Secret Bodyguard chapter 2 by : Gia-XY

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! GX (c) Kazuki Takahashi

Story (c) YuGiOh Newbie Author

Kyora Yagami (c) Runa Ryuuokami

Warning : OC, OOC, genderbender, krisis kosakata, typo(s), misstypo(s), gaje, gak nyambung (maybe?), dll.

A/N : Akhirnya chapter 2 juga! Shock juga sih waktu baca chapter 1 tiba-tiba ada namaku di bawah ._. Oke deh! Here's the story! Happy reading!


Chapter 2 : Punishment


"Salam kenal. Namaku Johan Anderson, aku pindahan dari Amerika. Aku kemari karena keputusan orang tuaku yang berada di Amerika," kata murid baru itu—Johan, memperkenalkan dirinya.

Judai hanya menatap ke depan kelas dengan tidak peduli lalu memain-mainkan pensil yang ada di tangannya saat ini dengan cueknya. Apa dia tidak sadar kalau saat ini dia duduk di barisan PALING DEPAN?

"Ane-san! Le-Lebih baik ane-san memperhatikan apa yang ada di depan! Nanti kalau ane-san ketauan Yagami-sensei tidak memperhatikan apa yang ada di depan, kau bisa dihukum!" bisik Sho dengan nada panik pada Judai yang duduk di sebelahnya.

"Tapi sekarang cuma perkenalan murid baru saja kan? Aku sama sekali tidak tertarik~" kata Judai dengan nada bosan sambil masih terus memainkan pensilnya lalu menggambar hane kuribo di atas kertas yang ada di depannya.

Tanpa disadari di depannya sudah ada Yagami yang tersenyum mengerikan melihat Judai tingkah Judai saat itu. Sho hanya gelagapan saja sambil melihat Yagami dan Judai secara bergantian.

"Yuki-san..." panggil Yagami sambil menatap muridnya itu dengan tatapan mengerikan dan berhasil membuat Judai merinding ketakutan.

GLEK!

Judai hanya berusaha mendongakkan kepalanya dengan takut-takut untuk melihat guru di depannya itu.

"Ehehehe, Yagami-sensei..." kata Judai sambil tersenyum canggung dan memain-mainkan jarinya.

"Apa kau memperhatikan apa yang ada di depan tadi?" tanya Yagami masih terus mempertahankan senyum mengerikannya itu.

"A-Aku memperhatikan kok... Kau sedang memperkenalkan murid baru kan?" tanya Judai takut-takut.

"Bisakah kau mengulang perkenalan Anderson-san tadi?" tanya—atau lebih tepatnya, suruh Yagami.

"A-Ah, itu... Namanya Johan Anderson, lalu..."

Judai langsung tidak tau harus berkata apa lagi. Dia Cuma tau siswa baru yang di depan bernama Johan Anderson, dan sisanya? Tau deh~ Dia saja tidak memperhatikan perkenalan Johan daritadi.

"Sekarang aku tanya, apa kau tau alasan Anderson-san pindah ke sini?" tanya Yagami lagi.

'Mampus aku! Aku tidak tauuuuuu!' pikir Judai panik.

"Ah, aku... Itu... Aku tidak tau..." jawab Judai sambil merenungi nasibnya dan berdoa semoga senseinya ini tidak akan memberikannya hukuman yang macam-macam.

"Anderson-san, bisa kau mengulang perkenalanmu untuk teman barumu yang satu ini? Sepertinya dia 'KURANG' mendengar perkataanmu tadi," kata Yagami dengan nada menyindir Judai.

Judai hanya bisa menelan ludah saja dan meratapi nasibnya saat ini. Harusnya dia mendengarkan kata-kata Sho tadi.

"Namaku Johan Anderson dan aku pindah kemari karena keputusan orang tuaku yang ada di Amerika. Apa ada yang kurang jelas?" tanya Johan dengan nada datar sambil menatap Judai .

"Jadi? Apa kau kau bisa menjelaskan kenapa Anderson-san pindah kesini?" tanya Yagami dengan aura mengerikan di sekitarnya yang pastinya mampu membuat semua orang yang ada di sana bergidik ngeri.

"A-Ah, karena keputusan orang tuanya yang ada di Amerika..." kata Judai dengan nada takut-takut.

"Bagus... Lain kali perhatikan apa yang ada di depan. Oh ya, dan sebagai hukumanmu, kau harus mnunjukkan Anderson-san letak dormnya, plus KAMARnya, dan juga membersihkan SELURUH Osiris Dorm," perintah Yagami-sensei.

"APA!? SELURUH OSIRIS DORM!? SENSEIIII! JANGANNNNN! GOMEN SENSEIIII! LAIN KALI AKU AKAN MEMPERHATIKAN APA YANG ADA DI DEPAN DENGAN BAIKKKK!" teriak Judai super toa dan memeluk-meluk lengan Yagami dengan nada memohon.

Seluruh kelas hanya tertawa-tawa saja melihat kelakuan Judai yang seperti anak kecil yang akan dihukum orang tuanya itu.

"Laksanakan apa yang kusuruh, kalau tidak... Kau tau kan apa yang akan terjadi?" tanya Yagami-sensei sambil mengeluarkan tatapan mengerikannya yang mampu membuat gadis di depannya ini merinding dan melepaskan tangannya.

"Ha-Hai..." kata Judai dengan nada lemas tidak bersemangat.

"Dan jangan lupa melapor setelah kau selesai melakukan semua hukumanmu," kata Yagami lagi.

Sho hanya dapat melihat gadis di sebelahnya itu dengan tatapan kasihan. Sedangkan di sisi lain, tanpa disadari semuanya sepasang mata menatap Judai dengan tatapan observatif.

'Jadi dia orangnya? Jaden Yuki? Ah, salah... Judai Yuki...'

~After School~

Sepulang sekolah, Judai langsung merapikan barang-barangnya dan mengajak Sho untuk kembali ke asrama. Baru saja Judai akan beranjak pergi keluar kelas, tapi langkahnya terhanti oleh suara seseorang.

"Judai, apa kau tidak ingat tentang 'titah' yang kuberikan padamu?" tanya Yagami yang masih ada di dalam ruang kelas sambil menatap judai dan terseynum mengerikan.

"E-Eh, itu... Aku ingat! Ehehehe! Ayo Johan-kun. Kita kembali ke asrama," ajak Judai sambil menghampiri Johan.

"Hm," balas Johan dengan berdehem singkat, lalu berdiri dan berjalan mengikuti Judai.

"Ah, Anderson-san, barang-barangmu semua sudah diletakkan di kamarmu," kata Yagami kepada Johan.

"Baiklah, arigatou sensei," kata Johan lalu kembali berjalan mengikuti Judai dan Sho.

~Osiris Dorm~

"Nah, di sini asrama kita, Osiris Dorm. Erm, kamarmu nomor berapa?" tanya Judai pada Johan.

"201," jawab Johan singkat.

Mata Judai dan Sho langsung terbelalak lebar. Nah, para readers sekalian, saya ingatkan anda untuk segera menutup kuping, atau kalian akan menyesal.

"APAAAAA!? 201!? KAU TIDAK BERCANDA KAN!?" teriak Judai dan Sho bersamaa yang berhasil membuat Johan menutup telinganya karena takut telinga tidak akan berfungsi lagi setelah mendengar teriakan toa dari 2 orang di depannya itu.

"Aku tidak bercanda. Kamarku 201. Memangnya ada apa dengan kamar 201?" tanya Johan terlihat agak penasaran.

"A-Ah tidak! Berarti kau akan menjadi teman sekamar kami," kata Sho masih agak gugup untuk bicara kepada Johan.

"Akhirnya aku dapat teman sekamar lagi~! Sejak Hayato pindah kamar kita jadi sepi!" kata Judai sambil bersorak kegirangan.

Johan menaikkan sebelah alisnya.

"Sekamar? Kau dan aku? Memang kamar wanita dan lelaki tidak dipisah?" tanya Johan bingung sambil menatap Judai.

"Ah, kalau di Osiris Dorm, kamar lelaki dan perempuan memang terkadang bisa saja gabung. Yah, kau taulah, saking sedikitnya wanita di Osiris Dorm, jadi mereka pikir tidak perlu membangun 2 Dorm untuk tingkat Osiris," jelas Sho.

"Hmm, begitu..." kata Johan sambil mengangguk-ngangguk mengerti.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita ke kamar!" ajak Judai sambil mendahului mereka berdua berlari menaiki tangga Osiris Dorm.

"Hah, ane-san memang terlalu bersemangat..." kata Sho sambil menghela nafas.

Johan lalu menaiki tangga Osiris Dorm mengikuti Judai dan meninggalkan Sho sendirian.

"Eh! Tunggu! Johan-san!" teriak Sho sambil berlari mengikuti Judai dan Johan dari belakang.

~201 Room~

"Nah, ini dia! Kamar barumu! Yah, semoga kau betah di sini," kata Judai sambil masuk memasuki kamarnya diikuti oleh Johan dan Sho.

"Ah! Johan-kun! Ini barangmu ya?" tanya Judai sambil menunjuk sebuah koper yang tergeletak di samping kasur.

"Ah, iya. Itu barangku," jawab Johan sambil mengambil kopenya dan meletakannya di samping lemari.

"Erm, itu, di sana ada lemari. Kau bisa taruh barang-barangmu di dalam lemari," kata Sho sambil menunjuk lemari yang ada di pojok ruangan.

"Hm, baiklah," kata Johan sambil melihat lemari yang ditunjuk oleh Sho tadi.

"Em, ane-san, bukannya ane-san harus membersihkan seluruh Osiris Dorm?" tanya Sho mengingatkan.

Judai langsung menepuk keningnya sendiri.

"Oh iya! Kok aku baru ingat sih!? Untung kau ingatkan! Kalau aku sampai lupa, bisa-bisa jadi kena ceramah panjang lebarnya si Yagami itu lagi! Kalau begitu, aku duluan ya!" pamit Judai sambil berlari meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan kencang.

BRAK!

"Ya ampun, ane-san. Padahal sudah kubilang berkali-kali kalau tutup pintu jangan kencang-kencang!" kata Sho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap kepergian Judai.

"Apa dia memang selalu begitu?" tanya Johan pada Sho.

"Begitulah," jawab Sho sambil merebahkan dirinya di atas kasur.

~Osiris Dorm Yard~

"HUEEEE! SAMPAI KAPAN AKU HARUS MEMBERSIHKAN OSIRIS DORM INIII!? MANA BANGUNANNYA JUGA BELOM DIBERSIHIN LAGI! SOMEONEEEEE! HELP MEEEEE!" teriak Judai sambil mengangkat-ngagkat sapu yang tadi digunakannya untuk menyapu halaman Osiris Dorm.

Tiba-tiba saja, dari belakang ada yang mengambil sapu yang tadi dipegang Judai. Judai yang kaget sontak langsung menengok ke belakang dan mendapati sosok seorang Johan di sana.

"Johan-kun? Kau sedang apa?" tanya Judai kaget.

"Jelas membantumu. Tadi kau berteriak meminta bantuan kan?" tanya Johan dengan nada cuek sambil menyapu daun-daun yang bertebaran di halaman dengan sapu hasil curiannya dari Judai tadi.

"E-Eh? Ta-Tapi, kenapa tiba-tiba kau mau membantuku begini?" tanya Judai lagi.

"Atas faktor kasihan mungkin? Dan juga atas faktor terganggu karena suaramu yang begitu keras tadi," kata Johan masih dengan cueknya sambil terus menyapu.

"Ehehehe, gomen, sepetinya suaraku memang terlalu kencang~" kata Judai dengan santainya sambil membentuk huruf 'V' dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Lalu? Kau mau diam saja di sana dan membiarkanku mengerjakan semua hukumanmu?" tanya Johan sambil menatap Judai.

"Eh, iya! Aku akan mengambil sapu di belakang dulu!" kata Judai sambil berlari meninggalkan Johan menuju ke gudang di Osiris Dorm. (A/N : Lho? Memang di Osiris Dorm ada gudang? Ya sudahlah, anggap saja ada! #plak)

~1 minute later~

Semenit berlalu dan Judai sudah kembali memegang sapu yang baru saja diambilnya dari gudang tadi.

"Oke! Ayo lanjut!" seru Judai lalu kembali menyapu dedaunan yang berserakan halaman.

"Ah! Ane-san!" teriak Sho yang baru saja turun dari tangga sambil menghampiri Judai.

Judai dan Johan langsung menengok kearah Sho.

"Kenapa Sho?" tanya Judai.

"Ano, boleh kan aku membantu? Aku akan membantu membersihkan bangunan dalamnya," kata Sho dengan nada antusias.

"Oh! Boleh banget! HOREEE! KERJAANKU BAKAL CEPET SELESAI!" seru Judai sambil menari-nari gaje saking senangnya.

"Kalau begitu, aku akan segera membersihkan bangunannya," kata Sho sambil berlari menuju ke gudang mengambil alat-alat yang dipelukannya.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Johan.

"Tentu! Mau tanya apa?" tanya Judai.

"Anak itu, maksudku, Sho Marufuji, apa dia adikmu?" tanya Johan sambil menunjuk kearah Sho.

Judai hanya sanggup menahan tawa saja mendengar perkataan Johan. Entah, sudah berapa orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.

"Ahahaha! Aduh! Dia bukan adikku kok! Hahaha!" kata Judai sambil tertawa.

"Lalu? Kenapa dia memanggilmu ane-san?" tanya Johan lagi.

"Kalau itu, dia cuma bilang aku pantas dipanggil seperti itu, walaupun aku juga kurang mengerti maksudnya. Yah, kalau kau masih penasaran, kau tanya saja pada Sho," kata Judai sambil meneruskan aktivitasnya menyapu halaman.

~07.00 P.M.~

~Room 201~

"SELESAIIIIII~!" seru Judai dan Sho bersamaan sambil merebahkan diri mereka di lantai kamar mereka.

"Bukankah kau masih perlu melapor pada Yagami-sensei?" tanya Johan sambil merapikan barang-barangnya.

"Melapor? Oh ya! Kata Yagami-sensei aku harus melapor kalau aku sudah selesai melakukan hukuman darinya! Aku duluan ya!" seru Judai sambil berlari meniggalkan kamarnya.

BRAK!

Sho hanya menghela nafas saja saat melihat Judai LAGI-LAGI membanting pintu kamar mereka. Johan lalu berdiri dan malangkahkan kakinya menuju keluar kamar.

"Eh, Johan-san, mau kemana?" tanya Sho.

"Mencari angin sebentar," kata Johan lalu menutup pintu kamar.

"Hah, aku sendirian deh di kamar. Ya sudahlah, nanti mereka juga balik," kata Sho lalu merebahkan dirinya di atas kasur.

~The Way to Duel Academy~

Judai terus berlari menuju ke Duel Academy. Dia lalu merasakan angin semakin dingin.

'Perasaanku saja atau anginnya memang semakin dingin?' tanya Judai dalam hatinya.

Judai lalu berhenti sebentar dan menengok ke langit. Lalu tiba-tiba...

Tik! Tik! Tik!

"Yahhh! Benar kan! Gerimis! Aku harus buru-buru sebelum hujan semakin kencang nih!" kata Judai lalu meneruskan larinya.

Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang daritadi terus mengawasi dan mengikutinya dari belakang.

-Tsuzuku-


Gia : MWAHAHA! AKHIRNYA SELESAI!

Yurika : *Cuek* Oh, bagus deh kalo udah slesai

Gia : *Mewek* HARUSNYA KAN LU BANTUIN GUE DARI KEMAREN NENEK!

Yurika : *Nutup kuping* Peduli, bukan urusan gue! Dan gue bukan nenek!

Gia : *Ngambek* Ya udahlah. Berarti yang lanjut adalah... Litte Yagami Osanowa! Mwahaha! Giliran anda! *Nunjuk Litte* Gimana neng? Endingnya ngeribetin kagak buat lu?

Yurika : Selamat berjuang, Litte-san. Dan Laksmi-san, lebih baik gak usah dibantu authormu. Biar mereka berdua tau rasa kerja sendiri *lirik Gia sama Litte*

Gia : Ih, kejem lu OC! Nah, kalo begitu, ganbatte Litte-chan~ Kutunggu updatenya yah! Ahaha! MAAF ATAS SEMUA KECACATAN, TYPO DAN MISSTYPO YANG ADA! *Bungkukin badan* BYE! *Kabur*