Simply Irresistible
Chapter 2+3
By bookworm1993
.
Harry Potter belongs to J. K. Rowling
.
Hermione menerjapkan mata.
Draco menyandar pada meja Hermione dengan santai, menikmati momen ketika seorang Gryffindor hanya berdiri bagai orang bodoh. Tidak setiap hari kau akan melihat seorang Hermione Granger terbengong. Ketika gadis itu mulai menghampirinya, Draco hanya mengangkat alis—menunggu aksi selanjutnya.
Tetapi Draco tidak pernah bersiap untuk tangan lembut Hermione yang menyentuh dahi kemudian pipinya.
Hermione menempelkan tangannya yang satu lagi di dahinya sementara tangan satunya di dahi Sang Pirang. Rasanya bersuhu sama. Tapi tetap saja diperiksanya pipi Draco. Tidak panas.
"Kau tidak demam."
"Terima kasih, tampaknya aku tidak tahu kalau tubuhku bersuhu tinggi." Draco mencebik.
Hermione hanya memutar bola matanya sebagai jawaban. "Jika hanya itu yang mau kau sampaikan, silahkan pulang ke manor, atau mansion-mu, terserah yang mana." Hermione mengibaskan tangan ke pintu sebelum menduduki kursinya.
Sekarang giliran Draco yang memutar bola mata. "Yang Mulia." Ia berkata sembari memutar tubuh hingga punggungnya menghadap pintu. Digebraknya meja mahogani itu.
Hermione berjingkat kaget. Dia mendongakkan kepala dan mendeliki Sang Mantan Slytherin.
Draco lupa betapa seksinya Hermione ketika marah, terlebih kepadanya.
"Malfoy." Hermione menggeram.
Kembali ke topik, Draco. Ia mengingatkan dirinya sembari mengalihkan mata dari bibir merah muda Hermione. "Aku sangat serius, Granger. Kau terlihat seperti seseorang yang habis disakiti."
"Hei!" Hermione membalas.
"Kau mau balas dendam atau tidak?" Draco melanjutkan, tidak menghiraukannya.
"Kau menyebalkan, Malfoy." Hermione membalas.
"Dengarkan aku dulu."
Hermione tidak berkata apapun. Draco menganggap kediamannya sebagai izin.
"Weasley mengencani Sadie karena dia cantik. Sadie memacarinya karena Weasley menempelinya bagai anak anjing yang mabuk cinta, tapi yang terpenting, karena Sadie suka dirinya terkenal. Dia haus kepopuleran. Setelah aku merombak penampilanmu, kau akan menjadi lebih cantik daripada dia." Dalam dan luar, Draco mengatakan kalimat terakhir di dalam hati.
Hermione sedang mendengarkannya ketika senyuman sombong itu datang lagi.
"Lalu kita berkencan, mengambil lampu sorot dari mereka, karena, percaya padaku, setelah reporter tahu kita bersama, hal itu akan dibicarakan berhari-hari. Weasley dan Sadie akan dilempar ke luar jendela bagai berita basi. Kita berdua sama-sama tahu kalau dunia akan memakan umpan fakta kalau aku, Draco Malfoy, mantan pelahap maut ternyata mengencani Hermione Granger, perlambangan perempuan baik. Publik akan menyukai kisah kita."
Hermione tidak tahu mau menjawab apa, tapi Draco benar. Reporter akan memakan berita mereka bulat-bulat.
"Aku tidak tahu, Malfoy."
Draco mengerang. "Kau tahu, Granger, aku akan menjemputmu besok pukul 7 pagi. Bersiaplah." Ia mengakhiri dengan arogan sebelum menuju pintu seolah tuan rumah.
Hermione hanya melihatnya dengan mulut terbuka bahkan setelah pintu kantornya ditutup. Ia menggosok matanya, kamudian mencubiti tubuhnya demi memastikan kalau ia tidak bermimpi.
.
.
.
Hermione memaksakan diri untuk tidak mengerjakan apapun di sisa hari. Pertemuan dengan Draco Malfoy terus memutari benaknya.
Hermione menghela napas sebelum menidurkan kepalanya di meja. "Kau menyebalkan, Malfoy." Ia mengerang.
Blaise membuka pintu kantor Hermione, berniat memintanya untuk pulang jadi Hermione tidak perlu lembur lagi, tapi gerakannya berhenti ketika mendengar Hermione menyebut nama Malfoy. Tubuhnya membeku sebelum merayap keluar, tapi keburu ketahuan.
"Blaise?" Hermione bertanya, kepalanya terangkat.
"Ya." Ia menjawab lemah.
"Kau datang bukan karena ada urusan tentang Draco Malfoy, kan?"
Blaise tertawa gugup. "Tidak, kenapa kau berpikiran begitu?"
"Blaise Zabini, aku bersumpah..."
.
.
.
Hermione pulang setelah Blaise meneraktirnya atas nama makan malam 'permaafan' antar teman. Ketika ia tiba di apartemen, ia tidak menemukan barang-barang Ron. Di satu sisi hal itu membuat hatinya sakit, tapi di sisi lain, ia merasa bebas. Karena ia begitu tergoda untuk memandangi tempat di mana barang-barang Ron tadinya ada hingga hampir melewati surat yang ditempel di pintunya.
Hermione menatap amplop itu. Tidak ada nama, benar-benar kosong. Ia duduk di salah satu kursi dapur. Digoyangkannya amplop itu dan bisa merasakan sesuatu berguncang di dalam sana. Tanpa banyak pikiran dibukanya benda itu.
.
Hermione sedang duduk di sofanya dengan sebaskom es krim di pangkuan. Di seberang sana, televisinya sedang menayangkan Le Divorce. Ia hanya pernah menontonnya sekali dan langsung tidak suka—tapi kini ia merasakan dorongan untuk menontonnya lagi. "Dia berselingkuh darimu!" Hermione menjerit sembari melemparkan bantal ke layar.
Ia ingin menangis saat menontonnya. Sekarang situasi dirinya hampir sama dengan karakter itu, jadi ia merasa begitu simpatik terhadap tokoh yang dimainkan oleh Naomi Watts. Untungnya dia belum menikah atau hamil kendati ia sudah memberikan semuanya kepada Ron seperti tokoh film itu. Dan para pria yang berselingkuh itu tidak lebih dari babi!
"Granger, kau meneriaki siapa?"
Hermione sampai jatuh dari sofa saat mendengar suara yang dikenalinya. Ia sampai tertatih bangun. "Apa yang kau lakukan di apartemenku, Malfoy?"
"Buka pintunya baru kuberitahu." Draco berteriak balik.
Dibukanya pintu, dan sebelum ia bisa berkata apapun, Draco merangsek masuk sembari bersungut. "Kau punya hak untuk masuk, Malfoy." Ia berkata sarkas.
Draco telah tiba di dapur, menatap gambar di meja kopi.
"Kau sudah membacanya." Ia berkata ketika merasakan kehadiran Hermione di dapur.
"Benar." Hermione menjawab pelan, ia menyandar pada dinding.
"Dasar orang tidak tahu diri, berani sekali mereka!" Draco berteriak.
Hermione sampai berjingkat kaget mendengar kemarahan di suaranya.
"Mereka menyelingkuhi kita, Granger, di rumahku, di ranjangku!" Draco berteriak sembari menunjuk salah satu gambar Ron dan Sadie yang tampak telanjang dan saling menempel seolah hidup mereka tergantung di sana, beralaskan kasur hitam dengan seprai sutra perak.
Mata Hermione membelalak sebesar bola dan untuk yang kesekian kalinya mulutnya terbuka.
"Dan apa pula yang kau pakai?" Draco bertanya masih dengan teriakan.
Hermione menatap bajunya. Ia mengenakan celana yang ukurannya 2 nomor lebih besar untuk suatu alasan dan kaus tua yang paling nyaman—dan ia tidak akan diam saja jika Malfoy menertawakan bajunya—yang merupakan kesukaannya. Jadi Hermione menyilangkan lengan di depan dada. "Tidak ada yang salah dari apa yang kupakai."
Draco menatapnya seolah dirinya adalah orang gila. "Ada banyak kesalahan di pakaianmu, Granger. Tidak heran Weasel meninggalkanmu. Bahkan mungkin saja ibunya memiliki baju yang lebih seksi dari pakaianmu—dan baju itu menjelaskan banyak hal."
Hermione mengernyitkan mata. Ketika ia baru saja hendak mengasihani Malfoy, pria itu kembali bertingkah seperti seorang bajingan.
"Kau tahu apa, kita akan memulainya sehari lebih awal." Draco berkata sebelu menyengkram pergelangan tangan Hermione.
Sebelum Hermione sadar, mereka sudah ber-apperate.
Sang Gadis berjengit kecil ketika putaran yang menariknya berhenti. Kepalanya agak pusing karena tidak siap untuk ber-apperate. Setelah pijakannya jejak barulah ia sadar di mana dia berada—yang ia harap tidak disadarinya. Mereka tiba di toko pakaian dalam wanita!
.
.
End of chapter 2
.
Chapter 3
.
.
"Kau membawaku ke toko pakaian dalam?" Hermione mendesis, matanya mengitari ruangan.
"Lebih tepatnya Toko Mainan Seks."
"Apa?!" Hermione menjerit histeris. "Idiot kau!" umpatnya sembari memukul bahu Draco.
"Aku bercanda, Granger. Ini toko baju, lebih tepatnya bagian pakaian dalam."
Hermione mengernyitkan matanya. Sebelum ia bisa merespon, seorang wanita mendatangi mereka—tampak agak tua dengan rambut abu dan senyum bersahabat.
"Draco?"
"Ah, Lisa, kau terlihat cantik sore ini," Draco berkomentar sebelum mengecup pipi Lisa.
"Masih bermulut manis, rupanya."
Draco membalasnya dengan senyum kecil.
"Siapa wanita yang kau bawa ini?"
Draco memutar tubuhnya jadi ia benar-benar menghadap Hermione. "Lisa, ini Hermione. Granger, ini teman ibuku, Lisa."
"Oh, Hermione Granger. Benarkah?"
"Benar. Kita butuh baju baru untuknya. Jelas sekali." Draco mengucapkan kata terakhir di telinga Lisa, jadi Hermione tidak mendengarnya.
"Hush." Lisa mendiamkan, kemudian merentangkan meteran baju di sekitar Hermione. "Hmm," gumamnya sanbil melipat bahan berlebih di baju Hermione sehingga bentuk tubuhnya tampak. "32C, benar?"
Wajah Hermione memerah sementara Draco membelalakkan mata.
"Kau memiliki potensi untuk menjadi gadis yang sangat cantik."
"Um, terima kasih," balas Hermione kikuk. Setelah mereka keluar dari toko ini, dia akan membunuh Malfoy.
"Baju apa yang kau inginkan, Draco?"
"Yang pasti piama," Draco menjawab, matanya memandang baju Hermione dengan jijik. Hermione menyilangkan lengannya kemudian mendelikinya. "Beberapa pasang baju kerja. Baju main juga. Beberapa sundress. Gaun koktail. Gaun pesta. Pakaian dalam berenda. Ada yang sopan juga boleh." Draco berpikir keras.
Hermione berdiri mematung dengan mulut menganga. "Draco Malfoy ... kau ... aku ... kau ... tidak bisa!" ia mengomel.
.
.
.
"Sudah kau pakai belum, Granger?" Draco meneriaki kamar ganti sembari duduk di salah satu kursi.
"Tidak!"
"Merlin, tidak mungkin sejelek itu kan."
"Aku terlihat seperti ... pelacur!"
"Granger, menurutku juga pakaian itu tidak mungkin co...," ucapannya berhenti di pertengahan.
Hermione sudah membuka tirai ruang ganti itu. "Siapa yang pakai baju seperti ini untuk tidur?"
Draco tidak menjawab apapun. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap kulit yang terkekspos banyak di hadapannya.
"Sayang, kau tidak pakai itu untuk tidur, tapi untuk hal ... lain." Lisa menjelaskan sembari mengedipkan mata. "Ini baju dalam lain yang kau harus coba." Kemudian wanita itu keluar lagi setelah menggantungkannya di bilik ganti.
"Malfoy, mataku di sini!" Hermione meneriakinya sambil menggunakan gorden untuk menutupi tubuhnya.
Draco merasa sedikit sedih ketika pemandangan itu hilang.
"Demi Merlin. Dasar lelaki." Hermione memutar bola matanya.
"Terima kasih."
"Bukan pujian." Hermione mengerang.
Draco hanya memberikannya seringai menyebalkan.
Hermione menggeram kesal sekali lagi sebelum menggeser tutup tirai. "Aku mencoba yang lain."
"Oke, tapi perlihatkan kalau sudah."
"Agar kau bisa tahu apa muat di badanmu?"
"Granger." Draco mengernyit. "Itu menjijikkan."
"Kalau sepatumu muat[1]."
"Apa?" Suara Draco terdengar bingung.
"Bukan apa-apa, peribahasa muggle." Hermione menghela napas lagi sebelum membuka tirai. Kali ini ia mengenakan rok pensil dan blus kantoran. Dengan kerah berbentuk v agak rendah, memerlihatkan kulit yang tidak biasa Hermione pertontonkan atau pakaian yang biasanya ia nyaman kenakan.
"Naikkan rambutmu." Draco meminta dengan suara mengawang-awang.
"Apa?"
"Lakukan saja, Granger."
Hermione menatapnya dengan aneh tetapi tetap mencepol rambutnya.
Segera saja Draco menyesal sudah memintanya. Ketika dia masih di Hogwarts, dia biasanya membayangkan guru-guru dan penjaga perpustakaan akan duduk di meja kerja mereka kemudian melepas ikatan yang mereka tata. Menggerainya dengan efek kibasan yang begitu seksi ... dan Granger sangat cocok dengan penjaga perpustakaan impiannya.
"Apa kau punya fetish pada Profesor McGonagall atau apa?"
"Jangan gila! Pikiran dari mana pula?" Draco menyembur kaget.
"Kau menatapku seolah aku adalah daging dan sekarang ini aku terlihat seperti McGonagall."
"Jika perempuan itu terlihat sepertimu, aku akan lebih memerhatikannya ketika mengajar dulu," Draco menggumam.
"Bicaranya lebih kencang." Hermione tidak mendengarnya. Syukurlah.
.
.
.
Setelah beberapa pakaian yang Draco sukai dan tidak, Hermione benar-benar kelelahan.
Draco tidak melewatkan kuapan yang Hermione coba tutupi ketika memeragakan gaun hitam panjang—yang Draco beri gelar baju biarawati. Draco menatap jam tangannya setelah dirinya juga menguap, sudah lewat tengah malam.
"Pakai baju piamamu yang mengerikan itu, Granger. Aku akan mengantarmu pulang sebelum tertidur dan menyusahkanku."
"Piamaku tidak mengerikan." Hermione mengelak. Lelah.
"Sangat mengerikan."
Hermione menghempaskan tangannya ke atas, menyerah berdebat kusir macam ini.
Draco tidak bisa menahan tawa.
.
.
.
"Kami akan kembali, Lisa. Dia sangat lelah."
"Baiklah. Kalau ada pakaian bagus akan kusimpan untukmu."
"Terima kasih, Lisa." Draco mengecup pipi perempuan itu. "Sekarang hanya 6 pasang." Draco mengangsurkan gaun malam, pakaian kerja, sesetel baju main—yang sampai kini masih terngiang di kepalanya, dua pasang pakaian dalam yang dipaksa Draco untuk memerlihatkannya dan sebuah gaun koktail. "Tolong berikan mantra anti api."
"Kau terlalu paranoid, Malfoy." Hermione memutar bola matanya.
"Bukan, aku kenal kau, Granger."
Tidak tahu ingin menjawab apa lagi, Hermione hanya menipiskan bibir ke Sang Pirang.
"Dewasa." Draco berkata sembari menyandarkan tubuh ke konter kasir.
"Lisa, kalau tidak keberatan tolong kirim notanya lewat burung hantu, aku akan—"
"Aku sudah membayarnya, Granger."
"Bagaimana? Aku hanya berganti baju beberapa menit."
"Setiap barang yang disetujui Draco akan langsung masuk hitungan kartu anggotanya." Lisa menjelaskan.
Rahang Hermione terbuka. "Kau punya kartu anggota?"
.
.
Sedetik setelah kepalanya menubruk bantal, kesadaran Hermione langsung lenyap.
Di lain pihak, Draco kesulitan tidur. Berbagai hal melintasi benaknya. Sadie lebih cantik dari Granger, benar; tapi dirinya tidak bisa paham kenapa Weasley rela menukar Granger demi Sadie. Granger lebih pintar. Balasan juteknya lebih berbobot daripada ocehan gosip Sadie. Dan jujur saja, hari ini lebih menyenangkan dari seluruh kencan yang dilakukannya dengan Sadie.
Draco jatuh tertidur ketika memikirkan bagaimana rupa Weasley ketika dirinya selesai mendandani Granger.
.
.
Hermione melompati kasur ketika sadar waktu tidurnya melewati alarm. Sekarang pukul 06:20, dirinya hanya memiliki waktu kurang dari 30 menit. Dengan cepat ia mandi, bahkan sampai hampir terpeleset. Membutuhkan waktu sampai 5 menit hanya untuk mengikat baju mandinya—seolah otaknya lupa bagaimana cara memakaikannya. Dirinya juga menggosok gigi sembari menyeduh kopi dan membakar roti di panggangan listrik. Kemudian dipakainya baju yang paling dulu ditemukannya di lemari. Sesaat sebelum mengaktifkan floo, seseorang mengetuk pintu apartemennya.
Hermione menggeram sebelum menjawabnya, tahu benar kalau ia akan telat.
"Pakaianmu mengerikan, Granger."
"Tidak perlu menghinaku." Hermione menyembur. "Dengar, aku telat jadi—"
"Sekarang hari Sabtu, Granger."
Hermione mengerjap. "Sekarang Sabtu." Dia mengulangi, setengah tercenung.
"Sabtu." Draco mengulang malas.
"Oh. Jadi aku berdandan—dan sia-sia." Hermione menatap baju yang dipakainya.
"Itu kau sebut berdandan?"
"Diamlah, Malfoy. Apa kau terobsesi untuk terus mencela pakaianku?"
"Aku mencoba memberitahumu kalau kau harus membuah semua bajumu, kecuali yang kubelikan kemarin."
"Seenaknya saja." Hermione mendengus.
"Betapa anggun." Malfoy membalas garing.
"Kubilang, diam, Malfoy."
"Aku akan membuatmu memakai baju yang kita beli kemarin."
"Kita? Maksudmu, baju yang kau paksa untuk kupakai lalu kau bayar?"
"Terima kasih sudah dijelaskan." Malfoy melambaikan tangannya sembari melangkah masuk.
"Kalau aku bilang tidak, kau akan apa?"
"Kau tidak akan mau tahu, Granger."
.
.
.
Hermione menatap pantulannya di cermin. Dress yang dipakainya bagus, tapi terasa berlebihan untuk dipakai hanya untuk bersantai. Dan baju ini bukanlah jenis pakaian yang pernah dia kenakan atau bahkan bayangkan untuk dipakainya. Baju itu memeluk lekuk tubuhnya.
"Kau sudah selesai?"
"Tidak!"
"Aku masuk."
"Draco Malfoy!" Hermione memekik.
"Sial, kau bohong. Harusnya aku tahu."
Hermione mendelikinya. "Dan kalau aku belum selesai? Berikan satu alasan untuk tidak mengutukmu." Hermione memutar tubuh untuk menghadapnya.
"Aku terlalu tampan."
"Tidak cukup, Kawan." Hermione memukul dadanya.
"Kita pergi sekarang." Draco berkata sebelum Hermione bisa membalas—dan sekali lagi mereka ber-apparate.
Kali ini Hermione bersyukur dirinya sudah lumayan bersiap.
"Kejadian ini mengingatkanku kalau aku belum membunuhmu semalam." Hermione berkata sesaat setelah kakinya menjejaki tanah.
"Uh huh, Granger. Sekarang buka matamu."
"Aku tidak tahu apa aku mau membukanya."
"Kau bisa berjalan seperti orang idiot kalau mau, aku tidak perduli."
Dengan sungkan Hermione mengangkat kelopak mata. Dinding granit putih mengelilingi mereka. Tapi kemudian dirinya melihat bak cuci, bangku dan benda-benda lainnya. Ia berada di salon.
"Halo, Drahko." Sebuah suara kental menyambangi.
Hermione memutar tubuh untuk mengetahui siapa yang berbicara dan dirinya hampir pingsan setelah melihat pria itu. Rambut pirang yang bahkan mungkin lebih indah dari rambut Malfoy. Mata hijau menatapnya balik, sepasang mata itu berwana hijau hangat yang mengingatkannya pada musim semi. Aksen pria itu pun indah, ia menebak kalau pria itu berasal dari salah satu daerah Skandinavia. Tapi persisinya yang mana, ia tidak yakin. Tapi lelaki itu juga salah satu pria tertampan yang pernah dikenalnya.
"Gustav, ini pekerjaanmu yang selanjutnya." Draco berucap, menghancurkan pikiran Hermione.
"Baiklah. Ikut aku."
"Aku akan mengikutimu ke mana pun." Tanpa sengaja Hermione berbisik kencang.
Kedua pria di depannya berhenti. Draco membeku sementara Gustav tertawa.
"Aku suka dia."
Hermione merasa terlena mendengar aksennya.
Draco menyadari ini, dia menggeram. "Berhenti berbicara dengan aksen itu, Gusty."
"Tapi para wanita menyukainya." Gustav membalas dengan logat Inggris sempurna. Hermione mengerjap karena perubahan itu.
Draco tidak menjawab.
"Ah, kau posesif padanya?"
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Terima kasih banyak untuk Whelly Delviana, Jovia Slyvestris,
ujichan, ChintyaRosita, meilania, coco, pcklbrry, Ryeonias, aquadewi, dragonjun, yellowers, IsbeWhy, Guest, Staecia, Silver12, Dramione Shipper, Cuckoo, noviairnanda, ccherrytomato, catherine . raycyrus, arelaiphy, Rados, IsbeWhy, GrangerBrOwN.
Bagi yang log in, dibalas via PM! Makasih atas sambutannya!
.
Mind to review?
Bogor. Selasa. 15 Desember 2015. 23:43
