Trap

ChanBaek

Boys Love

WonKYunJae Proudly Present

o.0.o

Bagian II

Tiga hari. Aku benar-benar menyayangkan Sehun yang tiba-tiba menjauh dariku. Tidak benar-benar menjauh memang, tapi dia lebih sering mengabaikanku dan mementingkan ponselnya yang seperti terikat dengan tangannya. Aku membenci itu. Silahkan katakan aku merasa kehilangan atau apapun.

Tiga hari untuk dompet yang ku temukanpun sama. Si pemiliknya benar-benar mengabaikannya –mungkin memang benar-benar tak tahu bagaimana cara menghabiskan uang. Tidak ada yang mencarinya. Bahkan aku pernah beberapa kali berdiam di toilet demi memastikan ada orang yang sedang mencari-cari sesuatu. Tapi nihil. Dia benar-benar abai seperti si Albino itu.

Tiga hari itupun tidak benar-benar ku lewatkan dengan sendirian. Si Park Chanyeol sialan itu semakin gencar mendekatiku. Dia bahkan beberapa kali mengatakan cinta padaku, tapi tentu saja aku menolaknya. Hell! Tidakkah dia terlihat aneh? Maksudku, bahkan aku tidak pernah memergokinya sama sekali untuk sekedar meliriku ketika aku lewat di hadapannya –sebelum kejadian di atap tempo lalu- Dan boom! Dia mengejarku bagaikan anak yang mengejar layangan putus sekarang.

"Baekhyun, cepat! Chanyeol menunggumu!"

Itu suara ibuku dengan segala kecerewetannya. "Iya, bu! Aku keluar." Teriaku.

Tidak salah. Ibuku benar-benar mengatakan Chanyeol sedang menungguku. Itu bermula sejak kejadian Chanyeol yang menyeretku dari halte; Namsan Tower; dan pengakuan cintanya yang samar hingga berakhir dengan aku yang bermuka-muka menolaknya –sama sekali. Dia mengantarkanku pulang, meskipun aku berdeging mengatakan akan pulang sendiri.

Keesokan harinya dia dengan ke idiotannya, menungguku di depan rumah dengan motor sialannya yang berganti warna menjadi merah. Ibuku melihatnya ketika hendak berangkat ke kantornya dan bersoal hingga jawaban yang lebih kurang 'Sedang menjemputku untuk berangkat sekolah' terdengar.

Tentu saja aku menolak ajakannya dengan secepat mungkin berlari menuju halte bus. Sialnya, dia berhasil mengejarku dan mendudukan bokongku di jok motornya.

Hingga sekarang, hari ke tiga dia menjemputku.

Aku sudah benar-benar mengatakan jika aku tidak tertarik menjalin hubungan dengannya, hubungan apapun itu. Aku sama sekali tidak bahkan tak sengaja menginginkan si Park itu ada dalam duniaku dan-oh! kalian tidak ingin mendengar cerita tidak bermutuku lebih lanjut, bukan?

Aku menuruni tangga. Berkecak pinggang dengan netraku yang menyipit melihat meja makan. Di sana, si Park itu mendudukan bokongnya pada kursi di sebelah kanan ibuku, dia menggigit roti yang baru saja diolesi coklat oleh ibuku. "Kenapa kau di sini?!" aku berteriak. Si Park itu benar-benar lancang!

"Baekhyun, jaga sikapmu! Chanyeol itu datang pagi-pagi untuk menjemputmu. Dia bahkan mengesampingkan sarapannya!" Ibuku setengah membentaku.

"Tapi, bu. Dia itu-"

"Sekarang duduk dan makan sarapanmu!"

Oh, tuhan! Si idiot itu pasti telah mencuci otak ibuku. Aku menghentakan kakiku. Menarik kursi yang berada di sebelah kiri ibu dan mendudukinya. Aku memakan sarapanku dengan ganas. Tatapan tajamku masih ku layangkan pada si Park idiot itu.

"Pelan-pelan, Baek."

Aku memelototinya, dia sangat lancang mengatakan hal semacam itu padaku. Ini semua juga karena kau, Park idiot! Dan kau mempermalukanku!

Ibu meliriku dan menatapku tajam. Oh, jangan lupakan jika ibu itu sangat killer, menjunjung tingga manner dan kawan kawannya. Aku menunduk dan memakan sarapanku dengan sedikit normal. Biar waktu yang menjawab bagaimana si pria Park itu merasakan pembalasanku.

.

"Aku berangkat." aku mengatakan itu setelah mencium tangan ibuku. "Ya, hati-hati." Ibu tersenyum setelah mengelus kepalaku.

"Aku juga berangkat, bu."

Jika membunuh ataupun memutilasi itu bukanlah tindak kriminal, aku pastilah sudah mengambil pisau di dapur rumahku dan langsung mencincang seluruh bagian tubuh si idiot ini. Memotong ususnya, memecahkan matanya, menyayat seluruh kulitnya lalu membuangnya ke sungai. Dan aku tidak akan lupa untuk berpesta tujuh hari tujuh malam.

Tolol sekali dengan apa yang dia katakan dan lakukan pada ibuku. Demi apapun, aku melihatnya mencium tangan ibuku seperti apa yang aku lakukan, dengan ditambah dia yang seenak perutnya memanggil ibuku dengan sebutan 'Bu'. Aku benar-benar ingin mencincangnya!

"Hati-hati. Ibu titip Baekhyun, ya?"

Demi apapun ibu, kau itu ibuku. Kenapa kau mau-mau saja dipanggil Ibu oleh orang lain? Dan apa yang ibu katakan? "Apa-" Aku ingin mengajukan konfrontasi, Si Park itu memotong, "Tentu saja, Baekhyun tanggung jawabku." Setelah mengatakan itu, dia menghampiriku yang tengah memakai sepatu.

Aku berdiri, mengabaikannya dan berjalan menjauhinya.

"Ayo naik," Aku terus berjalan di trotoar dengan si idiot ini yang membuntutiku di atas motornya. Aku tak bahkan sudi menjawab, apalagi menuruti apa maunya. "Kau benar-benar menarik, Byun!" Katanya kemudian. Dia terkekeh, "Naiklah, kau tidak kasihan dengan kakimu, hum?"

Aku ingin berlari secepat yang aku bisa, namun aku rasa itu bukan pilihan.

"Ayolah, ibumu menugaskanku dan mempercayaiku."

Dia benar-benar tolol, menjual nama ibu. Tidak bisakah dia mengerti jika aku benar-benar muak dengannya? Aku menghentikan langkahku. Dia menampakan cengirannya. "Aku mohon, jangan ganggu aku." Aku menatapnya serius.

"Kau bisa meminta apapun selain itu," sahutnya. Aku mendengus. Dia benar-benar keras, tidak kelakuannya, wataknya, bahkan hatinya. Benar-benar sialan!

"Biarkan aku berangkat sendiri." Kataku kemudian. Dia terdiam, menggaruk leher depannya dan terlihat berfikir. Oh, itupun jika dia memiliki otak. "Tapi.."

Aku memelototinya saat aku yakin jika dia akan menolak.

"Aku tidak bisa melepaskanmu sekarang, aku membawa tanggung jawab." Aku menyipitkan mataku dengan ganas. "Sok bertanggung jawab sekali, ck!" cibirku benar-benar ingin melumpuhkan niatnya.

Dia terkekeh menjijikan, "Tentu saja, aku pria sejati, sayang."

Aku memutar bola mata malas. Tak ingin memperpanjang masalah hingga membuatku telat ke sekolah, tanpa fikir panjang aku melunak. "Yang benar saja," Aku mulai berjalan, mengabaikan si Park itu.

Aku merasakan langkah kaki yang mencoba mengejarku dan aku tak sudi menoleh untuk membuktikan siapa. "Biar aku bawakan tasmu," Aku sedikit kaget dengan tangan lancangnya yang berusaha mengambil tasku. Tolong jangan tanyakan apa yang aku lakukan unuk ini! Aku lebih giat tak menganggap eksistensinya.

o.0.o

"Baekhyun!"

Aku menolehkan kepalaku begitu teriakan itu memasuki gendang telingaku. Itu Kyungsoo, aku melihat anak itu melambaikan tangannya. Berlari menghampiriku yang baru saja keluar dari kelas. "Kau mau kemana?" tanyanya padaku.

"Kantin," jawabku seadanya. Dan tanpa diduga, dia mengaitkan tangannya dengan tanganku. "Ayo, aku juga ingin ke kantin." Katanya riang. Sudut bibirku terasa tertarik membentuk senyum.

"Kau tahu tidak, Baek. Tadi Nana memberitahuku, nanti malam akan ada pelelangan sepatu milik G.D!" Katanya sedikit memekik di tengah perjalanan kami. Aku membulatkan mata terkejut. "Benarkah? Kenapa Nana tak memberitahuku juga? Sepatu mana?" aku tak kalah memekik dari Kyungsoo, bagaimana aku bisa ketinggalan info sepenting ini, ck! Seseorang yang semakin gencar mengganguku mungkin harus bertanggung jawab!

"Dia juga baru tahu dari Luhan. Ah, sebentar, aku memiliki fotonya. Katanya, uang hasil pelelangan itu akan digunakan untuk sumbangan korban tsunami Jepang." Anekdotnya, dengan terburu buru dia merogoh saku celananya, mengeluarkan Smartphone-nya dan kemudian mengutak atiknya.

Sepatu itu!

"Benarkah?!" aku menutup mulutku tak percaya begitu melihat gambar sepatu yang di tampilkan layar datar itu. Sepatu itu! Sepatu berwarna hitam dengan desain sederhana namun elegan yang dirancang GD sendiri. Itu sepatu favorit GD!

Aku menatap Kyungsoo yang mengelus gambar sepatu itu dengan ibu jarinya.

"Dimana tempatnya?" aku memekik. Aku akan benar-benar kurus bahkan hanya memikirkan sepatu itu jatuh di tangan orang lain. "Di gedung My- Tidak tahu."

Aku menatapnya penuh selidik. Dia tahu tempatnya dan menyembunyikannya dariku. Lihat saja, matanya terlihat gugup. "Kau tahu! Katakan dimana?!" aku sedikit menggertakan gigiku. Dia ingin bermain licik denganku, huh? "A-aku benar-benar tidak tahu," dia masih berkilah.

"Baik, aku bisa mencari sendiri. Aku akan mendapatkannya!" sinisku. Membayangkan sepatu itu membungkus kakiku, pasti sangat keren. "Yak! Aku yang akan mendapatkannya. Aku sudah mengambil tabunganku untuk ini." Teriak Kyungsoo dengan segala kepanikannya.

"Sepatu itu akan menjadi miliku, Dio!" aku menggertakan gigiku, menatapnya tajam.

"Itu miliku!" dia berteriak keras dengan mata bulatnya yang membesar, seakan ingin keluar. Aku berkecak pinggang, "Jangan bermimpi. Itu miliku!"

"Kita lihat saja nanti!" dia berteriak garang tepat di depan wajahku. Aku balas memelototinya. Kami beradu tatap dengan sengit. Bahkan aku tidak memperdulikan sekitarku yang memperhatikan kami. Persetan dengan itu!

"Ya, kau lihat saja aku yang memakai sepatu itu nanti." Aku menyeringai. Berbalik meninggalkannya, mengabaikan dia yang berteriak keras.

o.0.o

"Kau disini ternyata."

Aku melirik sekilas ke belakang. Cih, mau apa si idiot ini.

Membatu, itu yang kupilih dibandingkan dengan bahkan hanya sekedar menganggap eksistensinya. Dia mendudukan bokongnya di sebelahku, di kursi panjang ini.

"Kau sedang apa?" Dia bersoal. Sebenarnya, bahkan tanpa ku jawab sekalipun, dia seharusnya mengetahui itu. Aku meliriknya dengan ekor mataku. Dia mengenakan Jersey basketnya. Baju yang menampakan lengannya yang berkeringat.

"Kenapa mengacuhkanku?"

Aku tetap dengan kebisuanku. Semoga saja dia kesal dan pergi dari sini. Tapi sayang sekali, dia bahkan tak menyerah untuk membuatku membuka bibirku dengan apa yang ia katakan selanjutnya. "Kau marah karena aku belum mengatakan 'Aku Mencintaimu' hari ini?" dia terkekeh di akhir ketika menyadari aku seolah menghargai eksistensinya dengan memberikannya delikan tajam.

Selain tingkah memaksanya, percaya diri pria ini sangatlah tinggi.

"Ayolah, jangan merajuk seperti itu." Dia dengan ketidak tahu diriannya meletakkan kepala berkeringatnya di pahaku, menaikan kaki panjangnya ke atas kursi. Aku terperanjat karenanya. "Apa-apaan kau?! Menyingkir!"

Aku mencoba mendorong kepalanya –yang bisa di pastikan akan membuatnya jatuh ke lantai jika dia tidak melingkarkan tangannya pada pinggangku, menelusupkan kepala basahnya ke perutku. "Brengsek! Lepaskan aku! Kau itu tidak tahu malu, yak!" aku meneriakinya, berusaha melepaskan pelukannya.

"Aku sedang cape, Baek. Biarkan aku istirahat." Suaranya sedikit ter-redam perutku. Aku bisa merasakan getar suaranya saat mengucapkan itu. "Aku tidak perduli! Lepaskan aku!" aku berteriak di telinga lebarnya.

Dia malah mengeratkan pelukannya pada pinggangku.

"Aku juga mencintaimu-Aarghh!" Aku cukup bisa mendengar dia bergumam dengan kata menjijikannya. Aku menjambak rambutnya dan dia mengerang. "Lepaskan aku, brengsek!" aku mendesis.

Dia melepaskan pinggangku. Tangannya yang besar itu mencengkram punggung tanganku yang menarik rambutnya. "Tangan ini harusnya mengelus kepalaku. Bukan melakukan hal-hal kasar seperti barusan." Dia berhasil melepaskan jambakanku, tepatnya aku yang melepaskannya. Well, aku cukup memiliki hati untuk tidak lebih lama menjambak rambutnya.

Bukk

"Aakhh!"

Aku berhasil membuatnya terjatuh dengan mendorong kepalanya saat dia lengah. Pupil mataku melebar melihat dia yang ersungkar. Aku tidak bermaksud seperti ini, "I-Itu balasanmu! Kau sendiri yang membuat masalah!" aku berdiri, menatapnya yang terbaring di lantai. Dia terlihat cukup buruk dan aku merasa bersalah.

Dia memegangi kepalanya.

"K-Kau tidak apa-apa, kan?" Mungkin bangku kelas sekolah-sekolah yang pernah ku duduki sedikit berhasil membangun apa yang mereka namakan rasa iba sehingga aku bisa merasa bersalah sekarang. Suaraku mungkin terdengar sedikit bergetar.

"Ini sakit, Baek." Katanya dengan lemas. Dia terlihat kesakitan, tapi sesuatu dalam diriku mengatakan itu hanya permainan peran. Tapi... Hah~ Akan sangat terlihat berengsek jika aku hanya diam dan tak melakukan apa-apa. Aku berjongkok. Mengesampingkan hasrat untuk meninggalkannya,

"Mana? Biar ku lihat."

Aku mendengus saat mendengarnya menjawab dengan nada menjijikan, "Semua, hatiku juga." Dia menampakan cengiran bodohnya. Tangannya menahan tanganku saat aku akan berdiri meninggalkannya.

"Disini. Sakit sekali." Katanya kemudian dengan nada sok serius, menuntun tanganku ke kepalanya. "Aku harap kau tidak berbohong." Aku mendengus. Mengusap kepalanya pelan, dan cengiran di bibirnya semakin lebar.

o.0.o

Aku membulatkan mataku lebar-lebar menatap layar itu. Garis merah itu mencoret angka 2.000.000 Won. "2 juta won oleh Noona Joy!" itu yang ku dengar dari pria di atas sana.

"3 juta Won! Berikan sepatu itu padaku." aku menoleh, melihat Kyungsoo yang dengan ber api-apinya berteriak. Pun dengan mataku yang bertemu dengan kilatan mengejek di mata Luhan yang duduk di samping Kyungsoo, sungguh membuatku semakin mendidih.

Si pembawa acara terdengar sangat antusias. Itu harga tinggi yang baru saja dicapai setelah hampir setengah jam acara ini berlangsung dengan sengit.

Sepatu itu adalah rancangan GD dengan salah satu Desainer ternama, Giuseppe Zanotti. Sepatu itu tidak hanya keren dari sisi fisiknya. Makna sepatu itupun sangat dalam, 'Tidak hanya para gadis atau wanita saja yang senang dan ingin sepatu bagus, laki-lakipun penting mendapatkannya.' Itu yang dia katakan saat diwawancarai media. Dia benar-benar keren.

"4,5 juta Won."

Riuh. Semua menatapku dengan tatapan tak percayanya.

"4,5 Juta Won! Pada pelukan tuan Byun Baekhyun?!"

Tidak ada yang mengajukan tawaran lagi, aku berharap seperti itu. Hell! Ini loncatan tertinggi! Dan tidak akan tenang hidupku jika sepatu ini jatuh ke tangan orang lain, terlebih dengan Kyungsoo ataupun Luhan. Well, Mereka mungkin telah –sedikit- resmi mengibarkan bendera perang.

"6 Juta Won!" Garis merah yang awalnya mencoret angka 4000.000 Won itu berpindah dua loncatan. Aku mengepalkan tanganku. Aku benar-benar tak percaya dengan ini, itu limit tabunganku. Dan aku merasa aneh, Kyungsoo tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu.

"8 Juta Won dan tutup acara ini. Sepatu itu miliku!" Aku berteriak keras. Cukup terdengar panik –sepertinya. Hell! Katakan ini anomali. Tapi sungguh, aku sama dengan mereka yang mencoba melakukan apapun untuk mendapat sesuatu.

Aku benar-benar tak ingin mendengar harga yang lebih dari apa yang aku ajukan.

"Woah! 8 Juta Won! Tuan Byun sepertinya sangat menginginkan sepatu ini!" Si pembawa acara itu berteriak padaku. Suasana aula ini sangatlah riuh setelah aku menginjak harga itu. Mata bulat Kyungsoo menatapku dengan tatapan tak percayanya. Ia terlihat pucat –kurasa.

Aku mendapatkan sepatu itu.

Aku benar-benar melayangkan pandangan remehku pada si Luhan. Dia mengepalkan tangannya. Pun juga Kyungsoo yang terlihat akan menangis. Well, aku sangat menyukai keruhnya wajah mereka saat acara itu berakhir. Sungguh!

o.0.o

Bagaimana dengan pukul 12 malam dan kau baru saja sampai di rumahmu? Itu bukan anomali, terutama untuk anak laki-laki, kan? Sialnya, kasusku berbeda. Aku haruslah berjalan mengendap-endap demi mencapai kamarku. Kenapa? Ibuku itu sangat menjunjung tinggi norma –asal kau tahu. Dan aturan main di keluargaku, pulang lebih dari pukul 9 itu adalah pelanggaran. Oh, itu salah satu alasan, mengapa aku sangat ingin tinggal di apartement.

"Kau tidak akan melewatiku tanpa memberi salam kan, Sayang?"

Aku terkesiap, tentu saja. Jentungku benar-benar berdetak tidak normal untuk ini. Aku melihat ke sumber suara. Kenapa aku tidak menyadari ibu ada di sana, dekat pintu ruang kerjanya yang baru saja ku lewati. Ck! Ini akan lebih buruk dari yang ku bayangkan, sepertinya.

Aku menggaruk tengkuku. Tidak! Ini lumayan gatal. Memberikan senyum manisku –yang pasti kaku- pada ibu, lalu membungkuk. "Selamat malam, bu." Kataku, lumayan canggung.

"Kau menjanjikan sesuatu?" ibuku berkecak pinggang,

"I-Itu, aku.. J-Jalanan macet, bu. Jadi aku telat pulang. Lagi pula, aku anak laki-laki dan sudah cukup dewasa. Aku bisa menjaga diriku," Tidak normal jika aku tidak gugup dengan ini. "Aku bertanya kau menjanjikan sesuatu atau tidak, Byun Baekhyun!"

Matilah kau otaku yang bodoh!

"Y-Yaa, aku akan pulang jam 9." aku mencicit. Dan Ibu memicing, "Baiklah. Kau masih tahu ibu, kan?"

Nasibku tidaklah sampai pada saat dimana aku menganggukan kepalaku.

"Kau lihat jam yang di sana? Persentasekan seberapa lama kau berada di luar dan itu adalah persentase uang jajan serta fasilitasmu minggu ini. Serahkan jawabanmu sepulang sekolah. Sekarang kau tidur!"

Benar, kan?

Aku menatap ibuku yang benar-benar Akuntan sejati ini dengan memelas, "Ibuuu~" aku merengek. Aku benar-benar sudah nyaman dengan tubuhku yang cukup berisi ini. Tidak ada niatan menguruskannya. Apalagi melalui tekanan. Tidak, aku mohon!

"Kau tahu, ibu sangat tidak menyukai orang yang tidak bertanggung jawab?"

"Tapi, buu~" aku mengerucutkan bibirku, menatap ibuku dengan pandangan memohon. Tatapan balasnya sedikit banyak membuatku menciut dan ingin menyerah namun sekali lagi, aku tidak berniat menguruskan badanku dengan tekanan! "-Aku di tingkat akhir dan pasti akan banyak sekali kebutuhanku yang mendadak." Aku benar-benar memelas.

"Kau kan memiliki tabungan, lalu apa yang salah dengan menggunakannya?"

Itu dia masalahku, bu. Tabunganku tidak bahkan bersisa 1 Won pun. Aku sudah mentransfernya ke orang lain.

Aku diam. Mungkin lebih baik jika aku istirahat dan membicarakan ini nanti, ini membutuhkan fikiran jernih. Well, nasibku akan benar-benar tamat jika ibu tahu aku membeli sepatu dengan harga mulut harimauku.

"Aku tidur. Selamat malam." Kataku lemas.

o.0.o

Aku benar-benar telat. Jam di pergelangan tanganku menunjukan angka 07.55 dan aku bahkan belum sama sekali menaiki bus. Tentu saja! Bus yang 5 menit lagi akan datanglah yang mengangkutku karena keterlambatanku. Ck, aku benar-benar merutuki ibu yang teganya tak membangunkanku.

Katanya, 'Kau cukup dewasa untuk tidak ku bangunkan.' Saat aku dengan terburu-buru memakai sepatuku. Hell! Aku benar-benar berteriak dan hampir melemparkan sepatuku ke hadapan ibu.

Jangan bertanya tentang si telinga lebar itu, dia sudahku amankan untuk tidak menjemputku atau apapun yang berhubungan dengan rumahku.

Bus itu berhenti tepat di depanku. Dengan cepat, aku menaikinya.

Aku tidak ingin membayangkan seberapa berat hukuman yang akan aku dapat karena keterlambaan ini. Well, bahkan 15 menit waktu itu saja berbuah toilet. Bagaimana dengan ini yang lebih dari 30 menit? Tidak! Jangan membayangkannya!

Aku berlari menuju gerbang menjulang itu setelah turun dari bus pada pukul 08.11 –yang tertera saat aku melirik jam tanganku. Aku menatap gerbang yang terbuka dan mengerutkan kening, tidak biasanya.

Aku lebih mengerutkan keningku ketika melihat guru piketku yang tidak menahanku masuk. "S-Selamat pagi, pak." Sapaku dengan sedikit aneh, aku menggaruk tengkuku.

"Selamat siang." Balasnya penuh sindiran. Tapi alih-alah menerkamku seperti biasanya, pria itu malah kembali pada aktivitasnya.

Aku berjalan melewatinya. Benar-benar aneh. Aku telat bahkan hampir satu jam dan tidak bahkan di tegur sama sekali. Salah satu sudut dalam diriku sedikit berhasrat untuk menanyakan itu, tapi melihat celah kabur sarang harimau, apa kau tidak akan memanfaatkan kesempatan untuk lari? Mungkin ini keberuntunganku.

Saat aku benar-benar melewati guru piket dan pos satpam di belakangku, seseorang menutup mataku dari belakang. Tentu saja aku sangat terkejut untuk itu dan tak kontrol berteriak, "Lepaskan aku, jangan bermain-main denganku!" aku benar-benar berteriak. Berusaha melepaskan tangan besar yang menutupi mataku.

Aku hanya mendengar kekehan geli dari belakangku dan merasakan tas punggungku yang menempel dengan tubuh yang entah milik siapa di belakang, Ku harap itu bukanlah orang yang berniat jahat padaku atau guru piket yang ingin menerkamku.

"Kau tebak, siapa aku?" itu suara berat yang akhir-akhir ini gelombang suaranya memenuhi telingaku.

Si Park Bodoh Chanyeol.

Tidak adakah bahkan secuilpun isi tempurung kepala orang ini? Si idiot Park Chanyeol? Baiklah, dia itu idiot. Aku tahu itu. Tapi bisakah dia sedikit berpura-pura pintar untuk sebentar saja? Ck! Dia meminta menebak sementara suaranya sangat khas, "Lepaskan aku, Park Chanyeol!" aku berteriak.

Dia melepaskanku dan memutar badanku menghadapnya. "Tebakanmu benar. Kau sudah mengenalku rupanya." Dia dengan cengiran lebarnya. Duh, tanganku terasa sangat gatal ingin meninjunya. "Kau saja yang terlalu idiot!" aku mendengus, berbalik dan ingin pergi ke kelas.

Aku benar-benar kesal. Dia malah tertawa dengan kerasnya. Ck! Suaranya yang besar itu membuatku sedikit merinding, dia seperti raksasa. "Kau ingin ke kelas?" tanyanya mengikutiku dengan cengirannya. Aku tak menanggapi, persetan dengan itu. "Biar ku antar," katanya kemudian.

Dia benar-benar berusaha keras. Oh, tapi tunggu sebentar.

"Kenapa kau di sana tadi?" Aku menghentikan langkahku. Melihat si jangkung itu. "Menunggumu, tentu saja." Katanya dengan cengiran. Aku memutar bola mata malas dan menyesali mulutku yang spontan. Memang benar-benar tidak berguna berbicara dengan si idiot ini.

Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya sesaat setelah aku sampai di depan pintu kelasku. Mengumpulkan keberanianku untuk sekedar membuka pintu kaca berlapis sandblast itu. Tanganku hampir mengetuk daun pintu, tapi sebuah tangan mendahuluiku dan mendorong pintu itu.

Aku diam. Wajahku mungkin memerah.

"Selamat pagi, Saem. Maafkan Baekhyun-ku yang terlambat beberapa menit ini. Bolekah dia masuk?"

Wajahku benar-benar terasa panas. Se-isi kelas melihatku. Merekapun menatap si idiot yang berbicara ini.

Aku tidak pernah ingin segera merenggut nyawaku sebelumnya, dan sekarang rasanya sangat ingin. "Kenapa aku harus mengizinkannya masuk?" Itu suara guru Biologiku, wanita dengan gelar master di belakang namanya. "Karena ini salahku." Balas si Idiot ini santai.

Aku tidak tahu apa yang dia fikirkan dengan otak kosongnya. Lebih dari itu, aku merutuki diriku yang dengan bodohnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun, malah menunduk seperti pecundang.

"Apa yang kau perbuat?"

"Sesuatu di abad dua puluh satu dan tentang apa yang kau ajarkan."

Aku mencuri pandang dan menemukan guru Biologi itu memicing, menyapukan pandangannya padaku. Dan aku merasakan bulu romaku meremang mendengar apa yang dia katakan, "Ku harap kau tidak melakukannya lagi. Kalian masih harus melewati beberapa Ujian untuk segera menikah."

"Tentu saja. Aku akan menambah kontrol diriku setelah ini. Tapi akan tetap bertanggung jawab jika sesuatu terjadi,"

Aku tidak cukup munafik untuk berpura-pura tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan. Tapi aku cukup membenci diriku yang tidak melakukan perlawanan apapun.

"Dia boleh duduk di kursiku jika kau mau, itu cukup empuk kurasa." Wanita itu menatap kami dengan datar, sedatar papan tulis putih didepan. Dia melanjutkan kegiatan menulisnya yang tertunda. "Terima kasih, tapi dia akan duduk di kursinya sendiri."

Aku merasakan pinggangku ditarik sebuah tangan. "Hubungi aku jika sesuatu terjadi," Si idiot itu mengatakannya setelah mendudukanku di kursiku. Dia berjalan menuju pintu yang belum sempat tertutup dan dia menghilang dibaliknya.

Apa aku terlihat sangat menyedihkan?

"Cepat catat sebelum aku benar-benar marah." Aku mengeluarkan buku catatanku dengan refleks. Tidak ingin menambah masalah lebih dari ini.

o.0.o

Aku tidak pernah benar-benar meragukan perhitunganku ataupun permainanku dengan angka-angka. Tapi kali ini, aku benar-benar menyesali perhitunganku.

Aku hanya memiliki 12,5% dari total 100% uang sakuku minggu ini. Dan 12,5% lainnya dari 100% fasilitasku untuk satu minggu ke depan. Tolong katakan ini hanya mimpi.

Baik, tentang uang mungkin itu tidaklah terlalu masalah. Aku memiliki dompet itu. Disana masih terdapat pundi-pundi uang yang bahkan sudah ku pakai dengan jumlah cukup besar, tapi nyatanya masih belum juga habis. Pun dengan salah satu kartu hitamnya yang bisa ku gunakan dengan menggunakan password yang ku temukan saat aku benar-benar menelanjangi dompet itu. Mungkin aku benar-benar beruntung atau memang tuhan mungkin sangat menyayangiku.

Tapi untuk fasilitas, aku benar-benar akan sangat menderita. 12,5% itu sangatlah sedikit! Aku bahkan hanya mendapatkan ponsel dan sebuah AC di kamarku –itupun hanya akan di nyalakan ketika jam tidurku. Tidak ada lagi selain itu. Tidak ada mobil, PSP, TV ataupun barang elektronik lain di kamarku. Aku benar-benar miskin.

Dan aku benar-benar ingin keluar dari sini, dari dalam kamarku yang benar-benar panas.

Aku sudah memakai baju tertipis yang aku punya, tapi aku benar-benar berkeringat. Tidak bisa keluar dari sini sebelum ibu membukakanku pintu. Aku benar-benar seperti anak tiri. Ibuku sangat kejam, bahkan dia tidak terpengaruh sama sekali saat aku menangis meraung-raung di lantai, meratapi keputusan final sepihaknya.

"Ibuu!"

Aku berteriak di depan pintu saat aku mendengarkan suara sepatu yang menaiki tangga. Aku berharap itu ibu yang ingin membukakanku pintu. "Aku benar-benar kepanasan disini,"

"Kau menjalani hukumanmu! Bukankah kau sepakat tetap memajang poster boyband itu di kamarmu dan menukarnya dengan AC? Mintalah pendingin pada poster itu." aku mendengar ibu berteriak, dan aku benar-benar memaki apa yang dikatakannya.

Aku tidak mengeluarkan suaraku. Selain tidak akan berguna, aku juga benar-benar tidak bisa mengelak dengan keputusanku. Aku menghela nafas, mungkin aku benar-benar harus pasrah. Aku berbalik, menaiki ranjangku. Aku diam dalam kondisi memuakan.

.

"Kau ingin keluar?"

Kepala ibu menyembul di balik pintu. Aku hampir berteriak, "Tentu saja, disini sangat panas." Aku merengek.

Ibu benar-benar membuka pintu dan memasuki kamarku dengan sebuah kertas di tangannya. "Ini. Semua sudah ibu tulis dan ini uangnya. Sana keluar."

Aku benar-benar ingin sekali protes dengan apa yang ibu perintahkan. Dia menyuruhku belanja dan itu sangatlah banyak. Itu akan sangat menguras tenaga! Tapi sekali lagi, aku benar-benar ingin keluar dari kamar panas ini. "Aku akan ganti baju," Kataku dengan sedikit ketus.

Ibu menggelengkan kepalanya, mungkin sangat jengkel dengan tingkahku. Tapi aku sangat tidak perduli.

.

"Mana kunci mobilku?"

"Kau tidak terima dengan keputusan ibu?"

Aku benar-benar menciut. Ibu menatapku dengan sengit. Oh, kenapa mulutku sangat tidak bisa di kontrol. Sialan! "B-Bukan itu maksudku, bu. T-Tapi aku harus menggunakan mobil, belanjaannya sangat banyak," Aku bergetar, sungguh!

"Ya sudah. Kembalikan uangnya. Dan kau kemba-"

"Aku pergi!" teriaku panik, berlari menuju pintu.

Haahh, baiklah. Ini bukan hal buruk. Bus bukanlah hal buruk, di sana aku bisa mendengarkan musik, melihat-lihat pemandangan jalanan atau apapun yang bisa tersapu mataku. Aku melirik jam tanganku setibanya di halte bus, 16.43

Aku mendudukan bokongku di kursi halte. Mengeluarkan ponselku dan aku mengerutkan kening begitu mendapati tiga panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal. Aku mengabaikan itu dan membuka Safari. Berselancar di dunia maya mungkin bukan ide yang buruk selagi menunggu bus tiba.

.

Aku berkeliling supermarket ini hampir dua jam, mencari cari apa yang tertulis di kertas yang di berikan ibu. Kakiku bahkan sudah benar-benar muak dengan aku yang terus memaksanya berjalan. Troliku sudah penuh. Tentu saja! Dan harusnya aku tengah mengantri demi membayar belanjaanku di meja kasir. Faktanya, hal terakhir yang aku baca dari deretan barang yang harus ku beli-lah yang menahanku untuk tetap disini, di salah satu sudut supermarket yang menyediakan semua barang-barang atau keperluan wanita. Yang membuatku membatu adalah Ibu menuliskan kata 'pembalut' di baris nomor 54! Bukan semacam lipstick atau mungkin eyeliner yang dengan mudah bisa ku ambil.

Katakan jika aku sangat berlebihan, silahkan. Tapi maaf, aku benar-benar masih mengingat dengan jelas kata Laki-Laki dalam akta kelahiranku. Dan memasuki lorong rak-rak berisi ratusan pembalu adalah hal terkonyol yang tidak pernah aku bayangkan.

Aku sudah mencoba memasuki lorong itu. Tapi sialnya, saat aku benar-benar akan mengambil salah satu dari mereka, wanita-wanita itu datang dan meliriku dengan pandangan aneh juga berbisik bisik tidak jelas hingga aku benar-benar kabur dan menyembunyikan tanganku.

Aku menghela nafas. Bagaimana jika meninggalkan yang satu ini? Ah tapi tidak! Ibu tidak akan percaya dengan kata, 'Stok pembalut di Supermarket sudah habis, bu.' Ibu tidak akan percaya dan akupun demikian. Huhh, mungkin memang harus?

Aku mendorong troliku. Hanya tinggal beberapa meter aku akan sampai dan beruntungnya tempat ini mulai sepi. Aku harus cepat.

Lagi, saat aku benar-benar akan mengambil bungkusan kotak itu, aku menghentikannya. Well, kali ini bukan karena orang lain. Tapi karena aku menyadari sesuatu. Ibu tidak mencantumkan merek apa yang dia inginkan! Ck! Aku benar-benar menggeram.

Terserah. Aku mengambil salah satu dari mereka tanpa ingin tahu apapun dan cepat-cepat mengakhiri ini sebelum ada seseorang yang mengenalku dan melihatku di sini. Aku mendorong troliku menjauhi tempat itu. Tapi saat aku akan berbelok, aku memundurkan troliku kembali.

Mataku menyipit, bukan karena miopi dadakan yang tiba-tiba mendatangiku, melainkan ingin memfokuskan penglihatanku. Ini cukup jauh, kau tahu!

Aku mengenal punggung itu, punggung lebar yang membelakangiku. Aku juga cukup mengetahui bahu tegapnya. Tinggi badannya yang menjulang juga sangat membuatku yakin jika itu benar-benar seorang Park Chanyeol. Lebih dari itu, aku benar-benar tidak tahu siapa wanita yang berada di sampingnya.

Aku tidak benar-benar tahu, jantungku ataukah hatiku yang berdesir karena aliran darah yang memacu. Aku juga tidak tahu apa yang benar-benar aku rasakan saat indraku melihat itu, aku merasa marah. Dia mempermainkanku!

Park Chanyeol. Dia mengelus rambut wanita yang bersamanya, sudut bibirnya membentuk senyum idiotnya. Aku merasakan aliran darahku semakin memacu, entah apa yang terjadi pada sistemku. Aku tidak tahu, aku merasa marah saat dia meraih jari wanita itu dengan lembut dan menggenggamnya. Mereka berjalan sampai benar-benar menghilang dari pandanganku.

Aku diam.

Ibu, kenapa aku merasa menyesal bisa menikmati AC supermarket ini?

Kau benar-benar brengsek, Park Chanyeol. Kau ingin menjadikanku salah satu koleksi mantanmu? Cih! Jangan harap! Bahkan untuk sekadar menemuikupun aku tidak akan sudi! Kau benar benar playboy murahan!

.

"Baekhyun?"

Aku tersadar dari keterdiamanku. Melihat ke arah samping dan mendapati, Sehun? Sedang apa dia di sini? Oh, tentu saja belanja, Baekhyun! Ck!

"Belanjaanmu banyak sekali." Katanya menghampiriku sambil mendorong troli.

Aku melebarkan mataku begitu melihat isi dari troli yang dibawa Sehun. "Mike!" aku memekik –kurasa sangat keras- Meninggalkan troliku dan membawa anak itu ke dalam gendonganku.

"Kapan dia datang? Kenapa kau tak memberitahuku?!" aku mendengus pada Sehun yang menatapku dengan datar. "Kemarin," jawabnya singkat. Hell, apa-apaan dia itu?

"Hei, sayang. Kau sudah bisa bicara?" kataku mengabaikan Sehun. Perduli setan dengan si Albino itu. Mike melihatku, dia tersenyum. "Cedikit, hyung."

"Ahh, kau lucu sekali."

"Kau belanja?" kataku pada Sehun. "Tidak. Aku hanya mengajak Mike berjalan-jalan." Katanya terlampau datar. Aku menatapnya dengan heran, dia sangat aneh dengan apa yang dia lakukan sekarang. "Ya sudah, antarkan aku pulang bagaimana? Kau membawa mobil, kan?"

"Kau tidak membawa mobil?" Tanyanya dengan menyernyit. Aku hanya diam, menatapnya jengah. Well, ku rasa dia benar-benar harus berlatih menyimpulkan apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Oh, juga belajar menjawab pertanyaan dengan jawaban, bukan pertanyaan lagi.

Dia melipat tangan di depan dada, "Kau-" jeda beberapa saat dengan wajah menjengkelkannya. "–mendapat persenan?"

Aku mendelik mendengar apa yang dia katakan. Tapi, well dia belajar menyimpulkan dengan cepat dan yah, terlalu jauh.

Dia terkekeh melihatku yang hanya diam dengan merengut. Dan aku benar-benar ingin memukulnya jika saja aku tidak membutuhkan si Albino ini ketika dia mengusak rambutku. "Tidak lucu!" ketusku, menghempaskan tangannya.

Kami berjalan meninggalkan tempat itu setelah dengan kesalnya aku menendang tulang kering si Sehun ini. Aku masih menggendong Mike dan Sehun mendorong troli penuh belanjaanku.

Aku tak berhenti menggoda Mike yang sepertinya mengantuk dan ingin tidur ketika kami mengantri di depan meja kasir. Dia terlihat tertawa saat aku menirukan suara-suara aneh –well, aku benar-benar melupakan fakta jika kami sedang di tempat umum.

"Terima kasih. Selamat berbelanja kembali." Kasir itu tersenyum saat aku membayar belanjaanku yang dibawa Sehun. Dia terlihat seperti tukang angkut sekarang –dua kantung belanjaan besar di tangannya.

.

"Kau tidak ingin mampir?" Tanyaku pada Sehun setelah kami sampai di rumahku. Mike tertidur di pangkuanku saat perjalanan, dia terlihat kelelahan sekali.

"Tidak, lain kali saja. Mike juga sepertinya sangat lelah," dia menyahut. "Baiklah, terima kasih untuk tumpangannya." Aku membaringkan tubuh Mike yang memang kecil itu di jok depan setelah Sehun menurunkan sandarannya.

Sebenarnya, aku menghabiskan beberapa detik untuk bertahan pada posisiku demi mendengar apa yang akan Sehun katakan, tapi beberapa saat itu terbuang percuma, aku tidak mendapat apapun selain keheningan.

Aku keluar dan membuka bagasi, mengambil kantung belanjaanku yang cukup berat, menutup bagasi itu kemudian.

"Hati-hati, Sehun!" Kataku sedikit berteriak. Mobilnya melaju menjauhi kediamanku.

Aku diam. Menggigit kecil bibir bawahku. Netraku terfokus pada mobil berwarna hitam itu hingga di ujung belokan sana, mobil itu tidak lagi terlihat.

Aneh.

Hanya perasaanku atau memang dia terlihat berbeda, dia seperti membuat sekat tak kasat mata denganku. Dan, aku merasa ada yang tidak beres dengan itu.

"Hahh..." Aku berbalik dan melangkahkan kakiku, menuju pintu rumahku.

Aku melihat ibu yang terlihat anggun. Dia mengenakan dress putih yang sangat pro dengan kulitnya. "Ibu akan keluar?" Tanyaku sembari menyimpan kentung belanjaanku di meja. "Ya, Ibu di undang ke pesta pertunangan putra Presdir." Kata ibu.

Aku mengendikkan bahu, tidak masalah dan itu terdengar bagus. Aku bisa sedikit bebas, tentu saja. –Baiklah, silahkan katakan aku anak durhaka. "Putranya itu temanmu juga, Baek. Satu sekolah denganmu." Kata ibu kemudian. Dan aku tidak perduli apapun, siapapun itu. "Ya, ya, aku tahu. Ibu pernah cerita padaku." Sahutku dengan melangkahkan kakiku menuju tangga,

Aku benar-benar memutar bola mata malas saat ibu mengatakan, "Mana uang kembaliannya?"

Demi apapun, dia terlalu banyak memakan kepiting hingga tertular kepelitannya –oh, sepertinya aku terlalu sering menjelajahi kartun Bikini Bottom. Ck!

Aku merogoh saku celanaku. Menurunkan kaki kananku yang sudah menginjak anak tangga pertama dan berbalik. Menyerahkan sisa uang belanjaan itu.

Ibu menyeringai. Sepertinya ibu benar-benar melupakan keanggunan penampilannya. "Kau masih ingat hukumanmu, kan?" Katanya dengan menyebalkan. "Ya yaa, terserah." Kataku merotasikan bola mata.

TBC

Gw tau ini aneh karena gw juga ngerasa kehilangan sesuatu. Sekian.

See you later.