpa bisa kutahan merasakan jilatan yang dilakukannya. "Dua kali lipat, sebagai bayarannya." Ucapku seperti bisikan karena menahan getaran pada suaraku.
Tangan itu menangkup tanganku dan menahannya di atas tempat tidur. Aku merasakan tekanan yang kuat pada pergelanganku karena dia menggantikan tumpuan sebelah tangannya yang lain.
Laki-laki ini kembali mencium bibirku namun terasa lebih memaksa dengan bibir bawahku yang ditarik dan ia menggigit bibirku keras. Tanganku mengepal dikedua sisi tubuhku. Pemaksa, dan kasar. Laki-laki ini punya sifat yang dominan sekali.
Bibirku terbuka perlahan, memberinya ruang untuk daging dipenuhi otot-otot lentur miliknya memasuki mulutku. Menggelitik setiap sisi di dalam mulutku. Baiklah, aku akan melayani dia.
Lidahku menyentuh miliknya yang langsung memberi respon dengan lumatan keras pada bibirku. Meliuk, saling menyentuhkan tekstur kasar itu dan mendorong, memberikan perlawanan yang membuat permainan ini semakin panas.
"Nnhh..." Satu desahan lolos dariku, menyatakan kekalahan yang tersirat saat lidahku ditarik keluar dengan keras, laki-laki itu melumat lidahku. Aku menggeram, memberi protesku saat dia menggigit pinggiran lidahku. Aku yakin lidahku terluka karena saat ini terasa sakit sekali.
Entahlah sudah berapa menit berlalu dari saat ia memulai ciuman ini, yang jelas saat ini aku kesulitan untuk bernapas. Bagaimana aku bisa bernapas saat mulut lain menghalangi mulutku dan hidungku tak bisa diharapkan untuk memasok udara karena tertutup oleh wajah orang yang tengah sangat menikmati cumbuan ini.
Aku mengerang dan bergerak dengan gelisah. Aku butuh bernapas, tapi rasanya gerakan tubuhku itu justru malah membuatnya semakin ganas menciumku. "Ngh...!" Dan tubuhku menikmatinya.
Sangat lama sampai laki-laki ini melepaskan ciumannya. Aku terengah-engah, terbatuk dan memukul dadaku dengan sedikit keras. Lelehan saliva terlihat menetes dari belahan bibirku dan membasahi selimut yang menjadi alasku.
Satu tanganku menahan dadanya saat dia terlihat ingin menciumku lagi. "Jangan sampai aku mati sebelum memuaskanmu Tuan." Aku tersenyum dengan kedutan yang tetap bersarang didahiku.
"Sesshomaru."
"Ap –"
"Panggil aku Sesshomaru."
Aku terdiam dan menghela napasku, mataku menatap malas dirinya. "Aku tidak perlu memanggil atau mengingat nama laki-laki yang cuma memuaskan nafsu sesaatnya padaku." Ucapku dengan tangan yang kembali kutarik.
"Sekarang, jangan buat moodku turun dan lanjutkan Tuan."
Kulihat ia terdiam setelah mendengar ucapanku. Aku menaikan sebelah alisku saat dia beranjak dari tempat tidur. Aku membangunkan tubuhku hingga duduk dan menatapnya yang mengeluarkan ponsel dari kantung celananya.
"Aku akan terlambat."
"Pindahkan saja nanti sore."
Aku menyilangkan tanganku di depan dada, aku tidak suka menunggu saat bagian bawahku sudah mengeras. Mataku menangkap gerakan tangannya yang menjauhkan ponsel hitam itu dari telinganya dan menaruhnya di atas laci dekat tempat tidur. Ia berbalik dan menatapku, pandangan datar itu lagi.
Tangannya menyentuh sisian wajahku, mengelusnya lembut lalu turun menyusuri leherku. Ia menunduk dan mulai mencium bibirku.
KRES..
Aku mengerang keras saat pemuda itu menggigit bibirku. Aku mendorong kuat pemuda itu namun tangan yang kini berada dibahuku membawaku kembali terbaring ditempat tidur.
Jilatan pada bibirku semakin intens dengan tangannya yang menurunkan bajuku hingga hampir terlepas dari tanganku. Napasku memburu saat dia beralih untuk menciumi leherku. Melenguh saat sapuan lembutnya turun hingga dadaku dan menjilat kecil putingku yang nampak mengeras. Aku menatapnya dengan mata setengah terbuka, ia terlihat berhenti sejenak dan menatap dadaku. Mungkin memperhatikan banyaknya tanda yang dibuatnya semalam di sana.
"Nnnh..." Tubuhku meremang saat jemarinya mengelus dada dan perutku. Memberiku rasa ngilu saat jari itu semakin turun ke bawah, wajahku semakin memanas saat tangan itu mengelus tepat diantara kakiku. "Ha –mmmh..." Aku menggigit bibirku, membuat luka yang ada dibibirku kembali terbuka dan mengalirkan setitik darah yang mengalir disudut bibirku.
Aku melenguh saat jemari itu menyentuh kejantananku. Aku melihat dia tersenyum tipis merasakan kejantananku yang sudah menegang. Aku tahu apa yang ada dipikirannya.
Ia kembali mendekatkan wajahnya, menjilat aliran darah disudut bibirku dan menciumku lebih dalam, kali ini menuntutku untuk menurut. Laki-laki ini benar-benar menunjukan pihak dominannya terhadapku.
"Mmmmh... Tu –mmm... anhh..." Aku berusaha memanggilnya, namun sepertinya ia sedang tak ingin diganggu dengan kegiatannya melumat bibirku –saat ini sih menariknya.
Kocokan tangannya di bawah sana membuatku kembali mengerang panjang. Ia mengocoknya kencang dengan tangan yang menggenggam kejantananku erat. Saking eratnya hingga kuyakin saat ini kejantananku itu sudah memerah dan lecet.
Aku membawa tanganku untuk mengelus sesuatu yang masih terbungkus oleh tebalnya kain. Laki-laki itu mengerang atas perlakuanku, kenikmatan memang tidak bisa ditahan. Siapapun dirimu.
Tanganku bergerak lebih aktif dengan menurunkan resleting celananya, membelai rambut-rambut halus yang tumbuh di sana sebelum menyentuh kulit tipis yang membalut daging dipenuhi otot-otot berkedut di sana. Telingaku kembali mnendengar erangannya di tengah desahanku yang tak terputus.
Ia melepaskan ciumannya dan menarik napasnya dalam, mungkin berusaha untuk mengendalikan dirinya. Namun tak lama ia menatapku dan menyunggingkan senyum. "Kau cukup berani padaku."
Selanjutnya, aku berteriak tertahan saat merasakan gigitan keras pada bahuku. Tubuhku gemetaran merasakan deretan gigi itu menancap dikulitku. Aku mencoba untuk bernapas dengan benar, menetralisir rasa kebal dan sakit yang menyerang bahuku. Laki-laki ini, apa dia vampire sampai menggigitku segala?!
Aku yakin luka dibahuku tidak akan sembuh atau hilang untuk beberapa hari ke depan. Sangat tidak menguntungkan karena Naraku pasti akan berbuat sesuatu pada tubuhku agar luka itu cepat hilang. Atau malah memaksaku untuk memakan obat-obatan itu lagi.
Aku mengerang keras, "Ka –kau! Jangan menggigitku nnh... –kau akan hah.. membuatku terkena masalah..."
Tapi senyum itu malah melebar setelah ucapan yang kukatakan barusan. Glup. Aku merasakan hal yang buruk yang sebentar lagi akan menimpaku. Dan –yah... hal buruk memang menimpaku dengan satu gigitan lain dibahuku. Kami sama...
"AAAARGH!" Ini sakit sekali. Ia menggigit bahuku dengan –lebih keras. Aku mengerang dan mendorong, memukul dadanya agar ia melepaskan gigitannya pada bahuku. Ada apa dengan laki-laki ini? Apa dia orang yang suka melukai 'pasangan'nya saat melakukan sex? Semacam masocist?
Aku meringis pelan saat luka ia menjilat luka yang dibuatnya. Aku bisa mendengar setiap tegukan yang ia lakukan saat menghisap darah yang keluar dari luka itu. Laki-laki ini tidak waras. "Thh.. –ahh..." Tanganku meremas jasnya dengan kencang hingga kemeja dalamnya pun ikut tertarik olehku. Membuat beberapa kancing kemeja itu terlepas dari tempatnya.
"Kau manis." Tubuhku bergidik saat dia mencium daerah depan leherku. Mengecup tepat dimana tonjolan jakunku berada. Laki-laki ini gila, manis dari mananya. Dimana-mana darah itu rasanya amis, bukan manis!
"MMM –NGAAH!"Aku hampir melupakan kejantananku yang masih dimainkan olehnya, hingga tanpa kusadari cairan putih sudah menyembur keluar dari lubang kecil di sana.
Napasku semakin memburu, bahuku sakit, perih dan sekarang tubuhku lemas sekali setelah mengeluarkan hasratku. Namun tampaknya laki-laki ini tak mau memberiku jeda, aku merasakan analku yang diterobos sesuatu. Aku mencengkram kemeja miliknya semakin kuat dan menggigit bahu yang terekspose miliknya. Dalam hati aku tertawa mendengar ringisan dari laki-laki itu. Rasakan bagaimana sakitnya digigit itu TUAN.
Tawa dalam hatiku hanya bertahan sejenak karena tak lama kemudian sesuatu yang menerobos analku itu bergerak lebih dalam. Perih. Seberapa besar penis orang ini sebenarnya!
"AAH!" Gigitanku terlepaskan gigitanku dan mendongak.
"Kau sangat nakal Inuyasha." Aku meliriknya dengan mata yang menahan sakit. Melihat tatapan itu seperti berkilat dan berubah semakin gelap. Aku merasakan tekanan pada bibirku yang ternyata adalah ibu jarinya. Jari itu menghapus sedikit darah yang menempel dibibirku dan menjilatnya. Ia kembali memberiku ciuman kasar. Menarik bibirku dan mengulumnya dengan kencang sementara gerakannya di bagian tengah tubuhku semakin kencang,
Kakiku terangkat tinggi saat laki-laki itu menahan kedua pahaku, masing-masing dari kaki itu hampir bersejajar dengan kepalaku. Dan ia kembali menghujamiku dengan kejantanannya.
kakiku yang mengangkang membuatnya lebih mudah untuk mendorong jauh ujung dari kejantanannya. Aku mendesah keras saat titik terdalamku tersentuh dengan tidak pelannya. Erangan nikmat itu langsung berkali-kali keluar dari mulutku saat dia dengan sengaja terus menyentuh prostatku.
Punggungku panas dan terasa kebal pada bagian bokongku. Sudah berapa lama aku dan dia melakukan ini? Aku tidak peduli lagi dengan hal sepele seperti itu. Pikiranku hampir meninggalkan tubuh yang tengah diliputi rasa nikmat ini. Nafsu dan hasrat batin yang meluap sudah menghilangkan kewarasanku saat ini.
Napasku memburu, tak jauh beda dengan laki-laki yang kini masih mendominasiku. Ia juga nampak terengah dengan wajah yang meneteskan peluhnya diwajahku. Rambut putih keperakannya terlihat begitu lusuh dan menempel disisian wajahnya. Laki-laki itu menggeram, bersamaan dengan kejantanannya yang kurasakan semakin membesar di dalamku. Berkedut tak sabaran.
"AH...!" Aku mengerang saat sebelah tangannya mengocok penisku. Mungkin dia tak ingin mengabaikannya. Ia mengocoknya seirama dengan sodokannya dalam tubuhku.
Aku mendesah semakin keras. Perutku seakan memaksaku untuk memuntahkan sesuatu, tetapi bukan lewat mulutku. Melainkan lubang lain di bawah sana. Lubang pada kejantananku.
"Inuyasha... Inuyasha...!"
Laki-laki itu menyuarakan namaku berkali-kali di tengah napasnya yang memburu. Aku merasakan wajahku yang memerah bertambah lebih panas. Aku tidak suka caranya menyebut namaku. Itu.. itu membuatku –
"AAAH!" Desahan kerasku itu bersamaan dengan semburan cairan putih dari kejantananku. Aku melenguh dan mendesah resah saat cairan hangat lain mengalir di dalam tubuhku.
Aku terengah, dadaku yang naik turun dengan cepat menandakan kurangnya pasokan udara yang ada dalam tubuhku untuk menopang semua aktivitas yang baru saja usai. Aku menatap laki-laki itu dengan pandangan lelah, melihatnya yang tertunduk dan menatapku dalam diam.
Ia beranjak bangun, melepaskan penyatuannya denganku. Aku kembali melenguh merasakan kehampaan yang begitu mendadak di bagian bawahku itu disertai cairan hangat yang mengalir keluar dari sana.
Mataku menatap kemana ia melangkah. Mengambil ponselnya, tentu saja. Aku hanya menghela napas dan berusaha merilekskan tubuhku. Tak berniat menggerakkan sedikitpun bagian dari tubuhku. Bahuku masih sakit –ralat- kedua bahuku sakit.
"Aku akan kembali." Seketika aku menoleh pada laki-laki yang sudah berada diambang pintu. Aku mengernyit dia yang hampir menutup pintu.
"Aku tidak akan melayanimu lagi, TUAN." Ucapku dengan penekanan saat memanggilnya namun ia tampak tak peduli dengan apa yang kukatakan dan melangkah keluar dari pintu itu.
"Aku akan kembali katanya?" Aku mendengus dan memilih untuk memejamkan mataku, aku kelelahan. Sangat.
.
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Esoknya aku melihat dia di sini, seperti apa yang dikatakannya kemarin padaku. Dan entah apa yang kupikirkan hingga aku kembali menyanggupi keinginannya. Kembali melakukan sex, dengan semua desahanku yang selalu membuatnya lebih bergairah. Menyentuh setiap lekuk tubuhku. Membuatku terbuai dengan setiap belaian tangannya. Menandaiku, memberiku cumbuan yang begitu hangat.
Aku mendesah, wajahku merona setiap ia mengumandangkan namaku, menyebut namaku dengan nada seduktif setiap kali ia memasukiku. Dan akan berakhir dengan ucapan yang sama. "Aku akan kembali." –lalu ia melangkah pergi menjauhi tubuhku yang masih bisa merasakan kehangatan dari aktivitas itu.
.
.
.
Tiga, empat, lima dan entah sekarang ini untuk keberapa kalinya ia mendatangi tempat ini. Menemuiku dan kembali melakukan hal yang sama.
Namun aku merasakan hal lain setiap kali ia semakin sering berkunjung kemari. Setiap ia menyentuhku. Tubuhku selalu menikmatinya, tapi... entah sejak kapan bukan hanya tubuhku yang menikmati.
Aku menikmatinya.
Kenapa?
Ada apa denganku?
"Se –Sesshomaru..." Aku mengangkat tanganku, melingkarkan tangan itu pada lehernya. Disaat yang sama, mataku menatapnya dengan sendu dikala wajahku yang penuh dengan peluh dan cairan sperma membuat aku yakin jika kini wajahku benar-benar seperti pelacur jalanan yang memohon lebih untuk disentuh.
Ia menunduk dan mencium leherku, "Akhirnya kau menyebut namaku, Inuyasha."
Aku mendesah, napas hangat itu menyapu permukaan kulit leherku sebelum ia kembali menjauhkan wajahnya. Dan aku hanya bisa terdiam, menatap sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya dari Sesshomaru. Dia tersenyum, bukan senyum merendahkan, bukan senyum ejekan, bukan juga senyum untuk sekedar berekspresi yang biasa ia lakukan. Ia hanya, tersenyum padaku.
"AAAH!" Aku berteriak saat merasakan dorongan kuat di bagian bawahku. Ia kembali bergerak, menghujamiku dengan kenikmatan setiap kali ia menyentuh titik terdalamku. "Sessho –maru! Ah! Ah...!"
"Sesshomaru... Sessho –Ah!" Aku menyuarakan namanya, lagi, lagi dan lagi seakan hanya nama itu saja yang ada dalam otakku. Sesshomaru. Sesshomaru. Sesshomaru.
Kenapa? Kenapa aku merasa seperti ini? Kenapa aku menikmatinya. Menikmati Sesshomaru yang mendominasiku. Kenapa aku menginginkan lebih dari setiap sentuhannya pada tubuhku. Aku menyukai perlakuannya padaku.
Aku... aku...
"Ahnn...!" Pikiranku kembali pada Sesshomaru yang kini menatapku dalam. Aku melihat ke arah bawah, melihat tangan putih itu melingkupi kejantananku. Mengocoknya pelan lalu cepat, terus melakukannya, hampir membuatku kehilangan kewarasanku.
"Kemana pikiranmu Inuyasha?" Sesshomaru menjilat pipiku, "Aku yang ada dihadapanmu." Ia melumat bibirku, seperti bisa. Kasar.
Kres...
Aku mengerang saat ia menggigit keras bibirku hingga terluka. Kurasakan rasa besi dan sedikit amis dari darah yang keluar dari luka itu. Aku meneguk ludah bercampur darah itu dengan paksa saat Sesshomaru menatapku, seolah jika aku melepaskan ciuman ini ia akan lebih memberiku luka.
Tidak berdaya, tubuhku terlonjak-lonjak keatas. Gerakannya tidak bisa dibilang pelan. Ia menggerakan miliknya, memasukannya, mengeluarkannya, memberiku kenikmatan yang tak ada putusnya di tengah rasa sakit yang juga menghujami tubuhku.
Kenapa aku...
"A –AAH! Sesshomaru!" Aku mendongak, memejamkan mataku dengan erat saat sodokan keras menghujam bagian bawahku. Kejantananku menyemburkan banyak sekali cairan putih. Membasahi tubuhku dan dada hingga wajah Sesshomaru. Aku menatap kesal kearahnya, aku yakin dia sengaja mengarah kejantananku padanya. Namun tatapan kesalku berubah sayu saat semburan lain kurasakan di dalam tubuhku. Memenuhinya dengan cairan hangat miliknya.
"Ngh..." Kupeluk erat leher Sesshomaru, menyembunyikan wajahku yang dipenuhi dengan peluh dileher laki-laki bersurai putih keperakan itu. Aku tidak ingin. Aku tidak mau laki-laki itu pergi setelah melakukan ini padaku, seperti biasanya.
Kurasakan napas memburu Sesshomaru dileherku, hangat. Aku tersenyum saat pikiran itu terlintas dikepalaku. Sejenak, sebelum mataku membulat. Apa yang kupikirkan? A –apa yang baru saja kupikirkan? Kenapa aku tersenyum?
"Jangan tunjukan wajah ini pada siapapun." Aku melonggarkan pelukanku dan membiarkan ia melihat wajah terkejutku. Sesshomaru mengelus pipiku, menghapus peluhku dan bergerak menyentuh bibirku, menyentuh luka yang dibuatnya beberapa saat lalu. "Jangan tunjukan wajah ini pada siapapun." Ia mengulang ucapan itu. Aku berganti menatapnya bingung.
"Jangan, tunjukan?" Aku mengerutkan keningku, "Apa maksudmu?" Tanyaku padanya.
Sesshomaru memandangku dengan sendu, apa yang sebenarnya ingin dia katakan?
Ia mengecup bibirku singkat dan kembali menatapku, membuatku bertambah bingung. Apalagi saat ia menegakan tubuhnya dan mengambil pakaian yang berserakan disekitar tempat tidur. Memakainya cepat, tak sampai rapi. Hanya memakaikan beberapa kancing bajunya juga celana yang hanya ia kancingkan. Tak mengindahkan ikat pinggangnya yang tergeletak tak jauh di bawah tempat tidur.
"Sesshomaru?"
Ia menoleh padaku dan tersenyum tipis. Aku hanya menatapnya dari atas tempat tidur. Membangunkan tubuhku meski bagian bawahku terasa sangat ngilu saat ini. "Kau buru-buru?" Entah kenapa aku bertanya padanya, seakan aku tak ingin dia pergi saja.
Ia berjalan mendekatiku, aku terus memperhatikannya hingga ia berdiri disisian tempat tidur. Aku menatap wajah datarnya saat elusan lembut kurasakan pada helaian rambutku.
Tubuh itu menunduk, bersejajar denganku. Mataku masih menatapnya dengan bingung, apa apa dengannya?
Cup...
Deg...
Deg.. deg..
Deg deg deg
Degdegdeg...
Hangat, rasanya hangat saat ia menempelkan bibirnya dikeningku. Kenapa ini? Jantungku... kenapa?
Aku memejamkan mataku, rasanya nyaman. Sangat nyaman saat bibir itu menyentuh dahiku dan seakan enggan saat rasa hangat itu hilang bersamaan dengan ia yang menjauhkan wajahnya dariku. Elusan dirambutku pun ikut berhenti. Aku menatap matanya, bertanya tanpa suara. Maksud dari apa yang dilakukannya tadi, tapi tidak ada. Yang kucari di sana tidak ada. Aku hanya terdiam saat Sesshomaru melangkah menjauhiku, berjalan menuju pintu kamar ini, membukanya dan ia berlalu pergi.
Deg...
Apa itu tadi?
Takut...
Kenapa dia tidak mengucapkannya?
Deg deg...
Jantungku kenapa?
Tanganku terangkat dan menyentuh dadaku, jantungku berdetak cepat sekali. Semakin cepat, semakin cepat namun aku merasakan rasa sesak di sana. Kenapa... –takut...
'Tidak ada ucapan itu darinya... mengapa?' Aku menundukan kepalaku, menatap selimut putih lusuh yang menutupi tubuh bagian bawahku.
"Sesshomaru..."
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Cermin itu memantulkan keseluruhan dari tubuhku, rambut putih yang tergerai lurus hingga hampir mencapai lutut, wajah yang sudah kupoles dengan bedak tipis dan pemerah pada bibir yang menyemerkan luka kecil di sana. Tubuhku terbalut oleh kaus panjang tipis berwarna merah yang tak bisa menutupi lekuk tubuhku sama sekali dan celana bahan dengan tali pinggang yang kuikat sebagai penahan dengan panjang celananya sampai menutupi mata kakiku. Aku menghela napasku dan berbalik memunggungi cermin itu.
Satu lagi hari dimana aku harus melayani orang-orang itu.
"Yasha nii cha~n ! Sudah siap belum~" Suara cempreng khas anak kecil itu membuatku memutar bola mataku. Gadis kecil itu selalu saja membuatku kesal.
Kesal... Haha, aku tertawa dalam hati saat kata itu terlintas dikepalaku. Rasa yang sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan. Gadis kecil itu sebenarnya menyenangkan, dia yang selalu saja membuatku marah dengan kata-kata polosnya. Tapi aku menyukai saat-saat pertengkaran itu terjadi. Aku seperti tak memiliki beban apapun dalam hidupku, menyingkirkan sejenak rasa itu dari kehidupanku dan kembali menjadi anak-anak.
"Yasha nii chaaaan!" Sepertinya teriakan itu tidak akan ada hentinya.
"Berisik bocah! Kau mau membuat telingaku tuli!" Aku berteriak sesaat setelah membuka pintu kamarku dan menatap tajam gadis kecil yang berdiri dengan pipi yang mengembung.
"Nii chan lama sekali tahu!" Aku berdecak. Mulai lagi...
"Memangnya kenapa? Lagi pula tidak ada yang harus kulayani sampai nanti malam tahu!" Ucapku tak mau kalah.
"Rin."
Aku menoleh saat nama gadis itu dipanggil, melihat seorang wanita yang berjalan kearahku dan Rin. "Jangan ganggu Nii chan. Dia butuh istirahat." Ucap wanita itu. Kulihat Rin nampak ingin protes namun mengurungkan niatnya dan mengangguk dengan kepala langsung tertunduk.
"Tidak apa-apa Kikyo nee, aku memang berjanji mengajaknya bermain di belakang rumah." Wanita itu, Kikyo. Memiliki wajah yang hampir sama dengan Kagome, mereka tidak bersaudara atau pun memiliki hubungan kekerabatan sama sekali. Aku sendiri heran akan hal itu. Satu lagi, gadis kecil yang sedang merengut itu adalah anaknya. Kikyo sama denganku, bahkan jauh sebelum aku dia sudah bekerja di sini dan bagaimana ia bisa memiliki Rin. Itu hanya sebuah kecelakaan kecil yang menjadi keberkahan ditempat ini karena Kikyo tak mengaborsi janinnya saat itu. Rin membuat rumah ini sedikit disinari oleh matahari.
Kulihat Kikyo menghela napasnya dan menyentuh sisian wajahku. "Kau itu butuh istirahat." Ucapnya hangat, ini kah sentuhan seorang ibu.
Aku menggeleng dan menggendong Rin yang langsung melingkarkan tangannya dileherku. "Tidak apa-apa Nee chan." Jawabku singkat dan memberikan senyum tipisku padanya. Hal yang paling tidak wanita itu sukai dariku. Tersenyum palsu.
"Ada yang sedang kau pikirkan Inuyasha?"
Aku terdiam saat ia menanyakan hal yang sejak tadi kutakutkan. Kikyo selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku meski sekeras apapun aku menutupinya. "Memang banyak yang kupikirkan, nee chan." Aku melangkah menjauhinya.
.
.
.
.
Aku tersenyum melihat Rin yang saat ini tengah mengejar-ngejar seekor anjing kecil berbulu coklat bernama Hachi yang memang dipelihara di rumah ini. Melihat senyum dan tawa gadis itu membuatku merasa lebih baik. Sedikit mengangkat beban dipundakku.
Aku memang memikirkan sesuatu, memikirkan hal yang membuatku kini merasa cemas entah karena apa aku sendiri juga tidak tahu. Hanya saja, setiap kali aku memikirkan mengapa aku merasa cemas. Pikiranku langsung tertuju pada satu hal, pada seseorang.
Hari ini, dia tidak datang... kenapa?
Pertanyaan yang sama dalam benakku selama hari ini berlalu, hari ini aku belum melihatnya sama sekali. Biasanya dia yang akan datang pagi atau menjelang sore. Tapi hingga jam menunjuk angka enam, dia tidak datang. Aku menggelengkan kepalaku, tidak. Tidak. Tidak! Untuk apa aku memikirkan laki-laki itu? Dan kenapa aku sampai-sampai memikirkannya segala!
Ini tidak benar.
.
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
.
.
Malam ini rasanya sangat sunyi bagiku. Tidak pada kenyataannya rumah ini begitu ramai dengan para wanita berpakaian minim yang berlalu lalang dihadapanku. Para lelaki hidung belang yang menatapku dengan lapar dan siap menerkamku. Cih! Tatapan memuakan yang selalu membuatku ingin muntah.
Saat ini aku sedang duduk terdiam disebuah sofa panjang marun di tengah ruangan. menyandarkan sebelah tanganku pada sandaran dipinggiran sofa dengan kaki yang berselonjor disofa. Aku mengenakan pakaian yang hampir senada dengan sofa itu, mirip seperi yukata sederhana –jika tidak mengikut sertakan hiasan emas yang membentuk bunga krisan dibagian samping pinggang- yang sengaja dibiarkan terbuka pada bagian betisnya.
Posisi yang semakin membuat laki-laki brengsek di sini meneteskan air liur mereka. Cih! Bukan aku yang menginginkan terus perpose seperti ini. Salahkan Naraku yang terus saja menyuruhku melakukan ini, melakukan itu, pakai ini, pakai itu. Pria cerewet yang menyebalkan.
"Inuyasha sama." Aku melirik orang yang memanggilku, Kikyo nee dengan baluta gaun putihnya terlihat membungkuk dan memberiku sebuah surat. Aku menerima surat itu dan membacanya. 'Dua jam.' Kubaca isi surat itu, isinya tak lebih dari pemberitahuan jika ada seseorang yang ingin menggunakanku malam ini.
Aku kembali menyerahkan secarik kertas itu pada Kikyo dan menurunkan kakiku dari atas sofa. "Dimana aku harus menemuinya?" Kikyo membangunkan tubuhnya namun tetap menunduk kearahku.
"Saya dan Kagome akan mengantar anda." Bibirku ini rasanya gatal ingin mengucapkan kata ejekan padanya. Sikap hormatnya ini benar-benar membuat perutku kram karena menahan tawa. Mungkin nanti setelah semua ini selesai aku akan benar-benar menggoda Kikyo nee chan.
Kuenyahkan beban tubuhku dari sofa dan berjalan mengikuti Kikyo dan Kagome yang terlihat seperti adik-kakak bagiku. Wajar jika banyak yang mengira mereka ini saudara kembar.
.
.
.
.
.
Cklek!
Aku menatap pintu yang baru saja dibuka oleh Kagome. Sejenak aku terdiam dan menarik napasku dalam kemudian menghembuskannya. Aku Inuyasha sama, seseorang yang akan bersikap patuh dan melakukan apapun yang diinginkan Tuanku. Kucatat baik-baik kalimat itu dalam kepalaku sebelum kulangkahkan kakiku memasuki ruangan dimana aku akan menghabiskan dua jam waktuku di sini.
"Hahaha... kau sudah datang manis." Seketika pandanganku mengarah pada sofa yang ada diruangan itu. Pria yang masih muda, tiga puluh tahun jika aku tidak salah terka tengah meneguk segelas minuman dari botol di atas meja yang ada di depannya. "Kemarilah."
Aku menurut dan berjalan kearahnya, menundukan tubuhku dan berdiri di sampingnya. "Selamat malam, Tuan." Sapaku, tentu saja basa basi.
"Jangan berdiri saja di sana Inuyasha, kemarilah. Duduk dipangkuanku." Laki-laki itu menepuk daerah sedikit bermain, baiklah. Terserah orang ini saja.
"Baik Tuan." Aku melangkahkan kakiku lebih dekat dan mengangkat kakiku ke atas sofa, bertumpu pada lututku. Kulihat dia menjilat bibirnya saat gerakanku itu membuat belahan yukata yang kupakai tersibak dan memperlihatkan paha mulusku.
Laki-laki itu tertawa dan tangannya mulai mengelus pahaku dari bawah keatas, terus seperti itu. "Hmm, kau penurut Inuyasha." Aku tersenyum dan mengalungkan tanganku dilehernya. "Apapun keinginanmu Tuan."
Dia menyunggingkan senyum lebarnya dan mengambil botol alkohol di atas meja. "Kalau begitu minum ini sampai habis, sayang." Pria ini ingin aku mabuk, permainan yang mudah sekali kutebak kelanjutannya. Kuraih botol itu dari tangannya dan mulai meneggak minuman itu langsung. Mataku menyipit saat ada benda padat lain yang melewati tenggorokanku. Cih! Perangsang. Kau ingin bercinta dengan orang yang tak bisa melawan sama sekali eh?
Aku menjatuhkan botol itu ke lantai saat air di dalamnya sudah habis tak tersisa. Bibirku menyunggingkan senyum dan kembali melangkul pundaknya. Mengacuhkan tubuhku yang mulai memanas karena perangsang yang kuminum tadi. Kepalaku juga mulai pusing, termasuk mataku yang tak bisa lagi fokus, hanya dapat melihat samar seringai yang ditunjukan laki-laki itu.
Aku mengerang saat tangan laki-laki itu menyusup pada belahan yukata yang kugunakan. Mengelus dadaku dan mencubit putingku yang mengeras. Aku hanya bisa melenguh dan bergerak tak tentu. Mengubah-ubah posisi dudukku dipangkuannya.
Eranganku semakin keras saat lidah laki-laki itu menjilat dan mengulum putingku, aku sendiri tak menyadari sejak kapan pakaian yang kukenakan sudah terbuka dibagian depannya dan hanya tertahan oleh tanganku yang masih melingkar dilehernya. "Kau membuatku bergairah Inuyasha."
"Aahh..." Tubuhku panas, setiap sentuhan laki-laki itu semakin membuatku merasakan sesuatu yang kosong dalam diriku. Sesuatu agar aku meminta lebih. Sentuh aku, buat aku utuh. Pikiranku tak lebih dari terisi oleh hal-hal yang membuatku muak. Ini semua membuatku muak. Meski aku terus mendesah dan meminta lebih, mengais nafsu pada laki-laki ini.
'Sesshomaru.'
Aku tersentak akan nama yang muncul dalam benakku saat ini. 'Sesshomaru.' Kenapa aku memikirkan pemuda itu.
"Nikmati ini sayang, rasakan. Penisku cukup besar untuk merobek analmu."
"AAAKH!" Aku berteriak keras saat laki-laki itu memasukan miliknya dalam tubuhku. Aku mencengkram pundaknya keras dengan air mata yang sudah jatuh dari ujung mataku.
'Sesshomaru.'
"Ahh! Ah! Ah... Ah!"
'Sesshomaru.'
"Kau sempit sekali sayang, gerakan tubuhmu sayang. Goyangkan pantatmu saat aku menusuknya."
"AH! ANGH!... Ah!..."
.
.
.
'Jangan tunjukan wajah ini pada siapapun.'
Kenapa? Kenapa aku malah mengingatnya?
Air mataku terus jatuh, tak dapat terbendung lagi olehku. Aku tidak menikmati ini. Tubuhku tidak menikmati ini. Kenapa aku harus mengingat laki-laki itu saat ini.
"Ahhh! AH... Nnah..!"
'Apa yang sudah kau lakukan padaku, Sesshomaru?'
.
.
.
.
.
To Be Continue~...
A/N : Selesai~ duuuh... aku ga sanggup baca ulang chapter kali ini. Jadi kalo ada typo or apapun yang salah, kasih tau ya... biar bisa kuperbaiki.
Bagaimana dengan chapter kali ini?
Jelek?
Aneh?
Gile?
Kurang?
Ato malah mau ngeplem?
Sok atuh, tah kan aya dina kolom ripiu. Ditarimakeun ku abdi mah, da abdi mah lain jalma ambekan. :3 #plakkk! *Bahasa daerahnya dibawa-bawa*
